Selasa, 20 Desember 2016

Ki Saleh (2)



Lepas
Ki Saleh (2)
Edisi Kedua
By  Pak Amin

VI
KEESOKAN malamnya, selepas salat Isya’, Mang Dul, Mang Kur dan Mang Sen sepakat mendatangi ke diaman Eki dan Egi, menindaklanjuti  pengakuan Mang Jaiz yang mengaku sempat melihat sepintas wa jah perampok uangnya di tengah jalan sepulangnya dari berdagang di Pasar Falah adalah Eki dan Egi.
Mereka bertiga sengaja tidak memberitahukan rencana ini pada Ki Saleh, Mang Jaiz dan Mpok Leni.  Se lain karena tidak bakalan mendapat persetujuan dari ketiganya, juga Mang Kur dan dua rekannya ini sudah sebal dan kesal dengan ulah preman pasar yang sudah kelewat batas.
Mang Kur berboncengan dengan Mang Dul, sedangkan Mang Sen sendirian bermotor. Karena Eki dan Egi tidak ada di rumah, mereka pun mencari tahu lewat tetangga dan teman keduanya. Tidak sulit. Karena Eki dan Egi dikenal akrab di tempat tinggalnya sebagai preman gaul.
Hampir satu jam mereka menelusuri kompleks kediaman Eki dan Egi. Sampai akhirnya mereka menemu kan beberapa orang lelaki paruh baya sedang kumpul-kumpul di pos jaga malam paling ujung kompleks. Ada yang merokok, minum kopi, makan pisang rebus, bahkan juga ada yang sekadar duduk-duduk saja. Menyimak obrolan jelang tengah malam.
“Itu mereka Mang Kur! Bisik Mang Sen memperjelas pandangan ke sebelah kanan pos kamling. Dua le laki keluar dari sebuah lorong, bersiap pergi meninggalkan pos yang tak pernah sepi saat malam tiba.
“Tunggulah dulu!” Kata Mang Kur. “Sebaiknya kita berangkat setelah mereka berangkat.”
Lama juga motor bebek itu diengkol. Mulanya Eki. Sampai sepuluh kali mengengkol, mesin motor tak juga mau menyala. Apalagi di-starter.
“Coba aku dulu,” gantian Egi mengengkol motor. Satu kali engkol, motor pun tokcer.
Reeeen … reeeennn … reeeennn …
Piiiiiin … piiiin … piiin …
“Aku,  apa kamu yang bonceng ?”
“Kamu sajalah dulu,” kata Eki, meminta Egi segera menjalankan sepeda motor.
Ketika berbelok ke kanan, Mang Kur, Mang Sen dan Mang Dul melaju dengan kecepatan lambat, menyu sul dari belakang.  Agar tak ketahuan dikuntit dari belakang, mereka berpencar. Mang Dul dan Mang Kur mengambil jalan sebelah kanan, sedangkan Mang Sen memilih  sebelah kiri.
Eki dan Egi, keduanya ketawa ceikikikan setelah ditegur beberapa lelaki seusia mereka, di ujung lorong. Tapi mereka tidak berhenti. Motor tetap melaju diiringi candaan dan sindiran soal kawin, duit dan ke mana malam minggu ini.
Ketika Eki dan Egi singgah sebentar di sebuah warung, Mang Kur dan dua rekannya turut berhenti juga. Agak jauh posisinya. Dekat tempat pembuangan sampah dan parit besar yang airnya tidak mengalir.
“Aduh … pak!” Mang Sen memukul paha dan pipinya.
“Kenapa Mang Sen?” Si penanya mau ketawa tapi ditahan. Sebab, kalau dipaksakan ketawa juga, keberadaan mereka bakal diketahui Eki dan Egi.
“Biasalah Mang Dul, nyamuk malam.” Kata Mang Sen, meraba pipi dan pahanya yang sedikit benjol terkena gigitan nyamuk.
“Baru nyamuk udah kesakitan begitu. Gimana kalau anjing yang gigit elu, Mang.” Sindir Mang Dul.
“Pasti ngaciiiiir …” Sahut Mang Kur.
Ha ha ha ha …
Sssssst …
Eki dan Egi sempat menoleh ke arah persembunyian mereka. Namun keduanya tidak menaruh curiga karena gelap dan mungkin saja suara dari teras rumah yang penghuninya lagi kumpul bareng bersama makan angin.
“Ayooo.!” Gantian Eki yang membonceng.
Mereka kini menuju tempat di mana biasa kumpul jika malam minggu tiba. Mereka membawa sangu be rupa kacang kulit, makanan ringan dan minuman botolan. Hal ini biasa mereka lakukan saat mau kumpul karena ada uang untuk membelinya.
Teman-teman Eki dan Egi sudah pada mengumpul sejak tadi. Melihat keduanya datang, mereka rebutan mengambil  dan membuka sangu yang dikemas dalam kantong plastik hitam besar itu.
“Udah, jangan rebutan gitu ah,” celoteh Eki yang membuka dompetnya, memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada salah seorang teman mereka untuk membeli nasi bungkus dan rokok.
Apa yang mereka lakukan pada malam ini?
Seperti biasa.  Ada yang tidur-tiduran, bermain hape, gaplek, catur dan memetik gitar. Mereka menem pati sebuah rumah kosong dengan pekarangan yang cukup luas.
Di pekarangan yang ditumbuhi pohon mangga dan cermin itu, ada gubuk besar. Di gubuk inilah tempat mereka bermain gaplek dan catur.
Mereka bermain lepas. Gaplek misalnya, sekadar bermain kecuali mereka yang ada duit. Baru mereka taruhan. Kalau lagi bokek, apa yang akan ditaruhkan.
Demikian pula hanya dengan catur. Ada yang sengaja membawa papan catur dari rumah. Gantian ber main sampai tengah malam dan menjelang subuh. Bagi mereka yang suka bernyanyi, gabung bersama rekan-rekan mereka yang hobi dan senang bernyanyi. Lagu apa, mana suka dan sesuai selera. Tentu diiringi petikan gitar dan tetabuhan ember plastik.
Cuma sayangnya, mungkin sekadar kebiasaan, ikut-ikutan dan iseng karena sering diledeki teman-teman yang lain, mereka tak henti ‘kepas kepus’ merokok. Kepulan asap membuat aroma tembakau plus niko tin menebar ke mana-mana. Ditiup angin dan dihisap mereka yang ada di dekat rumah beratapkan gen teng keramik tak jauh dari tempat kongkow-kongkow anak muda itu.
Ironisnya lagi, makin malam, beberapa di antara mereka mulai meminum minuman terlarang. Bir hitam dan sejenisnya, berbotol-botol mereka habiskan. Akibatnya, mereka teler dan dalam kondisi mabuk saat pulang ke rumah. Walaupun tak sampai menimbulkan kegaduhan, ulah mereka ini tentu sangat memba hayakan orang lain.    
Paling tidak warga lain bisa terpengaruh dan ikut-ikutan merokok serta mabuk-mabukan. Apalagi setelah dicoba, ternyata  minuman botolan yang dibeli di warung itu, enak dikecap dan membuat ketagihan un tuk menenggaknya.
“Bagaimana Mang Kur, apa kita tunggu atau langsung …?” Mang Sen mengingatkan karena waktu terus berjalan dan jalanan semakin sepi.
“Menurutmu Mang Dul?” Mang Kur balik bertanya ke Mang Dul. Dia lebih memilih menunggu, cuma sampai kapan. Sampai pagikah?
“Kita tunggulah sebentar lagi,” saran Mang Dul.
“Tapi dimana menunggunya Mang Dul?” Tanya Mang Sen.
“Ya disinilah …”
Mang Sen agak keberatan.  Juga dengan Mang Kur. Pasalnya, di tempat sekarang mereka bersembunyi, gelap dan sepi karena rada jauh dari rumah warga.
“Kalau menurutku kita cari tempat lainlah.” Mang Sen menawarkan sebuah warung dekat bengkel.
“Mang Kur?” Mang Dul setuju jika Mang Kur juga setuju.
“Setuju sih enggak aku,” ujar Mang Kur, “Tapi tak ada pilihan lain selain yuk kita coba …”
Supaya tidak dicurigai, mereka memilih tempat duduk dekat gerobak mie ayam. Mereka pesan mie tiga mangkok dan kopi manis tiga gelas. Gerobak mie ayam itu teryata milik si tukang bengkel. Nyambi jualan biar asap dapur tetap ngebul.
Sambil menunggu pesan mie ayam kelar dan siap saji, Mang Kur  cs menyempatkan diri ngobrol tentang bisnis mie ayam, model, tekwan dan usaha kecil lainnya.
“Apa tidak terganggu dengan ulah anak-anak itu Pak?” Kaget mendapat pertanyaan seperti itum,si pemi lik bengkel ini rada takut dan ragu-ragu untuk menjawabnya.
“Gimana ya Pak?”
“Tapi aman-aman saja kan Pak?” Pancing Mang Kur.                                                                          
“Aman sih aman, Pak. Cuma itulah …” Kata si pemilik bengkel  garuk-garuk kepala.
“Rame y a Pak?” Mang Dul coba menebak.
“Betul sekali Pak. Tapi kami disini , yach pasrah saja,” jelas lelaki berambut keriting itu dengan suara pe lan kuatir didengar Eki dan kawan-kawan yang mulai bernyanyi mempermarak indahnya malam hari ini.
“Apa warga disini sudah mengingatkan mereka Pak?”
“Sudah … Pernah kita kasih tahu. Kasih pengertian sama mereka. Tapi mereka tidak mau terima kayak nya. Mereka marah-marah. Kata mereka, tak ada warga yang mengeluh. Mau mengusir mereka …”
“Ertenya sendiri gimana Pak?”
“Sama juga. Kata beliau, buat sementara ini kita biarkan dululah. Tapi tetap diamati diam-diam dari kejauhan. Nah, setelah mereka berulah dan sampai meresahkan warga, baru diambil tindakan …”
“Apa mereka orang-orang dari sekitar sini Pak?” Tanya Mang Sen, tak sangka sudah dua gelas air kopi dia habiskan.
“Sebagian Pak. Itulah soalnya. Rumah mereka di sini juga,” terang si penjual mie ayam ini ikut ngopi supaya enak dan nyambung ngomongnya.
“Yang sebagian  lagi Pak?” Mang Kur meminta satu gelas air kopi lagi agar terasa hangat badan ini.
“Bukan warga sini Pak,” jawab si pedagang. Menuangkan air di ceret ke gelas. Lalu diaduk, dan gelas beling ukuran kecil itu diberkan kepada pemesannya, Mang Kur.
Tiiing … tiiiing …
“Supaya enak kopinya,” aku Mang Kur saat ditanya Mang Sen kenapa itu gelas ditabuh dengan sendok. Tak biasanya …

VII         
“JALAN-jalan ke dusun kito
Lihat cewek cindo galo
Kalu pengen senang di waktu tuwo
Banyak-banyak makan gulo

Alangke lemak sambal itu
Dijual orang samo tempoyak
Kalu hati senang selalu
Banyak kawan duit banyak

Main-main kito ke ladang
Banyak nian bungo melati
Jangan lupo bujang-bujang
 Sebelum tuwo cepetla bebini

Sungguh elok kota seberang
Banyak nian uwong tepikat
Payu joget kito sekarang
Supayo badan tetapla sehat …”

Karena  Radiman, bapak penjual  mie ayam berjoget, Mang Kur, Mang Dul dan Mang Sen ikut pula berjoget. Tapi tidak lama, karena tembang yang didendangkan anak-anak muda itu berakhir.
“Ingat waktu muda dulu ya Pak,” kata Mang Kur membuka pembicaraan.
“Betul Pak,”  kata Radiman.
“Dulu, waktu masih bujang suka dengan yang namanya orkes kampung. Ikut nyanyi dan berjoget. Tapi sekarang tidak lagi. Sudah tua. Apa kata orang nanti. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi.”
Ha ha ha ha …
Ketawa-ketiwi ini berhenti setelah dua  anak muda pesan mie ayam. Keduanya tidak menaruh curiga se dikit pun pada Mang Kur dan kedua rekannya. Sebab, bagi mereka , ada atau tidak adanya mereka di tempat jajanan mie ayam, tidaklah penting. Karena yang paling penting mereka bisa puas dan lega ber kumpul  bersama.
Sebenarnya Mang Kur ingin menegur dua anak muda itu. Tapi sikap mereka yang dingin dan urak-urakan dengan pakaian sengaja dirobek di bagian dengkul, Mang Kur mengurungkan niatnya.
“Itulah anak muda sekarang Pak,” ucap Radiman setelah dua remaja mie ayam  dagangannya itu kembali ke pelataran rumah kosong.
“Maksudnya sombong begitu Pak?” Mang Sen sekadar menduga-duga saja.
“Bukan cuma itu Pak. Terkadang mereka berani ngutang,” kata Radiman berterus terang.
“Tapi bayar kan Pak?” Mang Kur tak pula kaget mendengarnya. Dimana-mana, yang namanya anak muda, tak jual barang, berani ngutang, kalau lagi bokek.
“Kadang bayar, kadang tidak,” keluh Radiman, pasrah.
“Tapi tidak sampai macam-macam kan dengan bapak?”
“Alhamdulillah tidak, Pak.”
“Syukurlah,” ucap Mang Kur, “Kita pedagang ini hanya berdagang. Dagangan laku kita dapat untung.  Tapi sebaliknya, jika tidak laku, ya kita rugi. Betul kan Pak?”
“Betul Pak. Makanya saya buka bengkel, warung dan mie ayam ini. Supaya apa, supaya kita saling bisa menutupi kerugian. Kalau mie ayam saya kurang laku, kan ada warung. Ruginya di mie yam tertutupi oleh warung yang beroleh sedikit untung …”
“Bagus juga  pemikiran bapak,” puji Mang Sen.
“Belajar dimana sih  bapak?” Tanya Mang ingin tahu.
“Dari buku dan tanya pedagang yang suka berdagang Pak. Biasanya mereka terbiasa dan mau berbagi dengan kita, pedagang yang kecil modal ini,” jelas Radiman.
“Enggak ada rencana buka cabang di lain tempat Pak?” Pancing Mang Kur.
“Rencana sih ada Pak. Tapi tempatnya itu yang belum ada. Murah sewanya, tapi lokasinya jauh dari keramaian. Kadang lokasinya bagus, dekat keramaian. Tapi harga sewanya selangit. Jadi ya terpaksa ditunda dulu keinginan saya itu …”
“Tapi buka usaha di sini lumayan kan Pak?”
“Alhamdulillah. Saya maunya nanti usaha yang disini biarlah anak dan isteri saya yang urus. Kalau rencana itu jadi, saya kan bisa usaha lain.”
“Bapak kayaknya senang berbisnis ya?” Giliran Mang Dul yang bertanya.
“Betul Pak. Saya senang karena orang tua saya dulu kerjanya berdagang. Berdagangnya bukan menetap tapi berpindah-pindah ke tempat yang lain. Kadang berhari-hari kami dagang di kampung yang lain. Ha bis dagangan baru balik. Waktu itu saya masih kecil Pak. Belum tahu apa yang namanya dagang. Seka rang, setelah saya sendiri yang berdagang, baru tahu kenapa orang tua saya dulu mengajak saya berdagang. Mengajar ini itu. Rupanya bermnfaat bagi kemajuan usaha saya …”
“Apa misalnya Pak?” Mang Kur menghisap dalam-dalam rokok nipahnya.
“Misalnya bagaimana membina hubungan. Ayah saya bilang kalau pedagang itu mau sukses, ya banyak-banyaklah berkawan. Tanpa pandang bulu. Tua, muda, laki dan wanita. Pokoknya siapa saja. Kenalkan diri, apa yang didagangkan. Jadi mereka kenal kita seutuhnya. Tidak sepotong-sepotong.”
“Yang lainnya apa Pak?”
“Jujur dan murah. Kalau kita tidak jujur maka kita akan habis. Dagangan kita bakal dijauhi calon pembeli.  Mereka tak mau lagi mendekat karena kita telah khianat. Begitu juga soal harga. Jangan terlalu mahal. Untung sedikit tak jadi apa. Lama-lama juga kan jadi bukit …”
He he he he …
Pembicaraan pun terhenti ketika sekelompok anak muda teman Eki dan Egi kembali mendendangkan tembang bernada gembira …

“Hidup membujang enak
Kemana saja tak ada yang melarang
Katik duit minta ke emak
Ado duit ayo kito besenang-senang

Alangke sedep tekwan itu
Sudah sedep murah pulo
Alangke cantik gadis itu
Kapan ditegur senyum pulo

Kacang dimakan sama gulo
Jangan lupo minum kopi
Kalu kito pengen kayo
Cari bini yang banyak piti

Cindo nian gadis itu
Sudah cindo dio ramah
Supayo kito senang selalu
Rajin bebagi supayo berkah

Alangke dingin malam ini
Minum kopi anget rasonyo
Kalu kito terus mak ini
Pacak saro kalu la tuwo

Kalu ngantuk cepatla tiduk
Bangun gek badan segar
Supayo idup dakdo terantuk
Rajin nonton komedi putar

Bagus nian rumah itu
Sudah tinggi bepagar pulo
Aku sayang adik dari dulu
Mak mano adik dengan kakando

Lemak nian pempek itu
Dimakan beduwo samo  cuko
Duhai adik ngapo tesipu
Nyingok kakak dak becelano

Mulus nian rai budak itu
Kapan bejalan  elok dipandang
Baru kawin belum seminggu
Idak beduwit langsung ditendang

Kalu bedandan jangan lamo
Yang nunggu bakal saro
Kalu nak ketemu cinto lamo
Sering-seringla ngirup cuko

Badan besak kuat makan
Badan kecik tahan lapar
Apo di hati cepat omongkan
Biar kando dak nyasar-nyasar

Nangkap ikan di pinggir sungai
Idak juwaro seluang jadila
Kalu kito bagus perangai
Budak gadis datang tula

Rame-rame makan ubi
Ubi dimakan samo gulo
Ujan turun sedenget lagi
Kami bereja nak balik pulo …”

Tar .. dum .. tar …
Geledek terdengar. Hujan pun turun. Eki dan Egi, bersama anak muda yang lain mendadak membubar kan diri. Ada yang berlari pulang ke rumah. Tapi tak sedikit juga yang berteduh.  Sedangkan Egi dan Eki pulang di tengah guyuran hujan yang turun amat lebat.
Bagaimana dengan Mang Kur cs?
Sudah terlambat. Selain hujan tak kunjung reda, malah semakin lebat. Motor diengkol tak mau nyala.  Akhinya itu motor masuk bengkel. Bukan karena rusak, supaya tidak terkena tumpahan air hujan dari talang yang menyembur ke parit.
Parit dipenuh air, sementara jalanan mulai banjir. Mula-mula sebatas telapak kaki, lama kelamaan se makin meninggi. Sampai ke lutut. Beberapa warga sibuk mengemasi barangnya seperti motor, mobil, kursi dan peralatan memasak  karena kuatir  air bakal masuk  ke dalam rumah mereka.

VIII  
HA HA HA … Hi hi hi … Hu hu hu …
Hek .. hek … hek …
Sampai batuk-batuk Mang Jaiz mendengar cerita Mang Dul, Mang Kur dan Mang Sen. Saking tak bisa me nahan ketawanya, air minum di mulut Mang Jaiz sempat tumpah ke lantai, batuk-batuk sebentar, lalu ketawa lagi.
“Makanya kalau ada apa-apa ngomong dululah sama kita,” kata Mang Jaiz, mempersilakan ketiga rekan nya minum air kopi  manis dan goreng ubi serta pisang.
“Ya, kalau diomongi sama kamu, pasti enggak bakalan kamu izinkan, Mang Jaiz. Lagi pula tak tega kami lihat kamu kepala diperban sementara yang hendak kami kerjakan dikasih tahu. Bisa-bisa nambah sakit kamu,” jelas Mang Dul.
“Betul kata Mang Dul itu,” sahut Mang Kur. Bukan apa-apa Iz. Maksud kita baik. Mau kasih pelajaran sa ma mereka. Biar mereka tak semena-mena. Syukur-syukur nantinya mereka insyaf dan menjadi orang baik. Betul enggak Mang Sen?”
“Betul sekali. Sebab, yang saya kuatirkan, jika mereka dibiarkan akan terus menjadi-jadi. Bukan tidak mungkin akan memakan korban lagi. Kemarin-kemarin kamu, Iz. Besok siapa tahu giliran kami bertiga,” kata Mang Sen. Dia berharap tidak jatuh korban lagi.
Apa mungkin?
“Mungkin saja,” ucap Ki Saleh. Tak sempat mengetuk pintu lagi karena pintu kayu berlapis triplek itu sudah terbuka lebar.
“Ai kamu Ki. Kami cari kemana-mana kamu tak ada,” celoteh Mang Dul.
“Memangnya Ki sembunyi dimana sih?” Tanya Mang Kur. Kerongkongan terasa kering, ia tak melanjut kan ucapannya, tapi cepat-cepat menyeruput kopi dengan nikmatnya.
“Habis ngantar pulang orang rumah. Aku beli obat, terus pulang lagi ke rumah. Aku lihat kalian bertiga tadi di jalanan simpang lima. Sempat berhenti beli jeruk manis kan?”
“Wah-wah .. betul sekali Ki,” jawab Mang Sen. “Tapi kenapa kamu enggak panggil kami. Biar kita sama-sama ke rumahnya Mang Jaiz.”
“Maunya sih begitu. Tapi aku kan buru-buru pulangnya,” jelas Ki Saleh.
Perbincangan terhenti sejenak ketika isteri Mang Jaiz muncul dari dapur ke ruang tamu membawa secangkir kopi hangat berikut petekon keramik berisi air kopi.
“Silakan Ki diminum air kopinya. Mumpung lagi hangat. Maaf cuma air doang dan sedikit pisang,” kata isteri Mang Jaiz ramah.
“Ini sudah lebih dari cukup Mbakyu,” kata Ki Saleh, mencicipi gorengan pisang. Terasa nikmat dan ha ngat di kerongkongan.
“Bagaimana Ki, enak kan?”
“Enak sekali Mang Jaiz,” aku Ki Saleh.
“Airnya juga sekalian Ki. Diminum sampai habis,” tawar wanita berparas manis itu sebelum berlalu pergi menuju dapur.
Ha ha ha ha …
“Pelan-pelan ya Ki. Bisa hangus lidah kamu,” seloroh Mang Dul dan Mang Kur.
“Bisa enggak punya bibir lagi kamu Ki nantinya,” timpal Mang Sen. Ikut menyeruput kopi dan pisang goreng.
He he he he …
Sesaat dalam lamunan masing-masing.
“Ki, bagaimana menurut kamu …?” Mang Sen membuka pembicaraan perihal rencana memberi pelajaran pada Eki dan Egi, anak buah preman Sakul.
“Begini Ki,” potong Mang Dul. “Kita kan sudah tahu pelakunya itu adalah Eki dan Egi. Nah, semalam kami membuntuti mereka. Dapat. Tapi setelah kami tunggu .. eeeh kecolongan Ki. Pas hujan lebat, geledek menggelegar, mereka pada bubar.”
“Itu artinya perbuatan kalian itu tak baik,” jelas Ki Saleh.
“Tak baik bagaimana Ki?” Mang Dul terheran-heran. Bukannya didukung .. eee malah dibilang tak elok.
“Kenapa tak elok? Karena perbuatan kalian itu dikatagorikan main hakim sendiri. Walaupun mereka berdua itu benar telah merampok uang dan memukul Mang Jaiz, tetap saja kalian yang salah jika main hakim sendiri.”
“Apalagi sering terjadi, main hakim sendiri  itu melebihi tindakan tahap pertama. Maksudku, mereka berdua kan merampok dan memukul kepala Mang Jaiz, lantas kalian balas dengan membabak belur kannya, malah ditujah juga sampai tak sadarkan diri karena mengeluarkan banyak darah …”
“Tapi Ki itu tidak seberapa. Sebab Ki, ini terus terang, uang yang dirampok itu tidak banyak. Tapi Ki Saleh kan tahu bagaimana Mang Jaiz memperoleh uang itu dengan bersusah payah. Itu bukan uang untung Ki. Itu uang dari jual buah-buahan. Uang modal. Hilang semuanya Ki. Coba Ki bayangkan, itu uang sakit. Kenapa enggak sakit. Modal  hilang, untung pun melayang, apes deh.” Terang Mang Dul berapi-api.
“Kami Ki bukan bermaksud membela Mang Jaiz, rekan kita ini. Tapi Ki, ingin memberitahu orang-orang bahwa perbuatan yang dilakukan Eki dan Egi itu tak elok dan tak patut dicontoh. Nah, kita ingi memberi pelajaran kepada dua preman itu bahwa apa yang telah mereka lakukan pada Mang Jaiz sangat salah dan tidak manusiawi. Selain nasihat kita juga ingin mereka mengakui kesalahan dan meminta maaf. Itu saja Ki. Tidak ada niat dari kami untuk menghabisi mereka. Kami tahu itu dosa Ki Saleh,” jelas Mang Sen.
“Syukurlah kalau kalian sudah tahu itu dosa. Tidak baik tetaplah tidak baik. Semuanya ada konsekuensi nya. Jika kalian tidak apa-apakan mereka, maka kalian dianggap sukses menyadarkan orang yang salah. Tapi jika kalian melakukan apa-apa,  risikonya tidak ringan. Kalian akan ditahan oleh pihak berwajib karena telah melakukan kesalahan,” terang Ki Saleh.
“Penjara Ki?” Mang Sen menduga-duga.
“Betul. Walaupun kalian lari, tetap akan dicari sampai dapat,” terang Ki Saleh, menuangkan air kopi dari petekon ke gelas plastik berwarna hijau.
“Tapi Ki,” kata Mang Dul, apa mereka kita biarkan saja sekarang?”
“Tentu saja tidak,” jawab Ki Saleh. Dia mengernyitkan dahi sejenak, seolah ada sesuatu yang ia pikirkan matang.
“Saya punya usul Ki,” potong Mang Sen mengangkat jari telunjuk tinggi-tinggi. Jari telunjuk itu diturun kan paksa oleh Mang Dul, Mang Sen kesakitan.
“Sakit  Mang Dul ah,” ucap Mang Sen, mengusap-usap jari telunjuknya yang masih terasa nyeri bekas tarikan tangan Mang Dul.
“Apa usulnya Mang Sen?”
Mang Sen meniup-niup jari telunjuknya, lalu berkata … “Bagaimana kalau kita lapor polisi saja?”
“Jangan Ki.” Mang Dul tak setuju karena akan buang-buang waktu. Takutnya, apa yang mereka laporkan dianggap tidak benar dan mengada-ada oleh terlapor.
“Mang Dul punya usulan?”
“Ada Ki,” sahut Mang Dul. “Bagaimana kalau kita lapor saja ke kepala keamanan pasar. Mana tahu bisa terang dan selesai masalahnya. Setuju tidak teman-teman?”
Ada setuju, ada juga tidak. Karena yang tidak setuju cuma Mang Sen, yang setuju tiga orang, sehingga skornya menjadi 3-1, berarti dianggap setuju.
“Mang Sen, masih tetap tidak setuju?” Tanya Ki Saleh.
“Bukan tidak setuju Ki. Cuma aku ragu dengan keberanian beliau mengambil tindakan. Maksudku begini Ki. Sekarang kita lapor pada Pak Kepala Keamanan Pasar. Nah, maksud dari kita melapor adalah agar ya ng terlapor bisa diambil tindakan tegas. Bila perlu dipecat saja mereka. Dibubabarkan para penagih uang keamanan itu. Ditertibkan. Jadi uang yang ditagih resmi dan hanya satu kali. Apakah mau Pak Ketua kita itu bertindak tegas seperti itu?”
“Eeeeem … “ Ki Saleh berpikir sebentar, lalu ia berkata … “Sekarang terpulang kepada Mang Jaiz sendiri. Aku tanya Mang Jaiz, sekiranya tidak diambil tindakan, hanya saling memaafkan, apa mamang tidak ber keberatan?”
Mang Jaiz batuk-batuk kecil.
“Kalau aku tak keberatan Ki.” Sebab, kata Mang Dul, yang penting Pak Ketua  tahu apa keinginan kita. Ki ta ingin kesalahan yang dilakukan Eki dan Egi tidak sampai terulang lagi. Itu saja.”
“Mang Kur?”
“Aku sangat setuju dengan omongan Mang Dul barusan. Cuma kita minta juga ada penertiban menye luruh. Kita dorong Pak Kepala Pasar membenahi pasar dari segi keamanan pasar. Untuk itu, tak ada sa lahnya jika nanti bukan kita saja yang menghadap beliau. Tapi juga pedagang lain. Agar mereka tahu bagaimana kondisi Pasar Falah sebenarnya.”
“Mang Sen?”
“Sedikit aku tambahkan. Jika sekiranya nanti Pak Kepala Keamanan Pasar mengembalikan kepada kita penyelesaiannya, maka sebaiknya kita terima saja dengan syarat beliau mendampingi dan menyaksikan nya …”
“Mang Jaiz sendiri?”
“Sebaiknya kita habisi saja dulu gorengan ini Ki, biar Mang Jaiz berpikir dulu …” Saran Mang Dul, memin ta ketiga rekannya menyikat habis gorengan ubi dan pisang.
Kreseeek ..
Reseeek …
Tiiing … 
Sekejap tak bersisa lagi. Piring seng yang semula dipenuhi gorengan ubi dan pisang, kini kosong kembali.  Karena harus berebutan mengambil gorengan , ada yang sampai keselek, lalu buru-buru minum. Juga cegugukan, terbatuk-batuk, bahkan ada yang cuma melongo tak kebagian gorengan lagi.
Siapa dia?
Dialah Mang Jaiz.

IX
PERTEMUAN dengan kepala keamanan pasar, Sakil berlangsung lancar dan disambut suka cita oleh para pedagang pasar, khususnya Mang Jaiz. Diperoleh kesepakatan para preman atau tukang tagih uang keamanan pasar harus menggunakan karcis dan hanya sekali dalam sehari.
Namun demikian, pedagang yang punya kelebihan uang, dipersilakan memasukkannya di celengan pa sar yang telah disediakan.  Uang sumbangan sukarela itu diperuntukkan bagi kebersihan pasar atau apa saja  yang berkaitan dengan keamanan, kerapihan dan kenyamanan pasar.
Pertemuan itu juga menyepakati bahwa setiap pedagang tidak dipebolehkan mempermainkan harga jual kepada pembeli. Sebaliknya harus seragam dan ini berlaku bagi semua pedagang di Pasar Falah, baik yang menempati  lapak, kios maupun pertokoan.
Jadi sejak pertemuan ini tidak ada lagi pedagang yang seenaknya menetapkan harga. Jika ada maka pem beli  bisa melaporkan kejadian yang ditemukan itu ke kepala keamanan pasar atau pengelola pasar un tuk secepatnya ditindak lanjuti. Bila perlu, jika masih ada pedagang yang membandel, dipersilakan pergi dan tidak boleh lagi berjualan di Pasar Falah dan sekitarnya.
Pedagang Pasar Falah boleh membentuk koperasi bersama. Tujuan dari pembentukan koperai ini adalah untuk kesejahteraan para pedagang itu sendiri. Koperasi bisa dijadikan tempat meminjam dan me nyim pan serta pada Hari Raya Idul Fitri misalnya, semua pedagang mendapat jatah bonus lebaran berupa sembako, uang dan sejenisnya.
Selain koperasi, setiap pedagang punya hak dan kewajiban untuk menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan pasar. Keluhan yang ada, walau kecil dan tidak seberapa besar gaungnya, dipersilakan me nyampaikannya ke pengelola pasar. Keluhan itu segera ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan preseden yang kurang baik di kemudian hari.
Sebelum mengakhiri pertemuan itu, Pak Sakil mengingatkan para preman untuk tetap diperbolehkan berkiprah di Pasar Falah secara legal. Pungutan-pungutan yang tak resmi tak boleh ada dan terjadi lagi.
“Silakan kalian tetap berada di sini. Tapi jangan sampai meresahkan dan mengganggu orang lain, baik itu pembeli maupun pedagang,” jelas Pak Sakil.
“Tapi Pak, bagaimana kami makan dan minum kalau jatah kami diambil?” Tanya Bos Sakul.
“Tak ada jatah kalian yang diambil. Selama ini kalian telah melakukan kesalahan besar dengan memu ngut uang siluman kepada para pedagang. Kalian mengerti tidak dengan omongan saya ini?”
“Budek Pak,” seloroh para pedagang ketawa lebar.
“Kami mengerti Pak.  Cuma kerjaan kami nanti apa ya Pak. Ini tidak boleh, itu dilarang. Habis deh lokak kami,” keluh Yanto.
“Makanya cari kerjaan sono. Jangan mau enaknya saja, ya enggak kawan-kawan?” Seorang pedagang tahu mengangkat kedua tangannya. Dia ingin sesama penjual tahu bernyanyi, sayang tidak diperboleh kan Pak Sakil.
“Saya punya usul Pak Sakil,” kata Ki Saleh menengahi persoalan yang bila tidak segera diatasi akan me nimbulkan hal-hal tak terduga nantinya.
“Silakan Ki.”
“Saya punya usul begini. Tadi sudah dijelaskan abang-abang kita ini. Kalau dulu dapat uang dengan cara menagih, sekarang tidak lagi. Saya usul bagaimana kalau mereka ini diajak saja berdagang.”
“Setujuuu.” Spontan pedagang berteriak.
“Biar mereka tahu bagaimana susahnya mencari uang. Jangan mau gampangnya saja,” celetuk  pedagang berambut keriting.
“Enggak mau Pak Sakil,” sahut Eki.

Ha ha ha ha …
“Ketahuan … mau enaknya saja,” teriak pedagang kerupuk kempelang ikan betook.
“Kenapa Eki tak mau?” Pak Sakil bertanya, walau sebelumnya dia sudah menduga tak bakalan mau para preman diajak berdagang. Sebab, kebanyakan dari mereka pilih yan serba gampang dan cepat dapat duit.
“Tak punya bakat Pak,” aku Eki, sedikit gugup karena terus menerus diolok-oloki pedagang.
“Wuuuu … alesan. Bilang aja .. mau enak … makan enak dan duit banyak.” Teriak pedagang yang biasa mangkal di depan Pasar Falah.
“Lu bilang preman. Harusnya kuat, tahan banting lu. Bukan kayak anak kecil. Sebentar-sebentar menge luh dan sedikit-sedikit buntu bilangnya.” Sindir pedagang berpantat teos.
“Kalau tak punya bakat, rasanya sebagian besar pedagang Pasar Falah ini tidak berbakat. Betul tidak bapak-bapak?”
“Betuuuuuuul …” Jawab pedagang manisan.
“Yang ada itu tekad dan kemauan.  Percuma juga ada bakat kalau tak ada tekad dan kemauan. Pemalas. Maunya serba enak,” jelas Pak Sakil.
“Mungkin kita dengar dulu. Maunya saudara Eki ini apa.” Ki Saleh ingin Eki dan rekan preman lainnya mau berterus terang.  Terbuka dan maunya apa.
“Kami ingin seperti yang dulu Pak Sakil dan Ki Saleh,” jelas Eki yang diamini Bos Sakul, Yanto dan Raffi.
Haaaaa …
Pada bengong yang hadir.
Pak Sakil kemudian berdiskusi sebentar dengan Ki Saleh dan beberapa petugas pasar. Sementara Bos Sakul harap-harap cemas dengan mata pencaharian mereka, para pedagang beragam tanggapan. Ke banyakan dari mereka tak ambil pusing dan mengharapkan pertemuan segera diakhiri karena telah me nyita banyak waktu, pikiran dan usaha mereka yang setengah hari digunakan untuk  duduk di kursi  dan lesehan mendengar keluhan, keinginan dan solusi.
“Baiklah saudara-saudara sekalian,” kata Pak Sakil, “Kami menawarkan kepada saudara Sakul dan ka wan-kawan agar mengelola parkir dan ikut mengurusi keamanan pasar. Setujukah saudara-saudara dengan tawaran kami ini?”
“Setuju banget …”
“Setuju dong …”
“Setuju syarat …”
“Nah, nah pakai setuju syarat pula. Apa maksudnya?”
“Setuju, tapi syaratnya tidak mengganggu kami lagi,” kata pedagang manisan dan serba gorengan.
“Kami kembalikan pada saudara Sakul dan kawan-kawan. Bagaimana? Diterimakah tawaran kami?” Tanya Pak Sakil yang mulai kegerahan.
Keempat preman  ini mengangguk senang.
“Setuju dengan syarat yang diajukan tadi?”
“Setuju Pak Sakil,” jawab mereka serempak.
Jelang Magrib, pertemuan itu berakhir. Namun keesokan harinya, jelang makan siang, terjadi keributan di depan pasar. Orang pada berkumpul. Kenapa? Salah seorang pengemudi motor yang memarkirkan motornya di tempat parkir tak mau membayar ongkos parkir.
“Kita sukarela saja Pak. Andaikata bapak tak punya uang tak apa-apa . Tak usah bayar,” kata Yanto men coba bersikap ramah.
“Saya bukannya tak punya uang. Tapi saya tak mau bayar parkirnya. Mengerti?”
“Mengerti Pak.”
Praaak …
Sebuah sepeda motor yang baru masuk pasar menabrak motor pria yang ogah bayar ongkos parkir. Dia mencak-mencak. Terjadi keributan. Adu mulut dan saling ejek.
“Lajukela …”
“Lanjakkela …”
  “Kelepakkela …”
Karena tersulut emosi dari orang-orang di sekitar pasar, dua lelaki paruh baya berbadan lumayan kekar itu, akhirnya berkelahi. Sama-sama kena. Muka, dada dan perut.
Tapi untunglah anak buah Pak Sakil dan Bos Sakul segera melerai.
“Sabar Pak. Sabar,” ucap Ki Saleh yang datang kemudian setelah dilapori para pedagang.
“Dia duluan Pak,” kata lelaki bertahi lalat di dagu dengan tangan masih mengepal  hendak memukul.
“Dia duluan Pak,” sanggah lelaki besar pantat yang nyaris baku hantam dengan anak buah Bos Sakul barusan.
“Dia Pak. Sudah tahu orang mau lewat, motornya sengaja menghadang jalan agar orang tak bisa lewat. Apa ini jalan nenek moyang lu haaa?”
“Kalau iya kenapa?”
“Itu artinya nenek moyang lu gila.”
“Apa kamu bilang?”
“Gilaaa …”
Drug .. bak .. buk …
Belum sempat melontakan pukulan balasan, si pantat besar terjatuh ditimpa motor karena pelintiran tangan Ki Saleh yang berhasil menahan pukulan yang hendak dilayangkan.
Hua ha ha ha …
“Kualat lu … pantat besar, “ejek beberapa lelaki tukang ojek yang biasa nongkrong di Pasar Falah.

X         
KETIKA pulang dari Pasar Falah, Ki Saleh sudah dihadang si pantat besar  di simpang tiga tugu rakyat. Tanpa sengaja, Mang Jaiz yang pulang belakangan sempat  melihat rekannya sesama pedagang itu memarkirkan motornya di pinggir jalan.
Dengan cepat Mang Jaiz mendorong sepedanya, lalu berhenti  di dekat sebuah gubuk kosong tak jauh dari rumah warga. Ia amati dari jauh, sekitar tiga puluh meter. Ki Saleh tampak mendekati si pantat besar yang sempat mengamuk di Pasar Falah tadi.
“Kamu merasa jagoan ya?” Si pantat besar mengangkat dagunya dengan ekspresi mengejek.
“Tidak,” jawab Ki Saleh tetap tenang.
“Lantas kenapa ikut-ikutan membela si pengendara motor itu?”
“Tidak bela-bela Pak. Saya hanya berusaha menyapih saja. Sebab, kalau tidak saya sapih, kalau terjadi apa-apa pada kalian, kan ikut susah juga saya,” terang Ki Saleh.
“Ah alasan … Kalau cuma mau menyapih, kenapa kamu pelintir-pelintir tangan saya. Kan cukup dengan ditegur misalnya?”
“Kalau tidak saya tahan lalu dipelintir maka si pengendara motor akan terkena pukulan bapak. Bapak kan ingin memukulnya. Masa saya diamkan saja.”
“Ya cukup ditahan saja. Jadi saya tidak sampai jatuh dan diketawai  banyak orang. Saya malu Pak.  Harus dikemanakan muk saya yang ganteng ini …”
“Lalu maksud bapak apa?”
“Saya minta kamu meminta maaf,” kata si pantat besar.
“Kalau tak mau?”
“Akan saya hajar kamu,” ancam si pantat besar, bersiap hendak memukul Ki Saleh.
Hiyaaat …
Husyaaa …
Satu dua pukulan dilepaskan si pantat besar, tidak ada yang mengena.  Ki Saleh tidak menahan, apalagi membalas pukulan itu. Dia hanya menghindar dan setiap kali pukulan yang dilayangkan.  Merasa diper mainkan,  lawan  melepaskan tendangan dan pukulan secara membabi buta.
Siyuuuu t…
Gedebug …
Huuuih .. hik …
Mang Jaiz ketawa geli. Agar tak ketahuan mengintip, dia tutup mukanya dengan telapak tangan. Dia merasa geli karena si pantat besar jatuh ke tanah.
Kaki kanannya menginjjak kulit pisang ambon saat menendang dengan cara memutar badan. Hilang ke seimbangan dan jatuh. Untung tidak kepala yang kena tanah, hanya punggung dan pantat saja. Jika ke pala sampai membentur tanah, si pantat besar bisa koma dibuatnya.
“Anjing kamu!” Umpat si pantat besar setelah bersusah payah berdiri dan siap meladeni Ki Saleh.
Ki Saleh tidak menanggapi umpatan itu. Dia cuma meminta lawannya itu menyadari kesalahannya dan melupakan kejadian tadi siang.
Hiyaaat …
Dia arahkan pukulan ke dada, dagu, muka dan perut. Ki Saleh hanya senyum-senyum sendiri melihat  lawannya ngotot unjuk kebolehan.
Berdiri di depan Ki Saleh, dia menggerakkan kedua tangannnya silih berganti ke depan, kanan, kiri, atas dan bawah. Juga dengan kedua kakinya. Diangkat bergantian ke atas. Lalu bergerak ke kanan dan kiri. Maju serta mundur lagi beberapa langkah.
Husyaaa …
Husyaaa …
Hiyaaat ..
Praktis Ki Saleh cuma menonton. Dia hanya diam menyaksikan si pantat besar pamer ilmu silat. Mang Jaiz hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ingin dia mendekati Ki Saleh. Tapi keinginan itu ia tunda.
Karena ia ingin melihat kelanjutan pertarungan antara Ki Saleh dan si pantat besar. Hampir lima menit tak ada juga perkelahian. Ki Saleh masih berdiri mematung sedangkan lawannya masih asyik dengan pamer  kemamuannya memainkan jurus silat.
Hiyaaat …
Teriakan Ki Saleh membuat lawannya makin bersemangat pamer ilmu silat. Kalau tadi dia lebih banyak berdiri, jongkok, maju dan mundur, lalu bergerak ke kiri dan kanan. Kali ini dia sudah melompat-lompat dan melayangkan pukulan ke depan dan belakang.
Husyuuu …
Si pantat besar koprol, berguling-gulinagan ke tanah sambil melepaskan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Beberapa kali ia memutar lehernya sampai ia berdiri nyaris jatuh sempoyongan.
“Kampreeet. Kamu ngerjain saya haaa …” Umpat si pantat besar.
Kali ini ketawanya Mang Jaiz tak bisa ditahan lagi.  Ki Saleh dan lawannya mendengarnya. Ki Saleh tahu itu suara rekannya sesama pedagang.  Sebaliknya  si pantat besar, karena merasa diintip, gemas dan ma rah besar.
“Sudah belum?” Tanya Ki Saleh, kesal dari tadi lawannya hanya pamer jurus silat saja.
“Sudah apa?”
“Katanya mau pukul aku. Mana?” Tantang Ki Saleh.
“Oh iya. Lupa aku.”  Lawannya menggaruk-garuk kepala. Ia sampai lupa harus melanjutkan duel dengan Ki  Saleh.
“Ayo. Seranglah aku …!”
Sambil berteriak … hiyaaaa …, si pantat besar melepaskan tendangan ke depan, kiri dan kanan. Namun, walau tendangan itu cepat, dengan cepat pula Ki Saleh menangkisnya sambil mendaratkan beberapa pukulan balasan.
Saat  melepaskan tendangan kesepuluh, lawan menjerit kesakitan karena telapak kakinya dipukul Ki Saleh dengan dua jari.
Preeek …
Jatuh berguling-gulingan di tanah. Ia duduk sambil menahan rasa sakit di telapak kakinya. Mang Jaiz iba melihatnya.  Dia akhirnya memberanikan diri mendekati Ki Saleh.
“Sebaiknya Mas pulang saja. Percuma melawan beliau ini. Setan saja takut sama dia. Apalagi manusia seperti kamu Mas,” sindir Mang Jaiz.
“Bangsat. Menggurui aku pula. Memangnya kamu itu siapa?” Si pantat besar berdiri sembari meman dang tajam Mang Jaiz.
“Aku adalah manusia, Mas. Kerjaku berdagang buah-buahan di Pasar Falah,” ujar Mang Jaiz terus terang.
“Aku sudah tahu itu. Tapi kamu itu siapa. Kepandaianmu apa. Tunjukkan!”
“Okeee …”
Mang Jaiz mengeluarkan  kertas koran. Lalu dia bentangkan di atas tanah. Kemudian dia keluarkan dari dalam tas  beberapa buah jeruk, apel dan rambutan. Dia jejerkan rapi di atas bentangan kertas yang masih anyar itu.
“Ayo bapak ibu. Saya jual jaruk. Rasanya manis. Harganya lima ribu saja satu kilo. Yang ini apel. Cukup ba yar 30 ribu saja, dan ini rambutan.  Dijamin ngelotok. Sekilo hanya 30 ribu perak. Kalau bapak ibu mau beli semuanya saya kasih murah saja. Jeruk sekilo, apel sekilo dan rambutan sekilo, cukup bayar 45 ribu saja. Murah kan bapak ibu …” Teriak Mang Jaiz, menjajakan dagangannya.
“Teruskan Mang,” pinta Ki Saleh.
“Berhutang boleh, tukar tambah boleh, dan tukar barang juga boleh. Malas bawa, kami antar ke alamat. Tak percaya ini manis, boleh dicicipi gratis. Ditanggung lezat dan nikmat. Ini jeruk, ini apel dan ini rambu tan, langsung diambil dari batangnya. Coba bapak ibu tengok. Rambutan ini masih ada sisa-sisa ranti ng ya. Kulitnya merah. Ayo bapak dan ibu. Mampirlah. Belilah walau sedikit. Jangan pelit, kan orang pelit akan selalu sakit …”
Plak  pak  plak  pak …
Ki Saleh bertepuk tangan. Sedangkan si pantat besar cuma cengar-cengir saja.
“Mana tepuk tangannya Mas?”
“Enggak ada,” jawab si pantat besar mengalihkan pandangannya ke Ki Saleh.
“Masih mau duelnya?”
“Mau, tapi …”
“Takut ya Mas?” Pancing Mang Jaiz.
Si  pantat besar menggelengkan kepala.
“Aku mau pulang bapak-bapak sekalian. Aku capek,” kata si pantat besar dengan raut muka kecewa.
Dia hidupkan mesin motornya.
“Aku pulang dulu bapak-bapak ya … Daaagh!”
Ki Saleh lega. Ternyata si pantat besar cepat-cepat menyadari kekeliruannya karena telah bersikap tidak santun dan membuat orang lain terganggu aktivitasnya. Pedagang terusik, pembeli  takut dan tukang parkir bisa-bisa sepi ‘order.’
Begitu juga halnya petugas pasar. Bikin pusing kepala mereka. Sudah pusing mengurusi tetek bengek pasar, harus ditambah lagi dengan ulah tak karuan si pantat besar.
“Pantatnya saja yang besar ya Ki. Nyalinya kecil kayak tikus curut …”
Ha ha ha ha …
 
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar