Senin, 01 Mei 2017

Kobok Tay (3)






Novel

Kobok Tay (3)
By  Wak Amin

10
TERNYATA tidak mudah mengejar apalagi menangkap si pengendara motor trail itu. Selain mampu me liuk-liuk di tengah keramaian dan kepadatan arus lalu-lintas, ketika melewati jalan sempit, di luar duga an dengan cepat meluncur sampai melewati jembatan kayu penghubung antar rumah warga di salah satu sudut perkotaan.
Bukan itu saja. Saat terkepung oleh Letnan Salam dan Mr Clean, si pengendara mampu melewati dua ba ngunan besar. Hotel bertingkat lima. Seolah terbang, dia memundurkan motornya sejenak. Lalu mene kan gas sekuat mungkin, dan dengan kecepatan di atas rata-rata, ia sukses melayang di udara dengan motornya.
Para penghuni hotel laki-laki yang tengah bersantai di lantai teratas, yang tanpa sengaja melihat si pe ngenendara berakrobatik di udara dengan motornya, berdecak kagum sementara kaum wanitanya ha nya bisa menutup mulut mereka. Meski sebagian dari mereka ada juga yang menjerit histeris karena tak percaya dengan apa yang telah mereka saksikan barusan.
Ketika Mr Jones melepaskan tembakan beberapa kali, si pengendara dengan mudahnya mengelak ke ka nan dan kiri.  Seakan dia tahu ke arah manakah pelor dilesakkan. Walaupun sempat melompat dan ber gulingan di tanah, dia tak pernah jauh dari motornya.
Triiiing …
Treeeeng …
Dua kali peluru yang dilesakkan Mr Clean berhasil mengenai bodi belakang motor. Terbalik, namun dengan satu dorongan ke kanan, motor pun melaju kembali meski dalam posisi miring ke kanan.
Akrobatik yang dilakukan si pengendara terus berlangsung dan semakin menggila setelah memasuki ka wasan pasar kota. Para pengunjung pasar dibuat panik dengan manuver berbahaya yang diperagakan.
Betapa tidak, pengendara acapkali berteriak menyuruh warga minggir, lalu mengangkat bagian depan motornya berulangkali dengan kecepatan di atas 60.
“Kurang ajar!” Maki seorang ibu yang tas cangkingan belanjaannya berisi sayur mayur dan sedikit ikan jatuh ke tanah karena kesenggol setang motor.
“Sabar Bu. Biasalah orang sekarang. Tak ngebut belum naik motor namanya. Ditegur bukannya mau me nerima, malah kita yang dipukul,” ujar teman si ibu di sebelahnya. Dia lah yang mengambil tas be lanja an yang jatuh. Dia juga sempat terdorong ke samping untuk menghindari motor berstang lebar itu.
Reeeen …
Reeeen …
Asap hitam menyelimuti pedagang gorengan yang biasa mangkal di luar pasar. Mereka batuk-batuk ke cil, dan begitu si pengendara melaju kencang dengan motornya ke pusat kota, sumpah serapah dan makain pun bermunculan.
“Moga dikutuk Tuhan,” kata seorang pedagang tahu goreng sambil membasuh mangkuk berisi cabe hijau.
“Sudah .. sudah. Jangan cari balak lah. Kita ini orang kecil,” nasehat temannya penjual siomay.
“Iya Bro. Kalau didengarnya kan bahaya. Kita pasti babak belur dipukuli. Gerobak jualanmu dihancuri, duit diambil pula,” ujar pedagang bakwan dan pempek segala rasa.
Piiiin …
Piiiin …
Nona Elizabeth turun dari mobilnya. Kebetulan, pikirnya dalam hati. Mereka pasti tahu. Dan mereka memang tahu. Tak sungkan menjelaskan ciri-ciri orangnya.
“Tinggi orangnya Mbak,” jelas tukang tahu.
“Kulitnya agak hitam. Tapi kita tak tengok jelas mukanya dia karena tertutup kaca helm,” sahut tukang siomay.
“Tinggi jugalah Mbak. Walau tak berdiri, cuma duduk di atas motornya, saya lihat kakinya panjang. Kalau panjang pasti tinggi kan Mbak,” jelas pedagang bakso bakar.
Hua ha ha ha …
“Bisa saja kamu Bro,” kata temannya pedagang kerupuk.
Jarak antara si pengendara trail dengan Letnan Salam terpaut jauh. Namun dengan menggunakan alat pelacak mereka pastikan posisi sasaran mereka sekarang berada dekat sebuah jembatan mengarah ke luar pusat kota.
Letnan Salam terpaksa meminta bantuan rekan-rekan sesama polisi di Graha Police, yang beberapa menit kemudian dua buah helikopter dikerahkan.
Dari atas helikopter diketahui si pengendara trail sedang mengemudikan motornya di atas jembatan yang tak begitu ramai arus lalu-lintasnya.
Dua helikopter ini mengambil posisi dua arah. Satu mengarah ke depan, satu lagi mengarah ke belakang. Terbang rendah sambil melepaskan tembakan beberapa kali.
Si pengendara tak tinggal diam. Sambil mengemudi, dia juga lepaskan tembakan dengan hanya satu ta ngan. Cuma tak satu pun peluru yang mengenai sasaran. Malah, saat dia berbelok ke kanan, tangan ka nannya justru terkena pelor.
“Aduuh!”
Meringis, tapi masih kuat untuk mengemudi. Dia tahan rasa sakit di tangan, menyusul ke kaki dan selang kangan.
Dengan anggota badan berlumuran darah, si pengendara sukses melewati jembatan. Lalu menghilang di balik lorong tak jauh dari jembatan.
“Let. Dia menghilang di balik lorong,” kata pria bersenjata di samping pengemudi helikopter.
“Oke kami ke sana.”
“Let.”
“Ya.”
“Apa kami boleh kembali sekarang ke markas?”
“Apa tak bisa mendarat atau terus mengejar?”
“Sulit Let. Karena dia menghilang di tengah kawasan padat penduduk. Untuk mengejarnya berisiko Let.”
“Oke. Silakan kembali. Tetapi tetap siaga.”
“Siap Letnan.”
Sementara Nona Elizabeth sudah mengetahui keberadaan sasarannya sekarang, Letnan Salam justru berputar-putar di sekitar lorong sempit yang dilewati si pengendara.
Mobil tak bisa masuk.

11
LETNAN Salam akhirnya meminjam motor warga. Dia berboncengan dengan Mr Jones melewati gang sempit yang kanan kirinya penuh disesaki tiang jemuran dan kaleng bekas serta gerobak gorengan.
Sedangkan Nona Elizabeth dan Mr Clean menelusuri sebuah jalan yang cukup besar. Kendaraan roda empat bisa masuk tapi satu arah.
Tepat di sebuah warung makan paling ujung, mereka berhenti karena ada gang yang sempit. Tak memungkinkan bisa dilewati mobil. Selain sempit ada bekas genangan air hujan yang turun deras semalam.
“Kita cek dulu Non Eli,” kata Mr Clean. Menyalakan lagi alat pelacak jejak. Sayang, tak ditemukan posisi terkini sasaran.
Dia akhirnya menelepon Letnan Salam.
“Let .. Roger!”
“Ya disini kami Clean. Tak jauh dari posisimu sekarang.”
“Bisa masuk gimana itu Let?”
“Pake motor Clean.”
“Oooo …”
“Cepat cari dan pinjam motor. Susul saya sekarang!”
“Siap Let.”
Mencari sepeda motor di perkampungan sempit ini gampang-gampang susah. Gampangnya jika kebetu lan ada, seperti yang baru dialami Letnan Salam. Warga bisa diajak kompromi. Motor dipinjam, nanti di kembalikan.
Sedangkan Nona Elizabeth dan Mr Clean, keduanya harus bersusah payah menemukan sepeda motor ya ng biasanya ditaruh di teras rumah. Kalau kereta angin banyak. Hampir setiap rumah, di terasnya ada sepeda berbagai merek dan jenis. Mulai dari sepeda mini, jengki hingga sepeda ontel.
“Terus aja Mister!”
“Kamu duluan Non Eli.”
Dua menit berjalan cepat, mereka kemudian menemukan seorang pengendara motor, berboncengan dan masih berusia muda.
Melihat Mr Clean dan Non Eli, itu pemuda menghentikan laju motornya karena takut tertabrak. Dia mencoba bersikap ramah dan tak menaruh curiga.
“Mas …” Mr Clean memperlihatkan identitas lengkapnya. Nona Elizabeth juga. Dia mengutarakan maksud dan tujuannya kepada pria kurus berkulit sawo matang itu.
Si pria dengan cepat turun dari sepeda motornya. Juga teman wanita yang dia bonceng. Dia tak kebera tan motornya dipinjam. Dia hanya berpesan, setelah dipinjam, mengembalikan sepeda motor pinjaman itu ke kediamannya.
“Terima kasih Mas. Pinjam dulu motornya,” kata Nona Elizabeth sembari menyunggingkan sekilas senyu man.
Motor pun melaju. Di pertigaan lorong mereka berpapasan dengan Letnan Salam. Kemudian menerus kan laju sepeda motornya ke depan. Melewati beberapa rumah yang di kanan dan kirinya ditanami ane ka tanaman.
Selama lima belas menit mengitari kawasan gang sempit dan padat penduduk itu, mereka belum juga menemukan sasaran yang mereka cari.
Setelah bertanya sana-sini, keberadaan si pengendara sedikit demi sedikit mulai terkuak. Ternyata dia bersembunyi di sebuah rumah kosong di ujung gang.
Si pengendara tahu Letnan Salam cs sudah semakin mendekat. Dia bergegas mendorong sepeda motor nya dari belakang rumah. Kemudian dengan motornya itu ia melewati jalanan lebak.  Jalan ini jarang dile wati karena  berisiko terbalik, mogok dan pecah ban.
Namun si pengendara tetap ngotot. Setelah sempat mogok dan terbalik, walau sampai tak terguling itu motor, sampai juga akhirnya ke seberang. Dia melihat Letnan Salam sebelum memacu sepeda motornya melewati pematang sawah.
“Tak usah Clean,” kata Letnan Salam. Mr Clean hendak melepaskan tembakan, namun tak jadi karena diminta sang komandan untuk menahan diri.
“Kita kejar saja sampai dapat,” ujar Mr Jones. Gantian dia yang membonceng Letnan Salam.
Merasa kuatir kehilangan jejak, Letnan Salam meminta bantuan helikopter untuk mengejar sasaran me reka. Kurang dari lima menit, dua helikopter terbang rendah memasuki pematang sawah.
Setelah berkeliling sebanyak tiga kali, jejak si pengendara berhasil diketemukan. Kali ini mereka berte kad tak ingin berkompromi lagi. Bila perlu tembak di tempat. Jangan sampai kehilangan jejak lagi.
Penembakan itu dilakukan sesaat setelah pengendara keluar dari semak menuju sebuah gang di dekat areal persawahan. Saat itulah penembak jitu dari dua helicopter melepaskan tembakannya beberapa kali.
Sasaran mereka terjatuh. Namun berhasil bangun lagi. Terus dia berlari menyusuri semak-semak yang mulai meninggi.
Merasa yakin tak terlacak helikopter, si pengendara keluar dari semak. Ada jalan tanah yang biasa dilalui warga untuk pergi k sawah, berdagang dan kerja serabutan.
Trot .. tot … tot ...
Trot .. tot .. tot …   
Trot … tot .. tot …
Sebanyak tiga puluh peluru menyasar tepat ke kepala, pinggang, kaki dan anggota badan lainnya.
Pengendara itu pun tewas, akhirnya.

12
“HENTIKAN tembakan Sersan!” Perintah Letnan Salam berulangkali. Setelah berteriak sampai lima belas kali lewat  telepon seluler mini , dua penembak jitu yang beraksi dari pintu helikopter berbeda itu baru berhenti menembak.  Helikopter pun bergegas kembali ke markas.
“Cepat Mr Jones!” Kata Letnan Salam. Dia berharap masih ada kesempatan hidup buat si pengendara sehingga dapat diketahui siapa dalang peledakan di depan Mr President dan rombongan.
Sambil berlari ke tengah pematang sawah, Letnan Salam dan ketiga rekannya hanya bisa gigit jari sete lah mengetahui seluruh anggota badan sasaran mereka hancur tak berkeping akibat diterjang timah panas.
Kendati sulit dikenali lagi, Mr Clean tampak lega setelah membidikkan kamera androidnya ke wajah pengendara yang sesaat kemudian mengalami retak di bagian kepala dan nyaris terbelah dua.
Selain otaknya yang mulai berceceran, dari mulut terduga pelaku peledakan pabrik itu keluar cairan pu tih. Lalu bola mataya terlepas, hidungnya pecah, dan mulutnya seakan ada yang mencabik-cabiknya.
Sementara kedua telinganya putus dan berserakan entah kemana, rambut hangus terbakar dengan leher penuh lubang terkena peluru.
“Gimana Clean?” Tanya Letnan Salam. Dia berharap pria berkulit putih yang terkena berondongan peluru itu masih tetap hidup.  
Mr Clean menggelengkan kepalanya. Pertanda nyawa si pengencara sudah tak tertolong lagi. Demikian juga dengan Mr Jones dan Nona Elizabeth. Mereka sepakat mengumpulkan bekas cabikan hidung, teli nga dan anggota badan lainnya, sebelum dibawa pulang ke markas untuk diteliti lebih lanjut.
Sesampainya di kantor, pada malam harinya Mr Jones dan rekan-rekannya belum kembali ke kediaman  mereka masing-masing. Kecuali Nona Elizabeth, Letnan Salam, Mr Clean dan Mr Jones, ketiganya memu tuskan untuk lembur sampai pagi.
Hasil jepretan Mr Clean diolah sedemikian rupa sehingga bisa lebih jelas kelihatannya di layar komputer.
“Besarkan lagi Mr Clean,” pinta Mr Jones. Dia penasaran dengan muka sasaran mereka ini mirip dengan teman lamanya. Tapi apa mungkin dia pelakunya?
“Mudah-mudahan tidak,” bisiknya dalam hati.
“Mr Jones!”
Mr Jones menoleh …
“Melamun lagi,” kata Letnan Salam. “Supaya tak terus-terusan melamun karena capek, yuk kita minum ini kopi susu hangat.”
Letnan Salam meletakkan dua gelas air kopi susu ke atas meja komputer. Dari dalam gelas keluar asap pertanda air kopi masih panas dan enak diseruput.
“Clean dan Mr Jones. Minumlah dulu kalian berdua,” kata Letnan Salam. Dia mendekati lemari arsip di depan pintu masuk ruang kerjanya. Dia buka laci pertengahan dari lima belas laci yang ada.
Kemudian dia bolak-balik beberapa foto teroris yang telah tewas dan tertangkap beberapa tahun bela kangan. Sebuah map besar dia keluarkan. Setelah menutup kembali laci yang barusan ia buka tadi. Ia duduk sebentar di kursi tempat dimana Mr Clean biasa duduk sambil bersantai.
Dia bolak-balik lembaran foto yang bertumpuk itu. Tidak semuanya. Hanya melihat foto dan jati diri para pelaku peledakan di berbagai tempat di kota ini.
Karena tidak menemukan foto yang mirip dengan terduga pelaku peledakan yang tewas beberapa jam yang lalu, Letnan Salam memasukkan lagi map tebal itu ke tempatnya semula.
Setelah itu ia kembali menemui Mr Clean dan Mr Jones. Keduanya terlibat diskusi singkat dengan sesekali mengernyitkan dahi dan menyeruput air kopi manis itu.
“Bagaimana Mr Clean dan Mr Jones?”
“Ada kemiripan Let,” jawab Mr Jones sambil memperlihatkan gambar terduga pelaku peledakan secara lebih jelas dan besar.
“Miripnya dengan siapa Mr Jones?” Letnan Salam menduga kemiripan itu dengan pelaku sebebelumnya yang berhasil diringkus, diadili dan saat ini sudah dipenjarakan.
“Dengan teman saya Let,” jelas Mr Jones. Dia berdiri, lalu duduk lagi sembari menarik nafas panjang.
“Jika memang benar Let …”
“Kenapa Mr Jones?”
“Izinkan kami berdua Mr Clean melacaknya. Boleh kan Let?”
Letnan Salam belum memberikan jawaban  ‘ya atau tidak’, sebelum Mr Jones menceritakan terlebih dulu kronologis kemiripan itu.
“Teman saya itu bernama Mr Doel, Let.” Terang Mr Jones.
Siapa gerangan Mr Doel?
“Dia mantan informan kita juga dulunya. Sempat menghilang beberapa lama, namun belakangan muncul kembali. Kami sempat ketemuan dan ngobrol sebelum saya ditugaskan ke kota ini, Let.”
“Eeeem … Tampaknya menarik juga sih ceritanya,” sahut Mr Clea. Mengalihkan sejenak pandangannya dari layar komputer ke mukanya Mr Jones dan Letnan Salam, silih berganti.
“Sayangnya Let, saya tak sempat tanya beliau, apa pekerjaannya sekarang. Namun dari beberapa infor masi yang kami dapatkan beliau mahir bikin alat peledak dan mengoperasikannya.”
“Sempat dikonformasi ulang Mr Jones?”
“Belum Let. Karena setelah itu saya tak ketemu beliau lagi.”
“Well … well … “
Letnan Salam berpikir sebentar.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya Mr Jones?”

13
MENEMPUH jalan darat, Mr Clean dan Mr Jones tiba di kampungnya Mr Doel sore hari. Mereka mengi nap di sebuah penginapan sederhana milik warga berada di kampung tersebut.
Kampung itu bernama Bertuah. Sebuah kampung yang aman dan jauh dari kebisingan. Sebagian besar warganya hidup dari bercocok tanam. Berkat hasil jerih payah mereka yang tak mengenal kata lelah apalagi menyerah, sebagian dari mereka kini sudah memiliki tanah dan areal persawahan sendiri.
Belakangan diketahui, Mr Doel memiliki anak dan isteri. Sehari-hari pergi ke ladang. Karena sudah memi liki lahan sendiri, hasil yang diperoleh dari bercocok tanam aneka tanaman seperti padi, karet dan seje nisnya, lumayan besar sehingga mampu menopang perekonomian keluarga sehari-hari.
Mr Doeal memang sudah tidak bekerja lagi sesuai profesinya sebagai informan dan membuat alat pele dak. Dia kini memfokuskan diri pada pekerjaannya sehari-hari sebagai petani kampung.
Kepada Mr Jones, sang isteri, Nyo Doel mengaku suaminya hanyalah seorang petani. “Sejauh yang saya tahu Mister Jones, suami saya, Mas Doel, cuma bertani.”
“Sering ke kalangan juga kan Bu Doel?” Tanya Mr Clean dengan suara yang sengaja ia turunkan volume nya sehingga terdengar lebih lembut. Karena dia tak ingin menambah  beban isteri temannya ini yang barusan saja terbunuh.
Seusai pemakaman yang dihadiri seluruh warga kampung, Nyo Doel memang tiada henti-hentinya mena ngis tersedu sedan. Dia sangat terpukul. Dia sangat terkejut dan seolah tak menerima kenyataan suami yang ia sayangi dan cintai selama ini sudah tidak ada lagi di sisinya.
“Orangnya baik. Sejauh yang saya ketahui beliau banyak teman di sini,” jelas Pak Kepala Kampung seusai yasinan pada malam kedua.
“Tak ada keluhan warga terhadap beliau Mister. Biasanya, sekecil apa pun yang terjadi di kampung yang saya pimpin ini, entah orang yang suka gosip, atau selalu bikin onar, hanya dalam hitungan menit sudah sampai ke telinga saya,” terang Pak Kepala Kampung.
Hal serupa juga diungkapkan beberapa teman dekat almarhum. “Sejauh yang saya tahu bapak berdua, beliau jarang melakukan perjalanan jauh. Paling ke kebun sama dengan kita-kita ini. Malamnya ngumpul bareng, main gaplek. Kalau ada kalangan, tentu jika ada waktu, dan lagi panen misalnya, baru kami ke ka langan. Kami menjual segala macam sayur dan buah-buahan hasil panen, termasuk beras dan sedikit ko pi,” kata Pak Joko, teman kecilnya Mr Doel, yang berkumis tebal lancip ke bawah.
Menurut Pak Joko, Mr Doeal orangnya supel. Senang bergaul, humoris, ringan tangan dan suka meno long sesama.
“Orang mau pinjam uang, dia akan kasih. Tentu kalau ada,” aku Pak Joko. “Pokoknya almarhum itu oke lah. Kita-kita ini pada senang sama beliau,” jelas Pak Jono yang duduk di sebelah kirinya Pak Joko.
Sama dengan isteri Mr Doeal, Mr Joko dan warga lain berharap pihak berwajib bisa secepatnya menang kap biang keonaran yang sebenarnya. Selain dapat diketemukan siapa dalangnya, juga menentramkan hati keluarga yang ditinggalkan almarhum.”
Mr Clean dan Mr Jones berjanji akan mengungkap otak pelaku peledakan pabrik baru-baru ini. Semua keterangan warga dihimpun jadi satu.  Sebelum nantinya akan di-cross check dengan nara sumber yang lain.  Hal ini dimaksudkan agar informasi yang masuk dan berhasil dihimpun benar-benar valid dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannnya.
Satu hal yang hingga kini masih tersamar, dengan siapa Mr Doel menjalin kerjasamanya dengan warga kampung ini, atau warga dari kampung lain, atau boleh jadi mereka yang menetap di kota besar.
“Kita harus cari tahu secepatnya Mr Jones,” kata Mr Clean saat makan malam seusai berpamitan dengan anak dan isteri Mr Doeal serta Pak Kepala Kampung.
“Besok pagilah kita ke kampung lain,” ujar Mr Jones. Sudah larut malam,  lebih baik cepat tidur agar per jalanan esok hari terasa lebih fresh.

(Tobe Continued)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar