Senin, 17 April 2017

Cak Luy (3)




Novel ---
Cak Luy (3)
By  Wak Amin


21
AKSI kejar-kejaran berlangsung seru. Meski mudah terkejar, karena berjenis truk bermuatan amat besar, Sersan James tak kehilangan akal. Dia bermanuver. Dia melakukan zig-zug. Dengan lihainya dia memban ting stir ke kiri, kanan dan lurus. Lalu ke kanan, kiri dan lurus.
Karena kesal, salah seorang pengendara trail melepaskan tembakan. Tepat mengenai kaca spion sebelah kanan. Pecah dan lepas disapu angin. Sersan Steven tak tinggal diam. Bersama Sersan Mc Cartney, kedua nya berhasil melumpuhkan trail yang berada di sebelah kanan truk.
Kreseeek …
Guaaar …
Terbalik dan jatuh masuk parit.
Ha ha ha ha …
“Babi tuh orang!” Maki si keriting. Dia berusaha bangun, bersama rekannya yang ia bonceng. Berhasil memang. Tapi motor yang ia kemudikan rusak parah. Bodinya penyot, kaca spion potel kedua-duanya, dan ban belakang kempes.        
Syiiiit …
Sebuah mobil ngerem mendadak.
“Ayo cepat naik!” Kata temannya yang duduk di jok belakang. Mobil bermesin ganda satunya sudah lebih dulu melesat ke depan. Hanya terpaut beberapa meter di belakang tronton.
“Makanya tengok-tengok kalau bawa motor,” ujar rekannya yang duduk di sebelah kanan sopir.
“Sudah kutengok. Tak ada apa-apa. Orang tak ada, kecuali sopirnya. Eeee taunya, sudah dekat nongol tu kampret. Nembak lagi,” celetuk si keriting.
“Ya namanya juga polisi. Enggak mungkin nongol begitu saja. Pasti kena tembak kalian …”
Ha ha ha ha …
“Letnan.”
“Usahakan tak usah menembak.”
“Siap Letnan!”
Berbeda dengan keriting, si ikal justru lebih mahir bermanuver. Beberapa kali dia membahayakan Sersan James.
Pertama, saat Sersan James ke kanan. Si ikal sukses mendahului sambil yang dibonceng melepaskan tembakan, mengenai kaca spion sebelah kiri.
Setelah itu, si ikal membelokkan motornya, berhadapan dengan tronton. Ketika hampir menyentuh truk, dia belok ke kanan. Entah bagaimana, sudah berada di belakang tronton.
Kraaak …
Pintu bak terbuka …
Doooor …
Dooor …
Hanya dengan dua kali tembakan, motor trail terbalik dan dilindas mobil yang melintas di belakangnya. Ngerem kejut dan terbalik.
“Letnan ..”
“Beres Sersan Steven. Tancaaap!”
Meski sudah terluka, ikal berusaha mengejar, disusul rekan-rekannya yang lain menggunakan mobil. Melaju sangat kencang.
Dooor …
Dooor …
Peluru kelima belas, tronton oleng setelah ban belakang terkena tembakan. Sersan James membanting stir ke kanan.
Mengerem …
Dia buka pintu dan melompat keluar dari truk. Diikuti Sersan Steven dan Mc Cartney. Sedangkan Letnan Salam masih berada di bak belakang.
Dia baru keluar setelah terdengar suara tembakan. Rupanya, peluru yang dilesakkan Sersan James tepat mengenai kepala si ikal yang hendak bergegas turun dari motor.
Tewas seketika.
Sontak, teman ikal membabi buta melepaskan tembakan. Letnan Salam terpaksa mengurungkan niatnya untuk keluar dari bak.
Dia masih mencari cara bagaimana menghentikan tembakan. Dia dekati sebuah peti. Dia buka peti itu. Setelah memastikan isinya permata, dia ambil sebagian, kemudian dilemparkannya ke dekat keriting.
“Aduh … Kepalaku bocor,” teriaknya menahan sakit.
“Bukan bocor bro. Coba kau lihat dulu ini,” kata temannya memperlihatkan permata yang berkilau-kilauan.
“Haaaa?!”
Si keriting tak percaya. Dia mengusap-usap bola matanya hanya untuk memastikan di depan matanya saat ini adalah permata.
“Dasar polisi goblok. Tak tahu dia kalau ini permata,” ujar keriting tersenyum lebar. Dia membayangkan tak lama lagi dia akan menjelma jadi orang kaya raya di kota ini.
Dia pungut permata yang bertebaran di jalan itu. Dia dan beberapa temannya tak tahu kalau muncung senjata Sersan James, Sersan Steven dan Mc Cartney sudah mengarah ke kepala mereka.
Jeglek …
“Tahan!” Perintah Letnan Salam.
Seketika itu juga salah seorang kawanan sindikat bermaksud melepaskan tembakan. Belum sempat pe luru menyasar ke polisi, peluru Sersan James sudah lebih dulu mengenai keningnya hingga tembus ke belakang.
Melihat temannya tewas, keriting cs berusaha melarikan diri. Letnan Salam tak memberi kesempatan. Beberapa peluru dia muntahkan. Jatuh tersungkur terkena tembakan.


22
TRIIIING…
Triiing …
“Mama sayang!”
Triiing ..
Triiing …
“Cepat buka sayang!”
Bosan pencet bel, Letnan Salam menelepon isterinya. Beberapa kali ditelepon, tak diangkat. Dia tutup kembali telepon seluler itu. Dia masukkan hape berusia tua tapi masih tokcer itu ke saku celananya.
Dia tersenyum.
“Mungkin sayang tengah bergurau dengan saya,” ujarnya dalam hati.
Sreeet …
Nyeeet …
Ternyata, ketika coba dibuka, pintu tidak terkunci. Letnan Salam belum curiga. Karena pernah suatu kali sang istri tercinta sengaja tidak mengunci pintu. Dia kesal. Selalu pulang pagi selama beberapa hari.
“Mamaaa … Titiiik …”
Dari ruang tamu, setelah menutup rapat pintu depan, Letnan Salam mendekat ke kamar isterinya.
Tok .. tok … tok …
“Buka pintunya sayang.” Kata Letnan Salam merayu isterinya agar jangan marah jika dia pulang pagi hari ini.
“Buka sayang.”
“Ini papa pulang Titik.”
Biasanya Titik, sang anak gabung tidur bersama mamanya. Walau sudah tumbuh menjadi gadis remaja dan periang, Titik tak suka tidur sendirian di kamarnya. Dia lebih suka tidur bersama kedua orang tua nya.
Letnan Salam tak keberatan tentunya. Hanya saja, sekali waktu dia menyarankan pada Titik untuk men coba tidur sendirian di kamarnya. Boleh ditemani, tapi kalau sudah tertidur, si mama harus keluar lagi. Tidur berdua dengan Letnan Salam di kamarnya mereka.
Mereka adalah keluarga yang rukun dan harmonis. Tak heran ketika menemukan isteri dan anaknya tewas dibunuh orang tak dikenal di kamarnya, Letnan Salam langsung menangis sesunggukan.
Sampai teman-temannya dari kepolisian datang seperempat jam kemudian, Letnan Salam masih duduk bersimpuh, menangisi kepergian dua orang yang amat disayanginya itu.
Sulit membayangkan, Letnan Salam yang gagah dan berprestasi serta memiliki banyak anak buah, piawai dalam menjalankan tugas di lapangan, justru sangat bertolak belakang dengan keadaannya sekarang ini.
Rambut sedikit kusut, mata sembab dengan pakaian yang terbuka kancingnya. Jaket masih dikenakan, bahkan kaos kaki belum juga dilepaskan.
“Letnan. Ini saya.” Suara itu tiba-tiba menyeruak di tengah ramainya aparat kepolisian memeriksa dan mengamankan kediaman Letnan Salam.
Letnan Salam menoleh sejenak.  Dia kenal betul suara itu. Tak perlu waktu lama. Dia peluk erat dan ha ngat anak buahnya itu. Lama juga keduanya saling berpelukan. Keduanya bersua kembali dalam situasi yang berbeda.
Mr Clean dan Yulia baru saja lepas dari kejaran anak buah Tuan Murdoch, sedangkan Letnan Salam men dapat musibah besar, telah kehilangan dua orang yang amat dekat dalam hidupnya, dan sangat ia cintai.
Yulia yang berada di dekat Letnan Salam, bergegas ke dapur. Dia membuatkan dua gelas air kopi hitam manis dan secangkir teh hangat untuknya. Kemudian dia kembali menemui Letnan Salam yang tampak berbincang amat serius dengan Mr Clean.
“Yulia. Sampai kelupaan aku. Kenalkan, beliau ini adalah Letnan Salam. Atasanku di kepolisian.” Kedua nya berjabat tangan. Tak lama. Karena setelah itu mereka bertiga menyeruput air kopi dan teh manis wangi di ruang tamu.
“Jadi beliau inilah yang sering aku ceritakan itu Letnan,” kata Mr Clean sambil melirik Yulia yang salah tingkah karena merasa diperhatikan oleh Letnan Salam.
“Kamu memang perempuan hebat Yulia,” puji Letnan Salam. Mendengar pujian itu, Yulia mulai terkesan rileks dan lancar menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan Letnan Salam.
Pertanyaan dari Letnan Salam itu bukan masalah dirinya yang menjadi saksi penting atas kasus besar yang tengah diselidiki pihak kepolisian saat ini. Tapi lebih pada bagaimana perasaannya jika ditinggal pergi orang yang dicintainya, termasuk bagaimana agar musibah yang menerpa bisa diterima  dengan lapang dada, ikhlas tanpa mengganggu rutinitas kerja  sehari-hari.
“Clean. Saya ingin kau dampingi aku tuntaskan masalah yang kita hadapi ini secara bersama-sama,” pinta Letnan Salam. Dia berjanji tidak akan mencampuradukkan antara kepentingan pribadi dengan kedinasan.
“Biarlah itu berjalan seperti biasa. Biarkan teman-teman kita yang mengusutnya. Kini yang penting dalang semuanya ini harus secepatnya kita temukan dan tangkap hidup-hidup.”
“Saya enggak diajak Letnan Salam?” Yulia meminta Letnan Salam dan Mr Clean menghabiskan  sisa air kopi keduanya. Jika masih mau menambah segelas lagi, dia siap membikinkannya lagi di dapur.
“Bagaimana Mr Clean?”



 23
MR Clean tak keberatan Yulia bergabung dengannya dan Letnan Salam untuk mencari tahu dalang pem bunuhan sadis itu. Karena yang terpenting Yulia tahu dan bisa menempatkan diri. Mana yang harus dia kerjakan dan mana pula yang tidak.
Hal itu perlu dia antisipasi agar keberadaan Yulia bukan justru memperumit masalah. Menimbulkan masalah baru sementara masalah yang dihadapi justru terabaikan. Semakin kabur yang pada akhirnya terlupakan sama sekali.
“Tahu maksud saya kan Yulia?”
“Iyalah Mister,” jawab Yulia ketika sampai di depan rumahnya. Secara khusus dia diantar Letnan Salam dan Mr Clean. Mereka berpisah dan berharap Yulia bisa terus membantu dengan melaporkan perkem bangan terbaru yang berkaitan dengan kasus yang lagi heboh saat ini.
Dari kediaman Yulia, Mr Clean dan Letnan Salam bergerak ke pusat kota untuk kemudian singgah seben tar di tempat kerja mereka. Di tengah perjalanan mereka mendapat laporan Sersan James dan Mc Cart ney mengalami kecelakaan. Keduanya terluka parah. Kini dirawat di rumah sakit. Kritis keadaan mereka berdua.
“Menurutmu bagaimana Clean?” Tanya Letnan Salam. Dia menduga kecelakaan yang dialami Mc Cartn ey dan Sersan James sangat aneh. Keduanya justru jarang jalan berdua kecuali untuk tugas khusus yang memang dia perintahkan.
“Menurutku Let, sebaiknya kita sempatkan nanti tanyai mereka,” jelas Mr Clean.
Berharap ada titik terang saat keduanya tiba di rumah sakit, Mc Cartney dan Sersan James sudah dinya takan tewas oleh tim dokter yang menanganinya.
Semula, baik Letnan Salam maupun Sersan James, tak mempercayainya begitu saja. Namun, setelah diperlihatkan jasad kedua rekan mereka yang sudah dibalut kain putih, baru percaya.
“Hancur mukanya Let,” ujar Mr Clean setelah melihat mukanya Sersan James.
“Dia  juga Clean.” Selain tak berbentuk lagi, tangan dan kakinya Mc Cartney patah mematah.
Menurut penjelasan tim dokter, saat  keduanya diperiksa sudah tidak bisa berkomunikasi lagi. Hanya nafas yang masih ada walau sudah tidak lancar lagi.
“Begitu juga dengan kondisi mereka,” terag salah seorang dokter berkacamata dan tampan. “Kami belum sempat melakukan apa-apa, mereka suda keburu meninggal dunia.”
“Maaf dok, kesimpulan anda soal ini?”
“Sejauh yang saya tahu Let,” kata sang dokter,” boleh jadi memang murni kecelakaan. Bedanya, ketika keduanya terlempar dari atas motor, ada yang melindas tubuh mereka.
“Oleh sebab itulah anggota tubuh mereka patah mematah dengan muka yang sudah tidak berbentuk lagi,” jelas dokter tinggi semampai ini.
“Terima kasih dok. Kalau begitu kami permisi dulu,” ucap Mr Clean. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Mr Clean menelepon Yulia terlebih dulu. Lama juga baru diangkat.    
Tak ada pesan khusus yang dia sampaikan terkecuali tetap berhati-hati. Penjagaan diri terus ditingkatkan menyusul tewasnya Sersan James dan Mc Cartney.
Sepintas, Yulia biasa-biasa saja. Tapi beberapa menit kemudian, perasaannya mulai gelisah. Sehabis makan siang, dia beristirahat di ruang tamu sambil menonton acara televisi.
Pemutaran film kartun jenaka membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Saat jeda ada breaking news yang melaporkan seorang polisi ditembak orang tak dikenal setelah keluar dari pusat perbelanjaan di kota ini.
Muka Yulia berubah tegang. Dia menelepon Mr Clean. Dia hanya ingin mengkonfirmasi ulang tentang pembunuhan seorang polisi di depan pusat perbelanjaan megah itu.
“Betul Yulia. Teman kita, Sersan Steven,” kaa Mr Clean yang saat ditanya Yulia tengah berada di lokasi kejadian bersama Letnan Salam. Keduanya memeriksa jejak darah dan kaki yang masih tersisa mem bekas tak jauh dari jalan raya utama itu.
“Mati atau bagaimana Mister?”
“Belum ada laporan Yulia. Sebentar lagi mungkin. Eeeem, ngomong-ngomong, kamu masih di rumah sekarang?”
“Iyala Mister, mau dimana lagi.”
Ha ha ha ha …
“Mister. Aku tiba-tiba merasa cemas sekali,” aku Yulia dengan suara gemetaran.
“Cemas kenapa? Ada yang menelepon kamu?”
“Enggak ada Mister. Cuma perasaanku tiba-tiba tak enak saja,” jelas Yulia.
“Udah makan?”
“Udah dong.”
“Banyak atau sedikit?”
“Lumayanlah.”
“Oke ya … Nanti kalau sempat aku mampir ke rumahmu. Tunggu saja di rumah. Jangan kemana-mana,” pusan Mr Clean.
Yulia mencoba mengatur naik turun nafasnya yang begitu cepat. Dia kini sudah tidak lagi berada di ruang tengah. Dia bergegas masuk ke kamarnya.
Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Membolak-balikkan badan. Sebentar ke kiri, sebentar la gi ke kanan. Lalu bangun dan duduk sejenak di kursi kerjanya. Mendekati jendela,  dia memandang pe nuh curiga ke jalan raya.
Kriiiing …
Kriiiing …
Kriiiing …
Telepon selulernya berbunyi.

24
YULIA mendekap dadanya. Badannya gemetar. Dia tak berani mengangkat telepon itu, walau hanya kurang dari setengah meter jaraknya dari tempat ia berdiri. Dia biarkan terlebih dulu.
Kriiiing …
Kriiiing …
Peluhnya bercucuran. Gugup luar biasa. Sampai-sampai dia harus menggigit jari telunjuknya. Matanya menatap liar ke sekitar ruangan.
Apa yang kemudian terjadi?
Guaaaar …
Terdengar ledakan keras di ruang tamu. Yulia menjerit histeris. Dia berusaha membuka pintu kamarnya. Karena gugup, tangan kanannya seolah berat memegang gagang pintu. Harus berkali-kali mencoba, pa da kali yang kesepuluh, pintu akhirnya terbuka sedikit.
Nyeeet …
Terbuka separo.
Ketika akan menuju ruang tamu, disusul ledakan kedua yang menghancurkan bodi pesawat televisi, lemari dan perabotan rumah lainnya di ruang tamu.
Yulia membalikkan badannya. Ia menelepon Mr Clean. Mengabarkan dirinya terancam setelah terjadi nya dua kali ledakan barusan. Bukan cuma perabotnya yang hancur, tapi juga mental Yulia jadi terpengaruh.
Yulia kini sangat ketakutan. Hanya karena saran dari Mr Clean agar jangan lupa pistol di tangan dan beru saha mencari tempat aman untuk berlindung, Yulia akhirnya dengan mengendap-endap berhasil menuju ruangan dapur.
Guaaar …
Ledakan berikutnya menyasar ke kamar Yulia. Kaca jendela pecah sementara dinding kamar penuh luba ng setelah terkena tembakan berkali-kali.
Si penembak mengira Yulia masih bersembunyi di kamarnya. Untuk memastikan tembakan yang dilepas kan tidak melenceng dari sasaran, dua penembak ini melompat masuk ke kamar lewat jendela yang sudah tak berkaca lagi.
Keduanya sangat marah dan geram ketika tidak menemukan Yulia di kamarnya. Jangankan orangnya, darah yang mungkin berceceram di lantai atau tempat tidur pasca tembakan, tidak diketemukan.
Jegaaar …
Guaaam …
Praaak …      
Mereka tendang dan banting sekeras mungkin pintu kamar Yulia. Sambil menahan amarah yang luar biasa, keduanya mengobrak-abrik ruang tamu. Apa yang mereka temui, mereka tendang dan banting sampai hancur ke lantai.
Tanpa sepengetahuan dua penembak, Yulia keluar dari pintu belakang. Lalu bersembunyi dekat pagar tanaman. Dia mengontak Mr Clean dan melaporkan keadaan terkini di kediamannya.
“Mereka menghancurkan rumah saya, Mister.” Kata Yulia gugup. Karena gugup, suaranya seperti orang berbisik dan dikejar-kejar orang.
“Tenang. Tenang Yulia. Tarik nafas. Coba.” Kata Mr Clean. Yulia menarik nafasnya pelan-pelan, lalu dihembuskan kembali. Sampai beberapa kali.
“Pistolmu dimana?”
“Di tangankulah Mister.”
“Pegang pelan-pelan ya …”
“Sudah Mister.”
“Sekarang lihat situasi Yulia. Kalau kamu bisa lebih jauh menghindar dari rumahmu bagus. Tapi kalau tidak, waspadalah selalu. Hati-hati sampai aku datang ke tempatmu. Aku sudah dekat nich …”
“Mister, hati-hati. Mereka masih mengamuk.”
“Okeee …”
Usai mengamuk di ruang tamu,  dua pembunuh bayaran itu beralih ke dapur. Setelah itu saling berbisik ketika melihat pintu belakang terbuka separo.
“Jangan, jangan …”  Pria berhidung amat pesek menduga Yulia sudah kabur.
“Kita berpencar saja. Aku ke kanan, kamu ke kiri,” kata temannya bermulut lebar.
Sedetik kemudian, Mr Clean tiba di lokasi.
Dia turun dari mobil yang sengaja ia parkirkan di seberang jalan.
Sesampainya di depan pintu pagar, dia berjongkok sebentar. Lalu menyelinap masuk ke dalam pekara ngan depan rumah Yulia.
“Yulia … dimana posisimu sekarang?”
“Di samping  kiri Mister.”
“Dekatlah ke aku.”
“Mister di manakah?”
 “Dekat pintu pagar depan. Tunggu ya!”
“Baik Mister …”


 25
MELIHAT ada sekelebat bayang-bayang di balik pagar tanaman samping rumah, salah seorang penem bak  melepaskan tembakannya. Mr Clean yang tak jauh dari sasaran penembakan tak memberikan reak si. Dia hanya diam sembari memperhatikan gerak-gerik si penembak dengan senapan laras panjang.
“Mister …”
“Sssssst.”
Si penembak mendekat ke pagar.
“Saya lompat, kamu siap tembakkan ini kalau ada apa-apa ya,” pesan Mr Clean.
Yulia mengangguk. Dia kini punya dua pistol. Di kanan dan kiri. Siap ditembakkan jika Mr Clean kalah dan terdesak dalam perkelahian.
Huuuup …
Mr Clean melompat. Dia cengkram leher si penembak. Semula akan dengan mudah ditaklukkan. Ternya ta tidak. Si penembak justru dengan lihainya memutar badan ke kanan lalu membanting Mr Clean ke tanah rerumputan.
Yulia mulai was-was. Ingin rasanya dia menjerit. Dia tak tega melihat Mr Clean mulai terdesak setelah si penembak berhasil menindih badan dan mencekik lehernya.
Jepraaak …
Satu pukulan Mr Clean menghantam bagian belakang kepala si penembak. Mengerang kesakitan. Tapi, ketika  Mr Clean mendekat, dia masih sempat melepaskan tendangan ke selangkangan.
Lumayan kuat.
“Aduh …” Ringis Mr Clean. Sakit bukan main. Nyeri rasanya.
Ketidak-berdayaan  Mr Clean karena menahan sakit dan nyeri inilah  yang membuat si penembak sema kin bernafsu bertubi-tubi melepaskan pukulan ke muka, dada, perut dan leher.
Yulia semakin tak tega melihatnya.
Dooor …
Dooor …
Dooor …
Tiga kali tembakan dia arahkan ke dada, kaki dan terakhir ke kepala, si penembak jatuh tersungkur dan tewas seketika.
“Mister …”
Yulia memapah Mr Clean ke balik tanaman pagar, biar lebih aman. Teman si penembak, setelah mende ngar suara tembakan beberapa kali, bergegas mencari asal tembakan. Dia telusuri dan kaget ketika meli hat teman satu profesi dengannya itu tewas dengan kepala nyaris pecah.
Dia mendekat. Setelah memastikan si hidung pesek sudah tak bernyawa lagi, dia lepaskan tembakan secara membabi buta. Beberapa warga dan pejalan kaki terpaksa berlari menghindar karena takut jadi sasaran tembakan.
Saat si penembak mengamuk, Letnan Salam yang baru saja turun dari mobil, membidikkan senjatanya. Dalam hitungan detik sebutir peluru dia muntahkan, tepat mengenai paha.
Bruuuuk …
Si penembak langsung roboh.
Sebelum berdiri kembali, Mr Clean menembak kakinya sementara Yulia mengambil senjata si penembak yang terlepas dari genggamannya.
“Ampun Pak.”
“Ampun. Jangan tembak lagi saya,” ucap si penembak ketakutan.
Dia tak kuat menatap balas mata tajam Mr Clean. Dia hanya menunduk dan berharap jangan dibunuh. Dia masih ingin hidup. Dia terpaksa melakukan pekerjaan ini bersama temannya hanya karena disuruh dan dibayar oleh seseorang.
Siapa orangnya?
Interogasi cepat berlangsung di dekat pintu pagar. Bersama Letnan Salam, si penembak diminta mau menyebutkan siapa yang telah menyuruhnya untuk menghabisi Yulia.
“Saya takut Pak ,” katanya pada Letnan Salam. “Kalau saya kasih tahu ke bapak, saya dan anak isteri saya akan dibunuh.”
“Tak usah takut. Kami siap melindungi anda. Asalkan anda mau membantu kami,” ujar Mr Clean dengan badan penuh keringat dan luka lebam di muka karena terkena pukulan.
“Cepat katakan, siapa orangnya.” Letnan Salam mulai naik darah melihat ulah si mulut lebar yang ter kesan berkelit-kelit dan mengulur-ulur waktu, menghindari menyebut nama si pesuruh.
“Ampun Pak. Jangan bunuh saya,” jerit si penembak berurai air mata.
Letnan Salam menyuruhnya berdiri. Dia tarik paksa kerah baju si penembak. Dia tendang kedua kakinya silih berganti.
“Mau sebut atau tidak?” Hardik Letnan Salam sambil memasukkan muncung pistol ke dalam mulut si penembak yang pucat pasi dan berkeringat dingin.
Dooor …
Guaaam …
Sebutir peluru menghantam kepala mulut lebar.
Tewas saat itu juga.

26
LETNAN Salam secepat kilat mengejar si penembak gelap yang berhasil melarikan diri dengan sepeda motor ke jalan raya besar.
“Mister. Aku ikut …” Kata Yulia.
“Cepaaat.”
Jika Letnan Salam mengejar si penembak dari arah depan, Mr Clean justru melakukannya dari arah berlawanan. Dia keluar masuk gang dengan harapan tak tertinggal jauh dengan Letnan Salam.
“Awas Mister!”
Barisan bebek entok tengah menyeberang jalan. Karena tak ada jalan lain, Mr Clean terpaksa menunggu sampai seluruh bebek selesai menyeberang jalan.
Yulia ketawa.
“Yulia.”
“Enggak apa-apa Mister,” jawabnya dengan muka menunduk karena menyembunyikan ketawa dan perasaan gelinya.
Piiiin …
Piiiin …
Dengan terpaksa Mr Clean turun dari mobil. Dia dekati seekor bebek yang tak mau menyeberang jalan. Dia perhatikan sebentar. Lalu dia gendong dan letakkan di dekat teman-temannya yang sudah menunggu di seberang jalan.
Mr Clean ketawa sambil geleng-geleng kepala.
“Ada-ada saja,” katanya setelah menutup pintu mobil.
“Sakitkah Mister bebeknya?”
“Enggak kayaknya. Hanya merajuk saja mungkin,” jelas Mr Clean sesaat setelah menyalakan mesin mobil.
“Merajuk kenapa Mister?”
“Ditinggal pacar barangkali.”
Hi hi hi hi …
“Mister bisa aja.”
Dimana Letnan Salam?
Di dekat SPBU. Dia menunggu si penembak gelap yang tengah mengisi bensin motor.
“Sebelah kanan tugu, Clean.” Katanya menjawab telepon yang masuk dari Mr Clean.
Buru-buru dia matikan telepon selulernya, karena si pengemudi motor sudah mengisi bensin dan bersiap pergi meninggalkan SPBU.
Reeen …
Reeen …
Sangat kencang larinya. Dengan lincahnya si penembak meliuk-liukkan motornya di tengah keramaian pengendaraan lain, baik roda dua maupun roda empat. Lampu merah dia terobos.
“Clean. Saya kehilangan jejak.”
“Ke arah mana perkiraannya Letnan?”
“Tak jauh dari posisimu sekarang,” terang Letnan Salam.
Mr Clean memacu kencang lari mobilnya. Menerobos ramainya kendaraan yang lalu-lalang. Melewati trotoar dan menempuh jalan pintas.
“Kelewatan kita Mister,” Yulia mengingatkan, gang sebelah kanan lebih cepat ketimbang harus lurus ke depan tapi menghabiskan banyak waktu.
“Terima kasih Yulia.”
Si penembak dan temannya tertawa terbahak-bahak melihat Letnan Salam kehilangan jejak. Keduanya melaporkan kepada Sang Bos bahwa rekan mereka yang sempat tertangkap dan diinterogasi sukses dihabisi.
“Jadi bos tenang-tenang ajalah. Tak ada yang bakalan buka mulut,” kata yang dibonceng.
“Benar nich?”
“Saya pastikan Bos. Semua aman dan terkendali,”jelasnya meyakinkan Sang Bos, pihak kepolisian tak bakal tahu siapa dalang percobaan pembunuhan berencana terhadap Yulia ini.
Di perempatan lampu merah.
“Itu mereka Mister!” Di ujung kiri jalan lampu merah. Memang ada pengendara motor trail yang ikut ber henti bersama pengendara motor lainya.
Tapi hanya sebentar …
Setelah melihat Mr Clean dan Yulia, mereka pun tancap gas ke kanan jalan. Hampir menabrak sepeda motor yang hendak melaju bersamaan dengan munculnya lampu hijau.
“Letnan.”
“Ya Clean.”
“Ke balai kota sasaran kita sekarang …”
“Oke.”
Pengejaran dilanjutkan. Sama-sama menuju balai kota.
27
SORE ini balai kota penuh sesak. Didatangi warga dari berbagai tempat di kota ini. Mereka tampak se nang. Dari raut wajah mereka terpancar rona kegembiraan. Tawa terdengar beberapa kali. Lepas tapi terkendali. Ada yang datang bersama keluarga, saudara, kekasih, teman dan handai tolan.
Ada banyak tempat bersuka ria di balai kota. Ingin tengok air mancur joget, bisa sepuasnya. Mau seka dar duduk di alun-alun sambil menyantap jagung bakar, monggo.  Atau duduk-duduk di tanah lapang sambil menyaksikan anak-anak bermain layang-layang, wooow amat mengasyikkan.
Di sekitar alun-alun dan bangunan bersejarah di balai kota, ada bangku panjang yang dinaungi aneka pe pohonan. Membikin rindang, teduh memandang ke pusat kota. Kendaraan lalu-lalang, mulai dari roda dua hingga empat.
Di salah satu pojok alun-alun inilah dua penembak tadi makan model dan es dawet. Keduanya merasa haus dan lapar. Makanya singgah sejenak. Tidak kepalang tanggung. Lima piring model dan sepuluh es dawet mereka sikat habis.
Tak bayar pula.
Apa tidak hebat?
Sempat terjadi cekcok mulut. Salah seorang satpam terpaksa turun tangan untuk melerainya. Dia mera sa kasihan melihat penjual es dawet dan model iwak plus gandum ini. Karena sampai sore hari,  jualan mereka belum habis terjual.
“Bayar sajalah Pak,” kata Pak Satpam mencoba tetap sopan dan tersenyum pada dua pria muda dan gagah itu.
“Kami tak punya uang,” jawab si penembak bergigi ompong.
“Kasihan mereka Pak.”
Teman penembak bergigi ompong, berkepala ceper menatap tajam Pak Satpam.
“Bapak tahu enggak ini apa?” Katanya menodongkan pistol ke perut Pak Satpam.
“Taaa .. tahu Pa,” jawab Pak Satpam mulai ketakutan. Badannya yang tinggi besar tak mampu menahan gertak sambal si kepala ceper.
“Apa?”
“Pis .. pistol Pak.”
Kletek …
Mata Pak Satpam terpejam. Mulut terkatup rapat. Nafasnya seolah berhenti naik dan turun.
Kletek …
Si kepala ceper menarik kembali pistol itu. Sebelum dia selipkan ke pinggangnya, dia dorong keras-keras Pak Satpam sampai jatuh tersungkur dengan kepala membentur gerobak model.
Traaank …
Traaash …
Praaak …
Gerobak model terbalik. Piring dan gelas pecah berantakan karena mengenai aspal jalan coran. Para pe dagang lain ikut menolong, mengangkat gerobak dan mmbersihkan sisa pecahan yang berserakan ke ba dan jalan.
Kuatir pedagang mengamuk dan mengeroyok, dua penembak bertato ini bergegas kabur dengan sepeda motornya.
“Ke kanan Letnan,” kata Mr Clean setelah melihat sasaran mereka mengarah dengan cepat ke utara balai kota.
Letnan Salam baru berhasil menemukan jejak kedua penembak ketika beberapa meter keluar dari tugu pembatas kawasan balai kota. Tempatnya memang agak sepi. Sehingga tebersit di hati Sang Letnan un tuk menembak tanpa mengganggu kenyamanan warga dan pengendara.
“Clean.”
“Saya di belakang anda, Letnan.” Mr Clean menyalakan lampu depan pertanda di belakang sebuah mobil Letnan Salam adalah mobilnya.
Agar bisa dilihat dengan jelas oleh Letnan Salam, Mr Clean melakukan zig-zug.
“Hati-hati Clean.”
“Siap Letnan,” jawab Mr Clean. Dia berusaha untuk menyalib mobil di depannya. Baru dapat disalib bebe rapa menit kemudian setelah arus kendaraan dari arah berlawanan mulai berkurang jumlahnya.
“Tembak sajalah Bro. Dia berada persis di belakang kita,” kata si  ompong.
“Pakai pistolmu sajalah Pong.” Kepala ceper mengirikan sepeda motornya. Jadi posisi mereka dengan mobil Letnan Salam sama lurusnya.
“Pong …”
“Ya Per.”
“Tembaklah!”
“Habis peluruku Per.” Kesal, dia masukkan lagi pistol itu ke sela pinggangnya.
“Pakai punyaku sajalah …”
“Mana?”
“Di saku jaketkulah …”
“Oke …”
Tak mudah mengambilnya. Karena kantong jaket yang dikenakan amatlah sempit. Untuk mengambilnya harus ditarik. Pistol ditarik, jaketnya ditahan, agar jangan sampai robek.
“Iiiiiiikkkh”
“Payah amat lu Pong.”
“Sempit sekali Bro.”
“Tarik aja yang kuat. Gitu aja repot.”
“Oke.”
Kecepatan motor dikurangi, si ompong menarik sekuat mungkin itu pistol, dan …

28
KRAAAAK …
Ha ha ha ha …
Jaket robek.
“Bisa Pong?”
“Sedikit lagilah.”
Kraaak …
Hua ha ha ha …
Si pesek menoleh. Kagetlah ia.
“Mana jaket sama bajuku Pong?”
“Dibawa angin Bro.”
Pesek menghentikan laju motornya. Dia marah dan kesal. Karena takut terkejar Letnan Salam, dia engkol lagi itu motor.
Macet.
Ompong turun. Dia mendorong motor dari belakang. Baru tiga detik, motor menyala lagi.
Reeen  
Reeen …
“Cepat Pong!”
“Oke.”
Motor melaju. Lebih kurang sepuluh meter sudah dihadang Mr Clean. Dia turun dari mobil dan siap membidikkan senjatanya, melepaskan tembakan terukur.
“Balik lagi Bro,” bisik si ompong. Kembali ke tempat motor mereka mogok tadi. Letnan Salam sudah menunggu di samping mobilnya.
“Angkat tangan!” Teriak Letnan Salam.
“Siap Pak Polisi,” jawab si pesek.
Ompong menutup hidungnya.
Kenapa?
“Bau Bro. Enggak pernah dicuci apa,” kata si ompong yang ikut juga mengangkat kedua tangannya.
Letnan Salam ketawa. Ketiaknya ompong kelihatan. Baju bawah ketiaknya robek.
“Lemparkan pistolnya,” kata Letnan Salam.
“Lempar kemana Pak Polisi?” Tanya Ompong.
“Ke sayalah …”
“Tangan saya Pak?”
“Turunkanlah dulu. Lalu lempar pistolnya ke arah saya.”
Ompong akhirnya melemparkan pistol yang terselip di pingangnya. Kuat juga lemparannya. Melambung tinggi dan menyangkut di batang pohon besar pinggir jalan.
“Cepat ambil!” Perintah Letnan Salam. Mukanya memerah. Dia marah.
“Baik Pak Polisi,” jawab si ompong. Sambil gemetaran dia cepatkan langkah kakinya menuju bawah pohon.
Huuup …
Gedebug …
Ha ha ha ha …
Giliran Mr Clean tertawa. Ompong terpeleset dan jatuh ke dekat parit.
“Bantu temannya, cepat!” Pinta Mr Clean pada si pesek. Pesek pun bergegas mendekati ompong. Dia mempersilakan ompong menaiki punggungnya.
Letnan Salam, Mr Clean dan Yulia. Ketiganya sabar menunggu ompong mengambil pistol. Karena ada semut hitam yang menggigit perutnya, pesek pun dengan cepat menggaruknya.
Ompeng oleng, kayak orang berjoget. Lalu jatuh bersama pistol yang dia ambil. Dia kesakitan karena ditimpa si pesek yang sengaja memperlambat bangun dan berdiri.
“Cepat pistolnya kemarikan,” ujar Letnan Salam.
Kini keduanya, baik pesek maupun ompong, diinterogasi Letnan Salam di dalam mobilnya. Disaksikan Yulia dan Mr Clean dari luar jendela mobil yang separo terbuka.
“Ayo cepat katakan, siapa yang suruh kalian?” Tanya Letnan Salam dengan suara datar. Dia masih bisa mengontrol emosinya. Begitu juga dengan Mr Clean.
“Saya tak tahu Pak Polisi,” jawab pesek terus terang.
“Kamu?”
“Saya juga tidak tahu Pak,” kata ompong berkilah.
“Baiklah kalau kalian tetap tidak mau mengaku.” Letnan Salam mengeluarkan sebatang rokok. Rokok itu ia sundut (bakar) depannya dengan korek api. Dihisapnya sebentar, lalu …
“Buka celana kalian.”
“Buka gampang Pak. Tapi untuk apa?”
“Mau saya sundut kepala burung kalian dengan rokok ini. Mau?”
“Tidak. Jangan Pak,” jawab keduanya serempak.
Mereka memohon ampun. Jangan dilukai kepala burung mereka.
“Kami nyerah Pak. Kami tahu Pak Polisi,” aku ceper gemetaran.
“Siapa?”
“Tapi bapak janji jangan beritahu siapa-siapa, termasuk merusak alat vital saya ini Pak.” Ompong merengek-rengek. Dia menangis sesunggukan.
“Baiklah. Kami bertiga tidak akan ngomong dengan orang lain. Cukup kami bertiga sajalah yang tahu,” kata Letnan Salam dengan raut muka yang tidak memerah lagi.

29
TUAN Murdoch diberitahu oleh salah seorang koleganya di kepolisian bahwa Letnan Salam dan Mr Clean bakal menangkapnya malam ini juga menyusul terkuaknya nama Sang Bos Besar ini dalam beberapa ka sus pembunuhan yang lagi santer dan menjadi bahan pembicaraan masyarakat akhir-akhir ini.
“Sebaiknya tuan segera tinggalkan kota ini buat sementara. Sebab kalau tidak, saya amat yakin tuan akan tertangkap,” kata si kolega terus terang.
“Saya kan punya anak buah banyak disini. Kenapa mesti takut?”
“Tapi situasinya sudah lain Tuan,” jelas si kolega. “Sebab, mereka sudah tahu berapa banyak orang yang telah Tuan bunuh.”
“Lalu?”
“Termasuk anak dan isteri Letnan Salam bukan?”
Ha ha ha ha …
“Kalau itu salah beliau sendiri. Kan sudah diperingatkan sebelumnya. Jangan ikut campur masalah ini. Masalah ini kan antara saya dengan dua kolega saya terdahulu yang sudah tewas. Coba, kalau dia mau menuruti ajakan saya untuk tidak turut campur dalam masalah ini, pasti anak isteri beliau aman-aman saja sampai sekarang ini.”
Sang kolega terdiam.
“Nah, sekarang dia sendiri yang merasakan akibatnya. Anak isterinya mati. Itu bukan saya yang melaku kannya. Tapi orang lain,” kilah Tuan Murdoch. Dia berusaha lepas tangan dengan maksud bisa lolos dari incaran pihak berwajib.
“Tapi saran saya Tuan, lebih baik Tuan segera tinggalkan kota ini,” saran si kolega.
Ha ha ha ha …
Dasar keras kepala, ujar si kolega setelah menutup telepon dan mengakhiri pembicaraan, sudah tahu dalam bahaya besar, eeee masih bergurau-gurau pula. Menyalahkan orang lain dan mau cuci tangan.
“Mana bisalah,” katanya dalam hati.
Dia keluar dari ruangan kerjanya. Sempat berpapasan dengan Mr Clean sebelum masuk ke ruangan lain di mana banyak polisi tengah mengikuti briefing singkat dari Letnan Salam.
Tengah malam …
Mr Clean, Letnan Salam dan beberapa anggota polisi dari  berbagai keahlian mengepung kediaman Tuan Murdoch. Dipastikan yang bersangkutan ada di rumah. Pasalnya, berdasarkan laporan yang masuk dan diterima dari pihak pos perbatasan darat, bandara, stasiun kereta api dan pelabuhan laut, tak melihat Tuan Murdoch dan beberapa anak buahnya.
Benarkah Tuan Murdoch masih ada di rumahnya?
Benar. Dia kini tengah berkemas hendak meninggalkan kediamannya. Pergi secara diam-diam bersama beberapa anak buahnya menuju bandara. Dia sudah memutuskan untuk meninggalkan kota ini sampai suasananya tidak memanas lagi.
Dia merasa yakin, tak seorang pun yang tahu jika dia akan keluar rumah pada tengah malam ini. Sebab, sebelum keputusan ini dibuat, Tuan Murdoch telah meminta pertimbangan dari orang terdekatnya, ter masuk koleganya dari kepolisian.
Namun dia lupa, Letnan Salam dan Mr Clean sudah mengendus orang dalam pihak kepolisian yang ikut bermain. Rencana pun berubah. Awalnya, setelah briefing singkat lepas Magrib tadi, yang semula tidak melakukan pengepungan di kediaman Tuan Murdoch, tiba-tiba dibatalkan. 
Itu artinya, penyergapan ke kediaman Tuan Murdoch tetap dilakukan tapi secara diam-diam dengan be berapa orang kepercayaan Letnan Salam. Terbukti, mereka menemukan Tuan Murdoch di kediamannya, walaupun beberapa menit lagi bakal pergi menjauh dari kota ini.
Begitu juga dengan Tuan Murdoch. Saking yakinnya tak bakal ketangkap pada tengah malam ini, dia me lenggang kangkung menuju mobilnya yang d parkir tak jauh dari depan teras rumahnya yang menyerupai istana raja.
Sementara Tuan Murdoch sudah masuk ke dalam mobilnya, Letnan Salam, Mr Clean dan beberapa anak buahnya belum berniat untuk mendekat. Mereka masih dalam posisi semula. Beberapa meter dari pintu gerbang masuk kediaman Tuan Murdoch.
Atas instruksi Letnan Salam, Mr Clean dan anggota tim lainnya mengikuti mobil sedan besar keluaran ter baru yang ditumpangi Tuan Murdoch. Agar tak ketahuan mereka menguntit dari belakang, baru memper kecil jarak sesaat sebelum memasuki kawasan bandara yang tampak sepi.
Dengan penuh wibawa, Tuan Murdoch turun dari mobil. Dia disambut beberapa lelaki tegap berseragam sebelum diantar menuju pesawat khusus yang bakal dia tumpangi. Di belakangnya menyusul beberapa orang kepercayaan Sang Bos Mafia, termasuk tukang pukul dan pengawal pribadinya.
“Letnan.”
“Kita tunggu saja disini Clean.”
Mereka tak jadi turun dari mobil. Tapi lewat alat pengintai terbaru mereka bisa menyaksikan gerak-gerik Tuan Murdoch dari kejauhan. Sempat duduk, lalu berjalan menuju tangga pesawat. Pintu terbuka, tak la ma kemudian ditutup lagi.
Pesawat mengudara.
Setelah itu …
Guaaam …
Fraaaash …
Sebuah ledakan besar dan dahsyat menghancurkan badan pesawat.

TAMAT   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar