Minggu, 02 September 2018

Yahudi Genggam Dunia (30)

Yahudi Genggam Dunia (30)
Oleh aminuddin

DUA tahun kemudian, ketika beru sia 12 tahun, Eli dan keluarga Dwek pun meninggalkan Indonesia untuk pindah ke Israel. Sementara Florence Judah dan keluarganya pindah ke AS. Setelah dewasa, Eli Dwek bertemu Florence Judah di Israel dan menikah di Los Angeles AS.

Konflik Israel-Palestina dianggap menjadi salah satu yang menum buhkan sentimen anti Yahudi di Indonesia. Pada 2009, Sinagoga Beith Shalom di Surabaya sempat menjadi sasaran protes dari kelompok garis keras menyusul perang di Gaza pada 2008-2009 lalu.

Dalam survei nasional 'Tren Tole ransi Sosial-Keagamaan di Kala ngan Perempuan Muslimin Indo nesia, yang dilakukan Wahid Institute pada 2017, Yahudi berada di urutan ketiga sebagai kelompok yang paling tidak disukai, setelah komunis dan LBGT.

Meski begitu saat Abdurahman Wahid alias Gus Dur menjabat sebagai presiden keempat, situasi politik dan sosial lebih terbuka. Keturunan Yahudi pun mulai terbuka mengenai jati dirinya.

"Di zaman itu banyak keturunan Yahudi mulai keluar 'dari persembunyiannya', salah satunya David Abraham pengacara keturunan Yahudi Irak, mulai bicara ke publik bahwa saya Yahudi," jelas Elisheva.

Setelah kembali ke Yudaisme, Elisheva selalu terbuka pada setiap orang mengenai identitasnya, dan dia mengaku tidak pernah mendapatkan pandangan negatif dari orang-orang di Indonesia ketika menyebut dirinya seorang Yahudi.

Situasi tersebut membuat keturunan Yahudi kembali saling terhubung. "Mulai ada perkumpulan, dari situ kita cari rabbi untuk mengajar ke sini, " kata Elisheva.

Terakhir, Elisheva mendatangkan seorang rabbi untuk mengajar umat Yahudi dan membawa gulungan Torah ke di Papua.

Ketika sejumlah keturunan Yahudi mulai membuka identitasnya dan kembali ke agama nenek moyang mereka, pada 2013, sinagoga di Surabaya kemudian dijual oleh salah seorang anggota keluarga dan dihancurkan untuk dijadikan bangunan lain.

Mengenalkan Yahudi
Bagaimanapun, di Indonesia tak ba nyak orang mengenal atau bertemu dengan penganut Yahudi, dan lebih banyak mengenalnya melalui media.

Elisheva mengatakan, seringkali pemberitaan media yang tidak tepat memunculkan sentimen negatif. "Contohnya berita soal orang-orang Yahudi melarang Muslim untuk ke Dome of The Rock, padahal kenyataannya hanya Muslim yang boleh, kami dan orang selain Islam tidak boleh masuk," jelas dia.

Untuk membuat orang lebih memahami tentang Yahudi dan sumber  mempelajari Yudaisme, beberapa tahun lalu, Elisheva mendirikan Yayasan Eits Chaim Indonesia YECI bersama dengan adiknya dan seorang Yahudi keturunan Turki.

"Banyak sumbernya tapi bahasa Inggris, jadi kami membuat radio ketika itu, bikin artikel, hanya untuk menjelaskan apa yang dilakukan dan ini kepercayaan kita," terang dia.

YECI sempat melakukan dialog antar agama dengan tujuan agar orang lebih mengenal tentang Yahudi.

"Itu kita juga diundang, salah satu tujuannya juga supaya pengalamanlah ketemu sama orang Yahudi," kata dia.

Bahkan ada seorang pejabat yang tidak mengetahui tentang agama Yahudi. "Dia kebetulan Kristen, dia heran dan bingung, dia bilang Yahudi itu cabangnya Kristen ya, jadi semacam aliran Kristen, lalu dia tanya ke gereja kan?" jelas Elisheva sambil tertawa.

Pada April 2016 lalu, YECI menggelar peringatan Pesakh di Jakarta, yang dihadiri oleh sejumlah tokoh agama Islam dan perwakilan dari negara lain.

Melalui YECI pula, Elisheva seringkali dihubungi oleh orang-orang Indonesia keturunan Yahudi yang ingin mengenal agama nenek moyangnya.

"Namun banyak yang kemudian menghilang lagi," terang Elisheva yang menduga mereka belum mau terbuka.

Jika penganut Yahudi di Sulut dapat beribadah di Sinagoga Shaar Hashamayim, penganut Yahudi di daerah lain melakukan ibadah di tempat-tempat pribadi. Salah satunya di tempat saya bertemu Elisheva, yang biasa digunakan untuk beribadah rutin dalam jumlah umat yang terbatas.

Namun untuk perayaan sulit dilakukan di sana karena tempatnya yang kecil.

Elisheva mengatakan, dirinya lebih banyak mengikuti ibadah di luar negeri, terutama dalam perayaan keagamaan seperti di Singapura atau Bangkok.

"Ibadahnya lama sekali, harus buka gulungan Torah, dan di sini enggak ada," kata dia.

Dalam perayaan umat Yahudi juga selalu disuguhi makanan yang halal atau yang disebut kosher, dan itu sulit untuk didapat di Indonesia.

"Lebih gampang itu keluar saja, belanja di Singapura atau Bangkok, mau impor juga akan sulit di custom nya," ujar Elisheva.

Menurut dia, penganut Yahudi di Indonesia terpaksa melakukan 'kompromi' karena masih sulit untuk mengonsumi makanan kosher.

"Jadi kita enggak bisa taat sesaleh-salehnya, karena tidak ada dukungan negara, sementara saya perlu label bahwa ini memang kosher," terang Elisheva yang selama berada di Indonesia menjadi vegetarian.

Untuk masalah pendidikan, menurut Elisheva, anak-anak penganut Yahudi tidak mendapatkan pelajaran agama yang sesuai dengan keyakinannya, "Jadi banyak yang homeschooling ," kata dia.

Sementara untuk identitas di KTP, Elisheva memilih untuk mengosong kannya. "Tidak ditulis agama, jadi strip saja," kata dia.

Di Sulawesi Utara, menurut Yaakov, ada ratusan orang keturunan Yahudi, namun sebagian besar dari mereka tak menganut Yudaisme.

Beberapa tahun terakhir, beberapa orang dari mereka memutuskan kembali ke agama nenek moyang. "Itupun sangat terbatas dalam kemampuan menjalani agamanya," jelas dia.

Meski di sini penganut Yudaisme dengan bebas dapat menjalankan ibadah mereka, namun sampai saat ini tak dapat mencantumkan agama atau mengosongkan kolom agama mereka di KTP.

"Mengenai idetitas kami cukup berpikir logis agama kami ditulis, karena ini bisa menimbulkan spekulasi baru masalah baru, tapi seandainya kami boleh dikosongkan itu sudah lebih dari cukup, kami tidak minta kami ditulis Yahudi di KTP karena sensitif bisa menimbulkan masalah baru," terang dia.

Menurut Yaakov, saat ini yang penting bagi dia adalah penganut Yahudi bebas untuk menjalankan ibadahnya.





___
BBC.Com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar