Selasa, 12 Desember 2017

Lantak (9)

Novel ...



Lantak (9)
Oleh Wak Amin



20
"BAGAIMANA Clean?" Tanya Letnan Salam. Hampir dua jam mesin kapal belum juga mau hidup.

"Sebentar lagi. Mudah-mudahan oke, Let." Jawab Mr Clean. Semua kerusakan sudah dilihat dan diperbaiki semampunya bersama Mr Jodi.

"Pastikan Clean, biar saya yang pegang kemudi," kata Letnan Salam. Dia ditemani Miss Nancy dan Mrs Sabrina Muhsin.

Kapal belum juga melaju. Semen tara hujan mulai mereda. Air lautan kembali tenang dan ikan-ikan mulai mendekat ke kapal.

"Let ... Bagaimana?" Mrs Sabrina memberikan segelas air kopi susu, sedangkan Miss Nancy menaruh sepiring mie goreng campur telur mata sapi.

"Terima kasih semuanya," kata Letnan Salam. Senang hatinya dibikinkan mie goreng dan segelas air kopi manis.

"Let, apa tidak sebaiknya aku yang ambil alih kemudi?"

"Silakan Sab. Kebetulan saya mau menikmati dulu hidangan super lezat ini ..."

Sambil melahap nasi goreng, Sabrina dan Miss Nancy cerita semalam mereka didatangi sekelompok anak. Mereka sih tidak macam-macamlah. Tida mengganggu. Mereka hanya bermain riang gembira dengan sesekali tertawa lepas.

"Hebat juga kalian berdua ini. Dite mani anak-anak sementara kami bertiga, masuk kamar, langsung ngorok."

"Yang benar Let?"

"Bener?"

"Kapalnya jalan sendiri apa Let?"

"Ya enggaklah. Kita gantian. Satu ngemudiin kapal, dua ngorok. Atau sebaliknya. Satu ngorok, dua ngemudiin kapal."

"Enggak capek Let?"

"Enggaklah. Kami bertiga malah seneng. Enggak percaya, tanya langsung aja ke Mr Clean dan Mr Jodi."

"Males ah ..."

"Kenapa?"

"Suka becanda melulu, Let," ucap Mrs Sabrina. Gantian bersama Miss Nancy pegang kemudi.

Meski kapal tak jalan, karena kemudi kapal gede untuk menjalankan kapal harus diputar terlebih dahulu.

Lima menit kemudian ...

Mesin kapal menyala.

Sauh kapal diangkat. Pegang kemu di masih Mrs Sabrina dan Miss Nancy. Kapal belum juga melaju sampai Mr Clean dan Mr Jodi naik dari ruang mesin.

Seolah tak sadar, ketika Mr Jodi meminta tunggu beberapa saat lagi kapal melaju, Mrs Sabrina cemberut.

Hanya sebentar. Setelah bercembe rut ria, tertawa lepas. Katanya, dia cemberut untuk guyonan saja.

"Oke. Jalan ...!" Kata Mr Clean.

Mereka berlima kumpul di ruang kemudi. Kompas kapal sudah berfungsi kembali.

"Mr Clean ..."

"Ya Nancy. Ada apa?

" Boleh curhat enggak?"

"Boleh dong ...," seloroh Mr Jodi. "Buat apa kita berteman kalau tak boleh. Benar kan Clean?"

Mr Clean cuma tersenyum.

"Apa selama kita di kapal, kalian tak pernah diganggu ...?"

"Sama siapa?"

"Sama aku kan?" Sindir Mr Jodi. "Saya tahu dirilah Miss Nancy. Masa pacar teman diganggu. Itu namanya nyakiti hati teman."

Ha ha ha ha ...

"Makhluk tak kasat mata, Clean," kata Mrs Sabrina. Dia serahkan kemudi kapal ke Mr Jodi.

"Makhlus halus maksudnya?"

"Begitulah kira-kira Mr Clean," ujar Miss Nancy, lega melihat Letnan Salam puas menikmati hidangan yang tersaji barusan.

"Enggak Miss," jawab Mr Clean singkat.

"Apa mereka menyakiti kalian berdua? Maksudku, menakut-nakuti begitu?"

Mr Jodi hanya ingin memastikan apakah makhluk halus itu bermak sud baik atau tidak. Salah satunya dilihat dari perilaku mereka terhadap manusia.

"Sejauh ini tidak. Cuma, karena mereka itu beda, pastilah beda Jodi," terang Miss Nancy.

"Dari makan saja misalnya, kita tak pula tahu mereka makan apa ..."

"Makanya Nancy, kalau ketemu lagi sama mereka, tawarilah makan. Jadi mereka tahu kalau kita tak apa-apa kan mereka. Dan mereka juga tak apa-apa kan kita juga gitu loh." Mr Jodi memberikan solusi.

"Mudah-mudahan selamat kita sampai ke tempat semula," harap Jodi.

Tentu, harapan Ssbrina, Nancy dan Letnan Salam juga.



21

Bismilllahirrohmanirrohim ...

Ki Saleh menaruh telapak tangan nya di atas permukaan air, lalu se suatu yang luar biasa pun terjadi ...

Ceklap ...

Raaaasgh ...

Langit tiba-tiba terang, lalu yang terlihat kemudian ...

"Ya Tuhan, apa itu?" Kopral Paiman hanya berdiri mematung. Melihat makhluk beraneka rupa berjejer di sepanjang bibir lautan.

"Siapa mereka ini?" Tanya Kopral Jono. Penasaran. Karena sebelum ini dia tak pernah melihat makhluk 'seseram' itu.

"Mereka adalah makhluk penunggu lautan ini," jawab Ki Saleh sembari menjelaskan sangat sulit buat me ngusir mereka dari tempat ini. Kare na tempat seperti lautan adalah rumah tinggal yang nyaman bagi mereka.

"Apakah mereka makhluk halus Ki?" Kopral Anwar mendengar seringkali pelaut melihat penam pakan aneh di lautan. Yang paling mengerikan, banyak pelaut yang hilang.

"Tapi kita harus cepat bertindak Ki," kata Ki Saleh. "Mumpung mereka telah memberi kita jalan. Cepat!"

"Baik Ki."

Setelah memasuki pesawat, pesa wat pun melaju ke tengah lautan. Langit masih cerah. Hanya saja tak ada ombak. Sepintas suasananya hening.

Kemanakah ikan-ikan besar itu?

Kurang lebih satu kilometer, pesawat terbang rendah dan berhenti di tepian pantai kecil yang masih di selimuti hutan perawan.

Lepas itu mereka turun. Lalu Ki Saleh meminta waktu untuk melihat dengan mata batin dimana gerangan Kapten Budi dan tiga anak buahnya tewas tenggelam.

Hampir lima belas menit duduk bersila menghadap ke laut. Kopral Jono cs dengan sabar menunggu sampai selesainya Ki Saleh berzikir sambil memegang tasbih.

"Alhamdulillah," ucap Kopral Pai man setelah melihat Ki Saleh sudah berdiri dan menghampiri rekan-rekannya yang lain dengan raut muka ceria.

"Di sebelah sana Kopral Jono, insya Allah," kata Ki Saleh. Ke sebelah kiri, sedikit ke tengah.

"Mereka dan pesawatnya dipasti kan jatuh tenggelam di sana," lanjut Ki Saleh. Dia kemudian menanya kan apakah harus ditindaklanjuti dengan menyelam ke dalam air.

"Begitulah sebaiknya Ki Saleh. Kami siap terjun ke dalam air. Pesawatnya mungkin sedikit ke tengah agak sulit  sementara perahu motor tidak ada," ujar Kopral Daud.

"Apa tidak sebaiknya kita terbangkan dulu pesawat ini, lalu kalian terjun ke dalam air," saran Kopral Paiman.

"Bagus juga," kata Kopral Jono. Tidak ada cara lain yang bisa ditempuh selain naik pesawat.

"Kalau mau, pesawat bisa berhenti di tengah laut. Tapi kalau tidak, sistem jemput bisa juga. Pas mendekati sele sai, menyelam kira-kira se tengah jam, pesawat mendarat di atas permukaan air. Gimana?" Sambung Kopral Jono.

"Jangan kuatir. Nanti akan saya bantu anda dari pesawat," ujar Ki Saleh meyakinkan Kopral Anwar dan Kopral Daud agar tak perlu takut melakukan penyelaman.

"Hanya memastikan ada puing-puing pesawat, anda foto dan naik kembali ke darat. Tugas selesai," sahut Kopral Paiman.

"Kalau mereka tak usah pikirkan. Kita dikejar waktu. Dan juga pasti sudah habis dimakan ikan-ikan besar di lautan lepas ini," jelas Kopral Jono.

Perjalanan pun dimulai ....

Air lautan tenang. Kopral Anwar dan Kopral Daud dengan mudahnya melakukan penyelaman sampai ke dasar laut.

Memang ditemukan puing-puing pesawat yang menebar ke segala arah. Tapi sulit bagi keduanya untuk mende kat. Hanya sempat mengambil gambar dari jarak jauh dan dekat.

"Awas Kopral Daud!" Teriak Kopral Anwar. Seekor ikan hiu melintas dekat puing-puing pesawat. Tidak mendekat dan mengejar Kopral Daud yang tampak pasrah.

Ki Saleh terus berzikir. Dia mengawal sampai akhir proses perjalanan itu sampai bisa memastikan pesawat yang sudah tidak utuh lagi itu adalah pesawat yang digunakan Kapten Budi, Sersan Mulia, Sersan Prawira dan Darma.


22

"TANTE ... Tambah lagi dong Tante,"  kata seorang anak beralis tebal tapi cantik dengan rambut pirang dikuncit dua.

"Tunggu ya!" Mrs Sabrina menuju tempat memasak. Dia mengambil sepiring mie, kemudian dia berikan mie itu kepada si anak.

"Terima kasih Tante," ucapnya. Beberapa rekannya yang lain yang semula pelan mengunyah mie, mempercepat nya agar bisa nambah (bubuh) lagi.

Miss Nancy baru kembali dari ruang kemudi sambil membawa buah-buahan. Masih segar, walau sudah lama tersimpan dalam kulkas.

"Aku Tante ..."

"Aku juga Tante."

Enam teman si rambut pirang serempak mengangkat piring. Kemudian piring seng itu diambil satu oleh Miss Nancy, sambil berkata ...

"Tunggu ya!"

"Ya Tante .."

Hilang rasa takutnya Mrs Sabrina ketika dia melihat sekelompok anak yang acapkali dilihatnya lewat di depan kamar, tak menampakkan kesan seram dan menakutkan. Baik dari segi tampilan, perilaku maupun dari gelagat yang kurang mengenakkan.

Ingin rasanya Mrs Sabrina mengajak bicara, tapi terhalang setelah Miss Nancy membawa beberapa piring mie hangat.

"Ayo makan dulu. Kenapa bengong?"

"Tidak bengong Tante. Kami sengaja menunggu mie kami," ujar si pirang.

"Oh ya. Baguslah. Sekarang makan dulu sampai  habis ya," kata Miss Nancy dengan raut muka ceria.

"Tante kenapa naik kapal ini?" Tanya si pirang sambil menyuap sesendok mie, masuk ke dalam mulutnya.

"Tante mau pulang," jawab Miss Nancy.

"Rumah Tante dimana?"

"Jauh sekali," jawab Mrs Sabrina.

"Tante senang enggak berada di kapal ini?"

"Senanglah," kata Miss Nancy. "Kapalnya besar, enak dan nyaman lagi."

"Tante ... Tante ...!" Sahut si rambut panjang, "Main dong ke tempat kami."

"Memangnya tempat adik-adik dimana ya?" Tanya Sabrina.

"Nanti kami tunjukkan," jawab si pirang.

"Kami habiskan dulu mienya ya Tante ..." Kata si mata empat.

Lima menit kemudian, makan bersama mie ayam selesai, anak-anak belia yang sengaja diundang Miss Nancy dan Sabrina ini serentak berdiri. Bangkit dari tempat duduk mereka.

Si pirang mendekati  Sabrina, teman-temannya yang lain berada di samping kanan Miss Nancy.

"Ayo Tante. Ikut kami!" Ajak si pirang.

Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Miss Nancy dan Sabrina Muhsin mengikuti kemana sekelompok anak itu melangkah.

Rupanya mereka turun menuju ke ruangan mesin kapal. Tak cuma mesin, di sini juga ada tempat beristirahat dan kamar mandi.

Kemudian ada meja kecil, di atasnya ada beberapa gelas sisa air kopi. Meja-meja itu, meskipun tak terawat, ti dak kumuh. Tetap bersih dan sering digunakan untuk minum dan tempat duduk terbikin dari besi yang dibentuk menyerupai kursi.

"Ayo Tante," kata si pirang. Menyapa Miss Nancy yang sempat tertegun melihat ruang mesin kapal dan sekita rnya.

"Disinilah tempat kami, Te." Kata si pirang, diiyakan teman-temannya.

"Enak Tante ..." Sahut si sipit. "Buktinya kami betah disini sebelum Tante berdua ada di kapal ini."

Miss Nancy dan Sabrina saling pandang, saat itulah sekelompok anak belia  tadi hilang entah kemana. Baik ujud maupun suaranya. Hanya suara mesin kapal yang terdengar.

Padahal tadinya suasana di ruang mesin hening, sunyi dan senyap. Selepas anak-anak itu menghilang, suara mesin kapal terdengar. Cukup mengganggu pendengaran Miss Nancy dan Sabrina.

"Kamu tahu tempatnya Sabrina?"

"Enggak Miss. Cuma si pirang menunjuk ke dekat mesin. Itu saja."

Di dekat mesin ada toilet dan ruangan terbuka tapi tidak terang. Jarang dimasuki sinar matahari. Bersih dan tidak terlihat kotoran di sana-sini.

Tobe continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar