Novel
Kobok Tay (2)
By Wak Amin
7
“JADI saya mengajak adik-adikku sekalian yang belum bekerja,
mari kita singsingkan lengan baju. Mulai bekerja. Bekerja apa saja, asalkan
halal dan dibenarkan.” Imbau Mr President. Mereka yang hadir terutama kalangan pemuda
yang putus sekolah dan belum bekerja tampak antusias menyimak himbauan barusan.
Tak ada yang tertawa, apalagi tersipu malu dan
berbisik-bisik. Semua pandangan tertuju ke depan. Cuma Mr Clean cs yang kerap
mondar-mandir dan tiada henti-hentinya mencermati keadaan. Mereka tetap mewaspadai
warga yang masih berdatangan serta
berdiri jauh di luar arena peresmian.
“Clean …”
“Aman Let.”
“Mr Jones.”
“Eheeem … aman Let.”
“Oke. Tingkatkan pengawasan dan teruslah berkoordinasi
dengan yang lain.”
“Siap Let.”
“Jangan malu,” kata Mr President, “Sebab kalau kita sampai
malu, maka kita tak akan mendapatkan pekerjaan selama-lamanya.”
“Seperti bapak kita tadi, walau sudah berusia lanjut, dia
tetap bekerja meski hanya dengan ngelem kantong. Kita salut sama bapak kita ini,”
puji Mr President sambil menunjuk bapak berusia lanjut tadi yang tampak manggut-manggut dan senang karena merasa
telah diperhatikan.
“Seharusnya kita yang muda-muda ini meniru beliau,” Mr President mengingatkan.
Para tamu undangan serentak menoleh ke bapak lansia yang
datang bersama cucu laki-lakinya yang berusia belasan tahun.
“Saya lebih senang jika kalian semua adik-adikku yang gagah
perkasa ini punya keterampilan. Mau ber saing dan bukan hanya bisa bekerja
sesuai dengan keahliannya. Tapi juga menjadi sumber inspirasi bagi yang lain
untuk tetap optimis menatap masa depan.”
“Jangan pesimis. Jangan cengeng. Allah SWT pasti kasih kita
jalan kalau kita selalu berdoa dan tak henti-hentinya berusaha. Rezeki Dia yang
tentukan, tapi kita harus mencarinya dengan cara yang benar.”
“Clean …”
“Siap Letnan.”
“Sepertinya di sekitar pabrik ada yang berubah.”
“Sudah saya periksa tadi Let. Tak ada apa-apa,” jawab Mr
Clean.
“Coba periksa lagi Clean.”
“Baik Let.”
Tadinya di sekitaran pabrik sepi dan ketika ditengok Mr
Clean dari dekat, ada lima belasan pasukan khusus yang berjaga-jaga di sekitar
pabrik.
Makanya, Mr Clean hanya sebentar mengawasi. Karena setelah
itu dia kembali ke posisinya semula. Tak jauh dari lokasi pabrik yang bakal
diresmikan penggunaannya sebentar lagi.
Namun kedatangan Mr Clean kali kedua ini agak sedikit
berbeda. Anggota pasukan yang ditempatkan di sekitar pabrik makin sedikit jumlahnya
karena telah menyebar ke beberapa lokasi yang lain.
Takutnya, kata Mr Clean, jika sampai tidak jelas kemana arah
sebaran dan peruntukannya, tingkat penga was an semakin menurun dan boleh jadi
tidak bisa terkontrol lagi secara maksimal.
“Lapor Let.”
“Ya Clean.”
“Memang ada perubahan suasana Let.”
“Apa masalahnya?”
Mr Clean menceritakan secara singkat duduk masalahnya. Tapi
dia tetap berkeyakinan situasi masih terkendali.
“Clean.”
“Ya Let.”
“Bila perlu bantuan cepat katakan.”
“Saat ini belum Let. Saya usahakan nantinya mengontak Letnan
dan Mr Jones.”
“Oke …”
Bagaimana dengan Mr Jones?
Dia baru kembali dari belakang panggung. Melihat dari dekat
keadaan sekitar. Lalu bergeser ke samping kiri dan kanan sebelum melangkahkan
kaki ke depan.
Dia menyempatkan diri berbicara sejenak dengan beberapa
temannya dari kepolisian. Lepas itu dia
me ngontak Nona Elizabeth. Sang Nona rupanya sibuk mengontrol kendaraan yang
parkir, berikut petuga jaganya yang berjumlah lebih dari enam orang.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Terdengar tepuk tangan meriah. Para undangan tertawa melihat
seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar berdiri sambil memegang
secarik kertas berisikan puisi dihadapan Mr President dan para undangan.
Si anak baru membacakan puisi setelah mencium hangat dan
penuh hormat tangan Mr President. Inilah puisi yang dia bacakan dengan suara
lantang dan enak didengar.
“Presidenku …
setiap hari kami ke
sekolah
tak kenal lelah
apalagi menyerah
hanya untuk mencari
ilmu
agar bisa jadi orang
berguna nantinya
Presidenku …
setiap sore dan malam
kami belajar
membantu orang tua
mengasuh adik tercinta
kami tak pernah
mengeluh
karena guru kami di
sekolah mengajarkan
kepada kami untuk
tidak mengeluh
Presidenku …
setelah ini kami
mungkin
tak akan bertemu bapak
lagi
sebab bapak harus
mengunjungi tempat lain
di mana sudah menunggu
teman-teman kami berseragam putih merah
putih biru dan
berseragam lain
yang elok dipandang
Presidenku …
terima kasih kami
haturkan
atas kesediaan bapak
datang
berkunjung ke tempat
kami
dan mau bertemu dengan
kami
semogalah bapak selalu
sehat
selalu dilindungi Yang
Kuasa
dekat dengan rakyat
selamat dunia dan
akherat
Amiiiin …..”
8
SETELAH penekanan tombol tanda diresmikannya beberapa proyek
besar dan kecil, Mr President dan is teri diminta para hadirin untuk bernyanyi,
menyumbangkan suara. Semula menolak halus. Tapi karena warga yang hadir
terutama yang berdiri di luar arena panggung memintanya untuk bernyanyi, beliau
akhirnya menyanggupi.
“Baiklah kalau begitu,” kata Mr President. “Sebelum saya
meninjau pabrik, saya dan isteri akan terlebih dulu bernyanyi. Setuju ya?!”
“Setujuuu Pak Presiden,” jawab hadirin serempak.
“Judulnya apa ya?” Mr President melirik Sang Isteri.
Keduanya berbicara sejenak. Kemudian melempar senyuman kepada para tamu dan
undangan.
“Rasanya kalau saya sama ibu yang bernyanyi, kurang ramelah.
Jadi, supaya lebih rame, saya harus tambah oranglah. Orangnya siapa? Mungkin
para pembantu saya …”
Para menteri saling pandang. Mereka diminta Mr President
naik ke atas panggung kehormatan sekarang. Hanya masalahnya, apakah seluruh
menteri, atau sebagian saja.
“Supaya lebih seru, semuanyalah naik ke atas panggung ini.
Betul tidak hadirin sekalian?”
“Betuuuul Pak Presiden …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Naik ke atas panggung sepuluh menteri yang dibawa secara
khusus oleh Mr President. Sebelum bernya nyi, kesepuluh menteri ini diminta
memperkenalkan diri. Walaupun, lewat koran, majalah, radio dan televisi sudah seringkali
dipublikasikan.
Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Mr President
meminta para menteri berbaris rapi menyam ping di belakangnya. Beliau sendiri berada di depan bersama isteri
tercinta.
“Mau tahu judul lagunya?” Tanya Mr President kepada para hadirin.
“Mau Pak President,” jawab hadirin. Para ibu tampak antusias
menunggu lagu apakah yang bakal dinyanyikan Mr President dan isteri.
“Judulnya adalah Kemesraan …”
Haaaa …?
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Tahu kan lagu Kemesraan?” Tanya Mr President pada seorang
remaja yang datang bersama ayahnya, di kursi urutan ketiga dari depan.
“Siapa yang sering menyanyikannya?”
“Iwan Fals Pak Presiden,” jawab remaja berambut ikal hitam
dan tampan itu.
“Seratus untuk anda,” kata Mr President. Dia pun meminta
para menterinya bersiap-siap karena nyanyi bareng sebentar lagi dimulai.
Personil band pengiring tampak saling menyesuaikan posisi
dan pemilihan nada yang pas buat Mr Presi dent dan isteri ketika bernyanyi.
Satu .. dua .. tiii …ga.
“Satu hari
Di kala kita duduk di
tepi pantai
dan memandang
ombak di lautan yang
kian menepi
Burung camar
terbang bermain di
derunya air
suara alam ini
hangatkan jiwa kita
Sementara
sinar surya perlahan
mulai tenggelam
suara gitarmu
mengalunkan melodi
tentang cinta
Ada hati
membara erat bersatu
getar seluruh jiwa
tercurah saat itu
Kemesraan ini
janganlah cepat
berlalu
kemesraan ini
ingin kukenang selalu
Hatiku damai
jiwaku tentram di
sampingmu
hatiku damai
jiwaku tentram
bersamamu
Bersamamu … “
“Terima kasih .. terima kasih.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Cukup ya?”
“Satu lagu lagi Pak President,” pinta seorang ibu dengan
penuh harap. Dia belum puas Mr President hanya menyumbangkan sebuah lagu.
Paling tidak dua, kalau bisa tiga.
Ha ha ha ha …
Mr President dan isteri tertawa mendengarnya.
“Kan masih ada waktu Pak President,” jelas si ibu. Ingin
rasanya dia naik ke panggung kehormatan menemani Mr President bernyanyi.
“Mari Bu, temani kami bernyanyi,” kata Mr President. Si ibu
kegirangan. Apalagi ketika naik podium. Tangannya ditarik pelan Mrs President. Ingin jatuh
rasanya, saking senangnya.
Hadirin bertepuk tangan.
“Siap ya Bu? Tanya Mrs President sambil tersenyum.
“Siap Bu President.”
“Bagus. Kita mulai. Lagunya apa ya Bu?”
“Terserah bapak President ajalah,” jawab si ibu rada
malu-malu.
Setelah dibujuk Mr Presiden dan isteri, si ibu akhirnya
menyebut lagu ‘Setangkai Anggrek Bulan.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Setangkai anggrek
bulan
yang hampir gugur layu
kini segar kembali
entah mengapa …
#
Bunga anggrek yang
kusayang
kini tersenyum
berdendang
bila engkau berduka
matahari tak bersinar
lagi
Hatiku .. untukmu …
hanyalah untukku
kuserahkan
kudambakan
Dirimu .. diriku …
permata hatiku
kubayangkan
di setiap waktu …
Bagai embun pagi hari
bunga-bunga segar lagi
berkembang harapan
hati
hari bahagia … menanti
…”
(Repeat #)
9
JEGUAAAAR …
Guaaammm …
Drug .. dug .. drug
.. dug ..
Guaaam …
Sebuah ledakan besar terjadi. Mr Presidet yang baru saja
turun dari panggung kehormatan untuk menin jau beberapa pabrik besar dan kecil,
terkejut. Secepatnya diamankan pasukan pengawal Presiden dan sejumlah pasukan
pengaman khusus dari pihak kepolisian.
Suasana berubah mencekam. Panik seketika. Jeris histeris dan
tangis pili terdengar di mana-aman. Apa rat keamanan tak mampu menahan laju
para undangan dan warga yang berlari sambil berdesak-desa kan untuk bisa keluar
dari arena peresmian.
Mr Clean, Mr Jones, Letnan Salam dan Nona Elizabeth berusaha
menyelamatkan warga, terutama mere ka yang sudah berusia lanjut. Harus
tertatih-tatih, jatuh dan bangun saat mencoba berlari.
“Clean ….””
“Ya Let.”
“Posisimu dimana sekarang?”
“Di dekat podium bersama Mr Jones, Let.”
“Syukurlah,” kata Letnan Salam, lega. Dia kuatir Mr Clean
ikut tewas dalam ledakan barusan. Tak ada kor ban jiwa, namun banyak yang
terluka parah dan kritis.
“Amankan semuanya.”
“Siap Letnan
Meski tak menimbulkan korban jiwa, puluhan petugas keamanan
ikut terluka parah. Ledakan itu tak me nimbulkan kerusakan menyeluruh. Hanya
tiga dari sepuluh buah pabrik hancur, pos jaga rata dengan ta nah.
Namun jaringan listrik yang sudah terpasang di sekitar
pabrik padam seketika seusai ledakan. Beberapa karyawan yang siaga di tempat untuk menyambut dan
menjelaskan beberapa hal saat Mr President meninjau pabrik, terpaksa ditandu
dan dipapah petugas keamanan.
Sebagian besar dari mereka mengalami luka berat dan ringan,
syok karena ledakan terjadi sangat tiba-ti ba. Ledakan itu membuat aktivitas
pabrik beberapa hari ke depan belum dapat beroperasi karena telah terjadi
kerusakan di sana-sini.
Beberapa wartawan yang hendak melakukan jumpa pers dan
bertanya panjang lebar kepada Mr Presi dent tentang pabrik dan isu terkini
lainnya, terpaksa gigit jari karena acara yang ditunggu-tunggu kuli disket itu
akhirnya dibatalkan.
Mr President dan isteri
langsung dibawa pergi ke istana kepresidenan, bersama para menteri dan
rom bongan duta besar negara sahabat, para pengusaha dan pejabat terkait.
Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mr President.
Hanya terdengar pelan dari mulutnya ucapan istighfar dan doa keselamatan bagi
rakyatnya. Begitu juga dengan Sang Isteri. Tak henti-hentinya mengu capkan rasa
syukur kepada Allah SWT karena bisa selamat dari ledakan.
Lima belas menit berselang, lokasi peresmian, pabrik dan
beberapa proyek besar yang bakal diresmikan, berubah lengang. Asap hitam masih
membubung tingi walau tidak setinggi tadi.
Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk menyemprotkan air
dengan menggunakan selang besar dan panjang. Ada sekitar sepuluh mobil pemadam
kebakaran dikerahkan ke lokasi ledakan untuk mema damkan kobaran api.
Mereka menyebar ke beberapa sudut. Semperotan besar dan sedang
terlihat bergantian di sekitar pab rik, panggung kehormatan dan lokasi parkir.
Kedua tempat itu, beberapa saat setelah ditinggal pergi Mr President, undangan dan warga yang
menyaksikan, ikut terkena percikan api.
Kendati tak menimbulkan ledakan susulan, percikan api itu
sempat memakan kayu, besi dan benda-benda lain di lokasi parkir serta panggung
kehormatan.
Hanya dalam tempo kurang dari lima menit, kebakaran pasca
ledakan berhasil diatasi. Beberapa patugas pemadam kebakaran tampak lega.
Sesekali mereka menanyakan keadaan Mr Presiden dan isteri kepada petugas
keamanan. Selamatkah mereka atau justru tewas di saat terjadinya ledakan.
Kemana Letnan Salam cs?
“Clean …”
“Ya Let.”
“Cepat kejar orang itu!”
“Siap Let.”
Seorang pengendara motor yang sempat dilihat oleh seorang
warga beberapa saat sebelum terjadinya ledakan, kabur bersama motornya ketika
hendak didekati Nona Elizabeth.
Bersama Letnan Salam dan Mr Jones, Nona Elizabeth nekat
menyusul si pengendara. Beberapa kali dia melakukan zig-zug hanya untuk
menghindari padatnya arus kendaraan roda dua dan empat di jalan raya utama.
Sang pengendara motor, setelah berada di simpang empat tugu
kota, belok kiri dan menempuh jalan pintas melewati beberapa lorong yang
sambung menyambung.
“Terus saja Non Eli,” kata Letnan Salam yang sedari tadi
tampak gelisah dan sudah tak sabar ingin
menangkap si pengendara.
“Helo Let.”
“Ya Clean.”
“Saya di belakang Letnan sekarang.”
Ketika Letnan Salam menoleh ke belakang, ada sebuah mobil
berplat hitam dan berwarna biru. Mr Clean mengeluarkan kepalanya sebagai
isyarat dia akan lebih mendekat.
Persis di lampu merah, Mr Clean keluar dari mobil. Dia
mendekati Nona Elizabeth yang pura-pura tidak tahu.
“Selamat siang Mbak. Boleh tanya enggak?” Tanya Mr Clean,
pura-pura serius.
“Boleh. Mau tanya apa Om?”
“Perempuan yang bernama Elizabeth itu, apakah anda ya?”
“Ooo, bukan Om.”
“Lalu anda siapa?”
“Cewek Om,” gurau Nona Elizabeth. Mr Jones membuka pintu, Mr
Clean masuk. Dia ikut gabung ke mobil yang disopiri Nona Elizabeth.
“Mobilmu kenapa Clean?”
“Mogok Let.”
“Belum mandi kali sopirnya,” ledek Nona Elizabeth.
“Atau baru bisa jalan kalau disopiri cewek,” sahut Mr Jones.
Hua ha ha ha …
Candaan Mr Jones ditanggapi Letnan serius oleh Letnan Salam.
Dia tak ingin mereka berempat bertum puk jadi satu. Akan sulit mendapatkan
jejak si pengendara ketimbang mereka pisah dua dengan mobil masing-masing.
“Oke. Mr Jones gantikan Non Eli. Non Eli langsung ke mobil
belakang bersama Mr Clean,” perintah Let nan Salam. Turun dari mobil, Mr Clean
menyilakan Nona Elizabeth secepatnya mengutak-atik mobil bermuatan lebih dari
empat orang itu.
Merah ke hijau, tinggal semenit lagi. Nona Elizabeth
berhasil menyalakan mesin mobil. Lampu berubah hijau, mobil akhirnya melaju
dengan cepatnya.
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar