Novel ...
Ya Sabbit ... (1)
Oleh Wak Amin
Oleh Wak Amin
1
"KEJAR aku Mas Muhsin ...!" Teriak Nona Sabrina ketika berlari-lari di bibir pantai sore hari yang ceria.
"KEJAR aku Mas Muhsin ...!" Teriak Nona Sabrina ketika berlari-lari di bibir pantai sore hari yang ceria.
Muhsin yang berjarak tiga meter di belakang Nona Sabrina coba mengejar. Sayang, sebelum kedua kaki bergerak, dia terjatuh.
Bruuuug ....
Dreeeesh ...
Nona Sabrina berhenti sejenak. Dia menoleh ke belakang dengan harapan Muhsin mengejarnya, agar bisa berdua berlari di tepian pantai.
"Mas Muhsin?!"
Nona Sabrina berlari lagi. Tapi bukan ke depan. Malah ke belakang. Dia mendekati Muhsin yang masih duduk bersila sambil meringis kesakitan.
"Enggak apa-apa kan Mas Muhsin?" Nona Sabrina ikut duduk bersila. Dia pegang tangan dan pundak Muhsin.
"Enggak apa-apa aku Mbak. Malu aku jadinya ..."
"Malu kenapa Mas?"
"Diperlakukan seperti anak kecil saja," kata Muhsin. Dia mencoba berdiri, ternyata bisa.
"Benar enggak apa-apa Mas?"
"Benar enggak apa-apa Mbak .."
Nona Sabrina akhirnya memilih jet sky. Tapi Muhsin lebih suka naik sampan saja. Lebih enak dan nyaman. Bisa ngobrol berdua sambil mendayung dan bersenandung.
Nona Sabrina mengalah. Dia se tuju menyewa sampan saja. Apa lagi pengunjung pantai lebih ba nyak memilih sampan ketimbang motor cepat. Tidak ke tengah, pinggir lautan. Sampan boleh dikayuh sendiri, orang lain atau empunya sampan yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.
Selain sampan, pengunjung juga bisa menyewa perahu bermesin. Ingin lebih menantang bisa coba menyelam ke dasar laut, atau ber main paralayang, menunggang kuda dan bersepeda.
Pengunjung mau tumpah ruah di pantai sore hari, terutama pada hari libur, karena mengharapkan bisa menyaksikan sunset dengan mata telanjang. Jelang Magrib, fenomena indah ini sangat ditung gu kemunculannya walau hanya berlangsung beberapa menit.
Byuuur ...
Seeear ...
Yeeeer ....
Sampan dikayuh lamban.
"Mbak ..." Sapa Muhsin memecah keheningan. Sedari tadi Nona Sabrina hanya diam. Bukan ngambek dan tak enak badan.
Nona Sabrina justru terkesan dengan panorama indah di sepanjang bibir pantai.
"Mas Muhsin ..."
"Ya Mbak ..."
"Indah sekali pemandangannya ya Mas ," puji Nona Sabrina. Air laut yang jernih, pengunjung yang ramai, pasir serba putih ditingkahi burung camar terbang kesana kemari.
"Allah memang Maha Besar," ucap Muhsin yang tak henti-hen tinya mengucap 'subhanallah.'
"Mas Muhsin. Boleh aku meminta sesuatu kepada Mas sekarang?" Sampan berbalik arah lagi. Gantian Nona Sabrina di tengah sementara Muhsin mendayung dari belakang.
"Boleh Mbak ..."
"Mulai detik ini jangan panggil Mbak lagi ya ..."
"Lho .. kenapa Mbak? Mbak Sabrina masih marah ya sama saya?"
Nona Sabrina tertawa geli.
"Mbak ..."
"Maksudku Mas, tak enaklah aku dipanggil Mbak. Cukup panggil nama sajalah. Sab ... ri ... na."
Gantian Muhsin yang ketawa geli.
"Mas Muhsin?"
"Lucu ya Mbak ... Eeeh salah ... Sabrina."
2
KRIIING ...
KRIIING ...
Kriiiing ..
Kriiiing ...
"Hallo ..."
"Mas Muhsin ya?!"
"Betul Mr Clean. Nona Sabrina ada. Kita kebetulan lagi di pantai," kata Muhsin, bergegas mendekati Sabrina yang asyik berbincang-bincang dengan seorang perempuan tua bersama cucunya menunggu sunset tiba.
"Sab. Ada telepon dari Mr Clean."
"Makasih ya Mas. Nek. Saya permisi dulu." Si nenek tampak senang diajak ngobrol oleh Nona Sabrina.
Sejak tiba di pantai, menggelar tikar bersama pengunjung yang lain, Sang Nenek lebih banyak diam dan asyik menyaksikan keriuhan suasana pantai serta gulungan ombak yang tidak terlalu besar sore hari ini.
"Bulan madu ya?" Ledek Mr Clean sembari mempersilakan rekannya di Graha Police untuk masuk ke ruangan kerjanya.
"Huuusssy ... Mr Clean gitu ah. Kawin aja belum," ucap Nona Sabrina yang merasa tak enak hati diledeki Mr Clean.
Dia merasa sudah menomor-duakan tugas kesehariannya sebagai polisi wanita.
"Kalau mau akan, jangan lupa undang ya." Mr Clean tertawa terpingkal-pingkal. Membuat temannya yang duduk berhadapan dengannya kaget. Tak biasanya Mr Clean ketawa lebar seperti itu.
"Nona Sabrina sama pacar," bisik Mr Clean.
"Oooo ..." komentar si teman, baru tahu. Wajar jika Mr Clean ngakak. Lucu dan romantis.
"Cepat ke kantor ya. Ada tugas baru buat kita," ujar Mr Clean.
Tugas baru itu adalah menangkap seorang pria yang secara sadis te lah membunuh isterinya dengan cara memutilasi.
Tak mudah memang untuk menangkapnya. Selain lihai dan licin kayak belut, si lelaki ternyata penjahat kambuhan. Sudah terbiasa mencuri, merampok, memeras dan menodong.
"Namanya Mamat. Letnan minta kita untuk secepatnya menangkap ini penjahat. Berbahaya," kata Mr Clean, berharap Nona Sabrina segera ke kantor dan melupakan sejenak momen sunset.
"Siap Mister ..."
"Terima kasih Nona Sabrina. Saya tunggu kedatangannya di kantor mulai dari sekarang ..."
Muhsin tak keberatan. Menurut dia, tugas sebagai polisi tetap harus diutamakan.
"Maaf ya Mas," kata Nona Sabrina. Selain Muhsin, dia juga sudah lama menantikan momen melihat matahari terbenam. Dulu pernah sebenarnya. Sudah lama sekali. Saat masih kecil dulu.
"Besok-besokkan bisa Sab. Pantai kan enggak bakalan lari. Dia tetap di sini menunggu kita. Betul kan?"
"Enggak tahu ya Mas."
"Lho, bisa enggak tahu Sab?"
"Maksudnya," ujar Nona Sabrina setelah menghidupkan mesin mobil, "Belum tau kapan bisa kesini lagi."
"Ya udah. Mas aja yang nyetir. Enggak keberatan kan?"
"Enggaklah .. Malah senang," kata Nona Sabrina terus terang.
3
"BOS ... Ada polisi di luar," bisik Slamet pada Mamat, Sang Bos, di kediamannya.
"BOS ... Ada polisi di luar," bisik Slamet pada Mamat, Sang Bos, di kediamannya.
Di luar, Nona Sabrina dan Mr Clean baru saja datang. Setelah mendapat penjelasan dari rekannya yang bertugas di Graha Police, bahwa Mamat, incaran mereka ada di dalam rumah, mereka segera beraksi.
Mulanya sama-sama ke depan pintu gerbang. Namun, setelah berhasil menyelinap masuk, ke duanya berpencar. Nona Sabrina masuk lewat pintu depan, Mr Clean dari pintu belakang.
"Tembak saja kalau ketemu mereka," perintah Bos Mamat, memberi masing-masing senjata kecil pada tiga anak buahnya, Slamet, Jono dan Iteng.
"Siap Bos," kata ketiganya serempak.
Sreeet ...
Kletek ...
Menggunakan alat pembuka kun ci, Nona Sabrina dan Mr Clean hampir bersamaan masuk. Sementara Bos Mamat, sambil mengendap-ngendap menuju garasi mobil di samping kanan rumah.
Sementara Bos Mamat memerin tahkan tiga anak buahnya menga wasi pintu depan dan belakang.
Treeeeeng ..
Slamet kesenggol kaleng dekat kamar tengah. Mengejutkan Nona Sabrina dan Mr Clean. Keduanya tidak mendekat, tapi menyamping. Menunggu reaksi Slamet berikutnya.
"Hati-hati Met. Mereka pasti ada di sekitar sini," bisik Jono. Iteng yang berada di pintu depan, melepaskan tembakan ke arah Nona Sabrina yang kepergok sedang memasukkan peluru ke pistol miliknya.
Tembakan meleset karena Nona Sabrina menunduk dan bersembunyi di balik lemari pembatas ruangan.
"Kamu tak apa-apa Sabrina?" Tanya Mr Clean. Dia kuatir, Sabrina terkena tembakan barusan. Pasalnya, tembakan itu datang tiba-tiba.
"Tidak Mr Clean." Awas Mister, "Salah seorang dari mereka me nuju pintu belakang." Nona Sabri na memperingatkan lewat telepon seluler.
"Oke ..."
Dooor ...
Doooor ...
Doooor ...
Tiga kali terdengar tembakan, Slamet tewas seketika. Peluru yang keluar dari muncung senjata Mr Clean tepat mengenai kepala anak buah kesayangan Bos Mamat.
Melihat Slamet tewas, Jono dan Iteng panik. Saat bersamaan, Bos Mamat menghidupkan mesin mobil. Dua anak buahnya berlari ke pintu depan, menyusul Sang Bos yang sudah berada di depan pintu gerbang bersama mobil pribadinya, Panther King.
Doooor ...
Dooooor ...
Doooor ...
Saling melepaskan tembakan. Dari samping kiri, Mr Clean sampai harus koprol agar tembakan yang dia lepaskan mengenai sasaran. Sayang, hanya mengenai kaca mobil samping.
Demikian pula Nona Sabrina. Selain koprol, dia sempat menjatuhkan diri ke dekat pot bunga guna menghindari berondongan tembakan dari segala arah itu.
Tak ada yang terkena hingga mo bil melaju keluar dari pintu ger bang. Merasa tak terdengar lagi suara tembakan, Nona Sabrina yang sempat diteriaki Mr Clean agar tak mengejar mobil, justru berlari kencang sambil mele paskan tembakan.
Ketika hampir mendekati pintu be lakang, terdengar suara letusan kecil. Peluru yang dilesakkan Jo no berhasil menembus kaca mobil belakang, mengarah tepat ke paha kanan Nona Sabrina.
Jatuh tersungkur ...
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar