Novel …
Bedeng Seng (4)
Oleh Wak Amin
IX
“GOBLOK semuanya!” Bos Steven marah besar. Dia tempeleng
satu persatu anak buahnya. Hanya diam dan pasrah. Memag salah mereka, sengaja
membiarkan Muhsin kabur dari dalam kamar tawanan.
“Makan saja kerjanya kalian. Ngurus Muhsin saja tak becus.”
Bos Steven meminta pertanggung jawaban jambang, muka bulat dan lonjong.
“Saya minta maaf Bos. Saya mengaku salah,” kata jambang,
berharap Sang Bos tidak menghukumnya.
“Saya juga Bos,” ujar muka bulat. Saya siap menerima
hukuman, tapi yang ringan-ringan saja Bos. Saya tak kuat lagi kalau yang
berat-berat.”
“Saya juga Bos,” sambung lonjong. “Saya minta yang
ringan-ringan saja hukuman buat saya. Kalau untuk mereka terserah Bos lah.”
“Enak saja. Sekarang, kalian bertiga harus cari Muhsin
sampai dapat. Cepaaaat!” Bentak Bos
Steven.
“Kemana Bos? Kami sudah cari kemana-mana. Dia tetap tidak
ada,” kata jambang.
“Bodoh. Pakai otak kalau ngomong.” Bos Steven
menunjuk-nunjuk jidat ketiga anak buahnya.
“Cari ke rumahnya.”
“Tapi Bos … “Lonjong menduga Muhsin pasti melapor ke polisi.
“Tapi kenapa? Takut?”
“Kalau di rumahnya dia tidak ada, gimana Bos?”
“Culik kedua orang tuanya bila perlu.”
“Kasihan Bos. Mereka kan sudah tua. Lagi pula yang kita
culik itu hanya Muhsin, bukan orang tuanya,” jelas jambang.
“Sejak kapan Bang kamu tahu dengan kasihan? Kita tak
mengenal apa yang namanya kasihan itu. Mengerti?”
“Mengerti Bos,” jawab ketiganya serempak.
“Sekarang, cari ke rumahnya. Cepaaat!” Perintah Bos Steven.
Dia menelepon wakilnya Mahmud. Memintanya ikut mencari informai kemana Muhsin
melarikan diri dan bersembunyi sekarang ini.
Ternyata Muhsin sudah sampai di rumahnya dengan menumpang
ojek. Dia disambut kedua orang tua nya dengan suka cita. Mereka berpelukan
hari. Lama sekali. Terutama Bu Broto. Wanita berparas ayu ini tak
henti-hentinya menangis.
“Ibu kuatir kamu kenapa-kenapa Nak. Syukurlah sekarang kamu
sudah kembali dalam keadaan sehat walafiat.
“Kamu sudah lapor ke polisi Nak?” Tanya Pak Broto.
“Belum Pak.”
“Sudah. Sekarang istirahatlah dulu. Biar nanti bapak yang
bicara sama Mr Clean,” kata Pak Broto dengan raut muka ceria. Tidak seperti
sebelumnya, tegang dan selalu gelisah.
“Yuk, ibu antar kamu ke kamar sekarang,” ajak Bu Broto.
Menggandeng tangan Muhsin yang tampak dingin menuju kamar yang biasa ia tempati
itu.
“Bu .. aku lapar sekali,” kata Muhsin. Dia tiba-tiba rindu
masakan ibunya.
“Tunggu ya Nak. Ibu ambilkan …”
Sementara Pak Broto
masih berbicara dengan Mr Clean. Dia mengatakan anaknya Muhsin telah kembali ke
rumah dalam keadaan selamat dan sehat walafiat.
“Dia berhasil kabur saat para begundal itu sedang bermain
gaple,” kata Pak Broto. Dia meminta Mr Clean menangkap penculik anaknya itu.
“Jangan dibiarkan bebas berkeliaran. Takutnya nanti aksi
mereka kian menjadi-jadi Mister.”
“Baik Pak Broto. Kita akan cari tahu secepatnya keberadaan
mereka. Kita akan tangkap mereka,” janji Mr Clean, bersama Nona Sabrina dalam
mobil patroli menuju pertigaan air mancur.
Keduanya singgah sejenak di lapak pinggir jalan yang ramai
pengunjung. Bermacam-macam makanan dijaja di sana. Mulai dari bakso segala rasa, tahu dan tempe goreng,
hingga soto dan sate ayam.
Mr Clean memesan sate dan roti bakar. Malam ini dia khusus
mentraktir Nona Sabrina yang sedang berulang tahun ke 25.
X
“Ai Bro … Kenapa aku
tiba-tiba merinding. Ada apa ya?” Lonjong ragu untuk masuk ke kediaman orang
tua Muhsin. Muka bulat nyeletuk …
“Bilang aja takut ..”
“Betul Bro.” Lonjong ngotot. Selain merinding dia juga merasa berat untuk membuka pintu pagar.
“Masa buka pintu saja repot,” kata jambang. Menyuruh lonjong
dan muka bulat minggir. Dia pegang kuat-kuat pintu pagar dan …
Kreeeeng …
Pintu pagar terbuka.
Nyaring suaranya, membuat Pak Broto keluar dari rumah lewat
pintu depan . Dia melihat ke sekitar. Pintu pagar terbuka.
“Yah, hati-hati …” Pesan Bu Broto, ketika suaminya hendak
menutup pintu pagar rumah yang separo terbuka.
“Rasanya tadi tertutup. Kenapa bisa terbuka ya. Ah,
macam-macam saja. Mudah-mudahan saja tak terjadi apa-apa …”
Kletek …
Kreeet …
Dia tutup lagi pintu pagar. Kepada isterinya, Pak Broto
mengaku heran kenapa pintu pagar tiba-tiba terbuka.
“Padahal tadi sudah ayah tutup, Bu.” Kata Pak Broto, meminta
isterinya menutup pintu depan karena sudah malam.
“Mungkin ayah kelupaan,” jawab Bu Broto. Setelah mengunci pintu, dia mengajak suaminya menunaikan salat
Isya berjamaah di ruang tamu.
Hi hi hi hi …
Ssssst ..
“Jangan keras-keras,” bisik lonjong tak kuasa menahan
perasaan gelinya.
“Aku bingung Bro.” Muka bulat menggaruk-garuk kepalanya.
“Bingung kenapa Bro?” Tanya jambang sambil melihat rambut
muka bulat yang mulai ditumbuhi uban.
“Katanya kita mau culik orang tuanya Muhsin. Kenapa tidak
langsung kita culik saja mereka?”
Jambang dan lonjong
baru sadar. Mereka lupa karena fokus untuk bisa masuk ke kediaman Pak Broto.
“Kamu punya usul Lat?”
“Eeeem .. masih bingung Bang, aku.”
“Kamu Jong?”
“Tengoklah sebentar lagi,” saran lonjong.
“Tapi banyak nyamuk disini lonjong?” Keluh muka bulat. Bisa
habis darah ini dihisap nyamuk.
“Besar-besar lagi
nyamuknya. Iiich .. ngeri aku. Lihat tanganku …!” Muka bulat memperlihatkan
tangannya yang penuh dengan bekas gigitan nyamuk.
Jambang berpikir sejenak. Diputuskan mereka masuk bertiga.
Tapi bersembunyi dimana?
“Dekat garasi saja,” ujar lonjong melompati pagar.
Huuuup …
Mereka berlai
mendekat ke garasi. Tapi tak bisa masuk arena terkunci rapat. Mereka
beralih ke samping. Ada tumpukan barang di sana.
“Disini saja dulu,” bisik jambang, “Buat sementara saja.”
Kedua orang tua Muhsin masih menunaikan salat Isya
berjamaah. Sementara Muhsin mulai terlelap. Sejak tadi dia selalu gelisah.
Belum mau memejamkan matanya.
Tujuh menit kemudian …
“Assalamualaiku warohmatullahi wabarokatuh …” Dua kali
mengucap salam. Pak Broto mulai berzikir, dilanjutkan dengan berdoa memohon
keselamatan, ampunan dan dimudahkan segala urusan.
“Gimana Bro?” Lonjong sudah tak sabar ingin masuk.
“Gimana apanya?”
“Masuklah Bang, dan culik mereka.”
“Sekarang?”
Lonjong mengangguk.
“Gimana Lat?
“Okeee …”
Mereka pun bergeser
ke kiri. Mendekati pintu belakang.
Setelah dicoba untuk dibuka, pintu tak juga mau terbuka. Mati akal, jambang cs
berusaha cari jalan lain.
“Ahaaa .. aku puny aide” ucap jambang tersenyum lebar.
“Pasti suruh aku yang masuk kan? Tak mau ah,” kata muka
bulat. Justru ia menyuruh lonjong lah yang masuk lebih dulu.
“Enggak mau ah,” jawab lonjong. Saling tarik dorong ke depan pintu, jambang
akhirnya membisikkan sesuatu di telinga kedua rekannya itu.
Apa bisikannya?
“Ahaaa … Kalau itu aku mau Bro.” Muka lonjong berubah
berseri-seri.
“Aku juga,” sahut si muka bula melonjak kegirangan.
XI
TOK .. tok .. tok …
Tok … tok … tok …
Tok … tok … tok …
Pak Broto mengintip dari balik kaca jendela ruang tamu. Dia
sibakkan gorden. Sementara isterinya, Bu Broto berdiri di dekatnya.
“Ada orangnya Yah?”
Pak Broto geleng-geleng kepala.
Setelah lonjong, kini giliran muka bulat yang mengetuk
pintu. Pak Broto melihat jelas siapa orang yang mengetuk pintu itu..
“Telepon polisi saja Yah,” saran isterinya mulai ketakutan.
“Sssst … kita tunggu dulu. Lebih baik sekarang ibu pergi ke
dapur bawa pentungan dua buah. Untuk ayah satu, ibu satu.” Pinta Pak Broto.
Sementara Bu Broto ke dapur, si muka bulat yang masih
berdiri dekat pintu, coba mengetuk pintu lagi. Kali ini lebih keras.
Pak Broto cuma diam.
Dia melihat muka bulat mulai kesal. Dengan langkah gontai
dia menemui kedua rekannya yang sembunyi di balik pohon besar nan rindang.
“Gimana Bro?” Tanya jambang, berharap ada reaksi dari Pak
Broto.
“Nihil Bro.”
“Di dalam ada orang tidak?”
“Tak tengok aku Bang,” jawab muka bulat terus terang.
“Coba kau intip. Ada tidak orang di dalam?”
“Siap Bro.”
Dengan langkah malas, muka bulat mendekati kaca jendela luar
ruang tamu. Dia tengok ke dalam. Tak seorang pun ada di sana. Dia kembali
menemui rekannya yang menunggu dengan harap-harap cemas.
“Kosong Bro. Tak ada orang di dalam rumah,” kata muka bulat
dengan raut muka kecewa.
Saat jambang cs masih
kompromi, Pak Broto meminta isterinya yang baru kembali dari dapur, segera
mendekat.
“Mereka tadi mengintip ke dalam Bu,” jelas Pak Broto tertawa
geli.
“Lalu Yah?”
“Ayah sembunyi lah di balik gorden.”
“Terus …?”
“Mungkin bosan ngintip ke dalam rumah, si laki-laki itu
balik lagi.”
“Yah …” Sambil memberikan sebuah pentungan, Bu Broto meminta
suaminya segera melapor ke polisi.
“Mr Clean, Yah. Kan ayah sudah pernah ketemu beliau
sebelumnya.”
“Nantilah …”
“Tapi Yah …” Mulut Bu Broto buru-buru ditutup suaminya
dengan telapak tangan.
“Sssst …” Memberi isyarat pada isterinya agar diam.
Kenapa?
Karena, jambang yang mendapat giliran terakhir mengetuk pintu,
mulai berjalan mendekati pintu terbuat dari kayu jati itu. Dia melihat sejenak
ke dalam. Lalu mulai pasang gaya. Mengetuk pintu.
Tok .. tok .. tok …
Tok .. tok .. tok …
Tok .. tok … tok …
Pak Broto memberanikan diri membuka pintu. Dengan hanya satu
kali putaran anak kunci, dia tarik ke delam, pintu pun terbuka.
Nyeeeet …
Jambang bersembunyi di balik garasi. Dia wait and see saja.
Begitu juga dengan kedua rekannya. Berharap Pak Broto keluar. Mereka sergap dan
bawa kabur.
Anehnya, tiga menit berlalu, Pak Broto tak kunjung keluar.
Jambang belum bereaksi. Malu dibilang
takut oleh muka bulat dan lonjong, dia
memberanikan diri mendekat ke pintu yang terbuka.
Praaak …
Gedebug …
“Aduuuh … Toloooong!”
Jambang lari terbirit-birit setelah kepalanya kena pentung Pak
Broto. Sedangkan isterinya mementung punggungnya.
Melihat jambang terbirit-birit mengaduh kesakitan menuju
pintu pagar, muka bulat dan lonjong langsung mengambil langkah seribu. Pontang-panting menyelamatkan
diri.
XII
JAMBANG cs, karena tak kuat lagi berlari, mereka berhenti di
sebuah pondokan, bekas pos ronda jaga malam. Kebetulan sepi. Jadi mereka
aman-aman saja.
“Kamu sih Bang. Berani-beraninya,” celetuk muka bulat dengan
nafas tersengal-sengal. Karena tak kuat lagi duduk, ia rebahan di alas tikar lusuh.
“Tak pula kutahu kalau ada orang. Kalau kutahu pasti
kupanggil kalian berdua. Kita keroyok sama-sama,” kata jambang membela diri.
“Tak kusangka, kuat juga bapak emaknya si Muhsin itu. Aku
juga, pasti lari lah. Tak kuat aku dipentung itu. Sakitlah rasanya badan ini,”
ujar lonjon tertawa lebar.
“Ngomong-ngomong Bro. Sakit tidak badan kau kena pentung
bapak emaknya si Muhsin itu? Tanya muka bulat penasaran.
“Sakit lah. Apa kau
tak dengar tadi aku kesakitan, mengaduh minta tolong sama kamu berdua. Dasar kamu
saja tak mau menolong aku. Teman macam apa kalian berdua ini.” Kesal tampaknya
jambang. Berkali-kali ia hendak memukul
dua temannya itu. Tapi urung karena tak tega.
“Maafkan kami Bro. Bukannya kami tak mau menolong kau,” ujar
lonjong. “Tapi kami terpaksa berlari karena melihat kau berlari juga …”
“Iya. Maksudku. Waktu aku kena pentung, kalian berdua kan
lihat. Nah, saat itulah kalian membantuku ikut memukul orang tuanya si Muhsin
itu. Tau?”
“Tau Bro. Cuma …” Lonjong tak melanjutkan ucapannya setelah
barusan dia melihat ada orang melintas di depannya.
“Kamu lihat Bro?” Tanya lonjong kemudian. Bulu kuduknya
mulai merinding.
“Lihat apa?” Jambang balik bertanya.
“Lat .. Oii Lat.” Setelah dicolek berkali-kali, muka bulat
baru bangun dari rebahannya. Dia sempat terlelap rupanya.
“Apa Bro .. apa?”
“Lihat apa Bro?” Muka bulat mengucek-ucek bola mataya yang
memerah.
“Orang lewat tadi?”
Muka bulat mengatakan tidak melihatnya. Dia mengaku terlelap
beberapa saat tadi. Untung ada yang membangunkan. Sebab kalau tidak, bisa
semalaman ngoroknya.
Triiing …
Kelonteeeeng …
Suara orang melempar kaleng dekat pondokan. Kali ini, karena
sama-sama mendengarnya, lonjong tersentak kaget. Turun dari dudukan pondok.
Berdiri sambil berpegangan erat satu sama lain.
Suasana sekitar memang sepi. Jarum jam menunjukkan ke angka
sepuluh malam. Tak seorang pun war ga malam ini yang lalu-lalang. Hanya
sesekali terlihat satu dua kendaraan roda dua dan empat melintas lambat.
“Kita lari saja Bro.” Ajak jambang. Ajakan ini diamini kedua
rekannya. Daripada menunggu di pondokan, gelap dan sepi. Lebih baik pergi dan
kembali menemui Sang Bos.
Kriiiing …
Kriiiing …
“Jong. Hapemu …” Kata jambang mengingatkan lonjong yang
setahu dia suara hape itu berasal dari saku baju lonjong.
“Hapeku hilang Bro,” jawab lonjong sambil menarik saku
bajunya.
Kriiing …
Kriiing …
“Lat. Hapemu …”
Kali ini suara hape berasal dari saku celana muka bulat.
“Enggak Bro. Aku tak bawa hape. Hapemu barangkali,” ujar
muka bulat memperlihatkan kedua kantong celananya yang kosong. Jangan kan hape,
uang sepeser pun dia tak punya.
“Oha iya,” ujar jambang. Hape di saku celananya memang
nyala. Sama-sama tengok. Mereka pikir pesan dari Bos Steven.
Tahunya …
Hi hi hi hi …
Hu hu hu hu …
He he he he …
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar