Selasa, 04 Desember 2018

Mangkuk (10)

Mangkuk (10)
Oleh Wak Amin



SATU hari kemudian ...

Sir Effendi diketemukan tewas di kediamannya seusai pulang dari bekerja pada malam hari.

Mayatnya diketemukan isterinya se tengah jam kemudian, sesam pai nya di rumah setelah kembali dari berbelanja di pusat perbelanjaan di pusat kota bersama pembantu dan buah hatinya yang masih kecil.

Sir Effendi tewas ditembus tiga tim ah panas di dada, kepala dan kaki sebelah kanan ..

Tak ada seorang pun yang tahu ak si pembunuhan itu. Selain sangat cepat, di kediaman Sir Effendi me mang tak ada orang.

Hanya terdengar teriakan kecil. Se telah itu hening. Seorang pria ber topeng keluar dari ruang kerja Sir Effendi.

Menutup pelan pintu kamar itu. La lu keluar dari pintu belakang. Me lompat pagar.

Menyeberang jalan ..

Mendekati sebuah mobil diparkir dekat kolam air mancur.

Dia lihat suasana sekitar ..

Agak sepi memang. Tapi ramai di simpang tiga, dekat taman kota, ber jarak dua puluh lima meter dari ko lam marmer itu.

Pria itu pun masuk ke dalam mo bil. Dia nyalakan mesin.

Mobil melaju pelan ..

Kabar tewasnya Sir Effendi menga getkan Mr Rahman. Hanya dalam beberapa hari tiga teman dan kole ganya masing-masing Sir Edward, Mr James dan Sir Effendi tewas secara tragis.

Siapa pembunuhnya?

Pertanyaan itulah yang selalu diula ng-ulang Mr Rahman dalam hati nya, pagi tadi usai sarapan pagi.

Dia tampak syok. Juga marah dan kesal. Marahnya memuncak setel ah dua bodiguardnya, telinga lebar dan gigi ompong, menghilang pas ca ditangkap Mr Clean dan Letnan Ratna.

Jiwanya kini terancam ...

Bukan tidak mungkin, dalam hitun gan hari, Mr Rahman akan menyu sul ketiga rekannya yang tewas le bih dulu ..

"Masa bodoh ah. Emang gue piki rin," katanya sembari menghem paskan tubuhnya di sofa ruang tamu.

Kriiiing ...

Telepon berdering ..

Dari siapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar