Selasa, 10 September 2019

Bola Pingpong (18)

Bola Pingpong (18)
Oleh Wak Amin






DOOR ...

Tepat kena ulu hati Robert. Tewas seketika. Rudolf dan Albert mele paskan tembakan ke arah sal te ngah.

Mr Ford koprol, masuk dalam sal. Lalu koprol keluar kamar sambil melepaskan dua tembakan berun tun.

Eeeeekh ...

Sama-sama mengenai kepala, Ru dolf dan Albert tewas dengan kepa la menghantam lantai.

Mark mulai panik. Di tengah kepani kannya, si perawat berhasil melep as kan diri dari cengkraman Mark yang nyaris membuatnya mati.

"Bos lapor Bos."

"Lapor apa?"

"Rudolf, Albert dan Albert tewas Bos," kata Mark.

"Kamu diam saja?"

"Enggaklah Bos."

"Kenapa nelepon saya?"

"Cuma lapor Bos. Tak lebih."

"Laporan diterima. Sekarang saya perintahkan kamu untuk secepat nya menemukan dan menangkap pelaku penembakan. Mengerti?"

"Mengerti Bos."

"Jangan lupa si Maria nya tau."

"Siap Bos."

Maria mulai sadar. Dari kursi roda dia melihat samar-samar Mr Ford. Hatinya kesal. Tapi apa daya. Jang ankan untuk mengajak duel Mr Fo rd, berdiri saja belum mampu.

Maria hanya bisa pasrah melihat se terunya, Mr Ford merapikan pakai an dan rambutnya yang kusut ma sai. Termasuk menyeka peluh di sekitar muka dan tangan.

Maria juga pasrah ketika Mr Ford dengan cepatnya mendorong Maria dengan kursi rodanya masuk lift, menuruni tangga di tengah rentetan tembakan yang dilepaskan Mark.

Matanya hanya bisa menatap sayu wajah Mr Ford yang tampak cemas. Entah cemas karena saya, kata Ma ria,  atau demi keselamatannya se mata.

Door ...

Dooor ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar