Cerita Berseri
Pusy Cat (5)
Edisi Kelima
Oleh Wak Amin
XIII
“LOLA .. Lolaaa!” Sambil berkeliling dari depan ke belakang,
Mpok Surti mencari Lola yang sedari tadi tak kelihatan batang hidungnya.
Kemana dia?
Padahal Pusy ada. Tengah duduk manis di sofa ruang tamu.
Mpok Surti heran, biasanya dimana ada Pusy pasti disitu ada Lola. Begitu juga
sebaliknya. Ada Lola, di dekatnya pasti ada Pusy.
Tapi sejak kemarin malam, hanya Pusy seorang yang tidur di
kamar Mpok Surti. Dicari ke kamar Nyonya tak ada. Karena sibuk merapikan rumah,
Mpok Surti tak begitu memperdulikannya. Karena bisa saja lagi menyendiri di
teras atau taman belakang rumah.
Namun, ketika ada waktu senggang keesokan harinya, Mpok
Surti penasaran lagi. Dia melanjutkan pencariannya. Kali ini ia minta bantuan
Pusy. Herannya Pusy tak mau.
Kenapa ya?
Pusy hanya duduk manis di pangkuan Mpok Surti. Dia tak ingin perempuan murah hati ini pergi
mencari Lola. Karena dia juga sudah mencarinya ke setiap sudut rumah, Lola tak
berhasil diketemukan.
Mpok Surti terenyuh juga melihat Pusy menatapnya sendu.
Tampak matanya berkaca-kaca. Sayang tak bisa berkata sepatah kata. Andaikata
bisa, tentulah bisa tahu apa yang dirasakan Pusy saat ini.
“Pusy!” Bisik Mpok Surti. Setelah mencium lembut pipi kucing
kesayangan Sang Nyonya itu, Pusy turun sambil melompat dari pangkuannya. Dia
berjalan menuju pintu depan.
Mpok Surti mengikutinya dari belakang. Dengan cekatan Pusy
membuka pintu rumah. Lalu keluar dan duduk di kursi teras. Lepas itu dia
berlari menuju pintu pagar. Mpok Surti menyusul dari belakang.
Dia baru mengerti sekarang.
Bukankah Nyonya dan Tuan sedang tidak berada di rumah saat
ini?
Mpok Surti menggendong Pusy, kembali ke teras. Setelah itu
masuk rumah, mengunci pintu sebelum masuk ke kamarnya. Mencari hapenya di laci lemari, tapi tak diketemukan.
Ngeooong …
Pusy menggigit hape. Lalu memberikannya kepada Mpok Surti.
He he he he …
Mpok Surti ketawa geli. Dia menertawai dirinya sendiri.
Belum tua sudah pelupa. Ternyata Pusy lebih ingat ketimbang dia.
“Ma kasih ya sayaaang …”
Pusy mencium-cium bodi hape, mengisyaratkan Mpok Surti
segera menelepon Mrs Bram. Sang Nyonya dan Tuan tadi diam-diam memang mengajak
serta Lola. Sambil mengantar suaminya kerja, perempuan muda anggun ini mampir
ke dokter hewan.
Ada apa?
Memeriksakan kesehatan Lola. Mrs Bram menduga kucing
kesayangan suaminya itu tak enak badan. Sepanjang malam selalu mengeong.
Padahal selama ini, jangankan mengeong, kalau sudah di kamar pasti diam dan tak
banyak ulah.
Kemarin malam Pusy dan Lola tidur terpisah. Pusy tidur di
kamar Mpok Surti, sedangkan Lola baringan bersama Mr Bram dan isteri. Pusy
tidurnya nyenyak sekali. Tidak mengeong sepanjang malam.
Sebaliknya Lola justru beruba. Sering turun naik dari tempat tidur. Mengeong
dan gelisah. Sebentar ke dekat mukanya Mr Bram, sebentar lagi duduk manis di
samping Sang Nyonya.
“Mas Bram …”
“Mas Bram …”
“Mas Bram …”
Ketika Lola sembunyi di bawah meja rias , Mrs Bram membangunkan suaminya. Dia membisikkan sesua
tu di telinga suaminya itu. Lalu keduanya memandang lekat ke bawah meja jati
berkaca bening itu.
“Sakit kali ya Mas?”
Mr Bram tak langsung percaya. Dia mengajak isterinya turun
dari tempat tidur. Pelan-pelan, jangan sam pai ketahuan Lola yang rebahan
sambil pejamkan mata.
“Mas … Mas!” Sang Isteri mengingatkan. Pasalnya di dekat
kaki Mr Bram ada kursi. Kalau tersentuh bisa ketahuan. Lola pasti terkejut dan
bangun.
“Sebelah sini say …” Bisik Mr Bram. Melihat isterinya ingin
mendahuluinya dari sebelah kanan, dicegah nya agar mendekat saja ke kakinya.
Ssssst …
Jari telunjuk Mr Bram menempel ke mulut Sang Nyonya.
Pertanda diam. Melihat dan menunggu saja apa gerangan yang dilakukan Lola.
Lola masih memejamkan mata. Dua menit tak bangun, tiga menit
berselang bertambah pulas. Lima me nit kemudian Mr Bram memberanikan diri
mendekati Lola.
Tak ada reaksi. Kedua suami isteri ini pun sepakat untuk
menggendong Lola. Mulanya Mr Bram yang coba menarik pelan badan Lola. Tapi tak
bisa karena badannya ‘ngepas’ masuk kolong meja. Dia me ngurungkan niatnya.
Gantian Sang Isteri. Walaupun harus bersusah payah, pada
akhirnya bisa menarik badan Lola, lalu meng gendongnya dengan penuh kasih
sayang dan kelembutan.
“Panas Mas Bram,” ucap Sang Isteri dengan raut muka cemas.
“Ah, yang benar Ma?” Mr Bram tak percaya. Setahu dia kucing itu tak pernah demam. Kalau
pun de mam, hanya batuk-batuk kecil. Flu kucing kata orang kebanyakan
menyebutnya.
“Bawa ke dokter ya Mas?!”
“Besok ajalah. Udah malem nih. Ini kan hewan, ya dokter
hewan lah.”
“Rumah sakit biasa
apa enggak bisa Mas?”
“Setahuku tidak Ma.”
“Ah masa?”
“Buktinya kebanyakan yang dibawa berobat ke rumah sakit itu
kan manusia. Orang. Kalau hewan setahuku ya dokter hewan …”
“Jadi gimana selanjutnya Mas Bram?”
“Tunggu besok lah ya.” Setelah mencium kening isterinya, Mr
Bram tidur lagi karena ia memang mengantuk berat.
Mrs Bram meletakkan Lola di lantai beralaskan karpet dengan
kepala ditaruh di atas bantal kecil, diselimuti agar tak kedinginan. Kepalanya
dikompres dengan air hangat.
Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Kemudian mencuci
tangan, muka dan kaki. Ia merebahkan tubuhnya di samping suaminya yang sudah
terlelap.
Keesokan harinya, atas inisiatif Mrs Bram, dibawalah Lola ke
dokter hewan. Lama juga ia menemani Lola diperiksa dokter hewan. Hampir satu
jam.
Sang dokter bukan cuma memeriksa kesehatan Lola, tapi juga
menyeluruh. Mulai dari kuku, kaki hingga bulunya yang indah memesona itu. Hal
ini dilakukan untuk mengantisipasi berjangkitnya virus yang tentunya sangat
mengganggu kenyamanan kucing beraktivitas sehari-hari.
Sang Dokter tidak menemukan penyakit yang serius pada Lola.
Hanya demam biasa. Setelah disuntik dan diberi obat, Lola diperbolehkan pulang.
Mrs Bram senang mendengarnya. Walaupun masih dalam tahap perawatan, Pusy pasti
sudah tak sabar menunggu kepulangannya di rumah.
Hanya Sang Dokter mengingatkan buat sementara Lola tak usah
dulu berdekatan dengan Pusy, termasuk Mpok Surti, Mr Bram dan isteri. Selain
memudahkan perawatan, menghindari menularnya penyakit de mam yang dialami Lola.
Mulanya, Pusy merajuk karena tak boleh dekat-dekat dengan
Lola. Tapi setelah diberi pengertian de ngan isyarat bahasa kucing, oleh Mpok
Surti, lambat laun dia menerimanya dengan senang hati.
Setelah disepakati, Lola dirawat di taman belakang. Selama
ini aman dan udaranya sejuk ketimbang di dalam rumah. Pasti Lola akan dengan
mudah tidur. Tanpa terganggu kehadiran Pusy dan Mpok Surti.
Ketika Mr Bram tiba di rumah setelah pulang dari tempatnya
bekerja, usai mencium hangat pipi isteri nya, dia menemui Lola di taman
belakang rumah. Seolah tahu dengan kehadiran tuannnya, Lola pun bangun dari
tidurnya.
Ngeoooong …
“Mas!” Mrs Bram mengingatkan pesan dokter bahwa jangan
terlalu dekat dulu dengan Lola sebelum penyakitnya sembuh.
“Apa kata dokter lagi Ma?”
“Enggak ada. Cuma itu Mas.”
Mr Bram, dari balik
kandang, melepas senyum dan menyebut-nyebut nama Lola. Tentu saja Lola sena ng.
Meski masih dalam keadaan sakit, dia berusaha menyenangkan hati tuannya dengan
menggeliat-geliatkan tubuhnya di lantai beralaskan tikar.
Ha ha ha ha …
Lola mengibas-ngibaskan ekornya, lalu berjoget-joget di
hadapan Mr Bram dan isteri yang tertawa geli menyaksikan kelucuannya beraksi di
dalam kandang kucing terbikin dari besi itu.
“Udah ya Lola. Selamat bobok …” Ucap Mrs Bram melambaikan
tangan mengajak suaminya bertukar pakaian dan beristirahat sejenak di kamar
sebelum santap malam.
Usai bersantap malam. Setelah kembali ke kamarnya
masing-masing, Pusy rupanya penasaran dengan Lola, temannya sepermainan. Sambil
mengendap-endap, dia keluar dari pintu kamar Mpok Surti.
Kemana dia?
Rindu tak tertahankan. Sejak kedatangan Lola tadi, Pusy
belum sempa berkomunikasi dengan teman se kamarnya itu. Ingin rasanya dia memeluk Lola. Semalam tidak
tidur bersama berat rasanya. Bukan apa-apa. Karena su dah terbiasa berdua.
Sejak kehadiran Lola, gairah hidup Pusy semakin meningkat.
Makan banyak, badan segar dan bugar, ser ta selalu riang gembira karena tak
henti-hentinya berkejar-kejaran dengan Lola se panjang pagi, siang dan sore
hari.
Pusy tak ingin gairah hidupnya kembali ‘down’ setelah Lola sakit. Dia ingin Lola
cepat sembuh. Makanya dia nekat menemui Lola untuk menghiburnya, memberinya
semangat hidup. Paling tidak cepat sembuh dan bisa bermain kembali.
Ngeoooong …
“Lolaaa!”
Lola terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke sekitar. Tidak
ada siapa pun di sana. Tapi sepertinya suara Pusy tadi. Dia ingat betul suara
itu.
Nyeeet …
Kriiiiik …
Pintu terbuka …
“Lola sayang!” Sapa Pusy. Sebelum Lola menjawab sapaannya,
ia lebih dulu menempelkan mulutnya ke dinding kandang.
“Apa kabar sayang?”
Ngeoooong.
“Kabar baik wahai Pusy,” jawab Lola malu-malu karena harus dirawat
di dalam kandang.
“Semoga lekas sembuh ya sayang …” Ucap Pusy dengan suara
pelan. Dia pandangi lekat mukanya Lola. Sebaliknya Lola hanya menunduk.
“Pusy. Cepatlah kembali, nanti ketahuan Tuan dan Nyonya,”
kata Lola mengingatkan karena jika ketahu an Tuan dan Nyonya bakal kena marah.
Ngeooong …
Plak .. pak .. plak ..
pak …
Mpok Surti bertepuk tangan, diikuti Mr Bram dan isteri. Menepuki
Pusy lagi berduaan dengan Lola.
“Yeee
duaan pasang lampu tigaan
Pusy rupawan
si Lola menawan
Ye duaan
masuk kamar gendongan
Makan ikan
rebusan
Akhirnya
gocohan …”
“Yeeee … yeeee …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
XIV
KETIKA berjalan-jalan ke pantai, mobil sedan yang disopiri
Mr Bram dikuntit dari belakang oleh dua se peda motor. Mulanya tak begitu
mencolok. Namun ketika mobil belok kanan menuju jalan menanjak, empat lelaki
berhelm itu mempercepat laju motor mereka.
“Hati-hati Mas!” Mrs Bram mulai kuatir karena suaminya
semakin mempercepat laju mobil dari semula berkecepatan enam puluh, kini mendekati
seratus.
“Pegangan yang kuat ya Ma.” Pesan Mr Bram.
Dia membelokkan mobilnya ke kanan saat jalan menurun.
Melewati jalan tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan cemara dan
pinus.
Syiiiiiit …
Mr Bram menghentikan laju mobilnya. Bersembunyi di balik
semak belukar. Dia sengaja menunggu dua sepeda motor itu lewat. Tapi sampai
lima menit ditunggu belum terlihat batang hidung pengendara mo tor itu.
Kenapa?
Keempat pria tinggi tegap itu sengaja mematikan mesin
motor. Sambil menunggu Mr Bram dan mobil
yang dikendarainya terlihat dari jalan. Sebab, mereka menduga Mr Bram tak jauh
dari tempat mereka berhenti sekarang ini.
“Tunggulah sebentar,” kata Ran, sang bos pada anak buahnya
Win yang sudah tidak tahan ingin segera mendapatkan uang banyak dengan merampok
Mr Bram.
“Mereka orang kaya, saya tahu itu. Tak mungkin tak bawa
duit. Tunggu apalagi, Bos.” Kata Vid, geram sambil menepuk nyamuk hitam
keputih-putihan yang beberapa kali singgah di tangannya, dan sempat beberapa
kali menggigitnya.
“Tunggu dia keluar,” jawab Sang Bos meyakinkan. “Saat keluar
itulah kita kejar mereka.”
“Kalau tetap tidak keluar Bos?” Sin yakin Mr Bram bukan
orang sembarangan. Dia pasti berpikir seribu kali untuk keluar dari
persembunyiannya.
Ngeooong …
Lola mengeong. Namun secepatnya Mpok Surti memeluknya agar tidak mengeong lagi.
“Kau dengar barusan kan Vid?”
“Enggak Sin,” jawab Vid yang memang tidak mendengar suara
apa pun di sekitar mereka berdiri saat ini.
“Kucing,” kata Sin. Kucing mengeong. “Tak salah lagi aku.
Kupingku biasanya tak salah kalau untuk uru san dengar mendengar …”
“Ah, egois lu,” sebut Win membuang rokoknya ke bawah pohon
kayu.
“Benar.” Sin tetap bersikeras yang dia dengar barusa adalah
suara kucing. Tak salah lagi.
“Ya sudah,” potong Ran. Tak ingin teman-temannya itu
berkelahi hanya gara-gara suara kucing menge ong. “Sekarang coba tunjukkan
kepada kami Sin, dari arah mana suara itu berasal …!”
“Disana Bos!” Sin menunjuk sebuah batu besar yang sudah
menyemak.
“Coba kalian berdua periksa sana,” perintah Ran pada Sin dan
Win. Mungkin saja benar, dan jika me mang benar, selesailah tugas mereka ini.
Ha ha ha ha …
Ran ketawa sendiri. Vid yang duduk di sebelahnya juga ingin
ketawa sebenarnya. Namun tak bisa karena tak pula tahu apa yang akan
ditertawakan.
“Bagaimana?”
Sin dan Win sama-sama menggelengkan kepala. Sang Bos agak
kecewa. Tapi dia yakin anak buahnya itu tidak berbohong padanya. Mereka kini
harus mengatur strategi baru. Caranya? Mereka duduk lesehan dulu.
Syuuuur …
Reeen …
Pin .. pin …
Sebuah mobil sedan meluncur dari semak belukar dekat batu
besar. Tentu saja kemunculannya yang tiba-tiba itu mengagetkan empat penjahat
muda usia ini. Mereka tampak geram dan marah besar ka rena merasa telah kena
tipu daya Mr Bram.
“Setan alas.” Umpat Ran.
Kletek …
Kletek …
Ren .. ren .. ren …
Mereka segera mengejar mobil sedan keluaran terbaru itu.
Mereka tak melihat sebenarnya di belakang mereka juga ikut mengejar Pusy dan
Lola.
Pusy dan Lola menumpang mobil pick up yang sempat berhenti
di pinggir jalan karena pengemudinya mengganti ban depan yang pecah.
Tanpa sepengetahuan si pengemudi, keduanya melompat cepat ke
bak belakang yang memang kosong, tak memuat barang bawaan. Tadinya diisi sembako untuk
diantar ke pelanggan. Pulangnya melenggang kangkung. Bak belakang kosong, uang
dapat dan santai dengan mobil tetap melaju dengan kecepatan se dang.
Dimana Mr Bram?
Pusy dan Lola melihat tuannya itu masih berkejar-kejaran
dengan empat penjahat tadi. Mereka tidak melalui jalan raya beraspal, tetapi
melewati jalan tanah yang dinaungi aneka
pepohonan dan semak belukar di kanan kirinya. Pusy dan Lola hanya berharap
majikannnya itu selamat dari kejaran empat begundal itu.
“Tapi Pusy … kita tak boleh tinggal diam. Kita harus berbuat
sesuatu,” kata Lola, kuatir sekali ia.
“Sesuatu apa?”
“Apa saja …”
Pusy ketawa.
“Kenapa tertawa Pusy?”
“Sejak kita turun dari mobil Tuan tadi aku sudah tahu harus
berbuat apa.”
“Lho .. kenapa enggak bilang-bilang dari tadi sama aku.”
“Surprise aja buatmu Lol. Enggak marah kan?”
Lola mengeong.
“Lepaskan tembakan saja Bos,” bisik Win dari belakang. Ran
yang membonceng sempat kepikiran juga mau menembak, tapi takut terdengar warga.
“Matilah kita kena keroyok,” kata Ran sambil menambah
kecepatan motornya, dari sedang kini melaju sangat kencang.
Berbeda dengan Sang Bos, Vid justru sudah tidak sabar
menembak mobil incarannya itu. Supaya tidak berlarut-larut, capek dan pegal
seluruh anggota badan, Mr Bram bisa jadi lepas dari kejaran.
“Tapi sebaiknya ngomong dululah sama Bos,” bisik Sin, agar
tak salah paham. Soal tepat sasaran atau tidak tembakan yang dilepaskan itu
nantinya, tak jadi masalah.
“Terserah kaulah caranya.” Akhirnya Ran mengizinkan anak
buahnya itu melepaskan tembakan dengan catatan dari jarak yang tidak terlalu
jauh.
Kejar-kejaran masih terus berlangsung. Saat Mr Bram hendak
memasuki jalan raya, saat itulah terdengar letusan keras yang mengarah ke ban
mobilnya.
Mobil masih melaju, tapi sudah oleng karena ban belakang sebelah kanan pecah kena dor.
Ketika mem perlambat kecepatan terdengar tembakan lagi. Kali ini mengenai ban
belakang sebelah kiri.
Mobil oleng sebelum akhirnya terbalik. Empat penjahat tadi
berusaha mendekati. Namun tanpa mereka duga sebelumnya, Lola dan Pusy melompat
dan berhasil melukai Ran, menjatuhkan pistol kecil dari geng gaman Vid.
Pistol itu ditangkap Pusy. Lalu dibawanya lari kencang,
diberikan kepada tuannya yang berhasil keluar de ngan selamat dari dalam mobil.
Setelah itu, Pusy membantu Lola ‘menumpas’ Ran dan Win.
Pistol yang hendak diletuskan Sang Bos, sukses dirampas Lola dengan cara
melompat sambil menjatuhkannya ke tanah.
“Bawa lari La,” kata Pusy. Dia lengah, berhasil ditangkap
Ran. Lalu dilemparnya ke bawah pohon.
Guuuup …
Bruuuk …
Ngeooong …
Pusy pingsan. Lola, setelah membawa lari pistol dan
diberikannya kepada Sang Nyonya, kembali mene mui Pusy. Dia tak ingin Pusy cedera. Dia sempat
melihat teman serumahnya itu ditangkap Ran. Namun setelah itu dia tak tahu
menahu lagi nasib Pusy selanjutnya.
Ngeooong …
Pusy belum juga sadar. Lola mendekatinya. Ia mencium-cium
mukanya Pusy. Belum juga ada tanda-tanda bakal siuman. Lola duduk sejenak.
Lepas itu dia menemui majikannya.
Mr Bram dan isteri berhasil melumpuhkan empat penjahat itu.
Mereka diikat di bodi sepeda motor, agar tak bisa melarikan diri.
Mpok Surti yang tahu dengan isyarat yang diberikan Lola,
berlari menemui Pusy yang masih tak sadar kan diri.
“Pusy …”
“Pusy …”
“Pusy …”
Pusy pun digendong. Setelah berada dalam gendongan Mpok
Surti, Pusy berangsur-angsur sadar kem bali.
Ngeooong …
Dibalas Lola dengan mengeong pula.
“Sini sama Nyonya ya sayang,” ucap Mrs Bram, dengan penuh
kasih sayang menggendong Lola yang keki melihat kelakuan Pusy yang
bermanja-manja dengan Mpok Surti.
XV
“PUSY …!” Lola mendekati
sebuah bak sampah besar di depan salah satu gedung perkantoran yang hari itu
tutup karena bertepatan dengan hari libur.
Ngeooong …
Lola menciun-cium jejak kaki Pusy. Dia tahu Pusy pasti ada
di sekitar bangunan megah itu. Cuma dima na, dia tak tahu persis karena hingga
kini belum diketemukan keberadaannya.
Ia beristirahat sebentar. Duduk manis dekat bak sampah. Dia
menoleh ke atas gedung. Megah nian. Tapi sepi. Tak seorang pun yang terlihat
mondar-mandir di depan gedung.
Sementara petugas keamanan gedung berjaga-jaga di dalam
gedung. Suasana di dalam jauh berbeda dengan di luar gedung. Selain lantainya
berkarpet warna-warni, suhu di dalam gedung sangat sejuk ka rena ada pendingin
ruangan.
Dari dalam gedung kita bisa menyaksikan keadaan di luar.
Orang lalu-lalang, kendaraan roda dua dan empat parkir berbaris serta aktivitas
petugas parkir yang mengatur keluar masuk ruangan gedung ber lantai tiga puluh
tujuh itu.
Petugas keamanan juga bisa leluasa menyaksikan Lola dari dalam gedung. Mereka
yang jumlahnya lebih dari tiga orang itu tampak senyum-senyum saja. Namanya
juga hewan kucing, mereka tak pula hiraukan. Anjing pun yang acapkali mampir di
bak sampah, mereka biarkan sepanjang itu tidak mengganggu ke amanan dan
kenyamanan mereka yang beraktivitas dan
keluar masuk gedung.
Guk … guk .. guk …
Seekor anjing besar mendekati gedung dimana Lola
beristirahat disitu. Berjalan lambat. Sambil menci um-cium tanah dan mendekati
kotoran yang terserak di sepanjang parit, si anjing betina itu menghen tikan
langkahnya ketika melihat Lola.
Lola yang semula santai berpikir bagaimana menemukan Pusy,
tersentak kaget. Dia tahu, dari tatapan matanya, si anjing bakal mengusik ketenangannya.
Guk … guk … guk …
Benar saja. Si anjing menyalak. Menjulur-julurkan lidahnya
hendak menggigit Lola. Dengan cekatan Lola melompat ke atas bak. Dikejar
anjing. Karena terlalu bernafsu melompat, Lola tak dapat. Si anjing malah masuk
ke dalam parit dekat bak sampah.
Hitam semua badannya. Kena air parit berwarna hitam. Saat
itulah, Pusy keluar dari persembunyiannya, menyelinap ke bak sampah, lalu berlari
kencang menyusul Lola.
Ngeooong …
“Lolaaa … Tungguuu!”
Teriakan Pusy menghentikan langkah kaki Lola. Dia menoleh ke
belakang. Dia sangat gembira dan berm aksud mendekati teman sepermainannya itu.
Tapi hal itu ia urungkan karena di belakang Pusy, si anjing tadi mengejarnya
dengan berlari sangat kencang .
“Di belakangmu Pusy …” Teriak Lola. Kasihan dan merasa
kuatir dengan keselamatan Pusy. Andaikata dia berhasil dikejar si anjing,
tentulah babak belur dan jadi bulan-bulanan anjing karena kena gigitan dengan
badan yang jauh lebih besar.
“Cepaaat …!” Sambil berteriak Lola mempercepat larinya.
Namun secepat-cepat ia berlari, masih kalah cepat dengan larinya anjing. Ia
merasakan itu. Makanya dia berharap Pusy bisa menempuh jalan pintas yang lebih
kecil yang memungkinkan si anjing tidak leluasa lagi mengejar mereka.
Sreeeeet …
Pusy mengerem. Lalu belok kanan. Memasuki sebuah lorong
kecil yang diapit perumahan warga di ka nan kirinya. Dia terus berlari. Begitu juga dengan anjing yang harus bersusah
payah mengejar Pusy ka rena sempitnya gang kecil itu.
Ke mana Lola?
Dia juga belok kanan. Memasuki gang sempit hanya seukuran
orang berbadan kurus. Dia terus berlari sampai ke ujung gang. Di sini ada jalan
tanah yang bisa dilalui kendaraan roda dua.
Lola memperlambat larinya. Kemudian dia memutuskan
untuk berjalan saja sambil menunggu
Pusy. Sekitar lima menit dia sampai ke mulut gang dimana Pusy berlari
menyelamatkan diri.
Ngeooong …
“Pusy!”
Teriakan Lola ini menambah semangat Pusy untuk lebih
mempercepat larinya. Tak hiraukan batu kerikil di depan, ia mempercepat
larinya, sampai akhirnya bersua Lola dari dekat.
“Cepat Pusy.”
Lola memutuskan untuk
menaiki sampan yang ditambatkan di dekat tiang pinggiran sungai kecil. Tak ada
orang di sana, keduanya leluasa melepaskan tali tambatan.
Sampan melaju pelan ke tengah. Tak lama kemudian si anjing
tiba di mulut gang dengan nafas turun naik amat kencang.
Guk .. guk .. guk …
Uuuukh .. uuuukh .. uuuuukh …
Si anjing berubah murka. Dia berlari turun ke pinggiran
sungai. Dia hanya berlari mondar-mandir di tepi an sungai. Tak bisa mengejar
Pusy dan Lola. Karena tidak ada lagi sampan selain sampan yang dinaiki sepasang
kucing piaraan Mr Bram.
“Kasihan deh lu,” ucap Pusy, lega melihat anjing bengon
sendiri , tak tahu hendak kemana dia mengejar seterunya itu.
He he he he …
Lola ketawa lebar.
“Tunggu aja disitu, Jing.” Pekik Lola. Dia berharap si
anjing tak bisa lagi mengejar mereka.
Ternyata si anjing nekat juga. Dia memutuskan berenang ke
dalam air. Karena belum begitu jauh ke tengah sungai, masih ada harapan
terkejar.
Pek .. pek …
Krepek .. krepek …
Anjing terus berenang. Sedangkan Lola dan Pusy mulai
ketar-ketir. Tak sebanding dengan lajunya sam pan. Sebab, kekuatan mereka
berdua mengayuh terbatas sementara si anjing jauh lebih cepat.
“Gimana nih Pus?” Lola mulai ketakutan.
“Tenang sayang,” kata Pusy menenangkan hati Lola yang mulai
tidak tenang. Padahal dia sendiri justru tidak tenang karena masih bingung apa
yang harus diperbuat.
“Kamu punya ide Lol?”
Lola berpikir sebentar …
“Kita pentung saja dia dengan pengayuh ini,” bisik Lola.
Yakin dengan hanya sekali pentung kepala anjing langsung pusing dan pingsan
dalam air.
Bisakah?
Bisa memang. Sampai
tiga kali pentung, tentu tak sekuat pentungan yang dilakukan manusia, tidak begi
tu dirasakan oleh anjing. Dia terus mendekat.
Huuup …
Tangannya mulai menyentuh pinggiran sebelah kanan sampan.
Sampan miring ke kiri, Pusy tak tinggal diam. Dia menggigit tangan anjing,
mengaduh kesakitan.
Guuuuk …
Lola berhasil mencakar kepala anjing yang mulai menyentuh
pinggiran sampan. Entah kenapa, si anjing tiba-tiba menghilang.
“Awas Pusy …!” Lola mengingatkan karena bukan tidak mungkin
anjing masih hidup dan bersembunyi di bawah sampan.
Byuuur …
Guuuk …
Kepala anjing nongol dari permukaan air sungai. Lola panik.
Lalu terjatuh ke dalam air. Dikejar anjing, namun keburu ditarik Pusy tangan
Lola, sehingga sudah berada di atas sampan lagi.
“Auuuw Pusy!”
Lola menjerit kesakitan setelah ekornya dipegang anjing.
Masih melilit di ‘bibir’ sampan, Pusy memban tunya dengan mementung kepala
anjing dengan pengayuh. Tidak keras memang. Tapi ekornya Lola ter lepas dari
cengkraman si anjing.
“Cepat kayuh Pus!”
“Di depan aku,” kata Pusy. Jangan terlalu pinggir karena
akan dengan mudah anjing mencederai kita, nasehat Pusy.
Sampan terus ke tengah. Keduanya tak lagi menengok ke
belakang. Lurus ke depan. Ingin secepatnya sampai di seberang.
“Sepertinya ada orang di sana,” kata Lola merasa senang.
Jika mereka selamat sampai seberang pastilah anjing bakal takut mengganggu
mereka lagi.
Guuuuk …
Entah dengan cara apa, si anjing sudah berada di atas
sampan. Pusy dan Lola segera terjun ke dalam air. Anjing hanya bisa melongo.
Dia tidak mengejarnya karena sudah menggigil kedinginan lantaran terlalu lama
di dalam air.
Guk … guk .. guk …
Gantian anjing yang mengayuh sampan. Menyusul dan berhasil
mendekati Pusy dan Lola yang terus be renang. Badan mulai kedinginan, nafas
mulai berat dihela.
“Sudahlah .. menyerah sajalah.” Bujuk si anjing ketawa
mengejek.
“Sorry ya,” jawab Lola cemberut.
“Ayolah sayang. Kalau kamu mati gimana dong?” Goda anjing
dengan suara mendesah merayu.
“Dikubur dong Jing.”
“Dimana?”
“Dimana saja,” kata Lola mulai kesal. Ingin rasanya dia
melompat naik ke atas sampan itu. Tapi melihat Pusy jauh darinya, berisiko besar. Anjing akan dengan mudah
menjinakkannya.
Akhirnya Lola memutuskan mengejar Pusy. Anjing kecewa berat.
Bukan soal tangkap menangkap, tapi Lo la sudah meremehkannya. Perasaannya
meradang. Dia ingin melumat habis Pusy. Karena menurutnya Lola lebih tertarik
pada Pusy ketimbang dirinya.
Guuuk … guk .. guk ..
Tanpa terasa sudah hampir mendekati daratan seberang sungai.
Lola dan Pusy mempercepat renang mereka agar bisa dilihat sekumpulan anak-anak
yang sedang mandi di tepian sungai.
“Mad. Lihat!” Tunjuk seorang anak berkepala gepeng pada
rekannya.
“Kucing?” Ahmad seolah tak percaya. Ramai-ramai mereka
berenang, mengamankan Lola dan Pusy dari kejarang seeekor anjing.
“Cepat sedikit!” Teriak anak bertelinga lebar.
Mereka sepakat, setelah menyelamatkan Pusy dan Lola,
kemudian melepaskannya, dan membiarkan anjing menggigil kedinginan di atas
sampan yang terbalik.
Sampan itu sengaja mereka balikkan. Kemudian memberi
kesempatan pada anjing untuk naik. Lalu sam pan itu dihanyutkan ke tengah
sungai.
Guk … guk … guk …
Guk .. guk .. guk …
“Sy, coba kau tengok anjing itu,” bisik Lola seraya
menghadapkan mukanya ke tengah sungai. Anjing du duk lemas di atas sampan yang
terbalik. Dibawa hanyut air sungai yang mulai pasang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar