Cerita Fiksi
Sang Jagoan
Ditulis oleh
aminuddin
1
SEBANYAK lima belas pesawat tempur dari Negeri Biru
menggempur habis-habisan pemukiman pendu
duk. Dalam hitungan menit, rumah warga Negeri Permata yang sebagian besar
terbikin dari kayu dan material semen
itu rata dengan tanah.
Kobaran api tampak di mana-mana. Satu-satu bangunan roboh
menimpa pemiliknya yang tak sempat la gi melarikan diri. Tewas seketika.
Suara jeritan minta tolong dan pekik makian seolah tenggelam
dalam kobaran api dan sisa ledakan baru yang masih terdengar sesekali. Cerianya
anak-anak, remaja dan dewasa serta tua renta yang biasa pu lang dari masjid
setiap pagi tak terlihat lagi.
Bahkan suara tangisan bayi yang biasa kita dengar saat sore
hari, bangun pagi dan ketika terbangun ti dur di malam hari, sudah
berganti dengan desingan peluru, suara
pesawat tempur yang berulangkali terbang rendah di atas areal pemukiman warga.
Subuh berdarah. Subuh mencekam. Mayat bergelimpangan di setiap sudut
puing-puing bangunan. Ada yang tertelungkup, terlentang dengan mata terpejam
dan terbelalak. Juga ada di antara mereka yang te was secara tragis dengan raga
tak berbentuk lagi. Muka hancur, kepala pecah, tangan dan kaki
bersera kan di lain tempat.
Tak heran bila di setiap sudut kita menemukan batok kepala
yang terbelah dua. Atau potongan tangan dan kaki yang mulai membiru. Sepanjang
mata memandang hanya gelimpangan mayat dan tumpukan sisa bangunan yang
menyesakkan hati dan pandangan.
Puluhan ekor anjing, yang entah dari mana asalnya, datang
mengerumuni setiap tempat, mencium bau anyir dan darah yang tercecer. Mereka
cium dan jilat potongan badan yang mulai membusuk itu, untuk kemudian mereka
makan sampai menyisakan tulang belulang.
Tak ada gonggongan. Tak ada salakan. Tak ada saling rebutan.
Juga tak ada perkelahian. Yang ada suara desah kelaparan. Para anjing
menyerupai serigala itu seperti kesetanan, dan dengan lahapnya menelan rakus
setiap potongan daging manusia yang mereka temukan.
Tak hanya itu. Anjing-anjing itu pun seakan tak pernah
merasakan kenyang. Habis di satu tem pat, mere ka pergi dan mencari ke tempat
lain. Kadang berkerumun dan bergerombolan, lain tempat sendiri-sen diri.
Tengah hari, saat anjing-anjing itu berlalu pergi, perkampungan yang dulunya jadi favorit warga
itu, kini hanya menyisakan asap hitam pekat. Percikan api di sana sini, potongan
kayu yang menghitam serta me ning galkan bara yang sewaktu-waktu memunculkan
api kembali bila disapu angin kencang.
Langit mulai cerah. Tak ada tanda-tanda hujan bakal turun.
Panas mulai terik. Menyengat tubuh. Mata hari meninggi dan menampakkan
sinarnya. Tapi tetap saja tak mengurangi kengerian yang timbul pasca ledakan.
Setiap kaki melangkah setiap kali pula terdengar suara aneh
mendesah. Mencekam, memilukan dan me nggetarkan hati. Sulit dirangkai dengan
kata-kata, apa sebaiknya kita simpulkan selain semuanya mus nah dalam sekejap.
Harta benda terbang melayang, nyawa lenyap tak berbilang.
Semua harapan yang dulunya lempang di sematkan telah berganti dengan ketakutan,
kegelapan dan keputusasaan . Apa mungkin tempat yang semula dihuni banyak orang
ini bakal cepat pulih dalam waktu dekat?
Entahlah. Tapi yang pasti, ketika malam datang, tak seorang
pun manusia yang terlihat di sana. Selain ra ungan dan rintihan yang memilukan, suara minta tolong, pekik cercaan dan semilir angin yang bertiup menebar
bau anyir serta busuk yang semakin menyengat hidung.
Kota hantu, itulah gelaran yang pas kita alamatkan. Tanah
berubah gersang. Air tiba-tiba tak ada. Lantas bagaimana dengan mayat-mayat
itu? Siapa yang menguburkan? Tak ada. Dibiarkan bergelimpangan, ber serakan dan
menjadi kuburan tak bernisan. Saksi bisu yang menyesakkan.
Sehari, dua hari, dan mendekati seminggu. Wilayah pemukiman
penduduk terpadat ini masih mence kam. Bau anyir dan busuk belum juga hilang.
Sementara lalat dan anjing yang datang semakin banyak jumlahnya. Mereka semakin
liar dan ganas .
Saking ganasnya, andai saja ada manusia di sana, pasti
mereka kejar dan jadikan mangsa berikutnya. Me reka tak perduli, daging manusia
hidup atau bangkai, semuanya sama. Lapar, dilumat habis sampai tak bersisa
lagi.
Dari kejauhan, Jenderal Kutch yang memimpin langsung penyerangan
menjelang subuh ini tampak lega dan puas menyaksikan pasukan tempurnya berhasil menghancur-leburkan pemukiman warga Negeri Permata dalam tempo
teramat singkat.
2
“HOREEEEEE … ada pesawat!” Teriak Andi di pematang sawah.
Mereka berlari hendak mengikuti ke arah mana pesawat tempur itu terbang.
“Cepat kali ya Di,” kata Abdul pada Andi. Dia tampak kecewa
karena tak bisa mengejar pesawat canggih itu.
Tak berapa lama kemudian, lima pesawat tempur itu berbalik
arah lagi, dan siap melintas beberapa meter dari atas kepala Abdul,
Andi dan beberapa temannya yang berdiri takjub menyaksikan kehe batan
pilot men-zig-zug kan pesawat.
Usia mereka rata-rata sepuluh tahun. Mereka masih duduk di
bangku sekolah dasar. Sepulang sekolah mereka membantu orangtuanya bekerja di
ladang.
Apa saja mereka kerjakan. Menyabit rumput, ikut menanam padi
dan sayur-sayuran, mencari kayu bakar, bahkan menangkap ikan untuk lauk makan.
Jika semua pekerjaan itu selesai mereka kerjakan, barulah
mereka bermain, tentu di atas pematang sa wah. Atau sekadar duduk-duduk di
pondokan, bermain petak umpet dan memancing di kali sambil ber senda gurau.
Sore harinya mereka baru pulang ke rumah dengan membawa
sayur-mayur atau rumput untuk maka nan kambing. Mereka sudah terbiasa berjalan
kaki jauh, walau ada di antara mereka menggunakan se peda.
“Ayah … ada pesawat Yah!” Teriak seorang anak perempuan pada
ayahnya yang tengah mencangkul di pematang sawah.
Sang ayah yang tak berbaju, berkulit hitam legam karena
terkena sinar matahari dan penuh panu, sete lah menyeka peluhnya, segera
mendekati sang buah hati. Sama-sama menyaksikan kecepatan pesawat tempur
terbang rendah.
Semula Sang Ayah senang dan puas karena memang belum pernah
ia melihat pesawat tempur terbang sangat cepat dan rendah . Nyaris tak bersuara, jauh dari kebisingan dan
bentuknya menyerupai burung yang sering para petani tengok singgah dan terbang
di areal persawahan.
Setelah itu …
“Lari anakku … Lari cepat!” Jerit si ayah tadi pada anaknya sesaat setelah puluhan petani
berteriak keta kutan dan berhamburan menyelamatkan diri ke tebing, jalan lintas
keluar masuk areal persawahan.
Secara beriringan, dari kejauhan lima belas pesawat tempur bergantian
menghujani bom ke areal per sawahan. Ter dengar ledakan dan seketika asap serta
kobaran api membumbung tinggi.
Pesawat-pesawat itu
makin lama makin dekat. Abdul, Andi dan beberapa teman satu sekolah
mereka lari pontang-panting, bersembunyi di balik kali yang menghubungkan ke
areal persawahan yang belum digarap.
Tapi, sekencang apa pun mereka berlari, pesawat tempur justru lebih kencang berlari.
Hanya dalam hi tungan detik sebuah bom jatuh di pematang sawah, dan …
Jeguuuum …
Gummmm …
Traaash …
Air di pematang sawah muncrat ke atas seiring terdengarnya
ledakan keras. Tanah bergetar dan retak di segala tempat. Pematang sawah hancur
seketika. Tak berbentuk lagi. Padi hangus, sayur mayur tak ber bekas.
Abdul yang tadinya sempat berteriak dan bersenda gurau, tak terdengar lagi suaranya. Lenyap. Dia te
was sementara jasad nya terpental entah kemana. Begitu juga dengan
teman-temannya yang lain. Seo lah lenyap ditelan bumi. Jagankan jasad, jejak
keberadaan mereka saja tidak diketahui.
Rumput-rumput berubah hitam. Tanah becek menyembur ke segala
arah, menimpa pematang sawah d an aneka tanaman di sekitarnya, termasuk gubuk
di pinggiran tempat para petani dan keluarga mereka beristirahat jelang tengah
hari.
Sesaat senyap. Hanya asap hitam membumbing tinggi terlihat.
Api masih membesar. Tapi pesawat tem pur tak jua berhenti melintas ke sana
kemari. Tak henti memborbardir di segala
arah. Tak peduli banyak korban jiwa yang
berjatuhan. Tewas secara mengerikan.
Dari ujung ke pangkal, dan dari pangkal ke ujung lagi, hanya
ledakan yang terdengar. Diiringi jeritan histe ris, setelah itu lenyap tak
berbekas. Disusul lintasan beriringan beberapa pesawat tempur yang balik arah menuju
pangkalan.
Malam tiba. Areal pertanian rakyat yang subur dan makmur
serta mata pencaharian utama penduduk Negeri Permata, belum juga terusik. Sunyi
dan senyap. Tak satu pun hewan yang berani mendekat.
Air berubah pekat. Warnanya hitam dan kemerah-merahan. Tak
bisa lagi diminum karena sudah ter cemar dan bercampur zat beracun yang
mematikan. Pohon bertumbangan, terkelupas dan berubah gundul. Tak lagi berdaun,
buahnya pada berguguran.
Tanaman padi berhektar-hektar, sebagian besar tinggal
dipanen, tak terlihat lagi. Sudah menyatu de ngan tanah sedikit berair yang masih mengeluarkan asap,
walau tak sebesar di awal ledakan.
Sisa-sisa ledakan tak terdengar lagi menjelang pagi. Api
mulai mengecil. Asap tak sepekat hari kemarin. Ribuan lalat mulai berdatangan.
Tapi belum menemukan bangkai untuk dijadikan makanan.
3
SEBUAH bangunan megah berlantai lima puluh tampak lengang
dari luar. Hanya berderet puluhan mobil
mewah keluaran terbaru di areal parkir sebelah kanan, kiri dan depan
bangunan itu.
Setiap hari pabrik pembuatan kendaraan roda dua dan empat
itu selalu ramai. Bukan karena para pega wai nya yang memang banyak, berjumlah
ribuan. Tapi pengunjung yang datang mencapai ratusan dan bahkan pernah mencapai
ribuan orang per harinya.
Sementara tak jauh dari pabrik bercat biru, putih, merah dan
kuning itu berdiri kokoh pabrik garment, suku cadang kendaraan roda dua dan
empat serta beragam corak pakaian hasil buatan anak dalam nege ri.
Lepas Subuh, hampir separo karyawan wanita sudah menunggu di
depan pintu gerbang pabrik. Ada yang diantar keluarga mereka menggunakan motor
dan mobil, ada juga menggunakan kendaraan pribadi dan naik bus jemputan khusus
karyawan yang rumah mereka sangat jauh dari lokasi pabrik.
Beberapa meter berikutnya ratusan pabrik berskala kecil dan
sedang berderet memanjang. Menempati tanah seluas lebih dari dua puluh hektar.
Banyak produk yang dihasilkan. Mulai dari sepatu, sandal, bara ng elektronik hingga peralatan rumah
tangga.
Sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun
pabrik-pabrik tersebut rutin beroperasi. Dengan wilayah jangkauan market yang
mencakup dalam dan luar negeri, pihak pabrik selalu berinovasi dengan
memunculkan corak dan produk terbaru seiring semakin banyaknya rekrutmen
karyawan baru.
Para pengusaha kelas kekap sering menyempatkan diri
berkunjung ke lokasi pinggiran kota besar ini. Se lain melihat dari dekat
produk yang dihasilkan dan bakal diluncurkan, mereka juga melobi dan merang kai
kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Kerjasama itu bersifat jangka pendek, menengah dan jangka
panjang. Dengan terbentuknya kerjasama ini semakin menggairahkan dunia usaha.
Pabrik-pabrik baru bermunculan, lowongan kerja terbuka lebar dan menambah
pemasukan pendapatan daerah.
Ribuan mahasiswa, dosen dan pelajar sering melakukan
kunjungan ke sana per bulan dan tahun. Kese muanya belajar dengan melakukan
pengamatan, wawancara seputar produk dan mekanisme pengelola an pabrik, riset
dan penelitian awal untuk dikembangkan lebih jauh di sekolah dan perguruan tinggi
tem pat mereka menim ba ilmu pengetahuan.
Sampai suatu ketika …
Terjadi getaran kecil di areal pabrik. Pagi hari hanya
sekali. Menjelang siang dua kali dan tengah hari lebih dari tujuh kali.
Karena tak terdeteksi secara nyata, dan tidak mengganggu
ketenangan karyawan dalam bekerja, pihak pabrik menganggap getaran itu tak
lebih dampak dari perubahan cuaca saja. Sebab, selama ini memang tak pernah terjadi yang namanya gempa.
Mereka tak melihat, tak jauh dari pintu gerbang utama masuk
ke areal pabrik, dua pesawat tempur ber gerak lambat. Tak ada yang mengira akan
terjadi hal-hal yang luar biasa setelahnya.
Sampai akhirnya …
Jegaaaam …
Guaaam …
Jegaaar …
Jeguuur …
Jegiiir …
Bom mulai berjatuhan. Dua pesawat tadi beriringan melaju ke
tengah. Berpisah arah. Satu ke kiri, satunya lagi ke kanan dengan kecepatan
yang sulit dilihat.
Dari bawah pesawat itu meluncur bom yang dalam hitungan
detik meledak di areal pabrik. Terdengar
ledakan dahsyat. Asap membubung tinggi, api mulai berkobar ke segala arah.
Dua pesawat tempur tadi kembali bertemu, kemudian berbalik
arah sekali lagi sebelum menuju pangka lan. Sisa bom yang ada dalam pesawat
dijatuhkan dan membikin porak poranda areal pabrik yang seke tika itu juga berubah
menjadi lautan api dan asap.
Benar-benar dahsyat . Belum genap lima menit, puluhan pabrik
besar dan megah rata dengan tanah. Mo bil dan motor yang tadinya berderet
megah, hanya menyisakan onggokan sampah berupa gundukan dan luberan tanah
beracun.
Semua lenyap. Tak berbekas. Nyawa seolah tak ada harganya.
Entah di mana jasad mereka. Tak satu pun yang terlihat dan berani mendekat.
Karena memang api, khususnya asap masih sangat pekat. Asap bera cun yang
menggumpal dari segala arah itu membuat siapa pun bisa sekarat dan tak bakalan
selamat.
4
“OKE?!”
“Oke Kolonel,” jawab Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral
Murti serempak.
Bersama Kolonel Madi, ketiganya mulai melakukan penyelaman
di malam hari. Langit cerah, bulan ber sinar walau tidak terang. Keempatnya
berinisiatif menyelam dengan tujuan meledakkan kapal induk tempat pangkalan pesawat tempur dari
Negeri Biru.
Tak semudah membalikkan telapak tangan memang. Selain airnya
sangat dingin dan gelap di dasar laut karena malam hari juga banyak
berseliweran ikan ganas seperti hiu yang dapat mengganggu kelancaran operasi
rahasia yang dipimpin Kolonel Madi.
Mereka memasang target, sekembalinya dari kapal induk, akan
terjadi ledakan besar. Hal ini dimaksud kan
agar seluruh pesawat tempur milik pasukan lawan hangus terbakar,
sehingga mereka tak bisa lagi memborbardir Negeri Biru yang tiga wilayah strategisnya
kini hancur lebur dengan menimbulkan ba nyak korban jiwa dan harta.
“Ke pinggir dulu sersan,” kata Kolonel Madi. Mereka
bersembunyi sejenak di bawah pohon besar yang separo batang dan daunnya
menjorok ke laut.
“Sepertinya aman Dan,” ujar Sersan Ipung.
Dengan menggunakan alat teropong, Kolonel Madi belum melihat
seorang pun di atas kapal. Walau ma lam hari, karena ada lampu penerang kapal,
pasti terlihat jika ada orang lalu-lalang di sekitar pesa wat yang parkir
melebar.
“Apa tak sebaiknya kita langsung tembakkan saja bom lempar
asap ini Dan?” Tanya Kopral Murti. Selain lebih aman dan tak menguras tenaga,
mengurangi risiko yang akan timbul sekiranya harus menaruh la ngsung bom di sekitar bodi kapal induk.
“Ya Dan. Kita pilih saja tempat yang strategis untuk
melepaskan bom lempar asap ini,” jelas Sersan Kifli.
“Tapi ini air bukan daratan sersan,” kata Kolonel Madi.
“Apa bedanya Kolonel? Bukankah bom baru meledak setelah
tepat mengenai badan kapal?” Zukifli berargumen.
“Betul. Tapi menurutko sersan, kalau kita berempat kesana
bukankah kita bisa lebih tahu suasananya dan dimana lokasi yang pas buat
meletakkan bom lempar asap ini.”
“Eeeem … Tapi Kolonel, apa bisa kita berempat menghindar
dengan cepat sebelum asap cair beracun itu meledak?” Sebab, menurut Sersan Kifli,
berenang dan menyelam di lautan tidak sama cepatnya ketika kita berlari di
daratan.
“Saya kuatir saja Kolonel. Kita bakalan terkena imbas
ledakan itu,” terang Kopral Murti.
“Atau,” potong Sersan Kifli, “Kita bagi dua saja Kolonel.
Dua mendekati kapal, dua lagi menunggu di sini. Bagaimana?”
Namun, demi cepatnya misi ini terlaksana dan peluang sukses
lebih besar, disepakati Kolonel Madi dan tiga anak buahnya sama-sama mendekati
kapal induk mewah itu.
Ternyata di atas kapal banyak orang dengan beragam kegiatan.
Ada yang menulis, membaca, dan mene lepon, duduk-duduk sambil melepaskan
pandangan sesekali jauh ke tengah lautan. Bahkan juga ada ya ng berpatroli dan siap mnerima perintah untuk menerbangkan pesawat
tempur ke lokasi yang dituju.
Di belakang kapal …
“Kamu jalan Boy,” kata Sersan Rudolf pada teman main
caturnya, Sersan Christopher yang sudah lima menit duduk memandangi buah catur.
Sersan Christopher memegang buah putih, sedangkan Sersan
Rudolf pegang buah hitam. Giliran peme gang buah putih yang jalan. Karena
terdesak, Sersan Christophe berpikir lama.
Mata melotot. Tak lepas matanya dari memelototi bidak-bidak
yang tersusun tidak rapi di atas papan catur.
“Sersan!”
Sersan Christopher tersadar.
“Ahaa .. ketahuan deh lu. Bukan mikirin catur, tapi mikirin
si dia yang sekarang jauh di negeri seberang. Betul kan?”
“Oke. Saya jalan sersan.”
Sersan Christopher melakukan blokir panjang. Tanpa berpikir
panjang lagi, Sersan Rudolf menggerakkan perdana menterinya dengan memakan pion
putih di depan raja.
“Skaaak.”
Sersan Christopher menyerah.
Dia mengaku kalah. Dia gulingkan rajanya pertanda menerima
kekalahan.
5
JREEEENG …
Tiiing … triiing .. tiiinng.
“Ayo sersan kita nyanyi aja …” Sersan Rudolf sudah menyetel gitar,
menemukan kuncinya, dan mencoba memainkannya sebentar.
Trrring …
Jreeeng …
Dia tampak puas.
“Ayo sersan Chris. Lagu apa yang kamu suka dan hafal, please
.. bernyanyilah untukku.”
“All right.”
Jreeng …
Triiing .. tiiing .. tiiing.
“Since you’ve been gone
Lonelirtess surrounds me
You’ll find me waiting here
Just in case you change your mind
Reff …
Give me a chance
Listen to my lovely heart
Beating fast for you
Since you’re been gone
Yesterday I know
I’ve been crying over
you
I can’t stand it no
more
To be left here all
alone
Back to reff …
Give me a chance
Listen to my lovely
heart
Beating fast for you
Since you’re been
gone “ (2 kali)
“Lanjut sersan …”
“Oh … oh Carol
I am but a fool
Darling,
I love you tho’
You treat
me
Cruel you
hurt me
And you made
me cry
But if you
leave me
I will
surely die
Darling,
There will never be another
‘cause I Love you so
I will always want you
For my sweet heart
No
matter what you do
Oh Carol
I ‘m so in love with you …”
“Lanjut sersan …”
“If your goin’ to San Francisco
Be sure to wear some
flowers
In your hair
If you’re
goin’ to San Francisco
You’re gonna
meet some gentle
People there
For
those who come to San Francisco
Summertime will be
A lovin’ there
in to streets of
San
Francisco
Be sure to wear some flowers
In your hair
If
you come to San Francisco
Summertime will be loving there
All across the nation
Such a strange vibration
People in motion
There’s awhole generation with
A new explanation people
In motion people in motion
If you come to San Francisco
Summertime, will
be a lovin’ there …”
6
BLEEEEP …
BREBEEEK…
Kolonel Madi dan Sersan Ipung serempak menyelam. Keduanya
menyelam ke bawah kapal. Menaruh bom asap di bagian tengah dan belakang kapal.
Sementara Sersan Kifli dan Kopral Murti berjaga-jaga di
mulut kapal. Keduanya baru saja selesai
me nempelkan bom lempar asap ke
bodi kapal bagian depan. Satu di kanan, dan satunya lagi di kiri.
Sambil menunggu kedua rekannya yang masih menyelam, Sersan
Kifli dan Kopral Murti tetap waspada. Mereka berusaha tidak menampakkan diri
dengan berenang ke sana kemari.
“Apa perlu kita susul mereka sersan?” Kopral Murti kuatir
Kolonel Madi dan Sersan Ipung menemui hambatan di dalam air.
“Kita tunggulah sebentar lagi kopral,” kata Sersan Kifli.
Dia percaya Kolonel Madi bisa mengatasi segala rintangan.
Suasana sekitar kapal induk sangat gelap. Air laut bertambah
dingin. Beruntung cuaca masih bersahabat. Tidak ada ombak besar
bergulung-gulung. Tak ada badai laut
yang kerap menyapu air laut sehingga me nimbulkan gelombang setinggi gunung.
Namun di atas kapal, suasananya jauh berbeda. Setiap ruangan
terang benderang. Makanan tersaji bera gam bentuk dan rasa di meja makan,
kulkas dan tempat penyimpanan khusus makanan dan minuman.
Sersan Christopher dan rekannya Sersan Rudolf sudah tidak
lagi bernyanyi. Keduanya kini saling curhat dan mengeluarkan isi hati. Mereka
tampak sangat akur dan akrab. Asyik
saling menasehati diri.
Sementara beberapa rekan mereka yang lain sibuk dengan
urusan masing-masing. Kapten Kapal Laksa mana Laut Roberto meminta bebarapa
anak buahnya memonitor bergantian kawasan di sekitar kapal dengan menyalakan
ulang lampu sorot.
Lampu sorot pun digerakkan ke sana kemari. Permukaan air lautan yang semula gelap
berubah terang dan enak dipandang walau berbuih.
Kolonel Madi, Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti
yang sudah selesai menjalankan tugas utama mereka, belum melakukan apa-apa
kecuali menunggu sampai sorot lampu beralih ke atas kapal.
Traaang …
Jegraaang …
Tangga diturunkan. Beberapa petugas berseragam turun dan
melihat ke bagian bawah kapal. Beberapa di antaranya malah ada yang menyelam
untuk memastikan kondisi kapal aman dari segala macam gang guan.
Saat bersamaan, ketika tangga mulai ditarik, Kolonel Madi
menginstruksikan tiga anak buahnya segera menyelam di tengah sorotan lampu
kapal induk.
Keberadaan mereka berhasil terdeteksi setelah lampu sorot
memperlihatkan Sersan Kifli dan Kopral Murti berenang beberapa sentimeter dari
permukaan air.
“Kejar mereka …!” Perintah Laksamana Laut Roberto.
Belum sempat perintah dijalankan, sebuah ledakan besar
terjadi. Kapal induk terbelah dua, sebelum akhirnya tenggelam ke dasar laut.
TAMAT (Sambungan dari
KOTA BARU)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar