Serial Detektif Cilik
KOING (10)
Bertepuk Sebelah
Tangan
Oleh Wak Aminhalus
rayuan
“SELAMAT siang, Bu
Guru! Pulang mengajar ya?!” Sapa Kasim, remaja tanggung kampung sebelah, tak
jauh dari rumah sekolah Koing dan Brendo.
Yang merasa disapa
tentu berusaha ramah, menjawab seperlunya, tak terkesan dibuat-buat, apalagi
balik untuk menggoda.
“Mari Bu … Bang Kasim
antar pulang.” Tawar Kasim seraya mengikuti kemana langkah Bu Guru Linda dengan
sepeda motornya.
“Terima kasih, Bang.
Tak usahlah. Lagian rumah saya dekat
sini. Tak jauh,” jawab Bu Guru Linda, tersenyum manis.
Senyum manis itulah
yang bikin Kasim kian penasaran. Disusulnya Bu Guru Linda dengan berjalan kaki.
Dia berusaha merayunya. Sayang sang guru ramah itu halus menolak rayuannya.
Tak berhasil hari
ini, besoknya dia coba lagi. Tapi hasilnya tetap sama. Bu Guru Linda menolak
ajakan Kasim menumpang pulang dengan motornya.
Berulangkali ditolak,
Bang Kasim memberanikan diri datang ke rumah Bu Guru. Karena sore itu lagi
memberi les di sekolah, yang ditemui tak ada di rumah. Disusul ke sekolah,
sudah pulang ke rumah.
Bolak-balik mencari
Bu Guru Linda, akhirnya ketemu di kediaman Koing. Betapa senangnya Kasim. Tapi
bagaimana dengan Bu Guru Linda? Senangkah dia?
“Sore Bu Linda!” Sapa
Kasim, turun dari motornya, bermaksud menyalami Bu Linda.
“Bang Kasim lagi,”
jawab Bu Guru Linda ramah seraya membungkukkan badan tanda member hormat
“Pacarnya Bu Guru
ya?” Tanya Koing.
“Betul sekali, dik.”
Kata kasim tersenyum riang.
‘Bukan, Ing. Ibu
belum punyalah.”
“Oooo syukurlah kalau
begitu,” jawab Koing, melirik Kasim yang sempat cemberut.
“Baru akan dik … adik
siapa nama?”
“Koing, namaku Bang.”
“Benar dik Koing.
Baru akan pacaran. Boleh kan?”
“Boleh saja, asalkan
yang bersangkutan mau. Kalau tidak, abang lebih baik pulang duluan saja.”
“Yang mengantar Bu
Guru siapa. Kasihan cewek cakep pulangnya jalan kaki,” ujar Kasim beralasan.
“Biarlah saya pulang
sendirian, Bang Kasim,” jelas Bu Guru Linda.
“Jangan Bu. Sudah
sore. Nanti kamu digigit nyamuk. Sakit lagi. Kalau sampai sakit, lalu siapa
yang ngajar.”
“Saya pulangnya tidak
sendirian Bang Kasim. Ditemani seseorang …”
Kasim terkejut. Cuma
sesaat.
“Boleh tahu siapa
dia, Bu Guru?”
“Abang mau tahu?
“Iya.”
“Benar mau tahu?”
Mengangguk.
“Ini orangnya,” ucap
Bu Guru Linda sembari mengusap penuh jasuh sayang kepalanya Koing.
“Oooo jadi Koing.
Pakai apa, Bu Guru?”
“Sepedalah abang.”
Kata Koing.
“Enak pakai motor.
Tak capek, cepat sampai.”
Tak ada habis-habisnya
debat kusir. Koing berinisiatif mengeluarkan sepeda BMX-nya. Yang ngebonceng Bu
Guru Linda, karena badannya lebih besar dari Koing.
Dasar playboy kelas
tengik, keesokan harinya, dengan ditemani Kadir, datang berdua menemui Bu Guru
Linda di sekolah. Sempat dicegah guru piket, keduanya tetap ngotot ingin bersua
sang idaman hati, akhirnya diterima kepala sekolah.
Para siswa yang
berkerumun di ruang kepala sekolah pada ketawa terpingkal-pingkal melihat ulah
Kasim yang tetap ngotot ingin bertemu Bu Guru Linda.
“Apa anda sadar kalau
Bu Guru Linda memang mengenal anda?” Tanya kepala sekolah dengan nada lemah
lembut.
“Sadar, Bu
sesadar-sadarnya. Kemarin saya ngobrol sama dia di rumahnya dik Koing,” jawab
Kasim, diiyakan Kadir.
“Dia pacar anda?”
“Iya, Pak eeeh Bu
kepala sekolah.”
“ Apa Bu Linda tahu
anda pacarnya dia?”
“Tahu, Bu.”
“Wuuuuu … Bujang tak
punya malu. Sudah buntu ngaku dekat sama Bu Guru,” teriak siswa kelas lima.
Riuh suasananya.
Tak mau mengalah. Bu
kepala sekolah akhirnya memanggil Koing dan Bu Guru Linda untuk sekadar
konfirmasi.
Kenapa Kasim
bersikukuh ingin ketemu Bu Guru Linda dan mengaku kekasihnya. Malah
tega-teganya mengaku kalau dia dan Bu Gur akan segera menikah dalam waktu
dekat.
“Maaf, Bu Retno, agak
terlambat,” ucap Bu Guru Linda. Agak terlambat beberapa menit tiba di ruangan
kepala sekolah karena harus membereskan buku-buku di laci yang sempat
berserakan sehabis memberi pelajaran praktik.
“Taka pa-apa, Bu,”
jawab Bu Retno. Dia kemudian menjelaskan maksud pemanggilan anak buahnya itu.
“Apa ibu kenal dengan
dia?”
“Kenal di jalan, Bu.”
Wuuuu. Siswa kembali
bersorak. Gaduh.
“Maksud ibu?”
“Beberapa hari yang
lalu, abang ini menegur saya dekat pengkolan. Menawari saya pulang dengan
menumpang motornya. Saya tak mau karena rumah saya dekat, Bu …”
“Dasar bujang
lapuk.” Komentar beberapa siswa dari luar ruangan.
“Badan saja yang
besar,” teriak yang lain.
Kasim makin terdesak.
Dia tak bisa mengelak lagi karena Bu Guru Linda terus terang mengaku belum ada
niat berpacaran, apalagi berumah tangga dalam waktu dekat.
“Tapi apakah salah
bila saya, Bu kepala sekolah, mencintai Bu Guru Linda?” Tanya Kasim. Mata
memerah menahan malu dan amarah.
“Duileee … Rayuan
ikan lele. Awak memble ngaku kece,” celetuk siswa putri.
“Tidak ada yang
salah. Hak dik Kasim untuk mencintai seseorang …” Terang Bu Retno.
Kasim melirik Bu Guru
Linda. Dia berharap bu guru kesayangan siswa kelas lima ini mau mengerti
perasaannya saat ini. Sayang bertepuk sebelah tangan.
Serial Detektif Cilik
KOING (11)
Dendam tak Kesampaian
Oleh Wak Amin
SAKIT hati karena
cinta tidak berbalas, Kasim akhirnya nekat mengambil jalan pintas. Bagaimana?
Bersama Kadir, dia sengaja mencegat Koing dan Brendo di tengah jalan kala mau
pergi berangkat ke sekolah.
“Kita habisi saja
dia, Dir,” kata Kasim. Marah bercampur geram melihat Koing dan Brendo tampil gagah
serta bersemangat pergi ke sekolah dengan bersepeda.
Saat keduanya belok
kiri dan bermaksud melewati jembatan kayu, saat itulah Kasim dan Kadir keluar
dari semak belukar. Mereka sangat marah dan memandang tajam kea rah siswa
kesayangan Bu Guru Linda itu.
Belum sempat memberi
salam, Kasim secepat kilat menendang sepeda
yang dikemudikan Koing. Se peda oleng. Lalu jatuh bersam-sama Koing dan
Brendo.Keduanya. Tak terima perlakuan itu, mereka bangun lagi dan coba memberikan
perlawanan.
Hiyaaaat!
Sambil memutar badan,
Koing dan Brendo secara bergantian melepaskan tendangan disertai kepalan tinju
ke arah Kasim dan Kadir. Keduanya hanya bisa mengelak. Lalu terdesak ke dekat
jembatan.
Perkelahian semakin
seru setelah Koing berhasil menjatuhkan Kadir ke dalam air. Kini mereka berdua
hanya menghadapi Kasim seorang diri.
“Majulah abangku!”
Tantang Koing.
Ciyaaat!
Kasim melakukan
gingkang. Koing mengelak ke kiri dan kanan. Brendo tak tinggal diam. Dengan
hanya satu kali tendangan menyasar ke pantat, Kasim sempoyongan. Mengerang
kesakitan.
“Bagaimana abangku?”
Ejek Brendo.
“Cuma segitukah
kemampuan abang? Koing memanas-manasi.
Kasim memutar balik
tubuhnya, seketika berdiri dengan mengeluarkan jurus tangan kosong. Kaki kanan
ke depan, kepalan tangan bergantian mengarah ke Koing dan Brendo.
“Jurus apa itu,
Bang?” sindir Brendo, dengan gampangnya dia menghindar ke kiri dan kanan.
“Jurus badak
mengamuk, Do,” sahut Koing.
“Hei tengik. Jangan
senang dulu. Rasakan ini!” Kasim mundur beberapa langkah ke belakang, lalu
setengah berlari dan melompat melepaskan tendangan ke muka Koing dan Brendo.
Kena sedikit. Lumayan sakit.
“Bagaimana tuan muda?
Enak kan?” Gantian Kasim yang mengejek.
“Itu sih pukulan semut joget, Bang Kasim. Bukan apa-apa,” kata Koing. Dia bersama Brendo mundur beberapa langkah ke dekat jembatan.
“Coba tangkis ini,
kunyuk!”
Kasim melepaskan
tendangan menyusur tanah. Sayang, tendangan itu dibalas Koing dan Brendo dengan
hanya melompat-lompat sembari tertawa cekikikan.
“Terus serang abang.
Teruuus …” Teriak Brendo.
Terbakar emosi, Kasim
membabi buta melepaskan pukulan dan tendangan. Saat terdesak, Brendo ter kena
pukulan di kedua paha. Koing bergerak ke samping, mendaratkan pukulan keras ke
punggung la wan.
“Itu mah kecil,” ejek
Kasim.
“Kalau ini, Bang
Kasim. Gimana?”
Brendo melepaskan
anak betetan, tepat mengenai kepala Kasim. Darah segar mengucur. Sempat ling lung,
dengan mudahnya Koing dan Brendo mendorong tubuh pemud kampung itu ke depan.
Jatuh bergulingan sebelum akhirnya masuk sungai.
“Horeee. Hidup Koing,
mampuslah Kasim?” Teriak beberapa warga, yang tadinya sempat lewat hendak ke
sawah, melihat Koing dan Brendo berkelahi, bergegas mendekat.
Di lain tempat, di
sekolah, Bu Guru Linda heran bangku yang biasanya diduki Koing dan Brendo
kosong.
“Kemana ya keduanya?”
Bu Guru Linda bertanya dalam hati.
“Anak-anak. Lihat
Koing sama Brendo enggak?”
“Tidaaak, Bu Guru.”
Jawab siswa serentak.
Bu Guru Linda menemui kepala sekolah, ternyata
Bu Retno juga tak tahu di mana keberadaan Koing dan Brendo.
Sakitkah mereka?
“Ah tak mungkin. Atau
jangan-jangan …” Gusar sekali, Bu Guru Linda.
Meski kepikiran Koing dan Brendo, Bu Guru Linda
tetap mengajar di kelas. Tampil seperti biasa, berharap anak didiknya tak ikut
gelisah seperti dirinya.
Saat jam istirahat pertama,
seorang warga datang. Tampak buru-buru. Dia hanya memberitahu Bu Guru Linda
bahwa Koing dan Brendo ada di jembatan kayu.
“Mereka sehat-sehat
saja, Bu Guru,” ucap pria berambut gimbal itu.
“Apa mereka …?”
“Ceritanya panjang,
Bu Guu,” jelas Pak Raden.
“Bisa antarkan saya
ke sana, Pak?”
“Dengan senang hati
Bu Guru.. Mari!”
Warga masih mengerumuni Koing dan Brendo.
Berteriak-teriak menyebut nama keduanya. Diangkat tubuh tinggi-tinggi, lalu dilempar dan diayun kesana kemari. Begitulah
seterusnya berulangkali.
Sementara Kasim dan
Kadir jadi tontonan ibu-ibu dan remaja puteri yang hendak ke sawah memanen jagung. Sebagian besar mereka masih penasaran
terhadap dua bujangan itu. Apalagi dari segi tampang, tak lebih buruk dari para
bujang kebanyakan.
“Nah, itu Bu Guru
Linda. Ayo Do, kita temui beliau,” kata Koing.
“Bu Guru … Bu Guru
…!” Teriak keduanya.
Bu Guru Linda tak
sempat algi menanyai keadaan keduanya. Dia peluk bergantian Koing dan Brendo
dengan hangat dan penuh kasih sayang.
“Maafkan ibu ya nak,”
ujat Bu uru Linda sambil mengusap bola matanya yang mulai basah digenangi air mata.
Koing dan Brendo cuma
diam dan menunduk.
“Ibu telah
menyusahkan kalian berdua,” jelas Bu Guru Linda.
Suasana hangat cuma
sesaat, karena setelah itu berubah riuh tatkala Kasim dan Kadir, tiba-tiba
berlutut di hadapan Bu Guru Linda.
Ada apa?
“Maafkan kami berdua
Bu Guru. Kami berjanji tak akan mengganggu Bu Guru lagi,” aku Kasim dengan nada
suara serak-serak basah.
“Gombal. Jangan
percaya, Bu. Hari ini minta maaf, besok-besok ganggu ibu lagi,” sahut beberapa
warga paruh baya.
“Betul, Bu Guru.
Orang seperti mereka ini di buang saja ke sungai. Biar mati sekalian,” timpal
yang lain.
“Apalagi mereka bukan
warga kampung kita. Bikin onar saja,” teriak lelaki berkepala gundul.
Bu Guru Linda lama
terdiam. Dia baru bicara setelah Pa Erte datang menghampiri. Agak terlambat datang karena ada urusan di
kelurahan yang harus diselesaikan.
“Bagaimana Pak
Erte?”Tanya beberapa warga yang datang belum lama berselang.
“Kita serahkan saja
ke kampung sebelah,” jelas Pak Erte dengan suara lantang berwibawa.
“Setuju Pak Erte,”
kata yang lain.” Tapi kita arak dan suruh mereka buka pakaian.”
“Betul Pak Erte. Biar
dia kapok.”
“Setuju Pak Erte.”
“Tenang, tenang
wargaku sekalian. Kita juga belum tahu persis duduk persoalannya.Jadi untuk
sementara biar saya sama bapak-bapak lain mengantar nak Kasim dan Kadir ini ke kampung
mereka. Kita selesaikan baik-baik. Mudah-mudahan saja berhasil.”
Warga terdam.
“Bagaimana Bu Guru
Linda?”
“Aku nurut apa kata
bapak sajalah,” jawab Bu Guru Linda.
“Kamu, Ing?”
“Sama dengan jawaban
Bu Guru Linda.”
“Do?!”
“Akur, Pak Erte ….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar