Novel …
El-Maut (3)
Oleh Wak Amin
5
TURUN dari train, Muhsin dan Sabrina melanjutkan perjalanan
menuju mall terbesar di kota ini. Mall itu terletak di dekat airport. Tempatnya luas, bangunannya
megah dan indah, apalagi bila dilihat pada malam hari.
“Menurut kamu Mas?”
Sabrina selfie sejenak di depan gerbang mall, lalu menghadapkan mukanya
ke ratusan pengunjung yang antrian membeli es krim.
“Bagus Yang. Bagus tapi sederhana,” komentar Muhsin. Suatu hari nanti dia ingin punya mall
seperti yang dilihatnya saat ini.
“Ayo Mas. Kita masuk yuk!” Ajak Sabrina, senang nian ia.
Begitu kaki menginjak pelataran mall tak henti-hentinya mengambil gambar dari
berbagai sudut dan pandang.
“Enggak beli es krim
dulu apa?”
“Nanti aja Mas. Lagi ramai. Malas aku antrian itu.” Sabrina
mengajak suaminya berlari-lari kecil sampai ke pintu masuk utama mall.
“Enggak takut capek apa?”
“Udah biasa …”
Sampai di pintu masuk mall, Sabrina mencari-cari handuk
kecil miliknya dalam tas, tapi tidak ketemu. Pada akhirnya …
“Pakai ini aja ya say …” Muhsin memberikan beberapa lembar
tisu, cukup buat menyeka peluh yang membasahi sekitar leher dan wajah.
Mall yang dimasuki Sabrina dan Muhsin ini lumayan besar dan
luas. Di dalamnya sudah banyak pengun jung dari berbagai macam profesi dan
usia. Mulai dari anak-anak hingga beranjak tua. Namun tidak ter lihat para
lansia yang seringkali dibantu berjalan oleh anggota keluarganya, atau denga
hanya menggunakan kursi roda.
“Mau belanja say?”
Sabrina berpikir sebentar …
“Enggak usah say. Kita lanjut sajalah. Udah dari tengok baju
kita langsung aja ke tempat yang lain,” kata Sabrina.
Di lokasi penjualan es krim, kawasan parkiran mall, antrian
semakin panjang. Jika tadi diantri sebagian besar kalangan muda usia, kini para
ibu dan anak-anak, baik yang masih dalam gendongan maupun yang sudah bisa
dilepas berjalan sendiri.
Ketika ada serombongan remaja yang baru ngumpul di parkiran, menggunakan lima unit mobil bus
berukuran besar, Sabrina dan Muhsin keluar dari pintu samping mall.
Sejenak keduanya memandang ke tepian danau yang di kanan
kirinya ditumbuhi aneka tanaman serba hijau. Lepas itu, mereka melanjutkan
perjalanan lagi menggunakan taksi kota.
Mau kemana mereka?
Sesuai petunjuk dan saran Mr Clean, yang dihubungi Sabrina
semalam, mereka menuju ke lokasi penye waan sepeda. Dengan bersepeda mereka
bisa leluasa mengitari pusat dan kawasan pinggiran kota.
Karena Muhsin yang sudah terbiasa menggunakan sepeda,
Sabrina meminta suaminya yang membon ceng. Sepeda yang mereka sewa itu lumayan
besar dari sepeda ukuran standar.
Karena tempat duduknya berlainan, dua sepeda disambung jadi
satu, sama-sama mengayuhlah. Dikayuh lambat. Sepeda pun meluncur dengan lambat.
“Kemana dulu ya say?” Muhsin menoleh ke belakang. Dia
tersenyum melihat Sang Isteri sumringah. Ter tawa lepas, berkacamata hitam,
memandang para pesepeda lain yang mulai bergerak meninggalkan lokasi penyewaan
sepeda.
Kriiiing …
Poooong …
Kriiig …
Pooong …
Kriiing ..
Pooong …
Suara bel sepeda yang lucu dan bersahut-sahutan membuat
Sabrina ketawa terpingkal-pingkal.
6
“YANG …”
“Apa?”
“Ke taman ya?”
“Oke …”
Belok ke kanan, sepeda meluncur lambat ke taman pinggiran
kota. Taman yang indah. Saking indahnya, Sabrina tak henti-hentinya menyebut
‘subhanallah.’
“Kiri ya say …?”
“Oke ..”
Kriiing ..
Poooong …
Kriiing …
Pooong …
Sekelompok anak-anak hendak keluar dari pintu gerbang taman.
Mereka berbaris rapi. Entah mengapa mereka dipandu seorang guru kelas wanita.
Siswa sekolah dasar itu bernyanyi sambil melangkahkan kaki ke kanan luar taman
yang lumayan besar dan luas itu.
Sabrina memilih mengelilingi taman dengan cara
bersepeda. Karena dengan bersepeda semua
tempat akan terjelajahi.
“Yang pasti enggak terasa capek,” kata Muhsin. Dia
menghentikan sejenak kayuhannya. Dia turun dari sepeda. Dia mengambil beberapa
gambar dengan latar belakang bunga tulip.
“Indah betul ya Mas,” puji Sabrina. Dia minta sang suami
mengabadikannya di depan jejeran bunga tulip.
Cek … lek.
Cek .. lek.
Cek .. lek.
“Mas enggak?”
“Selfie berdua aja ya say …”
“Boleh. Aku suka kok ..”
Muhsin dan Sabrina mendekat ke hape android. Lalu …
Cek .. lek.
Foto berdua selesai dengan tiga posisi: ketawa, senyum dan berangkulan.
“Kesana yuk Mas!” Sabrina menunjuk ke sebuah danau kecil
yang sangat jernih airnya.
“Yuk. Aku suka danau itu.”
Danau kecil itu sepertinya hanya diperuntukkan bagi pasangan
yang lagi menikmati bulan madu. Bukti nya, beberapa pengunjung danau adalah
pasangan muda usia. Mereka terlihat
sangat mesra.
Ada yang duduk di bangku panjang, bermain sampan, jalan
berdua sambil berangkulan. Bahkan ada juga yang menggelar tikar. Duduk berdua,
menguntai cinta, membagi rasa.
Mereka seolah sudah saling kenal. Padahal tidak demikian.
Ini dikarenakan masing-masing mereka melakukan aktivitas yang berbeda dengan
rasa aman, nyaman tanpa gangguan.
“Lho … Kok gitu Yang?!” Mengingatkan Sang Istri yang
senyum-senyum sendiri melihat tingkah polah pasangan seusia mereka asyik
bercumbu dan bercengkrama berdua.
“Jalan yuk!”
“Capek ah!” Jawab Sabrina, rada manja dan ingin dipeluk
suami tercinta. Muhsin memenuhi permintaan itu. Ia peluk isterinya seerat dan
semesra mungkin. Ia bisikkan kata cinta, kata sayang dan puisi cinta.
Sabrina berlarian ke tepi danau, disusul Muhsin. Lalu ia
peluk dan angkat tubuh Sabrina sambil berputar. Keduanya menyusuri tepian
danau. Kemudian berhenti dekat jembatan kayu tempat sampan-sampan ditambatkan. Sampan-sampan itu dicat berwarna-warni. Juga
kayuhnya.
Beberapa pasangan seolah enggan turun dari sampan. Mereka
tidak menepikannya. Mereka sengaja
menghentikan kayuhannya di tengah danau.
Apa yang mereka lakukan?
Mereka bercumbu dengan sesekali tertawa lepas. Berciuman dan
membiarkan sampan jalan sendiri.
“Mau ya say?”
Sabrina belum memutuskan.
“Udah .. Yuk kita naik,” ajak Muhsin. Menggandeng tangan isterinya. Memeluknya
sejenak sebelum keduanya menaiki sampan
yang tertambat di tiang jembatan.
Air danau seolah kian jernih. Ikan-ikan berseliweran.
Panorama sekitar danau terasa nyaman dinikmati. Ada rumah-rumah kecil, membuat
siapa pun yang mengelilingi danau dengan sampan, walaupun cuma berdua, tak bakalan merasa
takut dan was-was. Begitu indah dengan hembusan angin yang acapkali datang
menyinggahi dari arah yang berbeda-beda.
Suara cicit burung tak henti terdengar. Menambah asri
kawasan danau. Ah, bisik Sabrina pada suaminya, sungguh indah bulan madu ini
dinikmati berdua.
Tobe continued …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar