Novel …
Bedeng Seng (5)
Oleh Wak Amin
XIII
“SE … set … setaaan … Lariiii!” Hape terjatuh. Lari tak
bisa. Entah bagaimana, jambang, muka bulat dan lonjong saling tarikan baju.
Maju mundur jadinya.
Hi hi hi hi …
Semakin nyaring suara ketawa dari hape jambang. Kali ini dia
meminta jambang cs menari. Seketika menarilah mereka bertiga. Goyang pinggul,
adu muka, angkat kaki dan melompat-lompat.
“Push up!” pinta suara dari hape itu..”
Jambang cs pun dengan berat hati melakukan push-up. Namanya
juga jarang berolah raga, baru tiga kali push-up sudah ngos-ngosan.
“Yang cepaaat!”
Karena sudah kehabisan nafas, jambang menyerah. Dia duduk
saja menonton kedua rekannya melakukan push-up.
Namun, sekuat-kuat push-up, kalau sudah kelelahan, menyerah
juga akhirnya. Itulah yang dialami lonjong dan muka bulat. Sama dengan jambang,
keduanya duduk terseler dekat tiang pondokan.
“Bro …” kata lonjong dengan suara yang nyaris tak
kedengaran.
“Apa?” Jambang mendekatkan telinganya, dibuka lebar-lebar.
“Kena tipu kita.”
“Masa?”
“Coba kau tengok hapemu itu …”
Hape jambang tiba-tiba mati. Suara aneh tadi seketika
hilang. Jambang mengutak-atiknya. Dia coba nyalakan, tapi tak juga bisa.
Karena terjatuh tadi?
Enggak juga. Buktinya, saat hape tergeletak di tanah, suara
itu masih ada.
“Betul kan?” Lonjong menduga ada seseorang yang sengaja
mempermainkan mereka bertiga lewat jalur hape.
“Tak mungkinlah Jong. Dari mana dia tahu nomor hape jambang.
Ya enggak Bang?”
“Betul kata muka bulat, Jong. Tapi aku heran …”
“Heran kenapa Bang?” Serempak muka bulat dan lonjong
bertanya.
“Apa maksudnya dia menggoda kita bertiga ini. Duit enggak
punya, tampang pas-pasan. Heran aku …”
“Atau jangan-jangan ini ulahnya si Muhsin sama orang tuanya
Bro,” kata muka bulat. Buktinya, jambang tadi dipermainkan oleh Pak Broto dan
isterinya.
Tak habi-habisnya berspekulasi, jambang cs memutuskan pergi
meninggalkan pondokan. Meski harus berjalan kaki lumayan jauh, bersua cepat
dengan Sang Bos lebih bagus. Paling tidak berada dekat Bos, kita tak bakal
kelaparan. Perut kenyang.
Itulah yang ada di benak jambang cs. Mereka tampak
bersemangat untuk menemui Bos Steven. Tapi …
“Kita pasti kena marah Bro. Karena tak berhasil membawa
kembali Muhsin dan menculik kedua orang tuanya,” ucap muka bulat. Sontak
berubah pucat karena sudah membayangkan bakal mendapat hukuman berat karena
gagal menjalankan perintah.
“Jangan kuatir, kan ada aku.” Jambang mencoba menenangkan
kedua rekannya yang sangat takut dengan hukuman dari Sang Bos.
“Apa bisa kamu mengatasinya Bro?” Tanya muka bulat. Dia
masih ragu. Pasalnya, selama ini mereka bertiga dengan jambang, kalau salah tak
pernah lepas dari menerima hukuman.
“Bereslah itu … Nich jambang ..” Sambil menepuk-nepuk
dadanya, membanggakan diri.
“Caranya Bro?”
“Gampang Jong. Kita beritahu Bos, sesampainya di rumah
Muhsin, yang bersangkutan tidak ada. Juga orang tuanya. Tidak ada. Rumah dalam
keadaan kosong …”
XIV
“AHAAA … mobilnya masih ada Bro,” kata muka bulat pada
jambang, berjingkrak-jingkrak kesenangan.
“Tapi gue heran …” Jambang memandang ke sekitar rumah penuh
selidik.
“Heran kenapa Bro?” Lonjong merasa tidak ada sesuatu yang
aneh. Namanya juga hampir tengah malam. Sepi itu biasa.
“Enggak ada orang …” Jambang mempercepat langkah kakinya.
Begitu juga dengan muka bulat dan lonjong. Ketiganya sudah tak sabar ingin
bertemu Bos Steven.
Tapi dimana?
Dicari ke ruang tamu tidak ada. Setiap kamar dimasuki.
Mereka baru menemukan Bos Stevendi belakang rumah.
“Bos …” Jambang, muka bulat dan lonjong berlutut di hadapan
jasad Bos Steven yang terbujur kaku. Sudah dingin, tapi belum menebarkan aroma
busuk.
Bos Steven diketemukan tewas dalam posisi terlentang dengan
kedua mata terbuka dan mulut menganga. Tak ada luka sedikit pun di sekujur
tubuhnya.
“Tapi di lehernya ada sedikit lebam,” kata jambang, setelah melihat ada bekas cekikan di leher
Bos Steven.
“Siapa ya Bro?” Lonjong belum bisa menebak siapa pelakunya.
“Muhsin barangkali.” Muka bulat coba menerka. Kalau bukan
dia, katanya, siapa lagi.
“Jangan-jangan …” Jambang tak melanjutkan ucapannya.
“Jangan-jangan kenapa Bro?”
“Hantu …”
“Haaa …?”
Lonjong dan muka bulat ketawa. Masa ada hantu membunuh
manusia. Tak mungkinlah. Kalau pun ada, itu bukan hantu namanya. Tapi hantu
jadi-jadian. Manusia yang berubah wujud menjadi menjadi hantu.
“Ya mana tahu …” Jambang masih bersikeras yang membunuh Bos
Steven adalah hantu. Apa alasannya, bisa
jadi karena menaruh dendam pada Bos Steven.
Syiiiit ..
Dreeen …
Cekreesh ..
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Melihat ada orang
turun dari mobil, jambang, muka bulat dan lonjong bergegas sembunyi di balik
pagar pembatas belakang rumah. Cukup aman bersembunyi di sana. Selain
dilindungi aneka tanaman pagar, juga ada jalan pintas untuk melarikan diri.
Reeeet …
“Tak terkunci Mister …” Kata Nona Sabrina. Setelah Mr Clean
mendekat, dia baru masuk ke dalam rumah.
Setiap kamar mereka masuki. Lalu ruang dapur dan tempat
makan. Dari balik kaca ruang tamu, Mr Clean mengintip ke luar. Gelap.
Reeet …
Haaa?
“Mister … Cepat kemari!”
Nona Sabrina menemukan jasad Bos Steven tergeletak di teras
belakang rumah. Bersama Mr Clean, dia memeriksa setiap anggota badan Bos para
begundal itu.
“Sepertinya dicekik Mister.” Nona Sabrina memperlihatkan
sebuah goresan warna hitam di leher Bos Steven.
“Tak salah lagi,” ucap Mr Clean. Dia mengontak rekan sekerjanya
di Graha Police untuk segera datang ke TKP pada tengah malam ini juga setelah
ditemukan jasad korban pembunuhan Bos Steven, pimpinan Geng Mawar.
15
“GIMANA ini Bro?” Bisik lonjong. Dia mulai kuatir jejak
mereka, cepat atau lambat, akan segera diketahui oleh polisi.
“Sssst … tenang,” ucap jambang. Berpikir sejenak. “Sebaiknya
kita menjauh pelan-pelan.”
“Apa tidak ketahuan?” Muka bulat ragu karena Nona Sabrina
sempat melihat ke arah persembunyian mereka sepintas, sebelum masuk sambil
membawa mayat Bos Steven ke dalam, menuju ruang tamu.
“Sssst …” bisik jambang. “Cepaaat ..”
Mereka mengendap-endap mundur beberapa langkah ke belakang.
Ke tempat persermbunyian baru ini lebih lebih rawan ketimbang sebelumnya.
Selain penuh semak belukar, suasana sekitar sangat gelap dan lebih sunyi. Hanya
ditemani suara jangkrik dengan sesekali katak ‘bernyanyi secara bergantian.
Tapi, seperti kata jambang pada kedua rekannya, di tempat
persembunyian mereka sekarang ini jauh lebih aman karena tidak terpantau Mr
Clean dan Nona Sabrina yang masih berdiam di rumah kosong milik warga tersebut.
Mr Clean dan Nona Sabrina menemui beberapa warga dan
bertanya tentang beberapa hal kepada me reka. Namun kebanyakan dari mereka tidak tahu karena
rumah kosong itu tak pernah ditempati pemiliknya.
“Pemiliknya ada. Tapi hanya sekali dua kami melihat mereka.
Setelah itu tidak lagi. Jadi kami benar-benar tidak tahu Pak Polisi,” ujar seorang
bapak berusia sepuh yang hanya mengenakan baju kaos dalam dan kain sarung.
“Kami sebenarnya kurang setuju kalau rumah yang sudah dibeli
tidak dihuni. Kalau memang belum mau dihuni, ya dikontrakkan atau sewakanlah.
Atau kalau tidak mau, suruhlah orang menempatinya. Biar kita ini tidak was-was
lagi,” jelas Ketua RT.
“Nah, sekarang kejadian kan. Siapa yang tanggung jawab.
Alamat pemiliknya tidak jelas. Walaupun jelas, karena kesandung masalah
pembunuhan ini, tak mungkinlah ia mau memberitahu dimana mereka berada,”
sambung Ketua RT di depan warga, Mr Clean dan Nona Sabrina.
Tak ingin berpanjang lebar, Mr Clean dan Nona Sabrina mohon
diri. Namun sebelum meninggalkan rumah kosong itu, keduanya mengharapkan
bantuan warga.
“Teleponlah saya atau Nona Sabrina ini, sekecil apapun
informasi sangat penting bagi kami,” kata Mr Clean sebelum memasuki mobil patroli
untuk kembali berpatroli di kawasan pinggiran dan pusat kota.
Warga lega karena tewasnya Bos Steven tidak menimbulkan kepanikan
di kalanga mereka. “Mudah-mudahan begitu,” kata Pak Ketua RT, sebelum bubaran dari depan rumah kosong,
untuk kembali ke rumah masing-masing.
Bukan cuma warga yang lega. Jambang cs pun lebih dari lega.
Kini mereka merasa plong. Sebab, Pak Polisi tak bakalan kembali lagi ke rumah
kosong.
“Kalau ternyata kembali, bagaimana Bro?” Tanya si muka
bulat. Karena bisa saja, untuk memperjelas penyelidikan, Mr Clean dan Nona
Sabrina kembali lagi keesokan harinya.
“Kalau begitu, kita tinggalkan saja tempat ini,” saran
jambang. Dua rekannya setuju, tapi mereka kecewa karena mobil Bos Steven sudah
tidak ada lag di tempatnya semula.
“Gimana Bro?” Muka bulat tertunduk lesu. Untuk berjalan kaki
tak mungkin karena sudah lelah dan bosan melakukannya lagi.
“Atau kita nginap dulu di rumah ini. Besok baru kita
berpikir lagi mau kemana …” Usul lonjong.
“Oke Bro. Paling tidak pegal-pegal seluruh badan ini hilang
kalau kita istirahat dulu malam ini,” kata muka bulat.
Jambang setuju …
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar