Rabu, 05 April 2017

Cak Luy (1)



NOVEL 

Cak Luy  (1)
By  Wak Amin

1
MR Clean turun dari mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan raya. Dengan langkah tergesa-gesa, ia menu ju ke belakang sebuah klub malam. Sepi, dan dengan cepat ia masuk tanpa sepengetahuan penjaga yang biasa nongkrong dekat pintu masuk berterali amat kokoh itu.
Jarum jam sudah bergeser ke angka satu dinihari. Jalan raya tampak mulai sepi. Tidak seramai ketika mendekati pukul sebelas malam tadi. Hanya satu dua mobil melaju dengan kecepatan sedang, motor sesekali berseliweran dengan lampu merah yang sudah berubah kuning berkerlap-kerlip.
Sebaliknya di dalam klub malam, suasananya sungguh jauh berbeda. Ramai disesaki  laki-laki dan wanita dengan berbagai gaya dan aktivitas yang berbeda. Ada berdansa, berbicara dengan sesama di meja segi empat  sambil menikmati hidangan dan mendengarkan suara emas biduanita ternama.
Sebagian yang lain asyik bermain biliar, rolet dan berjoget sepanjang malam. Sementara para pelayan  yang sebagian besar peremuan muda berparas cantik sibuk melayani pesanan pengunjung yang sema kin banyak jumlahnya lewat tengah  malam . Barisan tukang pukul dan petugas keamanan berjaga-jaga dan sangat ketat memperhatikan setiap tamu yang keluar masuk gedung berlantai tiga puluh itu.
Saat semua terlena dan asyik dengan tugasnya masing-masing, Mr Clean, dengan satu kali lompatan ber hasil  menyusup masuk ke lorong lantai dua puluh. Dia tahu di lantai inilah Sang Bos, Tuan Murdoch, pe milik klub malam terbesar di kota ini, bekerja sampai pagi.
Sambil memperhatikan suasana sekitar ruangan Sang Bos, Mr Clean tiba di depan pintu. Dia masukkan kartu dan dengan satu kali gesekan pintu pun terbuka.
Dari pintu yang ia tutup kemudian, bergeser ke dekat toilet. Lalu bersembunyi di balik lemari arsip besar. Di sebuah ruangan tengah dengan sinar lampu remang-remang, Tuan Murdoch tampak berbicara serius dengan dua pria berkepala gundul.
Mr Clean belum beraksi. Dia sengaja mencuri dengar terlebih dulu pembicaraan antara Tuan Murdoch dengan dua tamu istimewanya itu.
“Bagaimana menurutmu Tuan Sanders?” Tanya Tuan Murdoch serius.
“Kita habisi saja dia, Bos. Habis perkara. Kan lebih baik kita door … door, selesai.” Jawab Tuan Sanders, memasukkan kembali pistol ke sarung yang melelet di pinggangnya. Pistol itu sempat ia kokang dan arah kan muncungnya ke foto Samuel yang tergeletak di atas meja kerja Tuan Murdoch sebagai isyarat siap menghabisi orang yang selalu bikin gaduh itu.
“Bagaimana dengan pihak keamanan Tuan Sanders?”
“Itu sih gampang, Bos. Serahkan saja sama kami berdua. Dijamin oke,” jelas Tuan Sanders.
Tuan Rifshan yang duduk di sebelah Tuan Sanders punya cara lain untuk  menyikat Samuel.
“Cara apa itu Tuan Rifshan?”
Tuan Rifshan mengajak rekannya mendekat ke mukanya Tuan Murdoch. Kemudian menyebutkan rencana yang ada di benaknya saat ini.
Ha ha ha ha …        
Ha ha ha ha …
Ha ha ha ha …
“Anda benar-benar hebat, Tuan Rifshan.” Puji Tuan Murdoch. Ia bangkit dari tempat duduknya. Kemu dian mengambil sebotol vodka dan tiga gelas kecil yang ia taruh di atas meja kerjanya.
Ia tuangkan sedikit air ke dalam gelas itu.
“Mari tuan-tuan. Kita bersulang dululah,” ajak Tuan Murdoch.
 Lima belas menit kemudian,  Tuan Sanders dan Tuan Rifshan keluar dari ruang kerja Tuan Murdoch. Keduanya sepakat  menuntaskan misi membunuh Samuel sebelum terbit fajar.
Dari dalam mobil, Mr Clean yang sudah lebih dulu masuk mobil lima menit berselang, terus mengamati sepak terjang Tuan Sanders dan Tuan Rifshan. Mulai dari keduanya keluar dari depan gedung megah pi nggir jalan raya itu hingga masuk ke mobil.
Crecek cek ceeeek ..
Reeen …
Lampu depan menyala.
Mobil  melaju lambat.
Mr Clean mengikuti dari belakang. Melaju ke jalan utama perempatan kota. Karena jalanan lengang, dia sangat mudah mengontrol laju mobil di depannya itu.
Belok kiri. Ia pun belok kiri.  Sebelum akhirnya berhenti di depan telepon umum. Tuan Rifshan keluar da ri mobil.  Ia bergegas menuju telepon umum. Menelepon seseorang, entah siapa.
Hanya sebentar. Lalu keluar lagi dari dalam telepon umum, dan dengan langkah tergesa-gesa masuk mo bil.  Mobil melaju, Mr Clean pun melaju. Membuntutinya  beberapa meter dari  belakang.
Dia sengaja memperlebar jarak dengan mobil yang dikemudikan Tuan Sanders itu. Pilihan berisiko kare na peluang untuk kehilangan jejak sangatlah besar.

2
KRIIIIIING …
Telepon berdering.
Tiga kali berdering baru diangkat.
“Kak Samuel. Ini Yulia Kak. Pak Rifshan mau ketemu kakak. Penting katanya,” kata Yulia, entah kenapa malam ini dia tak bisa tidur. Padahal seluruh anggota badannya capek bukan main.
“Ketemuan dimana Yul?” Tanya Samuel. Ia sama sekali tak menaruh curiga Rifshan justru ingin mengha bisi nyawanya malam ini.
“Di rumah. Sebentar lagi dia datang. Tunggu, masih di jalan, katanya tadi.” Yulia menirukan pesan Rifshan beberapa menit yang lalu.
“Kamu dimana sekarang Yul?”
“Di rumah, Kak.”
“Ya sudah. “
Kletek …
Telepon ditutup.
Karena masih mengantuk, Samuel memilih rebahan di tempat tidurnya, menunggu sampai Pak Rifshan datang menemuinya di rumah. Maunya dia menelepon. Tapi lupa-lupa ingat berapa persis nomor tele pon teman yang lebih tua usianya dari dia itu.
“Udah ah. Tunggu ajalah,” katanya bicara sendiri sembari memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan.
Ning noooong …
Bel  berbunyi …
Samuel bangkit dari rebahannya. Sambil melangkah gontai dengan mata yang masih mengantuk berat, dia keluar dari kamarnya. Dia nyalakan lampu ruang tamu.
Kemudian dia menuju pintu depan. Mengintip dari balik kaca pintu. Setelah memastikan Pak Rifshan lah yang datang, barulah Samuel membuka pintu.
“Samuel …!”
“Pak Rifshan!”
Celedup …
Deeep …
Deeep …
Tuan Sanders melepaskan beberapa kali tembakan tanpa suara yang menyasar tepat ke dada dan perut Samuel.  Agar tak menjerit dan kedengaran tetangga sebelah rumah, Tuan Rifshan membekap mulutnya. Dia lepaskan setelah Samuel dipastikan tewas.
Keduanya bergegas mengangkat mayat Samuel. Dimasukkan ke dalam mobil dalam posisi duduk di kursi belakang.
Mobil baru melaju setelah Rifshan menutup rapat dan mengunci pintu rumah Samuel. Darah yang ber ceceran di lantai telah dibersihkan menggunakan tisue sehingga lantai kembali streril tanpa mening galkan jejak pembunuhan sedikit pun.
Mr Clean terus menguntit ke mana tujuan akhir Tuan Sanders menghentikan mobilnya. Dia baru berhen ti menguntit setelah mobil  sedan yang berjarak beberapa meter di depannya itu berhenti di sebuah te bing yang menjorok ke laut.
Dengan satu kali lemparan, mayat Samuel berhasil dilempar ke laut. Tuan Rifshan dan Sanders tertawa puas. Kini tak ada lagi penghalang dan orang yang selalu bikin susah Tuan Murdoch.
“Beres Bos,” kata Tuan Sanders memberitahu Tuan Murdoch. Tugas penting menyudahi hidup Samuel sudah selesai.
Tugas berikutnya?
“Kembali sekarang juga,” pesan Tuan Murdoch. Dia tampak puas atas kinerja dua koleganya itu.
Tuan Murdoch merasa yakin kejadian dinihari ini berlangsung aman, karena menurut pengakuan Sanders, tak seorang pun selain mereka yang terlihat di lokasi kejadian.
“Bagaimana dengan Yulia, temannya Samuel, Tuan Sanders?”
“Sebentar kami kesana Bos. Pokoknya bos tenang sajalah. Tak perlu gelisah. Kami berdua siap menun taskannya.”
“Aturlah oleh kalian baik-baik. Saya serahkan pada kalian berdua bagaimana mengatasinya. Setelah itu selesai, cepat temui saya.”
“Siap Bos.”
Sementara Yulia, walau sudah minum obat tidur, tetap tak mau tidur. Dia masih terjaga di atas tempat tidurnya sampai telepon berdering.
“Halo. Kak Samuel ya?!”
“Bukan. Pak Rifshan Yulia.”
“Ooo Pak Rifshan. Bagaimana Pak? Sudah kan ketemuan dengan Kak Samuel?”
“Sudah. Ini dia titip sesuatu buat kamu. Bapak antarkan ya?”
“Apa ya Pak titipannya?”
“Enggak tahu Yulia. Bapak enggak berani bukanya. Mana tahu surprise buat kamu. Makanya, supaya enggak penasaran, bapak antar ya?”
“Eeeem … merepotkan Pak Rifshan. Besok sajalah, atau biar Yulia yang ambil. Sebut saja dimana Yulia ambil besok.”
“Eeem. Kamu ada di rumah kan sekarang Yulia?”
“Iya Pak. Enggak kemana-mana …”
“Udah kalau gitu. Gini aja Yulia. Besok kan bapak sibuk seharian. Enggak sempat mungkin ketemuan de ngan Yulia. Sekalian pulang, gimana kalau bapak mampir sebentar ke rumah kamu. Di luar saja cukuplah. Yang penting titipan ini kamu terima. Oke?”
“Baiklah kalau begitu maunya Pak Rifshan. Yulia tunggulah …!”

3
LIMA menit kemudian, setelah mencongkel jendela kamar Yulia, Mr Clean berhasil menyelinap masuk. Dia melihat Yulia tidur.
Dia tutup kembali jendela itu. Lalu mendekati Yulia yang berbaring ke kanan.
Kriiiiing …
Alarm jam beker berbunyi nyaring.
Tepat pukul tiga dinihari.
Yulia terjaga. Dia menoleh ke kiri, jam beker di atas meja yang tiba-tiba berhenti berdering.
Siapa yang menghentikannya berbunyi?
“Saya Non Yulia,” bisik Mr Clean. Yulia kaget. Dari mana dia tahu nama saya, katanya, coba meronta.
Eeeeekh …
Eeeeemh …
Mr Clan melepaskan bekapannya.
Sssssst …
“Saya Mr Clean,” buru-buru Mr Clean mengeluarkan kartu namanya dan identitas lainnya. Yulia terdiam dengan tatapan takut bercampur curiga.
“Tuan mau menangkap saya kah?”
“Ssssst… Jangan panggil saya tuan. Panggil saja nama atau mister. Saya masih muda. Bujangan pula,” te rang Mr Clean. Tak lupa ia meminta maaf atas tindakan kasarnya barusan dan telah masuk rumah orang lain tanpa izin.
Mr Clean pun bercerita bahwa Samuel telah dibunuh Tuan Sanders dan Tuan Rifshan. Mayatnya dibuang ke laut. Dia dibunuh di rumahnya. Beberapa butir peluru  berhasil menembus dada dan perutnya.
Sssst …
Yulia hendak menjerit. Namun keburu ditenangkan Mr Clean dengan memeluknya seerat mungkin. Dia memberikan kesempatan pada perempuan muda ini untuk menangis sesunggukan.
Yulia tak menyangka Samuel yang baik padanya itu harus tewas di tangan orang yang dia kenal dan per cayai selama ini. Yulia merasa bersalah, kecewa, geram dan sakit hati. Ingin rasanya dia membalas orang yang telah menghabisi nyawa Samuel itu saat ini.
“Sekarang, sebelum mereka datang, Yulia ikut saya saja. Mau kan?”  Mr Clean menawarkan diri. Dia tahu Tuan Sanders dan Rifshan bakal menemui Yulia sebentar lagi di kediamannya.
Maka itu, sebelum Yulia bernasib sama dengan Samuel, dibunuh diam-diam, Mr Clean lebih dulu datang untuk menyelamatkan nyawanya.
“Nanti saja kita cerita panjang lebar, Yulia. Sekarang kita harus cepat keluar dari rumahmu ini lewat pintu belakang.”
Yulia setuju. Dia mengangguk lemah. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa mengikuti ajakan Mr Clean sa at ini, tentu saja dia akan beristirahat sampai pagi. Karena seluruh persendian tubuhnya terasa lemas dan tibat-tiba saja down.
Teeeeet …
Teeeet …
“Itu pasti mereka Mr Clean,” ucap Yulia. Dia tak mau membuka  pintu depan. Karena dia saat ini lebih percaya pada Mr Clean ketimbang Tuan Sanders dan Rifshan.
“Ke kanan saja mister,” kata Yulia. Sebelah kanan memang ada pintu samping yang hanya sesekali digu nakan,  saat ada kenduri misalnya.
Ceklek …
Ceklek …
“Macet mister.”
“Sudah sini …”
Dengan satu kali dorongan sambil menahan gagang pintu, seketika pintu terbuka. Agar tak terdengar, pintu diangkat sedikit saat menariknya ke dalam.
“Yuliaaaa …!”
“Yuliaaa …! Ini Pak Rifshan.”
“Ini Tuan Sanders yang ganteng itu, Yulia.” Sahut Tuan Sanders mengeluarkan rayuan mayutnya. Siapa tahu, setelah pintu dibuka, Yulia langsung klepek-klepek. Terpikat.
“Yulia!”
Tak juga ada sahutan dari dalam.
Mencoba menelepon, tapi tak ada yang mengangkat.
“Kita dobrak sajalah Rifshan.”
“Jangan Ders. Nanti kedengaran tetangga sebelah, bisa gawatlah kita,” kata Rifshan.
“Atau dengan pistolku ini saja, gimana?”
“Oke … cobalah, mana tahu bisa.”
Deeep …
Deeep …
Ceklek …
Kletek …
Pintu berhasil dibuka. Keduaya masuk. Memeriksa setiap kamar dan ruangan. Yulia  tetap tak diketemu kan.
Keduanya mulai kesal.
Bruuuuk …
“Aduh,” ringis Yulia. Dia terjatuh setelah kaki kanannya kesandung batu . Untung kepalanya tak sampai menyentuh tanah karena berhasil ditahan Mr Clean dengan kedua tangannya yang terpaksa menjatuh kan diri ke rerumputan.
Yulia tersenyum.
“Thank’s Mister.”
“Udah. Cepetan …!”

4
 “NAH .. itu mereka Ders!” Teriak Rifshan dari balik jendela kamar Yulia yang terbuka. Dia melihat Yulia berlari dengan seorang lelaki menuju sebuah mobil yang diparkir di seberang jalan, tak jauh dari kedia man Yulia.
Lampu depan mobil menyala.
Reeeen …
Mobil melesat cepat. Tuan Sanders dan Rifshan berusaha mengejar keduanya. Karena terlambat bebe rapa detik saat keluar dari kediaman Yulia, jarak antara mereka terpaut jauh. Belum lagi mobil kepun yaan Tuan Sanders ini sempat ngadat.
“Kampret!” Gerutu Sanders sambil membanting keras pintu mobil.
Cuma sebentar. Setelah Rifshan turun tangan, mesin mobil kembali menyala. Mobil tak ngadat lagi. Kini dia yang menyetir mobil.
Jreeeen …
Seakan terbang, mobil melaju amat cepat. Rifshan memang sangat bernafsu mengejar dan mendapat kan jejak mobil Mr Clean.
Sayang seribu kali sayang, sampai pertigaan mereka kehilangan jejak. Tak diketemukan ke mana arah mobil Mr Clean melaju. Rifshan sangat jengkel dan marah. Tuan Sanders kembali mengambil alih kemudi.
“Dasar buaya …” Omel Rifshan.
“Siapa yang buaya, Shan?”
“Itu. Perempuan jalang itu,” kata Rifshan jengkel.
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa?”
“Kalau sama cewek alis perempuan, apalagi yang masih muda dan perawan ting ting, tak boleh begitu Rif. Bisa lari dia karena ketakutan. Caranya harus lembut. Kayak kue ager gitu. Lembut kan. Setelah da pat baru kita kerasin sedikit …”
“ Yang kutakutkan cuma satu, Ders.”
“Keduluan pria lain?”
“Dia buka suara. Habislah kita.”
Ha ha ha ha …
“Ngomong-ngomong, siapa pria yang bawa Yulia itu, Rif. Pasti tahu kamu. Soalnya kamu yang tengok tadi.”
“Kayaknya Mr Clean, Ders,” ujar Rifshan.
“Mr Clean yang detektif itu kan?”
“Iya …”
Rifshan kemudian  menelepon Tuan Murdoch. Dia memberitahu Sang Bos, Yulia dibawa kabur Mr Clean.  Tentu saja dia marah besar. Membanting pintu keras-keras. Berjalan mondar-mandir dari ruang kerjanya ke jendela, terus ke luar ruangan, begitulah berkali-kali.
Belum juga reda amarahnya, Tuan Murdoch keluar dari ruang kerjanya.  naik turun lift, tanpa tujuan hen dak kemana. Dua orang tukang pukulnya jadi bingung. Mau ditanya Bos marah, tidak ditanya Bos seperti orang yang mengalami stres berat.
“Bos, itu bukan jalan,” tegur salah seorang tukang pukul berkulit hitam.
“Apaan itu?”
“Gudang Bos.”
Tuan Murdoch menarik nafas sebentar. Dia menelepon  Tuan Sanders dan Rifshan. Meminta keduanya terus melaku kan pengejaran. Jika tidak berhasil usai Subuh nanti, segeralah kembali ke markas.
Kemanakah Mr Clean membawa Yulia?
Ke rumahnya tentu. Mau kemana lagi. Paling tidak sampai Subuh aman dari kejaran Tuan Sanders dan Rifshan.
Kepada Yulia, Mr Clean berpesan agar selalu waspada. Jika ada orang yang belum dikenal datang berkun jung, lebih baik tak usah dibukakan pintu.
“Mister mau kemana?” Yulia heran, apa tidak kenal rasa capek. Lepas mengantarnya ke persembunyian sementara ini, sudah bersiap pergi lagi.
“Aku mau tengok temanmu,” ujar Mr Clean. Sekali lagi dia meminta Yulia hati-hati.
“Apa mungkin dia masih hidup Mister?”
Mr Clean tak mau menduga-duga. Karena sampai kini dia belum tahu apakah mayat Samuel sudah dike temukan atau belum. Karena belum ada laporan yang masuk ke hape androidnya.
“Tolonglah Mister. Selamatkan dia kalau dia masih hidup,” pinta Yulia dengan suara serak-serak basah.
“Oke. Tapi jaga dirimu baik-baik ya,” pesan terakhir Mr Clean sebelum dia pamitan pergi.
Yulia mengantar sampai ke depan pintu. Mr Clean masuk ke dalam mobilnya sambil melambaikan tang an. Mobil yang baru diia beli beberapa bulan belakangan ini, meluncur cepat  ke jalan raya. Bergabung dengan rekan-rekan se kerjanya di kepolisian yang masih mencari keberadaan jasad Samuel  hinggga kini.
Di lain lokasi …
Tuan Murdoch tak kuasa menyembunyikan rasa kecewanya setelah tahu Yulia berhasil lolos dari kejaran dua koleganya. Sepagi ini kerjanya cuma geleng-geleng kepala. Dia tak habis mengerti hanya menangkap seorang perempuan muda harus gagal  sampai dua kali.
“ Tenang saja Bos. Serahkan saja sama kami berdua,” kata Rifshan coba menenangkan Tuan Murdoch yang sudah hampir sepuluh menit terakhir tak kunjung reda amarahnya.
“Bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau Yulia temanmu itu ternyata masih hidup.”
“Berilah dia kesempatan untuk hidup sebentar saja Bos. Mari kita sama-sama mencari solusi.” Rifshan lega melihat amarahnya Tuan Murdoch berangsur-angsur mereda.
“Tuan kan pasti kenal dengan atasan Mr Clean di kepolisian?”
“Siapaaaa?”
“Yang sering menelepon Tuan dan sesekali datang menemui Tuan di tempat ini?!”
Tuan Sanders coba mengingatkan.
Siapa dia?
Tuan Murdoch tak perlu berlama-lama mengingatnya. Karena yang bersangkutan memang masih berte man akrab dengannya. Dialah Letnan Salam.
Sebulah sekali Letnan Salam menelepon Tuan Murodch. Menanyakan keadaannya. Namun tak pernah secuilpun ia menyinggung  kepak bisnis yang kini dijalani sahabat dekatnya itu.

5
PENCARIAN terhadap mayat Samuel terus dilakukan pihak kepolisian. Mereka terbagi tiga tim. Tim A di air, Tim B di darat dan Tim C di udara. Dari darat menggunakan kendaraan roda dua dan empat,  di air  dengan kapal cepat, sedangkan dari udara menggunakan helikopter pelacak.
Tepat pukul sembilan pagi, pencarian bersama dihentikan. Karena mayat yang diduga bernama Samuel berhasil diketemukan petugas kepolisian dalam posisi mengambang di laut dengan tubuh mulai membe ngkak.
Samuel segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mr Clean hanya meng antar sampai mobil boks ambulance itu. Selepas itu dia pulang ke rumahnya untuk menemui  dan mem beritahu Yulia kabar terkini teman dekatnya itu.
Dari balik jendela kamar di mana Mr Clean biasa beristirahat, Yulia memandang jauh ke jalan raya. Pera saannya gelisah. Tidak tenang dan selalu diliputi rasa was-was dan takut. Mukanya pucat. Dia mulai di hinggapi stres ringan.
Semenjak Mr Clean pergi untuk mencari mayat Samuel, Yulia belum juga tidur. Dia hanya bisa berbaring ke kiri dan kanan di atas tempat tidur. Sebentar matanya terpejam, sebentar lagi melek. Selalu terjaga.
Pesan yang disampaikan Mr Clean selalu dia ingat. Jiwanya terancam. Sebab, kini dia dicari Rifshan dan Tuan Sanders untuk dihabisi. Karena hanya Yulia lah satu-satunya saat ini penghalang besar bagi Tuan Mu doch. Dia dianggap mengetahui seluk beluk perburuan permata yang melibatkan orang penting dan menggegerkan warga kota itu.
“Mister …!” Tak heran, begitu Mr Clean membuka pintu dan bermaksud hendak menutupnya lagi, Yulia serta merta berlari dan memeluknya haru.
Mr Clean membiarkan Yulia menangis. Usai menutup pintu, dia mengajaknya mengaso sejenak di ruang tamu.
“Yulia,” katanya sembari mlepaskan pelukan Yulia.
“Kamu harus sabar ya!”
Yulia menyeka air matanya. Dia tak kuasa menatap balas tatapan Mr Clean.
“Samuel temanmu itu sudah diketemukan, Yulia.”
“Alhamdulillah,” kata Yulia. “Masih hidup kan Mister, Samuelnya?”
Mr Clean tidak menjawab.   
Dia hanya mengatakan Samuel sudah dilarikan ke rumah sakit.  Diperiksa dulu. Hasil pemeriksaan nanti nya baru diketahui apakah benar Samuel tewas dibunuh,  lalu ada kekerasan fisikkah sebelumnya, dan lain se bagainya.
Yulia kembali memeluk Mr Clean.
“Keluarga dekatnya, atau orang terdekatnya bisa menengok. Melihat dari dekat, atau mungkin memas tikan apa benar mayat lelaki yang ditemukan di laut itu masih keluarganya atau orang terdekatnya.”
Yulia masih berharap Samuel belum mati.
“Sekarang kita ke rumah sakit. Mau kan?”
Yulia mengangguk.
Rumah sakit terbesar di kota ini ramai oleh pasien yang berobat. Lalu-lalang mobil ambulance, kendara an roda dua dan empat keluar masuk rumah sakit, tak pernah sepi sejak pintu gerbang dibuka pagi tadi.
Para juru rawat sibuk melayani. Mendorong pasien yang berkursi roda, memberi obat, ikut menemani dokter  melakukan pemeriksaan di sal pasien, dan menyiapkan serta mengganti selang infus pasien yang baru masuk  dan sudah beberapa hari diopname.
Sementara Mr Clean, setelah mendapat izin masuk ke ruang kamar mayat, mengingatkan Yulia untuk tetap tenang dan tidak berbuat aneh-aneh.
“Jaga itu ya Yul!”
“Yes Mister …”
Keduanya tak serta merta bisa menengok jasad Samuel. Keduanya harus melewati lorong kecil agak ge lap terlebih dulu.  Di paling ujung ada pintu masuk. Dari pintu inilah Mr Clean berbicara empat mata dengan petugas jaga, sebelum mempersilakannya masuk.
Di tempat penyimpanan mayat …
Sreeeng …
Kreeeek …
Peti mayat ditarik keluar.
“Silakan Mister!” Kata petugas jaga ramah. Dia mempersilakan Mr Clean membuka sendiri kapan penutup mayat.
“Yulia. Siap ya?”
“Siap Mister …”
Huuup …
Klebesh …
Yulia menutup mulutnya. Dia ingin menjerit sekuat-kuatnya. Mr Clean segera memeluknya. Sebab, dari tatapan mata dia tahu Yulia mengenal si mayat yang terbujur kaku di depan matanya ini.
“Yulia!”
“Betul Mister, Samuel.” Ucapnya lirih.
Agar tak sampai jatuh, dia bersandar di bahunya Mr Clean.

6
“Aku tak yakin kau
Mengetahuinya
Tapi saat kita bertemu untuk
Pertama kalinya
Aku sangat gugup hingga tak
Bisa mengatakan apa-apa
Di momen istimewa itu
Aku menemukan cintaku dan
Hidupku telah menemukan
Kepingannya yang hilang

Jadi seumur hidup aku
Akan mencintaimu
Akan di sisimu bersamamu
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Dan mulai saat ini sampai
Nafasku berhenti
Aku mengingat hari ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini

Yang kita miliki adalah abadi
Cintaku tanpa akhir
Dan dengan cincin ini aku
Mengatakan kepada dunia
Bahwa
Kau adalah alasanku,
Aku percaya padamu
Dengan sepenuh hatiku, aku
Serius dengan semua yang
Kukatakan itu

Jadi seumur hidup aku
Akan mencintaimu
Akan di sisimu bersamamu
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Dan mulai saat ini sampai
Nafasku berhenti
Aku akan mengingat hari ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini

Oooooh  oh
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu

Sangat cantuk dengan gaun
Putih itu
Malam ini

Dan nanti jika kita memiliki
Anak gadis
Kuharap dia memiliki mata
Sepertimu
Menemukan cinta seperti
Yang kau dan aku miliki
Ya, kuharap dia jatuh cinta
Dan aku akan mengantarnya
Berjalan ke altar
Dia akan sangat cantik
Dengan gaun putihnya

Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu

Jadi seumur hidupku aku
Akan mencintaimu
Akan di sisimu bersamamu
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu

Dan mulai saat ini sampai
Nafasku berhenti
Aku akan mengingat hari ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini

Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini …”

“Suka lagu ini Yulia?”
Yulia mengangguk.
“Ini lagu Beautiful  in White nya Shane Filan bukan Mister?”
“Betul sekali Yuli,” kata Mr Clean membelokkan mobilnya ke kanan memasuki kawasan salah satu rumah makan terkenal di kota ini.
“Mister suka?”
Mr Clean mengiyakan.
“Yuk kita turun Yulia,” ajak Mr Clean setelah mobil  berwarna biru tua itu berhenti di pelataran parkir paling ujung dekat tanaman bonsai.

 7
TAK lama berselang sebuah mobil Panther berwarna putih parkir tak jauh dari tempat parkir mobil Mr Clean. Seorang lelaki tinggi tegap bergegas menelepon, karena tak ada sahutan, dia tutup kembali tele pon seluler itu.  Bersama Tuan Sanders, Risfhan dan Rudolf, dia turun dari mobil sambil menyandang senjata laras panjang yang diikatkan di badan bagian belakang.
“Sikat saja Mi,” kata Tuan Sanders. Dia tahu Mr Clean dan Yulia belum lama singgah untuk makan siang di rumah makan favorit warga kota itu.
Yulia, yang secara tak sengaja melihat Rifshan beserta tiga rekannya turun dari mobil, bergegas mene mui  Mr Clean yang lagi buang air kecil di toilet.
Dengan wajah pucat dan nafas tersengal-sengal, ia memberitahu Mr Clean ada Rifshan dan Tuan San ders.
“Baru hendak masuk tadinya Mister,” ucap Yulia gugup. Rasa laparnya seketika hilang.
“Sebentar Yulia.” Mr Clean baru saja hendak buang air kecil. Dia urungkan setelah Yulia memaksa masuk.
“Cepat Mister. Mereka bawa senjata.” Yulia mengingatkan.
Rifshan tampak berbicara serius dengan seorang staf manajer rumah makan. Tanpa basa basi, dia me nunjukkan foto Mr  Clean dan Yulia. Dengan gemetar, pria tampan berkacamata minus itu mengaku me lihat pria dan wanita yang terpampang di foto itu.
“Tadi mereka makan di kursi paling ujung kanan. Baru saja mereka makan. Namun, sesaat setelah saya kembali dari melayani pengunjung lain yang baru datang, mereka sudah tidak ada lagi di ana. Jadi Tuan, saya benar-benar tidak tahu.”
“Bohong. Kamu pasti tahu. Katakan, kemana mereka.” Rifshan mengarahkan moncong senjata laras panjang ke kening si mata minus.
“Be … benar Tuan. Saya sungguh tidak tahu kemana mereka pergi.”
Praaak ..
Braaak …
Auuuuwww …

Seluruh pengunjung yang sedang asyik makan serempak terkejut. Sebagian dari mereka, terutama pengunjung wanita, berteriak histeris melihat Rifshan membenturkan beberapa kali kepala si mata minus, menyebabkan kepala dan hidungnya berdarah.
Dooor ..
Dooor ..
Guaaar …
Rudolf, Sanders dan Romi, bergantian melepaskan tembakan ke atas dan dinding rumah makan.
Suasana berubah mencekam.
Rifshan menarik paksa seorang perempuan muda yang sedang makan berdua dengan pria ganteng di sebelahnya. Ia paksa si wanita untuk mengatakan kemana gerangan Mr Clean dan Yulia pergi.
Tentu saja dia tidak tahu. Karena keduanya baru datang, tanpa menoleh kiri dan kanan, pengunjung lain yang sabar menunggu pesanan datang.  Akibatnya, bogem mentah mendarat telak di pipi dan pelipis ma ta si wanita.
Sang kekasih yang mencoba untuk membantu, tak luput dari hajaran bertubi-tubi Rifshan.
Jeduuug …
Paaar …
Praaak …
Satu kali tendangan keras mengarah ke perut, teman dekat si wanita mengerang kesakitan. Badannya terlempar jauh dan membentur kursi makan sepasang lansia.
Triiing ..
Jegaaar …
Saking kerasnya benturan itu, sepasang lansia tadi terjungkal dengan piring dan gelas berhamburan ke lantai. Pecah berantakan.
Mr Clean tak tinggal diam. Dari balik pintu utama keluar masuk rumah makan, ia lepaskan tembakan se banyak dua kali. Tembakan itu tepat mengenai kepala Rudolf dan Romi. Keduanya tewas seketika.
Melihat kedua rekannya tewas mengenaskan, Tuan Sanders dan Rifshan membalasnya dengan menem bak secara membabi buta kea rah Mr Clean dan Yulia. Keduanya dengan cepat menghindar untuk kemu dian berhasil keluar dari rumah makan lewat pintu samping.
“Kejar mereka sampai  dapat!” Teriak Tuan Sanders. Dia sangat marah dan geram. Dia ingin menangkap hidup-hidup Mr Clean dan Yulia, lalu menggantungnya di pusat kota sebelum diterjang dengan ratusan timah panas.
“Wuluk .. wuluk …” Ejek Mr Clean. Dia buka celananya, lalu dia tunggingkan pantatnya yang hanya dila pisi celana  dalam putih abu-abu.
“Kurang ajar. Taun itu orang.” Pekik Risfshan sambil marah. Dia lepaskan beberapa kali tembakan. Tapi tak satu pun yang mengenai sasaran, selain kaca dan bodi mobil pengunjung rumah makan yang pecah dan bolong-bolong.

8
AKSI kejar-kejaran di jalan raya pun tak terelakkan. Berlangsung amatlah seru setelah Tuan Murdoch me menuhi permintaan Tuan Sanders dan Rifshan untuk mengirim beberapa personil tangguh yang telah terbiasa melakukan pengejaran dan membunuh banyak orang.
Dalam tempo kurang dari lima menit, delapan bodyguard, empat di antaranya jago tembak orang suru han dan kepercayaan Tuan Murdoch ini segera beraksi dengan mengepung dan memblokir dua jurusan jalan utama kota.
Jurusan pertama adalah jalan menuju utara, sedangkan jurusan kedua menuju selatan. Praktis jalan yang sama-sama menuju luar kota itu sudah tertutup bagi  Mr Clean dan Yulia untuk menyelamatkan diri dari pengejaran.
Empat buah mobil dikerahkan. Dua mobil boks besar dan dua lagi mobil anti peluru. Mobil kepunyaan Tuan Murdoch ini jarang digunakan terkecuali dalam keadaan darurat dan sangat dibutuhkan.
“Awas Mister!” Teriak Yulia. Sebuah mobil tronton nyaris menyerempet mereka. Beruntung, Mr Clean dengan cekatan membanting stir ke kiri, melewati marka jalan.
Semua kendaraan serempak membunyikan klakson sambil tertawa, tersenyum dan bahkan juga ada yang marah serta memaki-maki kasar. Mr Clean tetap tenang, dia memutar stir  ke kanan memasuki lorong besar yang di kanan dan kirinya diapit gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan.
Karena di ujung lorong sudah ditunggu Tuan Sanders dan Rifshan sambil membidikkan senjata laras panjang ,  Mr Clean belok ke kanan. Anak-anak lorong yang sempit, khusus buat motor, sepeda dan pejalan kaki.
Sulit memang bagi Mr Clean untuk memasukkan mobilnya melewati gang kecil itu. Selain bisa, kalau te tap dipaksakan masuk, menabrak pagar dan teras rumah warna, mengganggu keluar masuk para pejalan kaki.
Yulia mengusulkan naik sepeda motor saja. Tak harus trail, Vespa pun jadilah. Sama saja. Sebelum usu lan itu terealisasi, Mr Clean menghentikan laju mobilnya dan parikir dekat parit. Sengaja ia peroskkan ban belakang sebelah kiri.
“Ambil sajalah Mister,” bisik Yulia sesaat setelah keduanya turun dari mobil dan melihat ada beberapa unit motor yang terparkir di teras rumah.
Motor yang dipilih adalah berjenis GL Pro. Dengan satu kali engkolan, utak- atik gas dan kopling, motor melaju dengan cepat ke ujung gang.  Belok kanan, sudah menunggu Tuan Sanders dan Rifshan di sebe rang jalan.
Karena mobil yang lalu-lalang ramai,Mr Clean dengan cepat memacu motornya hinga ke jalan besar. Tuan Sanders dan Rifshan terpaksa gigit jari karena harus kehilangan jejak.
“Bangsat,” makinya sambil menendang berulangkali ban mobil depan.
Beberapa pejalan kaki dan pengendara roda dua dan empat sama-sama menggelengkan kepala. Ada yang sampai nyeletuk …” Kalau stres jangan disini Om, tuh sana … di rumah sakit orang stres.”
Mr Clean lega karena kini dia benar-benar aman dari pengejaran. Namun itu tak berlangsung lama. Ketika berada di pertigaan, ada dua mobil boks besar bermaksud memepet. Lantaran masih ramai kendaraan yang lalu-lalang, pemepetan belum terlihat secara kasat mata.
Tapi begitu arus kendaraan sedikit lengang, dua mobil boks tadi mulai memepet. Satu di kanan dan satunya lagi di kiri. Mobil Mr Clean berada di tengah.
Seorang jago tembak membidikkan senjatanya. Belum sempat pelor emas itu mengenai kepala Yulia yang tak berhelm, Mr Clean mengerem mendadak. Lalu memutar balik motornya, melewati marka pembatas jalan dan teman kecil dekat parit besar yang memanjang di sepanjang jalan utama.
 Di sana ada sebuah gang selebar tiga ban sepeda motor ukuran sedang. Mr Clean memperlambat laju motornya. Kemudian melesat cepat menaiki tanah perbukitan. Dari atas bukit inilah dia menepikan mo tor ‘curian’ nya itu.
Dibantu Yulia, Mr Clean mengeluarkan senjata berbahan peledak ke arah dua mobil boks yang masih berusaha berbelok ke kanan, sebelum   berlari ke depan taman bunga.
Cuiiiis …
Ciuuuus …
Jegaaar …
Guaaar …
Guaaam …
Dua mobil boks  meledak terbakar. Empat  anak buah Tuan Murdoch bersusah payah keluar dari puing-puing besi yang telah menghitam legam itu dengan luka parah di bagian muka dan darah bercipratan di seluruh badan.

9
“SEPERTINYA mereka sudah tewas, Mister.” Yulia memberanikan diri turun dari motor, disusul Mr Clean, guna memastikan empat pria suruhan Tuan Murdoch yang tertelungkup itu sudah tidak bernyawa lagi.
Ceklek …
Fleeesh …
Setelah memfoto empat mayat dan sisa onggokan mobil boks dari berbagai posisi, hasil jepretannya ini ia kirim ke atasannya, Letnan Salam.
Letnan Salam dan beberapa rekan Mr Clean di kepolisian segera menggelar rapat tertutup. Tak diduga sebelumnya, peserta rapat terpecah dua kelompok. Kelompok pertama setuju memberikan bantuan langsung kepada Mr Clean.
Kelompok kedua menyatakan keberatannya.  Kelompok terakhir ini beralasan kasus yang membelit Mr Clean ini sangat besar dengan melibatkan orang berpengaruh di kota ini.
“Saya mencium Tuan Murdoch ikut mendalangi ancaman pembunuhan ini,” ujar Sersan James berala san.
“Anak buahnyalah yang diduga kuat membunuh Samuel,” sahut Sersan Steven. Karena Yulia sangat dekat dengan Samuel, Tuan Murdoch berkepentingan juga untuk menghabisi Yulia.
“Pasti dia banyak tahu soal perburuan permata itu,” jelas Sersan Mc Cartney.
“Jadi sebelum kita putuskan untuk mengirim anggota kita, sebaiknya kita pikirkan secara matang dari berbagai sisi. Bukan saya tak setuju membantu Mr Clean. Sangat setuju,” kata Sersan James.   
Menurut saya, kata Sersan Steven, “Kita selamatkan Mr Clean lebih dulu. Setelah itu kita tunggu reaksi Tuan Murdoch.”
“Apa tidak mungkin justru dengan menunggu itulah korban yang berjatuhan akan lebih banyak lagi sersan,” kata Letnan Salam.
“Betul Letnan. Tapi maksud saya, Tuan Murdoch ini sangatlah licik. Nah, kita tunggu kelicikannya itu. Kita siapkan antisipasinya. Terus berdialog dengan Mr Clean. Minta pendapat beliau apa yang sebaiknya ha rus segera kita lakukan. Tentu keputusan akhir ada pada Letnan.”
Tok .. tok .. tok …
Sreeet …
“Siang Letnan!”
Sersan Jhoni melaporkan mereka barusa saja kehilangan kontak dengan Mr Clean. “Sempat terdengar suara tembakan. Setelah itu tak terdengar lagi suara beliau, Letnan.”
“Oke. Usahkan terus  bisa nyambung lagi sersan.”
“Baik Letnan …”
Ada apa dengan Mr Clean?
Dia baru tahu, dengan hidupnya telepon seluler dan melakukan kontak dengan atasan dan beberapa re kanya di kepolisian, keberadaannya justru diketahui Tuan Sanders dan Rifshan. Kedunya memberi tahu posisi terakhir Mr Clean dan Yulia kepada empat rekan mereka yang masih hidup.
“Kurang ajar. Kena tipu kita,” teriak salah seorang bodyguard dengan kesal. Hidungnya terus menerus be rgerak. Mukanya merah. Beberapa kali dia memukul stir mobil sebelum akhirnya ditenangkan rekannya sesama bodiguard yang duduk di sebelahnya.
Mobil melaju sangat cepat. Sepuluh menit kemudian keberadaan Mr Clean terdeksi. Tuan Sanders dan Rifshan lega. Keduanya tertawa lebar.
“Sebelah kiri simpang lima,” lapor Tuan Sanders.
Reeen …
Reeen …
Reeen …
Mr Clean berhenti sebentar. Asap knalpot terbang rendah ditiup angin. Dia minta Yulia lebih rileks dan tenang. Harus siap melakukan perjalanan jauh.

10
TUAN Sanders meminta Rifshan menghentikan mobil sebentar. Karena dia penasaran ada kerumunan orang banyak di tepi jalan raya.  Polisi belum tiba di lokasi. Mereka baru tiba setelah Tuan Sanders me lihat keempat mayat dan serpihan mobil boks di dekat parit.
Bagian depan mobil hancur. Boks belakang pecah berkeping-keping, sementara ban mobil  hilang entah kemana.  Beberapa warga yang melihat serempak menutup hidung dan mulut. Karena bau anyir dan tak sedap yang menyemburat dari ceceran darah mayat yang bergelimpangan.
Tuan Sanders hanya bisa menarik nafas panjang.  Hanya sekadar bisa menahan amarah. Tapi ketika Tuan Murdoch memarahinya, karena telah sengaja ia membiarkan empat anak buahnya bereaksi sendirian, amarahnya tak terbendung lagi.
Dia pun menjerit-jerit dan memaki-maki. Menendang batu yang bertebaran di dekatnya berdiri, membu at warga yang berangsur-angsur mulai meninggalkan lokasi terjadinya penembakan  dengan kendaraan yang mereka bawa, ketakutan.
Mereka buru-buru menghidupkan mesin mobil. Bahkan, saking takutnya, ada yang lupa menaruh kunci kontak. Mereka tak berani menatap wajah Tuan Sanders yang beringas sambil mengacung-acungkan senjata.
Dia baru berhenti menakut-nakuti orang di sekitarnya  setelah didatangi dua orang polisi. Sempat  terja di adu mulut, bentrok fisik dan kontak senjata. Karena terdesak, Rifshan memilih ngacir bersaman Tuan Sanders karena kuatir tertangkap.
“Mereka mengejar kita, Tuan Sanders. Coba kau tengok di kaca spion itu,” ucap Rifshan, menambah ke cepatan laju mobil menjadi 100/km.
“Terus saja Rif. Kalau macam-maca tembak saja,” kata Tuan Sanders. Dia sudah mengokang senjata, siap ditembakkan pada saat yang tepat.
Tak kalah serunya, petugas kepolisian juga mempercepat laju mobil mereka. Meminta bantuan rekan-rekan-rekan mereka yang lain untuk menutup semua akses jalan yang bakal dilalui Rifshan dan Tuan Sanders.
Tak kepalang tanggung, enam unit mobil kepolisian dikerahkan dengan satu helikopter yang menyusul beberapa saat kemudian. Rifshan membelokkan mobil ke kanan, melewaiti lorong perkotaan. Nyaris me nabrak pejalan kaki. Mereka sudah ditunggu mobil polisi yang menghadang di mulut lorong.
Mundur ke kiri, balik arah ke asal mereka masuk tadi. Sementara aman. Namun, ketika mereka sudah keluar dari gerbang lorong, kiri dan kanan sudah dihadang lima petugas kepolisian.
Keduanya tak punya pilihan saat ini selain melompat keluar dari mobil. Menyelinap masuk ke samping bangunan gedung. Memanjat tembok dan pagar kawat berduri. Lalu jatuh bangun menghindari batu besar dan kecil pembatas bangunan gedung.
“Sebelah sana Ders,” bisik Rifshan.
“Jangan Rif. Sebelah sana saja.” Ke kiri, ada kolam ikan dan jalan setapak menuju jalan besar.
Rifshan pun menempuh jalur yang dipilih Tuan Sanders. Lebih dekat dan mudah dilalui. Agak sepi, dan sepertinya beberapa orang anak yang sedang bermain cak ing kling dan dakocan, tak hiraukan kedua nya.
Mereka tak menaruh curiga sedikit pun. Karena di tempat mereka tinggal menetap ini sudah sering dila lui orang tak dikenal sebagai jalan pintas, dan selama ini aman-aman saja.
Tuan Sanders dan Rifshan tak sadar kalau dari kejauhan mereka dibuntuti enam mobil kepolisian. Bebe rapa petugas siaga di dalam mobil bersenjatakan lengkap dan siap melumpuhkan seteru Mr Clean dan Yulia itu.
“Menyerahlah. Atau terpaksa kami tembak,” seru petugas kepolisian dengan alat pengeras suara.
Mendengar seruan untuk segera menyerahkan diri itu,   keduanya melompat ke dalam parit besar yang airnya mengalir deras ke sungai  buatan.
Pengejaran terus dilakukan oleh aparat kepolisian. Beberapa di antaranya turun dari mobil, menelusuri jejak dua buruan mereka.   
Tak sungkan-sungkan mereka berbasah ria dalam parit. Menyelam dan berenang agar cepat menyusul dan menemukan Tuan Sanders dan Rifshan.
Lalu apa yang terjadi kemudian?
“Angkat tangan!” Teriak dua polisi sambil mengarahkan senjata ke kepala Tuan Sanders dan Rifshan ya ng baru saja menaiki pinggiran turap dan bermaksud mengaso sejenak sebelum melanjutkan pelarian mereka dari kejaran pihak kepolisian.

11
BYUUUUUUR …
Byuuuuur …
Blebeeeek …
Blembeeeeb …
Melompat dari atas jembatan kayu, terjun ke sungai, langsung menyelam. Mr Clean dan Yulia selamat dari kejaran dan berondongan peluru yang dilesakkan dua jago tembak suruhan Tuan Murdoch.
Sementara dua  bodyguard, temannya jago tembak,  tak henti-hentinya menge pal-ngepalkan tinju. Me reka kesal, kecewa dan marah melihat Mr Clean dan Yulia berhasil meloloskan diri.
“Keparat … bangsaaat!” Maki bodiguard berkulit hitam. Dia ingin melompat  mengejar Mr Clean, tetapi dihalangi teman bodiguardnya  berkulit putih karena percuma dikejar lantaran derasnya air sungai yang  mengalir.

“Sabarlah dikit kau tu.” Nasihat  si kulit putih sambil menepuk-nepuk pundak temannya.
“Aaaah .. sabar melulu. Aku sudah tak tahan melihat ulah mereka. Hatiku panas.  Eeeeeekh!” Teriak si hitam sambil meninju tiang jembatan. Walaupun bukan terbikin dari besi, sekuat apa pun pukulan yang didaratkan si hitam, jangankan patah. Bergerak sedikit pun tidak tiang jembatan.
“Ayo kita cari mereka,” kata si jago tembak bermata sipit.
“Cari kemana Bos?” Tanya bodiguard putih. Selain sudah jauh, untuk mencari dan menemukan Mr Clean dan Yulia, mereka harus memutar arah karena menggunakan kendaraan jalur darat.
“Bagaimana kalau kita susul saja mereka dengan speed boat?” Saran jago tembak berambut gimbal.
“Mana speed botnya Bal?” Tanya rekannya si mata sipit.
“Kita carilah dulu. Jangan mudah putus asa. Harus kuat,” kata Gimbal optimis jika menggunakan speed boat Mr Clean akan dengan mudah mereka temukan.
“Cari kemana Bos?”
“Sudah .. ayo kita turun ke sungai. Di sana kan ada rumah warga. Kita tanyalah. Biar aku sajalah yang na nya.” Gimbal percaya warga sekitar sungai punya speed boat. Mustahil tak punya sementara mereka su dah terbiasa mencari ikan di sungai dan memasarkannya dalam jarak yang jauh dari pagi sampai malam.
“Kalau tak ada bagaimana Bal?”
“Tenang sajalah Pit. Percayalah pasti ada …” jawab Gimbal percaya diri.
Dial ah yang mula-mula mengetuk pintu rumah warga di pinggiran sungai. Seorang bapak yang rambut nya penuh uban, hanya mengenakan kain sarung, tanpa baju, menyambut mereka ramah.
“Kami mau sewa speed boat bapak. Boleh kan Pak?” Tanya si Sipit.
“Boleh. Tapi kami tak punya sopirnya. Anak saya bisa, tapi dia ada keperluan di kota. Sementara saya sendiri sudah tua, tak sanggup lagi rasanya.” Jawab si bapak sambil ketawa.Ompong, tak bergigi lagi.
“Taka pa-apa Pak. Kami punya sopir. Tenang sajalah,” jelas si Gimbal.
“Boleh kami tahu Pak, dimana speed boatnya? Tanya bodiguard hitam.
“Di belakang Pak. Mari ikut saya!” Ajak si bapak. Keluar dari pintu belakang. Ada jembatan kayu. Mereka pun sama-sama meniti jembatan kayu yang sudah berusia tua itu.
Ada tangga menuju permukaan sungai. Mereka menuruni  tangga itu. Speedboat ada di bawah rumah. Sengaja ditaruh disana. Kalau mau digunakan baru didorong bersama-sama. Agar awet, di bawah speed boat diletakkan papan sebagai alasnya.
“Saya sendiri saja Pak,” kata si bodiguard berkulit putih. Mulai pasang kuda-kuda. Tarik nafas. Kaki kanan ke belakang.
Huuuup …
Satu kali dorongan kuat dengan tangan kanan, speedboat meluncur cepat ke tepian sungai.
Byuuuur …
Cebreeeesh …
“Oke Pak. Kami sewa. Ini persekotnya. Satu juta rupiah.” Rambut gimbal menyerahkan uang satu juta ru piah yang diikat dengan karet dan beberapa bungkus rokok sigaret. Si bapak tentu sangat senang mene rimanya.
“Terima kasih Pak,” ucapnya dengan raut muka ceria. Sudah lama dia tidak melihat uang dan rokok. Tak heran, begitu mendapat rezeki nomplok  barusan, dia melonjak kegirangan.

TO BE CONTINUED       








































Tidak ada komentar:

Posting Komentar