Novel Lepas
Ki Saleh (6)
Edisi Keenam
By Pak Amin
XX
“HALO semuanya. Maaf
terlambat,” kata Mang Jaiz setelah menyandarkan sepedanya dekat tugu.
Mang Kur Cs terkejut.
“Kemano bae kau Mang?” Tanya Mang Kur sambil mengusap
keringat yang membasahi mukanya dengan
tangan.
“Pecah ban sepeda aku. Jadi kudorongla. Kadang-kadang
kupikul supayo gancang,” ujar Mang Jaiz.
“Tadi kami sempat ke rumah kau. Kau dak katik,” kata Mang
Dul. Masih sempat merokok padahal badan lemah berkeringat.
Mereka sepakat beristirahat lebih dulu di dekat tugu. Ad
ataman. Taman ni ditumbuhi rerumputan.
Bersih. Jadi bisa duduk berleha.
“Pas nian,” kata Mang Jaiz kegirangan.
“Pas apanya Mang Jaiz?” Ki Saleh mengingatkannya untuk tidak
berlari karena salah kaki menginjak bisa terluka.
“Tenang saja Ki Saleh,” jawab Mang Jaiz dengan raut muka
ceria.
Ada apa dengan Mang Jaiz?
Ternyata dia membawa bekal air kopi dan sedikit gorengan.
Air kopi dalam gelas besar dan beberapa ca ngkir plastik bersama gorengan ubi
dimasukkan ke dalam sangkek rotan yang digantungkan di stang se peda.
Teman-temannya, terutama Sakul dan anak buahnya pada melongo
menyaksikan betapa riangnya Mang Jaiz membawa sangkek besar. Kedua kakinya
diangkat silih berganti. Sementara mulutnya tak henti bersi ul.
“Ahaaa … Aku sengaja bawakan ini untuk kalian,” ucap Mang
Jaiz.
Sangkek itu ia taruh di atas semen bawah Tugu Falah. Gelas
ia rapikan, berikut air kopi manis dan gore ngan.
“Silakan teman-teman …!” Mang Jaiz mempersilakan Mang Kur
dan kawan-kawan mencicipi gorengan sambil menyeruput air kopi hangat.
“Kebetulan sekali. Aku duluan ya.” Mang Kur menuangkan air
kopi ke cangkir, lalu diminumnya. Sedang kan rekannya yang lain berebutan
mengambil gorengan ubi kayu dan ubi selo.
Essssst …
Cep cep cep …
Tik tik tik …
“Enak juga kopimu ini Mang Jaiz. Kau yang bikin apa
isterimu?” Tanya Ki Saleh penasaran. Baru kali ini dia merasakan betapa enaknya
minum air kopi manis.
“Akulah Ki.”
“Kenapa enggak isterimu, Mang?”
“Kasihan Ki. Soalnya, tidurnya pulas nian. Jadi, akulah yang
bikin dan siapkan semuanya ini. Sengaja dan khusus untuk kalian lah.”
“Jadi kamu memang sengaja tak datang lebih cepat ya Mang?”
Sindir Mang Dul. Sebelum minum, ia bau asap air kopi. Sedaaaap sekali.
“Bukan begitu Mang. Aku sudah cepat datangnya. Tapi karena
ban sepedaku kempis, apa kurang angin atau
bocor, terpaksa aku jalan kaki. Sepeda kudorong, sesekali kupikul biar cepat
sampai di sini.”
“Ya sudah Mang Jaiz. Terima kasih kopi dan gorengannya,”
kata Ki Saleh.
“Sama-sama Ki.”
“Aku juga,” sahut Sakul yang sejak tadi lebih banyak diam
karena ingin menikmati air kopi dan gorengan buatan Mang Jaiz.
Sampai Subuh mereka mengaso di bawah tugu. Menunggu hari
terang. Sebelum pulang, mereka menye mpatkan diri menunaikan salat di masjid
terdekat. Ada kelapangan, kenyamanan dan untuk berbuat ya ng terbaik. Berusaha
sungguh-sungguh dan menyayangi sesama.
Keesokan harinya …
Hanya Ki Saleh yang berjualan di Pasar Falah. Sedangkan Mang
Kur, Mang Dul, Mang Sen dan Mang Jaiz
tak kelihatan batang hidung mereka.
“Mamang yang lain pada kemana Ki ya?” Mpok Leni yang datang
agak siang hanya menemukan Ki Saleh berjualan seorang diri.
“Masih tidur Mpok,” jawab Ki Saleh, merapikan botol minyak
wangi dan buku-buku agama seperti buku Iqra’ dan doa musjatab.
“Siang begini masih tidur? Ah, yang benar saja Ki. Enggak
percaya ah!” Kata Mpok Leni memasukkan ma nisan kedondong ke dalam plastik
berikut airnya sebelum diserahkan kepada ibu yang sejak tadi me nunggu di tenda
jualannya.
“Kalau Mpok enggak percaya, ‘ntar datangi saja rumah mereka
satu persatu …”
“Eggak mau ah. Ngapain Ki. Aku kan betina, apa kata
jantan-jantan.”
Ha ha ha ha …
Beberapa pedagang lain yang ikut ‘nguping’ pada ketawa,
bahkan ada di antaranya yang ‘ngeledekin’ Mpok Leni.
“Nanti aku temani Mpok,” kata pedagang mie sambil berjoget
mendengar lagu dangdut dari radio rumah warga dekat pasar.
“Goyang Mpok …” Ajak si pedagang. Joget ala ngebor.
Pedagang yang belum didatangi pembeli, ikut berjoget.
Sedangkan Mpok Leni sibuk melayani para
ibu ibu remaja putri. Juga Ki Saleh. Ketika teman-temannya sesama pedagang
sibuk berjoget ria, dia malah kebanjiran
orang yang mau belanja.
Pembeli yang datang silih berganti, Tua, muda. Laki-laki dan
wanita. Remaja putri ibu rumah tangga. Se muanya mampir dan belanja di
pelataran Pasar Falah. Rela berpanas-panas, sedikit tak mengapa. Yang penting
barang yang dicari ada dan tersedia.
Ki Saleh dan Mpok Leni benar-benar senang hari ini. Keduanya sampai kelelahan meladeni pembeli.
Untung yang diperoleh lumayan banyak. Besarnya berbeda dengan hari-hari
sebelumnya. Ke duanya bersyukur karena Allah SWT telah menganugerahi rezeki
yang halal dan thayyibah. Keduanya juga ber syukur tidak turun hujan karena
warga tak sungkan menginjakkan kaki mereka ke pasar yang masih da lam perbaikan
menyeluruh ini.
Sebaliknya, Mang Kur dan ketiga rekannya belum juga bangun
dari tidur mereka. Padahal hari sudah menjelang tengah hari. Jarum jam sudah menunjukkan ke angka setengah
dua belas lebih sedikit. Anak dan isteri mereka pada gelisah, mau makan apa
mereka hari ini.
“Tenang saja Bu. Nich masih ada uang.” Kata Mang Kur pada
isterinya yang sedari tadi cemberut karena tak punya uang buat belanja ke
warung dan mpok penjual sayur keliling.
He he he he …
“Bapak memang baik. Tahu kalau isterinya mau belanja tapi
tak punya uang,” puji sang isteri. Tersipu malu menerima dua lembar uang kertas
limpa puluh ribu. Masih anyar pula.
“Ya sudah. Yang ini simpan buat besok,” kata Mang Kur,
memberi isterinya lagi uang kertas lima puluh ribu sebanyak dua lembar.
“Bapak enggak berjualan?”
“Jualan. Sebentar lagilah Bu,” jawab Mang Kur beranjak dari
tempat tidurnya, bersiap ke kamar mandi.
“Kopi dan gorengan sudah di meja makan ya Pak. Ibu belanja
dulu.”
“Jangan lama-lama Bu.”
“Iyalah Pak. Ngapain juga lama-lama. Perut lapar, capek
pula.”
Bagaimana dengan Mang Dul?
Terjadi adu mulut. Tapi tak sampai berkelahi. Sempat
pelotot-pelototan sambil berkacak pinggang.
“Bapak gimana sih. Sudah enggak ada uang, malas pula
berdagang.” Sergah sang isteri.
“Pinjam dululah ke tetangga Bu. Besok-besok kita bayar,”
ucap Mang Dul, mengibas-ibaskan kain saru ngnya yang sudah lebih dari seminggu
tidak dicuci, apalagi diseterika.
“Tetangga mana Pak. Malu ibu pinjam sama mereka,” jawab sang
isteri. Kesal sudah mencapai ubun-ubun.
“Malu kenapa? Apa kira mereka ibu pencuri. Kan tidak …”
“Sudah rata. Semua tetangga sudah kasih pinjaman semua Pak.”
“Pinjam lagilah Bu.”
“Yang kemarin belum
dibayar Pak,” kata sang isteri ketus.
“Kalau begitu ngutang di warung sajalah Bu.”
“Sudah penuh bonnya Pak.”
Mang Dul mengernyitkan dahinya. Di tetangga belum bayar, di
warung masih nunggak. Lantas mau pinjam kemana?
“Ke tukang kredit yang suka keliling saja Bu.”
“Kredit …. Kredit
lunak … kredit lunak.
Pinjam berapa,
silakan saja.
Bayar gampang,
tak bayar berarti
nantang ….”
Karena panas, si tukang kredit mampir di kediaman Mang Dul.
Dia hanya menumpang duduk di tangga. Membuka topinya. Lalu dikipas-kipaskannya
di muka dan lehernya.
“Bu … tuh orangnya.” Bisik Mang Dul. Sang isteri yang
menengok tulisan di belakang baju tukang kredit ‘Boleh Kreditan’, buru-buru
membuka pintu.
Karena bersamaan membuka pintu, pasutri ini nyaris
tersungkur karena sama-sama ingin keluar semen tara kaki saling menginjak satu
sama lain.
“Maaf Pak,” kata isteri Mang Dul.
“Saya Bu yang minta maaf. Duduk tak ngomong lagi,” kata si
tukang kredit.
“Ya sudah …”
Mang Dul dan tukang kredit duduk berdekatan.
“Ngomong-ngomong,” kata isteri Mang Dul membuka omongan,
“Bapak ini tukang kredit ya. Mana barangnya?”
Ha ha ha ha …
“Saya tak bawa barang. Soalnya saya tak kreditkan barang,
tapi hanya uang. Tak banyak. Ibu kalau berminat saya kasih juga pinjaman.”
Isteri Mang Dul bermain mata dengan suaminya.
“Ibu saja.”
“Bapak sajalah.”
“Ibu saja.”
“Bapak sajalah.”
Saling dorong bahu, pasutri ini tak ada yang mau memulai.
Setelah tukang kredit mengeluarkan sejum lah uang dari saku celananya, barulah
isteri Mang Dul berkata …
“Dua ratus ribu saja Pak.”
“Enggak lima ratus ribu Bu?”
“Jadilah dua ratus ribu saja Pak. Nanti enggak kebayaran
kami. Kan bapak juga yang repot nantinya. Nagih terus …”
“Kalau pinjam dua ratus ribu, berapa baliknya ya Pak?” Tanya
Mang Dul sekadar ingin tahu.
“Terserah bapak lah. Mana suka, bayar saja. Gampang kan
Pak.”
Ha ha ha ha …
Dari kejauhan Mang Sen dan Mang Jaiz melihat Mang Dul dan
istrinya asyik berbincang-bincang dengan tukang kredit. Keduanya tergopoh-gopoh
menghampiri Mang Dul.
“Tolong Mang,” kata Mang Sen.
“Aku juga Mang,” ujar Mang Sen dengan nafas
tersengal-sengal.
“Tolong apa. Duduk .. duduk
dulu…”
Mang Dul meminta isterinya
mengambilkan dua gelas air putih hangat di dapur.
“Isteriku marah habis,” jelas Mang Sen.
“Istriku juga Mang,” kata Mang Jaiz.
“Marah kenapa?”
“Duit belanja tak ada …”
Ha ha ha ha …
“Mang Dul, kenapa tertawa. Lucu apa? “
“Tuh baca itu …!” Mang Dul menunjuk tulisan yang tertera di
belakang pakaian yang dikenakan tukang kredit. Mang Sen dan Mang Jaiz serempak
membacanya.
“Bapak berdua kalau mau pinjam boleh. Bapak ini baru saja
pinjam uang sama saya,” jelas si tukang kredit keliling yang asyik menghitung
lembaran uang lima puluh ribuan.
XXI
ENAM bulan kemudian …
MERASA tak puas karena tidak mendapat jatah tempat berjualan
di Pasar Falah yang baru selesai dire hab dan dipercantik sana sini, Mang Kur
Cs turun berdemo ke kantor walikota. Mereka ditemani Ki Sa leh.
Para pedagang yang berdemo ini terdiri dari laki-laki dan
perempuan dengan jenis usaha, dagangan yang berbeda. Mulai dari pedagang kain,
manisan, ikan dan daging hingga pedagang kerupuk kempelang serta sayur-sayuran.
Mereka sebelumnya mendapat tempat berjualan di dalam Pasar
Falah. Namun, setelah pasar selesai di perbaiki, ‘jatah’ mereka beralih ke tangan pihak lain.
Mereka sudah mengadu kepada Pak Sakil, bos keamanan pasar. Tapi yang
bersangkutan angkat tangan. Tak tahu menahu soal pembagian jatah tempat
berjualan.
Mereka juga sempat mengadukan hal ini pada Pak Lurah, Pak
Camat dan pihak Dinas Pasar, tapi jawaban yang didapat belum memuaskan. Tak ada
solusi. Padahal yang diinginkan pedagang adalah solusi bukan basa-basi.
Akhirnya disepakati mereka mengadu ke Pak Walikota. Mereka
turun ke jalan sambil membawa span duk yang bertuliskan antara lain … “Pedagang
Terbuang, Kios Kami Digohet Orang ..” , “Pak Wali, Perha tikan Nasib Kami …”,
“Lapak Hilang, Rezeki Melayang …”
Mang Kur Cs dan puluhan pedagang lain antusias memenuhi sebagian
badan jalan. Mereka bergerak mu lai pukul tujuh pagi dari Pasar Falah. Mereka
berbaris rapi dan jadi pusat perhatian
para pejalan kaki, pengendara motor dan kendaraan roda empat.
Sejak meninggalkan Pasar Falah, Maskur Cs bernyanyi bersama-sama. Mereka
menyuarakan hati yang galau karena tak bisa lagi mengais rezeki di tempat
mereka berdagang. Nyanyian yang mereka bawakan, syairnya antara antara lain
begini …
“Kami para pedagang
Tak boleh hidup senang
Dari dulu suka ditendang
Sekarang kena kempelang
Kami para pedagang
Selalu tampil riang
Walau tak sepeser pun uang
Yang ada terselip di pinggang
Hu hu hu hu hu
hu
Plak pak pak …
Hu hu hu hu hu
Plak pak pak …
Hi hi hi hi hi
Plak pak pak …
Hu hu hu hu
Plak pak pak …
Tolonglah kami Pak
Wali
Beri tempat mengais
rezeki
Biar hidup lebih
berarti
Beri makan anak bini
Tolonglah kami
Pak Polisi
Beri kesempatan
suarakan hati
Jangan kami
dibawa pergi
Pasti susah
hidup kami
Hidup ini sudah susah
Duit saja tak
lagi punya
Bagaimana hati
tak resah
Besok pagi
mau makan apa
Hu hu
hu hu hu
Plak
pak pak pak
He he
he he he
Plak
pak pak
Ha ha
ha ha ha
Plak pak pak
Hi hi
hi hi hi
Plik pik pik
….”
Priiiit …
Karena lampu merah macet, Pak Polantas yang bertugas sibuk
mengatur kendaraan. Termasuk meminta kelompok pendemo sabar . Menunggu giliran berikutnya,
saat petugas menyila kan untuk melanjutkan perjalanan.
“Sudah macet berlagak pula sopir itu,” gerutu Mang Sen. Dia
tak suka dengan sikap sopir opelet yang menganggap mereka menjadi biang
kemacetan.
“Tinju saja Mang,” kata pedagang lain memanas-manasi Mang
Sen.
“Sabar …!” Untung Ki Saleh segera menengahi. Kalau tidak,
emosi Mang Sen sudah memuncrat karena ocehan teman-teman pedagang lain yang
juga merasa tersinggung dituduh penyebab macetnya lalu-lintas di perempatan
lampu merah.
Memang jumlah pendemo mencapai tiga puluhan. Tapi mereka
berbaris rapi, teratur. Memanjang dan tidak sampai mengganggu kendaraan lain
yang ada di belakang, depan dan samping kiri kanan mereka.
Malah ada beberapa pedagang yang terpaksa menepi karena
hampir kesenggol mobil opelet dan priba di.
Tapi pedagang tak ambil perduli. Mereka ikhlas menepi. Padahal masih ada tempat untuk kendaraan
berhenti sejenak di perempatan lampu
merah.
Priiiit …
Seusai lepas kemacetan dari lampu merah tadi, Mang Kur dan
teman-teman sesama pedagang mema suki kawasan jalan protokol. Agar tak terasa
capek, mereka meneruskan nyanyian yang didendangkan secara bersama-sama …
“Jalan-jalan ke Palembang
Beli udang, udang satang
Alangke lemak kalu bedagang
Banyak duit hidup senang …
Pagi-pagi lari pagi
Sorenya bermain
kasti
Kalu kito punyo piti
Pasti senang anak
bini
Malam-malam kito
begadang
Minum banyu kopi
samo ubi
Kalu hidup kito
lapang
Banyak kawan yang endeketi
Tak tak
tak
Brem bem
bem
Trik tik
tik
Brim bim
bim
Truk tuk tuk
Bram bam
bam …
Bangun pagi langsung mandi
Sudah mandi langsung makan
Idak teraso berjalan
kaki
Asal besok biso bejualan
Makan nasi lauknyo teri
Jangan lup sambal terasi
Kalu pejabat senang dengan kami
Payu perhatikan nasib kami
Trek tek tek
Bram bam bam
Truk tuk tuk
Brem bem bem
Trek tek tek
Brim bim bim
Sore-sore main perahu
Baliknyo main layangan
Kito tahu sama tahu
Jangan sampai nak segocohan
Perut lapar pingin makan
Sudah makan nak minum pulo
Kalu idup jangan cak keiyoan
Sudah kayo lupo
kito
Abis jualan abisla duit
Balik ke rumh bini marah
Sudah
balik badan sakit
Kapan ditanyo kurang darah
Truk tuk tuk
Bram bam bam
Trek tek tek
Brem bem
bem
Trik tik tik ….”
Setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam, Mang
Kur Cs akhirnya sampai di pintu gerba ng kediaman Pak Wali. Rupanya pintu belum
dibuka. Seorang petugas jaga adu mulut dengan Ki Saleh sebelum pintu besi
berterali itu dibuka lebar-lebar.
Mereka, karena capek dan kehausan, memilih istirahat di
padang rumput mini, taman rumah dinas Pak Wali. Bersih dan rapi, pedagang tak
sungkan untuk merebahkan tubuh mereka di sana. Ada yang terlen tang dengan mata
terpejam, asyik bermain hape, juga ada yang sekadar duduk-duduk sambil bercanda
dengan pedagang yang lain.
“Mang Kur … ha ha ha ,” Tegur Mang Dul ketawa lebar. Mang
Kur, sambil tengkurap, mengaku seluruh persendian tubuhnya terasa sakit. Pegal-pegal dan maunya segera diurut.
“Itu tandanya Mang Kur jarang berolahraga,” celetuk Mang
Sen.
“Bukan lagi jarang, tapi memang tak pernah olah raga,” sahut
Mang Jaiz.
Tak berapa lama kemudian Ki Saleh kembali menemui pedagang
setelah berdialog dengan petugas ru mah dinas walikota. Diberitahukan bahwa Pak Wali baru bersedia
menemui mereka siang hari nanti, habis salat Zuhur.
“Waaaa … Piye toh.”
Celetuk pedagang serempak.
“Apes. Benar-benar
apes. Sudah buntu, harus lama menunggu,” kata Mpok Leni. Dia menghitung uang
recehan di punjin yang ia bawa dan taruh di saku celananya.
“Ada Mpok?”
“Ada apa Mang Sen?”
“Buat beli nasi …”
“Ada toh. Tenang. Tapi cukup buat aku seorang,” ujar Mpok
Leni.
Ha ha ha ha …
“Rasain kamu Mang Sen.
Mati kelaparan,” kata Mang Dul sekadar bercanda.
“Tenang saja,” jawab Mang Sen.
“Tenang gimana toh? Perut lapar, kalau tak diisi, bisa mati
tau …”
“Mang Dul .. Mang Dul,” teriak Mang Sen. “Itu, Ki Saleh,
coba ngapain dia?”
Ki Saleh menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada
seorang pedagang buat beli nasi bungkus jatah makan siang nanti.
XXII
“OI bangun … oi bangun … cepaaat … diberi duiiiit …!” Colek
Ki saleh. Yang dicolek Mang Kur, Mang Jaiz, dan Mang Sen. Bangun serempak.
“Mana duitnya? Mana duitnya?”
Ha ha ha ha …
“Duit apa Mang Sen. Kertas ada,” ledek pedagang kerupuk kempelang.
Mang Sen memang ketiduran. Setelah makan siang dia tidur. Ki
Saleh membangunkannya untuk shalat Zuhur. Ki Saleh memang mengatakan bakal
dapat uang, padahal tidak sama sekali.
Maksudnya, rekan-rekannya jangan lupa mengingat-Nya.
“Ki Saleh mana?” Tanya Mang Kur. Dari tadi dia hanya
mendengar suaranya, tapi orangnya tak tahu di mana dan ke mana.
“Ki, shalat Zuhur,” kata Mpok Leni, sempat ketiduran juga
tadinya. Tapi cuma sebentar.
Mang Kur Cs akhirnya menyusul Ki Saleh menunaikan shalat
Zuhur di masjid dekat kediaman Pak Wali kota. Masjid itu cukup megah. Banyak
warga menunaikan shalat Zuhur berjamaah di sana. Mereka ada lah warga yang
sengaja datang ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat. Rumah mereka berada di
sekitar kediaman Pak Wali.
Ketika Ki Saleh tiba di masjid, masih ada beberapa jamaah
yang mengerjakan shalat sunnat, berzikir dan berdoa. Ada juga yang membaca
kitab suci Al-Quranulkarim. Bahkan ada yang sekadar tidur-tiduran, sambil
‘mengutak-atik’ hape android.
Karena berpapasan dengan Mang Kur Cs, ketika mau salat
selepas mengambil air wudhu di samping mas jid, Ki Saleh hanya menunaikan
shalat sunnat tahiyatul masjid. Lepas itu, dia berzikir, tentu sambil me nunggu
teman-temannya shalat.
Saat satu-satu pulang, satu-satu datang menyinggahi masjid,
Ki Saleh mengimami salat Zuhur. Di bela kangnya Mang Dul, Man Kur, Mang Sen dan
beberapa pedagang lainnya.
Mereka baru beranjak meninggalkan masjid lima belas menit
kemudian. Tampak beberapa pedagang menghampiri Ki Saleh. Mereka kecewa karena
Pak Wali belum mau menerima kedatangan mereka.
“Kita sudah kepanasan. Mana haus lagi,” celetuk pedagang
tempe tahu kegerahan. Rambutnya basah karena barusan dibasahi air keran yang
mengalir di samping rumah dinas Pak Wali. Lumayan sejuk, ken dati tak sampai
menghilangkan dahaga.
Ki Saleh bermaksud menemui ajudan Pak Wali yang baru saja
datang. Ki Saleh mengejarnya, namun dihalangi petugas
keamanan.
“Maaf Pak. Tak boleh masuk,” kata si petugas sambil melotot
dengan raut muka kurang senang.
“Saya hanya ingin menanyakan saja, kenapa Pak Wali belum
menemui kami. Itu saja.”
“Tidak bisa Pak.”
“Apakah itu berarti kami harus menunggu di sini terus sampai
malam dan bertemu pagi lagi?”
“Betul …”
“Baik. Kami akan tetap menunggu di sini. Tapi apakah Pak
Wali ada di dalam sekarang?”
“Tidak tahu.”
Kraaak …
“Bapak mau beri saya jalan atau tidak. Atau saya patahkan tangan
bapak sekarang.” Ancam Ki Saleh. Dia lepaskan cengkraman tangannya.
Si petugas akhirnya mempersilakan Ki Saleh masuk bersama
Mang Dul dan Mang Kur. Mereka menemui ajudan Pak Wali. Anehnya, saat melihat
kedatangan Ki Saleh, si ajudan justru terkejut. Mukanya berubah pucat.
“Kenapa bapak masuk. Kan tidak boleh sembarang orang bisa
masuk,” uja si ajudan sedikit gugup.
“Kami hanya ingin mencari tahu dari anda, mana Pak Wali?”
Pertanyaan Ki Saleh tak dijawab. Mang Kur naik darah. Die
elus-elus pipi si ajudan.
“Anda mau saya tampar kagak?”
“Enggak. Enggak maulah Pak. Sakit kalau ditampar,” jawab
ajudan, bertambah gugup.
“Kalau enggak mau, jawab yang jelas, di mana Pak Wali?”
“Di … di …”
“Dimana?” Hardik Mang Kur. Beberapa petugas keamanan segera
menghampiri dan bermaksud melerai cekcok mulut itu.
“Di kantornya Pak,” ujar ajudan nyaris terkencing di celana
saking gugupnya.
Astaghfirullah …
“Kenapa enggak bilang dari tadi Pak,” kata Mang Kur kesal
bercampur kasihan.
“Cepat beritahu Pak Wali sekarang. Kami ingin bertemu,”
pinta Ki Saleh. Dia kuatir para pedagang bakal marah dan mengamuk serta berbuat
anarkis.
Sang Ajudan mengambil posisi
mendekati jendela. Lalu dia menghubungi Pak Wali lewat telepon selu ler.
Memberitahu ada sejumlah pedagang yang berdemo di kediamannya saat ini.
Diperoleh jawaban, Pak Wali bersedia menemui pedagang
sekarang. Bukan di rumah, tapi di kantornya.
“Itu pesan beliau,” terang ajudan. Gemetaran saat Mang Dul menarik kerah
bajunya.
“Mang Dul … sudah. Ayo cepat!” Kata Ki Saleh segera menemui
pedagang lainnya yang masih menunggu di luar rumah.
Mayoritas pedagang kecewa karena Pak Wali tidak ada di
rumah. Padahal sebelumnya beliau ada dan bersedia menemui mereka.
Pedagang wajar kecewa. Selain capek, haus dan lapar,
tuntutan mereka agar diberi tempat berdagang di dalam Pasar Falah bakal
tertunda penyelesaiannya.
Beberapa di antara mereka melampiaskannya dengan
menendang pot bunga di taman. Pot besar
itu tidak rusak. Cuma terguling sehingga tanah dalam pot berserakan di
rerumputan dan jalan aspal.
Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor
walikota. Selama dalam perjalanan, mereka bersenan dung …
“Beginilah nasib rakyat kecil
Sudah jatuh tertimpa tangga
Hidup seperti orang kerdil
Kemana pergi harus mengiba
Alamak nasib kami
Hari ke hari terus
begini
Mau makan harus nahan
hati
Perut kenyang
dilecehi
Kami ingin
mengubah nasib
Apa daya
tangan tak sampai
Hidup boleh
senasib
Jangan lupa
berandai-andai
Ke warung beli
rokok
Beli
sebatang dibagi dua
Maksud
hati bukan nak mogok
Ingin
solusi secepatnya
Trang
treng trung treng
Nasib pedagang
Trung tring trang
Tak punya uang
Tring trung treng
Setiap malam mesti begadang
Tring teng tring teng
Nyiapkan bekal untuk bedagang ..”
“Sampai …”
“Lambai …”
“Andai …”
“Pak Waliii …” Teriak pedagang.
Para pedagang, tanpa dikomando lagi, menghampiri Pak Wali
yang baru saja selesai menggelar rapat bersama bawahannya. Pak Wali bersedia
menerima jabat tangan mereka. Foto bersama sebelum me masuki ruangan kerja pria
ramah dan bersahaja itu.
“Selamat siang Pak Wali
Kami ingin solusi
Atas nasib kami ini
Biar besok ngais rezeki
Selamat siang Pak Wali
Beri kami harapan
Agar bisa dapat
rezeki
Buat anak bini
makan
Terima kami
dengan ikhlas
Biar kami juga ikhlas
Tak lagi suka
memelas
Karena kami
sudah bebas
Bebas
kami berdagang
Tak seorang
pun bakal menghadang
Apalagi
sampai ditendang
Sehingga
lari tunggan langgang ….”
Di depan pintu masuk ruangan kerja Pak Wali, para pedagang
masih menyempatkan diri bernyanyi, tapi lebih sopan dengan volume suara yang
tidak terlalu kencang.
Beberapa pegawai pemkot tampak senyum-senyum melihat ulah
pedagang Pasar Falah. Mereka tampak akrab dan saling menyapa, bersalaman. Malah
ada di antaranya yang bergurau soal
status, apakah ma sih sendiri atau sudah ada yang punya.
“Ayo semuanya, silakan masuk,” kata Pak Wali. Dia menyilakan
pedagang menempati tempat duduk yang
telah disediakan.
Di meja Pak Wali ada air putih botolan. Dingin dan biasa.
Juga ada buah-buahan seperti jeruk,
rambutan dan duku.
Juga ada tekwan, model, siomay, termasuk pempek dan lontong
ketupat. Piring kecil dan sedang tersu sun rapi. Di sebelahnya tersaji sendok
dan garpu serta kerupuk kempelang.
“Kita minum dulu. Saya haus, dari rapat tadinya,” kata Pak Wali.
Mengambil sebotol air putih, lalu ditu angkannya ke dalam gelas.
Belum selesai Pak Wali menuangkan air dari botol plastik
berwarna-warni, sebagian pedagang serta me rta menyerbu meja konsumsi. Untung
saja, beberapa pegawai pemkot yang ikut menata meja dan jamu an konsumsi itu,sigap
mengatur dan meminta mereka untuk tetap
sopan di depan Pak Wali.
“Biarkan saja,” ujar Pak Wali. “Mereka haus dan lapar. Ayo
semuanya … kita sikat.”
Ajakan Pak Wali disambut lega para pedagang. Beberapa di
antaranya mengucapkan rasa syukur dan me mbaca hamdalah karena hidangan yang
tersaji bisa disantap sehingga pertemuan berlangsung lancar, ti dak tegang dan
penuh dengan kekeluargaan.
XXIII
“KI Saleh, silakan!” Kata Pak Rauf, Jubir Walikota.
Selain Pak Wali, pertemuan siang hari ini dihadiri juga
kepala dinas pasar, Pak Sofyan, kepala keamanan Pasar Falah, Pak Sakil, camat
dan beberapa pejabat pemkot.
“Assalamualaikum warohamtullohi wabarokatuh,” ucap Ki Saleh.
Walau tengah hari, berapi-api.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab hadirin
serempak.
“Saya,” kata Ki Saleh, mewakili para pedagang Pasar Falah,
ingin curhat kepada Pak Wali.
“Boleh, asal jangan soal walikota,” kata Pak Wali yang
disambut tawa para hadirin.
“Begini Pak ceritanya. Dulu kami berdagang di Pasar Falah.
Suatu ketika, pasar terbakar dan kami pun pindah berjualan di depan pasar. Sebab, kalau kami berjualan
di tempat lain, sepi pembeli …”
Ki Saleh mengatur nafas sejenak.
“Ternyata, meski berjualan di luar Pasar Falah, pembeli
ramai. Kami bersyukur, karena walau tak ada tempat untuk berdagang, dagangan
kami laris manis. Namun setelah pasar selesai direhab dan diperin dah,
tiba-tiba nama kami tidak tercatat lagi dalam papan pengumuman sebagai penyewa
lapak dan kios tempat berdagang …”
Pak Wali serius mencatat.
“Nama-nama kami sudah digantikan oleh orang lain. Anehnya
lagi, penunjukan itu tanpa sepengetahuan kami. Padahal sebelumnya sudah ada
kesepakatan bahwa pedagang yang lama, maksudnya pedagang ya ng berdagang
sebelum peristiwa kebakaran terjadi, tetap diperioritaskan. Kami tagih
kesepakatan itu Pak Wali.”
“Tolong Pak, lebih diperjelaskan lagi,” pinta Pak Sofyan.
“Jadi intinya Pak. Kami minta tempat berdagang dengan harga
sewa yang tidak mencekik leher. Terjang kau kantong kami para pedagang,” jelas
Ki Saleh.
Pak Wali berdiskusi sejenak dengan kepala dinas pasar dan
pejabat terkait lainnya. Pertemuan diskors sebentar.
“Ki, jangan lama-lama,” bisik Mang Dul.
“Kenapa?”
“Ngantuk nih.”
Pedagang di dekat Mang Dul ketawa sambil menutup mulutnya
agar tidak kedengaran orang lain.
“Harus ada keputusan Ki,” ucap Mang Sen dengan raut muka
tegang.
“Kalau tak ada keputusan dari beliau, jangan dulu pulang,”
ujar Mpok Leni.
“Bila perlu kita menginap saja disini sampai beberapa hari,”
kata Mang Jaiz.
Tok tok tok …
Pak Rauf membuka kembali dialog antara pedagang Pasar Falah
dengan Pak Walikota. Pedagang tekun menyimak, karena yang akan berbicara ini
adalah kepala dinas pasar.
Apa solusi dari beliau?
“Terima kasih. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab pedagang
sembari berbisik satu sama lain.
“Yang saya hormati Pak Walikota, bapak-bapak dan ibu-ibu
sekalian. Menjawab keluhan dari bapak-ba
pak dan ibu-ibu, perlu saya jelaskan disini bahwanya untuk tempat berdagang,
kami tentukan nama-nama itu sesuai hasil laporan yang masuk. Begitu juga dengan
harga sewa. Pada pokoknya kami me ngambil keputusan ini tidak sepihak. Kami
mengajak pihak terkait untuk berdiskusi, dan inilah hasilnya.”
“Tidak bisa Pak,” potong Mang Dul dengan suara lantang. Dia
berdiri sambil menunjuk-nunjuk Pak Sof yan dengan muka yang memerah.
“Tenang Mang Dul. Biar saya yang ngomong,” kata Ki Saleh.
Setelah menenangkan Mang Dul, Ki Saleh angkat bicara.
“Maafkan teman saya ini Pak Sofyan. Terus terang kami
keberatan dengan apa yang disampaikan bapak barusan …”
Pak Rauf mengintrupsi sebentar. Dia berbincang sejenak
dengan Pak Sofyan. Atas instruksi Pak Wali, Ki Saleh dipersilakan melanjutkan
ucapannya.
“Terima kasih. Kami ingin mendapat lapak dan tempat berdagang
di Pasar Falah. Karena selama ini kami berdagang di sana dan tidak ada masalah.
Kemudian mohon tinjau kembali harga sewa. Kami juga harus membayar tetek bengek
lainnya. Padahal untung yang kami peroleh tak seberapa,” terang Ki Saleh.
Melihat Pak Sofyan tetap ngotot dengan ucapannya, dan tidak
memberikan jalan keluar terbaik, Pak Wali akhirnya menengahi.
“Pak Sofyan. Saya minta tinjau ulang nama-nama pedagang yang
dapat jatah sewa lapak dan kios,” pinta Pak Wali.
“Siap Pak.”
“Turunkan harga sewanya.”
“Siap Pak.”
“Terakhir, ajak pedagang bicara. Libatkan mereka ini semua
…”
“Baik Pak.”
“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,” kata Pak Wali, “Jika
dalam beberapa hari ke depan ini, masalahnya belum juga selesai, temui saya di
kantor. Bagaimana, setuju?”
“Setujuuu,” jawab pedagang serempak.
“Pak Sofyan!”
“Saya Pak Wali.”
“Ingat pesan saya tadi?”
“Ingat Pak.”
Para pedagang yang semula tegang, kini sudah bisa tersenyum
lega setelah Pak Wali menjamin bakal ada tempat
berdagang bagi semua pedagang Pasar Falah yang sengaja datang menemuinya siang menjelang sore hari
ini.
Acara dialog dan pertemuan itu diakhiri dengan doa dan
bersalam-salaman. Pak Wali berkenan me ngantar para pedagang sampai pelataran
kantor pemkot.
Bagaimana dengan Pak Sofyan?
Sesampainya ia di ruang kerjanya, kebetulan berkantor dekat
kantor Pak Wali, marah. Dia panggil anak buahnya. Dia omeli satu persatu. Dia
minta pertanggung jawaban.
“Anda semua ini goblok,” bentak Pak Sofyan dengan nada
tinggi.
“Anda semua kan tahu, gara-gara ini saya dimarahi
habis-habisan oleh Pak Wali.” Diduga kuat nama-nama pedagang yang tertera dalam
pengumuman sebagai penerima jasa sewa lapak dan kios hanya fiktif.
Anak buah Pak Sofyan hanya diam, tertunduk lesu.
“Anda tahu jika ini benar, maka saya bisa dipenjara. Tahu
tidak?”
Belum ada yang menanggapi.
“Dari siapa nama-nama itu masuk ke kita?” Tanya Pak Sofyan.
Membanting buku dan pulpen. Amarah nya berhasil diredakan beberapa anak buahnya
yang dengan sigap membawanya ke ruangan
ber AC .
Di ruangan itulah Pak Sofyan, karena sudah sedikit tenang,
meminta anak buahnya masuk dan membica rakan masalah pedagang Pasar Falah ini.
Dia meminta bawahannya itu menelusuri keberadaan nama-nama
pedagang. Apa benar ada nama-nama itu. Sebab, dugaan kuat menunjukkan nama-nama
itu tidak ada sama sekali.
“Mereka bukan pedagang. Mereka adalah nama-nama yang sengaja
dimasukkan ke dalam daftar penye wa lapak dan kios untuk bermain mata dengan
para pedagang sebenarnya,” kata Pak Sofyan.
“Jadi, kalau itu benar, maka ada dua tugas berat yang harus
kita tuntaskan secepatnya. Pertama, siapa dalangnya. Kedua, siapa dari kita
yang ikut bermain.”
“Tapi menurut saya tidak ada, Pak.” Ujar anak buahnya
berkumis tebal.
“Itu kata kamu. Belum tentu kata yang lain. Dan saya ingin
kita harus transparan dalam masalah ini. Ter
buka dan tak usah takut sekiranya kalian semua sudah tahu
siapa dalangnya. Katakanlah dari sekarang sebelum terlambat. Karena Pak Wali
sudah mengultimatum saya dan kita semua untuk menuntaskan kasus memalukan ini.
Paham maksud saya?”
“Paham Pak, cuma …”
“Cuma apa?”
“Apa nantinya justru menambah rumit masalahnya Pak.”
“Maksudnya?”
“Begini Pak. Misalkan kita sudah tahu. Katakanlah A
dalangnya. Lantas, karena ini masalah kita, Pak Wali justru meminta tanggung
jawab penuh dari kita, sementara pekerjaan lain menumpuk.”
“Tak usah kuatir. Kalau sudah tahu siapa dalangnya, kita
laporkan saja ke Pak Wali. Biar Pak Wali yang menuntaskannya. Kan beres.”
“Saya Pak.” Anak buah Pak Sofyan bermata sipit menanyakan
ikhwal si dalang. Andaikata tidak ada, atau berhasil diketemukan dalangnya, apa
yang harus kita lakukan, sementara setiap tindakan yang salah pas ti ada
dalangnya.”
Ha ha ha ha …
“Jangan takut Pak Romi. Bekerjalah seperti biasa. Kalau
ternyata tidak ada, ya tidak apa-apa. Yang pen ting kita sudah bekerja
maksimal. Soal hasil, itu urusan lain,” terang Pak Sofyan.
“Susahnya …” Tiba-tiba Pak Sofyan mengernyitkan dahinya,
seolah sedang berpikir keras.
Anak buahnya saling pandang, tapi tak berani bicara. Hanya
menunggu apa yang akan dikatakan si ata san.
“Kalau dalangnya itu melibatkan orang dalam …”
Ucapan ini membuat ketar-ketir sang bawahan. Malah, kini
mereka bukan lagi ketar-ketir, tapi sudah saling curiga satu sama lain.
“Tapi mudah-mudahan tidak ada,” lanjut Pak Sofyan.
Hua ha ha ha …
Hua ha ha ha …
“Mulai sekarang jujurlah kepada saya. Walau itu pahit, demi
kebaikan instansi kita, akan berbuah manis nantinya …”
Entahlah …
XXIV
MENGETAHUI namanya disebut-sebut dalam kasus lapak dan kios
fiktif Pasar Falah, Aguan mencak-men cak. Apalagi yang bersangkutan diduga kuat
mendalangi aksi illegal itu. Dia mengajukan protes kepada kepala dinas pasar,
Pak Sofyan. Tapi protes itu tidak ditanggapi.
Karena tidak ditanggapi, dengan alasan penyelidikan masih
berlanjut, Aguan dan anak buahnya menda tangi kantor walikota. Mereka bermaksud
mengajukan protes atas informasi yang beredar bahwa Aguan lah dalang kekisruhan
pembagian lapak dan kios Pasar Falah.
Pak Wako tak berhasil ditemui. Dia sangat sibuk. Jadwal
kerjanya amat padat. Dari pagi hingga malam ha ri. Tak jarang dia baru
beristirahat setelah larut malam. Ajudannya pernah dihubungi, jawabannya ‘Pak
Wako sangat sibuk.’
Aguan boleh saja
mencak-mencak. Tapi orang dalam dinas pasar menyebutkan keterlibatannya dalam
kasus lapak dan kios Pasar Falah. Kendati tidak terang-terangan menyebut nama
Aguan, sumber yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan keterlibatan pihak
luar dinas pasar itu adalah sosok yang ber pengaruh dalam dunia usaha. Dia
adalah pengusaha sukses dan dikenal semua kalangan.
Merasa kemajuan dunia usahanya mulai terusik pasca mencuatnya
kasus Pasar Falah, Aguan menyuruh anak buahnya mendatangi para pedagang yang
melakukan aksi demo beberapa waktu lalu. Meminta mereka mengurung kan niat menuntut hak pakai dan sewa kios serta lapak
Pasar Falah.
Mang Kur dan kawan-kawan menolak ajakan Aguan untuk
berdamai. “Kami tetap pada tuntutan kami. Ingin tempat berdagang di Pasar
Falah,” jelas Mang Dul saat ditemui beberapa orang suruhan Aguan.
Mang Dul tidak sendirian. Dia ditemani Mang Kur, Mang Sen
dan Mang Jaiz. Mereka tidak gentar meng hadapi
empat pria bertampang seram yang bertandang ke kediaman Mang Dul.
“Tapi sekali lagi kami minta bapak berempat memikirkan
kembali permintaan bos kami,” kata pria ber jambang lebat dengan sedikit memaksa.
“Maafkan kami bapak-bapak,” kata Mang Sen, “Bukan kami
melawan kehendak bapak-bapak. Kami se karang tinggal menunggu harinya saja.
Besok atau lusa kami akan menempati lapak dan kios kami.”
“Katakan saja kepada bos kalian. Jangan ganggu kami,” pinta
Mang Kur.
Lobi anak buah Aguan tak membawakan hasil. Mereka pulang
dengan tangan hampa. Saat menuruni anak tangga, sempat terjadi cekcok. Diawali
dari saling pelotot-pelototan antara Mang Dul dan pria bertato di dagu.
Pelotot-pelototan itu berlanjut saling adu kening dan
hidung. Saling dorong, si tato nyaris jatuh dari tangga. Mau melepaskan
pukulan, ditahan teman-temannya.
Semua kejadian ini, termasuk lobi yang gagal dilaporkan ke
Bos Aguan. Sikapnya mudah ditebak. Dia marah besar.
“Bodoh kalian ini.
Kenapa tak kalian ajak makan-makan dulu …”
“Tak mau Bos,” jawab si tato.
“Tak mau kenapa?”
“Sudah kenyang dan tak biasa makan di luar rumah,” jelas si
tato.
“Lalu, kalian diam saja, begitu. Dasar bodoh. Pikir …
pikir.” Aguan menunjuk kening tato.
“Kamu, apa yang kamu lakukan?” Aguan menggeser kursinya.
Persis berhadapan dengan si jambang lebat.
“Sudah Bos. Kami sudah berusaha membujuknya. Tapi mereka
tetap tak mau. Mereka bilang sudah deal. Tinggal menunggu hari saja,” terang si
jambang.
“Kalian terima saja?”
“Mulanya tidak Bos. Kami tetap berusaha membujuk mereka,
agar menerima keputusan pertama. Imbal annya, diberi uang dan tempat berdagang
di pasar lain. Tapi, ya itulah Bos hasilnya. Mereka tetap tidak mau …”
Bos Aguan beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil
telepon genggamnya, lalu menelepon sese orang. Entah siapa.
Tapi intinya dia meminta bantuan koleganya itu untuk bertemu
di tempat tertentu. Pertemuan itu mem bahas kelanjutan dari lobi yang gagal.
Aguan sangat berharap pertemuan itu nanti membuahkan hasil.
Sebelum menutup teleponnya, Aguan berpesan agar pertemuan
itu dilangsungkan secara tertutup dan rahasia.
“Saya akan membawa beberapa anak buah saya untuk sekadar
berjaga-jaga,” jelas Aguan.
Siapa gerangan dia?
Namanya Aliong, seorang preman besar. Dia sudah terbiasa
membunuh, memenjarakan orang, bahkan membuat orang lain mengalami cacat seumur
hidupnya.
Aliong adalah preman bayaran. Dia tidak bekerja sendirian.
Dia memiliki beberapa anak buah terlatih. Sudah terbiasa menculik dan
menghilangkan nyawa orang yang tak bersalah.
Kendati sudah bergelimang dengan dunia kejahatan, Aliong
suka menolong sesama. Beberapa anak buahnya yang mengalami kesulitan keuangan,
dia bantu. Juga orang lain. Tak segan-segan ia turun tangan membantu
mengatasinya.
Aliong memiliki usaha sampingan. Dia adalah toke beras
terbesar. Dia menguasai pasar beras, termasuk petani yang bertanam padi.
Kehidupan petani terangkat karena padi yang dihasilkan bisa dibeli dengan
harga mahal oleh Aliong.
Aliong bertanggung
jawab penuh dengan bisnis yang dia lakoni. Sekecil apapun kendala yang ia temui
di lapangan dengan cepat diatasi, dicarikan solusi.
Aliong dikagumi anak buahnya dan segelintir orang. Dia
dianggap dewa penyelamat. Dewa penolong dan pemberi harapan yang besar.
Kehadirannya mampu menyulut semangat untuk tetap hidup meski dalam serba
keterbatasan ekonomi.
Pertemanannya dengan Aguan sudah berlangsung sejak lama.
Sama-sama bergerak di bidang dunia usa ha, satu toke beras dan satunya lagi
toke sembako, keduanya sama-sama sukses dan berpengaruh.
Pertemuannya kali ini dilangsungkan di kafe sudut kota. Kafe
megah itu memang hanya dikunjungi kala ngan tertentu. Hanya ramai pada
hari-hari tertentu saja. Buka mulai pagi hingga malam hari.
Tempat parkirnya luas. Berbagai merek mobil produk terbaru
berderet rapi dari pangkal ke ujung. Tak satu pun motor yang terlihat. Karena
memang tempatnya di samping gedung kafe. Tidak banyak jumlah nya. Sebagian
besar kepunyaan pegawai kafe.
Aliong dan Aguan bertemu di malam hari. Sama-sama dikawal
beberapa anak buah. Keduanya menem pati ruangan paling ujung. Di ruangan ini
tersedia meja panjang dengan jumlah kursi belasan.
Diterangi sinar lampu berwarna kuning emas dan alunan musik
instrumentalia tiupan saxophone dan petikan gitar, membuat suasana semakin
teduh dan nyaman. Enggan rasanya beranjak pergi
ketika sudah menempati tempat duduk yang telah disediakan.
Pelayannya yang sebagian besar perempuan muda berparas
cantik dan berkulit hitam manis sangat ra mah kepada setiap pengunjung. Mereka
tak segan menghampiri setiap meja panjang kafe. Menanyakan pesanan, rasanya dan
keluhan yang ingin disampaikan jika
memang ada.
Kepada Aguan dan Aliong beserta pengawalnya, para pegawai
terlatih Kafe ‘Bersemi Lagi’ ini tak cang gung menyapa, melayani dan
mempromosikan beragam kudapan dan minuman teranyar.
Di beberapa meja terlihat aneka rasa kopi, es krim, mie
goreng rasa menendang, juice buah-buahan, nasi goreng, ayam pan ggang, sate dan
kudapan dari luar negeri seperti pizza dari Italia, Korea, Jepang dan tentu
saja berbagai belahan negara Erofa.
Sebelum memulai pembicaraan, Aliong dan Aguan menyempatkan
diri terlebih dulu menikmati penam pilan artis ibu kota mendendangkan beberapa
tembang berbahasa Mandarin, Korea, Jepang, dan Indo nesia.
Tembang-tembang yang didendangkan itu sangat sentimental dan
enak terdengar, menghanyutkan para para penikmatnya, membawa mereka jauh melanglang
buana ke negara asalnya. Pantulan suaranya seo lah mengikuti sepi dan senyapnya
ruangan, indahnya malam. Walau di dalam dan luar ruangan, cukup banyak orang
dengan berbagai kesibukan.
XXV
MANG Kur dan
kawan-kawan, pasca terkabulnya tuntutan mereka atas hak pakai dan hak sewa
lapak dan kios Pasar Falah, menggelar acara syukuran. Syukuran yang berlangsung
di kediaman Ki Saleh bakda shalat magrib berjamaah itu diawali dengan pembacaan
surat yasin, tahlilan bersama dan siraman roha ni.
Acara syukuran dihadiri banyak orang, warga Kampung Falah.
Mulai dari kepala keamanan Pasar Falah, Sakil, Sakul dan anak buahnya, Ki
Badrun dan Aryati, Pak Erte dan isteri,
Ki Duren dan Ki Semangka, Ki Baut, pengurus masjid Bu Kandar, hingga
siswa Taman Pendidikan Nurul Falah.
Acara syukuran berlangsung khidmat, terutama ketika Sri
Hapsari mendapat kesempatan membacakan ayat suci Al-Quranulkarim. Setiap
hadirin mendapat satu buah kitab surat yasin yang bisa dibawa pulang setelah
selesai acara syukuran.
Karena dibacakan bersama-sama, pembacaan surat yasin menjadi
lebih khyusuk. Rerumputan di luar ru mah seolah berhenti bergoyang, padahal
angin berhembus lumayan kencang, dan malam sangat cerah dihiasi sinar rembulan
yang bersinar terang.
Segenap wajah hadirin
menunduk. Buku yasin yang dibagikan sebagian besar tidak dibaca, dibiarkan ter
geletak di atas meja dan hambal. Karena mereka sudah hafa di luar kepala. Cukup
dengan mengingatnya sambil memejamkan
mata.
Luar dan dalam rumah Ki Saleh, sama ramainya. Hanya berbeda
posisi. Kalau di dalam rumah, hadirin du duk bersila. Sedangkan mereka yang
berada di luar duduk di kursi plastik yang telah disediakan tuan ru mah.
Tak seorang pun yang berkelakar saat pembacaan surat yasin
bersama-sama. Semua tertunduk khusyuk, bahkan ada yang mencucurkan air mata.
Tidak sampai menangis, karena bukan sedih yang terlihat. Tapi tanda syukur atas
nikmat dan pertolongan yang telah Dia berikan.
Segenap hadirin semakin khusyuk ketika Ki Saleh berkenan
memimpin tahlilan. Suaranya merdu, tapi me resap sahdu di lubuk hati yang
dalam. Apalagi saat Ki Saleh membaca … Adhaludz
dzikri fa’lam an nahu laa ilaha illallah hayyum maujuuud. Laa ilaha illallah
hayyum ma’buduud. Laa ilaha illallahu hayyum baa qi .
Kalimat laa ilaha
illallah, walau dibaca seratus kali, tak terasa karena nikmatnya setiap kata
dan huruf ya ng dilantunkan, dibaca bersama-sama. Turun naik nada membikin
merinding kita yang mendengarnya.
Rasulullah SAW seakan hadir ikut syukuran setelah para
jamaah membaca ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad,allahumma shalli ‘alaihi
wasallam …’ yang dilanjutkan dengan bacaan ‘Subhanallahu wabihamdihi ..’ sebanyak tiga puluh kali.
Dilanjutkan dengan bacaan …’Subhanallahil adhiim ..’ Juga
tiga puluh tiga kali. Kemudian ‘Allahumma shalli ‘ala habiibika sayyidina
Mhammadin wa’alaa aalihi wa shahbihi wasallim.’ Tiga puluh tiga kali yang
diakhiri dengan membaca …’ajmaiiin.’
“Al-Fatihah,” ucap Ki Saleh. Bersama-sama membaca surat
Al-Fatihah.
Kemudian dia membaca doa tahlil, diaminkan para jamaah di
dalam dan luar rumah. Inilah doa yang beliau baca …
“Audzubillahi minasy
syaithanirrajim, bismillahirrohamnirrohim. Alhamdulillahi robbil alamin hamdan
(sy) syaakirin, hamdan naa’imiin. Hamdan (day) yu’afi ni’amahu wa yukafii
maziidah. Ya robbana lakal hamdu kama yanbagii lijalaali wajhika wa ‘adziimi
sulthaanik …
Allahumma shalli
wasallim ‘alaa sayyidina muhammadin (diw) wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad.
Allahumma taqabbal wa aushil tsawaaba maa qoro’naahu minal quraanil ‘adhiim …
Wa maa hallalna wa maa sabbahnaa huwa mastaghtahgfarnaa wa maa shallaina ‘alaa
sayyidinaa muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam hadiyayyatan waa shilatan
(w) warahmatan naazilatan w) wabarokatan
syaamilatan ilaa hadroti habiibina wa syaii’inaa wa qurrata a’yuninaa
sayyidi\Wanaa wa maulaa naa muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam …
Wa ilaa jamii-‘I
ikhwaanihi minal anbiyaa’I wal mursaliina wal auliyaa-i wasy syuhada-i iwash shaalihiina wash shahabaati wat taabi’iina
wal ulamaa’I wal ‘aamiliina wal
mushannifiina wal mukhlishiinaa …
Wa jamii-‘il
mujaahidiina fi sabilillahi robbil ‘aalamiina
wal malaa-‘ikati muqorrobiina khushuushan ilaa sayyidinasy Syaikh ‘Abdul Qadir
Jailani tsumma ilaa jamii-‘I ahlil qubuuri minal muslimiina wal musli maati wal
mu’miniina wal mu’minaati min masyaa riqil ardhi wa maghaaribiinan barrihaa wa barrihaa
khushuushan ilaa aabaainaa wa ummahaatinaa wa ajdaa dinaa wa jaddaatinaa wa
nakhushshu khushuushan ilaa manijtama’na haahunaa bisababihi wali ajlih …
Allahummagh firlahum
warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum
Allahumma anzillir
rahmata wal maghfirota ‘alaa ahlil qubuuri min ahli laa ilaaha illallaahu
muhammadur
Rasulullahi …
Robbanaa arinal haqqa
haqqan war zuqnattibaa’ahu wa arinal baathila baathilan (w) war zuqnaj tinaabah
…
Robbanaa atinaa fid
dunya hasanah wafil aakhirati hasanah wa qinaa ‘azaaban naar…
Subhaana robbika
robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuuna wa salaamu ‘alal mursaliina wal hamdulillahi
robbil alamin.”
Usai menyampaikan doa tahlil, Mang Dul menghampiri Ki Saleh.
Dia membisikkan sesuatu. Ki Saleh belum memutuskan. Dia kemudian menyampaikan bisikan
Mang Dul ke beberapa pendekar untuk dimintai pendapat.
Ki Badrun setuju jika Aguan dan Aliong dipersilakan masuk.
Hal senada juga disampaikan Ki Duren, Ki Baut dan Ki Semangka.
“Bagaimana Ki?” Mang Dul sudah tak sabar mengetahui apa boleh Aguan dan Aliong masuk. Sebab,
sebagai tamu, tak mungkin keduanya dibiarkan duduk di luar, sementara Ki Saleh
dan beberapa pen dekar lain justru ada di dalam rumah.
Kehadiran Aguan dan Aliong ikut mencairkan ketegangan antara
pedagang Pasar Falah dengan keduanya terkait
‘penyerobotan’ lapak dan kios yang menyebabkan Ki Saleh dan para
pedagang lain kehilangan tempat berdagang.
Kepada yang hadir, Aguan dan Aliong diminta Ki Semangka
memperkenalkan diri, maksud dan tujuan hadir dalam acara syukuran pada malam
hari ini. Dengan demikian tidak ada lagi rasa curiga dan syak wa sangka yang justru
menimbulkan keresahan dan permusuhan yang berujung pada munculnya dendam
kesumat dari masing-masing pihak.
Baik Aguan maupun Aliong, mereka berdua terus terang meminta
maaf atas kelancangan telah memak sa diri untuk datang di acara syukuran ini.
Soalnya, mereka tidak masuk dalam undangan dan tentunya membuat kaget segenap
warga yang hadir memenuhi undangan.
Keduanya menginginkan benang-benang persaudaraan yang selama
in belum tersambung dengan kuat, lebih dikuatkan lagi. Sebab, sesama kita,
walau berbeda agama, tetap dianjurkan untuk saling bersilatu rahmi, berbagi, membantu
dan mempererat kesetiakawanan, bahu membahu membangun negeri ini.
Aguan dan Aliong meminta para pendekar dan pedagang Pasar
Falah untuk melupakan kejadian yang baru lalu.
“Biarlah ia terkubur dengan segala kelebihan dan
kekurangannya. Mari kita saling memaafkan. Dan kami berdua ingin bapak-bapak
dan ibu-ibu sekalian yang hadir disini bisa memaafkan kami,” kata Aguan.
“Begitu juga dengan saya,” ujar Aliong. “Saya ingin kita
sama-sama membangun pertemanan, saling membantu satu sama lain, dan satu
tujuan demi majunya negeri kita ini …”
Sebab, kata Aliong, negeri ini juga adalah negeri kita
bersama. Semua kita berhak dan ikut memajukan negeri ini. Izinkanlah kami berdua
juga ikut bersama bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian membangun Kampung Falah,
kampung-kampung yang lain agar tidak jauh tertinggal dari daerah lain.
Syukuran itu diakhiri siraman rohani dari Ustad Mansur
dengan tema ‘Membangun Silaturahmi, Mem bangun Bersama Negeri ini’ mendapat
sambutan luar biasa dari para hadirin. Diselingi tawa dan canda, nasehat yang
disampaikan ustad muda usia ini sangat mengena karena lazim terjadi dan dialami
dalam kehidupan sehari-hari.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar