Mencari Berita (8)
Oleh aminuddin
10 Jurnalis Investigasi Paling Bernyali
DALAM dunia jurnalistik, untuk memberitakan suatu peristiwa secara mendalam dibutuhkan usaha ekstra dari sekadar wawancara dan riset.
Diperlukan nyali dan risiko berkor ban untuk melakukan investigasi atau dalam hal ini penyamaran.
Meski secara etika dan aturan hu kum, cara penyamaran ini masih diperdebatkan namun cara ini dianggap paling jitu untuk membongkar kebenaran.
Berikut adalah 10 jurnalis paling bernyali yang rela mengorbankan hidupnya untuk mendapatkan kebenaran.
Demi penyamaran mereka rela masuk rumah sakit jiwa, penjara, bahkan menjadi pasukan di garis depan ...
10. Elizabeth Jane Cochrane
Elizabeth Jane Cochrane atau lebih dikenal dengan by line Nellie Bly adalah reporter wanita angkatan pertama di Amerika Serikat sekitar tahun 1887.
Oleh seorang editornya di New York ia ditugaskan meliput kondisi sebu ah Rumah Sakit Jiwa Blackwell Island yang diduga melakukan malpraktik terhadap para pasiennya.
Untuk masuk ke RSJ tersebut tak ada cara lain bagi Cochrane selain menjadi pasien sakit jiwa. Maka ia berlagak kehilangan akal warasnya dan menderita amnesia.
Risikonya sangat besar, karena sang editor tak menjamin Cochrane bisa keluar dari RSJ tersebut.
Selama 10 hari ia berada di RSJ dan harus menjalani perlakuan medis tak semestinya, diberikan peralatan medis yang sudah terin feksi bakteri dari tikus, minum air kotor, dan makan dari makanan bekas muntahan pasien lainnya.
Namun pengorbanan itu terbayar. Berkat liputannya, pemerintah AS memerintahkan penyidikan RSJ tersebut dan menaikkan anggaran perbaikan dan pelayanan sebesar US$850.000.
9. Chris Terrill
Chris Terrill merupakan seorang apkar antroplogi asal Inggris dan pembuat film dokumenter.
Hasil investigasinya terentang luas di berbagai bidang, mulai dari kasus bullying di sekolah hingga penyeludupan kokain yang melibatkan Angakatan Laut Kerajaan Inggris.
Hebatnya ia bekerja seorang diri mulai dari pra sampai pasca produksi.
Tahun 1992, Terrill melakukan investigasi soal penjualan orangutan dengan menyamar sebagai perantara jual beli.
Dia juga pernah menyaru menjadi penjual wanita dalam liputannya soal human trafficking di Denmark, Belgia, dan Republik Dominika.
8. Peter Warren
Warren adalah jurnalis asal Inggris dan pernah menjadi detektif swasta di Kanada selama hampir 50 tahun.
Minatnya adalah membongkar kasus yang dipetieskan atau vonis hakim yang salah.
Salah satu liputannya yang terkenal adalah soal vonis David Milgaard yang dijebloskan ke Penjara Stony Mountain dengan tuduhan memperkosa seorang perawat bernama Gail Miller pada tahun 1974.
Dari data awal, Warren mencurigai bahwa vonis hakim terhadap Milgaard keliru. Maka ia mengumpulkan berbagai bukti termasuk pembelaaan dari Milgaard.
Hasilnya pada tahun 1997 Milgaard dibebaskan dari penjara dan dinyatakan tidak bersalah setelah mendekam di balik jeruji besi.
7. Anas Aremeyaw Anas
Anas adalah seorang reporter investigasi asal Ghana yang bekerja di surat kabar The Crusading Guide. Ia mengawali karirnya sebagai jurnalis sejak mahasiswa magang.
Karirnya menjulang ketika ia sukses membongkar prostitusi anak bawah umur. Caranya ia berpura-pura bekerja sebagai office boy.
Selama berbulan-bulan ia menyaksikan dengan matanya sendiri bocah-bocah ingusan dijadikan budak seks hingga mereka tewas secara mengenaskan.
Hasil liputannya ia jadikan bukti untuk menuntut pemerintahan yang korup.
6. John Howard Griffin
Pada tahun 1959, ketika isu rasis perbedaan warna kulit sedang mengemuka di AS, seorang novelis kulit putih bernama John Howard Griffin ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang negro.
Maka untuk mewujudkan misinya itu ia merubah warna kulitnya menjadi gelap. Caranya ia mengonsumsi obat Oxsoralen dan memaparkan kulitnya dengan sinar lampu ultarviolet.
Walhasil ia menjadi seorang negro ....
Selama sebulan ia berkelana di belahan selatan AS untuk melihat secara nyata kehidupan warga kulit hitam.
Sampai suatu titik tertentu, ia mem pertanyakan apakah warna kulit itu hanya masalah di selatan AS atau masalah manusia secara umum.
Hasil investigasinya ia bukukan dalam novel berjudul "Black Like Me".
Nahasnya, setelah novelnya terbit ia sering mendapatkan ancaman dari warga kulit putih hingga akhir nya ia tewas dengan cara digan tung.
5. Stuart Goldman
Goldman adalah seorang reporter berkebangsaan Amerika Serikat yang dikenal dengan sebutan "Jurnalis Pembunuh Bayaran" untuk sejumlah tulisan tajamnya dalam sebuah kolom di Los Angeles Times.
Aksi penyamaranya meliputi investigasi mendalam terhadap penginjil di dalam acara TV, Terry-Cole Whittaker dan juga pernah masuk dalam perkumpulan Kultus pemuja UFO.
Di tahun 90-an, Goldman kembali lagi masuk ke dalam dunia penya maran. Penyamaran tersebut dimaksudkan untuk dapat mengetahui adanya persamaan antara dunia media baik cetak maupun televisi dengan sebuah organisasi kriminal.
Selama tiga tahun menyamar de ngan nama palsu, Will Runyon, dirinya menemukan fakta bahwa tabloid memiliki mata-mata baya ran yang bekerja sebagai dokter ataupun pengawal.
Dokter dan pengawal tersebut akan memberikan segala bentuk infor masi mengenai kehidupan seleb ritis.
Goldman menyatakan dari infor masi yang diberikan mata-mata ter sebut, nantinya pihak wartawan yang akan menyaring mana infor masi yang layak dijadikan beri ta.
Sejumlah tabloid bahkan menyewa detektif swasta untuk menguak seluruh informasi ataupun skandal seorang public figure.
4. Donal MacIntyre
MacIntyre adalah seorang jurnalis investigasi Irlandia yang mengaku dalam penyamaranya pernah ditembak, dipukuli, dan dicederai.
MacIntyre juga mengaku sudah 50 kali pindah rumah karena ancaman pembunuhan.
Selama karirnya, Maclntyre telah berulangkali melakukan penyama ran dalam berbagai macam situasi.
Dia mengaku pernah menyamar dalam investigasi di bidang industri olahraga sampai desk medis.
Namun, penyamaran yang paling penting, berani dan sangat terkenal adalah ketika ia dapat masuk menjadi anggota salah satu geng Hooligans tersadis yaitu Chelsea Headhunters.
Selama melakukan penyamaran, Maclintyre mengkonfirmasi adanya keterikatan antara geng hooligans ini dengan organisasi pro Nazi, Combat 18.
Investigasi yang dilakukan MacIntyre membuat sejumlah anggota Geng Chelsea Headhunters ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Salah satu anggota geng, Jason Marriner dijatuhi hukuman enam tahun penjara akibat mengkordinir perkelahian secara sistematis.
Selama persidangan para anggota geng tersebut, MacIntyre dijaga ketat pihak kepolisian.
3. Günter Wallraff
Wallraff adalah seorang penulis berkebangsaan Jerman yang sangat ahli melakukan penyamaran.
Pada tahun 1969, Wallraff memulai penyamaranya sebagai seorang pecandu alkohol, tunawisma dan pekerja pabrik kimia.
Penyamaranya itu menghasilkan sebuah laporan mendalam, "13 Undesired Reports."
Setelah itu, pada 1974 dirinya pergi ke Yunani untuk melakukan penya maran dengan cara memprotes re zim militer diktaktor Loannides di lapangan Syntagma Athena.
Akibat penyamaran tersebut dirinya yang sengaja tidak membawa kartu identitas wartawan terpaksa me ngalami tindak kekerasan peme rintah setempat.
Usia senja tidak serta merta mem buat Wallraf berhenti untuk mela kukan penyamaran.
Pada tahun 2007, ketika berusia 64 tahun, Wallraf melakukan penyama ran di pusat pelayanan telepon Jer man.
Ia juga pernah menyamar sebagai orang kulit hitam. Karena presta sinya sebagai wartawan yang rela melakukan penyamaran beresiko tinggi, pemerintah Swedia membuat kata "Walraffa" dalam kamus besar Bahasa Swedia yang berarti membuka kesalahan dari dalam dengan mengasumsikan peran.
2. Tim Lopes
Lopes adalah seorang jurnalis Brasil yang tumbuh di lingkungan kumuh di Rio de Janeiro.
Lopes melakukan penyamaran de ngan memfilmkan aktivitas ilegal dengan kamera tersembunyi di se jumlah titik yang dikuasai oleh geng kriminal dan bos narkoba.
Tahun 2001, Lopes membantu pi hak kepolisian setempat dalam mengurangi aksi jual beli narkoba.
Nama Lopes menjadi populer kare na hal tersebut.
Ironisnya, pada 2 Juni 2002, penge dar narkoba menculiknya. Lopes dipukuli, disiksa mati-matian, dan dibakar hingga tewas.
1.Antonio Salas
Salas adalah seorang jurnalis inves tigasi yang hanya terkenal dengan nama samarannya.
Hidupnya dihabiskan dengan mela kukan penyamaran ...
Dia pernah setahun menjadi ang gota pro Nazi, satu setengah tahun sebagai pedagang wanita, dan en am tahun sebagai seorang teroris internasional.
Salas mengaku, penyamarannya itu membawa dampak psikologis kepa da dirinya.
Akibat Sering melihat hal-hal tak manusiawi, ia sering mengalami mimpi buruk saat tidur.
Dalam melakukan penyamaran, Salas membuat persiapan yang amat matang dan rinci.
Contohnya, ketika akan masuk grup teror jihad, Salas membuat cerita bakground tentang identitas palsu nya secara rumit.
Ia pun belajar menulis tangan sali nan Al-Quran dan bersunat.
Luar biasanya lagi, Salas juga bekerja sama dengan teroris terkenal Carlos the Jackal.
Salas menjalankan sebuah situs web untuknya ...
Salas mendedikasikan dirinya pada pekerjaan untuk memberitahukan kepada publik apa yang sebenarnya terjadi.
Hal paling menggembirakan ada lah surat-surat yang dia terima dari orang-orang yang sadar akan kesa lahanya dan memilih untuk berubah.
"Sejak usia dini saya berpikir bahwa dokter atau guru adalah dua profesi terbaik, tapi saya sangat pemberontak dan tidak disiplin, jadi enggak cocok buat dua pekerjaan tersebut. Akhirnya, saya memilih pilihan ketiga, menjadi wartawan. Menyelidiki apa yang coba disembu nyikan penguasa dan memberita hukan kepada seluruh masyarakat adalah hal yang membuat saya me rasa berguna sebagai seorang ma nusia," ungkap Salas.
____
m.ayobandung.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar