Kamis, 08 Juni 2017

Ya Sabbit (3)

Novel ...


Ya Sabbit (3)
Oleh Wak Amin


7
AKSI kejar mengejar terus berlangsung. Kali ini memasuki lorong menuju pemukiman warga. Mr Clean tampak geram melihat Jono mempermainkannya dengan berlari zig-zug, kemudian dengan lihainya melompat ke atas pagar kawat berduri.
"Kejar gue Pak Polisi," ejeknya. Setelah berhasil melompat  dari pagar, Jono belum juga berlari. Dia masih berdiri sambil menem pelkan mulutnya di pagar.
Guaaaar ....
Mr Clean memukul keras pagar kawat yang mulai berkarat itu. Meski mulutnya tak terkena pukulan, Jono terpental. Mukanya berubah pucat.
"Kampret nich orang. Kuat juga pukulannya. Tak nyangka gue," kata Jono dalam hati.
Belum selesai Mr Clean melewati pagar setinggi  dua meter itu, Jo no sudah menghilang. Mr Clean diam sejenak. Lalu bergerak ke kanan. Dia melewati tumpukan sampah dan kaleng bekas.
Klonteeeeng ...
Sambil menendang kaleng yang hampir mengenai muka Mr Clean, Jono berhasil kabur. Larinya kencang. Melewati tiang jemuran, bahkan sehelai celana dalam sempat nyangkut di mukanya.
Mr Clean bukan tak mau melepas kan tembakan peringatan. Tapi ke sempatan untul menembak itu memang tidak ada. Selain banyak warga yang lalu-lalang, jalan yang dilalui sangat sempit.
Jono berhenti sejenak di teras salah satu  rumah warga. Ada sebuah sepeda motor parkir di sana. Setang tidak terkunci dan dengan gampangnya Jono membawa pergi itu motor.
Reeeen ..
Reeen ...
Reeeen ..
Si empunya motor bergegas kelu ar. Melihat motornya dibawa lari orang, bapak satu anak itu berteriak.
Mendengar teriakan yang tak ter lalu nyaring itu, Jono terpaksa turun dari motor. Ada sebilah kayu.
Dengan sebilah kayu tak terlalu panjang itu, Jono hantamkan ke kepala pemilik motor. Jatuh pingsan dan dari kepalanya mengucur darah segar.
Reeeen ...
Ereerrng .... Creeeng ...
Motor melaju dengan cepat. Untuk menyusulnya, Mr Clean dengan berat hati meminjam motor warga. Dia susul Jono lewat jalan pintas sebelah kanan.
Aksi kejar-kejaran menggunakan sepeda motor jadi tontonan warga sekitar. Mereka tidak marah, apa
lagi sampai menggerutu dan menggelar aksi demo.
Warga malah senang. Karena bi sa menyaksikan adu kecepatan dan kelihaian bersepeda motor da ri jarak yang tidak terlalu dekat.
Menyusuri jalan terjal ke pema tang sawah, baik Jono maupun
Mr Clean mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk saling mengalahkan.
Jono misalnya. Mengangkat ban depan motor Candrasripo motor yang ia kemudikan sukses me lewati pagar pembatas sawah warga.
Sebaliknya Mr Clean mengenda rai motor miring ke kanan. Kare na melewati jalan persawahan yang menyerupai turap.


8
"HIYAAT ..."
"Auuuugh .."
Iteng berhasil menendang perut Letnan Salam. Jatuh terpental de ngan kepala membentur tanah. Meski tidak keras, pusing juga kepala Bosnya Mr Clean ini.
Kesempatan ini dimanfaatkan Iteng untuk melepaskan diri dari kejaran Letnan Salam.
"Kuat juga tuh orang. Tak nyangka aku, " kata Letnan Salam, bicara sendiri. Ia duduk sebentar. Lalu berdiri. Setelah merasa kuat, dia kejar Iteng dengan berlari kencang.
Sampai di ujung sebuah bangunan bertingkat, Letnan Salam kehilangan jejak.
"Busyeeet ... Pintar juga tuh orang."
Dia mengintip dari luar gedung dengan cara berkeliling ke bagian belakang. Mungkin saja Iteng sembunyi di sana. Selain ada tanaman bunga, di sebelah kirinya ada pondokan.
"Pak Polisi ..."
"Pak Polisi ..."
"Pak Polisi ..."
Iteng memperlihatkan pantatnya. Dia ejek Letnan Salam dengan kata-kata ...'Pak Polisi Bodoh ..'
Letnan Salam tersenyum saja mendengar ejekan Iteng. Kali ini tidak dengan berjalan kaki, tetapi menggunakan sepeda warga ya ng terparkir di halaman rumah.
Kendati hanya sepeda mini, luma yan kencang larinya. Iteng yang semula tak menduga Letnan Salam mengejarnya dengan bersepeda, kerepotan juga.
Dia melompat mendekat ke da nau. Lalu terjun dan berenang di air yang dingin dan jernih itu.
Karena terkejut, barisan bebek ya ng lagi mandi dan asyik menye lam serta berenang, pada lari ter birit-birit, bahkan ada di antaranya terbang rendah ke tepi danau.
Letnan Salam yang baru tiba di tepi danau, ikut terjun ke dalam danau.
Sepeda yang ia pakai barusan, di sandarkan di bawah batang pi sang. Dia bertekad untuk mengejar sampai dapat Iteng yang sudah lebih dulu tiba di ujung danau.
Ada pangkalan tempat mencuci. Iteng duduk sebentar. Sempat melihat Letnan Salam berenang. Dia berdiri dan berlari ke dekat sebuah rumah. Dia buka sepatunya. Dia tiriskan genangan air dalam sepatu. Lalu dia pakai lagi.
Letnan Salam baru naik ke te pi an danau, Iteng sudah berada di jalan besar. Dia masih berdiri. Dia sengaja menunggu Letnan Salam. Syukur-syukur bisa melihatnya, dan seperti tadi, dia akan mengejeknya .
Sayang niatnya itu tak kesam pa ian. Ketika hendak menyeberang jalan, Iteng dilindas mobil truk bermuatan besar, tengah melaju kencang.
Tewas seketika. Kepala pecah sementara otaknya berceceran ke jalan. Pengendara roda dua dan empat banyak yang berhenti. Me reka penasaran dan ingin melihat dari dekat apa yang terjadi ...


9
SUSUL menyusul terus terjadi antara Mr Clean dan Jono. Saling serempet di pematang sawah, berlanjut di jalan tanah menuju  perkampungan warga, menjadi tontonan warga yang bersepeda membawa hasil-hasil pertanian seperti padi, sayur-sayuran dan buah-buahan.
Mereka tidak menyangka adegan kejar-kejaran itu hampir mirip de ngan film-film di layar televisi ya ng seringkali mereka saksikan.
Bedanya, di televisi diselingi ade gan kekerasan dan  tembak-tem bakan sementara antara Mr Clean dan Jono tidak sama sekali.
Meski terkesima dengan adegan yang baru pertama kali mereka saksikan itu, warga tak betah berlama-lama. Mereka memu tuskan untuk melanjutkan perja lanan pulang ke kediaman masing-masing.
Karena barang yang mereka bawa menggunakan dua sampai tiga sangkek besar itu dirapikan terle bih dahulu sebelum dijual di kalangan beberapa hari mendatang.
Jegaaaar ...
Traaang ...
Deeep ... Deeeep ...
Jono terjatuh dari motor saat hendak berbelok ke jalan raya besar. Dia berguling-gulingan di tanah sebelum nyemplung ke dalam air rawa. Basah kuyup pakaiannya.
Sementara itu, jarena terlalu ber nafsu ingin menangkap Jono, Mr Clean hilang ke seimbangan. Dia terjatuh. Lalu bangun dan menge jar Jono yang berenang tak terlalu cepat di permukaan air rawa.
Byuur ...
Mr Clean 'nyerucup'. Saat muncul lagi ke permukaan tersangkut ta naman rawa. Dia menyelam lagi untuk kedua kalinya. Sayang, ke tika sudah berada di tepi rawa, dia sudah tak melihat Jono lagi.
Kemana dia?
Jono rupanya bersembunyi di atas pohon kelapa yang rimbun buahnya. Dia tersenyum geli melihat pakaian Mr Clean penuh dengan tanaman rawa, seperti keladi dan enceng gondok. Ber tambah geli ketika melihatnya bersandar di batang pohon kelapa.
Dia membuka bajunya, kemudian celananya secara bergantian. Dia peras sampai tak ada lagi air yang mengalir dari pakaian luarnya itu.
Setelah kering dia kenakan lagi celana dan bajunya. Bersiap untuk mencari ke mana perginya Jono.
Tiba-tiba ...
Celeduk ..
Pak ...
Duuuug .
"Aduh ..."
Tiga buah kelapa mengenai kepala Mr Clean. Kepalanya pusing dan matanya berkunang- kunang. Tak lama setelah itu ia jatuh tergeletak dan tak sadarkan diri.
Kesempatan ini dimanfaatkan Jono untuk turun. Sesampainya di bawah, dia belum melangkah pergi. Dia masih berdiri melihat Mr Clean pingsan.
"Rasain lu Pak Polisi. Masih mending tiga, elu sudah pingsan. Gimana kalau  buah kelapanya  gue turunin semua. Pasti mati lu Pak Polisi," ejek Jono, tertawa lega.
Ingin rasanya dia menghabisi Mr Clean dengan memukul bagian belakang  kepalanya  mengguna kan batok kelapa tua. Tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya.
"Kalau sampai mati dia, gimana coba?" Jono bertanya pada diri sendiri. "Bisa-bisa aku terus diburu ..."
"Tapi kalau dibiarkan hidup, aku tetap diburunya. Pasti. Setelah sadar dia akan tetap mencari aku. Kemana aku sembunyi akan dia cari ..."
Setelah ditimbang sana-sini, se belum pergi, buah kelapa yang ada di dekatnya, dia ambil. Lalu dijatuhkannya ke perut Mr Clean.
"Selamat tinggal Pak Polisi. Semoga kamu sadar bahwasanya mengejar aku akan membuatmu menanggung malu ..."
Ha ha ha ha ...
He he he he ...
Hi hi hi hi ...
Berjarak setengah kilometer dari tempat Mr Clean tergeletak tak sa darkan diri, Letnan Salam mulai mendekat.
Beberapa kali dia memanggil Mr Clean. Beberapa kali dia terpaksa menelepon koleganya itu. tapi tak diangkat-angkat juga.
Dia mulai cemas ....


Tobe continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar