Sabtu, 13 Mei 2017

Kobok Tay (4)


Novel

Kobok Tay (4)
Oleh  Wak Amin

14
KETIKA memasuki kampung yang sama sekali baru pertama kali dikunjungi Mr Clean dan Mr Jones, mere ka disambut dengan pandangan mata curiga, penuh selidik. Tak satu pun dari warga yang menaruh hor mat dan bersikap ramah, padahal kehadiran mereka di kampung terpencil ini sudah melalui izin Pak Kepala Kampung.
Setiap kali disapa Mr Clean dan Mr Jones, yang coba bertanya sesuatu, hanya diam sebelum pergi entah ke mana. Bahkan ada juga yang bersikap sinis dan tidak suka dengan kehadiran mereka di kampung yang jarang dikunjungi warga perkotaan itu.
“Mau apa bapak berdua kemari haa?” Tanya seorang lelaki bertubuh besar, menghadang langkah Mr Clean dan Mr Jones di dekat posyandu bersama beberapa teman lainnya.
“Kami bermaksud mengunjungi rumah seseorang,” jawab Mr Jones, sebisa  mungkin bersikap ramah dan tidak terpancing emosi.
“Siapa?” Tanyanya lagi. Beberapa lelaki tegap lebih mendekat dan mengelilingi Mr Jones dan Mr Clean.
“Pak Syukri,” ucap Mr Clean.
Ha ha ha ha …
“Kenal enggak Bro dengan Pak Syukri?”
Teman-temannya menjawab … “Itu Bro, yang suka nyangkul tanah itu.”
Ha ha ha ha …
“Untuk apa?”
“Kami ada urusan sama beliau. Bukan pada kalian,” kata Mr Jones.Emosinya mulai terlihat.Buru-buru diredakan Mr Clean dengan mengatakan … “Izinkan kami lewat …!”
“Kalau tidak kenapa?” Tanya lelaki berkumis tebal sambil melotot tajam.
“Tidak kenapa-kenapa. Kami akan cari jalan lain,” jawab Mr Clean.
Ha ha ha ha …
“Penakut juga bapak berdua ini,” ejek si kumis.
Ha ha ha ha …
“Badannya saja yang gede … mental tempe,” katayang lain.  Sempat mendorong Mr Clean sehingga terpundur beberapa sentimeter.
Untung saja, Pak Kepala Kampung datang menengahi. Melalui beberapa bujukan, akhirnya para lelaki ta nggung itu membubarkan diri. Kepada Mr Jones dan Mr Clean, Pak Kepala Kampung berpesan pandai-pandailah membawa dan menjaga diri.
“Saya tahu bapak berdua orang yang kuat. Bapak berdua bukannya tidak melawan. Tapi menghindari terjadinya keributan,” kata Pak Kepala Kampung sambil mempersilakan Mr Clean dan Mr Jones melanjutkan perjalanannya ke kediaman Pak Syukri.
“Tidak jauh lagi Pak. Cuma apa beliau ada di rumah atau tidak ya?” Pak Kepala Kampung ragu.
“Sudah, begini saja Pak. Bagaimana kalau bapak bantu kami menemui Pak Syukri itu.Supaya tidak kepikiran macam-macam,” ujar Mr Jones penuh harap.
“Okeee …”
Pak Syukri, pagi menjelang siang itu, memang tidak ada di rumahnya.Dia lagi berada di sawah. Dia mendapat orderan mencangkul tanah warga yang hendak menanam padi dan sayur-sayuran.
Lewat petunjuk isterinya yang baru saja pulang dari sawah membantu suaminya mencangkul tanah, Mr Clean dan Mr Jones dengan diantar Pak Kepala Kampung, bersegera menemui Pak Syukri di areal persa wahan.
Tak begitu jauh. Karena banyak jalan pintas, lima belas menit kemudian sudah sampai di lokasi yang ditu ju. Sepanjang mata memandang terbentang areal persawahan yang luas, tentu miliknya orang kampung yang kaya raya, atau lazim dijuluki toke tanah.
Pak Syukri menghentikan sejenak pekerjaan mencangkulnya. Dia usap keringatnya dengan baju yang barusan ia lepas. Karena banyaknya peluh, baju kaos yang digulung itu dia peras, lalu dikenakan lagi sebelum menemui Mr Clean, Mr Jones dan Pak Kepala Kampung yang baru dua menit menunggu di pondokan.
Mereka pun bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Karena demikian santainya pertemuan ini, Pak Kepala Kampung yang semula hanya mengantar saja,  enggan beringsut dari tempat duduknya. Dia ma lah ikut larut dalam pembicaraan yang diselingi tawa dan canda itu.
“Beberapa waktu lalu beliau pernah menemui saya disini. Seperti biasa kami saling bertukar pengala man. Biasalah Pak. Sudah lama tidak ketemuan, begitu ketemuan ya ketawa-ketawalah,” jelas Pak Syukri. Dia tuangkan air kopi bawaan isterinya dari petekon ke dalam tiga gelas plastik kecil, lalu mempersilakan para tamunya ini minum sebelum meneruskan pembicaraan.
Dari kejauhan, para lelaki yang sempat menghadang Mr Clean dan Mr Jones tadi, memperhatikan gerak-gerik Pak Kepala Kampung dan Pak Syukri.
Sebenarnya mereka ingin mendekat. Tapi tak ada kesempatan untuk itu. Selain hanya sedikit pepoho nan, selebihnya pematang sawah. Jadi tak ada tempat persembunyian yang benar-benar aman untuk melakukan pengintaian.
Namun, mereka sepakat untuk tetap bersembunyi di balik pohon yang tanahnya lebih tinggi ini. Mereka akan memaksa Pak Kepala Kampung bicara nantinya, termasuk Pak Syukri juga.
Tak lama kemudian, karena ada pekerjaan yang harus secepatnya dibereskan, Pak Kepala Kampung pami tan pulang lebih dulu. Pembicaraan yang sempat terhenti dilanjutkan kembalidan  sementara Pak Kepala Kampung tampak senyum-senyum sendiri hingga mendekati tempat persembunyian Kumis cs.
“Selamat siang Pak Kepala Kampung,” kata si kumis sembari tersenyum dengan tatapa mata menge jek.
Pak Kepala Kampung membalasnya dengan ucapan yang sama.
“Mau bicara sama saya? Di rumah bapak saja ya. Ayooo …!” Ajak  Pak Kepala Kampung tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.

15
“ENGGAK perlu Pak. Cukup disini saja,” kata si tegap sambil melotot. Sementara temannya kumis memelintir-melintir kumis hitamnya, si tegap membuang sisa rokoknya dan …
“Bapak kepala kampung tak usah macam-macamlah,”lanjut tegap. Dia mulai tak suka melihat Pak Kepala Kampung yang terus menatapnya sejak tadi.
“Macam-macamlah gimana?”
“Kenapa bapak membela dua orang asing itu?” Tanya si kumis tebal yang mulai mengepalkan tinjunya.
“Bukan membela. Tapi sebagai kepala kampung saya bertanggung jawab terhadap warga saya, apalagi orang yang baru dating berkunjung ke kampung ini. Bukankah kalau terjadi apa-apa di kampung ini, saya juga yang disalahkan. Benar tidak?”
“Tidak benar Pak Kepala Kampung,” jawab tegap.
“Tidak benar gimana?”
“Selama ini kalau ada orang maling di kampung ini, si maling ketangkep, apa bapak yang masuk penjara. Kan tidak. Justru si maling itulah yang ketangkep. Sudah babak belur dihajar massa, masuk bui pula.”
“Baiklah kalau begitu,” ujar Pak Kepala Kampung mngalah. Dia tak mau berdebat.. Dia tak ingin memper keruh persoalan. “Sekarang maunya kalian itu apa. Ngomong terus terang …”
“Kami mau …”
Si kumis dan beberapa rekannya serempak memukuli Pak Kepala Kampung. Sempat berteriak minta tolong, tapi percuma karena tak seorang pun yang mendengar teriakannya. Mulut disekap, seluruh anggota badan mulai dari paha hingga kepala,babak belur kena pukul.
Tak berhenti sampai di situ. Kumis cs juga menarik-narik tangan dan kaki Pak Kepala Kampung. Diayun-ayun ke kiri dan kanan, lalu dilempar ke semak belukar.
Melihat Pak Kepala Kampung masih bisa menggerak-gerakkan kedua tangannya, kumis pun mendekati. Dia angkat kepalanya, dan … puiiiich … Dia ludahi mukanya kumis berkali-kali.
“Dasar kurang ajar. Sejak kecil tak pernah diajar,” ucap Pak Kepala Kampung. Walau sudah babak belur, tetap berani mengutarakan ketidaksukaannya pada kumis dan teman-temannya.
Praaak …
Dibenturkannya kepala Pak Kepala Kampung ke tanah berulangkali. Pingsan seketika. Kumis lega. Sebelum pergi dia ludahi lagi muka lelaki tinggi semampai itu.
Beberapa menit kemudian, salah seorang warga sempat melihat tegap cs pergi meninggalkan lokasi dimana Pak Kepala Kampung tergeletak tak sadarkan diri. Dia sengaja belum berteriak karena para preman kampung itu belum pergi terlalu jauh.
Warga tadi baru berteriak minta tolong setelah kumis cs  tidak kelihatan lagi. Dia berlari ke pematang sawah. Dia lihat ada Pak Syukri, Mr Clean dan Mr Jones sedang ngobrol bertiga di pondokan.
“Pak Syukri .. Pak Syukri …” Dengan nafas tersengal-sengal, pria beranak dua ini menyebut ‘Pak Kepala Kampung .. Pak Kepala Kampung.’
“Kenapa Pak Ahmad?”
“Anu Pak Syukri. Pak Kepala Kampung tidur di atas rumput.”
Ha ha ha ha …
“Ya biarkan sajalah Pak Ahmad. Mungkin beliau sudah bosan tidur di kasur yang empuk,” kata Pak Syukri, mempersilakan Ahmad minum air kopi dulu agar tenang dan tidak panik.
Minum sebentar. Dua tiga teguk.
“Nah, sekarang Pak Ahmad bisa ceritakan duduk soalnya,” kata Mr Clean, juga ikut minum air kopi bersama Mr Jones.
“Pak Kepala Kampung bukannya tidur Pak,” jelas Ahmad dengan muka sedikit pucat.
“Kalau bukan tidur, lalu apa Pak Ahmad?” Pak Syukri mulai serius menyimak cerita teman sekampungnya itu.
“Kalau tidur kan ngorok. Ini tidak. Seluruh badannya  bengkak-bengkak Pak.”
Haaaa?
“Ayo kita kesana sekarang,” ajak Pak Syukri. Berempat melihat apa yang sebenarnya telah terjadi dan menimpa Pak Kepala Kampung.
Mereka kaget bukan kepalang setelah melihat dari lubang hidung Pak Kepala Kampung ada bekas sisa da rah. Begitu juga dengan mulut dan pelipisnya. Mereka pun sepakat  membawa cepat yang bersangkutan  ke puskesmas terdekat. Lama juga diperiksa dokter puskesmas.
Sore harinya baru diperbolehkan pulang ke rumah. Selama dirawat di rumah harus rutin minum obat dan istirahat total.
Pak Kepala Kampung belum boleh diajak bicara. Dia hanya melepas senyum saat Mr Clean dan Mr Jones tersenyum padaya di samping tempat tidur.
Kepada Pak Syukri, sesaat sebelum meninggalkan kediaman Pak Kepala Kampung sore hari, Ahmad men ceritakan, sebelum melaporkan kejadian yang dia saksikan dengan mata kepala kepadanya, Mr Clean dan Mr Jones, dia sempat melihat sekilas muka tegap dan teman-temannya.
“Saya datang, mereka baru saja pergi. “
“Pak Ahmad yakin?”
“Yakin kalau itu tegap, kumis dan teman-temannya. Tapi, soal apakah mereka memukuli Pak Kepala Kampung, saya terus terang tak melihatnya Pak Syukri,” terang Pak Ahmad.
“Ya sudah,” jawab Pak Syukri, “Nanti kita tanya lagi ke Pak Kepala Kampung jika beliau sudah sehat dan bisa diajak bicara …”

16
HA ha ha ha …
“Biar dia tahu rasa,” kata kumis tertawa lebar. Sudah sebotol bir hitam dia habiskan di warung minum ini.
“Bagaimana kalau yang lain sampai tahu Mis?” Tanya Cecep, rekannya si kumis. Pria ceking ini  baru se gelas minum bir, matanya sudah memerah. Penglihatannya mulai berkunang-kunang dan ucapannya mulai tak karuan.
“Ah masa bodoh. Kamu takut apa, haaa?”
“Takut? Enggak bakalan,” sahut tegap. “Cuma kuatir saja.”
Ha ha ha ha …
“Itu sama saja Bro. Nih, kumis, jagoan kampung. Kalau ada kenapa-kanapa, saya tanggung jawab.” Kumis berdiri, lalu menepuk-nepuk dadanya. Menyombongkan diri. Saking kuatnya tepuk dada, kumis sampai terbatuk-batuk.
“Minum lagi Bro,” kata Cecep, menuangkan segelas bir hitam, dengan cepat kumis meminumnya sampai habis.
“Gap …”
“Biarkan sajalah,” ujar tegap menjawab kekuatiran Cecep melihat rekan mereka Bang Kumis mulai ngeracau.
Gedebug …
Jatuh menimpa kursi. Dibantu berdiri, kumis ogah. Tak kuat berdiri, dia duduk. Lalu berdiri dan jalan sempoyongan sambil berkata …

                     “Wahai kumis yang melawan
                         aku memang preman
                            siapapun pasti kulawan
                               tak peduli musuh atau teman …”

Ha ha ha ha …
“Eeeeeeegh …”
Kumis muntah bir. Tegap dan Cecep meminta kumis duduk. Namanya juga mabuk, tak kuasa ia menolak.
“Sadar Mis. Nyebut …” Kata Cecep. Pemilik warung mulai ketakutan dan atas saran warga yang mampir ke warung berombongan, si kumis akhirnya diungsikan.
Kemana?
“Bawa ke rumah saja,” kata tegap.
Dalam kondisi masih mabuk, kumis terpaksa dipapah sampai rumah. Karena kediamannya terkunci, dibawalah ia ke rumahnya tegap. Anak dan isteri tegap tak mau membukakan pintu. Mereka takut melihat Bang Kumis teler.
“Disini sajalah Cep.” Tegap meminta Cecep menggeserkan kursi kayu ke dekat kumis. Disuruh duduk. Sesasaat kemudian tertidur pulas.
Lama juga kumis tertidur. Cecep dan tegap terpaksa meninggalkannya seorang diri setelah keduanya melihat Pak Syukri, Mr Clean dan Mr Jones datang mencari mereka.
Karena tak sempat kabur lagi, mereka memilih bersembunyi tak jauh dari kediaman tegap.  Ada  rumah kosong. Di balik rumah kayu berukuran kecil seukuran warung dorong ini, keduanya leluasa memper hatikan gerak-gerik Pak Syukri.
Pak .. pak .. pak …
Pak Syukri memukul pelan kedua pipi kumis. Setelah ketiaknya digelitiki berkali-kali, kumis terbangun dari tidurnya.
“Bawa sajalah dari sini,” usul Mr Clean. Kumis dibawa pergi ke rumah kosong. Di sana dia ditanyai. De ngan badan yang masih lemah pasca teler, dia tak kuat lagi menahan gertakan dan ancaman dari Pak Syukri.
Kumis akhirnya mengaku telah memukuli Pak Kepala Kampung bersama teman-temannya yang lain, di antaranya tegap dan Cecep.
“Dimana mereka?” Sergah Mr Clean.
“Tadi bersama saya,” jawab si kumis gemetaran.
Sementara tegap dan Cecep yang bermaksud hendak lari dari tempat persembunyian mereka, sontak ka get setelah dihadang Pak Syukri dan Mr Jones. Keduanya hanya bisa pasrah. Sambil menangis memin ta ampun. Didudukkkan berderet dengan  kumis.  Didiamkan sebentar, lalu didekati Mr Clean.
“Jawab sejujurnya ya. Mau kan?”
Ketiga preman ini hanya diam sambil menundukkan kepala mereka.
“Mau jawab kan?”
Dibentak beberapa kali, Cecep cs baru mau bicara. Semula mengaku hanya tidak senang melihat Pak Kepala Kampung membela Mr Clean dan Mr Jones. Namun, setelah di-cross check dengan Pak Syukri, terkait tewasnya Mr Doel, mereka mengaku kenal dengan siapa terduga pelaku peledakan pabrik itu bekerja sama.

17
SETELAH mendapat masukan dari Pak Syukri, Letnan Salam bersama tiga rekannya dari kepolisian yakni Mr Jones, Mr Clean dan Nona Elizabeth, sepakat menuju Kampung Satu pada tengah malam.
Kampung Satu berjarak tempuh satu jam lebih sedikit dari kampungnya Pak Syukri. Sama seperti kampung-kampung lainnya, Kampung Satu sejauh ini aman dan tentram.
Sebagian besar warganya hidup dari bercocok tanam, buruh pabrik dengan kerja sampingan sebagai penangkap ikan. Mereka menangkap ikan menggunakan jala, kail dan bubu. Ikan yang didapat untuk dikonsumsi, sisanya dijual di kalangan. Jarang dijual ke luar kampung.
Selain jalur darat, ke Kampung Satu bisa ditempuh menggunakan jalur air. Tersedia perahu dan motor ketek. Bisa disewa atau minta antar warga ke tempat tujuan dengan besarnya ongkos bisa dinegosiasikan.
Sebelum ini belum pernah terjadi aksi perampokan atau tindak kriminal lainnya yang meresahkan warga kampung. Sehingga  ke manapun warga melakukan perjalanan dekat dan jauh, via jalur darat dan air, baik pagi maupun malam hari, aman tanpa gangguan.
Letnan Salam dan kawan-kawan memutuskan menggunakan transportasi air menuju Kampung Satu. Mereka bergerak lewat jam dua belas malam menggunakan motor ketek yang disewa dari warga. Pengemudinya adalah Mr Jones.  
Malam bulan setengah purnama. Langit cerah. Angin berhembus pelan. Saking cerahnya, seliweran ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di permukaan air sungai kelihatan. Indah nian dipandang.
Hanya saja, karena sudah tengah malam, tak seorang pun warga yang terlihat di tepian sungai. Mereka sudah pada tidur karena keesokan harinya harus turun ke ladang lagi dan melakukan aktivitas lain demi menghidupi diri sendiri dan keluarga.
“Let. Apa kita enggak kepinggiran,” kata Nona Elizabeth melihat Mr Jones menempuh jalur agak ke ping gir, sehingga jelas terlihat jejeran WC terapung dan pangkalan tempat mandi dan mencuci yang terbuat dari kayu menyerupai rakit.
“Mr Jones. Ke tengah sedikit!”
“Siap Let …” Motor ketek ‘bergeser’ ke kanan, agak ke tengah.
“Oke .. cukup Mr Jones.” Letnan Salam mengangkat ibu jarinya pertanda sudah sesuai dengan keinginan Nona Elizabeth.
Motor ketek bergerak dalam tempo yang tidak terlalu cepat. Sengaja volume mesinnya diperkecil sehing ga nyaris tak kedengaran. Tak ada ombak, lajunya motor ketek lancar.
“Pernah naik ketek Non Eli?” Tanya Letnan Salam sekadar intermezo, agar perjalanan penting mereka ini tidak terlalu membebani.
“Belum Let,” jawab Nona Elizabeth sejujurnya.
“Berenang bisa kan?”
“Bisa Let.”
“Lancar begitu, Non Eli?”
“Lancar sih tidak juga Let. Asal berenang saja,” kata Nona Elizabeth merendah.
“Masa?”
“Pakai jaket saya Non Eli.” Mr Clean melepaskan jaket kulitnya. Dia berikan pada Nona Elizabeth. Semula menolak halus, namun setelah diberitahu Letnan Salam, jaket sangat mujarab menahan sergapan angin malam, mau juga Nona Elizabeth akhirnya.
“Ikhlas kok saya pinjami Non Eli,” ujar Mr Clean, mengalihkan pandangannya ke pepohonan yang tum buh rindang di sepanjang bibir sungai.
“Nah, Non Eli. Yang kasih jaket saja ikhlas, kelewatan lu kalau enggak … ” gurau Letnan Salam.
Motor ketek terus melaju …

(Tobe Continued)
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar