Jumat, 21 April 2017

Kumpulan Puisi (1)





KUMPULAN PUISI  (1)
By Wak Amin

Puisi  I

Mimpi Jakarta
Karya Bambang Sutikno

AKU mimpi Jakarta
seperti lebaran
tak ada kemacetan
kesumpekan
Orang-orang tersenyum ramah
dan saling bersalaman

Aku mimpi Jakarta
seperti desa
tak ada kebisingan dan kepanasan
orang-orang saling memandang

Aku mimpi Jakarta
seperti Maluku tempo dulu
pedagang bebas beli cengkeh
dan tak ada monopoli

Aku mimpi Jakarta
seperti awang-awang
tak ada penggusuran
dan pengusiran

Aku mimpi Jakarta
seperti Bagdad
zaman al-Ma’mun
tak ada kebekuan pemikiran
penuh simbol religi
tanpa alergi kedua-duanya

Aku mimpi Jakarta
seperti Loh Mahfudj
tak ada kebohongan
dan kepalsuan catatan angka

Aku mimpi Jakarta
seperti kalkulator
tak ada kesalahan angka
dalam perhitungan neraca

Aku Mimpi Jakarta
seperti bulan
tak ada sandiwara
dan seminar yang menghabiskan biaya

Aku mimpi Jakarta
seperti kenduri
tanpa penyanyi
dan polisi

Aku mimpi Jakarta
seperti dalam mimpiku
tidak seperti sekarang ini  
 
(Tangerang, 25 Mei 1998)



Puisi II

Jakarta-Jakarta
Karya Ali Rahman

BISINGMU adalah nyanyian
Sepimu mungkin sebuah kematian
Indahmu adalah kebanggaan
Kumuhmu mungkin sebuah perhiasan

Siangmu adalah mentari penebar energi
Malammu adalah rembulan berseri
Bagi semua penghuni
dalam menggeluti hari
walau nyeri
selalu menari

(Tanah Abang, 22 September ’95)
 

Puisi III

Ketika Setan-Setan
Karya Sasetyo

KETIKA setan-setan telanjang
menari-nari mengangkangi Pak Kyai
nilai moral tampak terbelakang
diperkosa budak-budak birahi

Ketika setan-setan mabuk-mabukan
cekikikan di kompleks pelacuran
sang feminis agamis mengelus dada
ringis ironis keluar dari mulutnya lihat nasib kaumnya

Ketika setan-setan berpolitik
pemerintahan jadi ladang penghasilan penumpuk kekayaan
nasib rakyat tercabik-cabik
kesejahteraan wong cilik tak terpikirkan

Ketika setan-setan menghasut
untuk membuat pesta kerusuhan
badut-badut labil cuma manggut-manggut
untuk kemudian ikut unjuk kebolehan

Ketika setan-setan menjadi penguasa
korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh subur
bersanding mesra dengan hedonisme yang telah membudaya
beranak sebuah negeri yang terancam hancur

Ketika setan-setan mengadili terdakwa
yang jujur dan berani membela kebenaran
tak ada yang bernama keadilan di sana
ada uang dan kekuasaan, baru ada kebebasan

Ketika setan-setan duduk di parlemen
aspirasi  rakyat cukup didengar sesaat
diemut seperti permen, lalu dimuntahkan
untuk kemudian tak pernah dilihat

Ketika setan-setan rayakan kemenangan
ratap kesedihan, penyesalan dan saling menyalahkan gencar terdengar
ekspansi maksiat setan-setan selalu hasilkan kehancuran
sayang kita tak pernah mau belajar

(Purwokerto, 5 Juni 1998)


Puisi IV

Di Pojok Rumah Sakit
Karya Elis Endang Suryani

DETAK jam dinding
bergema mengukir nisan
memotong-motong umurku

dalam kubangan air mata
kulihat Izrail kian dekat
bersiap merampas nafas

Tuhanku!
buktikan kasih sayangmu
biarkan aku hidup
menyelami samudra impian ini
ingin kupersembahkan mutiara
dalam jagaku nanti

(Bandung, 1996)    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar