Sabtu, 01 Desember 2018

Sekuntum Bunga (19)

Sekuntum Bunga (19)
Oleh aminuddin





Pakaian Lusuh

KETIKA kaum kafir Quraisy memboi kot umat muslim di kota suci Mek kah, keluarga Rasulullah SAW men dapatkan hal yang aneh, yakni me nerima undangan pernikahan.

Hal ini bertentangan dengan fakta yang ada pada saat itu. Kaum wani ta Quraisy telah berjanji memutus hubungan dengan kaum muslimin.

Kaum Quraisy sangat mengingin kan Sayyidatina Fatimah berada dan bergabung bersama mereka.


Tentu sangat tidak mungkin bagin da Rasulullah SAW menolak unda ngan tersebut. Beliau pun menga bulkan permohonan itu dan memin ta putrinya untuk menghadirinya.


"Wahai cahaya kedua mataku! Kita adalah orang–orang yang selalu ber buat kebaikan meski orang lain ber buat kejahatan kepada kita. Mereka yang bersabar atas tindak kezali man bisa menjadi sultan dengan seorang yang zalim, sebagaimana penjara adalah tataran pertama ba gi baginda Nabi Yusuf untuk menca pai derajat kesultanan. Oleh Karena itu, sekarang ayahanda minta kamu mendatangi kaum itu untuk meme nuhi undangannya.”

Setelah tiga tahun masa pemboi kotan,  Fatimah Az–Zahra tidak me miliki satu helaipun pakaian yang layak dan cantik untuk dikenakan.

Hanya pakaian lusuh dan penuh tambalan yang ia punya dan biasa dikenakan ...

Beliau merasa sedih, dan tidak tahu harus berbuat apa karena semua undangan pasti mengenakan pa kaian yang cantik dan serba me wah dipandang mata.

“Wahai cahaya kedua mataku,” kata Baginda Rasulullah. “Pandangan mereka pendek. Mereka tidak meli hat alam makna. Mereka sama sekali tidak bisa melihat selain yang tampak oleh mata.”

Saat beliau, baginda Rasulullah SAW bersabda demikian, kedua ma tanya berkaca–kaca seraya me mandangi wajah putrinya yang tampak begitu bersahaja.


“Wahai belahan hatiku, janganlah kamu bersedih! Jangan pernah kau lupakan bahwasanya pakaian ter baik bagi kita adalah pakaian peng hambaan. Mahkota yang akan kita kenakan adalah ilmu dan ridha. Mu sim semi bisa jadi tampak indah seperti pengantin. Namun, hembu san angin di musim gugur dan mu sim salju yang dingin telah membu atnya pudar. Barang sipa yang men jadikan agama sebagai tujuannya, ia akan melewati dunia ini dan ma suk ke dalam genggaman kuasa illahi sehingga ia lebih indah dan mulia daripada istana dan bintang – bintang di angkasa. Dengan memenuhi undangan ini, kamu dapat memberi pelajaran kepada mereka. Lihat saja nanti!”

Singkat cerita ...

Sayyidatina Fatimah Az-Zahra be rangkat dengan mengenakan ke rudung kesucian dan jilbab kemu liaan akhlaknya.

Fatimah melangkahkan kakinya untuk memenuhi undangan ber sama dengan pesan rahasia yang disabdakan ayahandanya ...

Di tempat berlangsungnya undang an,  kaum wanita Quraisy sibuk me mbicarakan Fatimah Az- Zahra.

“Saya yakin, Fatimah Az-Zahra akan mengenakan pakaian yang satu– satunya ia miliki. Yakni pakaian ya ng lusuh dan penuh dengan tam balan," kata  salah seorang wanita kafir Quraisy yang sibuk menggun jing Sayyidatina Fatimah Az-Zahra.

Para wanita kafir Quraisy yang lain menertawakan hal yang sama yang mereka pikirkan ...

Seketika itu, datanglah seorang wanita yang tampak bak surya yang sedang terbit meneyinari bumi.

Perangainya seperti bidadari dan kedatangannya membuat suasana kembali memiliki nyawa.

Saat duduk, ia menjadi sebuah len tera yang bersinar terang. Saat ia berhenti, indahnya bak cemara ya ng tampak segar di musim salju.

Saat berjalan, seolah semua men jadi bernyawa karenanya ..

Semua kaum wanita kafir Quraisy terpana melihat perempuan terse but. Putri atau istri raja dari mana kira– kira perempuan ini, pikir para kaum wanita kafir Quraisy itu keheranan.

Semuanya dibuat terpana oleh pe rempuan itu. Mereka saling berebut untuk menyambut kedatangan wa nita itu.

Baru setelah perempuan tersebut membuka cadarnya, mereka terce ngang dan kaget, ternyata wanita itu adalah Fatimah Az-Zahra yang baru saja mereka gunjingkan.

Semua perangkap kaum wanita ka fir Quraisy yang telah disiapkan un tuk mengolok–olok Fatimah Az- Zahra, kini berbalik dan mengenai diri mereka sendiri.

Sebagian dari mereka yang masih memiliki rasa hasad dalam hatinya pergi meninggalkan kerumunan.

Sebagian lain menganggap ini ada lah ilmu sihir. Dan sebagian yang lain merasa malu seraya minta ma af kepada Fatimah sambil meme rintahkan panitia untuk segera menghidangkan makanan dan minuman untuk Sayyidatina Fatimah Az-Zahra.

Dari kisah di atas, kita sebagai um at Rasulullah SAW dapat mengam bil banyak hikmah demi kelang su ngan hidup kita.

Di antaranya, kita diajarkan untuk hidup sederhana dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Yakinlah, Allah SWTsangat mencin tai kita. Jangan pernah sekali–kali menyangka yang tidak baik terha dap-Nya, karena apa yang telah Ia berikan terhadap kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Padahal, siapa tahu yang telah Dia  berikan itu adalah suatu yang baik atau sangat baik bagi kita.

"Boleh jadi kamu membenci sesu atu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk ba gimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
(QS Al- Baqarah 216)







_____
husnaalqalam.blogspot.com > 2015/04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar