Cerita Berseri
Pusy Cat (1)
Edisi Pertama
Oleh Wak Amin
I
HAMPIR dua jam lamanya Mrs Bram menunggu suaminya pulang
dari dinas luar kota. Biasanya, setelah magrib, Mr Bram yang sangat dia cintai
itu sudah tiba di rumah. Memeluknya
hangat, bahkan terkadang menggendongnya
hingga ke kamar tidur.
Tapi entah kenapa, malam ini kemesraan dan kehangatan sesaat
suaminya pulang kerja, tak kunjung ia dapatkan. Hatinya gelisah. Ia mulai
merasa takut. Karena sejak mereka menikah tiga bulan lalu, Mrs Bram tak pernah
merasa setakut dan sekuatir saat ini.
Ngeoooong …
Kucing kesayangannya, Pusy, melompat ke atas tempat tidur.
Dengan manjanya ia mengelus-elus kaki dan kedua belah pipi Mrs Bram, yang masih
rebahan sekadar menghilangkan rasa galau.
Ngeoooong …
Kali ini Mrs Bram sengaja membiarkan Pusy leluasa mencumbuinya. Karena selama ini,
setiap kali Pusy mengeong, perempuan baik hati ini selalu memeluknya,
menggendongnya. Bahkan, di saat tak ada sua mi tercinta di rumah, menemaninya
tidur, tanpa sungkan ia peluk Pusy, tidur di sampingnya.
Mpok Surti, pembantu
Mrs Bram yang setia, berusaha menghibur hati Sang Nyonya. Banyak cara yang ia
lakukan agar Sang Nyonya bisa tertawa. Atau paling tidak terhibur hatinya di kala merasa kesepian
ditinggal pergi suami bekerja.
Suatu malam misalnya, saat menunggu kepulangan Mr Bram dari
tempatnya bekerja, Mpok Surti dan Pusy
joget berdua mengiringi Sang
Nyonya mendendangkan tembang ceria. Sampai terpingkal-pingkal melihat ulah Pusy
yang berjoget dengan lincahnya sembari meliuk-liukkan ekornya. Saking ketawa
mele wati batas karena lucu dan kelelahan, Mrs Bram sampai harus dipapah ke
tempat tidurnya.
Begitu juga saat Mrs Bram menyiapkan sarapan pagi di dapur.
Pusy yang biasanya datang lebih dulu dari Mpok Surti, suka menjahili Sang
Nyonya dengan mencium-cium kedua kakinya, lalu berguling-gulingan, dan ketika
membawa gorengan ikan untuk diletakkan di atas meja makan, Pusy dengan cepat
melompat dan secepat kilat menyambar sepotong ikan, kemudian membawanya lari ke
bawah lemari.
Mpok Surti yang gemas dan bermaksud ingin memukulnya dengan sapu lidi, dicegah
Mrs Bram sembari mengingatkan bahwa kucing juga bisa lapar dan dia bukan
manusia seperti kita. Dia adalah hewan yang perlu kita sayangi dan kasihani.
Ngeoooong …
Belum selesai Mrs Bram memberikan nasihat pada Mpok Surti,
dari bawah lemari piring, keluarlah Pusy sambil menarik-narik kain sarung yang
dikenakan ibu tiga anak itu. Pusy tampak
marah. Ia terus mene rus mnrarik kain itu sebelum akhirnya melorot ke lantai.
“Auuuw … kurang ajar,” jerit Mpok Surti. Untung saja, kain
sarung itu tidak sampai dibawa lari Pusy.
Ka rena bila itu terjadi maka Mpok Surti bakal malu setengah mati. Jadi
tontonan Sang Nyonya. Melihat pembantu kesayangannya itu berjalan hanya
mengenakan celana dalam polos.
Mrs Bram tahu Mpok Surti marah dan murka pada Pusy. Sebelum
kemarahan itu terlampiaskan, dia pa nggil Pusy. Sambil menunduk dan tanpa
mengeong, dia bersimpuh di kaki
majikannya itu. Seolah tahu merasa dirinya bersalah. Pusy memandang wajah Mpok
Surti yang sudah mengenakan kain sarungnya kembai. Lalu melompat ke pelukan Mrs Bram.
Ha ha ha ha …
“Makanya Pusy sayang. Jangan suka jahil ya sama orang. Ini
kan Mpok Surti, bukan orang lain. Teman kamu sendiri,” kata Mrs Bram, dengan
penuh kasih sayang ia usap lembut kepala dan badan kucing kesayangannya itu.
Ngeooong …
“Alhamdulillah,” ucap Sang Nyonya setelah mendengar Pusy
mengeong lagi. Mpok Surti yang tadinya marah, kini sudah bisa tertawa lagi. Tak
tega ia memarahi Pusy. Selain karena sudah sangat dekat dan akrab, juga
seringkali menemani Mrs Bram dan dirinya
kemana pergi.
Ning .. Noooong …
Pusy melompat turun dari pelukan Mrs Bram. Dia berlari
mendekati pintu rumah. Biasanya dia me lompat sambil mendorong anak kunci pintu dengan tangannya.
Tapi kali ini tidak ia lakukan.
Kenapa?
Sebelum membuka itu pintu, dia melompat mendekati gorden
jendela. Diintipnya siapa gerangan yang baru memencet bel rumah. Mr Bram kah
atau tamu dekat dan jauh yang sengaja hendak bertamu dan menyampaikan sesuatu
pada Mr Bram dan isteri.
Karena sebelumnya melihat orang berdiri di luar pintu, Pusy
kembali melompat menemui majikannya yang sudah menunggunya di ruang tamu. Mpok
Surti yang ada di dekatnya berinisiatif membukakan pintu.
Ngeooong …
Pusy menarik-narik kain sarung Mpok Surti. Tak ingin kejadian barusan terulang kembali,
ia mengurung kan niatnya. Bersama Sang Nyonya, mereka melihat suasana di luar
rumah dari kamera pengintai (CCTV) di ruang kerja Mr Bram.
Siapa di luar?
“Coba putar sekali lagi Mpok,” pinta Mrs Bram. Mungkin saja
kali ini ada yang terlihat. Sayang, hasilnya tetap sama. Tak ada orang di teras.
Lalu siapa?
“Sebaiknya kita kembali ke kamar saja nyonya,” ajak Mpok
Surti. Dia mulai merasa takut. Bisa saja orang yang punya maksud jahat. Ingin
menyatroni rumahnya Mr Bram. Bukankah belakangan ini warga tempat dimana Mr
Bram dan isterinya tinggal sering dikerjai maling dan rampok bertopeng.
Meski sudah berada di kamar Sang Nyonya, Mpok Surti belum
juga tenang. Selain takut, dia juga kuatir dengan keselamatan Mrs Bram. Kalau
sampai diperkosa misalnya, bagaimana. Atau dibunuh seca ra keji oleh perampok
biadab itu, bagaimana.
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menghantui pikiran Mpok
Surti. Membuatnya tak pernah mau du duk,
selain berdiri dan berjalan kesana kemari. Ke dekat jendela, sisi kanan dan
kiri tempat tidur serta pintu keluar
masuk kamar.
Ngeooong …
Pusy menarik-narik tangan Mrs Bram yang mengusir rasa
kuatirnya dengan membolak-balik lembaran ma jalah wanita. Tarikan itu tak ia hiraukan. Namun,
setelah hape yang ia simpan di celananya, jatuh ke lantai setelah kesenggol Pusy, barulah ia sadar.
Kenapa?
Ada es em es dari suaminya yang memberitahukan kalau dia
pulang tepat tengah malam. Karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Mrs Bram menyarankan pada suaminya untuk menunda kepula ngan sampai keesokan
harinya. Dia kuatir akan terjadi apa-apa. Lagi pula, daripada pulang tengah ma
lam, lebih aman dan nyaman pulang saat pagi hari.
“Tak bisa sayang,” jelas Mr Bram sambil menyeruput kopi susu
di ruang kerjanya yang sejuk dan dipenu hi aneka bunga berwarna-warni.
“Lho, kenapa sayang. Kan lebih enak besok pagi saja
pulangnya.” Saran Mrs Bram. Dia tentunya akan me nyambut suami tercinta dengan
segelas air kopi susu kesukaannya, berikut roti panggang dan telur ayam
setengah matang.
“Soalnya, Mas ada janji esoknya. Kalau pulang esok, takutnya
enggak terkejar lagi sayang.”
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
“Pasti itu Pusy ya sayang,” kata Mr Bram, yang sangat hafal
dengan suara khasnya … ngeooong .. Suara itu kerap terdengar saat ia dan
isterinya saling berteleponan ria.
“Mpok Surti ada Ma?”
“Ada. Mau ngomong sekarang, Mas sama beliau?”
“Gini aja. Bilangin ke Mpok.
Tuan baru nyampe rumah saat tengah malam. Tolong jagain nyonya besar
ya.”
Mrs Bram ketawa mendengarnya.
“Say!”
“Nanti saya sampaikan Mas … Ada lagi kah?”
“Sudah, itu dulu Ma. Nanti Mas telepon lagilah. Daaagh …!”
Ngeooong …
Setelah telepon ditutup, dari belakang rumah terdengar suara
orang melempar sesuatu, entah apa. Ha nya sekali, setelah itu tak terdengar
lagi.
Kriiiing … Kriiiing … Kriiing …
Karena sama-sama takut, Pusy lah yang mengangkat telepon
itu. Dia bergegas keluar kamar, lalu melom pat ke atas meja telepon. Dia dorong
gagangnya, dan …
Ngeoooong …
Kleeep …
Telepon ditutup kembali.
Dengan menggunakan mulut dan tangannya, telepon itu ia
angkat dan taruh kembali ke tempatnya semula. Lepas itu, ia kembali masuk kamar menemui Mpok
Surti dan Sang Nyonya.
Ngeoooong …
II
MRS Bram, Mpok Surti dan Pusy masih berada di kamarnya
ketika telepon berdering dua kali. Sampai akhirnya, karena sudah puluhan kali
berdering, Mpok Surti nekad keluar dari kamar, untuk sekadar mengangkat
telepon. Dari siap dan untuk keperluan apa mendekati tengah malam begini.
Setelah menghampiri meja telepon, Mpok Surti mendadak bingung sendiri. Mau
diangkat ragu. Tidak diangkat ragu. Ankat tidak, akhirnya ia angkat teleponitu.
“Halo. siapa ini?”
“Halo juga. Ini saya, Bram Mpok.”
Lega rasanya. Ternyata bukan orang lain. Tuannya sendiri.
Kenapa mesti takut.
“Mpok Surti …”
“Iya Tuan.”
“Nyonya belum tidur?”
“Belum Tuan,” jawab Mpok Surti dengan suara lantang. Tidak
gugup lagi saat pertama kali menyambut telepon dari Mr Bram.
“Tolong panggilkan sebentar ya Mpok.” Pinta Mr Bram dengan
nada terburu-buru.
“Baik Tuan. Akan saya panggilkan segera …” Meletakkan gagang
telepon di meja, bergegas ke kamar menemui Sang Nyonya, yang masih berpeluk-pelukan dengan Pusy, kucing
kesayangannya.
Sebenarnya tak enak juga Mpok Surti sendirian di kamar,
membiarkan Sang Nyonya keluar dari kamar nya hanya ditemani Pusy. Tapi dia
dengan terpaksa melakukannya karena atas permintaan majikannya itu untuk
berjaga-jaga di dalam kamar.
Andaikata saja Pusy tidak mengeong, Mrs Bram pasti tak mau
keluar kamar untuk mengangkat telepon.
Entah menga pa, meski sudah diberitahu
telepon barusan berasal dari suami tercinta, jantungnya justru masih berdebar-debar.
“Angkat apa ya.”
Bisiknya dalam hati. Ia pun memutuskan untuk mengangkat itu telepon, dan apa yang terjadi
kemudian, membuat Pusy kelabakan karena harus
memberitahu Mpok Surti bahwasa Sang Nyo nya terjatuh dan menimpa kursi.
Tidak luka memang, tapi karena terkejut, mukanya berubah pucat pasi.
“Nyonya …!” Jerit Mpok Surti sembari mengangkat tangan Sang
Nyonya pelan-pelan, sehingga dapat berdiri kembali.
“Tak usah. Cepat kita masuk kamar,” kata Mrs Bram dengan
suara lemah ketika Mpok Surti bermaksud hendak mengambilkannya segelar besar
air putih hangat di dapur.
“Pusy …”
Sudah tahu apa yang dimaui Sang Nyonya, Pusy melompat cepat
ke atas meja telepon. Dia angkat ga gang
telepon dengan mulut dan tangannya, dikembalikan seperti semula.
Ngeooong …
Kembali ke pelukan Mrs Bram, Pusy dan Mpok Surti bergegas kembali
ke kamar Sang Nyonya. Masih be lum maubicara, karena masih lemah, Mrs Bram pun merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur. Kalau sudah seperti ini, Mpok Surti dengan sigap
memijat telapak kaki dan aggota tubuh yang lain pengantin anyar ini.
Pusy melompat turun dari
atas tempat tidur sebelum akhirnya duduk manis lagi dekat Mrs Bram. Mpok Surti
yang berada di dekatnya, masih dengan lembutnya memijat, memberanikan diri
bertanya soal kejadian barusan.
“Tolong ambilkan dulu air minum, Mpok,” pinta Mrs Bram.
Bukan di dapur, tapi di meja kerja Sang Nyo nya. Ada termos kecil berisi air
hangat.
Sambi menunggu Mpok Surti mencampur air panas dalam gelas
dengan air dingin, Mrs Bram mengusap-usap kepala Pusy. Dengan manjanya ia
berguling-gulingan dekat Sang Nyonya, seolah hendak mengata kan ‘Aku siap
menghiburmu duhai nyonyaku …’
“Airnya Nyonya …”
Hangat. Mrs Bram
meneguk habis segelas air putih hangat itu. Ia mulai sedikit tenang, dan tidak
merasa cemas lagi.
“Saya betul-betul takut tadinya Mpok,” kata Mrs Bram terus
terang. Ia mengaku seorang laki-laki telah mengancamnya, dan akan membunuhnya
malam ini juga.
“Astaghfirullah …”
Kali ini Mpok Surti benar-benar syok. Dia sama sekali tak
menyangka Sang Nyonya justru mendapat telepon tak menyenangkan dari seseorang.
Dia sangat menyesal. Dia merasa bersalah. Padahal tadinya
jelas-jelas ia menerima telepon dari Mr Bram.
“Enggak salah apa Mpok?” Tanya Mrs Bram. Dia baru bertanya
tentang si penelepon setelah yang ber sangkutan mengancam akan menghabisi
nyawanya.
“Enggak Nya. Saya hafal betul suara Mr Bram. Enggak salah
lagi. Tapi Nya, saya jadi takut juga …”
Mrs Bram tersenyum mendengarnya.
“Ya sudah, Mpok …”
Kriiiing … kriiiing … kriiing …
Ngeong.
“Nya?!”
Mpok Surti ketakutan. Tanpa sadar ia memeluk tangan Mrs
Bram. Mrs Bram sendri merasa geli bercam pur kasihan melihat kelakuan perempuan
berambut panjang sebatas bahu ini.
“Gimana Nya?”
“Kita kesana aja yuk …!”
Ketiganya bersembunyi di dalam lemari pakaian besar. Telepon
dibiarkan berdering puluhan kali. Sebe lum akhirnya tak kedengaran lagi
deringnya.
“Gimana Nya?” Mpok Surti berusaha mengintip dari celah pintu
lemari yang dia buka sedikit agar suhu udaranya tidak panas dan sumpek.
Ngeooong …
Sssssst …
Mrs Bram menutup rapat-rapat mulut Pusy agar tidak mengeong
lagi. Pusy yang sudah sangat hafal de ngan
tabiat Sang Nyonya, tidak lagi mengeong. Dia manut, dan lebih banyak mengikuti gerak-gerik Mrs Bram selama bersembunyi di
dalam lemari.
“Aman Nya.” Kata Mpok Surti. Perlahan dia buka lemari.
Ketiganya keluar dan belum berani menuju tempat tidur. Mereka bersemunyi di
balik lemari sebelah kanan.
Klonteeeeng …
Traaang …
Triiiing …
Terdengar suara orang membuka pintu rumah dari arah
belakang. Semula lambat, cepat dan semakin cepat serta jelas terdengar.
“Ke ruang kerjanya Tuan, cepaat …!”
Agar tak ketahuan, mereka berjalan dengan cara merangkak.
Lampu kamar sengaja dimatikan agar tak terlihat dari luar bahwa ada orag di
dalam kamar.
Guaaar …
Suara pintu dibuka paksa beberapa kali. Karena tak juga
terbuka, karena menggunakan kunci pengaman dan pintu dilapisi beberapa lapis
terali besi ganda, suara orang menggedor-gedor pintu itu pun hilang dengan
sendirinya.
Kemana gerangan orangnya?
“Cepat masuk …!”
Ketiganya bergegas masuk. Dari kamera CCTV mereka belum
menemukan apa yang mereka cari dan dengar barusan. Sesuatu yang men curigakan
misalnya. Baik itu orang, hewan atau apa saja yang ter pantau di sekitar rumah.
Namun ada satu kamera yang belum terpantau karena layarnya
kabur. Mrs Bram sempat mengutak-atik nya, tapi tak kunjung berhasil. Mereka kini hanya bisa pasrah. Hanya melihat suasana sekeliling rumah
dengan CCTV yang ada saja.
Ada empat kamera CCTV yang digunakan di lokasi berbeda.
Yakni di belakang, samping kiri dan kanan, depan dan setiap sudut ruangan dalam
rumah.
Pusy tak ingin Mrs Bram kecewa. Ia nekad mengotak-atik kamera
CCTV yang rusak tadi itu. Setelah be berapa kali diotak-atik, alhamdulillah
bagus kembali. Layar tak lagi kabur. Sudahpun terang. Terlihat
jelas.
Ngeoong …
“Nyonya. Lihat …!” Terlihat jelas suasana di belakang rumah.
Mrs Bram tampak senang.
“Terima kasih Pusy,” ucapnya sembari mencium hangat kucing
bersuara indah itu.
Ngeoong …
Tak ada siapa-siapa di belakang rumah. Cuma terlihat jejak kaki manusia. Jejak itu
semakin jelas keliha tan setelah posisi layar CCTV diperbesar dan didekatkan.
Kaki siapa ya?
Mpok Surti dan Mrs Bram saling pandang, dan bertanya.
Ngeoong …
Pusy menarik-narik baju Mrs Bram, memintanya kembali melihat
bekas telapak kaki yang mereka berti ga lihat barusan.
III
“Mpok … kunci semua pintu ya!” Pinta Mrs Bram. Dia mulai
sangat kuatir setelah melihat ada jejak telapak kaki yang terpantau CCTV di
belakang rumah.
Ngeooong …
Pusy mendekati Mpok Surti yang baru saja masuk setelah
mengunci rapat pintu depan. Dia tak henti-hentinya mencium kaki perempuan yang dia sayangi itu sambil
menggelepar-gelepar. Kemana orang kepercayaan Mrs Bram ini berjalan, dia selalu
mengikuti.
Mrs Bram mencoba mengontak suaminya. Tapi tak juga berhasil
karena pesawat yang ditumpangi Mr Bram baru saja mendarat di airport dan masih
berkemas di ruang tunggu bandara.
Dia sengaja tidak minta dijemput karena selain tengah malam
juga demi menghindari terjadinya sesuatu pada isteri tercinta. Walaupun diakui,
di saat seperti ini, lebih enak dan nyaman bila dijemput oleh orang terkasih.
Mr Bram baru menelepon ketika sudah berada di dalam taksi.
Berulangkali ia menelepon, namun tak juga diangkat sang isteri.
Kemanakah gerangan dia?
Sesaat Mr Bram menolah keluar jendela. Suasana di luar sepi.
Lampu-lampu jalan terang menghiasi ba ngunan megah pencakar langit di
sekitarnya.
Hanya beberapa kendaraan roda dua dan empat yang tampak
masih berseliweran. Kebanyakan kendara an pribadi. Selain taksi sedan, opelet
dan bus bertingkat tak terlihat lagi. Baru ada dan ramai menjelang pagi hari.
Mr Bram menghela nafas sejenak. Lalu ia alihkan pandangannya
ke depan. Meski sepi, sang pengemudi taksi
tidak terlalu cepat mengemudikannya. Biasa-biasa saja. Tak ada
kemacetan. Semua berjalan lan car.
Jalanan benar-benar lengang. Angin bertiup sedang. Tidak ada
tanda-tanda hujan bakal turun. Langit cerah, bintang menghiasi angkasa indah,
menyejukkan hati yang melihatnya.
“Tapi Nya, kalau kita disini, kita enggak bisa …”
Sssssst …
Mrs Bram buru-buru menutup mulut Mpok Surti. Kepada Pusy, ia
juga mengisyaratkan untuk tidak mengeong. Sebab, tadinya Sang Nyonya sempat
mendengar sesuatu.
“Tidak dengar Nya,” bisik Mpok Surti mulai ketakutan.
Keringat dingin mulai membasahi kedua telapak kakinya.
“Coba kau dengar itu ..!”
Mereka bertiga sama-sama menempelkan telinga di lantai.
Telinga kiri di atas, telinga kanan di bawah, menyentuh lantai berkilau.
Hampir tiga menit mereka melakukannya. Belum ada lagi suara
aneh yang terdengar seperti yang didengar Mrs Bram sebelumnya.
“Kita ke dekat pintu Mpok …”
Sama seperti tadi. Bedanya, kalau sebelumnya telinga kiri ke
atas. Kali ini telinga sebelah kanan yang di atas. Telinga kiri justru di
bawah. Ketiganya sama-sama berharap ada suara lagi yang terdengar.
Kelonteeeeng …
“Mpok …!”
“Iya Nya, saya dengar. Tapi kenapa bukan suara orang ya Nya?
Mpok Surti jadi bingung. Seharusny orang bukan barang. Apa takut kali ya?
“Coba dengar lagi tuh …!”
Sempat duduk sebentar, Mpok Surti mendekatkan lagi telinga
kirinya ke lantai. Kembali terdengar suara aneh. Tapi ya itu. Suara benda
jatuh. Kalau tadi pirinh, kali ini gelas.
“Cuma Nya …”
“Kenapa?”
“Kenapa enggak ada suara pecah, kalau itu benar gelas …”
Ssssst …
Flaaash …
Lampu luar kamar tiba-tiba padam.
Ngeooong …
Pusy melompat ke pelukan Sang Nyonya . Dia, entah kenapa,
lebih memilih bersembunyi di pelukan Sang Nyonya ketimbang mencari tahu kenapa
lampu padam.
“Nya. Aku keluar sebentar boleh tidak?”
“Buat apa?”
“Ngambil parang, Nya.” Kata Mpok Surti. Mungkin karena
kelewat takut, rasa berani Mpok Surti muncul.
“Pentungan saja Mpok,” usul Mrs Bram.
“Dimana ya Nya, aku lupa.”
“Dapur. Belum tua udah pelupa.”
Mpok Surti mendekati Pusy yang lagi asyik bermanja ria
dengan Sang Nyonya. Diusap-usapnya kepala si Pusy.
“Sama Pusy ya Nya?”
Ngeooong …
Karena merasa takut juga sendirian di kamar, Mrs Bram
memutuskan ikut juga ke dapur mengambil pentungan.
Bertiga jalan mengendap-endap. Pusy di depan sebagai
penunjuk jalan. Sebentar-sebentar menoleh. Dia menunggu Sang Nyonya yang seolah
berat untuk melangkahkan kaki. Sementara Mpok Surti yang paling buncit, sengaja
memperlambat langkahnya untuk memberi kesempatan pada Mrs Bram leluasa
berjalan.
Sampai di dapur, ketiganya pada bengong karena pentungan
yang mereka cari sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Kemana gerangan?
“Sudah. Yang mana sajalah Mpok.” Kata Mrs Bram yang berharap
ada benda lain pengganti pentungan untuk berjaga-jaga.
Pusy belakangan menyusul. Dia tidak mengeong. Dia hanya
mencari jejak kemana Mpok Surti berada. Apakah benda lain yang dicari itu dapat
diketemukan sehingga mereka segera masuk ke kamar lagi.
“Mpok … sini!” Mrs Bram menarik cepat lengan Mpok Surti yang
baru nongol dari balik pintu dapur. Dia ajak pembantunya itu bersembunyi di
bawah tangga tak jauh dari dapur.
“Enggak masuk kamar saja Nya. Lebih aman …”Mpok Surti
sekadar mengingatkan. Rupanya Sang Nyonya punya firasat lain.
Apakah itu?
Sekelebat baying-bayang hitam mendekati kamar yang ditempati
Mrs Bram, Mpok Surti dan Pusy tadi. Dengan pelan ia membuka pintu kamar itu,
kemudian masuk dan menutup kembali pintu itu.
Setelah di dalam kamar tak berhasil menemukan Mrs Bram,
orang berpakaian serba hitam itu mengob rak-abrik isi kamar. Dia ambil lalu
lemparkan seluruh pakaian di dalam lemari ke lantai dan sudut ru angan kamar.
Seluruh perhiasan kecantikan yang kerap digunakan Mrs Bram
saat bersolek pagi hari sehabis mandi, berserakan di atas tempat tidur dan
lantai. Ada yang terbuka tutupnya, pecah berantakan, bahkan ada yang
menggelinding masuk ke bawah lemari dan tempat tidur.
“Keparat …”
Orang asing itu mengumpat habis Mrs Bram dan suaminya. Dia
mengancam akan menghabisi Mrs Bram dan isteri. Sebelum dibunuh, dia mutilasi
dan darahnya akan diminum.
“Harus kudapatkan …”
Karena tak kunjung keluar, Mpok Surti memberanikan diri
mendekati pintu kamar itu. Dia gembok dan pintu pun terkunci dari luar.
“Mpok … Cepaaat!”
Sempat terjatuh dengan nafas tersengal-sengal, Mpok Surti
meluapkan rasa takutnya dengan memeluk
erat Sang Nyonya sambil menangis tersedu sedan.
“Pusy!” Bisik Sang Nyonya. Pusy menggerak-gerakkan kepalanya
di muka Mpok Surti. Karena merasa geli, dia berhenti menangis.
Saat tidak lagi menangis, duduk bersandar di dinding dengan
cara bersila dekat Sang Nyonya,Pusy me lompat ke pangkuan Mpok Surti sembari
mengeong. Pelan sekali ngeongannya.
Praaak …
Praaak …
“Nya …!” Mpok Surti menunjuk ke pintu kamar yang bergerak-gerak.
Ada dorongan keras dari dalam ka mar. Tak lama kemudian tak terdengar lagi.
Saat itulah, atas inisiatif Mrs Bram, di depan pintu, mereka tebari minyak
gemuk campur oli bekas.
Praaak …
Jegaaar …
Jeguur …
Guaaar …
Pintu kamar terbuka. Keluarlah sosok berpakaian serba hitam
itu. Berdiri sebentar di depan pintu. Dan saat hendak melangkah pergi
meninggalkan pintu kamar itu, dia pun jatuh terlentang.
Ngeooong …
Pusy menari-nari di depan Sang Nyonya dan Mpok Surti yang
tampak gel menyaksikan sosok tinggi tegap itu jatuh bangun di depan pintu kamar
Mrs Bram dan suaminya.
Sssst …
“Laki-laki kayaknya Nya,” bisik Mpok Surti saat musuh utama
Mr Bram itu membuka topengnya sesaat, sebelum dikenakannya kembali.
“Nya …!” Mpok Surti mengingatkan Mrs Bram untuk segera menelepon
suaminya.
“Nantilah …”
Laki-laki yang menurut perkiraan Mpok Surti berkisar 30-40
usianya itu, harus bersusah payah berdiri dengan pakaian basah terkena tumpahan
oli bercampur minyak gemuk.
IV
KRIIIIIING …
Kriiiing …
Kriiing …
Telepon berdering tiga kali. Mrs Bram meminta Mpok Surti
tidak mengangkatnya. Karena lelaki yang baru keluar dari pintu kamar tadi itu
pasti masih di sekitar ruang tamu.
Ternyata, telepon barusan dari Mr Bram. Dia mengabarkan
sekarang ini sudah berada di depan pintu. Tanpa curiga, karena laki-laki asing
itu sukses menirukan suara Mpok Surti, Mr Bram dengan santainya duduk di teras
rumah sementara taksi sedan yang mengantarnya dari airport sudah pergi barusan.
Saat pintu baru dibuka, telepon genggam Mr Bram berbunyi.
Telepon dari isterinya itu belum sempat dia angkat dan jawab karena sudah
keburu dipukul kepalanya oleh lelaki bertopeng dengan benda tajam. Jatuh
tersungkur dan tak sadarkan diri.
“Bagaimana Nya?” Tanya Mpok Surti cemas. Bersama Pusy, dia
terus menempel rapat ke badan Sang Nyonya. Dia
sangat mencemaskan keselamatan perempuan baik budi ini.
“Tiba-tiba ditutup teleponnya Mpok,” kata Mrs Bram. Dia
sempat mendengar suara suaminya. Tapi ha nya tersamar dan hilang. Setelah itu
saluran telepon genggam terputus sama sekali.
Entah kenapa …
Sementara itu …
Setelah tak sadarkan diri, lelaki asing tadi itu menyeret
paksa Mr Bram masuk ke dalam rumah. Berikut tas koper yang dia bawa, ikut
dibawa masuk dan diletakkan di dekat pintu.
Sejenak laki-laki itu berpikir. Kemudian dia tersenyum
sinis. Dia menyeret kembali tubuh Mr Bram. Di dudukkannya paksa di kursi dekat
ruang keluarga. Dari saku celananya, dia keluarkan seutas tali pengi kat dan
pisau kecil.
Mulut Mr Bram disempal dengan kain yang telah dipersiapkan
sebelumnya. Seluruh anggota badan Mr Bram mulai dari kaki hingga ke dada dalam
keadaan terikat. Begitu juga dengan kedua tangannya, diikat ke belakang kursi.
Lampu ruang keluarga sengaja belum dinyalakan. Ia ingin menikmati
dulu sepuas-puasnya wajah Mr Bram yang tampan itu. Tak sungkan ia dekatkan
mulutnya ke pipi putih bersih mengkilat itu.
Sambil menggeretak melotot tajam, dia tempelkan pisau kecil
ke hidung, pipi dan kening Mr Bram.
“Sebentar lagi muka ini akan hancur berantakan oleh tanganku
ini,” kata si lelaki itu mendesis. Berdiri sembari meludahi kepala Mr Bram
dengan raut muka penuh kebencian, marah dan dendam kesumat.
Ia nyalakan musik dari alat perekam mini. Musik pengantar
tidur malam itu memang terdengar sangat syahdu dan lembut. Orang yang
mendengarnya lama kelamaan akan tertidur. Pulas dan tak bakalan ingat apa-apa
lagi.
Namun di balik
mengalun lembutnya suara musik ini, ada semacam kekuatan tersembunyi
yang jika mampu ditindaklanjuti membuat pendengarnya lebih bergairah, hanyut
dalam perasaan yang sama sekali berbeda dengan apa yang dirasakan saat ini.
Kekuatan inilah yang hendak digunakan lelaki yang belakangan
diketahui bernama Mr X ini melampias kan dendam kesumatnya pada Mr Bram. Saat
benih-benih dendam itu muncul, ada kekuatan untuk menghabisi nyawa korbannya.
Bisakah?
Harus bisa, kata Mr X penuh percaya diri. Dia pun segera
berdiri, lalu melenggak-lenggokkan tubuhnya ke sana kemari. Persis penari yang
menari di atas pentas disaksikan jutaan mata penonton.
Gerekannya seolah mengikuti tarian balet. Melompat-lompat
dengan kedua kaki dalam posisi berganti-ganti, kadang mendatar dengan bagian depan
ditekuk. Namun di kesempatan lain hanya jari kaki yang menyentuh lantai
mengikuti irama lembut musik instrumentalia paduan saxophone dan gitar itu.
Lampu dinyalakan. Musik yang semula lembut kini semakin
kencang terdengar, membuat Mr Bram terjaga dari pingsannya.
Dia membuka matanya. Mr X mengecilkan volume suara musik,
lalu duduk berhadapan dengan Mr Bram.
“Siapa kamu?” Tanya Mr Bram. Dia belum mengenal persis siapa
pria di depannya ini. Karena mukanya masih ditutupi topeng dengan pakaian yang
dikenakan serba hitam.
“Baiklah …” Kata Mr X. Dia buka topeng itu pelan-plan.
Huuup …
Creeesh …
Mr Bram terkejut. Dia sama sekali tak menyangka pria yang
kini hendak menyiksanya sampai mati itu adalah bekas anak buahnya yang ia pecat
dengan tidak hormat karena terlibat korupsi proyek industri ringan, sedang dan
berat.
Bukan perkara terlibat korupsinya dan membuat Mr X harus
mendekam di penjara beberapa waktu lamanya, tapi karena keterlibatannya itulah
keluarganya hancur berantakan.
“Masih ingat Tuan Bram dengan saya?” Mr X mendekatkan
wajahnya beberapa centimeter dari mulut Mr Bram.
Mr Bram tak bereaksi. Dia tak membalas tatapan mata penuh
kesumat itu. Ia hanya menunduk dan ber harap dalam hatinya yang paling dalam,
Mr X mengurungkan niatnya untuk membalas dendam .
Pasalnya, selain keputusannya memecat Mr X adala keputusan
bersama melalui rapat besar luar biasa, juga hancurnya keluarga besar besar
orang kepercayaannya ituhanyalah akibat dari sebuah sebab. Anak isterinya tak
tahan menanggung malu, akhirnya berangsur-angsur menjauh dan meninggalkannya
sendirian yang mendekam di balik terali besi.
Siapapu orangnya dalam posisi yang sama dengan Mr Bram,
sebagai direktur utama sebuah perusahaan besar, tetap akan mengambil sikap yang
sama. Memecat karyawan yang terbukti melakukan kesalahan dan merugikan
perusahaan.
Namun peliknya, apa pun argumen yang dilontarkan Mr Bram
tetap tidak akan diterima dengan kepala dingin oleh Mr X. Alasannya sederhana.
Selaku atasan, Mr Bram tidak berusaha membelanya, atau pa li ng tidak sebagai
saksi yang meringankan, syukur-syukur bisa membebaskannya dari segala macam
tudu han dan persangkaan yang disangkakan padanya.
Dengan tidak membelanya saat didakwa sebagai pelaku korupsi
miliaran rupiah, Mr X beranggapan, Mr Bram sengaja membiarkannya terjerat kasus
merugikan kekuangan negara itu sendirian. Akibatnya, be nih-benih dendam pun
muncul dan semakin menguat saat dia berada di penjara. Begitu juga setelah dia
dibebaskan. Dendam yang bersarang di dada dan otaknya justru makin
menjadi-jadi.
Begitu menghirup udara bebas, pikiran pertama yang ada di
benaknya, bukanlah anak dan isterinya. Tapi mencari Mr Bram. Menghabisi nyawa
bekas atasanya itu secara keji.
Pertama-taman dia akan menyiksa Mr Bram. Andaipun tidak bisa
dihabisi nyawanya, setidaknya yang bersangkutan akan mengalami kecacatan seumur
hidupnya. Tak bisa berbuat apa-apa lagi, seperti ba ngkai yang berjalan. Hidupnya akan dihabiskan di
kursi roda dan di atas tempat tidur.
Setelah Mr Bram dibikin sekarat, menyusul isterinya yang cantik. Dia akan
siksa, bila perlu diperkosa le bih dulu di hadapan suaminya. Kalaupun tidak,
Mrs Bram akan menerima nasib yang sama dengan apa yang dialami suaminya. Cacat
sampai mati.
“Pandangi saya binatang,” hardik Mr X dengan suara lantang.
Dia angkat muka Mr Bram. Lalu dia ludahi sebelum berucap penuh kebencian …
“Mana nyalimu Tuan Bram?” Karena tetap diam, bogem mentah
berkali-kali mendarat telak ke pipi,
leher dan perut Mr Bram.
“Saya betul-betul muak dengan anda Tuan Bram. Bukan saja
manusia berhati iblis, tapi juga pemimpin yang busuk, egois dan tidak pernah
mau mendengarkan suara bawahannya …”
“Rasakan ini …!”
Sebuah pukulan keras dan telak kembali menghantam muka Mr
Bram. Darah pun mengalir dari hidung dan mulutnya.
Tapi tak bersuara sedikit pun …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar