Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (2)
Oleh Wak Amin
Karena masih tak percaya dengan keterangan Pak Jakfar, ketiga laki-laki tadi serempak menggeledah setiap ruangan, mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga belakang rumah.
Hasilnya?
Mereka tidak menemukan apa-apa. Orang yang mereka cari memang tidak ada. Sudah pergi dari tadi. Kepergian mereka atas sepengetahuan Pak Jakfar.
Traaaang ...
Jegaar ...
Guaaaar ...
Setelah mengamuk dengan menendang meja, tong sampah dan membanting asbak rokok di atas meja tamu. Mereka pun ngeloyor pergi sambil mengomel tiada henti.
Beruntung Pak Jakfar tak dianiaya. Namun jika itu sampai terjadi, dia sudah siap menerima dan menanggung akibatnya.
"Benar-benar sok jagoan," omelnya. Pak Jakfar melanjutkan pekerjaannya dengan merapikan bunga di teras dan taman depan rumah.
Sementara itu ....
Pedro dan Thomas kini sudah tiba di dermaga kecil. Mereka berdua ingin menumpang kapal motor penyebera ngan untuk menghindari pengejaran dari anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa.
"Sekitar setengah jam lagi kapal tiba di dermaga Tuan," kata salah seorang petugas dermaga dengan ramah.
"Berapa kali penyeberangannya Pak" Tanya Pedro.
"Kalau cuaca lagi baik dan gelombang tidak besar, bisa lima kali Tuan " jawab si petugas.
Dia mempersilakan Pedro dan Thomas beristirahat sambil menunggu kedatangan kapal di kantin dermaga.
Satu jam perjalanan dihabiskan menuju kota seberang. Selama ini perjalanan lewat laut aman dan lancar. Para penumpang, selain orang datangan yang ingin singgah dan transit karena urusan pekerjaan, warga sekitar dermaga untuk pergi berdagang, di antaranya menjual hasil tangkapan ikan.
Kota seberang memang indah. Dikitari laut dengan pandangan bukit yang memesona. Sebagian besar penduduknya bertani dan menjadi pegawai swasta dan pemerintahan.
Penduduk setempat bersikap terbuka dengan pendatang. Mereka tidak alergi, apriori dan menutup diri. Selagi mereka datang baik-baik, mereka akan terima dengan lapang hati.
Mereka menganggap seperti saudara, dan sudah terbukti selama ini mereka sama-sama, bahu membahu membangun kota yang jauh dari hingar-bingar klakson mobil dan kemacetan.
Setelah menunggu hampir dua jam, Pedro dan Thomas baru bisa berangkat ke seberang. Karena penumpang tidak terlalu membludak, keduanya bisa duduk di dalam kapal. Tempat duduknya terbikin dari kayu yang dicat warna biru dan putih.
Air laut tampak tenang. Satu dua kapal besar lewat, melintas tak terlalu cepat. Agar tak jenuh, sang pengemudi kapal, memutar lagu dangdut bernada gembira.
Sebagian penumpang ikut berjoget, tapi bukan badan. Hanya kepala dan gerakan tangan saja.
"Ayo Pak. Jangan malu-malu," kata seorang bapak, Ramlan, dengan anak dua pada Thomas dan Pedro.
Si bapak berdiri. Menggerakkan kedua tangannya silih berganti. Hampir jatuh karena saat bersa maan, kapal bergoyang disenggol ombak kecil.
"Mari Om," ajak kedua anak bapak tadi itu yang mulai beranjak dewasa. Perempuan semuanya. Masih duduk di bangku es em a.
2
"ANTARKAN kami. Cepaat!" Bentak kepala botak sembari memelototkan matanya. Merah karena marah.
"Tidak bisa Pak. Bapak harus menunggu dulu di kantin atau apalah. Setengah jam lagi baru datang kapal penyeberangannya," jelas petugas dermaga dengan tenang.
"Kapal itu?" Ada speedboat bersandar di bawah jembatan dermaga. Speedboat itu rusak. Mesinnya lagi diperbaiki. Hanya bodinya saja yang masih aduhai.
"Ah bohong." Hardik si mulut lebar.
"Periksa sendiri oleh bapak bertiga kalau tidak percaya,' jawab si petugas.
" Baiklah," kata dagu lancip. "Kalau ternyata tidak rusak, kepalamu saya potelkan."
Keder juga si petugas. Walau dia merasa yakin mesin motor tempel itu masih diperbaiki di bengkel. Paling tidak satu bulan ke depan baru kelar.
Turunlah tiga kaki tangan Mayor Nawi ini serempak dengan cara melompat. Karena tidak berimbang, badan besar sementara motor tempel tidak kuat menahan beban, terbaliklah.
Byuuur ...
Dreeeg ...
Dreeeg ...
Melihat kejadian itu, petugas dermaga dibantu beberapa warga setempat, terpaksa turun tangan. Speedboat akhirnya bisa kembali seperti biasa.
Sementara botak dan dua temannya basah kuyup. Umpatan, cacian keluar dari mulut ketiganya.
Sedangkan petugas dermaga dan warga hanya tertawa saja. Ditahan-tahan pula ketawanya.
"Kenapa tertawa?"
"Coba bapak tengok mesinnya. Kan enggak ada."
Merasa malu, ketiganya minta dibuatkan tiga gelas air kopi susu. Mereka beristirahat di kantin dengan pakaian basah. Ogah dilepas, apalagi dijemur.
Kriiiing ...
Kriiiing ...
Kriiiing ...
"Yaaaach ... Ada apa Wan?" Mayor Nawi baru selesai menerima tamu dari kelompok Al-Mulk.
"Lapor Bos. Kami sekarang lagi berada di pelabuhan kecil. Menunggu jemputan kapal."
" Mengejar mereka?"
"Iya Bos."
"Yakin dapat?"
"Yakin Bos."
"Oke. Laksanakan ...!"
"Siap Bos."
Sudah lewat setengah jam, kapal penyeberangan belum juga datang. Iwan, si kepala botak mulai gusar dan marah.
Didekatinya petugas yang sedang menelepon di dermaga.
"Mana kapalnya, haaaa?"
Ditariknya kerah baju si petugas.
"Ini baru saya telepon Pak."
Druuuup ...
"Cepat telepon!" Hampir terduduk, saking kuatnya cengkraman Iwan dikerah baju si petugas.
Si petugas baru dapat kabar kapal penyeberangan mengalami kerusakan mesin.
"Perlu waktu sekitar dua jam lagi Pak. Mohon disabar ..."
"Kemarikan teleponmu!" Paksa Iwan. Dia menelepon pemilik kapan sembari mengancam, jika dalam waktu dua jam kapal yang ditunggu tidak juga tiba di pelabuhan, keselamatan petugas dermaga bakal terancam.
"Maksud bapak?" Tanya si pemilik kapal gemetaran.
"Saya akan bunuh dia. Mengeti?"
"Me .. menger .. ti Pak."
"Patuhi ya. Awas kalau macam-macam."
"Ya Pak. Ya .. Ya Pak!"
Semakin mendekati sore, warga yang hendak menyeberang mulai ramai berdatangan. Sebagian besar warga yang domisili jauh dari kawasan pelabuhan.
Dermaga pelabuhan jadi ramai. Kantin pun demikian. Anak-anak kecil merayu ibu mereka minta dibelikan kue, es krim dan air putih dingin.
Sementara calon penumpang dewasa memilih duduk-duduk di pinggiran dermaga. Mereka berbagi cerita dan pengalaman. Karena baru pertama kali ini mereka bertemu, saling berkenalan dan bertukar kesan selama menempuh perjalanan laut.
Dua jam kemudian kapal yang di tunggu-tunggu pun tiba. Merapat ke dermaga. Satu persatu penumpang naik berurutan. Karena ramai, tempat duduk terisi penuh.
Kapal pun berangkat ...
"Menginaplah barang semalam," tawar Ramlan pada Thomas dan Pedro saat keduanya singgah sejenak di kediaman guru sekolah dasar itu.
"Iya Om. Kami senang kalau Oom berdua nginap di tempat kami," sahut anak sulung Ramlan, perempuan beranjak dewasa. Cantik dan ramah lagi.
Pedro dan Thomas berpikir sebentar ...
"Eeeem ... Terima kasih banyak atas penawaran Pak Ramlan dan adik Oom yang cantik. Tapi terus terang kami diburu waktu. Teman kami sudah menunggu. Sebab, kalau sampai terlambat, enggak bakalan bisa ketemuan," jelas Pedro.
"Betul sekali Pak. Kami berdua kepingin sekali menginap di sini. Aman, tenang dan suasananya adem sekali. Ta pi, karena kami ada urusan penting dengan teman bisnis, kami putuskan belum bisa menginap di rumah bapak kali ini," ujar Thomas.
"Jika ada kesempatan, kami akan mampir lagi kesini, dan tentunya akan bermalam di rumah bapak untuk bebe rapa hari lamanya."
Pak Ramlan memaklumi, juga dua anak gadisnya. Meski di hati kecil mereka kecewa, karena bermalam di se buah rumah yang besar dengan sedikit penghuni, hanya empat orang, kehadiran Pedro dan Thomas tentu bisa meramaikan suasana, berbagi cerita sesama saudara.
Bukankah kita bersaudara?
---------
SETIAP warga kota seberang ditanyai. Tapi tak satu pun yang mengaku sebelum akhirnya salah seorang warga pernah melihat Pedro dan Thomas menuju selatan.
"Saya yakin Pak. Kalau memang ini fotonya," kata lelaki paruh baya ketika pulang dari surau lepas ashar.
"Enggak bohong kan?"
"Enggak Pak. Percayalah sama saya," jelas si pemuda kurus langsing itu dengan suara gemetar dan terbata-bata karena ketakutan.
Kepada Sang Bos, Mayor Nawi melaporkan bahwasanya Pedro dan Thomas menuju selatan.
"Apa kita lanjutkan pengejarannya Bos, atau ...?" Tanya Iwan.
"Ya teruskan saja. Pas tengah malam. Sekarang carilah dulu tempat berteduh."
"Baik Bos."
"Perlu bantuan?"
"Kayaknya iya Bos. Tapi nantilah kami beritahukan. Kami tengok dululah situasinya," terang Iwan.
"Masa orang tiga kalah sama orang dua. Tapi ya sudahlah. Jangan lupa. Usahakan dapat ... Tangkap hidup-hidup keduanya," pesan Mayor Nawi.
"Siap Bos."
Di tempat terpisah, Pedro dan Tho mas menumpang sebuah truk yang hendak melaju ke luar kota. Di simpang tiga perbatasan kota, mobil diberhentikan polisi jalan raya.
Sopirnya diminta turun. Memperlihatkan surat menyurat truk termasuk ijin mengangkut alat-alat berat yang diletakkan di kap belakang. Seperti mesin, motor dan barang onderdil lainnya.
Hal ini sudah biasa dialami pengemudi truk jika hendak melewati perbatasan kota demi keamanan selama dalam perjalanan. Bukankah aksi kriminal justru lebih mudah dilakukan di tempat sepi dan sunyi, jauh dari keramaian.
Sopir truk tampak lega. Petugas memperbolehkannya melanjutkan perjalanan. Dia mulai menyalakan mesin truk. Namun, entah bagaimana, setelah meneri ma telepon, dua petugas polisi ja lan raya tadi mendatangi Pedro dan Thomas ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar