NOVEL …
Cak Luy (1)
By Wak Amin
1
MR Clean turun dari mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan
raya. Dengan langkah tergesa-gesa, ia menu ju ke belakang sebuah klub malam.
Sepi, dan dengan cepat ia masuk tanpa sepengetahuan penjaga yang biasa
nongkrong dekat pintu masuk berterali amat kokoh itu.
Jarum jam sudah bergeser ke angka satu dinihari. Jalan raya
tampak mulai sepi. Tidak seramai ketika mendekati pukul sebelas malam tadi.
Hanya satu dua mobil melaju dengan kecepatan sedang, motor sesekali
berseliweran dengan lampu merah yang sudah berubah kuning berkerlap-kerlip.
Sebaliknya di dalam klub malam, suasananya sungguh jauh
berbeda. Ramai disesaki laki-laki dan
wanita dengan berbagai gaya dan aktivitas yang berbeda. Ada berdansa, berbicara
dengan sesama di meja segi empat sambil
menikmati hidangan dan mendengarkan suara emas biduanita ternama.
Sebagian yang lain asyik bermain biliar, rolet dan berjoget
sepanjang malam. Sementara para pelayan
yang sebagian besar peremuan muda berparas cantik sibuk melayani pesanan
pengunjung yang sema kin banyak jumlahnya lewat tengah malam . Barisan tukang pukul dan petugas
keamanan berjaga-jaga dan sangat ketat memperhatikan setiap tamu yang keluar
masuk gedung berlantai tiga puluh itu.
Saat semua terlena dan asyik dengan tugasnya masing-masing,
Mr Clean, dengan satu kali lompatan ber hasil
menyusup masuk ke lorong lantai dua puluh. Dia tahu di lantai inilah
Sang Bos, Tuan Murdoch, pe milik klub malam terbesar di kota ini, bekerja
sampai pagi.
Sambil memperhatikan suasana sekitar ruangan Sang Bos, Mr
Clean tiba di depan pintu. Dia masukkan kartu dan dengan satu kali gesekan
pintu pun terbuka.
Dari pintu yang ia tutup kemudian, bergeser ke dekat toilet.
Lalu bersembunyi di balik lemari arsip besar. Di sebuah ruangan tengah dengan
sinar lampu remang-remang, Tuan Murdoch tampak berbicara serius dengan dua pria
berkepala gundul.
Mr Clean belum beraksi. Dia sengaja mencuri dengar terlebih
dulu pembicaraan antara Tuan Murdoch dengan dua tamu istimewanya itu.
“Bagaimana menurutmu Tuan Sanders?” Tanya Tuan Murdoch
serius.
“Kita habisi saja dia, Bos. Habis perkara. Kan lebih baik
kita door … door, selesai.” Jawab Tuan Sanders, memasukkan kembali pistol ke
sarung yang melelet di pinggangnya. Pistol itu sempat ia kokang dan arah kan
muncungnya ke foto Samuel yang tergeletak di atas meja kerja Tuan Murdoch
sebagai isyarat siap menghabisi orang yang selalu bikin gaduh itu.
“Bagaimana dengan pihak keamanan Tuan Sanders?”
“Itu sih gampang, Bos. Serahkan saja sama kami berdua.
Dijamin oke,” jelas Tuan Sanders.
Tuan Rifshan yang duduk di sebelah Tuan Sanders punya cara
lain untuk menyikat Samuel.
“Cara apa itu Tuan Rifshan?”
Tuan Rifshan mengajak rekannya mendekat ke mukanya Tuan Murdoch.
Kemudian menyebutkan rencana yang ada di benaknya saat ini.
Ha ha ha ha …
Ha ha ha ha …
Ha ha ha ha …
“Anda benar-benar hebat, Tuan Rifshan.” Puji Tuan Murdoch.
Ia bangkit dari tempat duduknya. Kemu dian mengambil sebotol vodka dan tiga
gelas kecil yang ia taruh di atas meja kerjanya.
Ia tuangkan sedikit air ke dalam gelas itu.
“Mari tuan-tuan. Kita bersulang dululah,” ajak Tuan Murdoch.
Lima belas menit
kemudian, Tuan Sanders dan Tuan Rifshan
keluar dari ruang kerja Tuan Murdoch. Keduanya sepakat menuntaskan misi membunuh Samuel sebelum
terbit fajar.
Dari dalam mobil, Mr Clean yang sudah lebih dulu masuk mobil
lima menit berselang, terus mengamati sepak terjang Tuan Sanders dan Tuan
Rifshan. Mulai dari keduanya keluar dari depan gedung megah pi nggir jalan raya
itu hingga masuk ke mobil.
Crecek cek ceeeek ..
Reeen …
Lampu depan menyala.
Mobil melaju lambat.
Mr Clean mengikuti dari belakang. Melaju ke jalan utama
perempatan kota. Karena jalanan lengang, dia sangat mudah mengontrol laju mobil
di depannya itu.
Belok kiri. Ia pun belok kiri. Sebelum akhirnya berhenti di depan telepon
umum. Tuan Rifshan keluar da ri mobil.
Ia bergegas menuju telepon umum. Menelepon seseorang, entah siapa.
Hanya sebentar. Lalu keluar lagi dari dalam telepon umum,
dan dengan langkah tergesa-gesa masuk mo bil.
Mobil melaju, Mr Clean pun melaju. Membuntutinya beberapa meter dari belakang.
Dia sengaja memperlebar jarak dengan mobil yang dikemudikan
Tuan Sanders itu. Pilihan berisiko kare na peluang untuk kehilangan jejak
sangatlah besar.
2
KRIIIIIING …
Telepon berdering.
Tiga kali berdering baru diangkat.
“Kak Samuel. Ini Yulia Kak. Pak Rifshan mau ketemu kakak.
Penting katanya,” kata Yulia, entah kenapa malam ini dia tak bisa tidur.
Padahal seluruh anggota badannya capek bukan main.
“Ketemuan dimana Yul?” Tanya Samuel. Ia sama sekali tak
menaruh curiga Rifshan justru ingin mengha bisi nyawanya malam ini.
“Di rumah. Sebentar lagi dia datang. Tunggu, masih di jalan,
katanya tadi.” Yulia menirukan pesan Rifshan beberapa menit yang lalu.
“Kamu dimana sekarang Yul?”
“Di rumah, Kak.”
“Ya sudah. “
Kletek …
Telepon ditutup.
Karena masih mengantuk, Samuel memilih rebahan di tempat
tidurnya, menunggu sampai Pak Rifshan datang menemuinya di rumah. Maunya dia
menelepon. Tapi lupa-lupa ingat berapa persis nomor tele pon teman yang lebih
tua usianya dari dia itu.
“Udah ah. Tunggu ajalah,” katanya bicara sendiri sembari
memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan.
Ning noooong …
Bel berbunyi …
Samuel bangkit dari rebahannya. Sambil melangkah gontai
dengan mata yang masih mengantuk berat, dia keluar dari kamarnya. Dia nyalakan
lampu ruang tamu.
Kemudian dia menuju pintu depan. Mengintip dari balik kaca
pintu. Setelah memastikan Pak Rifshan lah yang datang, barulah Samuel membuka
pintu.
“Samuel …!”
“Pak Rifshan!”
Celedup …
Deeep …
Deeep …
Tuan Sanders melepaskan beberapa kali tembakan tanpa suara
yang menyasar tepat ke dada dan perut Samuel.
Agar tak menjerit dan kedengaran tetangga sebelah rumah, Tuan Rifshan
membekap mulutnya. Dia lepaskan setelah Samuel dipastikan tewas.
Keduanya bergegas mengangkat mayat Samuel. Dimasukkan ke
dalam mobil dalam posisi duduk di kursi belakang.
Mobil baru melaju setelah Rifshan menutup rapat dan mengunci
pintu rumah Samuel. Darah yang ber ceceran di lantai telah dibersihkan
menggunakan tisue sehingga lantai kembali streril tanpa mening galkan jejak
pembunuhan sedikit pun.
Mr Clean terus menguntit ke mana tujuan akhir Tuan Sanders
menghentikan mobilnya. Dia baru berhen ti menguntit setelah mobil sedan yang berjarak beberapa meter di
depannya itu berhenti di sebuah te bing yang menjorok ke laut.
Dengan satu kali lemparan, mayat Samuel berhasil dilempar ke
laut. Tuan Rifshan dan Sanders tertawa puas. Kini tak ada lagi penghalang dan
orang yang selalu bikin susah Tuan Murdoch.
“Beres Bos,” kata Tuan Sanders memberitahu Tuan Murdoch.
Tugas penting menyudahi hidup Samuel sudah selesai.
Tugas berikutnya?
“Kembali sekarang juga,” pesan Tuan Murdoch. Dia tampak puas
atas kinerja dua koleganya itu.
Tuan Murdoch merasa yakin kejadian dinihari ini berlangsung
aman, karena menurut pengakuan Sanders, tak seorang pun selain mereka yang
terlihat di lokasi kejadian.
“Bagaimana dengan Yulia, temannya Samuel, Tuan Sanders?”
“Sebentar kami kesana Bos. Pokoknya bos tenang sajalah. Tak
perlu gelisah. Kami berdua siap menun taskannya.”
“Aturlah oleh kalian baik-baik. Saya serahkan pada kalian
berdua bagaimana mengatasinya. Setelah itu selesai, cepat temui saya.”
“Siap Bos.”
Sementara Yulia, walau sudah minum obat tidur, tetap tak mau
tidur. Dia masih terjaga di atas tempat tidurnya sampai telepon berdering.
“Halo. Kak Samuel ya?!”
“Bukan. Pak Rifshan Yulia.”
“Ooo Pak Rifshan. Bagaimana Pak? Sudah kan ketemuan dengan
Kak Samuel?”
“Sudah. Ini dia titip sesuatu buat kamu. Bapak antarkan ya?”
“Apa ya Pak titipannya?”
“Enggak tahu Yulia. Bapak enggak berani bukanya. Mana tahu
surprise buat kamu. Makanya, supaya enggak penasaran, bapak antar ya?”
“Eeeem … merepotkan Pak Rifshan. Besok sajalah, atau biar
Yulia yang ambil. Sebut saja dimana Yulia ambil besok.”
“Eeem. Kamu ada di rumah kan sekarang Yulia?”
“Iya Pak. Enggak kemana-mana …”
“Udah kalau gitu. Gini aja Yulia. Besok kan bapak sibuk
seharian. Enggak sempat mungkin ketemuan de ngan Yulia. Sekalian pulang, gimana
kalau bapak mampir sebentar ke rumah kamu. Di luar saja cukuplah. Yang penting
titipan ini kamu terima. Oke?”
“Baiklah kalau begitu maunya Pak
Rifshan. Yulia tunggulah …!”
3
LIMA menit kemudian, setelah
mencongkel jendela kamar Yulia, Mr Clean berhasil menyelinap masuk. Dia melihat
Yulia tidur.
Dia tutup kembali jendela itu.
Lalu mendekati Yulia yang berbaring ke kanan.
Kriiiiing …
Alarm jam beker berbunyi
nyaring.
Tepat pukul tiga dinihari.
Yulia terjaga. Dia menoleh ke
kiri, jam beker di atas meja yang tiba-tiba berhenti berdering.
Siapa yang menghentikannya
berbunyi?
“Saya Non Yulia,” bisik Mr
Clean. Yulia kaget. Dari mana dia tahu nama saya, katanya, coba meronta.
Eeeeekh …
Eeeeemh …
Mr Clan melepaskan bekapannya.
Sssssst …
“Saya Mr Clean,” buru-buru Mr
Clean mengeluarkan kartu namanya dan identitas lainnya. Yulia terdiam dengan
tatapan takut bercampur curiga.
“Tuan mau menangkap saya kah?”
“Ssssst… Jangan panggil saya
tuan. Panggil saja nama atau mister. Saya masih muda. Bujangan pula,” te rang
Mr Clean. Tak lupa ia meminta maaf atas tindakan kasarnya barusan dan telah
masuk rumah orang lain tanpa izin.
Mr Clean pun bercerita bahwa
Samuel telah dibunuh Tuan Sanders dan Tuan Rifshan. Mayatnya dibuang ke laut.
Dia dibunuh di rumahnya. Beberapa butir peluru
berhasil menembus dada dan perutnya.
Sssst …
Yulia hendak menjerit. Namun
keburu ditenangkan Mr Clean dengan memeluknya seerat mungkin. Dia memberikan
kesempatan pada perempuan muda ini untuk menangis sesunggukan.
Yulia tak menyangka Samuel yang
baik padanya itu harus tewas di tangan orang yang dia kenal dan per cayai
selama ini. Yulia merasa bersalah, kecewa, geram dan sakit hati. Ingin rasanya
dia membalas orang yang telah menghabisi nyawa Samuel itu saat ini.
“Sekarang, sebelum mereka
datang, Yulia ikut saya saja. Mau kan?”
Mr Clean menawarkan diri. Dia tahu Tuan Sanders dan Rifshan bakal
menemui Yulia sebentar lagi di kediamannya.
Maka itu, sebelum Yulia bernasib
sama dengan Samuel, dibunuh diam-diam, Mr Clean lebih dulu datang untuk
menyelamatkan nyawanya.
“Nanti saja kita cerita panjang
lebar, Yulia. Sekarang kita harus cepat keluar dari rumahmu ini lewat pintu
belakang.”
Yulia setuju. Dia mengangguk
lemah. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa mengikuti ajakan Mr Clean sa at ini,
tentu saja dia akan beristirahat sampai pagi. Karena seluruh persendian
tubuhnya terasa lemas dan tibat-tiba saja down.
Teeeeet …
Teeeet …
“Itu pasti mereka Mr Clean,”
ucap Yulia. Dia tak mau membuka pintu
depan. Karena dia saat ini lebih percaya pada Mr Clean ketimbang Tuan Sanders
dan Rifshan.
“Ke kanan saja mister,” kata
Yulia. Sebelah kanan memang ada pintu samping yang hanya sesekali digu
nakan, saat ada kenduri misalnya.
Ceklek …
Ceklek …
“Macet mister.”
“Sudah sini …”
Dengan satu kali dorongan sambil
menahan gagang pintu, seketika pintu terbuka. Agar tak terdengar, pintu
diangkat sedikit saat menariknya ke dalam.
“Yuliaaaa …!”
“Yuliaaa …! Ini Pak Rifshan.”
“Ini Tuan Sanders yang ganteng
itu, Yulia.” Sahut Tuan Sanders mengeluarkan rayuan mayutnya. Siapa tahu,
setelah pintu dibuka, Yulia langsung klepek-klepek. Terpikat.
“Yulia!”
Tak juga ada sahutan dari dalam.
Mencoba menelepon, tapi tak ada
yang mengangkat.
“Kita dobrak sajalah Rifshan.”
“Jangan Ders. Nanti kedengaran
tetangga sebelah, bisa gawatlah kita,” kata Rifshan.
“Atau dengan pistolku ini saja,
gimana?”
“Oke … cobalah, mana tahu bisa.”
Deeep …
Deeep …
Ceklek …
Kletek …
Pintu berhasil dibuka. Keduaya
masuk. Memeriksa setiap kamar dan ruangan. Yulia tetap tak diketemu kan.
Keduanya mulai kesal.
Bruuuuk …
“Aduh,” ringis Yulia. Dia
terjatuh setelah kaki kanannya kesandung batu . Untung kepalanya tak sampai
menyentuh tanah karena berhasil ditahan Mr Clean dengan kedua tangannya yang
terpaksa menjatuh kan diri ke rerumputan.
Yulia tersenyum.
“Thank’s Mister.”
“Udah. Cepetan …!”
4
“NAH .. itu mereka Ders!” Teriak Rifshan dari
balik jendela kamar Yulia yang terbuka. Dia melihat Yulia berlari dengan
seorang lelaki menuju sebuah mobil yang diparkir di seberang jalan, tak jauh
dari kedia man Yulia.
Lampu depan mobil menyala.
Reeeen …
Mobil melesat cepat. Tuan
Sanders dan Rifshan berusaha mengejar keduanya. Karena terlambat bebe rapa
detik saat keluar dari kediaman Yulia, jarak antara mereka terpaut jauh. Belum
lagi mobil kepun yaan Tuan Sanders ini sempat ngadat.
“Kampret!” Gerutu Sanders sambil
membanting keras pintu mobil.
Cuma sebentar. Setelah Rifshan
turun tangan, mesin mobil kembali menyala. Mobil tak ngadat lagi. Kini dia yang
menyetir mobil.
Jreeeen …
Seakan terbang, mobil melaju
amat cepat. Rifshan memang sangat bernafsu mengejar dan mendapat kan jejak
mobil Mr Clean.
Sayang seribu kali sayang,
sampai pertigaan mereka kehilangan jejak. Tak diketemukan ke mana arah mobil Mr
Clean melaju. Rifshan sangat jengkel dan marah. Tuan Sanders kembali mengambil
alih kemudi.
“Dasar buaya …” Omel Rifshan.
“Siapa yang buaya, Shan?”
“Itu. Perempuan jalang itu,”
kata Rifshan jengkel.
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa?”
“Kalau sama cewek alis
perempuan, apalagi yang masih muda dan perawan ting ting, tak boleh begitu Rif.
Bisa lari dia karena ketakutan. Caranya harus lembut. Kayak kue ager gitu.
Lembut kan. Setelah da pat baru kita kerasin sedikit …”
“ Yang kutakutkan cuma satu,
Ders.”
“Keduluan pria lain?”
“Dia buka suara. Habislah kita.”
Ha ha ha ha …
“Ngomong-ngomong, siapa pria
yang bawa Yulia itu, Rif. Pasti tahu kamu. Soalnya kamu yang tengok tadi.”
“Kayaknya Mr Clean, Ders,” ujar
Rifshan.
“Mr Clean yang detektif itu
kan?”
“Iya …”
Rifshan kemudian menelepon Tuan Murdoch. Dia memberitahu Sang
Bos, Yulia dibawa kabur Mr Clean. Tentu
saja dia marah besar. Membanting pintu keras-keras. Berjalan mondar-mandir dari
ruang kerjanya ke jendela, terus ke luar ruangan, begitulah berkali-kali.
Belum juga reda amarahnya, Tuan
Murdoch keluar dari ruang kerjanya. naik
turun lift, tanpa tujuan hen dak kemana. Dua orang tukang pukulnya jadi
bingung. Mau ditanya Bos marah, tidak ditanya Bos seperti orang yang mengalami
stres berat.
“Bos, itu bukan jalan,” tegur
salah seorang tukang pukul berkulit hitam.
“Apaan itu?”
“Gudang Bos.”
Tuan Murdoch menarik nafas
sebentar. Dia menelepon Tuan Sanders dan
Rifshan. Meminta keduanya terus melaku kan pengejaran. Jika tidak berhasil usai
Subuh nanti, segeralah kembali ke markas.
Kemanakah Mr Clean membawa
Yulia?
Ke rumahnya tentu. Mau kemana
lagi. Paling tidak sampai Subuh aman dari kejaran Tuan Sanders dan Rifshan.
Kepada Yulia, Mr Clean berpesan
agar selalu waspada. Jika ada orang yang belum dikenal datang berkun jung,
lebih baik tak usah dibukakan pintu.
“Mister mau kemana?” Yulia
heran, apa tidak kenal rasa capek. Lepas mengantarnya ke persembunyian
sementara ini, sudah bersiap pergi lagi.
“Aku mau tengok temanmu,” ujar
Mr Clean. Sekali lagi dia meminta Yulia hati-hati.
“Apa mungkin dia masih hidup
Mister?”
Mr Clean tak mau menduga-duga.
Karena sampai kini dia belum tahu apakah mayat Samuel sudah dike temukan atau
belum. Karena belum ada laporan yang masuk ke hape androidnya.
“Tolonglah Mister. Selamatkan
dia kalau dia masih hidup,” pinta Yulia dengan suara serak-serak basah.
“Oke. Tapi jaga dirimu baik-baik
ya,” pesan terakhir Mr Clean sebelum dia pamitan pergi.
Yulia mengantar sampai ke depan
pintu. Mr Clean masuk ke dalam mobilnya sambil melambaikan tang an. Mobil yang
baru diia beli beberapa bulan belakangan ini, meluncur cepat ke jalan raya. Bergabung dengan rekan-rekan
se kerjanya di kepolisian yang masih mencari keberadaan jasad Samuel hinggga kini.
Di lain lokasi …
Tuan Murdoch tak kuasa
menyembunyikan rasa kecewanya setelah tahu Yulia berhasil lolos dari kejaran
dua koleganya. Sepagi ini kerjanya cuma geleng-geleng kepala. Dia tak habis
mengerti hanya menangkap seorang perempuan muda harus gagal sampai dua kali.
“ Tenang saja Bos. Serahkan saja
sama kami berdua,” kata Rifshan coba menenangkan Tuan Murdoch yang sudah hampir
sepuluh menit terakhir tak kunjung reda amarahnya.
“Bagaimana mungkin aku bisa
tenang kalau Yulia temanmu itu ternyata masih hidup.”
“Berilah dia kesempatan untuk
hidup sebentar saja Bos. Mari kita sama-sama mencari solusi.” Rifshan lega
melihat amarahnya Tuan Murdoch berangsur-angsur mereda.
“Tuan kan pasti kenal dengan
atasan Mr Clean di kepolisian?”
“Siapaaaa?”
“Yang sering menelepon Tuan dan
sesekali datang menemui Tuan di tempat ini?!”
Tuan Sanders coba mengingatkan.
Siapa dia?
Tuan Murdoch tak perlu
berlama-lama mengingatnya. Karena yang bersangkutan memang masih berte man
akrab dengannya. Dialah Letnan Salam.
Sebulah sekali Letnan Salam
menelepon Tuan Murodch. Menanyakan keadaannya. Namun tak pernah secuilpun ia
menyinggung kepak bisnis yang kini
dijalani sahabat dekatnya itu.
5
PENCARIAN terhadap mayat Samuel
terus dilakukan pihak kepolisian. Mereka terbagi tiga tim. Tim A di air, Tim B
di darat dan Tim C di udara. Dari darat menggunakan kendaraan roda dua dan
empat, di air dengan kapal cepat, sedangkan dari udara
menggunakan helikopter pelacak.
Tepat pukul sembilan pagi,
pencarian bersama dihentikan. Karena mayat yang diduga bernama Samuel berhasil
diketemukan petugas kepolisian dalam posisi mengambang di laut dengan tubuh
mulai membe ngkak.
Samuel segera dibawa ke rumah
sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mr Clean hanya meng antar
sampai mobil boks ambulance itu. Selepas itu dia pulang ke rumahnya untuk
menemui dan mem beritahu Yulia kabar
terkini teman dekatnya itu.
Dari balik jendela kamar di mana
Mr Clean biasa beristirahat, Yulia memandang jauh ke jalan raya. Pera saannya
gelisah. Tidak tenang dan selalu diliputi rasa was-was dan takut. Mukanya
pucat. Dia mulai di hinggapi stres ringan.
Semenjak Mr Clean pergi untuk
mencari mayat Samuel, Yulia belum juga tidur. Dia hanya bisa berbaring ke kiri
dan kanan di atas tempat tidur. Sebentar matanya terpejam, sebentar lagi melek.
Selalu terjaga.
Pesan yang disampaikan Mr Clean
selalu dia ingat. Jiwanya terancam. Sebab, kini dia dicari Rifshan dan Tuan
Sanders untuk dihabisi. Karena hanya Yulia lah satu-satunya saat ini penghalang
besar bagi Tuan Mu doch. Dia dianggap mengetahui seluk beluk perburuan permata
yang melibatkan orang penting dan menggegerkan warga kota itu.
“Mister …!” Tak heran, begitu Mr
Clean membuka pintu dan bermaksud hendak menutupnya lagi, Yulia serta merta
berlari dan memeluknya haru.
Mr Clean membiarkan Yulia
menangis. Usai menutup pintu, dia mengajaknya mengaso sejenak di ruang tamu.
“Yulia,” katanya sembari
mlepaskan pelukan Yulia.
“Kamu harus sabar ya!”
Yulia menyeka air matanya. Dia
tak kuasa menatap balas tatapan Mr Clean.
“Samuel temanmu itu sudah
diketemukan, Yulia.”
“Alhamdulillah,” kata Yulia.
“Masih hidup kan Mister, Samuelnya?”
Mr Clean tidak menjawab.
Dia hanya mengatakan Samuel
sudah dilarikan ke rumah sakit.
Diperiksa dulu. Hasil pemeriksaan nanti nya baru diketahui apakah benar
Samuel tewas dibunuh, lalu ada kekerasan
fisikkah sebelumnya, dan lain se bagainya.
Yulia kembali memeluk Mr Clean.
“Keluarga dekatnya, atau orang
terdekatnya bisa menengok. Melihat dari dekat, atau mungkin memas tikan apa
benar mayat lelaki yang ditemukan di laut itu masih keluarganya atau orang
terdekatnya.”
Yulia masih berharap Samuel
belum mati.
“Sekarang kita ke rumah sakit.
Mau kan?”
Yulia mengangguk.
Rumah sakit terbesar di kota ini
ramai oleh pasien yang berobat. Lalu-lalang mobil ambulance, kendara an roda
dua dan empat keluar masuk rumah sakit, tak pernah sepi sejak pintu gerbang
dibuka pagi tadi.
Para juru rawat sibuk melayani.
Mendorong pasien yang berkursi roda, memberi obat, ikut menemani dokter melakukan pemeriksaan di sal pasien, dan
menyiapkan serta mengganti selang infus pasien yang baru masuk dan sudah beberapa hari diopname.
Sementara Mr Clean, setelah
mendapat izin masuk ke ruang kamar mayat, mengingatkan Yulia untuk tetap tenang
dan tidak berbuat aneh-aneh.
“Jaga itu ya Yul!”
“Yes Mister …”
Keduanya tak serta merta bisa
menengok jasad Samuel. Keduanya harus melewati lorong kecil agak ge lap
terlebih dulu. Di paling ujung ada pintu
masuk. Dari pintu inilah Mr Clean berbicara empat mata dengan petugas jaga,
sebelum mempersilakannya masuk.
Di tempat penyimpanan mayat …
Sreeeng …
Kreeeek …
Peti mayat ditarik keluar.
“Silakan Mister!” Kata petugas
jaga ramah. Dia mempersilakan Mr Clean membuka sendiri kapan penutup mayat.
“Yulia. Siap ya?”
“Siap Mister …”
Huuup …
Klebesh …
Yulia menutup mulutnya. Dia
ingin menjerit sekuat-kuatnya. Mr Clean segera memeluknya. Sebab, dari tatapan
mata dia tahu Yulia mengenal si mayat yang terbujur kaku di depan matanya ini.
“Yulia!”
“Betul Mister, Samuel.” Ucapnya
lirih.
Agar tak sampai jatuh, dia
bersandar di bahunya Mr Clean.
6
“Aku tak yakin kau
Mengetahuinya
Tapi saat kita bertemu untuk
Pertama kalinya
Aku sangat gugup hingga tak
Bisa mengatakan apa-apa
Di momen istimewa itu
Aku menemukan cintaku dan
Hidupku telah menemukan
Kepingannya yang hilang
Jadi seumur hidup aku
Akan mencintaimu
Akan di sisimu bersamamu
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Dan mulai saat ini sampai
Nafasku berhenti
Aku mengingat hari ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini
Yang kita miliki adalah abadi
Cintaku tanpa akhir
Dan dengan cincin ini aku
Mengatakan kepada dunia
Bahwa
Kau adalah alasanku,
Aku percaya padamu
Dengan sepenuh hatiku, aku
Serius dengan semua yang
Kukatakan itu
Jadi seumur hidup aku
Akan mencintaimu
Akan di sisimu bersamamu
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Dan mulai saat ini sampai
Nafasku berhenti
Aku akan mengingat hari ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini
Oooooh oh
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Sangat cantuk dengan gaun
Putih itu
Malam ini
Dan nanti jika kita memiliki
Anak gadis
Kuharap dia memiliki mata
Sepertimu
Menemukan cinta seperti
Yang kau dan aku miliki
Ya, kuharap dia jatuh cinta
Dan aku akan mengantarnya
Berjalan ke altar
Dia akan sangat cantik
Dengan gaun putihnya
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Jadi seumur hidupku aku
Akan mencintaimu
Akan di sisimu bersamamu
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Dan mulai saat ini sampai
Nafasku berhenti
Aku akan mengingat hari ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini
Kau sangat cantik dengan
Gaun putih itu
Malam ini …”
“Suka lagu ini Yulia?”
Yulia mengangguk.
“Ini lagu Beautiful in White nya Shane Filan bukan Mister?”
“Betul sekali Yuli,” kata Mr
Clean membelokkan mobilnya ke kanan memasuki kawasan salah satu rumah makan
terkenal di kota ini.
“Mister suka?”
Mr Clean mengiyakan.
“Yuk kita turun Yulia,” ajak Mr
Clean setelah mobil berwarna biru tua
itu berhenti di pelataran parkir paling ujung dekat tanaman bonsai.
7
TAK lama berselang sebuah mobil
Panther berwarna putih parkir tak jauh dari tempat parkir mobil Mr Clean.
Seorang lelaki tinggi tegap bergegas menelepon, karena tak ada sahutan, dia
tutup kembali tele pon seluler itu.
Bersama Tuan Sanders, Risfhan dan Rudolf, dia turun dari mobil sambil
menyandang senjata laras panjang yang diikatkan di badan bagian belakang.
“Sikat saja Mi,” kata Tuan
Sanders. Dia tahu Mr Clean dan Yulia belum lama singgah untuk makan siang di
rumah makan favorit warga kota itu.
Yulia, yang secara tak sengaja
melihat Rifshan beserta tiga rekannya turun dari mobil, bergegas mene mui Mr Clean yang lagi buang air kecil di toilet.
Dengan wajah pucat dan nafas
tersengal-sengal, ia memberitahu Mr Clean ada Rifshan dan Tuan San ders.
“Baru hendak masuk tadinya Mister,” ucap Yulia gugup. Rasa laparnya seketika hilang.
“Baru hendak masuk tadinya Mister,” ucap Yulia gugup. Rasa laparnya seketika hilang.
“Sebentar Yulia.” Mr Clean baru
saja hendak buang air kecil. Dia urungkan setelah Yulia memaksa masuk.
“Cepat Mister. Mereka bawa
senjata.” Yulia mengingatkan.
Rifshan tampak berbicara serius
dengan seorang staf manajer rumah makan. Tanpa basa basi, dia me nunjukkan foto
Mr Clean dan Yulia. Dengan gemetar, pria
tampan berkacamata minus itu mengaku me lihat pria dan wanita yang terpampang
di foto itu.
“Tadi mereka makan di kursi
paling ujung kanan. Baru saja mereka makan. Namun, sesaat setelah saya kembali
dari melayani pengunjung lain yang baru datang, mereka sudah tidak ada lagi di
ana. Jadi Tuan, saya benar-benar tidak tahu.”
“Bohong. Kamu pasti tahu.
Katakan, kemana mereka.” Rifshan mengarahkan moncong senjata laras panjang ke
kening si mata minus.
“Be … benar Tuan. Saya sungguh
tidak tahu kemana mereka pergi.”
Praaak ..
Braaak …
Auuuuwww …
Seluruh pengunjung yang sedang
asyik makan serempak terkejut. Sebagian dari mereka, terutama pengunjung
wanita, berteriak histeris melihat Rifshan membenturkan beberapa kali kepala si
mata minus, menyebabkan kepala dan hidungnya berdarah.
Dooor ..
Dooor ..
Guaaar …
Rudolf, Sanders dan Romi,
bergantian melepaskan tembakan ke atas dan dinding rumah makan.
Suasana berubah mencekam.
Rifshan menarik paksa seorang
perempuan muda yang sedang makan berdua dengan pria ganteng di sebelahnya. Ia
paksa si wanita untuk mengatakan kemana gerangan Mr Clean dan Yulia pergi.
Tentu saja dia tidak tahu.
Karena keduanya baru datang, tanpa menoleh kiri dan kanan, pengunjung lain yang
sabar menunggu pesanan datang.
Akibatnya, bogem mentah mendarat telak di pipi dan pelipis ma ta si
wanita.
Sang kekasih yang mencoba untuk
membantu, tak luput dari hajaran bertubi-tubi Rifshan.
Jeduuug …
Paaar …
Praaak …
Satu kali tendangan keras
mengarah ke perut, teman dekat si wanita mengerang kesakitan. Badannya
terlempar jauh dan membentur kursi makan sepasang lansia.
Triiing ..
Jegaaar …
Saking kerasnya benturan itu,
sepasang lansia tadi terjungkal dengan piring dan gelas berhamburan ke lantai.
Pecah berantakan.
Mr Clean tak tinggal diam. Dari
balik pintu utama keluar masuk rumah makan, ia lepaskan tembakan se banyak dua
kali. Tembakan itu tepat mengenai kepala Rudolf dan Romi. Keduanya tewas
seketika.
Melihat kedua rekannya tewas mengenaskan,
Tuan Sanders dan Rifshan membalasnya dengan menem bak secara membabi buta kea
rah Mr Clean dan Yulia. Keduanya dengan cepat menghindar untuk kemu dian
berhasil keluar dari rumah makan lewat pintu samping.
“Kejar mereka sampai dapat!” Teriak Tuan Sanders. Dia sangat marah
dan geram. Dia ingin menangkap hidup-hidup Mr Clean dan Yulia, lalu
menggantungnya di pusat kota sebelum diterjang dengan ratusan timah panas.
“Wuluk .. wuluk …” Ejek Mr
Clean. Dia buka celananya, lalu dia tunggingkan pantatnya yang hanya dila pisi
celana dalam putih abu-abu.
“Kurang ajar. Taun itu orang.”
Pekik Risfshan sambil marah. Dia lepaskan beberapa kali tembakan. Tapi tak satu
pun yang mengenai sasaran, selain kaca dan bodi mobil pengunjung rumah makan
yang pecah dan bolong-bolong.
8
AKSI kejar-kejaran di jalan raya
pun tak terelakkan. Berlangsung amatlah seru setelah Tuan Murdoch me menuhi
permintaan Tuan Sanders dan Rifshan untuk mengirim beberapa personil tangguh
yang telah terbiasa melakukan pengejaran dan membunuh banyak orang.
Dalam tempo kurang dari lima
menit, delapan bodyguard, empat di antaranya jago tembak orang suru han dan
kepercayaan Tuan Murdoch ini segera beraksi dengan mengepung dan memblokir dua
jurusan jalan utama kota.
Jurusan pertama adalah jalan
menuju utara, sedangkan jurusan kedua menuju selatan. Praktis jalan yang
sama-sama menuju luar kota itu sudah tertutup bagi Mr Clean dan Yulia untuk menyelamatkan diri
dari pengejaran.
Empat buah mobil dikerahkan. Dua
mobil boks besar dan dua lagi mobil anti peluru. Mobil kepunyaan Tuan Murdoch
ini jarang digunakan terkecuali dalam keadaan darurat dan sangat dibutuhkan.
“Awas Mister!” Teriak Yulia.
Sebuah mobil tronton nyaris menyerempet mereka. Beruntung, Mr Clean dengan
cekatan membanting stir ke kiri, melewati marka jalan.
Semua kendaraan serempak
membunyikan klakson sambil tertawa, tersenyum dan bahkan juga ada yang marah
serta memaki-maki kasar. Mr Clean tetap tenang, dia memutar stir ke kanan memasuki lorong besar yang di kanan
dan kirinya diapit gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan.
Karena di ujung lorong sudah
ditunggu Tuan Sanders dan Rifshan sambil membidikkan senjata laras panjang , Mr Clean belok ke kanan. Anak-anak lorong yang
sempit, khusus buat motor, sepeda dan pejalan kaki.
Sulit memang bagi Mr Clean untuk
memasukkan mobilnya melewati gang kecil itu. Selain bisa, kalau te tap
dipaksakan masuk, menabrak pagar dan teras rumah warna, mengganggu keluar masuk
para pejalan kaki.
Yulia mengusulkan naik sepeda
motor saja. Tak harus trail, Vespa pun jadilah. Sama saja. Sebelum usu lan itu
terealisasi, Mr Clean menghentikan laju mobilnya dan parikir dekat parit.
Sengaja ia peroskkan ban belakang sebelah kiri.
“Ambil sajalah Mister,” bisik
Yulia sesaat setelah keduanya turun dari mobil dan melihat ada beberapa unit
motor yang terparkir di teras rumah.
Motor yang dipilih adalah
berjenis GL Pro. Dengan satu kali engkolan, utak- atik gas dan kopling, motor
melaju dengan cepat ke ujung gang. Belok
kanan, sudah menunggu Tuan Sanders dan Rifshan di sebe rang jalan.
Karena mobil yang lalu-lalang
ramai,Mr Clean dengan cepat memacu motornya hinga ke jalan besar. Tuan Sanders
dan Rifshan terpaksa gigit jari karena harus kehilangan jejak.
“Bangsat,” makinya sambil
menendang berulangkali ban mobil depan.
Beberapa pejalan kaki dan
pengendara roda dua dan empat sama-sama menggelengkan kepala. Ada yang sampai
nyeletuk …” Kalau stres jangan disini Om, tuh sana … di rumah sakit orang stres.”
Mr Clean lega karena kini dia benar-benar
aman dari pengejaran. Namun itu tak berlangsung lama. Ketika berada di
pertigaan, ada dua mobil boks besar bermaksud memepet. Lantaran masih ramai
kendaraan yang lalu-lalang, pemepetan belum terlihat secara kasat mata.
Tapi begitu arus kendaraan
sedikit lengang, dua mobil boks tadi mulai memepet. Satu di kanan dan satunya
lagi di kiri. Mobil Mr Clean berada di tengah.
Seorang jago tembak membidikkan
senjatanya. Belum sempat pelor emas itu mengenai kepala Yulia yang tak berhelm,
Mr Clean mengerem mendadak. Lalu memutar balik motornya, melewati marka
pembatas jalan dan teman kecil dekat parit besar yang memanjang di sepanjang
jalan utama.
Di sana ada sebuah gang selebar tiga ban
sepeda motor ukuran sedang. Mr Clean memperlambat laju motornya. Kemudian
melesat cepat menaiki tanah perbukitan. Dari atas bukit inilah dia menepikan mo
tor ‘curian’ nya itu.
Dibantu Yulia, Mr Clean
mengeluarkan senjata berbahan peledak ke arah dua mobil boks yang masih
berusaha berbelok ke kanan, sebelum berlari
ke depan taman bunga.
Cuiiiis …
Ciuuuus …
Jegaaar …
Guaaar …
Guaaam …
Dua mobil boks meledak terbakar. Empat anak buah Tuan Murdoch bersusah payah keluar
dari puing-puing besi yang telah menghitam legam itu dengan luka parah di
bagian muka dan darah bercipratan di seluruh badan.
9
“SEPERTINYA mereka sudah tewas,
Mister.” Yulia memberanikan diri turun dari motor, disusul Mr Clean, guna
memastikan empat pria suruhan Tuan Murdoch yang tertelungkup itu sudah tidak
bernyawa lagi.
Ceklek …
Fleeesh …
Setelah memfoto empat mayat dan
sisa onggokan mobil boks dari berbagai posisi, hasil jepretannya ini ia kirim
ke atasannya, Letnan Salam.
Letnan Salam dan beberapa rekan
Mr Clean di kepolisian segera menggelar rapat tertutup. Tak diduga sebelumnya,
peserta rapat terpecah dua kelompok. Kelompok pertama setuju memberikan bantuan
langsung kepada Mr Clean.
Kelompok kedua menyatakan keberatannya. Kelompok terakhir ini beralasan kasus yang
membelit Mr Clean ini sangat besar dengan melibatkan orang berpengaruh di kota
ini.
“Saya mencium Tuan Murdoch ikut
mendalangi ancaman pembunuhan ini,” ujar Sersan James berala san.
“Anak buahnyalah yang diduga
kuat membunuh Samuel,” sahut Sersan Steven. Karena Yulia sangat dekat dengan
Samuel, Tuan Murdoch berkepentingan juga untuk menghabisi Yulia.
“Pasti dia banyak tahu soal
perburuan permata itu,” jelas Sersan Mc Cartney.
“Jadi sebelum kita putuskan
untuk mengirim anggota kita, sebaiknya kita pikirkan secara matang dari
berbagai sisi. Bukan saya tak setuju membantu Mr Clean. Sangat setuju,” kata
Sersan James.
Menurut saya, kata Sersan
Steven, “Kita selamatkan Mr Clean lebih dulu. Setelah itu kita tunggu reaksi
Tuan Murdoch.”
“Apa tidak mungkin justru dengan
menunggu itulah korban yang berjatuhan akan lebih banyak lagi sersan,” kata
Letnan Salam.
“Betul Letnan. Tapi maksud saya,
Tuan Murdoch ini sangatlah licik. Nah, kita tunggu kelicikannya itu. Kita
siapkan antisipasinya. Terus berdialog dengan Mr Clean. Minta pendapat beliau
apa yang sebaiknya ha rus segera kita lakukan. Tentu keputusan akhir ada pada
Letnan.”
Tok .. tok .. tok …
Sreeet …
“Siang Letnan!”
Sersan Jhoni melaporkan mereka barusa
saja kehilangan kontak dengan Mr Clean. “Sempat terdengar suara tembakan.
Setelah itu tak terdengar lagi suara beliau, Letnan.”
“Oke. Usahkan terus bisa nyambung lagi sersan.”
“Baik Letnan …”
Ada apa dengan Mr Clean?
Dia baru tahu, dengan hidupnya
telepon seluler dan melakukan kontak dengan atasan dan beberapa re kanya di
kepolisian, keberadaannya justru diketahui Tuan Sanders dan Rifshan. Kedunya
memberi tahu posisi terakhir Mr Clean dan Yulia kepada empat rekan mereka yang
masih hidup.
“Kurang ajar. Kena tipu kita,”
teriak salah seorang bodyguard dengan kesal. Hidungnya terus menerus be rgerak.
Mukanya merah. Beberapa kali dia memukul stir mobil sebelum akhirnya ditenangkan
rekannya sesama bodiguard yang duduk di sebelahnya.
Mobil melaju sangat cepat. Sepuluh
menit kemudian keberadaan Mr Clean terdeksi. Tuan Sanders dan Rifshan lega.
Keduanya tertawa lebar.
“Sebelah kiri simpang lima,”
lapor Tuan Sanders.
Reeen …
Reeen …
Reeen …
Mr Clean berhenti sebentar. Asap
knalpot terbang rendah ditiup angin. Dia minta Yulia lebih rileks dan tenang. Harus
siap melakukan perjalanan jauh.
10
TUAN Sanders meminta Rifshan
menghentikan mobil sebentar. Karena dia penasaran ada kerumunan orang banyak di
tepi jalan raya. Polisi belum tiba di
lokasi. Mereka baru tiba setelah Tuan Sanders me lihat keempat mayat dan
serpihan mobil boks di dekat parit.
Bagian depan mobil hancur. Boks
belakang pecah berkeping-keping, sementara ban mobil hilang entah kemana. Beberapa warga yang melihat serempak menutup
hidung dan mulut. Karena bau anyir dan tak sedap yang menyemburat dari ceceran
darah mayat yang bergelimpangan.
Tuan Sanders hanya bisa menarik
nafas panjang. Hanya sekadar bisa
menahan amarah. Tapi ketika Tuan Murdoch memarahinya, karena telah sengaja ia
membiarkan empat anak buahnya bereaksi sendirian, amarahnya tak terbendung
lagi.
Dia pun menjerit-jerit dan
memaki-maki. Menendang batu yang bertebaran di dekatnya berdiri, membu at warga
yang berangsur-angsur mulai meninggalkan lokasi terjadinya penembakan dengan kendaraan yang mereka bawa, ketakutan.
Mereka buru-buru menghidupkan
mesin mobil. Bahkan, saking takutnya, ada yang lupa menaruh kunci kontak.
Mereka tak berani menatap wajah Tuan Sanders yang beringas sambil
mengacung-acungkan senjata.
Dia baru berhenti menakut-nakuti
orang di sekitarnya setelah didatangi
dua orang polisi. Sempat terja di adu
mulut, bentrok fisik dan kontak senjata. Karena terdesak, Rifshan memilih
ngacir bersaman Tuan Sanders karena kuatir tertangkap.
“Mereka mengejar kita, Tuan
Sanders. Coba kau tengok di kaca spion itu,” ucap Rifshan, menambah ke cepatan
laju mobil menjadi 100/km.
“Terus saja Rif. Kalau
macam-maca tembak saja,” kata Tuan Sanders. Dia sudah mengokang senjata, siap
ditembakkan pada saat yang tepat.
Tak kalah serunya, petugas
kepolisian juga mempercepat laju mobil mereka. Meminta bantuan
rekan-rekan-rekan mereka yang lain untuk menutup semua akses jalan yang bakal
dilalui Rifshan dan Tuan Sanders.
Tak kepalang tanggung, enam unit
mobil kepolisian dikerahkan dengan satu helikopter yang menyusul beberapa saat kemudian.
Rifshan membelokkan mobil ke kanan, melewaiti lorong perkotaan. Nyaris me nabrak
pejalan kaki. Mereka sudah ditunggu mobil polisi yang menghadang di mulut
lorong.
Mundur ke kiri, balik arah ke
asal mereka masuk tadi. Sementara aman. Namun, ketika mereka sudah keluar dari
gerbang lorong, kiri dan kanan sudah dihadang lima petugas kepolisian.
Keduanya tak punya pilihan saat
ini selain melompat keluar dari mobil. Menyelinap masuk ke samping bangunan
gedung. Memanjat tembok dan pagar kawat berduri. Lalu jatuh bangun menghindari
batu besar dan kecil pembatas bangunan gedung.
“Sebelah sana Ders,” bisik
Rifshan.
“Jangan Rif. Sebelah sana saja.”
Ke kiri, ada kolam ikan dan jalan setapak menuju jalan besar.
Rifshan pun menempuh jalur yang
dipilih Tuan Sanders. Lebih dekat dan mudah dilalui. Agak sepi, dan sepertinya
beberapa orang anak yang sedang bermain cak ing kling dan dakocan, tak hiraukan
kedua nya.
Mereka tak menaruh curiga
sedikit pun. Karena di tempat mereka tinggal menetap ini sudah sering dila lui
orang tak dikenal sebagai jalan pintas, dan selama ini aman-aman saja.
Tuan Sanders dan Rifshan tak
sadar kalau dari kejauhan mereka dibuntuti enam mobil kepolisian. Bebe rapa
petugas siaga di dalam mobil bersenjatakan lengkap dan siap melumpuhkan seteru
Mr Clean dan Yulia itu.
“Menyerahlah. Atau terpaksa kami
tembak,” seru petugas kepolisian dengan alat pengeras suara.
Mendengar seruan untuk segera
menyerahkan diri itu, keduanya melompat ke dalam parit besar yang
airnya mengalir deras ke sungai buatan.
Pengejaran terus dilakukan oleh
aparat kepolisian. Beberapa di antaranya turun dari mobil, menelusuri jejak dua
buruan mereka.
Tak sungkan-sungkan mereka
berbasah ria dalam parit. Menyelam dan berenang agar cepat menyusul dan
menemukan Tuan Sanders dan Rifshan.
Lalu apa yang terjadi kemudian?
“Angkat tangan!” Teriak dua
polisi sambil mengarahkan senjata ke kepala Tuan Sanders dan Rifshan ya ng baru
saja menaiki pinggiran turap dan bermaksud mengaso sejenak sebelum melanjutkan
pelarian mereka dari kejaran pihak kepolisian.
11
BYUUUUUUR …
Byuuuuur …
Blebeeeek …
Blembeeeeb …
Melompat dari atas jembatan
kayu, terjun ke sungai, langsung menyelam. Mr Clean dan Yulia selamat dari
kejaran dan berondongan peluru yang dilesakkan dua jago tembak suruhan Tuan
Murdoch.
Sementara dua bodyguard, temannya jago tembak, tak henti-hentinya menge pal-ngepalkan tinju.
Me reka kesal, kecewa dan marah melihat Mr Clean dan Yulia berhasil meloloskan
diri.
“Keparat … bangsaaat!” Maki bodiguard
berkulit hitam. Dia ingin melompat mengejar Mr Clean, tetapi dihalangi teman bodiguardnya berkulit putih karena percuma dikejar lantaran
derasnya air sungai yang mengalir.
“Sabarlah dikit kau tu.” Nasihat si kulit putih sambil menepuk-nepuk pundak
temannya.
“Aaaah .. sabar melulu. Aku
sudah tak tahan melihat ulah mereka. Hatiku panas. Eeeeeekh!” Teriak si hitam sambil meninju
tiang jembatan. Walaupun bukan terbikin dari besi, sekuat apa pun pukulan yang
didaratkan si hitam, jangankan patah. Bergerak sedikit pun tidak tiang
jembatan.
“Ayo kita cari mereka,” kata si
jago tembak bermata sipit.
“Cari kemana Bos?” Tanya bodiguard
putih. Selain sudah jauh, untuk mencari dan menemukan Mr Clean dan Yulia,
mereka harus memutar arah karena menggunakan kendaraan jalur darat.
“Bagaimana kalau kita susul saja
mereka dengan speed boat?” Saran jago tembak berambut gimbal.
“Mana speed botnya Bal?” Tanya
rekannya si mata sipit.
“Kita carilah dulu. Jangan mudah
putus asa. Harus kuat,” kata Gimbal optimis jika menggunakan speed boat Mr
Clean akan dengan mudah mereka temukan.
“Cari kemana Bos?”
“Sudah .. ayo kita turun ke
sungai. Di sana kan ada rumah warga. Kita tanyalah. Biar aku sajalah yang na nya.”
Gimbal percaya warga sekitar sungai punya speed boat. Mustahil tak punya
sementara mereka su dah terbiasa mencari ikan di sungai dan memasarkannya dalam
jarak yang jauh dari pagi sampai malam.
“Kalau tak ada bagaimana Bal?”
“Tenang sajalah Pit. Percayalah
pasti ada …” jawab Gimbal percaya diri.
Dial ah yang mula-mula mengetuk
pintu rumah warga di pinggiran sungai. Seorang bapak yang rambut nya penuh
uban, hanya mengenakan kain sarung, tanpa baju, menyambut mereka ramah.
“Kami mau sewa speed boat bapak.
Boleh kan Pak?” Tanya si Sipit.
“Boleh. Tapi kami tak punya
sopirnya. Anak saya bisa, tapi dia ada keperluan di kota. Sementara saya
sendiri sudah tua, tak sanggup lagi rasanya.” Jawab si bapak sambil
ketawa.Ompong, tak bergigi lagi.
“Taka pa-apa Pak. Kami punya
sopir. Tenang sajalah,” jelas si Gimbal.
“Boleh kami tahu Pak, dimana
speed boatnya? Tanya bodiguard hitam.
“Di belakang Pak. Mari ikut
saya!” Ajak si bapak. Keluar dari pintu belakang. Ada jembatan kayu. Mereka pun
sama-sama meniti jembatan kayu yang sudah berusia tua itu.
Ada tangga menuju permukaan
sungai. Mereka menuruni tangga itu. Speedboat
ada di bawah rumah. Sengaja ditaruh disana. Kalau mau digunakan baru didorong
bersama-sama. Agar awet, di bawah speed boat diletakkan papan sebagai alasnya.
“Saya sendiri saja Pak,” kata si
bodiguard berkulit putih. Mulai pasang kuda-kuda. Tarik nafas. Kaki kanan ke
belakang.
Huuuup …
Satu kali dorongan kuat dengan
tangan kanan, speedboat meluncur cepat ke tepian sungai.
Byuuuur …
Cebreeeesh …
“Oke Pak. Kami sewa. Ini
persekotnya. Satu juta rupiah.” Rambut gimbal menyerahkan uang satu juta ru
piah yang diikat dengan karet dan beberapa bungkus rokok sigaret. Si bapak
tentu sangat senang mene rimanya.
“Terima kasih Pak,” ucapnya
dengan raut muka ceria. Sudah lama dia tidak melihat uang dan rokok. Tak heran,
begitu mendapat rezeki nomplok barusan,
dia melonjak kegirangan.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar