Jumat, 03 Maret 2017

Pusy Cat (4)




Cerita Berseri

Pusy Cat (4)
Edisi Keempat
Oleh Wak Amin

IX
TANPA sepengetahuan petugas medis,  Mrs Bram berinisiatif mengosongkan kamar depan yang baru me reka tempati. Kini mereka memilih tempat yang baru, sebuah kamar kosong yang belum ditempati pasi en yang dirawat inap hari itu. Ulah Mrs Bram ini mengundang rasa curiga petugas keamanan setempat yang mulai meningkatkan patrol mengitari area luar dan dalam rumah sakit.
Kecurigaan itu seolah tak berlanjut menyusul tergeletaknya seorang petugas keamanan rumah sakit di depan pintu lift lantai atas. Meski tidak sampai tewas, hanya pingsan dan tanpa mengeluarkan darah, membuat sibuk kepala rumah sakit.  Dia menginstruksikan pengamanan yang lebih ketat  lagi di setiap kamar yang ditempati para pasien.
Dokter Eko, kepala rumah sakit, menginstruksikan juga kepada bawahannya untuk berjaga-jaga. Kepada pihak keamanan diminta juga bantuannya. Paling tidak mencegah adanya korban yang berjatuhan lagi.
Jegaaar …
Guaaam …
Setiap ruangan dimasuki Mr X. Bagi pasien yang tidur ditemani anggota keluarganya yang tengah keluar untuk mengurus sesuatu, tidak masalah. Apalagi Mr X tidak sampai menumpahkan kemarahannya ka re na belum ketemu Mr Bram.  Setelah melihat dari dekat muka setiap pasien yang dirawat, dia bergegas keluar sambil menutup pelan pintu kamar.
Namun bagi pasien yang ditunggui anggota keluarganya tentu berbeda. Mereka bahkan ada yang berte riak dan memaki-maki Mr X sebagai orang yang tak waras. Kegaduhan inilah yang sebenarnya tidak dike hendaki Mr X sebenarnya. Sebab, dengan demikian keberadaannya di rumah sakit ini diketahui orang banyak. Itu artinya keinginan dia untuk menghabisi Mr Bram bakal tidak kesampaian.
Di tempat berbeda, di kamar yang sebelumnya ditempati Mr Bram di lantai dasar, Mr X sempat bersite gang dengan anggota keluarga pasien yang hendak memasukkan pakaian ke lemari dan meletakkan pe ralatan makan serta minum  seperti piring dan termos air di meja. Mereka mengira Mr X hendak me nyerobot kamar yang telah dipesan sebelumnya.
Mr X yang semula tidak ingin memperpanjang masalah, justru naik pitam saat lelaki berperawakan tinggi besar dan berkumis tebal memaki-makinya sambil berkacak pinggang. Dia tak terima. Tanpa mengeluar kan sepatah kata pun, dia tembak lelaki di depannya ini. Tewas seketika.
“Auuuw … tolooong! Pekik ibu di sebelah Mr X yang bersegera menghampiri suaminya yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia menangis sesunggukan.
Tembakan yang dilepaskan Mr X, karena menggunakan alat peredam suara,  hanya bisa didengar sekilas oleh mereka yang sangat dekat dengan lokasi kejadian penembakan. Sehingga tidak sampai mengusik pi hak lain, terutama petugas keamanan yang belum  terlihat sedari tadi.
“Pembunuh. Tolooong!” Saat perempuan muda dan cantik ini menjerit minta tolong, karena terdengar nyaring, berhamburanlah anggota keluarga pasien dari dalam kamar di sebelahnya. Menyusul petugas medis dan keamanan rumah sakit.
Tanpa pikir panjang lagi, MrX menghabisi ibu muda itu sebelum melarikan diri  lewat pintu  emergency. Lampu merah, sirene rumah sakit tanda bahaya dinyalakan.  Membuat Mr X mempercepat larinya. Dia baru berhenti ketika sampai di ujung ruangan panjang dengan kelebaran hanya setengah meter . Ada kamar kecil, di sanalah dia bersem bunyi untuk beberapa saat.
Tak berapa lama datanglah petugas kepolisian. Mereka turun dari mobil dan menyisir bagian luar serta dalam rumah sakit, bersenjatakan lengkap untuk mengamankan pasien sekaligus menangkap Mr X, bu ronan yang mereka cari.
Mr Bram bernafas lega. Dengan kehadiran petugas kepolisian,  ia dan isterinya, Mpok Surti dan Pusy bisa aman. Mereka mencapai kata sepakat dengan pihak rumah sakit untuk rawat jalan saja di rumah.
Keesokan harinya, Mr Bram baru meninggalkan rumah sakit. Dengan dikawal ketat beberapa petugas ke polisian, mereka sampai di rumah tengah hari. Mencekamnya suasana rumah sakit kemarin malam su dah terlupakan melihat aksi lucu si Pusy.
Pusy berjoget-joget di ruang tamu, disaksikan Mr Bram dan isteri, mengikuti irama lagu dangdut melayu. Kelucuan itu terlihat setelah Pusy turun dari kursi tamu sambil mengeong. Dia tak sungkan melompat ke pangkuan Tuan dan Nyonya nya. Bahkan Mpok Surti yang setelah keluar dari dapur membawakan minu man susu dan teh untuk majikannya sempat kaget karena ulah Pusy.
Kelucuan tak berhenti disitu. Dengan cekatannya ia nyalakan pesawat televisi. Mereka yang menonton tertawa menyaksikan Pusy menirukan artis dangdut joget di atas panggung. Semua akhirnya ikut berjo get sampai kelelahan dan tertidur di kursi.
Ning nooong …
Ning noooong …
Ning noooong …
Mengetahui Pusy lah yang membukakan pintu rumah, seorang perwira polisi muda dan ganteng itu pun tersenyum ramah.
“Tuan ada Pusy?” Tanyanya yang dijawab Pusy dengan ngeongan. Pusy pun berlari setelah me lompat ke sofa ruang tamu sebagai isyarat mempersilakan sang tamu untuk masuk dan duduk di tempat duduk yang telah disediakan tuan rumah.
Pusy memasuki kamar tuannya. Masih terlelap tidur. Sedangkan Mrs Bram lagi mandi di kamar mandi. Mpok Surti sendiri, seperti biasanya, menyiapkan masakan di dapur.
Ngeoooong …
Pusy mencium-cium pipi tuannya. Menggeliat sesaat. Baru terjaga setelah menggelitiki telapak kaki Mr Bram.

Ngeooong …
Dia menarik-narik tangan tuannya. Lalu melompat turun dari tempat tidur menuju pintu kamar yang terbuka separo.
Pusy menoleh tuannya.
Ngeooong …
“Tunggu ya!”
Mr Bram berpakaian sebentar. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mengusap mukanya dengan air dingin. Sejuk terasa. Sesejuk ia menemui koleganya yang memberitahukan Mr X terpaksa did or karena melakukan perlawanan dengan melukai beberapa anggota kepolisian yang nyaris berhasil me ringkusnya.

X
ANGGOTA keluarga Mrs Bram bertambah satu lagi dengan hadirnya Lola, seeokor kucing berbulu indah. Lola sengaja dibeli Mrs Bram dari tempat penjualan kucing terbesar di kota ini. Hal ini ia lakukan karena tak ingin melihat Pusy sendirian terus menerus.  Ada tempat curhat-curhatan dan bisa saling kenal me ngenal dengan jenis kelamin berbeda.
Semula kehadiran Lola dianggap sebelah mata oleh Pusy. Dia cuek ketika Lola mendekatinya. Mengajak berkenalan dan memilih duduk dekat Pusy. Sayang, Pusy tak peduli. Dia hanya diam. Begitu juga ketika Mpok Surti melempar bola bola ke lantai. Hanya Lola yang mengejarnya. Sedangkan Pusy memilih diam.
Ngeooong …
Mpok Surti memancing Pusy agar mau berteman dengan Lola. Tapi tetap saja Pusy menolaknya. Meski pun digendong manja dan didekatkan dengan Lola, Pusy yang biasanya lincah berubah pendiam. Mata nya memang melihat bola, tapi tanpa ekspresi. Seolah sedang bengong.
Mpok yang gemas tengok Pusy tak beraksi di dekat Lola, nekat mendekatkan mukanya Pusy ke muka Lola. Saking dekatnya seolah keduanya saling berciuman. Lola mengeong, Pusy biasa saja. Hanya Lola yang senang. Entah  senang karena dekat Mpok Surti , atau mulai menyukai  Pusy yang diharapkan bisa diajak berteman.
“Nya … Nya …!” Mpok Surti mencegat Mrs Bram suatu sore saat majikannya itu baru tiba dari menjemput suaminya pulang kerja.
“Lola Nya.” Kata Surti. Tentu saja Mrs Bram serius menanggapinya. Sebab, perempuan penyuka kucing itu tak ingin hewan kesayangannya itu sedih, apalagi sampai jatuh sakit. Dia akan tekun merawatnya, bahkan bila perlu diobati tempat pengobatan khusus hewan.
“Hi hi hi hi …”Tiba-tiba Mrs Bram tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Mpok Surti. Bukan karena Lola sedih, tapi karena Pusy tak peduli dengan teman barunya itu.
“Ada yang lucu Ma?” Mr Bram yang bermaksud hendak masuk kamar, sejenak mengalihkan pandangan nya ke isterina yang ketawa sambil berpegangan di bahunya Mpok Surti.
“Mandi Mas, Yuk!” Ajak Mrs Bram mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin suaminya terlalu memikirkan dua ekor kucing kesayanganny a itu. Mengingat belakangan ini tugas Mr Bram semakin berat. Menuntut pertanggung jawaban yang besar dan sungguh-sungguh.
Namun, kendati sibuk dengan pekerjaannya, Mr Bram tetap peduli dengan Pusy selama ini. Sesekali dia meluangkan waktu dengan memberi Pusy makan dan mengajak serta jalan-jalan. Di mata Mr Bram, Pusy adalah kucing yang baik. Berbeda dengan kucing-kucing kebanyakan yang suka usil dan merusak perabo tan rumah tangga.
Pusy justru berani tampil beda. Dia lebih suka mendekatkan diri dengan penghuni rumah. Menemani Mpok Surti menyiapkan sarapan di dapur, menemani Sang Nyonya baca buku, atau ikut menyambut kedatangan tuannya yang baik hati, Mr Bram.
Khusus Lola, karena baru saja dibeli sang isteri, belum sedekat Pusy. Hanya sesekali Mr Bram melihat nya. Tidur di pelukan Mpok Surti.  Dia Lebih sering melihat Pusy yang jika ia pulang dari kantor, tak henti mengeong. Minta peluk dan berlari mengitari ke mana kaki tuannya melangkah.
“Itulah yang hendak aku ceritakan Mas,” kata Mrs Bram bergelayut manja dalam dekapan suami tercinta.
Malam belum larut. Pasutri ini berbagi cerita. Termasuk soal Pusy dan Lola. Sambil memandang kilauan bintang-bintang di angkasa sana, Mrs Bram tak henti-hentinya mencium mesra kedua belah pipi suami nya.
“Aku ingin mereka berteman baik, Mas Bram.” Mrs Bram turun dari atas tempat tidurny. Ia mengambil segelas air susu hangat yang baru saja diantar Mpok Surti ke kamar. Air susu itu ia berikan pada suami nya yang sangat ia sayangi.
“Bosan Ma.”
“”Tukar ya dengan yang lain.” Mrs Bram bermaksud mengambil gelas di tangan suaminya. Tapi dengan lembut sang suami berbisik manja.
“Kucingnya say …”
Ha ha ha ha …
“Ada-ada saja Mas Bram ini.”
Air susu hangat itu pun diminum Mr Bram separo,  separo gelasnya lagi dia berikan pada isterinya.
“Tanda cintaku kepadamu, Ma.” Ucap Mr Bram. Mencium kening isterinya yang lagi asyik minum air susu.
Sementara di kamar Mpok Surti, Pusy dan Lola sama-sama minum air susu di atas piring seng khusus kucing. Hanya semenit susu segar itu habis diminum keduanya.
Tapi lucunya, baik Pusy maupun Lola, tetap ogah berdekatan. Walau sama-sama di dekat Mpok Surti yang rebahan. Tapi beda posisi. Pusy di sebelah kanan, Lola menempati sebelah kiri.
Ngeooong …
Tok .. tok .. tok …
“Surti …!” Suara orang memanggil. Dia kenal betul suara itu. Pasti suaranya Sang Nyonya.
Kreseeek …
“Pusy dan Lola mana Mpok? Tak tengok aku sejak tadi.”
“Itu Nya.” Pusy dan Lola duduk manis  berdekatan. Sayang tak saling bertegur sapa. Kenapa ya?
Tak lama kemudian datanglah Mr Bram dengan hanya mengenakan pakaian tidur. Ia nyelonong masuk. Belum sempat duduk, Pusy melompat ke pelukannya.
“Ma. Papa sama Lola ya!” Lola mendekat.  Tapi Pusy tetap tak mau turun dari pelukan tuannya.
“Pusy sama mama ya!” Meski dibujuk Mpok Surti dengan mencium mukanya Pusy, Pusy tetap tak mau melepaskan pelukan tuannya.
Akhirnya …
“Sudah. Lola sama mama ya sayang. Mari sayang!” Lola mendekat. Dia duduk manis di pangkuan Sang Nyonya.
Mpok Surti lega melihatnya. Walau dalam hati kecilnya ia mulai kesal dengan kelakuan Pusy belakangan ini.
“Sabar ya Mpok. Udah ya. Lola sama Pusy kami bawa. Enggak takut kan sendirian?”
“Enggaklah Nya,” jawab Mpok Surti. Sebelum menutup kembali pintu kamar, dia menyempatkan diri mencium hangat pipinya Lola. Begitu lembut. Bulunya indah sekali.
Keesokan paginya …  
Di teras rumah …
Ngeooong …
Pusy dan Lola sama melompat ke pelukan Mrs Bram dan suami. Mpok Surti sampai-sampai kaget dibuat nya karena lompatan keduanya sangat cepat.  Pusy dalam pelukan Sang Nyonya, sedangkan Lola di pe lu kan Mr Bram. Sebelum keduanya turun mendekati Mpok Surti.
Ngeooong …
“Daaagh Pusy!” Ucap Mrs Bram.
“Daaagh Lola!” Kata Mr Bram dari balik kaca mobil yang melaju pelan menuju jalan raya.
Sepasang kucing cantik ini masuk kembali ke dalam rumah, bersama Mpok Surti yang bergegas menuju ke dapur.
Ngeooong …
Pusy dan Lola berhenti melangkah. Kemudian berbelok ke kanan menuju ruang tamu. Keduanya duduk manis di sofa empuk. Sedangkan Mpok Surti bersiap memasak, mencuci pakaian dan merapikan rumah, terutama di belakang dan teras.
“Kamu sering tiduran disini ya Pus?” Tanya Lola sambil melompat mendekati bantal sofa yang empuk dan ber warna-warni.
“Iya Lol,” jawab
“Kamu senang enggak?”
“Ya senanglah Lol … Enak dan enggak ada yang ganggu selain Mpok Surti,” aku Pusy ketawa mengeong.
Lola melompat turun.  Naik ke sofa di sebelahnya. Sembunyi di balik bantal bermotif bunga edelwis.
“Kamu kenapa sih Lol?” Heran Pusy. Bukannya saling pandang, eee malah harus sembunyi segala.
“Kejar aku Pus.” Pancing Lola. Melompat turun. Berlari mendekat ke tengah hambal ruang keluarga. Menunggu reaksi Pusy.
“Lol.”
“Ya Pus.”
“Jangan jauh-jauh ya,” pesan Pusy. Selain capek,  takutnya barang-barang antik seperti guci dan jam duduk  di seputar ruang tamu pada rusak kesenggol saat keduanya saling berkejar-kejaran.
Memang keduanya saling berkejaran hingga ke ruang belakang. Kebetulan pintu belakang dibuka Mpok Surti yang sedang menjemur pakaian.
Pusy dan Lola terus berlari mengitari taman belakang rumah. Saling intip di balik pohon mangga, lalu naik ke atasnya. Turun lagi setelah bergelantungan di ranting pohon.
“Kejar aku Lol!” Giliran Lola yang mengejar Pusy yang dengan lincahnya berlari menyusuri pinggiran parit.
Mpok Surti yang baru tahu ada Pusy dan Lola di taman belakang rumah tampak senang dan bahagia menyaksikan sepasang kucing kesayangan majikannya makin lengket saja dari hari ke hari.
Malah, karena terus digoda Pusy dan Lola, Mpok Surti ikut-ikutan juga berlari. Semula Pusy yang dikejar Mpok Surti, dan Lola giliran berikutnya. Terakhir Mpok Surti.
Praaak …
Buuuuk …
Mpok Surti menabrak batang pohon mangga. Dia tak sempat mengelak lagi. Asyik menoleh ke belakang saat dikejar Pusy dan Lola.
Ngeooong …
Mpok Surti terjatuh. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Melihat Mpok Surti tak kunjung ber diri, Pusy bergegas lari  ke dapur. Dia membuka kulkas dan bergegas membawa sebotol air minuman di ngin.
Ngeooong …
Mpok Surti menoleh ke belakang. Ternyata Pusy memberinya sebotol air dingin. Botol itu kecil. Tapi airnya itu yang bikin lega kerongkongan ini.
Terima kasih Pusy …


XI
“TERUS Pusy … Kejar teruuus!” Teriak Lola dari pinggir lapangan. Dia bersama Mpok Surti, Mr Bram dan isteri menyaksikan lomba lari kucing peliharaan di lapangan terbuka,  pagi hari. 
Ratusan penonton tampak tumplek bek menyaksikan perlombaan yang baru pertama kali digelar ini. Se lain penyuka hewan kucing, sebagian besar penonton adalah anggota keluarga yang kucing mereka ikut perlombaan.
Jadi tak heran bila setiap lima detik terdengar tepukan meriah dari penonton. Malah ada yang berteriak-teriak  memberi semangat pada kucing kesayangan mereka agar lebih dulu sampai di garis finish. Enam peserta tercepat menyentuh garis putih berhak mengikuti babak berikutnya.
Pada babak kualifikasi ini, setiap kucing ngotot ingin memenangi perlombaan. Bahkan, saking ngotot dan bersemangatnya, ada seekor kucing yang berlari zig-zug. Panitia tidak mendiskualifikasinya karena tidak sampai menggangu penonton dan peserta yang lain.
Sebaliknya penonton merasa senang melihat aksi kucing belang tiga itu. Dia bukan cuma pandai berzig-zug, tapi juga mahir berlari mundur walau tidak terlalu cepat. Mengibas-ibaskan ekornya, melompat dan mengeong. Sempat berhenti sejenak kemudian berlari kembali menyusul peserta lain yang sudah jauh meninggalkannya.
Penonton memang disuguhi atraksi menarik dari kucing gemuk besar ini. Merasa tak terkejar lagi, dia pun memutar-mutarkan tubuhnya. Berguling-gulingan di tanah merah. Berdiri lagi sebelum berguling-gulingan lagi.
Seekor kupu-kupu terbang rendah dan dengan sigapnya dia melompat dan berhasil menangkap kupu-kupu itu. Lalu diletakkannya di tanah. Penonton menunggu harap-harap cemas. Apa gerangan yang bakal dilakukan si kucing.
Dicium-ciumnya kupu-kupu indah itu. Setelah itu, diambilnya dan dilepasnya terbang menyusuri rerum putan dan melewati atas kepala penonton yang terpana menyaksikan keelokan si kupu-kupu yang be berapa saat kemudian menghilang entah kemana.
Priiiit …
Enam pemenang babak kualifikasi dilepas tuannya untuk menempati  tempat start yang telah disedia kan. Dari enam peserta ini dipilih empat peserta mengikuti babak selanjutnya. Pusy, satu di antara pe serta yang diharapkan lolos ke babak akhir ini.
“Mudah-mudahan saja Pusy bisa menang,” harap Lola dengan mata menerawang jauh ke peserta lomba yang sudah bersiap berlari mengelilingi lapangan dekat pinggiran sungai itu.
“Menang enggak ya Nya?” Mrs Bram cuma berharap Pusy bisa menang. Sebaliknya Mpok Surti mulai di liputi keraguan. Walau dalam hatinya ia berharap Pusy tidak sampai kalah. Dia tak ingin teman Lola itu kecewa, lalu jatuh sakit dan mati.
Priiiit …
Mr Bram meneriaki Pusy dari belakang sebelum start dimulai. Dia tak henti-hentinya menyemangati Pu sy dengan cara melompat, mengacungkan jati telunjuknya dan ikut berlari dari pinggir lapangan.
Begitu juga dengan Mrs Bram dan Mpok Surti. Walau hanya dari tribun penonton, keduanya tak mele paskan sedikit pun pandangan ke Pusy yang terus  berusaha menyalib tiga peserta di depannya.
“Ayo Pusy. Kamu hebat. Kamu harus menang.” Teriak Lola yang tiada henti-hentinya melompat dan ber pindah-pindah duduk. Dari semula di pangkuan Mpok Surti, berpindah ke pangkuan Mrs Bram. Begitulah seterusya silih berganti.
Saking asyiknya menyemangati, Lola terjatuh setelah terdorong oleh beberapa orang anak yang berebu tan hendak mencium dan memeluknya. Untung tak jauh. Dia dengan cepat melompat dan duduk deng an manisnya di tengah-tengah antara Mpok Surti dan Mrs Bram.
“Terus Pusy …” Teriak Mrs Bram. Ia puas karena Pusy saat ini menempati posisi tiga yang bila tetap diper tahankan sampai menyentuh garis finish, dia akan melaju babak penentuan. Babak final yang sangat ditu nggu-tunggu para penonton.
Sreeet buk …
Klepuk …
Pusy terlempar ke pinggir setelah sempat menempati posisi teratas. Dia terlempar karena beradu fisik dengan tiga ekor kucing di belakangnya yang saling berebutan hendak mendahuluinya.
“Ayo Pusy …” Mpok Surti was-was melihat Pusy masih tergeletak di pinggir lapangan. Beberapa orang panitia mencoba menolongnya. Berusaha memberikan bantuan. Namun, begitu mereka hendak me nyentuh tubuhnya, Pusy tersadar dan berlari sekencang mungkin.
Plak … pak .. plak … pak …
Penonton yang semula menyemangati kucing milik peserta lainnya, kini malah memberi tepuk tangan kepada Pusy. Tertinggal satu putaran tak membuatnya berkecil hati.  Dia terus berlari, karena dengan kecepatan tinggi, menyisakan setengah putaran lagi. Dengan semakin pendeknya jarak Pusy dengan rekan lombanya di depan, kemungkinan dia bisa lolos ke fase terakhir sangat besar.
Mrs Bram tak berani membuka matanya ketika lomba menyisakan satu putaran lagi. Ia sudah pesimis Pu sy akan berhasil memenangi lomba di babak semi final ini. Dia hanya berharap ada keajaiban sehingga kucing kesayangannya ini lolos dari lubang jarum.
“Nya.” Kata Mpok Surti. Dia pegang tangan Mrs Bram yang berkeringat dingin dan sedikit gemetar.
“Taka pa-apa Mpok,” jawab Mrs Bram. Dia balas pegangan Mpok Surti dengan memeluknya hangat.
“Mudah-mudahan saja ya Nya.” Bisik Mpok Surti.
“Kita sama berdoalah Mpok,” ucap Mrs Bram, yang semula sedih berubah tersenyum geli melihat Lola bergoyang-goyang di pangkuan Mpok Surti.
Sementara jarak setiap peserta hanya beberapa sentimeter saja, Pusy saat ini berhasil menempati posisi keempat. Sudah aman dan membuat Mr Bram, yang sedari tadi tampak tegang, mulai bisa tertawa lepas.
Posisi keempat ini berhasil dipertahankan Pusy sampai garis finish. Dengan demikian Pusy berhak mengi kuti babak final bersama tiga ekor kucing lainnya. Mrs Bram menyambutnya dengan perasaan suka cita.
Dia angkat tinggi-tinggi Pusy. Lalu dilemparnya ke udara, ditangkapnya lagi. Hal ini ia lakukan berkali-kali. Baru berhenti setelah Mrs Bram datang dan menciumnya hangat.
“Pusy. Kamu memang hebat,”puji Mpok Surti.  Dia pandangi mukanya Pusy. Lalu dia gelitiki, kemudian diciumnya Mpok Surti.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Mr Bram dan isteri serta Mpok Surti menepi sejenak. Ketiganya membiarkan Pusy dan Lola saling curhat-curhatan. Beberapa orang panitia yang melihat keduanya tampak senyum-senyum saja. Mirip sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Keduanya saling berdekatan dan duduk manis di bawah meja.
“Kamu memang hebat Pusy,” puji Lola sambil menggerak-gerakkan ekornya yang indah dan bersih itu.
“Ah, enggaklah Lola. Biasa saja aku. Buktinya aku cuma nomor empat,” kata Pusy merendah.
“Itu karena kamu terlempar tadinya. Coba kalau tidak, pasti kamu nomor satu. Aku yakin itu.” Lola percaya diri. Walau bukan dia yang ikut lomba lari, Pusy tak salah bakal juara kali ini.
“Terima kasih Lola. Kamu memang kucing yang baik,” ucap Pusy.
“Kamu juga,” balas Lola sembari mencium mesra pipi Pusy.
“Tapi La …”
“Kenapa say?”
“Andaikata aku tidak menang, atau hanya nomor dua atau tiga, kecewa enggak kamu La?” Pusy mengedipkan matanya, lalu rebahan di tanah.
Lola ikut rebahan.
“Tidak say. Aku tidak akan kecewa …”
“Kenapa say?”
“Karena di mataku, walaupun kamu tidak menang misalnya, tetap kucing yang hebat di mata aku. Percayalah padaku say, aku tetap sayang kamu walaupun kamu tidak juara.”
“Benarkah?”
Lola mengangguk.
Priiiit …
Empat peserta babak final diminta berkumpul di dampingi tuannya. Sebelum lomba diberikan penga rahan terlebih dahulu.  Salah satunya, keempat peserta akan mendapat piala, piagam dan uang tunai yang besarnya berbeda-beda sesuai urutan pemenang.
Sebelum lomba dimulai, masing-masing pemilik kucing bersalaman satu sama lain. Kemudian mereka diberi waktu dua menit untuk berkomunikasi dengan kucing kesayangannya. Hal ini perlu agar emosi kucing tetap terjaga dan dapat mengikuti lomba lari sampai akhir.
“Hebat …” Bisik Mpok Surti.
“Juara,” kata Mrs Bram.
“Menang,” ucap Mr Bram sambil mengusap-usap bulu indah Pusy.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Lola mencium kening Pusy. Lalu dibalas dengan ciuman dikening pula oleh Pusy. Keduanya berpelukan sesaat sebelum Pusy pamit untuk segera berkumpul di posisi start bersama tiga ekor kucing lainnya.
Priiiit …
Empat ekor kucing berlari kencang. Seolah ingin menjadi yang tercepat di pentas pertandingan kali ini. Berbeda dengan lomba sebelumnya, pada babak final ini jarak antar kucing hampir tak terlihat. Tak ada yang mendahului,  juga tak ada yang paling belakang.
Penonton bertepuk tangan.
“Nya, kita ke atas aja biar aman,” ajak Mpok Surti. Tempat duduk paling atas masih ada yang belum teri si. Selain lebih aman dan nyaman kala menonton, juga bisa lebih santai dan puas menyaksikan Pusy ber lomba.
Ngeooong …
Lola duduk manis di pangkuan Mpok Surti. Dia lebih banyak diam dengan sesekali memandang teduh wa jah Mr Bram dan Mpok Surti yang dua-duanya fokus tertuju ke depan.  Melihat dari jauh bagaimana serunya perlombaan dan ketatnya persaingan sesama peserta.
XII
        “PUSY kito memang hebat
         Apo bae pacak diembat
         Ado maling dio sikat
          Ado cewek dio pikat

                Pusy kito memang juaro
                Banyak uwong senang galo
                Kalu makan iwak belido
                Bejalan bae pecak loyo …”

Plak .. pak .. plak .. pak …
Plak … pak .. plak .. pak …

                     “Kawan Pusy namonyo Lala
                     Rainyo cantik suka tertawa
                     Mpok Surti teman setia
                     Kalu tiduk sama dia

                           Mpok Surti memang manis
                           Sangat suka mangga harum manis
                           Kalu turun hujan gerimis
                           Dio pasti pecak nak nangis …”

Plak .. pak .. plak .. pak …
Plak .. pak .. plak .. pak …

                                         “Pusy sekarang punya kawan
                                         Lola cantik suka bedandan
                                         Kalu bejalan seiring setujuan
                                         Nyonya balik dapat mainan

                                                  Malam hari Pusy tidur
                                                  Mato melek kaki tebujur
                                                  Ngintip keluar waktu sahur
                                                  Katek rewang balik endengkur …”

Plak .. pak .. plak .. pak ..
Plak .. pak .. plak .. pak …
Mpok Surti, Mr Bram dan isteri tak bisa lagi  menahan rasa gelinya ketika Pusy dan Lola joget bersama. Cara jogetnya tentu berbeda. Tidaklah sama dengan kita manusia.
Pertama-tama Pusy maju ke tengah. Dia berjalan berputar-putar. Lalu mengangkat kedua tangannya mengitari Mr Bram dan isteri serta Mpok Surti yang duduk lesehan mengelilingi ruangan khusus keluarga.
Setelah itu disusul Lola. Dia tidak mengangkat kedua tangannya. Tapi hanya mendekati majikannya. Dia cium pipi keduanya, terakhir Mpok Surti. Sempat pejamkan mata, siap dicium. Lama ditunggu, Lola jus tru ngeloyor pergi bersembunyi di belakangnya.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Mpok Surti tak sangka Lola mempermainkannya. Dia kecewa. Namun hanya sesaat, karena setelah itu Lola mengejutkannya dari belakang. Mencium pipinya dengan penuh kehangatan.
Ngeoooong …
Saat itulah, saat Mpok Surti masih pangling, tak percaya dengan kejadian barusan. Ditambah lagi Tuan dan Nyonya tak henti-hentinya ketawa ria, Lola pun berjalan ke tengah ruangan.
Dia hanya duduk. Menunggu Pusy yang masih malu-malu mendekatinya. Setelah dibujuk Mrs Bram de ngan susah payah, Pusy  bersedia duet dengan Lola.
Duet apakah itu?
Mr Bram memutar piringan hitam. Terdengar alunan musik gembira. Pusy dan Lola mulanya masih ber diam diri saja. Namun setelah Tuan dan Nyonya berjoget sambil bertepuk tangan, diikuti Mpok Surti, Pusy dan Lola akhirnya ikut juga berjoget.
Joget berlangsung selama lima menit. Agar tidak menimbulkan kebosanan, Mr Bram bertepuk tangan sambil berteriak pelan … ‘Ayo Pusy .. ayo Lola. Joget teruuus …’
Mpok Surti tak henti-hentinya menyemangati Pusy dan Lola. Sepasang kucing ini terus berjoget. Saling bersenggolan dan mengangkat kedua tangan. Lalu berputar-putar mengikuti  kemana langkah kaki sang majikan.
Mrs Bram bernyanyi …

               “Ayo Pusy kita joget
               Supaya badanmu gancang bontet
               Ayo Lola kita nari
               Agar hidupmu lebih berseri

                      Mpok Surti yang baik hati
                      Merawat Pusy dan Loka tiada henti
                      Dapat pahala sudahlah pasti
                      Hidup senang di akherat nanti

                            Ayo Pusy jangan berhenti
                            Terus joget sampai pagi
                            Kalu lapar makan roti
                             Lepas itu minum kopi ….

                                              La la la la …
                                              La la la la …
                                              Pusy saya suka bercanda
                                              Lola saya suka tertawa …”

Plak .. pak .. plak .. pak …
Sambil berjoget, giliran Mr Bram yang bernyanyi …

                         “Mari Pusy kita makan
                         Banyak lauk di meja makan
                         Ada kerupuk ada sayuran
                         Dimakan sekenyangan

                                 Mari Lola kita jalan
                                 Biar kita sehat badan
                                 Badan sehat lemak makan
                                 Makan banyak tinggi badan

                                    La la la la …
                                    Pusy saya memang hebat
                                    La la la la …
                                    Lola saya memang cantik
                                    Bikin saya tak berkutik

                                           La la la la …
                                           La la la la … “

Karena bersifat medley, belum habis satu tembang didendangkan, sudah disusul suara emas Mpok Surti yang riang jenaka menyanyikan tembang kesukaannya …

                        “ Bangun Pusy bangun Lola
                         Bantu Mpok siapkan sarapan
                         Agar Tuan dan Nyonya bisa tertawa
                         Tengok kalian sudah berdandan

                             Jangan tidur wahai Pusy
                             Tak baik ditengok Mpok Surti
                             Teman kamu selama ini
                             Yang baik suka memberi

                                    Jangan melamun wahai Lola
                                    Nanti kamu cepat tua
                                    Kucing lanang tak bakalan suka
                                    Bisa-bisa kamu perawan tua …”

                                         La la la la …
                                         Li li  li li …
                                         La la la la …

                                         Li li li li …

                                                       Lola Pusy yang baik hati
                                                       Bikin Mpok enggak keki
                                                       Lola Pusy memang bagus
                                                       Bikin Tuan tidak kurus
                                                       Lola Pusy memang hebat
                                                       Bikin Nyonya tambah sehat

                                                                      La la la la …
                                                                      Li li li li li …
                                                                      La la la la …
                                                                      Li li li li … “

Puas berjoget dan berdendang, Mpok Surti, Mr Bram dan isteri duduk bersila, sedangkan Pusy dan Lola duduk berdekatan di tengah ruangan. Tampak mesra nian dengan raut muka ceria ditingkahi gerak gerik lucu ekor keduanya.
Selanjutnya?
“Kita potong kue Mas Bram.” Kata Sang Isteri. Meminta Mpok Surti mengambilkan kue ulang tahun yang disimpan di lemari dapur.
“Seperti apakah kuenya Ma?” Tanya Mr Bram sambil minum air putih dingin. Lega rasanya kerongkong an ini. Basah, tak kering lagi seperti tadi.
“Sabar ya Mas.” Jawab Sang Isteri  tersenyum simpul.
Tak lama kemudian Mpok Surti tiba. Dia membawa kotak berukuran sedang bermotifkan bulu kucing.  Kotak itu berisi kue khusus merayakan kemenangan Pusy. Warnanya cokelat dan putih susu. Di tengah nya tertulis nama Pusy dan Lola.
Waaaa …
Haaaa …
Mata Mr Bram terbelalak kaget. Tak sangka isteri tercinta sangat memperhatikan  Pusy dan Lola. Pa dahal dia tak pernah cerita, apalagi tengok Sang Isteri menyiapkan kue untuk Pusy.
“Dipesan Mas,” kata Mrs Bram sumringah.
“Kapan Ma? Papa enggak tahu,” ujar Sang Suami. Ingin rasanya dia mencicipi kue itu barang sedikit. Tapi keinginan itu terpaksa ia urungkan karena kuatir mengganggu kenyamanan Pusy dan Lola.
“Belum lama Mas. Dipesan di tempat pembuatan khusus kue,” jawab Sang Isteri. Kue itu ia letakkan di atas meja kecil lengkap dengan piring kecil dan pisau untuk memotongnya.
“Siapa yang duluan?”
“Pusy dong Mas,” kata Sang Isteri.
Meja kecil itu diletakkan di tengah ruangan. Lalu menggendong Pusy mendekati meja marmer itu. Se dangkan Lola menunggu manis di lantai berhambal. Matanya tak jua berkedip melihat peristiwa yang baru pertama kali dilihatnya itu.
“Bismillahirrohmanirrohim,” ucap Mrs Bram. Ia bantu Pusy memotong kue ultah itu dan berhasil.
Pusy didudukkan di hambal dengan kue di atas piring kecil di dekatnya. Giliran Lola. Mpok Surti yang membantunya memotong kue lezat dan nikmat itu.
Ngeooong …
Lahap nian Pusy menyantap kue berwarna-warni itu. Begitu juga dengan Lola. Hanya dalam hitungan detik kue pesanan itu habis disantap.
Ha ha ha ha …
“Emangnya itu kue bahannya apa dong Ma?” Heran Mr Bram. Biasanya, sesuka-suka hewan piaraan dengan kue, tak secepat Pusy dan Lola makan sore hari ini.
Bahan apa ya?
Ha ha ha ha …
“ Pantesan habis. Bahannya dari ikan belido,” kata Mr Bram ketawa lebar.
Tak ingin mengecewakan Pusy yang berhasil menyabet juara pertama lomba kucing beberapa hari yang lalu, dan kendati belum pernah sekalipun menyantap kue berbahan ikan terkecuali pempek dan model  ikan, Mr Bram tetap duduk manis dan menyantap kue bersama Pusy dan Lola.

  
XIII       


 
                                                              
                                                   


                                                   
     
    


   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar