Tausiyah Malam Tahun
Baru Islam 1439 H
Sakratul Maut
By Aminuddin
ALLAH SWT telah berfirman :
“Dan siapakah yang
lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah SWT atau yang
berkata : “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu
pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang
diturunkan Allah.”
Alangkah dahsyatnya
sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam
tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil
berkata) : “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang
sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan)
yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya.”
“Dan sesungguhnya kamu
datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya,
dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan
kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap
mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.
Sungguh telah
terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang
dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS Al-An’aam 93-94).
“Dan datanglah
sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.”
(QS Qaaf 19).
IKHWAL sakratul maut ini, Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali
menukilkan dua riwayat. Pertama, sebuah ha dist yang diriwayatkan dari Ibnu
Syubrumah, ia berkata: “Aku bersama-sama As-Sya’biy pernah mene ngok orang
sakit keras. Di dekat orang sakit itu ada seseorang yang menuntunnya untuk
membaca kalimah tauhid: Laa ilaaha
illallaah wahdahu laa syarikalah.
As-Sya’biy berkata : “Tuntunlah perlahan-lahan.” Orang yang
sakit menyahut: “Anda tuntun atau tidak, aku tetap tidak akan meninggalkan
kalimat tauhid itu. Kemudian ia membaca ayat yang artinya: “ … dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimah-kalimat takwa dan
adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” ( QS
Al-Fath 26).
Mendengar ucapanya itu, As-Sya’biy berkata : “Alhamdulilllah,
segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan sahabatku ini.”
Kedua, cerita tentang murid Fudhail bin Iyadh, bahwa ketika
tanda-tanda kematian menghampiri murid itu, Fudhail menengoknya, lalu ia duduk
di dekat kepalanya dan membaca surah Yasin. Orang yang tidak lain adalah
muridnya itu berkata:
“Wahai guruku, janganlah anda membaca surah Yasin.” Maka
Fudhail pun diam. Kemudian, Fudhail menuntunnya dengan kalimah tauhid: Laa ilaaha illallaah. Dia justru berkata
: “Aku tidak akan mengucapkannya, sebab aku berlepas diri dari kalimat tauhid
itu.” Akhirnya Fudhail itu mati dalam keadaan lepas dari kalimat tauhid.
Setelah peristiwa itu, Fudhail menangis terus menerus selama
empat puluh hari, tanpa keluar dari rumah, sebentar pun. Tidak lama kemudian,
Fudhail bermimpi melihat muridnya itu diseret hendak dijobloskan ke dalam
neraka jahanam.
Fudhail bertanya: “Apa yang menyebabkan Allah mencabut kema’rifatan
dari hati anda padahal anda adalah muridku yang paling alim.?”
Murid itu pun menjawab : “Hal itu disebabkan tiga perkara,
yaitu:
1.
Sebab menghasut. Aku biasa mengatakan kepada
teman-teman berlainan dengan apa yang kukatakan kepada anda.
2.
Dengki. Aku dengki pada teman-temanku
3.
Aku mempunyai penyakit, lalu aku datang ke
dokter. Aku menanyakan tentang kesembuhan penyakitku itu. Dokter mengatakan: “Anda
harus minum segelas arak setiap tahun. Jika tidak, penyakit anda tidak akan
sembuh. Maka, aku pun selalu minum arak.”
Selanjutnya, kata Al-Ghazali, aku ceritakan kisah tentang
dua orang yang lain. Pertama, konon Abdullah bin Mubarak, ketika ajalnya sudah
dekat, beliau menengadahkan mukanya ke langit, lalu tersenyum seraya berkata: “Untuk
ini, seharusnya orang-orang beramal.”
Dan aku pernah mendengar Imam Haramain menceritakan dari
Ustad Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Sewaktu masih belajar, aku mempunyai teman
yang baru mulai belajar. Ia sangat
rajin, berhati-hati dan tekun beribadah.
Namun ia hanya sedikit bisa melakukannya dengan penuh kesungguhan.
Hal itu tentu membuatku he ran. Pada suatu hari ia jatuh sakit. Tetapi ia tetap
tinggal di pondokan di tengah-tengah para wali. Ia tidak mau berobat ke rumah
sakit. Meskipun sakit, ia tetap rajin belajar.
Sementara itu, sakitnya semakin parah dan pada saat itu, aku
berada di sampingnya. Dalam kondisi yang demikian itu, tiba-tiba kedua matanya
terlihat menerawang menatap ke langit, seraya berkata kepada ku: “Hai Abu Bakar
bin Furak, untuk hal semacam ini, seharusnya orang-orang yang beramal.”
Akhirnya ia meninggal dunia pada saat itu, semoga ia mendapat rahmat Allah SWT.
Cerita kedua, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik bin
Dinar. Suatu hari beliau masuk ke rumah tetangganya yang sudah semakin
mendekati ajalnya. Tetangga itu berkata kepada beliau: “Hai Malik, ada dua
gunung dari api berada di depanku. Aku berusaha mendaki keduanya.”
Lalu aku bertanya kepada keluarganya mengenai perbuatan yang
biasa dilakukan. Mereka menjaewab: “Ia mempunyai dua macam sukatan (takaran)
makanan, yang satu untuk menakar pada waktu membeli dan satunya lagi untuk
menakar ketika menjual.”
Mendengar penuturan itu, aku lalu meminta dua takaran itu
dan memukulkannya satu sama lain, sehing ga keduaya pecah. Selanjutnya aku
tanyakan kepada tetangganya yang dalam keadaan sakratul maut itu.
Ia berkata : “Perkara yang aku hadapi semakin besar saja.”
Walllahu a’lam
bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar