Mata Pisau (6)
Oleh Wak Amin
SETELAH mengetahui keberadaan mereka dikuntit petugas kepolisi an, Letnan Robert dan kawan-ka wan bukan menghindar.
Tapi malah makin membabi-buta. Selain menyiksa dan menghabisi warga Ath-Thifa, mereka juga men jarah, membakar rumah warga dan sejumlah tempat seperti balai desa dan gudang penyinpanan beras dan makanan.
Desa Ath-Thifa benar-benar mence kam. Api berkobar, mayat bergelim pangan dan beberap rumah areal la han pertanian hancur dan rata de ngan tanah.
"Cepat ... Tinggalkan tempat ini!" Te riak Letnan Robert kepada empat anak buahnya Sersan James, Ser san Paul, Sersan George dan Ser san Hiden.
Dua unit mobil warga mereka ambil paksa. Mereka berteriak sambil me ngacungkan senjata. Lalu tertawa dari dalam mobil yang melesat ce pat itu.
Ha ha ha ...
"Kaya kita Sersan Hiden," ucap Ser san Paul.
"Kalau begini terus, bisa kaya kita. Ha ha ha," kata Sersan Hiden.
Sementara Sersan James dan Ser san George lebih banyak diam. Me reka lebih suka menyantap maka nan hasil jarahan, seperti roti dan buah-buahan.
Sedangkan Letnan Robert menyetir sendirian. Mobilnya berada di teng ah antara mobil yang disopiri Ser san James di depan dan paling belakang yang disopiri Sersan Paul.
Di tengah perjalanan ...
"Berhenti sebentar Sersan James," pinta Letnan Robert.
"Siap Letnan .."
Letnan Robert mendapat telepon dari koleganya Mr Fredi. Seorang pengusaha besar dan pemasok barang serta senjata.
Dia mengajak ketemuan di suatu tempat di pinggiran kota. Mr Fredi belum mau menyebutkan secara rinci maksud dari ketemuan.
Dia hanya mengisyaratkan pertemu an dengan Letnan Robert sangat penting bagi kelangsungan bisnis nya saat ini.
"Pokoknya adalah. Bersedia kan kamu Letnan?"
"Bersedialah. Masa teman sendiri tak bersedia ..."
Ha ha ha ...
"Kamu masih seperti dulu Bert. Itulah yang aku suka darimu."
"Kamu juga Fredi."
Ha ha ha ha ...
Tak lama. Setengah jam kemudian, Letnan Robert dan kawan-kawan sudah tiba di sebuah motel ping giran kota.
Dari luar motel itu biasa-biasa sa ja. Tak begitu mewah. Tak satu pun mobil yang parkir di sana. Selain dua unit sepeda motor.
Seorang petugas satpam tengah memeriksa halaman parkir ken da raan roda dua dan empat. Lalu dia masuk motel. Lalu keluar lagi bebe rapa menit kemudian.
Seorang pria berjambang keluar da ri motel. Dia menelepon seseorang. Kemudian tertawa lebar. Sesekali tersenyum, mengangguk dan tam pak sumringah.
Kesumringahan kian kentara sete lah kedatangan Letnan Robert be serta empat anak buahnya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar