Senin, 14 Mei 2018

Bunga Sedap Malam (2)

Serial Mafia

Bunga Sedap Malam (2)
Oleh Wak Amin



"AYO .. Kita rayakan kesuksesan ini," kata Tuan Marcel tertawa terbahak-bahak.

"Ayo ... Taici. Came on!" Siao Lung mempersilakan Taici lebih dulu membuka tutup botol minuman besar yang terhidang di atas meja panjang besar.

Preesh ...

Tuuusssh ...

Tutup botol terbuka. Keluar air berbusa.

Itu botol, oleh Taici dimiringkan. Un tuk kemudian diminumkan secara bergantian ke mulutnya Tuan Marcel, Siao Lung, Tainen, Tauco,  Tai sek, terakhir Taici.

"Ayo kita ke dalam .."Ajak Tuan Marcel. Menuju sebuah ruangan besar di tengah ruangan lantai atas. Lantai lima.

Di ruangan ini ada tempat melantai, berdansa dan berkaraoke ria. Menghibur diri. Di ruangan berhawa sejuk ini juga seringkali digelar berbagai pertemuan penting, khusus membicarakan bisnis Tuan Marcel dan keluar ganya.

"Panggil anak buahmu itu Lung," kata Tuan Marcel. Mulai sedikit kesal melihat kelakuan Taici cs yang 'aneh'.

Mereka tak mau masuk, lebih senang bercengkrama di luar ruangan sambil memandang ke seliweran cewek yang bekerja pada perusahaan Tuan Marcel.

"Taici. Taici. Came here please!"

Ternyata di ruangan yang serba mewah dan mengundang orang terpikat untuk mencoba itu, ada ruangan khusus menyamping.

Kepada koleganya, Siao Lung, Tuan Marcel memperkenalkan beberapa wanita cantik dan dua bodyguard nya di sebuah meja khusus berenam.

Caaar ...

Lampu ruangan menyala remang-remang. Di depan ada sebuah pesawat televisi yang besar.

Televisi dinyalakan ...

Liputan peledakan markas kepolisian ...

Ssssst ...

"Simpan dulu komentarnya Ci," bi sik Siao Lung.

 "Kita fokus pada tayangan di televisi itu," imbuh Siao Lung.

Pada tayangan televisi diperlihatkan bagaimana dahsyatnya peledakan markas kepolisian yang terjadi menje lang subuh tadi.

Kendati tak ada korban jiwa di kala ngan rakyat sipil, hanya beberapa gelintir petugas keamanan yang te was, peledakan itu mengagetkan banyak pihak, terutama para pejabat terkait.

Hal ini dikarenakan baru kali pertama terjadi peledakan di markas kepolisian. Sebelum ini tidak pernah sama sekali. Ini semakin menguatkan dugaan kelompok mafia semakin bertaring di kota ini.

"Catat ya Pak, Bu wartawan. Saya akan ringkus semuanya tanpa pandang bulu," janji Jenderal.Fahmi dengan suara lantang.

"Semudah itu kah Jenderal? Bagaimana sekiranya anda tidak berhasil meringkus mereka?"

"Kamu ragu?" Balik bertanya pada si wartawati.

"Ya Jenderal."

"Kenapa?"

"Karena anda sendirian Jenderal. Makanya, maaf  Pak Jenderal, saya jadi ragu. Sebab yang Jenderal hadapi sekarang ini bulsn anak ingusan kemarin sore. Tapi ..."

"Tapi kenapa?"

"Amat profesional dan terorganisir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar