Serial Mafia
Mawar Mewangi (16)
Oleh Wak Amin
SEMPAT terjadi tembak menembak.
Setelah itu hening ...
Lima orang kepercayaan Siao Lung tetap siaga penuh. Mereka terus berusaha melindungi Sang Bos dari tembakan pasukan keamanan, khususnya
Santi, Rahman dan Letnan Sayuti.
Pintu lift sesekali tutup buka. Beberapa anggota pasukan menyisir lewat tangga. Praktis tak ada tempat buat Bos Siao Lung dan orang kepercayaannya melarikan diri.
Sudah terkepung ...
Maka itu, untuk menghindari upaya penangkapan, Bos Siao Lung memu tuskan
untuk sembunyi di lantai pa ling atas, 20. Dia berharap ada bantuan
penyelamatan dari anggota kelompok koleganya.
Dooor ..
Door ...
Dooor ...
Tiga kali tembakan Rahman berhasil menewaskan satu orang kepercayaan
Siao Lung saat yang bersangku tan menembak secara membabi-buta beberapa
anggota pasukan keamanan yang baru sampai ke lantai 19.
Melihat rekannya tewas, salah seorang dari empat 'pengawal khusus' Siao Lung, melempar granat asap.
Gueeer ...
Gueeer ...
Terdengar ledakan kecil. Meski tiddak menimbulkan korban jiwa, karena
menebarkan asap beracun, membuat samar penglihatan pasukan keamanan.
Saat itulah, terdengar rentetan tembakan dari sebelah kanan. Empat
lelaki kekar dengan gagah berani serempat menembak, mengakibatkan
banyaknya korban tewas dari pihak keamanan.
Santi melihat ada sekelebat bayang-bayang di dekatnya. Seorang lelaki bersenjatakan lengkap berlari ke dekat lif.
"Mati kau jahanam." Pekik Santi.
Door ...
Door ...
Enam kali tembakan. Laki-laki berperawakan kekar tinggi besar itu jatuh
terkapar. Jasadnya dimasukkan Santi ke dalam lift, menuju ke lantai
dasar.
Melihat anggota pasukannya tewas, Letnan Sayuti sangat geram. Dia
kemudian mengendap-endap ke balik pintu, berusaha mendekat ke tiga
lelaki tinggi besar dan lumayan tampan itu.
Ketiganya masih berdiri di depan salah satu pintu kamar. Lalu menuju lantai teratas melalui lift.
Pandangan mata masih kabur karena asap putih masih ada tersisa.
"Man ..."
"Saya di belakang Letnan sekarang," ucap Rahman setengah berbisik.
"Santi?"
"Di belakang saya Letnan ..."
"Oke. Lindungi saya."
"Siap Letnan."
Letnan Sayuti memutuskan bertiarap. Secara perlahan menggerakkan tubuhnya ke depan, walau berat.
Tentu dibantu Santi dan Rahman dari belakang. Sekuat tenaga mereka mendorong kedua kaki Letnan Sayuti.
Seeeer ...
Meluncur bak papan peluncur. Berhasi mencengkram kaki pria di depannya. Jatuh terlentang.
Terjadi pergumulan hebat. Saling tindih, cekik leher, pukul muka dan melepaskan tendangan.
Buuug ...
Guaaarrr ...
Letnan Sayuti mendorong tubuh lawannya. Terpundur, mengenai dinding beton.
Lawan masih sempat membidikkan senjatanya untuk menghabisi Letnan Sayuti.
Door ...
Dooor ...
Santi dan Rahman mendahuluinya. Dua tembakan dari pistol berbeda. Menembus kepala dan dada lawan.
Tewas seketika ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar