Rabu, 20 September 2017

Sakratul Maut




Tausiyah Malam Tahun Baru Islam 1439 H


Sakratul Maut
By  Aminuddin

ALLAH SWT telah berfirman :
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah SWT atau yang berkata : “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.
Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS Al-An’aam 93-94).
“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS Qaaf 19).

IKHWAL sakratul maut ini, Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali menukilkan dua riwayat. Pertama, sebuah ha dist yang diriwayatkan dari Ibnu Syubrumah, ia berkata: “Aku bersama-sama As-Sya’biy pernah mene ngok orang sakit keras. Di dekat orang sakit itu ada seseorang yang menuntunnya untuk membaca kalimah tauhid: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah.
As-Sya’biy berkata : “Tuntunlah perlahan-lahan.” Orang yang sakit menyahut: “Anda tuntun atau tidak, aku tetap tidak akan meninggalkan kalimat tauhid itu. Kemudian ia membaca ayat yang artinya: “ … dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimah-kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” ( QS Al-Fath 26).
Mendengar ucapanya itu, As-Sya’biy berkata : “Alhamdulilllah, segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan sahabatku ini.”
Kedua, cerita tentang murid Fudhail bin Iyadh, bahwa ketika tanda-tanda kematian menghampiri murid itu, Fudhail menengoknya, lalu ia duduk di dekat kepalanya dan membaca surah Yasin. Orang yang tidak lain adalah muridnya itu berkata:
“Wahai guruku, janganlah anda membaca surah Yasin.” Maka Fudhail pun diam. Kemudian, Fudhail menuntunnya dengan kalimah tauhid: Laa ilaaha illallaah. Dia justru berkata : “Aku tidak akan mengucapkannya, sebab aku berlepas diri dari kalimat tauhid itu.” Akhirnya Fudhail itu mati dalam keadaan lepas dari kalimat  tauhid.
Setelah peristiwa itu, Fudhail menangis terus menerus selama empat puluh hari, tanpa keluar dari rumah, sebentar pun. Tidak lama kemudian, Fudhail bermimpi melihat muridnya itu diseret hendak dijobloskan ke dalam neraka jahanam.
Fudhail bertanya: “Apa yang menyebabkan Allah mencabut kema’rifatan dari hati anda padahal anda adalah muridku yang paling alim.?”
Murid itu pun menjawab : “Hal itu disebabkan tiga perkara, yaitu:

1.       Sebab menghasut. Aku biasa mengatakan kepada teman-teman berlainan dengan apa yang kukatakan kepada anda.

2.       Dengki. Aku dengki pada teman-temanku

3.       Aku mempunyai penyakit, lalu aku datang ke dokter. Aku menanyakan tentang kesembuhan penyakitku itu. Dokter mengatakan: “Anda harus minum segelas arak setiap tahun. Jika tidak, penyakit anda tidak akan sembuh. Maka, aku pun selalu minum arak.”

Selanjutnya, kata Al-Ghazali, aku ceritakan kisah tentang dua orang yang lain. Pertama, konon Abdullah bin Mubarak, ketika ajalnya sudah dekat, beliau menengadahkan mukanya ke langit, lalu tersenyum seraya berkata: “Untuk ini, seharusnya orang-orang beramal.”
Dan aku pernah mendengar Imam Haramain menceritakan dari Ustad Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Sewaktu masih belajar, aku mempunyai teman yang baru mulai belajar. Ia sangat  rajin, berhati-hati dan tekun beribadah.
Namun ia hanya sedikit bisa melakukannya dengan penuh kesungguhan. Hal itu tentu membuatku he ran. Pada suatu hari ia jatuh sakit. Tetapi ia tetap tinggal di pondokan di tengah-tengah para wali. Ia tidak mau berobat ke rumah sakit. Meskipun sakit, ia tetap rajin belajar.
Sementara itu, sakitnya semakin parah dan pada saat itu, aku berada di sampingnya. Dalam kondisi yang demikian itu, tiba-tiba kedua matanya terlihat menerawang menatap ke langit, seraya berkata kepada ku: “Hai Abu Bakar bin Furak, untuk hal semacam ini, seharusnya orang-orang yang beramal.” Akhirnya ia meninggal dunia pada saat itu, semoga ia mendapat rahmat Allah SWT.
Cerita kedua, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik bin Dinar. Suatu hari beliau masuk ke rumah tetangganya yang sudah semakin mendekati ajalnya. Tetangga itu berkata kepada beliau: “Hai Malik, ada dua gunung dari api berada di depanku. Aku berusaha mendaki keduanya.”
Lalu aku bertanya kepada keluarganya mengenai perbuatan yang biasa dilakukan. Mereka menjaewab: “Ia mempunyai dua macam sukatan (takaran) makanan, yang satu untuk menakar pada waktu membeli dan satunya lagi untuk menakar ketika menjual.”
Mendengar penuturan itu, aku lalu meminta dua takaran itu dan memukulkannya satu sama lain, sehing ga keduaya pecah. Selanjutnya aku tanyakan kepada tetangganya yang dalam keadaan sakratul maut itu.
Ia berkata : “Perkara yang aku hadapi semakin besar saja.”
Walllahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar