Rabu, 02 Agustus 2017

El-Maut (5)



Novel …

El-Maut (5)
Oleh Wak Amin

9
“SABAR ya Pak, Bu Broto.” Di ruang kerjanya, keesokan harinya Letnan Salam kedatangan Pak Broto dan isteri, orang tua Muhsin.
Mereka sangat mengkuatirkan nasib buah hati mereka, termasuk Sabrina tentunya. Untuk menenang kannya, Letnan Salam mengajak sepasang suami isteri yang tidak muda lagi ini sarapan pagi di ruang kerjanya.
Tak heran jika ruang kerja Letnan Salam pagi ini didatangi pegawai kantin membawakan makanan berupa nasi goreng, kerupuk dan air teh manis. Juga ada gorengan, tapi tak banyak. Hanya sepiring terdiri dari pisang, tahu dan tempe.
“Silakan Pak, Bu Broto. Kita sarapan dulu,” ajak Letnan Salam. Dia dapat kabar barusan dari Sabrina, keduanya sehat-sehat saja.
“Syukurlah,” kata Pak Broto. Menghirup air teh manis itu dengan sedikit gemetar karena memikirkan nasib anaknya yang kini berada di rantau orang.
“Tolonglah kami Pak Letnan. Kapan ya mereka bisa pulang?” Tanya Bu Broto sambil berurai air mata.
“Insya Allah, Bu dan Pak Broto. Kami akan terus berkomunikasi dengan Muhsin, juga Sabrina. Kami juga sudah mengirim Mr Clean kesana,” jelas Letnan Salam.
Karena belum sarapan pagi di rumah, Letnan Salam sangat lahap menyantap nasi goreng campur telur dadar, tomat dan mentimun yang tersaji di atas meja. Sepiring tak bersisa lagi. Disusul setengah gelas air teh hangat.
Plong rasanya …
Kriiing …
Kriiing …
“Maaf ya Pak, Bu. Terima telepon dulu,” kata Letnan Salam. Berjalan beberapa langkah menuju jendela ruang kerjanya sebelah kanan.
“Pak Let, tolong anak saya.” Bu Kandar menjerit histeris. Dia sempat jatuh pingsan mendapat kabar ho tel tempat Sabrina dan Muhsin menginap terkena ledakan dahsyat. Dia mendapat kabar tak mengenak kan itu dari tetangga sebelah rumahnya yang tanpa sengaja menonton peristiwa ledakan itu dari televisi.
Beberapa korban yang mengalami luka ringan sempat diwawancarai reporter salah satu stasiun televisi terkenal. Salah satu di antara mereka adalah Sabrina.
“Kebetulan ada Pak Broto dan isteri di ruangan kerja saya Pak Kandar. Diaturi kalau mau ketemuan. Kebetulan sampai siang saya kosong,” terang Letnan Salam.
Menutup teleponnya, kemudian mengabarkan kepada orang tua Muhsin bahwa yang menelepon barusan  adalah Pak Kandar.
“Apa mereka mau kesini juga Pak Letnan?”
“Betul sekali Pak, Bu Broto. Mereka mau kesini rencananya. Kalau begitu, saya keluar ruangan sebentar. Ibu dan bapak berdua duduk tenang saja di sini sambil menunggu kedatangan besannya,” jelas Letnan Salam, merasa lega melihat orang tua Muhsin sudah tenang.
Selepas Letnan Salam keluar dari ruangan kerjanya, suasana berubah hening. Sunyi. Pak Broto dan isteri, keduanya larut dalam lamunan masing-masing. Jika Pak Broto melamunkan dia kini tengah menunggu ke pulangan anak dan menantunya, lalu berpelukan. Sementara Bu Broto merasa tidur pulas di samping Muhsin, anaknya.
Sudah lama sekali dia tidak tidur berdua anaknya. Sebagai ibu, Bu Broto tulus menyayangi Muhsin. Dari kecil sampai besar. Sesekali dia menyuapi anaknya itu makan. Dia tidak pernah  menyuapinya lagi sete lah Muhsin resmi mempersunting Sabrina.
“Ibu melamunkan apa?” Tegur Pak Broto, tersenyum geli. Semakin tua semakin enak melamun. Sang Suami mengaku melamunkan Muhsin pulang ke rumah.
“Lucu ya Bu. Eeeem … Habis melamun, tak ada siapa-siapa selain ibu …”
“Saya juga Pak,” kata Bu Broto. “Serasa tidur berdua sama Muhsin. Eeee .. taunya duduk berdua sama bapak.”
Bu Broto ketawa geli. Dia seka air matanya yang meleleh tadi. Dia menangis. Kalau tadi menangis sedih, barusan menangis gembira.
“Mudah-mudahan ya Pak, anak dan menantu kita cepat pulangnya. Tak sabar rasanya memeluk dan mencium mereka,” aku Bu Broto terus terang.
Tak segan-segan ia memeluk suaminya. Mereka saling berpelukan, sampai pintu ruang kerja diketuk pelan dari luar.
Pintu dibuka Pak Broto.
Pak Kandar rupanya. Tersenyum, lalu berpelukan haru. Begitu juga dengan Bu Broto dan Bu Kandar. Menumpahkan rasa haru, keduanya berpelukan sebelum pecahlnya tangisan di depan pintu.
Keharuan dua wanita berparas ayu ini tak luput dari perhatian anak buah Letnan Salam. Sengaja dibiar kan agar tumpah semua rasa haru itu. Mereka baru masuk setelah Letnan Salam datang dan mengajak masuk, serta duduk di kursi beranyamkan rotan, khusus bagi tamu yang datang bertamu dan bersilatura mi.

10
“HALO … Salam ibu cantiiik!” Ingin rasanya Mr Clean memeluk Sabrina, saking senang melihat koleganya itu masih sehat wal afiat. Tapi itu tak ia lakukan. Selain penuh sesak oleh pasien  yang ber bat dan dira wat, Sabrina kini jadi sudah berstatus isteri orang.
Tak tegaan, ia akhirnya mencium tangan Sabrina. 
“Betah di sini Sab?” Tanya Mr Clean sembari melihat sejenak ke sekitar ruangan Sabrina dirawat. Ada pasin yang patah kaki, muka lecet, macam-macamlah.

“Kasihan Mister melihatnya?” Semalam, kata Sabrina, dia berada di rumah sakit, hati ini seolah mau remuk.

“Muhsin mana?”

“Di ruangan lain. Nanti diantar ya Mister.”

“Enggak usah Sab. Biar saya sendiri yang tengok nantinya,” kata Mr Clean. Dia menarik kursi, lalu dihadapkan ke tempat Sabrina bersandar di atas tempat tidur bersepraikan serba putih itu.

“Pesan Letnan … Setelah ini kamu pulang.”

“Setelah kapan?”

“Secepatnya Sab. Tentu setelah kalian berdua diperbolehkan pulang dan meninggalkan ruma sakit ini. Gimana?”

“Aku sih oke aja Mister,” jawab Sabrina. Jika tidak terluka dan tidak bersama Muhsin suaminya, Sabrina ingin sekali bergabung bersama tim kepolisian kota ini untuk menyelidiki sebab musabab terjadinya le dakan sekaligus menangkap otak pelakunya.

“Sabar ya Sab. Yang penting, Muhsin jangan dilibatkan dengan masalah ini. Akan sangat berbahaya,” jelas Mr Clean. Menuangkan segelas air , ia minum dengan penuh dahaga.

“Tentu Mister. Dari dulu, ketika Muhsin mulai kenal saya, saya tak pernah libatkan dia. Kerjaan dia, kerjaan aku. Kita tak saling ganggu …”

“Syukurlah kalau begitu. Selain itu kedua orang tuamu dan mertuamu itu, Sab.”

“Kenapa dengan mereka Mister?”

“Apa kau tidak memberitahu mereka Sab?”

“Yang beritahu mereka, Letnan. Saya sendiri  belum. Saya kuatir mereka akan syok,” ujar Sabrina. Haus juga dia rupanya. Ketika ditawari  segelas air putih oleh Mr Clean, dia tidak menolak. Malah senang ka rena merasa diperhatikan.

Glek gek …

Tersisa separo gelas.

“Jadi menurut Letnan. Kamu sebaiknya istirahat dulu dengan cara cepat pulang. Kedua orang tuamu dan mertuamu pasti sudah tak tahan ingin bertemu kamu dan Muhsin suamimu.”

Sabrina diam.

“Tapi itu hanya saran dan usulan dari Letnan Salam, Sabrina. Selanjutnya terserah kau. Karena itu hak kamu. Kamulah yang paling berhak memutuskannya,” terang Mr Clean.

“Oh ya Clean. Pendapatmu sendiri gimana?”

“Kalau aku setuju saja dengan saran Letnan Salam itu. Tapi, setelah orang tuamu, mertua dan Muhsin suamimu sudah oke dan bisa melupakan kejadian ini, baru kamu bisa menyusul aku.”

“Menyusul? Emangnya Mister mau tinggal lama disini?” Sabrina terkejut. BIasanya Mr Clean, kalau soal urusan kerja, pasti  beritahu dia …

“Rencananya begitu, Sab.”

“Ikut menyelidiki ledakan bom yang kemarin itu?” Sabrina mau ketawa, tapi tak jadi. Lucu soalnya. Jika benar Mr Clean diikut sertakan dalam penyelidikan ini, itu peristiwa besar.

“Aku ikut Mister,” lanjut Sabrina. Mukanya kembali ceria. Ingin dia turun dari atas tempat tidur. Tapi dicegah Mr Clean karena belum sehat seratus persen.

“Ikut kemana?”

“Menyelidiki,” ucap Sabrina. Pasin di dekatnya tertawa melihat tingkah Sabrina seperti anak kecil yang hendak digendong ibunya.

“Tentu Sabrina,” jawab Mr Clean. Merasa senang jika ada yang menemani, apalagi perempuan, orang nya seperti Sabrina.

Keduanya kemudian mengalihkan pembicaraan dengan hal-hal yang ringan. Mulai dari makanan kesu kaan hingga beradaptasi dengan sikap dan perilaku warga serta cuaca kota yang lebih banyak dinginnya ketimbang panasnya.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, Mr Clean menyempatkan diri menemui Muhsin di ruang perawatan khusus pasin laki-laki.

Sama seperti Sabrina, kesehatan Muhsin mulai berangsur-angsur pulih. Karena luka yang dia alami tidak terlalu parah. Hanya lecet  di kaki, paha dan tangan.

Maha Besar  Allah …

Ledakan banyak menelan korban luka dan tewas. Muhsin dan Sabrina, ternyata luput dari cedera parah yang menyebabkan kematian.

“Terima kasih ya Allah,” bisik Mr Clean sesaat sebelum beranjak pergi  meninggalkan kamar tempat Muh sin dirawat, menuju markas kepolisian kota besar.

Tobe Continued
  





Tidak ada komentar:

Posting Komentar