KUMPULAN PUISI (1)
By Wak Amin
Puisi I
Mimpi Jakarta
Karya Bambang Sutikno
AKU mimpi Jakarta
seperti lebaran
tak ada kemacetan
kesumpekan
Orang-orang tersenyum ramah
dan saling bersalaman
Aku mimpi Jakarta
seperti desa
tak ada kebisingan dan kepanasan
orang-orang saling memandang
Aku mimpi Jakarta
seperti Maluku tempo dulu
pedagang bebas beli cengkeh
dan tak ada monopoli
Aku mimpi Jakarta
seperti awang-awang
tak ada penggusuran
dan pengusiran
Aku mimpi Jakarta
seperti Bagdad
zaman al-Ma’mun
tak ada kebekuan pemikiran
penuh simbol religi
tanpa alergi kedua-duanya
Aku mimpi Jakarta
seperti Loh Mahfudj
tak ada kebohongan
dan kepalsuan catatan angka
Aku mimpi Jakarta
seperti kalkulator
tak ada kesalahan angka
dalam perhitungan neraca
Aku Mimpi Jakarta
seperti bulan
tak ada sandiwara
dan seminar yang menghabiskan biaya
Aku mimpi Jakarta
seperti kenduri
tanpa penyanyi
dan polisi
Aku mimpi Jakarta
seperti dalam mimpiku
tidak seperti sekarang ini
(Tangerang, 25 Mei
1998)
Puisi II
Jakarta-Jakarta
Karya Ali Rahman
BISINGMU adalah nyanyian
Sepimu mungkin sebuah kematian
Indahmu adalah kebanggaan
Kumuhmu mungkin sebuah perhiasan
Siangmu adalah mentari penebar energi
Malammu adalah rembulan berseri
Bagi semua penghuni
dalam menggeluti hari
walau nyeri
selalu menari
(Tanah Abang, 22
September ’95)
Puisi III
Ketika Setan-Setan
Karya Sasetyo
KETIKA setan-setan telanjang
menari-nari mengangkangi Pak Kyai
nilai moral tampak terbelakang
diperkosa budak-budak birahi
Ketika setan-setan mabuk-mabukan
cekikikan di kompleks pelacuran
sang feminis agamis mengelus dada
ringis ironis keluar dari mulutnya lihat nasib kaumnya
Ketika setan-setan berpolitik
pemerintahan jadi ladang penghasilan penumpuk kekayaan
nasib rakyat tercabik-cabik
kesejahteraan wong cilik tak terpikirkan
Ketika setan-setan menghasut
untuk membuat pesta kerusuhan
badut-badut labil cuma manggut-manggut
untuk kemudian ikut unjuk kebolehan
Ketika setan-setan menjadi penguasa
korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh subur
bersanding mesra dengan hedonisme yang telah membudaya
beranak sebuah negeri yang terancam hancur
Ketika setan-setan mengadili terdakwa
yang jujur dan berani membela kebenaran
tak ada yang bernama keadilan di sana
ada uang dan kekuasaan, baru ada kebebasan
Ketika setan-setan duduk di parlemen
aspirasi rakyat cukup
didengar sesaat
diemut seperti permen, lalu dimuntahkan
untuk kemudian tak pernah dilihat
Ketika setan-setan rayakan kemenangan
ratap kesedihan, penyesalan dan saling menyalahkan gencar
terdengar
ekspansi maksiat setan-setan selalu hasilkan kehancuran
sayang kita tak pernah mau belajar
(Purwokerto, 5 Juni
1998)
Puisi IV
Di Pojok Rumah Sakit
Karya Elis Endang
Suryani
DETAK jam dinding
bergema mengukir nisan
memotong-motong umurku
dalam kubangan air mata
kulihat Izrail kian dekat
bersiap merampas nafas
Tuhanku!
buktikan kasih sayangmu
biarkan aku hidup
menyelami samudra impian ini
ingin kupersembahkan mutiara
dalam jagaku nanti
(Bandung, 1996)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar