Minggu, 28 Mei 2017

Bedeng Seng (5)





Novel 

Bedeng Seng (5)
Oleh Wak Amin

XIII
“SE … set … setaaan … Lariiii!” Hape terjatuh. Lari tak bisa. Entah bagaimana, jambang, muka bulat dan lonjong saling tarikan baju. Maju mundur jadinya.
Hi hi hi hi …
Semakin nyaring suara ketawa dari hape jambang. Kali ini dia meminta jambang cs menari. Seketika menarilah mereka bertiga. Goyang pinggul, adu muka, angkat kaki dan melompat-lompat.
“Push up!” pinta suara dari hape itu..”
Jambang cs pun dengan berat hati melakukan push-up. Namanya juga jarang berolah raga, baru tiga kali push-up sudah ngos-ngosan.
“Yang cepaaat!”
Karena sudah kehabisan nafas, jambang menyerah. Dia duduk saja menonton kedua rekannya melakukan push-up.
Namun, sekuat-kuat push-up, kalau sudah kelelahan, menyerah juga akhirnya. Itulah yang dialami lonjong dan muka bulat. Sama dengan jambang, keduanya duduk terseler dekat tiang pondokan.
“Bro …” kata lonjong dengan suara yang nyaris tak kedengaran.
“Apa?” Jambang mendekatkan telinganya, dibuka lebar-lebar.
“Kena tipu kita.”
“Masa?”
“Coba kau tengok hapemu itu …”
Hape jambang tiba-tiba mati. Suara aneh tadi seketika hilang. Jambang mengutak-atiknya. Dia coba nyalakan, tapi tak juga bisa.
Karena terjatuh tadi?
Enggak juga. Buktinya, saat hape tergeletak di tanah, suara itu masih ada.
“Betul kan?” Lonjong menduga ada seseorang yang sengaja mempermainkan mereka bertiga lewat jalur hape.
“Tak mungkinlah Jong. Dari mana dia tahu nomor hape jambang. Ya enggak Bang?”
“Betul kata muka bulat, Jong. Tapi aku heran …”
“Heran kenapa Bang?” Serempak muka bulat dan lonjong bertanya.
“Apa maksudnya dia menggoda kita bertiga ini. Duit enggak punya, tampang pas-pasan. Heran aku …”
“Atau jangan-jangan ini ulahnya si Muhsin sama orang tuanya Bro,” kata muka bulat. Buktinya, jambang tadi dipermainkan oleh Pak Broto dan isterinya.
Tak habi-habisnya berspekulasi, jambang cs memutuskan pergi meninggalkan pondokan. Meski harus berjalan kaki lumayan jauh, bersua cepat dengan Sang Bos lebih bagus. Paling tidak berada dekat Bos, kita tak bakal kelaparan. Perut kenyang.
Itulah yang ada di benak jambang cs. Mereka tampak bersemangat untuk menemui Bos Steven. Tapi …
“Kita pasti kena marah Bro. Karena tak berhasil membawa kembali Muhsin dan menculik kedua orang tuanya,” ucap muka bulat. Sontak berubah pucat karena sudah membayangkan bakal mendapat hukuman berat karena gagal menjalankan perintah.
“Jangan kuatir, kan ada aku.” Jambang mencoba menenangkan kedua rekannya yang sangat takut dengan hukuman dari Sang Bos.
“Apa bisa kamu mengatasinya Bro?” Tanya muka bulat. Dia masih ragu. Pasalnya, selama ini mereka bertiga dengan jambang, kalau salah tak pernah lepas dari menerima hukuman.
“Bereslah itu … Nich jambang ..” Sambil menepuk-nepuk dadanya, membanggakan diri.
“Caranya Bro?”
“Gampang Jong. Kita beritahu Bos, sesampainya di rumah Muhsin, yang bersangkutan tidak ada. Juga orang tuanya. Tidak ada. Rumah dalam keadaan kosong …”

XIV
“AHAAA … mobilnya masih ada Bro,” kata muka bulat pada jambang, berjingkrak-jingkrak kesenangan.
“Tapi gue heran …” Jambang memandang ke sekitar rumah penuh selidik.
“Heran kenapa Bro?” Lonjong merasa tidak ada sesuatu yang aneh. Namanya juga hampir tengah malam. Sepi itu biasa.
“Enggak ada orang …” Jambang mempercepat langkah kakinya. Begitu juga dengan muka bulat dan lonjong. Ketiganya sudah tak sabar ingin bertemu Bos Steven.
Tapi dimana?
Dicari ke ruang tamu tidak ada. Setiap kamar dimasuki. Mereka baru menemukan Bos Stevendi belakang rumah.
“Bos …” Jambang, muka bulat dan lonjong berlutut di hadapan jasad Bos Steven yang terbujur kaku. Sudah dingin, tapi belum menebarkan aroma busuk.
Bos Steven diketemukan tewas dalam posisi terlentang dengan kedua mata terbuka dan mulut menganga. Tak ada luka sedikit pun di sekujur tubuhnya.
“Tapi di lehernya ada sedikit lebam,” kata jambang,  setelah melihat ada bekas cekikan di leher Bos Steven.
“Siapa ya Bro?” Lonjong belum bisa menebak siapa pelakunya.
“Muhsin barangkali.” Muka bulat coba menerka. Kalau bukan dia, katanya, siapa lagi.
“Jangan-jangan …” Jambang tak melanjutkan ucapannya.
“Jangan-jangan kenapa Bro?”
“Hantu …”
“Haaa …?”
Lonjong dan muka bulat ketawa. Masa ada hantu membunuh manusia. Tak mungkinlah. Kalau pun ada, itu bukan hantu namanya. Tapi hantu jadi-jadian. Manusia yang berubah wujud menjadi menjadi hantu.
“Ya mana tahu …” Jambang masih bersikeras yang membunuh Bos Steven adalah hantu. Apa alasannya,  bisa jadi karena menaruh dendam pada Bos Steven.
Syiiiit ..
Dreeen …
Cekreesh ..
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Melihat ada orang turun dari mobil, jambang, muka bulat dan lonjong bergegas sembunyi di balik pagar pembatas belakang rumah. Cukup aman bersembunyi di sana. Selain dilindungi aneka tanaman pagar, juga ada jalan pintas untuk melarikan diri.
Reeeet …
“Tak terkunci Mister …” Kata Nona Sabrina. Setelah Mr Clean mendekat, dia baru masuk ke dalam rumah.
Setiap kamar mereka masuki. Lalu ruang dapur dan tempat makan. Dari balik kaca ruang tamu, Mr Clean mengintip ke luar. Gelap.
Reeet …
Haaa?
“Mister … Cepat kemari!”
Nona Sabrina menemukan jasad Bos Steven tergeletak di teras belakang rumah. Bersama Mr Clean, dia memeriksa setiap anggota badan Bos para begundal itu.
“Sepertinya dicekik Mister.” Nona Sabrina memperlihatkan sebuah goresan warna hitam di leher Bos Steven.
“Tak salah lagi,” ucap Mr Clean. Dia mengontak rekan sekerjanya di Graha Police untuk segera datang ke TKP pada tengah malam ini juga setelah ditemukan jasad korban pembunuhan Bos Steven, pimpinan Geng Mawar.

15

“GIMANA ini Bro?” Bisik lonjong. Dia mulai kuatir jejak mereka, cepat atau lambat, akan segera diketahui oleh polisi.
“Sssst … tenang,” ucap jambang. Berpikir sejenak. “Sebaiknya kita menjauh pelan-pelan.”
“Apa tidak ketahuan?” Muka bulat ragu karena Nona Sabrina sempat melihat ke arah persembunyian mereka sepintas, sebelum masuk sambil membawa mayat Bos Steven ke dalam, menuju ruang tamu.
“Sssst …” bisik jambang. “Cepaaat ..”
Mereka mengendap-endap mundur beberapa langkah ke belakang. Ke tempat persermbunyian baru ini lebih lebih rawan ketimbang sebelumnya. Selain penuh semak belukar, suasana sekitar sangat gelap dan lebih sunyi. Hanya ditemani suara jangkrik dengan sesekali katak ‘bernyanyi secara bergantian.
Tapi, seperti kata jambang pada kedua rekannya, di tempat persembunyian mereka sekarang ini jauh lebih aman karena tidak terpantau Mr Clean dan Nona Sabrina yang masih berdiam di rumah kosong milik warga tersebut.
Mr Clean dan Nona Sabrina menemui beberapa warga dan bertanya tentang beberapa hal kepada me reka.  Namun kebanyakan dari mereka tidak tahu karena rumah kosong itu tak pernah ditempati pemiliknya.
“Pemiliknya ada. Tapi hanya sekali dua kami melihat mereka. Setelah itu tidak lagi. Jadi kami benar-benar tidak tahu Pak Polisi,” ujar seorang bapak berusia sepuh yang hanya mengenakan baju kaos dalam dan kain sarung.
“Kami sebenarnya kurang setuju kalau rumah yang sudah dibeli tidak dihuni. Kalau memang belum mau dihuni, ya dikontrakkan atau sewakanlah. Atau kalau tidak mau, suruhlah orang menempatinya. Biar kita ini tidak was-was lagi,” jelas Ketua RT.
“Nah, sekarang kejadian kan. Siapa yang tanggung jawab. Alamat pemiliknya tidak jelas. Walaupun jelas, karena kesandung masalah pembunuhan ini, tak mungkinlah ia mau memberitahu dimana mereka berada,” sambung Ketua RT di depan warga, Mr Clean dan Nona Sabrina.
Tak ingin berpanjang lebar, Mr Clean dan Nona Sabrina mohon diri. Namun sebelum meninggalkan rumah kosong itu, keduanya mengharapkan bantuan warga.
“Teleponlah saya atau Nona Sabrina ini, sekecil apapun informasi sangat penting bagi kami,” kata Mr Clean sebelum memasuki mobil patroli untuk kembali berpatroli di kawasan pinggiran dan pusat kota.
Warga lega karena tewasnya Bos Steven tidak menimbulkan kepanikan di kalanga mereka. “Mudah-mudahan begitu,” kata Pak Ketua RT,  sebelum bubaran dari depan rumah kosong, untuk kembali ke rumah masing-masing.
Bukan cuma warga yang lega. Jambang cs pun lebih dari lega. Kini mereka merasa plong. Sebab, Pak Polisi tak bakalan kembali lagi ke rumah kosong.
“Kalau ternyata kembali, bagaimana Bro?” Tanya si muka bulat. Karena bisa saja, untuk memperjelas penyelidikan, Mr Clean dan Nona Sabrina kembali lagi keesokan harinya.
“Kalau begitu, kita tinggalkan saja tempat ini,” saran jambang. Dua rekannya setuju, tapi mereka kecewa karena mobil Bos Steven sudah tidak ada lag di tempatnya semula.
“Gimana Bro?” Muka bulat tertunduk lesu. Untuk berjalan kaki tak mungkin karena sudah lelah dan bosan melakukannya lagi.
“Atau kita nginap dulu di rumah ini. Besok baru kita berpikir lagi mau kemana …” Usul lonjong.
“Oke Bro. Paling tidak pegal-pegal seluruh badan ini hilang kalau kita istirahat dulu malam ini,” kata muka bulat.
Jambang setuju …

(Tobe Continued)
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar