Oleh Wak Amin
PENGEKSEKUSIAN dilakukan ma lam hari. Bertindak selaku ekseku tor Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan.
Disaksikan Jenderal Komar, Jende ral Fatoni, Kapten Sambas, Letnan Bagus dan Mayor Tolib. Eksekusi menggunakan senjata api.
Mereka yang dieksekusi duduk ber sila dengan mata tertutup dan ke dua tangan terikat. Mereka tahu ba kal dieksekusi, tapi tidak tahu de ngan cara apa dan bagaimana ek sekusi dilakukan.
"Tembaaaak ...!" Perintah Jenderal Fatoni.
Trot tot .. tot .. tot ...
Belasan peluru menembus dada dan kepala. Prajurit muda usia itu pun tewas dan dengan satu kali sentuhan ke depan, jasad mereka menggelinding menyusuri tebing laut sebelum jatuh tenggelam ke dalam air.
Jenderal Fatoni amat puas. Demiki an pula halnya dengan Jenderal Ko mar, yang sebagian pasukannya ik ut buang-buang senjata, ditembak mati bersama tentara srigala.
Bekas eksekusi, seperti tali dan ba ju yang dijadikan penutup mata, ju ga ikut dilarung ke laut.
Malam bergerak larut ...
Suara anjing hutan terdengar dari kejauhan, disertai petir yang sam bar menyambar.
Tak lama kemudian hujan turun le bat ...
Akan kemana pasukan srigala dan pasukan pemberontak setelah ini?
Apakah diam-diam mereka menye rah?
Atau justru lari jauh ke hutan untuk menghimpun kekuatan baru?
Atau mungkin tetap bertahan, lalu melakukan serangan secara tiba-tiba ke markas pasukan pemerin tah dan pasukan pribumi?
Semula antara Jenderal Fatoni dan Jenderal Komar berselisih paham mengenai hal ini ..
Namun selisih paham dan beda pendapat itu akhirnya teratasi ber kat campur tangan Kapten Sambas, Letnan Bagus, Mayor To lib, Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar