Mana Tahan (3)
Oleh Wak Amin
DI ruang tahanan bawah tanah ...
Kreeeeeng ...
"Mayoor .. Letnaan .. Silakan keluar. Ada seseorang yang ingin bertemu anda sekarang," ucap pria berkumis dan berbadan tinggi serta besar.
"Siapa dia teman kalau boleh ta hu?" Tanya Mayor Hanafi.
"Panglima kami Mayor .. Letnan."
Panglima Jenderal Sutarman da ta ng sendiri ke penjara pinggiran kota tanpa pengawalan. Hal ini sudah se ring ia lakukan saat ber kunjung ke berbagai daerah di negeri Yauman.
Sosok yang ramah tapi tegas dan cepat dalam mengambil keputu san. Selain Presiden Bais, pendu duk Yauman juga amat mencintai panglima Jenderal Sutarman. Da lam berbagai kesempatan mereka selalu mengelu-elukan keduanya.
"Selamat siang Jenderal," kata Ma yor Hanafi dan Letnan Subekti. Ke duanya serempak memberi hormat dan menyalami Sang Panglima.
Dengan nada berkelakar, Jenderal Sutarman menjelaskan maksud ke datangannya yang terkesan menda dak ke penjara hanya untuk sila ltu rahmi saja.
"Untuk memastikan saja apa kalian berdua sehat-sehat saja selama berada disini?"
"Alhamdulillah Panglima. Kami ber dua sehat-sehat saja. Tidur kami pu las dan makan cukup," jelas Ma yor Hanafi.
"Syukurlah. Saya sangat senang mendengarnya."
"Terima kasih Jenderal."
Menindaklanjuti pembelotan yang dilakukan anak buah Jenderal Amir dari negeri Jasina, Jenderal Sutar man kemudian menceritakan tenta ng ancaman akan menyerang dan menghancurkan negeri Yauman.
"Dalam waktu dekat dia, atas perin tah Raja Jasina, akan mengerahkan armada kapal perang .."
"Pasti karena pembelotan kami. Be tul kan Jenderal?" Tanya Mayor Ha nafi.
"Salah satunya begitu Mayor, Let nan. Selebihnya karena faktor den dam pribadi. Ingin menghabisinya wa Sang Presiden."
"Apa yang bisa kami berdua bantu Jenderal? Karena kami sudah man tap tidak akan kembali ke Jasina, kecuali ..."
"Kecuali apa Mayor?"
"Anda mengusir kami."
Ha ha ha ..
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar