Nasihat Hati
Keutaman Menunaikan
Salat Dhuha
Oleh Aminuddin
SHALAT Dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan ketika
matahari setinggi tombak, atau kira-kira pukul 08.00-09.00 sampai tergelincir
matahari. Boleh dikerjakan dua rakaat, empat dan enam rakaat serta de lapan dan
dua belas rakaat.” (Ust. Labib MZ dan Ust. Maftuh Ahnan; Tata Cara Shalat
Lengkap; 2002).
Shalat Dhuha termasuk shalat sunnah muaqqad, yakni shalat
sunnah yang sangat dianjurkan untuk me laksanakannya. Dalam kitab Hasyiah al-Bajuri,
dijelaskan bahwasanya ada beberapa shalat sunnah yang termasuk shalat sunnah
muaqqad, di antaranya shalat sunnah malam (shalatul Lail), shalat sunnah Dhuha
dan shalat sunnahTarawih.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dari Abu Hurairah ra, katanya, telah berpesan Rasulullah
SAW kepadaku tiga macam. Pertama, puasa tiga hari tiap-tiap bulan, kedua,
shalat sunat Dhuha dua rakaat dan ketiga, salat witir sebelum tidur.” (HR
Bukhari dan Muslim).
Zaid bin Aslam dari Umar ra berkata kepada Abu Dzaar:
Nasihatilah aku wahai Ammi. Abu Dzar ra berka ta: Saya telah minta kepada Nabi
SAW apa yang anda minta ini. Maka beliau
pun bersabda: “Siapa yang sembah yang Dhuha dua rakaat tidak tercatat pada
golongan orang-orang yang lupa, dan siapa yang sem bahyang Dhuha empat rakaat
termasuk orang abid (ahli ibadah), siapa yang sembahyang enam rakaat tidak
terke na dosa pada hari itu, dan siapa yang sembahyang Dhuha delapan rakaat
dibangunkannya untuknya ru mah di dalam surga.”
Abu Hurairah ra berkata, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya di
surga itu ada pintu yang bernama Ba budh Dhuha, maka bila hari kiamat ada
seruan: “Dimanakah orang yang selalu tetap sembahyang Dhuha, inilah pintumu.
Maka silakan masuk ke dalamnya.”
“Barangsiapa melakukan salat Fajar (Subuh), kemudian tetap
duduk di tempat shalatnya sambil berzikir hingga matahari terbit, dan kemudian
ia melaksanakan salat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah SWT mengharamkan
api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (HR Baihaqi).
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman
dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-bu ahan dalam
surga-surga itu. Mereka mengatakan: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami
dahulu’. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada
isteri-steri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah 25).
“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan telah
bersuci untuk melaksanakan salat Dhuha, maka pahalanya seperti seorang yang menunaikan ibadah haji.
Barangsiapa yang keluar untuk melaksa nakan salat Dhuha, maka pahalanya seperti
orang yang menunaikan ibadah umrah.” (Shahih At-Targhib 673).
“Barangsiapa mengerjakan salat Fajar berjamaah, kemudian
(seusai) duduk mengingat Allah SWT hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua
rakaat (Dhuha), maka ia ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah;
sempurna, sempurna, sempurna.” (Shahih Al-Jami’ 6346).
“Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena Aku pada awal
siang (salat Dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan) mu sampai sore hari.” (HR
Tirmidzi).
Para alim ulama dan para auliya sangatlah menjaga shala
Dhuha mereka. Imam Syafi’I misalnya, pernah berkata: “Tidak ada alasan bagi
seorang mukmin untuk tidak menunaikan salat Dhuha.”
Salat Dhuha yang kita lakukan bukanlah sarana untuk “menyuap”
Allah SWT, tetapi murni pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya, merupakan ungkapan
rasa syukur kita terhadap-Nya, atas
segala kasih sayang yang telah Ia berikan dan limpahkan.
Andaikata Allah SWT berkenan melimpahkan rezeki-Nya, maka
itu akan menjadi tambahan modal bagi kita untuk lebih meningkatkan ibadah
kepada Dia.
Syukur merupakan bukti kita memang memerlukan pertolongan dari
Allah SWT, dan mengakui bahwa ti da Dzat yang patut dimintai tolong selain Dia.
Oleh sebab itu, bersyukurlah kepada-Nya lewat
seluruh ibadah kita, tak terkecuali shalat Dhuha.
Imam Bukhari dan Imam Muslim serta imam lainnya mengetengahkan
sebuah hadist yang diriwayatkan oleh
Jundab. Ia menceritakan Nabi SAW pernah mengalami sakit. Karena sakit, ia tidak menunaikan sha lat
malam selama satu atau dua malam.
Kemudian datanglah kepada Rasulullah SAW seorang wanita
seraya berkata:“Hai Muhammad! Aku tidak berpendapat lain kecuali aku yakin
bahwasanya setanmu itu telah meninggalkanmu.”
Allah SWT kemudian menurunkan firman-Nya:
“Demi waktu Dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi.
Rabbmu tiada meninggalkanmu dan tidak (pula) benci kepadamu.” (QS Adh-Dhuhaa
1-3).
Imam Sa’id bin Manshur dan Imam Faryabi, ketika menjelaskan
asbabun nuzul surah Add-Dhuna ini, me riwayatkan pula sebuah hadiist dari
Jundab yang menceritakan bahwa sudah cukup lama malaikat Jibril tidak muncul di
hadapan Rasulullah SAW.
Mengetahui hal ini, maka orang-orang musyrik memperolok-olok
Rasulullah SAW dengan perkataan : “Muhammad telah ditinggalkan.”
Kemudian turunlah surah Adh-Dhuha ini sebagai jawaban dan
sangkalan atas ejekan kaum kafir Quraisy tersebut.
Muhammad Abduh mengatakan bahwa sumpah dengan waktu Dhuha
dimaksudkan untuk menunjukkan arti
penting dan besarnya kadar kenikmatan di dalamnya. Apalagi waktu Dhuha
ini digandengkan den gan penyebutan waktu sepertiga malam. Bukankah waktu sepertiga malam sudah tidak diragukan lagi keutamaannya.
Artinya, pada saat matahari naik di pagi hari atau waktu
Dhuha dan pada saat sunyinya malam, sepertiga malam, ada rahasia penting
tentang nikmat Allah SWT di dalamnya.
Para ahli tafsir sepakat bahwa asbabun nuzul surah Dhuha
adalah keterlambatan turunnya wahyu kepa da Rasulullah SAW. Keadaan ini
dirasakan sangat berat oleh Nabi SAW. Apalagi ditambah dengan ejekan para kafir
Quraisy yang mengatakan beliau telah ditinggalkan oleh Tuhannya dan
dibenci-Nya.
Makanya, kala turunnya surah ini (Dhuha) untuk meneguhkan
hati Rasulullah SAW dan kaum muslimin, mereka sangat bergembira, bersuka
cita. Mereka semakin yakin bahwasanya Allah
SWT memang senan tiasa bersama mereka. Inilah kebahagiaan sejati yang muncul
dari keimanan. (Muhammad Saifullah al-Maslul; The Power of Dhuha; 2010).
Wallahu a’lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar