Minggu, 30 Desember 2018

Mangkuk (33-tamat)

Mangkuk (33-tamat)
Oleh Wak Amin


"KALAU saya nyalakan ini korek api apa yang terjadi?"

"Tidak ada yang terjadi. Paling api yang muncul Tuan ..."

"Oke .. Tuan memang cerdas. Seka rang saya buka tutup dirijen ini ..."

Secara perlahan tutup dirijen berisi bensin itu dibuka. William sengaja memperlambat membukanya untuk melihat reaksi Mr Rahman.

Benar dugaan William. Tiap kali tu tup dirijen diputar, Mr Rahman keta kutan dan berusaha melepas kan tali yang mengikat kaki dan ta ngannya.

"Jangan Pak .. Om .. Tuan .. Jangan buka tutupnya," rengek Mr Rahman.

"Kenapa?"

"Anda mau siramkan bensin itu ke saya kan Pak?"

"Kok tau?"

"Iyalah. Kalau bukan ke saya, ke siapa lagi kan?"

Ha ha ha ...

"Cerdas juga Tuan," kata William. "Tapi maafkan saya Tuan Rahman, saya akan tetap buka tutup dirijen ini ..."

Mr Rahman menjerit histeris ...

"Tolong ... Toool .. Oong!"

Byuur ...

Bensin disiramkan ke sekujur tubuh Mr Rahman. Lepas itu, korek api di nyalakan ...

Byaaar ...

Seketika api menyala ..

Membakar seketika tubuh Mr Rah man yang sempat menjerit histeris, minta tolong ...

Suara itu makin lama makin mele mah bersamaan dengan tibanya Letnan Ratna dan tim sergap di lokasi kejadian.

Tembak menembak pun tak tere lakkan. William berhasil kabur de ngan melompat dari jendela.

Berlari kencang di atap rumah ..

Dia tak menyadari lima sniper telah membidiknya ..

Saat hendak melompat ke jalan, tembakan pun dilepaskan.

Menembus kepala, leher dan pung gung William ...

Tak ada suara jeritan.

Tewas di tempat dengan kepala membentur aspal ...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar