Kamis, 02 Maret 2017

Sang Jagoan




Cerita Fiksi

Sang Jagoan
Ditulis oleh aminuddin

1
SEBANYAK lima belas pesawat tempur dari Negeri Biru menggempur habis-habisan  pemukiman pendu duk. Dalam hitungan menit, rumah warga Negeri Permata yang sebagian besar terbikin dari kayu  dan material semen itu rata dengan tanah.
Kobaran api tampak di mana-mana. Satu-satu bangunan roboh menimpa pemiliknya yang tak sempat la gi melarikan diri. Tewas seketika.
Suara jeritan minta tolong dan pekik makian seolah tenggelam dalam kobaran api dan sisa ledakan baru yang masih terdengar sesekali. Cerianya anak-anak, remaja dan dewasa serta tua renta yang biasa pu lang dari masjid setiap pagi tak terlihat lagi.
Bahkan suara tangisan bayi yang biasa kita dengar saat sore hari, bangun pagi dan ketika terbangun ti dur di malam hari, sudah berganti  dengan desingan peluru, suara pesawat tempur yang berulangkali terbang rendah di atas areal pemukiman warga.
Subuh berdarah. Subuh mencekam.  Mayat bergelimpangan di setiap sudut puing-puing bangunan. Ada yang tertelungkup, terlentang dengan mata terpejam dan terbelalak. Juga ada di antara mereka yang te was secara tragis dengan raga  tak berbentuk lagi.  Muka hancur, kepala pecah, tangan dan kaki bersera kan di lain tempat.
Tak heran bila di setiap sudut kita menemukan batok kepala yang terbelah dua. Atau potongan tangan dan kaki yang mulai membiru. Sepanjang mata memandang hanya gelimpangan mayat dan tumpukan sisa bangunan yang menyesakkan hati dan pandangan.
Puluhan ekor anjing, yang entah dari mana asalnya, datang mengerumuni setiap tempat, mencium bau anyir dan darah yang tercecer. Mereka cium dan jilat potongan badan yang mulai membusuk itu, untuk kemudian mereka makan sampai menyisakan tulang belulang.
Tak ada gonggongan. Tak ada salakan. Tak ada saling rebutan. Juga tak ada perkelahian. Yang ada suara desah kelaparan. Para anjing menyerupai serigala itu seperti kesetanan, dan dengan lahapnya menelan rakus setiap potongan daging manusia yang mereka temukan.
Tak hanya itu. Anjing-anjing itu pun seakan tak pernah merasakan kenyang. Habis di satu tem pat, mere ka pergi dan mencari ke tempat lain. Kadang berkerumun dan bergerombolan, lain tempat sendiri-sen diri.
Tengah hari, saat anjing-anjing itu berlalu pergi,  perkampungan yang dulunya jadi favorit warga itu, kini hanya menyisakan asap hitam pekat. Percikan api di sana sini, potongan kayu yang menghitam serta me ning galkan bara yang sewaktu-waktu memunculkan api kembali bila disapu angin kencang.
Langit mulai cerah. Tak ada tanda-tanda hujan bakal turun. Panas mulai terik. Menyengat tubuh. Mata hari meninggi dan menampakkan sinarnya. Tapi tetap saja tak mengurangi kengerian yang timbul pasca ledakan.
Setiap kaki melangkah setiap kali pula terdengar suara aneh mendesah. Mencekam, memilukan dan me nggetarkan hati. Sulit dirangkai dengan kata-kata, apa sebaiknya kita simpulkan selain semuanya  mus nah dalam sekejap.
Harta benda terbang melayang, nyawa lenyap tak berbilang. Semua harapan yang dulunya lempang di sematkan telah berganti dengan ketakutan, kegelapan dan keputusasaan . Apa mungkin tempat yang semula dihuni banyak orang ini bakal cepat pulih dalam waktu dekat?
Entahlah. Tapi yang pasti, ketika malam datang, tak seorang pun manusia yang terlihat di sana. Selain ra ungan dan rintihan yang  memilukan, suara minta tolong, pekik  cercaan dan semilir angin yang bertiup menebar bau anyir serta busuk yang semakin menyengat hidung.
Kota hantu, itulah gelaran yang pas kita alamatkan. Tanah berubah gersang. Air tiba-tiba tak ada. Lantas bagaimana dengan mayat-mayat itu? Siapa yang menguburkan? Tak ada. Dibiarkan bergelimpangan, ber serakan dan menjadi kuburan tak bernisan. Saksi bisu yang menyesakkan.
Sehari, dua hari, dan mendekati seminggu. Wilayah pemukiman penduduk terpadat ini masih mence kam. Bau anyir dan busuk belum juga hilang. Sementara lalat dan anjing yang datang semakin banyak jumlahnya. Mereka semakin liar dan ganas .
Saking ganasnya, andai saja ada manusia di sana, pasti mereka kejar dan jadikan mangsa berikutnya. Me reka tak perduli, daging manusia hidup atau bangkai, semuanya sama. Lapar, dilumat habis sampai tak bersisa lagi.
Dari kejauhan, Jenderal Kutch yang memimpin langsung penyerangan menjelang subuh ini tampak lega dan puas menyaksikan  pasukan tempurnya berhasil  menghancur-leburkan  pemukiman warga Negeri Permata dalam tempo teramat singkat.
 
2
“HOREEEEEE … ada pesawat!” Teriak Andi di pematang sawah. Mereka berlari hendak mengikuti ke arah mana pesawat tempur itu terbang.
“Cepat kali ya Di,” kata Abdul pada Andi. Dia tampak kecewa karena tak bisa mengejar pesawat canggih itu.
Tak berapa lama kemudian, lima pesawat tempur itu berbalik arah lagi, dan siap melintas beberapa meter dari atas kepala  Abdul,  Andi dan beberapa temannya yang berdiri takjub menyaksikan kehe batan pilot men-zig-zug kan pesawat.
Usia mereka rata-rata sepuluh tahun. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Sepulang sekolah mereka membantu orangtuanya bekerja di ladang.
Apa saja mereka kerjakan. Menyabit rumput, ikut menanam padi dan sayur-sayuran, mencari kayu bakar, bahkan menangkap ikan untuk lauk makan.
Jika semua pekerjaan itu selesai mereka kerjakan, barulah mereka bermain, tentu di atas pematang sa wah. Atau sekadar duduk-duduk di pondokan, bermain petak umpet dan memancing di kali sambil ber senda gurau.
Sore harinya mereka baru pulang ke rumah dengan membawa sayur-mayur atau rumput untuk maka nan kambing. Mereka sudah terbiasa berjalan kaki jauh, walau ada di antara mereka menggunakan se peda.
“Ayah … ada pesawat Yah!” Teriak seorang anak perempuan pada ayahnya yang tengah mencangkul di pematang sawah.
Sang ayah yang tak berbaju, berkulit hitam legam karena terkena sinar matahari dan penuh panu, sete lah menyeka peluhnya, segera mendekati sang buah hati. Sama-sama menyaksikan kecepatan pesawat tempur terbang rendah.
Semula Sang Ayah senang dan puas karena memang belum pernah ia melihat pesawat tempur terbang sangat cepat dan rendah .  Nyaris tak bersuara, jauh dari kebisingan dan bentuknya menyerupai burung yang sering para petani tengok singgah dan terbang di areal persawahan.
Setelah itu …
“Lari anakku … Lari cepat!” Jerit si ayah tadi  pada anaknya sesaat setelah puluhan petani berteriak keta kutan dan berhamburan menyelamatkan diri ke tebing, jalan lintas keluar masuk areal persawahan.
Secara beriringan, dari kejauhan lima belas pesawat tempur bergantian menghujani bom ke areal per sawahan. Ter dengar ledakan dan seketika asap serta  kobaran api membumbung tinggi.
Pesawat-pesawat itu  makin lama makin dekat. Abdul, Andi dan beberapa teman satu sekolah mereka lari pontang-panting, bersembunyi di balik kali yang menghubungkan ke areal persawahan yang belum digarap.
Tapi, sekencang apa pun mereka berlari,  pesawat tempur justru lebih kencang berlari. Hanya dalam hi tungan detik sebuah bom jatuh di pematang sawah, dan …
Jeguuuum …
Gummmm …
Traaash …
Air di pematang sawah muncrat ke atas seiring terdengarnya ledakan keras. Tanah bergetar dan retak di segala tempat. Pematang sawah hancur seketika. Tak berbentuk lagi. Padi hangus, sayur mayur tak ber bekas.
Abdul yang tadinya sempat berteriak dan bersenda gurau,  tak terdengar lagi suaranya. Lenyap. Dia te was sementara jasad nya terpental entah kemana. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Seo lah lenyap ditelan bumi. Jagankan jasad, jejak keberadaan mereka saja tidak diketahui.
Rumput-rumput berubah hitam. Tanah becek menyembur ke segala arah, menimpa pematang sawah d an aneka tanaman di sekitarnya, termasuk gubuk di pinggiran tempat para petani dan keluarga mereka beristirahat jelang tengah hari.
Sesaat senyap. Hanya asap hitam membumbing tinggi terlihat. Api masih membesar. Tapi pesawat tem pur tak jua berhenti melintas ke sana kemari. Tak henti  memborbardir di segala arah. Tak peduli banyak  korban jiwa yang  berjatuhan. Tewas secara mengerikan.
Dari ujung ke pangkal, dan dari pangkal ke ujung lagi, hanya ledakan yang terdengar. Diiringi jeritan histe ris, setelah itu lenyap tak berbekas. Disusul lintasan beriringan  beberapa pesawat tempur yang balik arah menuju pangkalan.
Malam tiba. Areal pertanian rakyat yang subur dan makmur serta mata pencaharian utama penduduk Negeri Permata, belum juga terusik. Sunyi dan senyap. Tak satu pun hewan yang berani mendekat.
Air berubah pekat. Warnanya hitam dan kemerah-merahan. Tak bisa lagi diminum karena sudah ter cemar dan bercampur zat beracun yang mematikan. Pohon bertumbangan, terkelupas dan berubah gundul. Tak lagi berdaun, buahnya pada berguguran.
Tanaman padi berhektar-hektar, sebagian besar tinggal dipanen, tak terlihat lagi. Sudah menyatu de ngan tanah  sedikit berair yang masih mengeluarkan asap, walau tak sebesar di awal ledakan.
Sisa-sisa ledakan tak terdengar lagi menjelang pagi. Api mulai mengecil. Asap tak sepekat hari kemarin. Ribuan lalat mulai berdatangan. Tapi belum menemukan bangkai untuk dijadikan makanan.

3
SEBUAH bangunan megah berlantai lima puluh tampak lengang dari luar. Hanya berderet puluhan mobil  mewah keluaran terbaru di areal parkir sebelah kanan, kiri dan depan bangunan itu.
Setiap hari pabrik pembuatan kendaraan roda dua dan empat itu selalu ramai. Bukan karena para pega wai nya yang memang banyak, berjumlah ribuan. Tapi pengunjung yang datang mencapai ratusan dan bahkan pernah mencapai ribuan orang per harinya.
Sementara tak jauh dari pabrik bercat biru, putih, merah dan kuning itu berdiri kokoh pabrik garment, suku cadang kendaraan roda dua dan empat serta beragam corak pakaian hasil buatan anak dalam nege ri.
Lepas Subuh, hampir separo karyawan wanita sudah menunggu di depan pintu gerbang pabrik. Ada yang diantar keluarga mereka menggunakan motor dan mobil, ada juga menggunakan kendaraan pribadi dan naik bus jemputan khusus karyawan yang rumah mereka sangat jauh dari lokasi pabrik.
Beberapa meter berikutnya ratusan pabrik berskala kecil dan sedang berderet memanjang. Menempati tanah seluas lebih dari dua puluh hektar. Banyak produk yang dihasilkan. Mulai dari sepatu, sandal,  bara ng elektronik hingga peralatan rumah tangga.
Sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun pabrik-pabrik tersebut rutin beroperasi. Dengan wilayah jangkauan market yang mencakup dalam dan luar negeri, pihak pabrik selalu berinovasi dengan memunculkan corak dan produk terbaru seiring semakin banyaknya rekrutmen karyawan baru.
Para pengusaha kelas kekap sering menyempatkan diri berkunjung ke lokasi pinggiran kota besar ini. Se lain melihat dari dekat produk yang dihasilkan dan bakal diluncurkan, mereka juga melobi dan merang kai kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Kerjasama itu bersifat jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dengan terbentuknya kerjasama ini semakin menggairahkan dunia usaha. Pabrik-pabrik baru bermunculan, lowongan kerja terbuka lebar dan menambah pemasukan pendapatan daerah.
Ribuan mahasiswa, dosen dan pelajar sering melakukan kunjungan ke sana per bulan dan tahun.  Kese muanya belajar dengan melakukan pengamatan, wawancara seputar produk dan mekanisme pengelola an pabrik, riset dan penelitian awal untuk dikembangkan lebih jauh di sekolah dan perguruan tinggi tem pat mereka menim ba ilmu pengetahuan.
Sampai suatu ketika …
Terjadi getaran kecil di areal pabrik. Pagi hari hanya sekali. Menjelang siang dua kali dan tengah hari lebih dari tujuh kali.
Karena tak terdeteksi secara nyata, dan tidak mengganggu ketenangan karyawan dalam bekerja, pihak pabrik menganggap getaran itu tak lebih dampak dari perubahan cuaca saja. Sebab, selama ini  memang tak pernah terjadi yang namanya gempa.
Mereka tak melihat, tak jauh dari pintu gerbang utama masuk ke areal pabrik, dua pesawat tempur ber gerak lambat. Tak ada yang mengira akan terjadi hal-hal yang luar biasa setelahnya.
Sampai akhirnya …
Jegaaaam …
Guaaam …
Jegaaar …
Jeguuur …
Jegiiir …
Bom mulai berjatuhan. Dua pesawat tadi beriringan melaju ke tengah. Berpisah arah. Satu ke kiri, satunya lagi ke kanan dengan kecepatan yang sulit dilihat.
Dari bawah pesawat itu meluncur bom yang dalam hitungan detik meledak di areal  pabrik. Terdengar ledakan dahsyat. Asap membubung tinggi, api mulai berkobar ke segala arah.
Dua pesawat tempur tadi kembali bertemu, kemudian berbalik arah sekali lagi sebelum menuju pangka lan. Sisa bom yang ada dalam pesawat dijatuhkan dan membikin porak poranda  areal pabrik yang seke tika itu juga berubah menjadi lautan api dan asap.
Benar-benar dahsyat . Belum genap lima menit, puluhan pabrik besar dan megah rata dengan tanah. Mo bil dan motor yang tadinya berderet megah, hanya menyisakan onggokan sampah berupa gundukan dan luberan tanah beracun.
Semua lenyap. Tak berbekas. Nyawa seolah tak ada harganya. Entah di mana jasad mereka. Tak satu pun yang terlihat dan berani mendekat. Karena memang api, khususnya asap masih sangat pekat. Asap bera cun yang menggumpal dari segala arah itu membuat siapa pun bisa sekarat dan tak bakalan selamat.

4
“OKE?!”
“Oke Kolonel,” jawab Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti serempak.
Bersama Kolonel Madi, ketiganya mulai melakukan penyelaman di malam hari. Langit cerah, bulan ber sinar walau tidak terang. Keempatnya berinisiatif menyelam dengan tujuan meledakkan kapal  induk tempat pangkalan pesawat tempur dari Negeri Biru.
Tak semudah membalikkan telapak tangan memang. Selain airnya sangat dingin dan gelap di dasar laut karena malam hari juga banyak berseliweran ikan ganas seperti hiu yang dapat mengganggu kelancaran operasi rahasia yang dipimpin Kolonel Madi.
Mereka memasang target, sekembalinya dari kapal induk, akan terjadi ledakan besar. Hal ini dimaksud kan  agar seluruh pesawat tempur milik pasukan lawan hangus terbakar, sehingga mereka tak bisa lagi memborbardir  Negeri Biru yang tiga wilayah strategisnya kini hancur lebur dengan menimbulkan ba nyak korban jiwa dan harta.
“Ke pinggir dulu sersan,” kata Kolonel Madi. Mereka bersembunyi sejenak di bawah pohon besar yang separo batang dan daunnya menjorok ke laut.
“Sepertinya aman Dan,” ujar Sersan Ipung.
Dengan menggunakan alat teropong, Kolonel Madi belum melihat seorang pun di atas kapal. Walau ma lam hari, karena ada lampu penerang kapal, pasti terlihat jika ada orang  lalu-lalang di sekitar pesa wat yang parkir melebar.  
“Apa tak sebaiknya kita langsung tembakkan saja bom lempar asap ini Dan?” Tanya Kopral Murti. Selain lebih aman dan tak menguras tenaga, mengurangi risiko yang akan timbul sekiranya harus menaruh  la ngsung bom di sekitar bodi kapal induk.
“Ya Dan. Kita pilih saja tempat yang strategis untuk melepaskan bom lempar asap ini,” jelas Sersan Kifli.
“Tapi ini air bukan daratan sersan,” kata Kolonel Madi.
“Apa bedanya Kolonel? Bukankah bom baru meledak setelah tepat mengenai badan kapal?” Zukifli berargumen.
“Betul. Tapi menurutko sersan, kalau kita berempat kesana bukankah kita bisa lebih tahu suasananya dan dimana lokasi yang pas buat meletakkan bom lempar asap ini.”
“Eeeem … Tapi Kolonel, apa bisa kita berempat menghindar dengan cepat sebelum asap cair beracun itu meledak?” Sebab, menurut Sersan Kifli, berenang dan menyelam di lautan tidak sama cepatnya ketika kita berlari di daratan.
“Saya kuatir saja Kolonel. Kita bakalan terkena imbas ledakan itu,” terang Kopral Murti.
“Atau,” potong Sersan Kifli, “Kita bagi dua saja Kolonel. Dua mendekati kapal, dua lagi menunggu di sini. Bagaimana?”
Namun, demi cepatnya misi ini terlaksana dan peluang sukses lebih besar, disepakati Kolonel Madi dan tiga anak buahnya sama-sama mendekati kapal induk mewah itu.
Ternyata di atas kapal banyak orang dengan beragam kegiatan. Ada yang menulis, membaca, dan mene lepon, duduk-duduk sambil melepaskan pandangan sesekali jauh ke tengah lautan. Bahkan juga ada ya ng berpatroli  dan siap mnerima perintah untuk menerbangkan pesawat tempur ke lokasi yang dituju.
Di belakang kapal …
“Kamu jalan Boy,” kata Sersan Rudolf pada teman main caturnya, Sersan Christopher yang sudah lima menit duduk memandangi buah catur.
Sersan Christopher memegang buah putih, sedangkan Sersan Rudolf pegang buah hitam. Giliran peme gang buah putih yang jalan. Karena terdesak, Sersan Christophe berpikir lama.
Mata melotot. Tak lepas matanya dari memelototi bidak-bidak yang tersusun tidak rapi di atas papan catur.
“Sersan!”
Sersan Christopher tersadar.
“Ahaa .. ketahuan deh lu. Bukan mikirin catur, tapi mikirin si dia yang sekarang jauh di negeri seberang. Betul kan?”
“Oke. Saya jalan sersan.”
Sersan Christopher melakukan blokir panjang. Tanpa berpikir panjang lagi, Sersan Rudolf menggerakkan perdana menterinya dengan memakan pion putih di depan raja.
“Skaaak.”
Sersan Christopher menyerah.
Dia mengaku kalah. Dia gulingkan rajanya pertanda menerima kekalahan.

5
JREEEENG …
Tiiing … triiing .. tiiinng.
“Ayo sersan kita nyanyi aja …” Sersan Rudolf sudah menyetel gitar, menemukan kuncinya, dan mencoba memainkannya sebentar.
Trrring …
Jreeeng …
Dia tampak puas.
“Ayo sersan Chris. Lagu apa yang kamu suka dan hafal, please .. bernyanyilah untukku.”
“All right.”
Jreeng …
Triiing .. tiiing .. tiiing.

             Since you’ve been gone
             Lonelirtess surrounds me
             You’ll find me waiting here
             Just in case you change your mind
Reff …
                Give me a chance
                Listen to my lovely heart
                Beating fast for you
                Since you’re been gone

                         Yesterday I know
                         I’ve been crying over you
                         I can’t stand it no more
                        To be left here all alone
Back to reff …
                            Give me a chance
                            Listen to my lovely heart
                            Beating fast for you
                            Since you’re been gone “ (2 kali)

“Lanjut sersan …”

                           “Oh … oh Carol
                            I am but a fool
                            Darling,
                            I love you tho’

                                    You treat me
                                   Cruel you hurt me
                                   And you made me cry
                                   But if you leave me
                                   I will surely die

                                           Darling,
                                           There will never be another
                                           ‘cause I Love you so

                                                   I will always want you
                                                   For my sweet heart
                                                   No matter what you do
                                                   Oh Carol
                                                   I ‘m so in love with you …”

“Lanjut sersan …”

                        “If your goin’ to San Francisco
                          Be sure to wear some flowers
                          In your hair

                                   If you’re goin’ to San Francisco
                                   You’re gonna meet some gentle
                                   People there

                                        For those who come to San Francisco
                                        Summertime will be
                                        A lovin’ there in to streets of
                                        San Francisco

                                              Be sure to wear some flowers
                                              In your hair
                                              If you come to San Francisco
                                              Summertime will be loving there

                                                    All across the nation
                                                    Such a strange vibration
                                                    People in motion
                                                    There’s  awhole generation with

                                                         A new explanation people
                                                          In motion people in motion
                                                          If you come to San Francisco       
                                             
                                                               Summertime, will be a lovin’ there …”

6
BLEEEEP …
BREBEEEK…
Kolonel Madi dan Sersan Ipung serempak menyelam. Keduanya menyelam ke bawah kapal. Menaruh bom asap di bagian tengah  dan belakang kapal.
Sementara Sersan Kifli dan Kopral Murti berjaga-jaga di mulut kapal. Keduanya baru saja selesai  me nempelkan bom lempar asap  ke bodi kapal bagian depan. Satu di kanan, dan satunya lagi di kiri.
Sambil menunggu kedua rekannya yang masih menyelam, Sersan Kifli dan Kopral Murti tetap waspada. Mereka berusaha tidak menampakkan diri dengan berenang ke sana kemari.
“Apa perlu kita susul mereka sersan?” Kopral Murti kuatir Kolonel Madi dan Sersan Ipung menemui hambatan di dalam air.
“Kita tunggulah sebentar lagi kopral,” kata Sersan Kifli. Dia percaya Kolonel Madi bisa mengatasi segala rintangan.
Suasana sekitar kapal induk sangat gelap. Air laut bertambah dingin. Beruntung cuaca masih bersahabat. Tidak ada ombak besar bergulung-gulung. Tak ada  badai laut yang kerap menyapu air laut sehingga me nimbulkan  gelombang setinggi gunung.
Namun di atas kapal, suasananya jauh berbeda. Setiap ruangan terang benderang. Makanan tersaji bera gam bentuk dan rasa di meja makan, kulkas dan tempat penyimpanan khusus makanan dan minuman.
Sersan Christopher dan rekannya Sersan Rudolf sudah tidak lagi bernyanyi. Keduanya kini saling curhat dan mengeluarkan isi hati. Mereka tampak  sangat akur dan akrab. Asyik saling menasehati diri.
Sementara beberapa rekan mereka yang lain sibuk dengan urusan masing-masing. Kapten Kapal Laksa mana Laut Roberto meminta bebarapa anak buahnya memonitor bergantian kawasan di sekitar kapal dengan menyalakan ulang lampu sorot.
Lampu sorot pun digerakkan ke sana kemari.  Permukaan air lautan yang semula gelap berubah terang dan enak dipandang walau berbuih.
Kolonel Madi, Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti yang sudah selesai menjalankan tugas utama mereka, belum melakukan apa-apa kecuali menunggu sampai sorot lampu beralih ke atas kapal.
Traaang …
Jegraaang …
Tangga diturunkan. Beberapa petugas berseragam turun dan melihat ke bagian bawah kapal. Beberapa di antaranya malah ada yang menyelam untuk memastikan kondisi kapal aman dari segala macam gang guan.
Saat bersamaan, ketika tangga mulai ditarik, Kolonel Madi menginstruksikan tiga anak buahnya segera menyelam di tengah sorotan lampu kapal induk.
Keberadaan mereka berhasil terdeteksi setelah lampu sorot memperlihatkan Sersan Kifli dan Kopral Murti berenang beberapa sentimeter dari permukaan air.
“Kejar mereka …!” Perintah Laksamana Laut Roberto.
Belum sempat perintah dijalankan, sebuah ledakan besar terjadi. Kapal induk terbelah dua, sebelum akhirnya tenggelam ke dasar laut.

TAMAT  (Sambungan dari KOTA BARU)
                                                                          


Tidak ada komentar:

Posting Komentar