Novel …
El-Maut (5)
Oleh Wak Amin
9
“SABAR ya Pak, Bu Broto.” Di ruang kerjanya, keesokan
harinya Letnan Salam kedatangan Pak Broto dan isteri, orang tua Muhsin.
Mereka sangat mengkuatirkan nasib buah hati mereka, termasuk
Sabrina tentunya. Untuk menenang kannya, Letnan Salam mengajak sepasang suami
isteri yang tidak muda lagi ini sarapan pagi di ruang kerjanya.
Tak heran jika ruang kerja Letnan Salam pagi ini didatangi
pegawai kantin membawakan makanan berupa nasi goreng, kerupuk dan air teh manis.
Juga ada gorengan, tapi tak banyak. Hanya sepiring terdiri dari pisang, tahu
dan tempe.
“Silakan Pak, Bu Broto. Kita sarapan dulu,” ajak Letnan
Salam. Dia dapat kabar barusan dari Sabrina, keduanya sehat-sehat saja.
“Syukurlah,” kata Pak Broto. Menghirup air teh manis itu
dengan sedikit gemetar karena memikirkan nasib anaknya yang kini berada di
rantau orang.
“Tolonglah kami Pak Letnan. Kapan ya mereka bisa pulang?”
Tanya Bu Broto sambil berurai air mata.
“Insya Allah, Bu dan Pak Broto. Kami akan terus
berkomunikasi dengan Muhsin, juga Sabrina. Kami juga sudah mengirim Mr Clean
kesana,” jelas Letnan Salam.
Karena belum sarapan pagi di rumah, Letnan Salam sangat
lahap menyantap nasi goreng campur telur dadar, tomat dan mentimun yang tersaji
di atas meja. Sepiring tak bersisa lagi. Disusul setengah gelas air teh hangat.
Plong rasanya …
Kriiing …
Kriiing …
“Maaf ya Pak, Bu. Terima telepon dulu,” kata Letnan Salam.
Berjalan beberapa langkah menuju jendela ruang kerjanya sebelah kanan.
“Pak Let, tolong anak saya.” Bu Kandar menjerit histeris.
Dia sempat jatuh pingsan mendapat kabar ho tel tempat Sabrina dan Muhsin
menginap terkena ledakan dahsyat. Dia mendapat kabar tak mengenak kan itu dari
tetangga sebelah rumahnya yang tanpa sengaja menonton peristiwa ledakan itu
dari televisi.
Beberapa korban yang mengalami luka ringan sempat
diwawancarai reporter salah satu stasiun televisi terkenal. Salah satu di
antara mereka adalah Sabrina.
“Kebetulan ada Pak Broto dan isteri di ruangan kerja saya
Pak Kandar. Diaturi kalau mau ketemuan. Kebetulan sampai siang saya kosong,”
terang Letnan Salam.
Menutup teleponnya, kemudian mengabarkan kepada orang tua
Muhsin bahwa yang menelepon barusan
adalah Pak Kandar.
“Apa mereka mau kesini juga Pak Letnan?”
“Betul sekali Pak, Bu Broto. Mereka mau kesini rencananya.
Kalau begitu, saya keluar ruangan sebentar. Ibu dan bapak berdua duduk tenang
saja di sini sambil menunggu kedatangan besannya,” jelas Letnan Salam, merasa
lega melihat orang tua Muhsin sudah tenang.
Selepas Letnan Salam keluar dari ruangan kerjanya, suasana
berubah hening. Sunyi. Pak Broto dan isteri, keduanya larut dalam lamunan
masing-masing. Jika Pak Broto melamunkan dia kini tengah menunggu ke pulangan
anak dan menantunya, lalu berpelukan. Sementara Bu Broto merasa tidur pulas di
samping Muhsin, anaknya.
Sudah lama sekali dia tidak tidur berdua anaknya. Sebagai
ibu, Bu Broto tulus menyayangi Muhsin. Dari kecil sampai besar. Sesekali dia
menyuapi anaknya itu makan. Dia tidak pernah menyuapinya lagi sete lah Muhsin resmi
mempersunting Sabrina.
“Ibu melamunkan apa?” Tegur Pak Broto, tersenyum geli.
Semakin tua semakin enak melamun. Sang Suami mengaku melamunkan Muhsin pulang
ke rumah.
“Lucu ya Bu. Eeeem … Habis melamun, tak ada siapa-siapa
selain ibu …”
“Saya juga Pak,” kata Bu Broto. “Serasa tidur berdua sama
Muhsin. Eeee .. taunya duduk berdua sama bapak.”
Bu Broto ketawa geli. Dia seka air matanya yang meleleh
tadi. Dia menangis. Kalau tadi menangis sedih, barusan menangis gembira.
“Mudah-mudahan ya Pak, anak dan menantu kita cepat
pulangnya. Tak sabar rasanya memeluk dan mencium mereka,” aku Bu Broto terus
terang.
Tak segan-segan ia memeluk suaminya. Mereka saling
berpelukan, sampai pintu ruang kerja diketuk pelan dari luar.
Pintu dibuka Pak Broto.
Pak Kandar rupanya. Tersenyum, lalu berpelukan haru. Begitu
juga dengan Bu Broto dan Bu Kandar. Menumpahkan rasa haru, keduanya berpelukan
sebelum pecahlnya tangisan di depan pintu.
Keharuan dua wanita berparas ayu ini tak luput dari
perhatian anak buah Letnan Salam. Sengaja dibiar kan agar tumpah semua rasa
haru itu. Mereka baru masuk setelah Letnan Salam datang dan mengajak masuk,
serta duduk di kursi beranyamkan rotan, khusus bagi tamu yang datang bertamu dan
bersilatura mi.
10
“HALO … Salam ibu cantiiik!” Ingin rasanya Mr Clean memeluk
Sabrina, saking senang melihat koleganya itu masih sehat wal afiat. Tapi itu
tak ia lakukan. Selain penuh sesak oleh pasien
yang ber bat dan dira wat, Sabrina kini jadi sudah berstatus isteri
orang.
Tak tegaan, ia
akhirnya mencium tangan Sabrina.
“Betah di sini Sab?” Tanya Mr Clean sembari melihat
sejenak ke sekitar ruangan Sabrina dirawat. Ada pasin yang patah kaki, muka
lecet, macam-macamlah.
“Kasihan Mister melihatnya?” Semalam, kata Sabrina, dia
berada di rumah sakit, hati ini seolah mau remuk.
“Muhsin mana?”
“Di ruangan lain. Nanti diantar ya Mister.”
“Enggak usah Sab. Biar saya sendiri yang tengok
nantinya,” kata Mr Clean. Dia menarik kursi, lalu dihadapkan ke tempat Sabrina
bersandar di atas tempat tidur bersepraikan serba putih itu.
“Pesan Letnan … Setelah ini kamu pulang.”
“Setelah kapan?”
“Secepatnya Sab. Tentu setelah kalian berdua
diperbolehkan pulang dan meninggalkan ruma sakit ini. Gimana?”
“Aku sih oke aja Mister,” jawab Sabrina. Jika tidak
terluka dan tidak bersama Muhsin suaminya, Sabrina ingin sekali bergabung
bersama tim kepolisian kota ini untuk menyelidiki sebab musabab terjadinya le dakan
sekaligus menangkap otak pelakunya.
“Sabar ya Sab. Yang penting, Muhsin jangan dilibatkan
dengan masalah ini. Akan sangat berbahaya,” jelas Mr Clean. Menuangkan segelas
air , ia minum dengan penuh dahaga.
“Tentu Mister. Dari dulu, ketika Muhsin mulai kenal saya,
saya tak pernah libatkan dia. Kerjaan dia, kerjaan aku. Kita tak saling ganggu …”
“Syukurlah kalau begitu. Selain itu kedua orang tuamu dan
mertuamu itu, Sab.”
“Kenapa dengan mereka Mister?”
“Apa kau tidak memberitahu mereka Sab?”
“Yang beritahu mereka, Letnan. Saya sendiri belum. Saya kuatir mereka akan syok,” ujar
Sabrina. Haus juga dia rupanya. Ketika ditawari
segelas air putih oleh Mr Clean, dia tidak menolak. Malah senang ka rena
merasa diperhatikan.
Glek gek …
Tersisa separo gelas.
“Jadi menurut Letnan. Kamu sebaiknya istirahat dulu
dengan cara cepat pulang. Kedua orang tuamu dan mertuamu pasti sudah tak tahan
ingin bertemu kamu dan Muhsin suamimu.”
Sabrina diam.
“Tapi itu hanya saran dan usulan dari Letnan Salam,
Sabrina. Selanjutnya terserah kau. Karena itu hak kamu. Kamulah yang paling
berhak memutuskannya,” terang Mr Clean.
“Oh ya Clean. Pendapatmu sendiri gimana?”
“Kalau aku setuju saja dengan saran Letnan Salam itu.
Tapi, setelah orang tuamu, mertua dan Muhsin suamimu sudah oke dan bisa
melupakan kejadian ini, baru kamu bisa menyusul aku.”
“Menyusul? Emangnya Mister mau tinggal lama disini?”
Sabrina terkejut. BIasanya Mr Clean, kalau soal urusan kerja, pasti beritahu dia …
“Rencananya begitu, Sab.”
“Ikut menyelidiki ledakan bom yang kemarin itu?” Sabrina
mau ketawa, tapi tak jadi. Lucu soalnya. Jika benar Mr Clean diikut sertakan
dalam penyelidikan ini, itu peristiwa besar.
“Aku ikut Mister,” lanjut Sabrina. Mukanya kembali ceria.
Ingin dia turun dari atas tempat tidur. Tapi dicegah Mr Clean karena belum
sehat seratus persen.
“Ikut kemana?”
“Menyelidiki,” ucap Sabrina. Pasin di dekatnya tertawa
melihat tingkah Sabrina seperti anak kecil yang hendak digendong ibunya.
“Tentu Sabrina,” jawab Mr Clean. Merasa senang jika ada
yang menemani, apalagi perempuan, orang nya seperti Sabrina.
Keduanya kemudian mengalihkan pembicaraan dengan hal-hal
yang ringan. Mulai dari makanan kesu kaan hingga beradaptasi dengan sikap dan
perilaku warga serta cuaca kota yang lebih banyak dinginnya ketimbang panasnya.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Mr Clean menyempatkan
diri menemui Muhsin di ruang perawatan khusus pasin laki-laki.
Sama seperti Sabrina, kesehatan Muhsin mulai berangsur-angsur
pulih. Karena luka yang dia alami tidak terlalu parah. Hanya lecet di kaki, paha dan tangan.
Maha Besar Allah …
Ledakan banyak menelan korban luka dan tewas. Muhsin dan
Sabrina, ternyata luput dari cedera parah yang menyebabkan kematian.
“Terima kasih ya Allah,” bisik Mr Clean sesaat sebelum
beranjak pergi meninggalkan kamar tempat
Muh sin dirawat, menuju markas kepolisian kota besar.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar