Rabu, 05 April 2017

Yang Kembali



Cerita Fiksi

Yang  Kembali
Ditulis oleh aminuddin


1
JENDERAL Kick memutuskan menemui Jenderal Kutch di markas pasukannya di pinggiran kota. Pertemu an itu berlangsung dalam suasana sukacita. Walaupun tidak saling kenal dekat, kedua jenderal ini saling berpelukan. Hangat dan penuh keakraban. Ibarat pertemuan antara adik dan kakak yang sudah lama ber pisah.
Segenap anggota pasukan Negeri Biru memberi hormat pada Jenderal Kick. Setelah menyalami Letnan Alexander dan beberapa perwira menengah lainnya, dia diajak Jenderal Kutch menuju ke ruang tengah. Asri tapi sunyi dan jauh dari kebisingan.
Di ruangan yang cukup luas ini ada meja panjang, dan di atas meja ada buah-buahan segar, botol minu man, air teh dan kopi manis. Bahkan juga ada nasi beserta lauk pauknya, seperti daging, ikan, tahu dan tempe.
Jenderal Kutch sengaja mempersiapkan hidangan istimewa pada siang hari ini khusus menyambut ke datangan Jenderal Kick. Sebab baginya, dengan kembalinya Sang Jenderal yang sempat menghilang beberapa lama,  akan menambah kekuatan baru pasukan Negeri Biru.
Tenaga dan pikiran Jenderal Kick masih dibutuhkan saat Jenderal Kutch dibikin malu Kolonel Madi dan anak buahnya yang sukses menghancur-leburkan kan pesawat tempur dan kapal induk yang khusus didatangkan dari Negeri Biru.
“Saya membawa pesan khusus dari Kolonel Madi, Jenderal Kutch,” kata Jenderal Kick memulai pembica raan setelah hampir lima belas menit waktu terbuang percuma hanya untuk melepas kerinduan, berce ngkrama dan saling tukar pengalaman.
“Apa pesan beliau Jenderal?” Sempat memerah mukanya begitu mendengar nama Kolonel Madi dise but-sebut Jenderal Kick. Tapi hanya sesaat, karena setelah itu dia bisa mengontrol kembali  emosinya.
“Pesan beliau, mereka siap ke meja perundungan.”
Ha ha ha ha …
“Menurut anda sendiri bagaimana Jenderal Kick?”
“Perlu dipertimbangan Jenderal Kutch. Bukankah  kita sudah cukup lama juga berperang. Masing-masing kita pernah kalah dan pernah menang. Banyak korban yang berjatuhan, tak terhitung harta benda yang melayang. Rakyatlah yang paling merasakan akibat perang ini,” jelas Jenderal Kick. Dia ingin Jenderal Kutch mempertimbangkan pendapatnya sebelum mengambil keputusan akhir.
“Eeeeem … Bagus juga pendapatmu iu Jenderal Kick. Tapi … gimana yach?”
“Anda keberatan Jenderal?”
“Yach begitulah Jenderal. Bukan keberatan tapi kurang setuju saja. Kenapa saya kurang setuju karena ki ta sudah mendapat perintah langung dari atasan untuk menangkap dan mengamankan Kolonel Madi dan anak buahnya, selain mengambil anda dari mereka. Kalau saya setuju dengan pendapat anda Jende ral, berarti saya sudah tidak taat lagi perintah atasan.  Saya dicap sebagai pembangkang dan melakukan perbuaan melanggar hukum.”
“Saya kira tidak Jenderal,” kata Jenderal Kick yang coba meyakinkan koleganya ini.
“Kenapa tidak Jenderal?”
“Karena perintah itu dijalankan pada saat saya belum diketemukan. Sekarang saya sudah ada di depan anda Jenderal.”
Ha ha ha ha …
“Jadi anda setuju kalau kita berunding Jenderal?”
“Betul sekali Jenderal. Saya siap menengahi perundingan ini nantinya jika anda mau.”
Ha ha ha ha …
“Apa untungnya bagi kita Jenderal?”
“Bukan soal untung dan rugi Jenderal. Tapi soal masa depan rakyat dan termasuk kita juga. Bukankah dengan dilakukannya perundingan perang untuk sementara bisa kita hentikan dulu.”
“Saya ragu Jenderal.”
“Ragu kenapa Jenderal?”
“Dari hasil laporan anak buah saya barusan, rakyat negeri ini sudah mulai mengangkat senjata.”
“Enggak apa-apa Jenderal.”
“Sebegitu gawat anda bilang tak pa-apa Jenderal?”
“Begini Jenderal. Yang namanya perang, dimanapun perang itu terjadi, rakyat pasti mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan. Tetapi Kolonel Madi bisa mencegah itu terjadi kalau kita menerima tawa ran beliau. Dan menurut saya, tawaran beliau itu bagus untuk kita.”
Jenderal Kutch sepertinya berat untuk menerima ajakan Kolonel Madi maju ke meja perundingan. Seb ab yang berangkutan telah banyak membikin malu Negeri Biru.
“Tapi baiklah kita berpikir lebih bijaksana mulai dari sekarang.” Akhirnya Jenderal Kutc melunak dengan menerima tawara gencana senjata dan maju ke meja perundingan yang digagas Kolonel Madi.
“Tapi ada syaratnya lho Jenderal Kick.”

2
HAMPIR semalam suntuk Kolonel Madi, Sersan Ipung, Kopral Murti dan Sersan Kifli membahas bersama Jenderal Kick tentang syarat-syarat gencatan senjata yang diajukan Janderal Kutch.
Saling debat dengan mengajukan alasan masing-masing, ruangan bunker yang semula sepi berubah ra mai dengan sesekali diselingi tawa dan canda. Setiap yang hadir diminta bicara, mengutarakan penda patnya, meski hanya sekadar sumbangsih saran dan usul saja.
Namun, kecuali Sersan Ipung, masing-masing bicara panjang lebar tentang kemungkinan terjadinya pe rang kembali, untung rugi gencatan senjata dan komitmen untuk  menjaga kedamaian selama gencatan senjata berlangsung.
Syarat yang diajukan Jenderal Kick ada tiga. Apa saja?
Pertama, mereka diperbolehkan tinggal lebih lama di Negeri Permata tanpa syarat.
Kedua, mereka akan melakukan tindakan apa pun terhadap rakyat Negeri Permata sepanjang rakyat tidak mengganggu pasukan Negeri Biru.
Ketiga, mereka diberi hak untuk meminta upeti kepada rakyat tanpa paksaan. Upeti itu dimaksudkan untuk membiayai hidup pasukan Negeri Biru selama berada di Negeri Permata.
Ketiga persyaratan yang diajukan Jenderal Kutch ini pada prinsipnya ditolak mentah-mentah oleh Ko lonel Madi. Sementara Jenderal Kick memilih untuk sekadar memberikan usul dan saran serta pertim bangan yang sekiranya diperlukan.
Misalnya pada poin pertama. Jenderal Kick menyatakan persetujuannya asalkan disertai beberapa syarat tambahan.
“Syarat tambahan itu antara lain berjangka waktu tertentu. Enam bulan, setahun atau dua tahun. Sela ma pasukan Jenderal Kick berada di Negeri Permata harus jelas dan terbuka apa yang akan dilakukan, target yang hendak dicapai, dan manfaat apa yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, khususnya rakyat,” kata Jenderal Kick.
Dia menambahkan, “Jika pasukan Jenderal Kick tidak punya planning seperti yang saya sebutkan baru san, tentu saja saya tidak setuju Kolonel Madi.”
Kenapa tidak setuju, karena mereka hanya melakukan tipu muslihat saja. “Sebelum semuanya terlambat lebih baik kita batalkan genjata senjata ini,” jelas Jenderal Kick.
Kopral Murti setuju. “Kita tidak boleh takut dan mundur selangkah pun. Kita telah bermaksud baik-baik. Tapi bila mereka tetap menolak nantinya, atau sekadar bermain-main, maka kita harus memulai perang kembali.”
Perang?
“Ya perang,” sahut Sersan Kifli.
“Tangan saya sudah gatal untuk mengangkat senjata. Dengan mengucap bismillah saya siap mati untuk membela negeri saya tercinta ini …”
Bagaimana dengan poin kedua?
“Tidak masalah Kolonel, menurut saya. Hanya saja kita perlu pertegas bentuk tindakan balasan yang dilakukan sekiranya rakyat nantinya melakukan perlawanan secara diam-siam,” ujar Jenderal Kick.
Artinya, kata Jenderal Kick, “Harus ada peringatan dan bertahap dilakukan. Jangan sampai terjadi misal nya,  seorang warga yang kebetulan menggangu anak buah Jenderal Kuct yang berkeliling desa, justru dibalas dengan tembakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa warga tadi.”
“Jika ini terjadi kita harus lawan dan minta pertanggung jawaban,” terang Jenderal Kick berapi-api.
“Poin ketiga Jenderal?”
“Saya kurang setuju Kolonel,” jawab Jenderal Kick dengan raut muka yang memerah.
“Alasannya Jenderal?”
“Rakyat sudah susah dan sengsara, apakah mau dibebankan lagi dengan membayar upeti. Ini sangat ti dak manusiawi. Tetapi ini pendapat saya Kolonel. Saya persilakan jika kolonel dan kawan-kawan yang lain punya pendapat berbeda dengan saya,” ujar Jenderal Kick yang sejak pertemuan digelar seusai magrib hingga pukul tiga dinihari ini belum juga mau makan dan minum.
Dia tidak merasa haus. Juga tidak merasa lapar.
Dia hanya ingin rakyat merasakan manfaat di balik upaya gencatan senjata ini.

3
JENDERAL Kutch sangat bersungguh-sungguh mempelajari  persyaratan yang diajukan pihak Kolonel Madi. Sesekali dia batuk-batuk, lalu kening berkerut dan kali yang lain meminta beberapa perwiranya seperti Letnan Alexander dan Mayor Kief untuk berpikir keras dan berusaha semaksimal mungkin me nemukan solusi terbaik buat mereka.
Untuk persyaratan pertama, sebagian yang diajukan diterima. Misalnya, pasukan Negeri Biru setuju un tuk tinggal di negeri Permata selama  dua tahun terhitung sejak kesepakatan perundingan dicapai. Tapi mereka sangat berkeberatan bila harus dijelaskan juga hal-hal apa saja yang mesti mereka lakukan, ter masuk target dan manfaat yang bisa dirasakan oleh rakyat.
“Bila kita jelaskan juga secara terbuka bisa saja nantinya pihak Negeri Permata menuntut ini dan itu pada kita, dan jika kita tidak penuhi tuntutan mereka maka kita yang pasti disalahkan Jenderal,” kata Letnan Alexander.
“Mayor Kief?”
“Saya setuju dengan apa yang dikatakan Letnan Alexander barusan. Kita tak boleh terbuka Jenderal. Sela in sewaktu-waktu kita bakal terpojok, kita juga akan kesulitan menarik hati rakyat,” jelas Mayor Kief. Dia menyarankan jangan jauh-jauh dari rakyat. Dekati dan rangkul mereka. Percayalah lambat laun mereka akan suka dan menerima kehadiran pasukan Negeri Biru.
“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan Mayor?”
“Menurut saya, ada empat Jenderal. Pertama, kita menerima sebagian dan sebagian lagi tidak. Kedua, kita diberi juga wewenang untuk menentukan kapan lamanya tinggal di Negeri Permata. Bila memang dianggap perlu kita bisa lebih lama menetap sementara di sini,” jelas Mayor Kif.  Untuk ini, peran dan sumbangsih serta bantuan rakyat sangat dibutuhkan.
“Yang ketiga Mayor?”
“Kita libatkan rakyat untuk menyusun atau paling tidak meminta pendapat mereka tentang apa yang sebaiknya kita lakukan. Keempat atau yang terakhir, kita diberi juga hak dan wewenang untuk ikut membangun negeri ini yang dimulai dari kawasan perkotaan hingga desa-desa terpencil.
Jenderal Kutch mendehem. Keningnya tidak berkerut lagi. Sudah plong karena mulai ada titik terang.
“Letnan?”
“Setuju sekali Jenderal. Saya terus terang setuju sekali dengan pendapat yang dikemukakan Mayor Kief barusan. Untuk poin pertama ini kita sepakat sudah oke. Tinggal lagi kita menyusunnya baik-baik dan cermat sebelum  hasilnya kita kirim kembali kepada Kolonel Madi.”
“Mayor?”
“Siap Jenderal.”
“Yang lain?”
Kapten Ferdinand dan Letnan Albert setuju. Hanya saja keduanya mengusulkan jangan tergesa-gesa mengirim kembali jawaban yang telah disusun kepada pihak penerima.
“Kita harus telaah lagi sehingga hasilnya lebih oke,” kata Kapten Ferdinand.

“Bila perlu kita tambah lagi beberapa poin, tak mengapa,” sahut Letnan Albert.
“Baiklah kalau begitu. Poin pertama selesai. Sekarang kita break sebentar. Kita bersulang dululah,” ajak Jenderal Kutch ketawa lebar.
Triiiing …
Tiiing …
Triiing …
Tiiing …
Hua ha ha ha ha …
Sama-sama tertawa.  Jenderal Kick mengajak para perwiranya untuk rileks sejenak. Melupakan keruweta membahas beberapa poin persyaratan yang diajukan pihak  Kolonel Madi dengan bernyanyi, memetik gitar dan merenggangkan otot serta pikiran.
Mereka memulai kembali pertemuan setelah selesai makan siang bersama. Titik bahasan mereka kali ini tentang kewenangan pasukan Negeri Biru mengatasi kemungkinan terjadinya ketegangan dan gerakan melawan hukum yang dilakukan rakyat tanpa terkecuali.
“Ini memang sepele Jenderal. Padahal sebenarnya tidak. Sangat ruwet dan menjelimet. Karena seperti yang pihak Kolonel Madi minta harus diberi peringatan terlebih dulu jika ada gangguan dari rakyat, ini sama saja bohong. Ibaratnya, kita mati dulu, mereka selamat dan tetap hidup. Sontoloyo Jenderal namanya,” terang Letnan Alexander berapi-api.

4
“BAGAIMANA dengan anda, Mayor Kief?”
“Saya lebih setuju bila kita tidak terburu-buru mengambil tindakan. Jadi kita beri peringatan terlebih du lulah. Tentang misalnya, salah seorang anggota pasukan kita diganggu rakyat Negeri Permata, kita lihat lebih dulu masalahnya,” jelas Mayor Latif.
Dia menambahkan, jika memang masalahnya ada pada kita, memang anggota pasukan Negeri Biru yang memulainya, kita harus hati-hati. Jangan gegabah. “Rakyat saja yang lebih dulu memulai kita harus ber kepala dingin menyikapinya. Apalagi akar masalahnya justru dari kita.”
“Jadi pada intinya menyikapi hal ini kita hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini. Pertama, kita setuju peringatan bertahap. Kedua, kita harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil tindakan balasan. Ketiga, bila ternyata anggota kita yang bersala, maka harus diberi sanksi yang sesuai  dengan peraturan hukum yang berlaku. Keempat, kita harus merangkul rakyat dengan misalnya, memberi tindakan balasan tanpa mereka merasa tersakiti,” tandas Mayor Kief.
“Kapten Ferdinand?”
“Menurut saya, penjelasan yang diberikan Mayor Kief barusan sudah cukup baik. Cuma yang saya garis bawahi adalah bahwa kita berusaha meminimalkan konflik. Lebih mengutamakan rasa aman dan nya man di tengah masyarakat. Dengan demikian, kita di mata rakyat akan bagus dan bukan tidak mungkin mereka justru merasa terlindungi dengan kehadiran kita di sini,” jelas Kapten Ferdinad.
“Letnan Albert?”
“Saya hanya bilang Jenderal, saya sependapat dengan Kapten Ferdinand dan Mayor Kief,” uja Letnan Albert.
“Letnan Alexander?”
“Saya juga setuju Jenderal. Asalkan nantinya kita tidak selalu dalam posisi disalahkan oleh rakyat,” harap Letnan Alexander.
“Baiklah. Dengan demikian poin yang kedua selesai. Kita lanjutkan poin ketiga.”
Apa isinya?
“Kita tidak boleh meminta upeti kepada rakyat dengan alasan rakyat sudah sengsara jangan ditambah lagi dengan kesengsaraan baru.” Jenderal Kutch membacakan dengan suara lantang perminyaan dari pihak Kolonel Madi menyangkut upeti.
“Saya Jenderal.” Mayor Kief angkat bicara.
“Silakan Mayor.”
“Kalau minta upeti, saya setuju. Jangan sampai hal itu terjadi. Tapi kalau menerima apa kita salah. Kan tidak Jenderal?”
“Letnan Alexander?”
“Tidak salah Jenderal. Dan memang kita harus menerima upeti itu jika rakyat yang memberi …”
“Kapten Ferdinand?”
“Saya juga sama dengan mereka. Artinya, sepanjang kita tidak memaksa, apalagi sampai memeras, me ngapa kita harus takut. Justru sebaliknya, kalau kita ragu-ragu dan takut bertindak, berarti kita salah Jen deral.”
“Letnan Albert?”
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak selamanya kita tidak boleh meminta upeti. Sekali waktu bo lehlah Jenderal. Misalnya, kita akan bangun jalan desa. Tanpa bantuan dari rakyat mana mungkin kita bisa mewujudkannya. Atau misalnya saja, pasukan kita kelaparan, apa tidak boleh kita meminta sejum lah uang pada mereka untuk membeli makanan atau apa saja dari mereka agar pasukan kita tidak sam pai mati kelaparan.”
Ha ha ha ha …
“Saya tak bisa bayangkan Letnan Albert. Bagaimana jadinya kalau pasukan kita tidak makan dalam waktu tujuh hari.”
Ha ha ha ha …
“Bisa kerempeng, Jenderal,” ledek Letnan Alexander.
“Ribut dunia Jenderal,” sahut Kapten Ferdinand.
“Jangan sampai terjadi Jenderal.”
“Kenapa Mayor Kief?”
“Habislah semua bintang di hutan ini mereka makan.”
Hua ha ha ha …

5
“TOLONG bacakan inti dari jawaban yang mereka susun Sersan Ipung,” pinta Kolonel Madi. Masih di ke diaman sementara Jenderal Kick, secara khusus Kolonel Madi dan beberapa anak buahnya membahas  jawaban balasan yang pagi tadi diantar utusan Jenderal Kutch.
“Pertama, kami tak ingin yang namanya serba terbuka, apalagi harus menyebutkan target dan manfaat. Yang penting kami ada planning, rencana. Kami, khusus poin pertama sebagaimana yang saudara aju kan, menerima sebagian, dan sebagian lagi kami menolaknya,” kata Sersan Ipung.
“Apa yang mereka terima sersan?”
“Tampaknya hampir tidak ada Kolonel. Hanya satu, itu pun minta pengecualian. Setuju tinggal di Negeri Permata dalam limit waktu tertentu, tapi mereka ingin diberi kewenangan untuk tinggal lebih lama ma nakala rakyat yang meminta, atau rakyat tidak mengeluh dan merasa aman, nyaman dan tentram atas kehadiran pasukan Negeri Biru,” terang Sersan Ipung, harus dua kali membaca ulang karena Kolonel Madi, terutama Jenderal Kick masih samar menangkap makna kalimat yang tertera di kertas putih bersampul biru itu.
“Jenderal Kick?”
“Teruslah dulu Kolonel,” ujar Jenderal Kick. Untuk menelaahnya lebih jauh, selain harus jelas menangkap makna yang tersurat dan tersirat, semua jawaban dari A sampai Z harus disimak utuh. Tidak terpisah-pi sah. Karena mungkin saja justru jawaban di alinea terakhir yang menentukan sebelum menarik kesimpu lan.
“Kita minta Sersan Ipung habiskan dulu membacanya per poin. Setelah itu baru kita bahas bersama-sama,” saran Sersan Kifli dan Kopral Murti.
“Baiklah kalau begitu. Sersan Ipung, lanjutkan bacaannya.” Kolonel Madi sampai menggeleng-gelengkan kepala mendengar pernyataan dari pihak Jenderal Kutch. Sepertinya sengaja memancing kekisruhan dan bukan mencari titik temu yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
“Poin kedua, kami pasukan Negeri Biru setuju dengan adanya peringatan terlebih dulu sebelum menga mbil tindakan. Tentu dengan melihat secara jelas akar masalahnya. Jika yang salah ternyata anggota ka mi, maka kami akan langsung  menjatuhkan sanksi saat itu juga kepada yang bersangkutan. Sebaliknya, bila akar masalah, atau yang memulainya adalah rakyat, berilah kami wewenang untuk mengambil tin dakan sepantasnya dengan tetap mempertimbangkan rasa keadian, keamanan dan kenyamanan di masyarakat.”
Ha ha ha ha …
“Teruskan sersan!” Pinta Jenderal Kick yang mulai serius menyimak kalimat per kalimat yang dibacakan Sersan Ipung.
“Kami juga berupaya untuk meminimalkan konflik. Untuk itu beri kami keleluasaan untuk meyakinkan mereka bahwa kami bukanlah pihak yang harus ditakuti, dijauhi dan bahkan dimusuhi. Kami ingin ber teman, menjalin persahabatan yang erat dengan rakyat disini. Kami membuka pintu lebar-lebar untuk mewujudkan semuanya itu.”
Hi hi hi hi …
“Lagu lama Kolonel,” celetuk Kopral Murti ketawa tidak lebar.
“Lagu lama bagaimana kopral?” Tanya Sersan Kifli.
“Biasa. Ujung-ujungnya mau menguasai negeri kita yang kaya ini.”
Ha ha ha ha …
“Teruskan Sersan Ipung!”
“Siap Kolonel,” kata Sersan Ipung. Sebelum membacakan poin terakhir, dia meminta waktu untuk mi num padahal saat makan siang barusan dia menghabiskan dua gelas air putih.
Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua, Kolonel Madi memutuskan beristirahat sejenak untuk menunaikan salat Zuhur berjamaah.
Ketika Kolonel Madi dan tiga anak buahnya menunaikan salat di ruang depan bunker, Jenderal Kick memanfaatkan waktu istirahatnya dengan memeriksa keadaan di luar rumah.
Dia melepas senyum lega karena keadaan di luar aman-aman saja. Panas masih saja terik. Hening deng an an sesekali ditingkahi suara burung  yang berkicau riang dan angin sepoi-sepoi  berhembus  ke sela dedaunan yang serba hijau.
Jenderal Kick menarik nafas sejenak. Dia duduk di kursi teras. Lima menit kemudian dia turun ke bunker menemui Kolonel Madi, Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti.
Ternyata mereka  masih khusyuk berdoa. Ingin sekali Jenderal Kick bergabung.  Cuma dia tahu diri kare na kehadirannya di tengah majelis salat dapat mengganggu kekhusyukan  Kolonel Madi dan kawan-ka wan dalam berdoa.
Jenderal Kick akhirnya memutuskan  duduk bersila, tapi jauh di belakang.  Dia juga memanjatkan doa yang hanya dia sendiri yang tahu doa yang dia panjatkan.

6
“POIN ketiga lebih seru lagi kolonel,” kata Sersan Ipung sambil ketawa lebar.
“Seru bagaimana sersan?”
“Begini Kolonel. Jadi pada prinsipnya, pihak Jenderal Kutch tidak keberatan untuk tidak boleh meminta upeti sepanjang memang itu tidak diperbolehkan. Tapi itu ada pengecualian …”
“Pengecualian apa sersan?”
“Mereka mencontohkan akan memperbaiki jalan yang rusak. Kan perlu dana. Nah, mereka harus diberi hak dan kewenangan untuk meminta rakyat menyiapkan dana atau apa saja demi lancarnya perbaikan jalan itu. Karena tak mungkin mereka bisa memperbaiki jalan tanpa dana dari rakyat.”
Kolonel Madi diam.
Juga Jenderal Kick, Kopral Murti dan Sersan Kifli.
“Mereka juga mencontohkan jika pasukan mereka kelaparan, apa tidak boleh mereka meminta makan atau meminta sejumlah uang buat makan.”
Kolonel Madi belum bereaksi, demikian pula dengan yang lainnya. Masih khusyuk menyimak dan me nyiapkan beberapa analisa yang nanti akan dibahas lebih lanjut.
“Kesimpulannya, pihak pasukan Jendera Kutch siap untuk tidak menerima upeti tapi pada keadaan ter tentu mereka diberi kewenangan untuk memintanya kepada rakyat.  Lalu mereka juga diberi hak mene rima upeti dari rakyat sepanjang itu tidak ada unsur pemaksaaan dan menimbulkan kerugian kedua belah pihak. Sekian Kolonel,” jelas Sersan Ipung. Dia serahkan beberapa lembar kertas putih itu kepada Kolonel Madi. Bersama  Jenderal Kick, Sersan Kifli dan Kopral Murti, mereka memulai membahasnya selepas salat Ashar.
Pembahasan, tak disangka sebelumnya, berlangsung sangat a lot. Masing-masing yang hadir  memberi kan pendapat dan pandangannya sehingga suasana tak monoton karena diselingi tawa dan berbagai harapanserta masukan.
Lepas Magrib dan salat Isya berjamaah, mereka melanjutkan kembali pembahasan. Kali ini memfokus kan pada perumusan masalah dan jawaban lanjutan dari pihak Kolonel Madi.
Ada tiga rumusan yang berhasil mereka hasilkan. Ketiga rumusan itu pada intinya adalah sebagai berikut:
-          Pertama, pasukan dari Negeri Biru tetap tidak diperbolehkan meminta upeti kepada rakyat. Na mun diperbolehkan menerima pemberian dari rakyat yang bukan upeti dan pemberiani itu tidak membebani rakyat.
-          Kedua, pasukan Negeri Biru tidak boleh melakukan tindakan apapun terhadap rakyat Negeri Permata. Baik tindakan berupa provokasi, propaganda maupun secara langsung menyakiti rakyat, baik secara fisik dan non-fisik.
-          Ketiga, pasukan Negeri Biru tetap tidak diperbolehkan tinggal lebih lama yakni hanya paling la ma dua tahun setelah kesepakatan gencatan senjata ini dimulai.  Kami selaku perwakilan dari pemerintahan Negeri Permata sepakat untuk tidak memberikan keringanan sedikit pun terha dap hal ini. Karena kami adalah negeri yang berdaulat, dan atas nama rakyat tidak boleh satu orang pun dari pihak luar yang bisa dengan leluasa mencoba mencaplok, mencampuri apalagi sampai menguasai Negeri Permata ini.

“Berangkat dari tiga kesepakatan yang kami buat ini, maka kami berkomitmen siap melanjutkan perundi ngan bila Tuan Jenderal Kutch mau menerima apa yang kami kehendaki ini, untuk kemudian diberikan ja waban selambat-lambatnya satu minggu setelah surat jawaban ini Tuan terima di tempat,” kata Sersan Kifli yang dengan suara lantang penuh semangat membacakan hasil keputusan bersama yang dibuat dan ditanda tanganinya dengan  Kolonel Madi, Sersan Ipung, dan Kolonel Madi.
Sementara Jenderal Kickhanya mengutarakan persetujuannya saja. Dia menolak untuk ikut menanda ta ngani. Dia bersumpah di depan Kolonel Madi dan tiga anak buahnya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan membela rakyat dan memberi  kemenangan berarti bagi Negeri Permata ini.

TAMAT  (Sambungan dari  YANG HILANG)                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar