Jumat, 28 April 2017

Kobok Tay (2)



Novel

Kobok Tay (2)
By  Wak Amin

7

“JADI saya mengajak adik-adikku sekalian yang belum bekerja, mari kita singsingkan lengan baju. Mulai bekerja. Bekerja apa saja, asalkan halal dan dibenarkan.” Imbau Mr President. Mereka yang hadir terutama kalangan pemuda yang putus sekolah dan belum bekerja tampak antusias menyimak himbauan barusan.
Tak ada yang tertawa, apalagi tersipu malu dan berbisik-bisik. Semua pandangan tertuju ke depan. Cuma Mr Clean cs yang kerap mondar-mandir dan tiada henti-hentinya mencermati keadaan. Mereka tetap mewaspadai  warga yang masih berdatangan serta berdiri jauh di luar arena peresmian.
“Clean …”
“Aman Let.”
“Mr Jones.”
“Eheeem … aman Let.”
“Oke. Tingkatkan pengawasan dan teruslah berkoordinasi dengan yang lain.”
“Siap Let.”
“Jangan malu,” kata Mr President, “Sebab kalau kita sampai malu, maka kita tak akan mendapatkan pekerjaan selama-lamanya.”
“Seperti bapak kita tadi, walau sudah berusia lanjut, dia tetap bekerja meski hanya dengan ngelem kantong. Kita salut sama bapak kita ini,” puji Mr President sambil menunjuk bapak berusia lanjut tadi yang tampak  manggut-manggut dan senang karena merasa telah diperhatikan.
“Seharusnya kita yang muda-muda ini  meniru beliau,”  Mr President mengingatkan.
Para tamu undangan serentak menoleh ke bapak lansia yang datang bersama cucu laki-lakinya yang berusia belasan tahun.
“Saya lebih senang jika kalian semua adik-adikku yang gagah perkasa ini punya keterampilan. Mau ber saing dan bukan hanya bisa bekerja sesuai dengan keahliannya. Tapi juga menjadi sumber inspirasi bagi yang lain untuk tetap optimis menatap masa depan.”
“Jangan pesimis. Jangan cengeng. Allah SWT pasti kasih kita jalan kalau kita selalu berdoa dan tak henti-hentinya berusaha. Rezeki Dia yang tentukan, tapi kita harus mencarinya dengan cara yang benar.”
“Clean …”
“Siap Letnan.”
“Sepertinya di sekitar pabrik ada yang berubah.”
“Sudah saya periksa tadi Let. Tak ada apa-apa,” jawab Mr Clean.
“Coba periksa lagi Clean.”
“Baik Let.”
Tadinya di sekitaran pabrik sepi dan ketika ditengok Mr Clean dari dekat, ada lima belasan pasukan khusus yang berjaga-jaga di sekitar pabrik.
Makanya, Mr Clean hanya sebentar mengawasi. Karena setelah itu dia kembali ke posisinya semula. Tak jauh dari lokasi pabrik yang bakal diresmikan penggunaannya sebentar lagi.
Namun kedatangan Mr Clean kali kedua ini agak sedikit berbeda. Anggota pasukan yang ditempatkan di sekitar pabrik makin sedikit jumlahnya karena telah menyebar ke beberapa lokasi yang lain.
Takutnya, kata Mr Clean, jika sampai tidak jelas kemana arah sebaran dan peruntukannya, tingkat penga was an semakin menurun dan boleh jadi tidak bisa terkontrol lagi secara maksimal.
“Lapor Let.”
“Ya Clean.”
“Memang ada perubahan suasana Let.”
“Apa masalahnya?”
Mr Clean menceritakan secara singkat duduk masalahnya. Tapi dia tetap berkeyakinan situasi masih terkendali.
“Clean.”
“Ya Let.”
“Bila perlu bantuan cepat katakan.”
“Saat ini belum Let. Saya usahakan nantinya mengontak Letnan dan Mr Jones.”
“Oke …”
Bagaimana dengan Mr Jones?
Dia baru kembali dari belakang panggung. Melihat dari dekat keadaan sekitar. Lalu bergeser ke samping kiri dan kanan sebelum melangkahkan kaki ke depan.
Dia menyempatkan diri berbicara sejenak dengan beberapa temannya dari  kepolisian. Lepas itu dia me ngontak Nona Elizabeth. Sang Nona rupanya sibuk mengontrol kendaraan yang parkir, berikut petuga jaganya yang berjumlah lebih dari enam orang.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Terdengar tepuk tangan meriah. Para undangan tertawa melihat seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar berdiri sambil memegang secarik kertas berisikan puisi dihadapan Mr President dan para undangan.
Si anak baru membacakan puisi setelah mencium hangat dan penuh hormat tangan Mr President. Inilah puisi yang dia bacakan dengan suara lantang dan enak didengar.

“Presidenku …
setiap hari kami ke sekolah
tak kenal lelah apalagi menyerah
hanya untuk mencari ilmu
agar bisa jadi orang berguna nantinya

Presidenku …
setiap sore dan malam kami belajar
membantu orang tua mengasuh adik tercinta
kami tak pernah mengeluh
karena guru kami di sekolah mengajarkan
kepada kami untuk tidak mengeluh

Presidenku …
setelah ini kami mungkin
tak akan bertemu bapak lagi
sebab bapak harus mengunjungi tempat lain
di mana sudah menunggu
teman-teman kami  berseragam putih merah
putih biru dan berseragam lain
yang elok dipandang

Presidenku …
terima kasih kami haturkan
atas kesediaan bapak datang
berkunjung ke tempat kami
dan mau bertemu dengan kami
semogalah bapak selalu sehat
selalu dilindungi Yang Kuasa
dekat dengan rakyat
selamat dunia dan akherat
Amiiiin …..”

8
SETELAH penekanan tombol tanda diresmikannya beberapa proyek besar dan kecil, Mr President dan is teri diminta para hadirin untuk bernyanyi, menyumbangkan suara. Semula menolak halus. Tapi karena warga yang hadir terutama yang berdiri di luar arena panggung memintanya untuk bernyanyi, beliau akhirnya menyanggupi.
“Baiklah kalau begitu,” kata Mr President. “Sebelum saya meninjau pabrik, saya dan isteri akan terlebih dulu bernyanyi. Setuju ya?!”
“Setujuuu Pak Presiden,” jawab hadirin serempak.
“Judulnya apa ya?” Mr President melirik Sang Isteri. Keduanya berbicara sejenak. Kemudian melempar senyuman kepada para tamu dan undangan.
“Rasanya kalau saya sama ibu yang bernyanyi, kurang ramelah. Jadi, supaya lebih rame, saya harus tambah oranglah. Orangnya siapa? Mungkin para pembantu saya …”
Para menteri saling pandang. Mereka diminta Mr President naik ke atas panggung kehormatan sekarang. Hanya masalahnya, apakah seluruh menteri, atau sebagian saja.
“Supaya lebih seru, semuanyalah naik ke atas panggung ini. Betul tidak hadirin sekalian?”
“Betuuuul Pak Presiden …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Naik ke atas panggung sepuluh menteri yang dibawa secara khusus oleh Mr President. Sebelum bernya nyi, kesepuluh menteri ini diminta memperkenalkan diri. Walaupun, lewat koran, majalah, radio dan televisi sudah seringkali dipublikasikan.
Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Mr President meminta para menteri berbaris rapi menyam ping di belakangnya.  Beliau sendiri berada di depan bersama isteri tercinta.
“Mau tahu judul lagunya?” Tanya Mr President  kepada para hadirin.
“Mau Pak President,” jawab hadirin. Para ibu tampak antusias menunggu lagu apakah yang bakal dinyanyikan Mr President dan isteri.
“Judulnya adalah Kemesraan …”
Haaaa …?
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Tahu kan lagu Kemesraan?” Tanya Mr President pada seorang remaja yang datang bersama ayahnya, di kursi urutan ketiga dari depan.
“Siapa yang sering menyanyikannya?”
“Iwan Fals Pak Presiden,” jawab remaja berambut ikal hitam dan tampan itu.
“Seratus untuk anda,” kata Mr President. Dia pun meminta para menterinya bersiap-siap karena nyanyi bareng sebentar lagi dimulai.
Personil band pengiring tampak saling menyesuaikan posisi dan pemilihan nada yang pas buat Mr Presi dent dan isteri ketika bernyanyi.
Satu .. dua .. tiii …ga.
“Satu hari
Di kala kita duduk di tepi pantai
dan memandang
ombak di lautan yang kian menepi

Burung camar
terbang bermain di derunya air
suara alam ini
hangatkan jiwa kita

Sementara
sinar surya perlahan mulai tenggelam
suara gitarmu
mengalunkan melodi
tentang cinta

Ada hati
membara erat bersatu
getar seluruh jiwa
tercurah saat itu

Kemesraan ini
janganlah cepat berlalu
kemesraan ini
ingin kukenang selalu

Hatiku damai
jiwaku tentram di sampingmu
hatiku damai
jiwaku tentram bersamamu

Bersamamu … “

“Terima kasih .. terima kasih.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Cukup ya?”
“Satu lagu lagi Pak President,” pinta seorang ibu dengan penuh harap. Dia belum puas Mr President hanya menyumbangkan sebuah lagu. Paling tidak dua, kalau bisa tiga.
Ha ha ha ha …
Mr President dan isteri tertawa mendengarnya.
“Kan masih ada waktu Pak President,” jelas si ibu. Ingin rasanya dia naik ke panggung kehormatan menemani Mr  President bernyanyi.
“Mari Bu, temani kami bernyanyi,” kata Mr President. Si ibu kegirangan. Apalagi ketika naik podium. Tangannya  ditarik pelan Mrs President. Ingin jatuh rasanya, saking senangnya.
Hadirin bertepuk tangan.
“Siap ya Bu? Tanya Mrs President sambil tersenyum.
“Siap Bu President.”
“Bagus. Kita mulai. Lagunya apa ya Bu?”
“Terserah bapak President ajalah,” jawab si ibu rada malu-malu.
Setelah dibujuk Mr Presiden dan isteri, si ibu akhirnya menyebut lagu ‘Setangkai Anggrek Bulan.”
Plak .. pak .. plak .. pak …

“Setangkai anggrek bulan
yang hampir gugur layu
kini segar kembali
entah mengapa …

#
Bunga anggrek yang kusayang
kini tersenyum berdendang
bila engkau berduka
matahari tak bersinar lagi

Hatiku .. untukmu …
hanyalah untukku
kuserahkan
kudambakan

Dirimu .. diriku …
permata hatiku
kubayangkan
di setiap waktu …

Bagai embun pagi hari
bunga-bunga segar lagi
berkembang harapan hati
hari bahagia … menanti …”

(Repeat #)

9
JEGUAAAAR …
Guaaammm …
Drug ..  dug .. drug .. dug ..
Guaaam …
Sebuah ledakan besar terjadi. Mr Presidet yang baru saja turun dari panggung kehormatan untuk menin jau beberapa pabrik besar dan kecil, terkejut. Secepatnya diamankan pasukan pengawal Presiden dan sejumlah pasukan pengaman khusus dari pihak kepolisian.
Suasana berubah mencekam. Panik seketika. Jeris histeris dan tangis pili terdengar di mana-aman. Apa rat keamanan tak mampu menahan laju para undangan dan warga yang berlari sambil berdesak-desa kan untuk bisa keluar dari arena peresmian.
Mr Clean, Mr Jones, Letnan Salam dan Nona Elizabeth berusaha menyelamatkan warga, terutama mere ka yang sudah berusia lanjut. Harus tertatih-tatih, jatuh dan bangun saat mencoba berlari.
“Clean ….””
“Ya Let.”
“Posisimu dimana sekarang?”
“Di dekat podium bersama Mr Jones, Let.”
“Syukurlah,” kata Letnan Salam, lega. Dia kuatir Mr Clean ikut tewas dalam ledakan barusan. Tak ada kor ban jiwa, namun banyak yang terluka parah dan kritis.
“Amankan semuanya.”
“Siap Letnan
Meski tak menimbulkan korban jiwa, puluhan petugas keamanan ikut terluka parah. Ledakan itu tak me nimbulkan kerusakan menyeluruh. Hanya tiga dari sepuluh buah pabrik hancur, pos jaga rata dengan ta nah.
Namun jaringan listrik yang sudah terpasang di sekitar pabrik padam seketika seusai ledakan. Beberapa karyawan  yang siaga di tempat untuk menyambut dan menjelaskan beberapa hal saat Mr President meninjau pabrik, terpaksa ditandu dan dipapah petugas keamanan.
Sebagian besar dari mereka mengalami luka berat dan ringan, syok karena ledakan terjadi sangat tiba-ti ba. Ledakan itu membuat aktivitas pabrik beberapa hari ke depan belum dapat beroperasi karena telah terjadi kerusakan di sana-sini.
Beberapa wartawan yang hendak melakukan jumpa pers dan bertanya panjang lebar kepada Mr Presi dent tentang pabrik dan isu terkini lainnya, terpaksa gigit jari karena acara yang ditunggu-tunggu kuli disket itu akhirnya dibatalkan.
Mr President dan isteri  langsung dibawa pergi ke istana kepresidenan, bersama para menteri dan rom bongan duta besar negara sahabat, para pengusaha dan pejabat terkait.
Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mr President. Hanya terdengar pelan dari mulutnya ucapan istighfar dan doa keselamatan bagi rakyatnya. Begitu juga dengan Sang Isteri. Tak henti-hentinya mengu capkan rasa syukur kepada Allah SWT karena bisa selamat dari ledakan.
Lima belas menit berselang, lokasi peresmian, pabrik dan beberapa proyek besar yang bakal diresmikan, berubah lengang. Asap hitam masih membubung tingi walau tidak setinggi tadi.
Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk menyemprotkan air dengan menggunakan selang besar dan panjang. Ada sekitar sepuluh mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi ledakan untuk mema damkan kobaran api.
Mereka menyebar ke beberapa sudut. Semperotan besar dan sedang terlihat bergantian di sekitar pab rik, panggung kehormatan dan lokasi parkir. Kedua tempat itu, beberapa saat setelah ditinggal pergi  Mr President, undangan dan warga yang menyaksikan, ikut terkena percikan api.
Kendati tak menimbulkan ledakan susulan, percikan api itu sempat memakan kayu, besi dan benda-benda lain di lokasi parkir serta panggung kehormatan.
Hanya dalam tempo kurang dari lima menit, kebakaran pasca ledakan berhasil diatasi. Beberapa patugas pemadam kebakaran tampak lega. Sesekali mereka menanyakan keadaan Mr Presiden dan isteri kepada petugas keamanan. Selamatkah mereka atau justru tewas di saat terjadinya ledakan.
Kemana Letnan Salam cs?
“Clean …”
“Ya Let.”
“Cepat kejar orang itu!”
“Siap Let.”
Seorang pengendara motor yang sempat dilihat oleh seorang warga beberapa saat sebelum terjadinya ledakan, kabur bersama motornya ketika hendak didekati Nona Elizabeth.
Bersama Letnan Salam dan Mr Jones, Nona Elizabeth nekat menyusul si pengendara. Beberapa kali dia melakukan zig-zug hanya untuk menghindari padatnya arus kendaraan roda dua dan empat di jalan raya utama.
Sang pengendara motor, setelah berada di simpang empat tugu kota, belok kiri dan menempuh jalan pintas melewati beberapa lorong yang sambung menyambung.
“Terus saja Non Eli,” kata Letnan Salam yang sedari tadi tampak gelisah dan sudah tak sabar ingin  menangkap si pengendara.
“Helo Let.”
“Ya Clean.”
“Saya di belakang Letnan sekarang.”
Ketika Letnan Salam menoleh ke belakang, ada sebuah mobil berplat hitam dan berwarna biru. Mr Clean mengeluarkan kepalanya sebagai isyarat dia akan lebih mendekat.
Persis di lampu merah, Mr Clean keluar dari mobil. Dia mendekati Nona Elizabeth yang pura-pura tidak tahu.
“Selamat siang Mbak. Boleh tanya enggak?” Tanya Mr Clean, pura-pura serius.
“Boleh. Mau tanya apa Om?”
“Perempuan yang bernama Elizabeth itu, apakah anda ya?”
“Ooo, bukan Om.”
“Lalu anda siapa?”
“Cewek Om,” gurau Nona Elizabeth. Mr Jones membuka pintu, Mr Clean masuk. Dia ikut gabung ke mobil yang disopiri Nona Elizabeth.
“Mobilmu kenapa Clean?”
“Mogok Let.”
“Belum mandi kali sopirnya,” ledek Nona Elizabeth.
“Atau baru bisa jalan kalau disopiri cewek,” sahut Mr Jones.
Hua ha ha ha …
Candaan Mr Jones ditanggapi Letnan serius oleh Letnan Salam. Dia tak ingin mereka berempat bertum puk jadi satu. Akan sulit mendapatkan jejak si pengendara ketimbang mereka pisah dua dengan mobil masing-masing.
“Oke. Mr Jones gantikan Non Eli. Non Eli langsung ke mobil belakang bersama Mr Clean,” perintah Let nan Salam. Turun dari mobil, Mr Clean menyilakan Nona Elizabeth secepatnya mengutak-atik mobil bermuatan lebih dari empat orang itu.
Merah ke hijau, tinggal semenit lagi. Nona Elizabeth berhasil menyalakan mesin mobil. Lampu berubah hijau, mobil akhirnya melaju dengan cepatnya.

(Tobe Continued)            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar