Senin, 22 Juli 2019

Langit tak Berbintang (18)

Langit tak Berbintang (18)
Oleh Wak Amin




TERNYATA Maria sudah melaju de ngan motornya. Dia sempat melam baikan tangan pada Arman yang sempat mengejarnya.

"Kejar cepat!" Perintah Bos Malik. Kembali ke mobil.

Mesin sulit dinyalakan ...

"Kampret," ucap Arman kesal sam bil membanting pintu mobil.

Diutak-atik sebentar. Beres. Mobil melaju. Tapi kemana?

"Saya lihat tadi ke depan, Bos."

"Ya sudah. Jalan lurus saja."

"Tapi Bos. Si Marianya kan sudah jauh. Tak mungkin kita mengejar nya."

"Lalu? Diem saja?"

"Bukan Bos. Bagaimana kalau kita lewat jalan pintas saja. Bisa lebih cepat."

Eeeem ...

Berpikir sejenak ...

"Boleh," kata Bos Malik.

Sanaf juga setuju ...

"Arman!"

"Siap Bos. Laksanakan!"

Maria belum jauh rupanya. Dia se ngaja menunggu kedatangan Ar man dan kawan-kawan.

Sambil menunggu, dia tengok me sin. Kenapa agak melambat. Tidak secepat sebelum tiba di kedai do gan.

Sebuah mobil meluncur cepat. Me lihat ada Maria lagi utak-atik sepe da motor di trotoar, Arman pun ba lik arah.

Dengan kecepatan tinggi dia belok kan mobil ke kanan. Hilang keseim bangan, mobil pun miring ke ka nan.

Masuk parit ...

He he he he ...

Maria ketawa ngakak. Dia dekati itu mobil dengan sepeda motornya. Tu run sebentar, lalu bertanya..

"Kenapa Om mobilnya?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar