Minggu, 07 Juni 2015

koing (10-11)



Serial Detektif Cilik
KOING (10)

Bertepuk Sebelah Tangan
Oleh Wak Aminhalus rayuan


“SELAMAT siang, Bu Guru! Pulang mengajar ya?!” Sapa Kasim, remaja tanggung kampung sebelah, tak jauh dari rumah sekolah Koing dan Brendo.
Yang merasa disapa tentu berusaha ramah, menjawab seperlunya, tak terkesan dibuat-buat, apalagi balik untuk menggoda.
“Mari Bu … Bang Kasim antar pulang.” Tawar Kasim seraya mengikuti kemana langkah Bu Guru Linda dengan sepeda motornya.
“Terima kasih, Bang. Tak usahlah. Lagian rumah  saya dekat sini. Tak jauh,” jawab Bu Guru Linda, tersenyum manis.
Senyum manis itulah yang bikin Kasim kian penasaran. Disusulnya Bu Guru Linda dengan berjalan kaki. Dia berusaha merayunya. Sayang sang guru ramah itu halus menolak rayuannya.
Tak berhasil hari ini, besoknya dia coba lagi. Tapi hasilnya tetap sama. Bu Guru Linda menolak ajakan Kasim menumpang pulang dengan motornya.
Berulangkali ditolak, Bang Kasim memberanikan diri datang ke rumah Bu Guru. Karena sore itu lagi memberi les di sekolah, yang ditemui tak ada di rumah. Disusul ke sekolah, sudah pulang ke rumah.
Bolak-balik mencari Bu Guru Linda, akhirnya ketemu di kediaman Koing. Betapa senangnya Kasim. Tapi bagaimana dengan Bu Guru Linda? Senangkah dia?
“Sore Bu Linda!” Sapa Kasim, turun dari motornya, bermaksud menyalami Bu Linda.
“Bang Kasim lagi,” jawab Bu Guru Linda ramah seraya membungkukkan badan tanda member hormat
“Pacarnya Bu Guru ya?” Tanya Koing.
“Betul sekali, dik.” Kata kasim tersenyum riang.
‘Bukan, Ing. Ibu belum punyalah.”
“Oooo syukurlah kalau begitu,” jawab Koing, melirik Kasim yang sempat cemberut.
“Baru akan dik … adik siapa nama?”
“Koing, namaku Bang.”
“Benar dik Koing. Baru akan pacaran. Boleh kan?”
“Boleh saja, asalkan yang bersangkutan mau. Kalau tidak, abang lebih baik pulang duluan saja.”
“Yang mengantar Bu Guru siapa. Kasihan cewek cakep pulangnya jalan kaki,” ujar Kasim beralasan.
“Biarlah saya pulang sendirian, Bang Kasim,” jelas Bu Guru Linda.
“Jangan Bu. Sudah sore. Nanti kamu digigit nyamuk. Sakit lagi. Kalau sampai sakit, lalu siapa yang ngajar.”
“Saya pulangnya tidak sendirian Bang Kasim. Ditemani seseorang …”
Kasim terkejut. Cuma sesaat.
“Boleh tahu siapa dia, Bu Guru?”
“Abang mau tahu?
“Iya.”
“Benar mau tahu?”
Mengangguk.
“Ini orangnya,” ucap Bu Guru Linda sembari mengusap penuh jasuh sayang kepalanya Koing.
“Oooo jadi Koing. Pakai apa, Bu Guru?”
“Sepedalah abang.” Kata Koing.
“Enak pakai motor. Tak capek, cepat sampai.”
Tak ada habis-habisnya debat kusir. Koing berinisiatif mengeluarkan sepeda BMX-nya. Yang ngebonceng Bu Guru Linda, karena badannya lebih besar dari Koing.
Dasar playboy kelas tengik, keesokan harinya, dengan ditemani Kadir, datang berdua menemui Bu Guru Linda di sekolah. Sempat dicegah guru piket, keduanya tetap ngotot ingin bersua sang idaman hati, akhirnya diterima kepala sekolah.
Para siswa yang berkerumun di ruang kepala sekolah pada ketawa terpingkal-pingkal melihat ulah Kasim yang tetap ngotot ingin bertemu Bu Guru Linda.
“Apa anda sadar kalau Bu Guru Linda memang mengenal anda?” Tanya kepala sekolah dengan nada lemah lembut.
“Sadar, Bu sesadar-sadarnya. Kemarin saya ngobrol sama dia di rumahnya dik Koing,” jawab Kasim, diiyakan Kadir.
“Dia pacar anda?”
“Iya, Pak eeeh Bu kepala sekolah.”
“ Apa Bu Linda tahu anda pacarnya dia?”
“Tahu, Bu.”
“Wuuuuu … Bujang tak punya malu. Sudah buntu ngaku dekat sama Bu Guru,” teriak siswa kelas lima.
Riuh suasananya.
Tak mau mengalah. Bu kepala sekolah akhirnya memanggil Koing dan Bu Guru Linda untuk sekadar konfirmasi.
Kenapa Kasim bersikukuh ingin ketemu Bu Guru Linda dan mengaku kekasihnya. Malah tega-teganya mengaku kalau dia dan Bu Gur akan segera menikah dalam waktu dekat.
“Maaf, Bu Retno, agak terlambat,” ucap Bu Guru Linda. Agak terlambat beberapa menit tiba di ruangan kepala sekolah karena harus membereskan buku-buku di laci yang sempat berserakan sehabis memberi pelajaran praktik.
“Taka pa-apa, Bu,” jawab Bu Retno. Dia kemudian menjelaskan maksud pemanggilan anak buahnya itu.
“Apa ibu kenal dengan dia?”
“Kenal di jalan, Bu.”
Wuuuu. Siswa kembali bersorak. Gaduh.
“Maksud ibu?”
“Beberapa hari yang lalu, abang ini menegur saya dekat pengkolan. Menawari saya pulang dengan menumpang motornya. Saya tak mau karena rumah saya dekat, Bu …”
“Dasar bujang lapuk.”   Komentar beberapa siswa dari luar ruangan.
“Badan saja yang besar,” teriak yang lain.
Kasim makin terdesak. Dia tak bisa mengelak lagi karena Bu Guru Linda terus terang mengaku belum ada niat berpacaran, apalagi berumah tangga dalam waktu dekat.
“Tapi apakah salah bila saya, Bu kepala sekolah, mencintai Bu Guru Linda?” Tanya Kasim. Mata memerah menahan malu dan amarah.
“Duileee … Rayuan ikan lele. Awak memble ngaku kece,” celetuk siswa putri.
“Tidak ada yang salah. Hak dik Kasim untuk mencintai seseorang …” Terang Bu Retno.
Kasim melirik Bu Guru Linda. Dia berharap bu guru kesayangan siswa kelas lima ini mau mengerti perasaannya saat ini. Sayang bertepuk sebelah tangan.   
  



Serial Detektif Cilik
KOING (11)

Dendam tak Kesampaian
Oleh Wak Amin


SAKIT hati karena cinta tidak berbalas, Kasim akhirnya nekat mengambil jalan pintas. Bagaimana? Bersama Kadir, dia sengaja mencegat Koing dan Brendo di tengah jalan kala mau pergi berangkat ke sekolah.
“Kita habisi saja dia, Dir,” kata Kasim. Marah bercampur geram melihat Koing dan Brendo tampil gagah serta bersemangat pergi ke sekolah dengan bersepeda.
Saat keduanya belok kiri dan bermaksud melewati jembatan kayu, saat itulah Kasim dan Kadir keluar dari semak belukar. Mereka sangat marah dan memandang tajam kea rah siswa kesayangan Bu Guru Linda itu.
Belum sempat memberi salam, Kasim secepat kilat menendang sepeda  yang dikemudikan Koing. Se peda oleng. Lalu jatuh bersam-sama Koing dan Brendo.Keduanya. Tak terima perlakuan itu, mereka bangun lagi dan coba memberikan perlawanan.
Hiyaaaat!
Sambil memutar badan, Koing dan Brendo secara bergantian melepaskan tendangan disertai kepalan tinju ke arah Kasim dan Kadir. Keduanya hanya bisa mengelak. Lalu terdesak ke dekat jembatan.
Perkelahian semakin seru setelah Koing berhasil menjatuhkan Kadir ke dalam air. Kini mereka berdua hanya menghadapi Kasim seorang diri.
“Majulah abangku!” Tantang Koing.
Ciyaaat!
Kasim melakukan gingkang. Koing mengelak ke kiri dan kanan. Brendo tak tinggal diam. Dengan hanya satu kali tendangan menyasar ke pantat, Kasim sempoyongan. Mengerang kesakitan.
“Bagaimana abangku?” Ejek Brendo.
“Cuma segitukah kemampuan abang? Koing memanas-manasi.
Kasim memutar balik tubuhnya, seketika berdiri dengan mengeluarkan jurus tangan kosong. Kaki kanan ke depan, kepalan tangan bergantian mengarah ke Koing dan Brendo.
“Jurus apa itu, Bang?” sindir Brendo, dengan gampangnya dia menghindar ke kiri dan kanan.
“Jurus badak mengamuk, Do,” sahut Koing.
“Hei tengik. Jangan senang dulu. Rasakan ini!” Kasim mundur beberapa langkah ke belakang, lalu setengah berlari dan melompat melepaskan tendangan ke muka Koing dan Brendo. Kena sedikit. Lumayan sakit.
“Bagaimana tuan muda? Enak kan?” Gantian Kasim yang mengejek.

“Itu sih pukulan semut joget, Bang Kasim. Bukan apa-apa,” kata Koing. Dia bersama Brendo mundur beberapa langkah ke dekat jembatan.
“Coba tangkis ini, kunyuk!”
Kasim melepaskan tendangan menyusur tanah. Sayang, tendangan itu dibalas Koing dan Brendo dengan hanya melompat-lompat sembari tertawa cekikikan.
“Terus serang abang. Teruuus …” Teriak Brendo.
Terbakar emosi, Kasim membabi buta melepaskan pukulan dan tendangan. Saat terdesak, Brendo ter kena pukulan di kedua paha. Koing bergerak ke samping, mendaratkan pukulan keras ke punggung la wan.
“Itu mah kecil,” ejek Kasim.
“Kalau ini, Bang Kasim. Gimana?”
Brendo melepaskan anak betetan, tepat mengenai kepala Kasim. Darah segar mengucur. Sempat ling lung, dengan mudahnya Koing dan Brendo mendorong tubuh pemud kampung itu ke depan. Jatuh bergulingan sebelum akhirnya masuk sungai.
“Horeee. Hidup Koing, mampuslah Kasim?” Teriak beberapa warga, yang tadinya sempat lewat hendak ke sawah, melihat Koing dan Brendo berkelahi, bergegas mendekat.
Di lain tempat, di sekolah, Bu Guru Linda heran bangku yang biasanya diduki Koing dan Brendo kosong.
“Kemana ya keduanya?” Bu Guru Linda bertanya dalam hati.
“Anak-anak. Lihat Koing sama Brendo enggak?”
“Tidaaak, Bu Guru.” Jawab siswa serentak.
Bu  Guru Linda menemui kepala sekolah, ternyata Bu Retno juga tak tahu di mana keberadaan Koing dan Brendo.
Sakitkah mereka?
“Ah tak mungkin. Atau jangan-jangan …” Gusar sekali, Bu Guru Linda.
Meski  kepikiran Koing dan Brendo, Bu Guru Linda tetap mengajar di kelas. Tampil seperti biasa, berharap anak didiknya tak ikut gelisah seperti dirinya.
Saat jam istirahat pertama, seorang warga datang. Tampak buru-buru. Dia hanya memberitahu Bu Guru Linda bahwa Koing dan Brendo ada di jembatan kayu.
“Mereka sehat-sehat saja, Bu Guru,” ucap pria berambut gimbal itu.
“Apa mereka …?”
“Ceritanya panjang, Bu Guu,” jelas Pak Raden.
“Bisa antarkan saya ke sana, Pak?”
“Dengan senang hati Bu Guru.. Mari!”
Warga  masih mengerumuni Koing dan Brendo. Berteriak-teriak menyebut nama keduanya. Diangkat tubuh tinggi-tinggi, lalu  dilempar dan diayun kesana kemari. Begitulah seterusnya berulangkali.
Sementara Kasim dan Kadir jadi tontonan ibu-ibu dan remaja puteri yang hendak ke sawah memanen  jagung. Sebagian besar mereka masih penasaran terhadap dua bujangan itu. Apalagi dari segi tampang, tak lebih buruk dari para bujang kebanyakan.
“Nah, itu Bu Guru Linda. Ayo Do, kita temui beliau,” kata Koing.
“Bu Guru … Bu Guru …!” Teriak keduanya.
Bu Guru Linda tak sempat algi menanyai keadaan keduanya. Dia peluk bergantian Koing dan Brendo dengan hangat dan penuh kasih sayang.
“Maafkan ibu ya nak,” ujat Bu uru Linda sambil mengusap bola matanya yang mulai basah  digenangi air mata.
Koing dan Brendo cuma diam dan menunduk.
“Ibu telah menyusahkan kalian berdua,” jelas Bu Guru Linda.
Suasana hangat cuma sesaat, karena setelah itu berubah riuh tatkala Kasim dan Kadir, tiba-tiba berlutut di hadapan Bu Guru Linda.
Ada apa?
“Maafkan kami berdua Bu Guru. Kami berjanji tak akan mengganggu Bu Guru lagi,” aku Kasim dengan nada suara serak-serak basah.
“Gombal. Jangan percaya, Bu. Hari ini minta maaf, besok-besok ganggu ibu lagi,” sahut beberapa warga paruh baya.
“Betul, Bu Guru. Orang seperti mereka ini di buang saja ke sungai. Biar mati sekalian,” timpal yang lain.
“Apalagi mereka bukan warga kampung kita. Bikin onar saja,” teriak lelaki berkepala gundul.
Bu Guru Linda lama terdiam. Dia baru bicara setelah Pa Erte datang menghampiri.   Agak terlambat datang karena ada urusan di kelurahan yang harus diselesaikan.
“Bagaimana Pak Erte?”Tanya beberapa warga yang datang belum lama berselang.
“Kita serahkan saja ke kampung sebelah,” jelas Pak Erte dengan suara lantang berwibawa.
“Setuju Pak Erte,” kata yang lain.” Tapi kita arak dan suruh mereka buka pakaian.”
“Betul Pak Erte. Biar dia kapok.”
“Setuju Pak Erte.”
“Tenang, tenang wargaku sekalian. Kita juga belum tahu persis duduk persoalannya.Jadi untuk sementara biar saya sama bapak-bapak lain mengantar nak Kasim dan Kadir ini ke kampung mereka. Kita selesaikan baik-baik. Mudah-mudahan saja berhasil.”
Warga terdam.
“Bagaimana Bu Guru Linda?”
“Aku nurut apa kata bapak sajalah,” jawab Bu Guru Linda.
“Kamu, Ing?”
“Sama dengan jawaban Bu Guru Linda.”
“Do?!”
“Akur, Pak Erte ….”




   






Tidak ada komentar:

Posting Komentar