Kamis, 06 Januari 2022

Novel Sayonara (21)

Novel Sayonara (21)

Oleh Aminuddin
ID pub-4876570404296850



BAB XI

"Wuluk ... Wuluk ..."

Amung masih sempat memperolok-olok polwan cantik yang mengejarnya. 

Dia terus berlari namun mulai kepayahan. 

Kini dia terjebak di ujung lorong. Rupanya tak ada jalan pintas. Kiri dan kanan rumah penduduk. 

Paling depan. Itu pun tebat.

Amung tak sempat lagi berpikir karena jarak antara dia dengan polwan semakin dekat.

Byuuur ...

Loncat dogan.

Ikan ditebat pada kocar kacir. Air tebat yang semula bening berubah pekat. 

Jadi berlumpur.

Byuuur ...

Polwan tadi ikut nyebur juga. Basah kuyup semuanya. Sama-sama di dalam tebat. 

Kejar-kejaran pun terjadilah. 

Wuluk .. .. wuluk.

Amung memainkan lidahnya. Si polwan tidak menanggapinya. Dia terus mengejar dan akhirnya ..

Doooor ...

Tepat mengenai kaki kanan Amung. 

Masih kuat menaiki daratan.

Dooor ...

Jalannya pincang. Meringis kesa kitan. Berusaha tetap berlari, tapi karena pincang sebelah kanan, dengan mudah dikejar si polwan.

Bruuug ...

Dengan satu kali lompatan sambil gingkang, si polwan berhasil merobohkan Amung.

Jatuh tersungkur.

Dia tidak berkutik.

Tapi masih bisa bercanda.

"Kita damai saja Dik Polwan," katanya sedikit mengeluarkan rayuan.

Si polwan mendekat.

"Jadi pacar abang saja. Mau kan?"

Si polwan mengeluarkan borgol yang basah kena air tebat tadi.

Rayuan Amung tak mempan. Bor gol tetap jalan.

"Kenapa Abang diborgol Dik?" Tanya Amung yang masih sempat tersenyum.

Senyumnya baru hilang setelah ditarik paksa oleh polwan.

"Ikut saya sekarang!" Bentak si polwan. 

"Kemana duhai adik manis?"

"Ke kantor polisi."

Wooow ... Wooow.

"Jangan dong Dik. Tak baiklah. Lebih baik lepaskan abang seka rang. Abang kan tidak punya salah apa-apa."

Polwan menatap tajam.

"Nanti bapak jelaskan saja di kantor polisi."

                              ***







Tidak ada komentar:

Posting Komentar