Novel ...
Bedeng Seng (7)
Oleh Wak Amin
Oleh Wak Amin
19
"PERGI kau .... Pergi kau jahanam. Cepat pergi. Cepaaat ..!" Teriak Mahmud saat ketiduran di markas Geng Mawar.
"PERGI kau .... Pergi kau jahanam. Cepat pergi. Cepaaat ..!" Teriak Mahmud saat ketiduran di markas Geng Mawar.
Dia baru saja berkeliling melihat anak buahnya yang masih tersisa. Dia meminta mereka tetap bekerja seperti biasa, kendati Bos Steven sudah tiada.
Semenjak Bos Steven tewas, tampuk pimpinan Geng Mawar diambil alih Mahmud. Setiap hari, dari pagi sampai malam dia mengontrol kinerja anak buahnya. Karena kecapekan, sore ini dia ketiduran dan bermimpi buruk.
"Bos mimpi ya?" Ucap salah seorang anak buahnya untuk menenangkan hati Sang Bos.
"Cepat ambilkan minum," perintah Mahmud. Dengan minum hati dan pikiran jadi tenang.
"Siapa boneka itu?" Mahmud bertanya dalam hati. Dia turun dari atas tempat tidur. Mendekat ke jendela.
"Hampir Magrib," bisiknya dalam hati.
Tak lama kemudian, si anak buah datang membawa segelas air putih. Tak tanggung-tanggung, gelasnya gede, tiga kali ukuran gelas biasa.
"Biar puas Bos."
"Ya kalau habis. Kalau enggak, kamu yang ngehabisinya ya."
"Siap Bos .."
Glek geek ..
Gleeek geeek ...
"Habis Bos. Tambah lagi ya?"
"Cukup. Tolong ambilkan kunci mobil. Saya mau pergi."
"Baik Bos."
Kemana Bos Mahmud pergi?
Seperti biasa, di tengah kesibukannya dia menyempatkan diri pulang ke rumah. Kali ini dia pulang sendirian. Biasanya ditemani anak buahnya.
Mobil melaju tidak terlalu cepat. Keluar dari lorong menuju pusat kota. Karena macet di pertigaan lampu merah, hari sudah malam. Magrib baru saja berlalu.
Lepas Magrib lalu lintas kembali ramai. Karena secara bersamaan jam pulang kerja orang kantoran.
Tak heran di sepanjang jalan, meski tidak sampai merayap, kendaraan roda dua dan empat harus antri untuk melaju.
Tak heran di sepanjang jalan, meski tidak sampai merayap, kendaraan roda dua dan empat harus antri untuk melaju.
Memasuki jalan yang relatif sepi di pinggiran kota, Mahmud menerima telepon dari seseorang, entah siapa.
Dia tak kenal orang itu. Tapi, karena ingin mengajak kerjasama mengelola parkiran di sekitar pasar, dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Di kawasan areal persawahan inilah Mahmud asyik mengobrol. Tanpa dia sadari, dari tempat duduk paling belakang, keluar sebuah boneka yang bisa berjalan. Dia memegang sebilah pisau.
Lambat memang. Namun, karena keasyikan telepon-teleponan, Mahmud tak pula tahu jika di belakangnya sudah mendekat sebuah boneka. Boneka itu memandang tajam ke punggungnya.
Saat ketawa ngakak ...
Craaaash ...
Cruuuut ...
Creeeet ..
Sebanyak tiga kali pisau belati itu menghujam ke punggungnya Mahmud. Setelah jatuh tersung kur, saat terlentang, si boneka dengan beringasnya merobek-robek perut dan dada laki-laki berkulit sawo matang itu.
Mahmud tewas seketika tanpa bisa menjerit lagi.
20
MENDENGAR kabar Bos mereka tewas dibunuh, anggota kelompok Geng Mawar geger. Ada yang panik, bersikap biasa saja. Juga ada yang marah dan siap membalaskan dendam.
MENDENGAR kabar Bos mereka tewas dibunuh, anggota kelompok Geng Mawar geger. Ada yang panik, bersikap biasa saja. Juga ada yang marah dan siap membalaskan dendam.
Anehnya, setelah tahu pembunuh sebenarnya Bos Mahmud bukan manusia, hanya sebuah boneka, anggota Geng Mawar tidak serta merta bereaksi. Mereka tampak ragu untuk mengambil tindakan.
Masih banyak yang harus diper timbangkan, di antaranya alasan si boneka menghabisi nyawa Mah mud. Bukankah boneka hanya benda mati. Dia tidak bernyawa. Tidak bisa melakukan aktivitas apapun kecuali ada yang mengendalikannya.
Lantas, siapa pengendalinya?
"Pastilah orang hebat," kata Yusuf setelah diberitahu salah seorang temannya ketika membesuknya di ruang tahanan Graha Police.
"Maksudmu dukun begitu?" Tanya Yunus. Pasalnya, dia kaget dengan ucapan Yusuf yang menyebut-nyebut orang hebat.
"Semacam itulah. Ini menurutku, " ujar Yusuf.
"Kamu sendiri Kub, apa pendapatmu?"
"Aku sependapatlah. Tapi bukan dukun. Orang pintar lah. Orang yang berilmu tinggi. Punya kemampuan mengarahkan dan mengendalikan orang maupun benda dari jarak jauh, " jelas Yakub.
"Tapi kalau boleh kutahu, untuk apa boneka itu membunuh Bos kita?" Yunus menduga boneka itu miliknya Muhsin.
"Pria yang kita culik tempo hari," terang Yunus.
"Dari mana kau tahu Nus?" Yusuf belum percaya boneka itu miliknya Muhsin.
"Laaa .. Kotak yang dibawa Muhsin tempo hari itu, isinya boneka ...." Sambung Yunus.
"Kau tengok?"
Yunus menggelengkan kepala. Dia memang belum melihat bentuk rupa si boneka. Tapi dari kabar yang beredar, boneka itu ada di dalam kotak yang dibawa Muhsin saat dikeroyok Geng Mawar tempo hari.
Yusuf yang semula tak percaya, lama kelamaan percaya juga. "Masuk akal juga," ucapnya dalam hati.
Sementara Yakub lebih memilih diam dan mengikut saja. "Yang penting mulai saat ini aku harus jaga diri," katanya berbisik pada diri sendiri.
"Selesai. Kita sudah tahu semuanya. Sekarang bagaimana dengan kita?" Yunus merasa bukan tidak mungkin dia bersama Yusuf dan Yakub jadi sasaran pembunuhan berikutnya si boneka.
"Alasan lu?" Tanya Yakub yang mulai merinding bulu kuduknya. Apalagi sebentar lagi beranjak tengah malam.
"Itu kotak masih disimpan di Graha Police ini," terang Yunus.
Haaaa ...?
"Be .. benarkah itu Nus? Atau kau cuma menakut-nakuti aku sama Yusuf saja?"
Yunus menggelengkan kepalanya.
"Benar kawan. Kabarnya kotak berisi boneka itu masih ada di Graha Police ini ..."
Ketiganya, karena merasa takut, saling berpelukan.
21
"KAMU langsung pulang Mas Muhsin?" Tanya Nona Sabrina ketika mobil yang ia sopiri melesat lambat meninggalkan Graha Police.
"KAMU langsung pulang Mas Muhsin?" Tanya Nona Sabrina ketika mobil yang ia sopiri melesat lambat meninggalkan Graha Police.
"Iya Mbak," jawab Muhsin sejujurnya.
"Mau tidak kalau saya traktir minum Mas?"
"Maulah Mbak," jawab Muhsin sambil tersenyum.
"Enaknya minum dimana ya Mas?" Pancing Nona Sabrina mengalihkan perhatian Muhsin yang tampak bengong lantaran boneka antarannya belum juga diantar ke pemiliknya.
"Di tempat mana saja saya mau Mbak."
"Yang benar?"
Muhsin mengangguk.
Keduanya berubah diam ketika mobil berhenti di lampu merah perempatan. Lalu lintas ramai. Banyak yang dilihat. Mulai dari pedagang koran, asongan, orang yang menunggu opelet di pinggir jalan, hingga penyeberang jalan dan tukang ojek.
Keduanya baru bicara lagi ketika mobil berhenti di sebuah kafe tak jauh dari tugu kota. Kafe sederhana ini buka mulai pukul delapan pagi hingga sepuluh malam. Pengunjungnya rata-rata muda usia. Hanya sedikit mereka yang berusia sepuh.
Selain kopi, teh dan es, Kafe Mitra ini juga menyediakan aneka makanan dan minuman mulai dari mie segala rasa hingga gado-gado dan pizza.
"Mie ya Mas Muhsin. Pasti mau kan?"
Muhsin mengiyakan.
"Kopi atau teh Mas?"
"Dua-duanya boleh Mbak," jawab Muhsin agak tak enak hati. Karena selama dia makan dan minum di luar rumah, baru kali ini dibayari cewek. Cantik pula.
"Mbak."
"Ya Mas."
Muhsin lalu mengutarakannya. Sebab, apa yang membuatnya ragu ini, bagi sebagian orang bisa jadi bahan tertawaan.
"Mas Muhsin mau bilang apa ke saya?"
"Eeeeem ..."
"Katakan saja mumpung kita masih di kafe ini," kata Nona Sabrina. Ikut membantu pelayan kafe meletakkan pesanan di atas meja, kepunyaan dia dan Muhsin.
"Mbak enggak tersinggung kan?'
"Memangnya Mas Muhsin mau bilang apa ke saya?"
"Anuuuu ..."
Nona Sabrina tertawa. Dia menga jak Muhsin menyantap mie pesanan terlebih dulu. Satu dua sendoklah.
"Saya belum punya Mas," aku Nona Sabrina. Sesaat dia terbatuk. Hilang batuknya setelah minum air teh hangat.
"Mas Muhsin enggak percaya saya belum punya?"
Muhsin mengiyakan.
"Benar Mas. Tapi saya sih terbuka saja sama lelaki. Asal yang serius. Bukan main-main."
Muhsin berubah gugup.
"Mas Muhsin mau?"
"Mau apanya Mbak."
"Jadi pacarnya saya?"
Muhsin malu-malu.
"Enggak apa-apa kalau Mas Muhsin enggak mau .. Temenan aja boleh,' ujar Nona Sabrina. Meminta pelayan menambah satu mangkuk mie lagi.
Muhsin tiba-tiba berdiri. Nona Sabrina sedikit kaget.
"Siap Mbak." Muhsin berdiri tegap sambil memberi hormat.
"Mas ..."
"Jadi ...." Muhsin membisikkan sesuatu di telinga Nona Sabrina.
"Pacar Mbak."
"Pacar Mbak."
"Ah kamu Sin." Tepuk sayang dari Nona Sabrina.
"Sip Mbak."
"Ya udah. Duduklah lagi. Cepatlah makan dan minumnya. Setelah itu kita mampir dulu ke rumah pemilik boneka. Setelah itu baru mengantarmu pulang ke rumah ..."
"Siap Mbak ..."
TAMAT ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar