Santapan Rohani
Bekerjalah Wahai Saudaraku!
By Aminuddin
JABIR bin Abdullah berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:
“Tiada seorang yang membuka jalan bagi dirinya untuk
meminta-minta melainkan akan dibukakan ba ginya
oleh Allah SWT pintu kemiskinan. Siapa yang menjaga kehormatan dirinya,
maka Allah SWT akan membantu menjagakannya, dan siapa yang mencukupkan diri
dengan apa adanya, maka Allah SWT akan mencukupkannya. Bila seorang mengambil
tali, lalu pergi ke lembah untuk mengambil kayu, kemudian dibawa ke pasar dan
dijual disana dengan satu mud kurma, niscaya yang demikian itu lebih baik baginya
daripada meminta-minta kepada orang, diberi atau tidak.”
Ibnu Umar ra berkata, Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah sayang pada tiap orang mukmin yang
berusaha, ayah dari beberapa orang anak (berkeluarga), dan tidak suka pada
orang penganggur yang sehat, dan tidak beramal akhirat.”
Ja’far Ash-Shadiq dari Muhammad Al-Baqir ra berkata:
“Biasa Nabi SAW pergi ke pasar membelikan hajat keluarganya,
dan ketika ditanya tentang itu, ia bersab da: “JIbril memberitahu kepadaku,
bahwa siapa yang usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, supaya tidak
berhajat kepada orang, maka itu jihad fisabilillah.”
Nabi SAW bersabda:
“Jika ia berusaha untuk kedua orangtuanya (ayah dan bunda)
yang sudah tua, maka fisabilillah. Jika ia be rusaha untuk anak-anak yang masih
kecil, maka itu fisabilillah. Dan jika ia berusaha untuk mencukupi ke butuhan
dirinya supaya tidak meminta-minta kepada orang, maka itu fisabilillah. Jika ia
berusaha seke dar untuk kebanggaan dan mencari nama, maka itu jalannya setan.”
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah SWT dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan me lihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah 105).
“Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang
menutupi) apa yang kamu seru kami kepada nya dan di telinga kami ada sumbatan,
dan di antara kami dan kamu ada dinding. Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya
kami bekerja (pula).” (QS Fushshilat 5).
“Dialah Dzat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Oleh
karena itu berjalanlah di permukaannya, dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS
Al-Mulk 15).
Setiap mukmin tidak diperbolehkan bermalas-malasan bekerja
untuk mencari rezeki dengan dalih kare na sibuk beribadah atau tawakkal kepada
Allah SWT. Sebab, langit ini tidak akan mencurahkan hujan emas dan perak.
Tidak boleh juga seorang mukmin menggantungkan dirinya
kepada sedekah orang, padahal dia masih mampu berusaha untuk memenuhi
kepentingan dirinya sendiri dan keluarga serta tanggungannya.
Allah SWT telah menyebutkan
bahwa bumi ini disediakan-Nya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan
memproduksinya. Untuk itu, Ia jadikan bumi ini serba mudah dan dihamparkan
sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri.
“Bumi ini diletakkan Allah untuk umat manusia, di dalamnya
penuh dengan buah-buahan dan kurma yang mempunyai kelopak-kelopak, biji-bijian
yang mempunyai kulit dan berbau harum. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang
kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman 10-13).
Allah SWT juga menyebutkan tentang air. Ia mudahkan dengan
diturunkannya melalui hujan dan me ngalir di sungai-sungai, kemudian dengan air itu dihidupkanlah bumi
yang tadinya mati.
“Hendaklah manusia mau melihat makanannya. Kami curahkan air
dengan deras, kemudian kami belah bumi
dengan sebaik-baiknya, lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan
sayur-mayur. “ (QS ‘Abasa 24-28).
Selanjutnya angin yang dilepas Allah SWT dengan membawa
kegembiraan, di antaranya dapat menggi ring awan dan mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Ini semua tersebut dalam firman Allah SWT:
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut aturan. Dan
Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-ke perluan hidup, dan (Kami
menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi re zeki
kepadanya.Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya;
dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. Dan Kami
telah meniupkan angin untuk me ngawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan
hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali
bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS Al-Hijr 19-22).
Al-Quranulkarim mengisahkan
kepada kita tentang kisah Nabi Musa as, bahwa dia bekerja sebagai buruh
bagi seorang yang sangat tua. Dia bekerja sebagai buruh selama 8 tahun,
persyaratan untuk dikawinkan dengan salah seorang puterinya.
Nabi Musa dinilai orang tua tersebut sebagai pekerja yang
baik dan buruh yang terpuji. Maka benarlah dugaan puteri orang tua itu tatkala salah satunya ada yang berkata: “Hai ayah!
Ambillah buruh dia itu, karena sebaik-baik orang yang engkau ambil buruh
haruslah orang yang kuat dan terpercaya.” (QS Al-Qashash 26).
Ibnu Abbas meriwayatkan, Nabi Daud bekerja sebagai tukang
besi untuk membuat baju besi. Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai tukang
kayu, Idris sebagai klermaker, sedangkan Musa sebagai penggembala kambing.
Setiap muslim dibolehkan bekerja, baik dengan jalan bercocok
tanam, berdagang, mendirikan pabrik, pekerjaan apapun atau menjadi pegawai,
selama pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan jalan ha ram, atau membantu
perbuatan haram, atau bersekutu dengan haram.
Untuk itulah, kata Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi (Halal dan
Haram dalam Islam; 1982), setiap dari kita yang mengaku muslim dan mukmin,
harus menyiapkan diri untuk mencari pencaharian, sebab tidak seorang Nabi pun
kecuali mereka bekerja dalam salah satu lapangan pencaharian.
Wallahu a’lam bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar