Mata Pisau (9)
Oleh Wak Amin
DI sebuah tempat yang dirahasia kan, Mr Fredi tertawa lega setelah mendengar kabar teranyar dari Let nan Robert bahwa Letnan Parto tewas ditembak.
"Selamat ya Let. Beritahu ke teman-teman kamu saya amat berterima kasih karena sukses menghabisi Letnan Parto," kata Mr Fredi.
"Kamu tahu tidak Let, bagaimana perasaanku sekarang?"
"Pasti senanglah," jawab Letnan Parto sambil mengintip ke luar jendela.
"Oooo bukan cuma itu saja Let," kata Mr Fredi. "Aku sekarang jadi orang kaya ... Ha ha ha ha ..."
Letnan Robert ikut tertawa juga akhirnya ...
"Roda bisnisku lancar dan aku kini bebas mengembangkan bisnisku kemana aku suka ..."
Ha ha ha ha ....
"Wah ... Wah. Aku doakan semoga lancar Fred."
"Terima kasih Let."
"Sama-sama Fred ..." Letnan Robert dengan berat hati menghentikan pembicaraannya dengan Mr Fredi setelah mendapat laporan dari Ser san James ketiga anak buahnya tewas dalam baku tembak dengan pasukan pemerintah.
"Keadaannya sangat darurat Let se karang. Kita harus segera mening galkan tempat ini," ucap Sersan James.
"Ayoooo ..."
Letnan Robert dan Sersan James tidak lewat pintu depan motel. Ke duanya memilih melarikan diri le wat jalan setapak di belakang motel.
"Cepat Sersan ...!"
Sempat terjatuh tadinya Sersan Ja mes karena kaki kanannya kesand ung batu besar yang ditutupi daun pisang.
"Let. Mobil kita gimana? Apa tak sebaiknya kita ambil?"
Tak punya pilihan lain ...
"Oke. Ayo cepat ..."
Satu mobil diparkir di depan, dua di dalam garasi motel. Sementara pa sukan pemerintah semakin dekat. Hanya berjarak beberapa meter dari lokasi motel.
Cek .. Cek ...
Reeeeen ...
Mobil melaju amat kencang keluar dari motel. Lewat alat peneropong, Mayor Ridwan melihat sebuah mo bil keluar dari pekarangan motel.
"Kita temukan mereka Mr Clean."
"Saya akan coba menghadangnya lewat jalur kanan Mayor," kata Mr Clean.
Lewat jalur yang berbeda, diharap kan jarak kabur Letnan Robert dan Sersan James semakin sempit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar