Senin, 25 Desember 2017

Pulau Harimau (1)

Serial Ki Ogan



Pulau Harimau (1)
Oleh Wak Amin



1

"CEPAT Drooo ...!" Kata Thomas.

"Kakiku Mas."

Tertusuk duri. Tajam dan sakit. Padahal sudah bersepatu. Tapi tidak sampai berdarah. Cuma perihnya itu minta ampun. Menyut dan badan ini terasa demam. Meriang.

"Pijakkan Dro. Sebentar kita sampai." Thomas melihat ada sebuah rumah besar di seberang kanan jalan.

"Paling tidak bisa tidur malam ini," ucap Thomas dalam hati.

Keduanya terpaksa lari dari rumah karena dicari kelompok bersenjata pimpinan Mayor Nawi. Sebuah kelompok garis keras yang tak segan-segan membunuh orang yang dianggap berseberangan dengan mereka.

Kelompok ini dikenal ganas dan siapa pun yang jadi target mereka akan dapat. Jika dapat disiksa dan dibunuh secara sadis sebelum mayatnya dilempar ke laut.

Ada apa dengan Thomas dan Pedro?

Thomas dan Pedro adalah saksi atas tewasnya Jenderal Lutfi. Jenderal dalam pemerintahan Raja Samson ini terkenal tegas, jujur, anti korupsi dan tidak suka berdialog dengan kelompok manapun yang berusaha mengacaukan keamanan negara.

Di bawah kepemimpinan Jenderal Lutfi, selaku panglima tertinggi dan bertanggung jawab penuh atas keamanan negara, negeri Mahakam benar-benar aman. Tak heran jika banyak pendatang yang melancong ke negeri yang subur dan makmur ini.

Namun sejak beberapa bulan terakhir, rasa aman rakyat Mahakam terusik oleh ulah kelompok bersenjata pim pinan Mayor Nawi. Sering keluar masuk kampung. Menjarah dengan sesekali memperkosa kaum perempuan sebagai pelampiasan nafsu semata.

Warga mulai resah. Agar tak meluas, Jenderal Lutfi memerintahkan jajarannya untuk 'melibas' kelompok bersen jata Asy-Syifa ini. Hal ini dilakukan karena mereka telah berbuat onar dan meresahkan masyarakat.

"Tangkap mereka hidup-hidup," perintah Jenderal Lutfi saat bertatap muka dengan pasukan keamanan Mahakam sebelum menggempur habis-habisan kelompok Asy-Syifa.

Penggempuran dilakukan  pada tengah malam. Semua anggota kelompok Asy-Syifa berhasil ditangkap, juga termasuk pimpinannya, Mayor Nawi.

Mayor Nawi dulunya anggota pasukan khusus Negeri Mahakam. Pernah memegang jabatan penting di kemiliteran.

Karena berseberangan dengan penguasa, dia menyatakan mundur sebelum akhirnya cabut dari dinas kemiliteran.

Sejak saat itulah dia membentuk kelompok bersenjata dan siap berhadapan dengan penguasa Negeri Mahakam.

Tak terkecuali Jenderal Lutfi. Dia sangat membenci jenderal jujur, bersih dan tegas ini karena telah memfitnah kelompok bentukannya sehingga dijauhi masyarakat.

Seminggu setelah penangkapan nya, Negeri Mahakam aman seketika. Kembali terusik setelah Mayor  Nawi ber hasil meloloskan diri dari balik terali besi. Sementara anak buahnya berhasil ditangkap kembali oleh pasukan keamanan pemerintah.

Sebulan setelah itu, rakyat Mahakam digemparkan dengan tewasnya Jenderal Lutfi di kediamannya. Dia tewas ditembak Kelompok Asy-Syifa jelang subuh dengan puluhan butir peluru mendarat di kepala, punggung dan dadanya.

Tewas seketika sementara isterinya sempat melarikan diri. Namun, bersama anak-anaknya beberapa hari kemu dian, diketemukan tewas ditembak di sebuah tempat yang sepi di pinggiran kota.

Tewasnya Jenderal Lutfi beserta anak dan isterinya sangat memukul Raja Samson. Dia memerintahkan pasukan keamanan negara untuk menangkap hidup atau mati Mayor Nawi. Orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Jenderal Lutfi.

Tidak mudah untuk menangkap Mayor Nawi dan kelompok yang ia pimpin. Selain sudah terorganisir dengan rapi, kelompok lain yang selama ini berseberangan, mulai putar haluan.

Mereka bukan saja menjalin pertemanan tapi juga siap membantu Asy-Syifa bila diperlukan. Saat mereka terpo jok oleh Raja Samson inilah bantuan itu datang.

"Beres Yor. Tenang saja," kata juru bicara Kelompok Al-Mulk. "Sebelum mereka menangkap Mayor, kami su dah lebih dulu menghabisi mereka."

Mayor Nawi senang, bangga dan juga lega. Kini tak ada kekuatiran lagi bakal kena tangkap pasukan pemerintah.

Hanya ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Ada dua orang saksi kunci di balik tewasnya Jenderal Lutfi yang belum diamankan.

"Sebelum mereka berdua dapat, saya belum lega seratus persen. Ingat itu!" Kata Mayor Nawi menunjuk jidat satu-satu anggota kelompoknya dalam pertemuan khusus di Markas Asy-Syifa.

                                                                               -------


"BUAT sementara kita aman di sini bro," kata Thomas. Berbaring telentang di teras rumah kosong pinggiran kota.

Rumah kosong itu bertingkat dua. Ada beberapa unit rumah di sana. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan.

Pekarangan luas. Banyak pohon besar dan rindang. Penghuni rumah ada. Namun sesekali hanya terlihat. Saat pergi dan pulang kerja, atau ada keperluan mendesak untuk pergi keluar rumah.

Sementara rumah yang kini disinggahi Thomas dan Pedro belum lama ditinggal pergi pemiliknya ke luar kota. Sang empunya rumah mempercayakan keamanan rumahnya ini kepada lelaki tua yang selama ini mendapat tugas merawat taman, menyapu halaman dan beberapa keperluan lain yang terkait dengan kebersihan, kenyamanan dan keamanan rumah.

"Dro. Ada orang datang," bisik Thomas. Bersama Pedro, dua teman sejawat ini  bersembunyi di balik tanaman samping rumah.

Seorang lelaki tua baru pulang dari berbelanja di pasar swalayan. Membeli bahan makanan untuk dimasak dan dimakan bersama seusai empunya rumah pulang dari luar kota.

Dengan perlahan ia dorong masuk sepeda motor yang membawa satu tas besar belanjaan. Setelah dia tutup kembali pintu pagar, dia nyalakan lagi itu mesin motor.

Berhenti persis di garasi samping  kanan rumah. Garasi itu tidak terkunci. Dibuka, kemudian sepeda motor didorong masuk. Sebelum pintu kayu itu ditutup dan dikunci rapat

Kletek ...

Tek tek ...

Pintu samping terbuka. Lelaki kurus berkulit hitam itu masuk dan menutup kembali pintu itu.

Dia mengeluarkan satu persatu belanjaannya. Ada yang ditaruh di dalam kulkas, ada juga disimpan dalam lemari gantung.

Treeek ...

Byaaar ...

Dia nyalakan kompor gas. Dia me masak mie kuah rupanya. Dia memang lapar. Sejak pagi belum makan, kecuali minum secangkir kopi susu.

Tapi dengan sabar dia membolak-balik mie kesukaannya itu dalam panci ceper yang baru dibeli kemarin.

Pak Jakfar, nama lelaki itu. Dia tidak punya keluarga. Karena dia memang tidak menikah. Dia tak punya anak dan isteri. Dia bujang tua. Bujang lapuk, kata orang kebanyakan.

Meski menyandang predikat bujang tua, Pak Jakfar tak pernah merasa risih dan malu hati. Dia tetap ramah kepada siapa saja.

Entah laki-laki, entah wanita, dia tak pilih. Makanya teman-temannya pada heran, teman wanita ada, walau bisa dihitung dengan jari jumlahnya, masih senang jadi perjaka.

Pedro dan Thomas memberanikan diri mengintip dari balik kaca dapur. Memanjat sedikit dengan berdiri di bahu Pedro, Thomas bisa dengan leluasa melihat Pak Jakfar menuangkan rebusan mie ke dalam piring besar.

Keluar asap dari piring plastik itu. Dia cium aroma mie ....

Heeem ...

Sedaaap ...

Heeeem ...

Nikmaaaat ...

Lezaaaat ...

Triiiiing ...

Suara sendok dan garpu sayup terdengar silih berganti. Disusul suara kursi makan. Pak Jakfar sudah duduk menghadap meja.

Siap menyendok mie rebus.

Lalu ...

Tok ... Tok ...Tok ...

Tok ... Tok ...Tok ...

Pedro dan Thomas memberanikan diri mengetuk pintu dengan harapan Pak Jakfar sudi menerima mereka seka dar untuk bermalam satu malam saja.

Pak Jakfar tak keberatan. Hanya saja, dia mengaku terus terang pada Pedro dan Thomas, dia bukanlah pemilik rumah.

Hanya tukang kebun. Tak lebih.

"Tak mengapa Pak."

"Pak Jakfar nama saya."

"Saya Thomas, sementara teman saya ini, Pedro dia punya nama," kata Thomas sambil menjabat erat tangan Pak Jakfar.

Tak enak hati jadinya ... 

Seharusnya mereka berdualah yang lebih dulu memperkenalkan diri.

"Tak mengapa. Bapak sudah biasa menerima orang bermalam di rumah ini," terang Pak Jakfar.

"0ooo begitu Pak. Terima kasih."

Dari raut muka keduanya, Pak Jakfar merasa tak ada yang patut dicurigai dengan kehadiran tamu istimewanya ini.

Penampilan sederhana. Santun dan ramah. Dipastikan tidak membawa senjata, apalagi barang yang men curigakan. Setelah Thomas dan Pedro mempersilakan Pak Jakfar memeriksa tas ransel mereka.

"Bapak percaya. Tak usahlah." Pak Jakfar mempersilakan keduanya duduk.

Dia mengambil dua buah piring. Lalu dibaginya mie yang ada dalam piringnya. Sementara dia sendiri merebus tiga bungkus mie sekaligus.

Sambil mengaduk mie dan bumbu di mangkuk besar, Pak Jakfar bercerita bahwa suasana di sekitar rumah majikannya ini memang sepi.

"Tapi sepi-sepi menghanyutkan," gurau Pak Jakfar.

Ha ha ha ha ...

"Kenapa bisa begitu Pak Jakfar?" Tanya Pedro yang serasa berada di rumah sendiri.

"Sepi di saat tertentu. Pagi misalnya. Sore ramai. Atau pada akhir pekan. Orang disini ramah dan baik- baik," terang Pak Jakfar, meletakkan semangkuk besar mie rebus yang baru saja dia tuangkan dari panci besar alumi nium.

                                                                        ----------



KEESOKAN harinya ...

Setengah jam setelah Thomas dan Pedro pamitan, anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa mendatangi satu per satu kawasan pemukiman An-Nur. Setiap penghuninya ditanyai dengan cara memaksa, membentak, menghardik dan mengancam.

Kediaman majikan Pak Jakfar mendapat giliran terakhir ditanyai tiga lelaki yang merupakan tangan kanan Mayor Nawi. Badan mereka kekar. Nada suara selalu tinggi dan tak gampang tersenyum.

Di hadapan Pak Jakfar, setelah ya ng bersangkutan membukakan pintu, dan mempersilakan masuk, ketiga ang gota senior Asy-Syifa ini mengancam akan membunuh jika terbukti menyembunyikan dan membantu pelarian Pedro dan Thomas.

"Bapak jangan macam- macamlah sama kami, haaa." Bentak laki-laki bertelinga lebar dan kepala botak.

"Saya tidak macam-macam Tuan. Saya berkata sejujurnya. Bahwa saya sama sekali tidak mengenal dua lelaki di sketsa foto yang bapak perlihatkan itu."

Salah seorang dari mereka, pria bermulut lebar, memaksa Pak Jakfar menatap lekat-lekat sketsa foto di sehelai kertas putih. Foto itu mirip dengan mukanya Thomas dan Pedro.

"Tahu kan?"

"Tidak Tuan. Selama ini tidak ada orang aneh-aneh yang datang ke pemukiman An-Nur ini. Kalau pun ada, itu sebatas famili dan teman kerja majikan saya ..."

"Ah, kamu bohong." Kata mulut lebar setengah membentak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar