Selasa, 03 September 2019

Bola Pingpong (11)

Bola Pingpong (11)
Oleh Wak Amin



SEMINGGU kemudian ....

Bos Rahmat tampak berkemas. Ber sama tiga anak buahnya masing-masing Ujang, Fadil dan Syukur, sa ng bos memasukkan peralatan ten da ke bagasi mobil.

Mereka berempat akan bermalam di tepian laut. Mereka mendirikan tenda. Mereka alan berkemah disa na sampai si hiu berhasil ditangkap.

Dijinakkan ...

"Oke Bos. Berangkat kita?" Tanya Ujang, berkaos oblong dan celana levis cokelat muda.

"Pancing udah?"

"Sudah Bos."

"Ada yang masih ketinggalan ti dak?" Bos Rahmat balik bertanya. Dia paling tak suka setelah jalan baru tahu ada yang ketinggalan.

Mereka berangkat pagi. Saat mata hari terbit dan beberapa toko sudah buka dan beraktivitas.

Mereka menempuh jalur tol sebe lum melewati perkampungan pen duduk. Selain lebih aman, jika kura ng faham dengan arah jalan yang di lalui, bisa bertanya kepada warga sekitar.

Satu jam lewat tol, mereka singgah sejenak di warung kopi. Kopi hitam kental manis. Kesukaan Rahmat se telah melahap nasi goreng kala sa rapan pagi.

Usai ngopi, perjalanan pun dilanjut kan. Rada sepi, hanya satu dua mo bil yang melintas. Selebihnya sepe da dan motor.

Perjalanan jadi lancar. Sebelum so re Rahmat dan anak buahnya tiba di lokasi. Ada beberapa nelayan he ndak berangkat melaut. Sebagian lagi baru kembali dari melaut de ngan membawa ikan besar dan kecil.

Rahmat tampak bicara serius de ngan seorang pria hitam besar, pe milik motor ikan. Selain untuk ke perluan sendiri, motornya sering di sewa pakai orang dari kota untuk memancing ikan.

Sang pemilik motor ikan mengan jurkan sebaiknya jangan meman cing ikan hari ini.

"Ini sudah sore. Sebentar lagi ma lam tiba. Beda dengan di darat, di sini kalau malam amatlah gelap. Lampu kita hanya bulan Pak," kata si pemilik motor kayu sambil ter tawa lepas mengiri kepak sayap burung camar.

"Tapi Pak Rahmat, saya juga tak berhak menghalangi jika bapak te tap ingin berangkat juga sore ini. Saya akan siapkan segala sesua tunya."

"Tak usah Pak Taslim. Tak usah. Ka mi berangkat besok pagi saja," kata Rahmat buru-buru pergi karena ber sama Ujang, Fadil dan Syukur harus menyiapkan tenda untuk bermalam.

 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar