Senin, 29 Mei 2017

Bedeng Seng (6)



Novel 

Bedeng Seng (6)
Oleh Wak Amin


16
HAAAA …?
Setelah mengintip dari luar dan menemukan jambang cs tidur pulas di ruang tamu, salah seorang warga yang mendapat giliran meronda bersama rekan-rekannya berlari ke simpang empat.
Ada apa di simpang empat?
Banyak orang yang berkumpul. Selain jaga malam secara bergiliran, mereka juga bisa gabung main gaple sampai menjelang waktu subuh.
Tidak setiap malam mereka berkumpul bersama. Ada malam-malam tertentu. Misalnya malam minggu atau hari libur kerja.
Setiap malam warga bergiliran meronda. Siskamling. Masing-masing bawa bekal dari rumah. Duduk berempat atau berlima. Giliran berkeliling komplek, kadang pakai sepeda, berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor.
Nah, pemuda yang tadi mengintip, kebetulan Pak Erte ikut main gaple, membisikkan sesuatu di telinga bapak lima anak itu. Berkali-kali ia menggosok lubang telinganya. Bukan karena gatal, tapi …
“Ah, yang benar kamu? Kalau salah lihat kali?”
“Betul Pak Erte. Ane enggak bohong,” terang si pemuda.
“Ayo Pak Erte. Kita kesana rame-rame,” ajak seorang laki-laki gemuk, sehari-hari berdagang pakaian di pasar.
“Bagaimana dengan yang lain?” Tanya Pak Erte. Berharap jangan hanya 3-4 orang, semuanya ikut melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah kosong itu.
“Aku ikut Pak Erte …”
“Aku ikut …”
“Aku juga ikut Pak Erte …”
Akhirnya semua ikut. Sama-sama menuju rumah kosong. Sementara jambang cs masih tertidur pulas. Mereka tidak tahu Pak Erte dan beberapa warga kampung bakal membawa mereka ke kantor polisi.
Mereka baru tahu setelah diamankan di pos ronda. Beberapa warga hampir saja naik pitam ketika jambang  bersikeras tak tahu menahu ikhwal tewasnya Bos Steven.
Pak Erte dan beberapa tokoh masyarakat segera turun tangan melerai.  Demi keamanan, Pak Erte kemudian menelepon Mr Clean yang masih berpatroli di kawasan pinggiran kota.
Mendapat kabar dari Pak Erte, Mr Clean berbelok arah, kembali ke jalan dimana dia keluar dari sebuah gang tadinya.  Karena sepi, dia mempercepat lajunya mobil, sehingga dalam tempo kurang dari dua puluh  menit sudah tiba di pos kamling.
Melihat kedatangan Mr Clean dan Nona Sabrina, wajah jambang cs berubah pucat seketika. Ketiganya sangat takut karena memang tahu Bos mereka telah terbunuh.
Di Graha Police, jambang cs mengaku terus terang, laki-laki yang terbunuh tadi malam itu adalah bosnya. Tapi mereka sama sekali tidak tahu siapa yang membunuhnya.
“Kemana kalian malam itu?” Tanya Nona Sabrina dengan sabar. Berkali-kal dia menenangkan hati Mr Clean yang sempat naik pitam melihat keangkuhan jambang. Berbelit-belit ketika menjawab pertanyaan yang diajukan.
Jambang akhirnya bercerita pada malam itu mereka mencari Muhsin yang lepas dari tawanan mereka. Tak lama setelah Bos Steven datang, mereka diperintahkan Sang Bos mencari Muhsin sampai dapat.
Setelah mencari kesana kemari, karena tak ketemu juga, kata jambang, mereka kembali menemui Bos Steven.
“Kami terkejut melihat Bos kami sudah tewas,” aku muka bulat terus terang.
“Kami panik Pak Polisi,” kata lonjong. “Saat kami panik bapak dan ibu datang. Kami sembunyi dan setelah itu bapak dan ibu pergi sama petugas lain. Karena lelah, kami putuskan menginap di rumah kosong itu …”

17
“SELAMAT pagi Bang jambang, muka bulat dan lonjong,” ucap Nona Sabrina dan Mr Clean serempak saat ketiganya memasuki ruang pemeriksaan.
“Pagi juga Pak, Ibu,” jawab ketigaya, setengah membungkukkan badan sebelum dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan.
“Nama kalian bertiga ini sebenarnya siapa? Pasti jambang ini panggilan sesama kalian saja kan?” Tanya  Nona Sabrina sembari menulis sesuatu di buku agenda kepunyaannya.
“Betul sekali Bu. Saya,” kata jambang, “bernama Yusuf, sedangkan dua teman saya ini masing-masing muka bulat dan lonjong punya nama Yunus dan Yakub.
“Anda bertiga ini senang tidak dipanggil nama yang bukan sebenarnya?”
“Mau gimana ya Bu. Semua teman tidak memanggil nama. Hanya gelaran yang muncul di saat tertentu,” jelas lonjong.
“Misalnya?” Gantian Mr Clean yang bertanya.
“Waktu kumpul-kumpul. Ada teman bilang ke teman satunya,” kata muka bulat, “Hai Jong, ngapain lu sampe terlambat segala.  Sudah jadi Bos ya?”
Ha ha ha ha …
Nona Sabrina meninggalkan ruang pemeriksaan setelah Letnan Salam memintanya ke ruangan kerjanya karena ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Pemeriksaan diambil alih Mr Clean. Kali ini mereka ditanyai satu persatu tentang seberapa jauh kedeka tan mereka dengan Bos Steven. Berapa lama suadah bergabung dengan jaringan Geng Mawar dan hubu ngannya dengan sesama geng serta  kelompok lain di luar jaringan.
“Kami banyak kenal pedagang Pak. Makanya Bos Steven seringkali dipanggil Bos Apek atau toke,” terang  Yusuf.
“Bos Steven di mata kalian, seperti apa? Baik, penolong atau justru anda bertiga hanya terpaksa senang saja karena telah terlanjur bergabung dengan Geng Mawar?”
“Kalau saya,” ujar Yusuf, “Baik Pak. Memang suka marah kalau ada tugas dari beliau yang tidak bisa saya atau kami kerjakan. Tapi untuk yang lain, soal duit misalnya, beliau tidak pelit. Kita perlu uang, dia kasih.”
“Kamu Nus?”
“Sama jugalah Pak. Maksud saya Mr Clean. Di mata saya, beliau itu orangnya baik, peduli dengan anak buah dan suka menolong …”
“Kamu Kub?”
“Kalau saya Mister, karena baru bergabung, belum mengenal betul kepribadian Bos saya. Hanya saja, saya lihat orangnya ramah, baik dan tidak ganas seperti pimpinan geng kebanyakan.”
“Oke. Terima kasih …”
Kriiiing …
Gleduk …
“Halo ..”
“Clean. Coba ke ruangan saya dulu sekarang.”
“Siap Let.”
Sebelum meninggalkan ruangan, Mr Clean berpesan kepada Yusuf, Yunus dan Yakub untuk duduk yang sopan dan tenang. Tidak membuat keributan, apalagi sampai melarikan diri dari ruang pemeriksaan.
Kenapa Mr Clean dipanggil?
“Saya hanya mengkonfirmasi kalian berdua saja Clean .. tentang  …”
“Boneka Mister.” Potong Nona Sabrina seraya ketawa geli mendengar penjelasan dari Letnan Salam sebelumnya.
“Betul apa kata Nona Sabrina, Clean.” Kata Letnan Salam, juga ketawa. Clean pun akhirnya ikut ketawa.
“Info yang saya terima, pembunuh Bos Steven adalah boneka. Saya tak percaya. Makanya saya panggil kalian berdua ke ruangan saya …”
“Infonya dari mana Let?”
“Dari orang pintar, Clean dan Nona Sabrina.”

18
MESKI Yusuf cs tidak terbukti  melakukan pembunuhan terhadap Bos Steven, mereka tetap diinapkan di Graha Police karena terbukti secara bersama-sama menculik Muhsin.
Hal ini diperkuat dengan keterangan Muhsin di Graha Police. Ketika dipertemukan dengan Yusuf, Yunus dan Yakub, dia merasa yakin ketiganyalah orang yang menculiknya beberapa waku lalu.
Setelah dipertemukan dengan Yusuf cs, Muhsin merasa lega karena pelaku penculikan terhadap dirinya sudah tertangkap dan  diamankan.
Sebaliknya, pasca dibebaskan dari dugaan pelaku pembunuhan Bos Steven, dan berharap bisa pulang ke rumah secepatnya, harus gigit jari.
“Izinkanlah kami pulang Bu Sabrina,” rengek Yusuf, sementara Yunus dan Yakub menangis  setelah diberi tahu mereka akan bermalam beberapa hari di Graha Police.
“Tahankan sajalah,” ujar Nona Sabrina. “Disini anda bertiga merasa lebih nyaman. Tak perlu mikir mau makan apa. Semua tersedia …”
“Iya Bu, tapi …” Yunus bicara tersendat-sendat. Matanya berkaca-kaca.
“Tapinya apa Mas?”
“Nanti kami digebuki Bu,” jawab Yunus terus terang.
“Kenapa memang? Takut digebuki apa? Kalian kan sudah biasa gebuk-gebukan?”
Heee …
Heeee …
Huuuu …
Ketiganya menangis serempak, persis seperti anak kecil tak diberi uang jajan. Mereka berharap kepada Nona Sabrina dan Mr Clean untuk memperbolehkan mereka pulang.
“Asal jangan disini Pak kami tidurnya,” kata Yakub dengan wajah memelas. Meski anggota Geng Mawar, dia mengaku belum pernah sekalipun merasakan yang namanya ‘Hotel Prodeo.’
“Sekali-kali cobalah dulu,” jelas Mr Clean, sebelum berlalu pergi meninggalkan ketiganya untuk melakukan patrol di berbagai sudut kota.
Salah seorang petugas kepolisian, dibantu dua rekannya, kemudian mempersilakan Yusuf cs keluar dari ruangan secara bersama-sama.
“Mau dibawa kemana kami Pak?” Tanya Yunus seolah kebingungan.
“Ikut saja kami,” ujar petugas berbadan tegap besar tapi murah senyum.
Setelah berjalan tiga ratus meter, Yusuf, Yunus dan Yakub tiba di sebuah tempat yang tampak sunyi dari luar. Namun, begitu masuk ke dalam ruangan yang besar itu, suasana berubah ramai.
Treeeng …
Reeeng …
Pintu terbuka.
Ada ruangan tak begitu besar.
Ada satu tempat tidur bertingkat tiga. Ada tikar, toilet dan kamar mandi. Petugas tadi mempersilakan Yusuf cs masuk dan melihat fasilitas yang tersedia.
“Bagaimana? Nyaman bukan? Nah, disinilah anda tinggal buat sementara waktu. Setuju tidak setuju anda bertiga harus menerimanya …”

(Tobe Continued)
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar