Selasa, 21 Desember 2021

Sayangilah Anak Yatim

Santapan Rohani Sayangilah Anak Yatim 
By Aminuddin 
ID : Pub-4876570404296850



 ABUL Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Aufa ra, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: “Siapa yang mengusap kepala anak yatim karena kasih sayang, maka Allah SWT mencatat untuknya bagi tiap rambut yang diusap satu hasanat, dan dihapus satu dosa, serta dinaikkan satu derajat.” Sabda Rasul: “Siapa yang memelihara seorang anak yatim dari kaum muslimin untuk menjamin makan dan minumnya sehingga ia cukup sendiri, maka Allah SWT mewajibkan untuknya surga dengan pasti, kecuali jika ia ber buat amal yang tidak diampunkan-Nya. Dan siapa yang dicabut oleh Allah SWT penglihatannya (kesaya ngannya) lalu sabar dan mengharap pahala dari-Nya, maka Dia mewajibkan baginya surga dengan pasti kecuali jika ia berbuat amal yang tidak diampuni oleh Allah SWT. Dan ketika ditanya, apakah karimah (ke sayangan)itu? Jawab Nabi SAW : Matanya. Dan siapa yang mempunyai tiga puteri, lalu dididik dan dibela jai sampai mati atau kawin, maka Allah SWT mewajibkan baginya surga kecuali jika ia berbuat amal yang tidak diampuni-Nya. Kemudian ada seorang baduwi bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana jika hanya dua puteri? Jawab Nabi SAW: Juga dua puteri. Ibnu Abbas, jika menceritakan hadist ini berkata, hadist ini ter masuk hadist yang ganjil istimewa.” Abud Darda’ berkata: “Ada seorang datang kepada Nabi SAW mengeluh karena hatinya keras, maka beliau bersabda kepada nya: In sarraka an yaliina qalbuka famsah bira’silb yatimi wa athi’imuhu (Jika engkau ingin lunak hatimu maka usaplah kepala anak yatim dan beri makan kepadanya).” Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Said bin Al-Musayyab, dari Umar bin Al-Khaththab ra, bahwasanya ia telah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Jika dipukul anak yatim, maka goyanglah arasy karena tangisnya, lalu Allah SWT berfirman: Hai Malai kat-Ku, siapakah yang menangiskan anak yang ayahnya telah Aku benamkan di dalam tanah, padahal Allah SWT lebih mengetahui. Jawab Malaikat: Ya Tuhan, kami tidak mengetahui. Maka Dia berfirman: Saya persaksikan kepadamu bahwa siapa yang dapat menghiburnya maka Aku akan memuaskannya pada hari kiamat. Dan Rasulullah SAW biasa mengusap kepala mereka dan lunak. Umar juga berbuat demikian.” Abdurrahman bin Abza berkata: Allah SWT telah berfirman kepada Nabi Daus as: “Jadilah terhadap anak yatim bagaikan ayah yang kasih sayang, dan ketahuilah bahwa sebagaimana eng kau menanam akan mengetam apa yang kau tanam. Dan ketahuilah bahwa isteri yang shalehah bagi su aminya bagaikan raja yang bermahkotakan emas. Tiap ia melihatnya menyenangkan hatinya. Sebaliknya wanita yang jelek akhlaknya terhadap suaminya bagaikan tanggungan yang berat terhadap orang yang tua.” Zaid bin Aslam berkata, Nabi SAW telah bersabda: “Saya dengan orang yang memelihara anak yatim di surga bagaikan dua jari ini, sambil menunjukkan kedua jari telunjuk dan jari tengah.” Abu Imran Aljauni dari Abul Khalil berkata, saya telah membaca masalah yang dihadapi Nabi Daud as: “Tuhanku, apa balasan orang yang diserahi anak yatim dan janda, benar-benar mengharap keridhaan-Mu? Jawab-Nya: Balasannya akan Aku naungi di bawah naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku (yakni naungan Arasy).” Wahai saudaraku. Sayangilah anak yatim. Jangan abaikan mereka. Ingatlah ketika Allah Azza wa Jalla berfirman: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya, dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezeki nya, maka dia berkata: “Tuhan menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak me muliakan anak yatim (tidak memberikan hak-haknya dan tidak berbuat baik kepadanya). Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. Kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berle bihan.” (QS Al-Fajr 15-20). Jangan pula sekali-kali kau berlaku sewenang-wenang. “ Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS Adh-Dhuha 9). “Tentang dunia dan akherat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: “Mengu rus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah sau daramu dan Allah SWT mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah SWT menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguh nya Allah SWT Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah 220). “Dan berkatalah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tinda kan (menukar dan memakan) itu adalah dosa besar.” (QS An-Nisaa’ 2). “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (maksudnya anak ya tim yang belum baligh atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya), harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS An-Nisaa’ 5). “Dan ujilah (mengadakan penyelidikan terhadap mereka tentang keagamaan, usaha-usaha mereka, kelakuan dan lain-lain sampai diketahui bahwa anak itu dapat dipercaya) anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari mema kan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).” (QS An-Nisaa’ 6). “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu me nelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS An-Nisaa’ 10). “Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib kerabat, anak-anak yatim,orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat dan ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan tapi bukan maksiyat yang kehabisan bekal, termasuk anak yang tidak diketahui ibu-bapaknya) dan hamba sahayamu. Sesung guhya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS An-Nisaa’ 36). “Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepada mu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, se dang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah me nyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Mengetahuinya.” (QS An-Nisaa’ 127). Wahai saudaraku … Allah SWT telah menunjukkan kepada kita dua jalan. Pertama, jalan kebaikan. Dan kedua adalah jalan kejahatan. Jalan kebaikan itu mendaki lagi sukar, sedangkan jalan kedua adalah jalannya setan lakna tullah. Mari saudaraku … Perhatikanlah firman-Nya berikut ini: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbuda kan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir …” (QS Al-Balad 10-16). Berhati-hatilah saudaraku … Sekali lagi, janganlah berlaku semena-mena, sekehendak hatimu terhadap anak yatim. Bila itu kau laku kan berarti engkau wahai saudaraku telah melakukan perbuatan tercela. Firman-Nya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS Al-Maa’uun 1-3). Wallahu a’lam bishshawab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar