Jumat, 19 Juni 2015

Koing (26-29)



Serial Detektif Cilik
KOING (26)
Memukul Kentongan
Wak Amin


KAWANAN pencuri nekat menerobos hutan belakang sekolah setelah Pak Budi menabuh kentongan pertanda di kampung ada marabahaya. Kentongan terus ditabuh. Semakin keras dan bersahut-sahutan. Warga berhamburan ke luar rumah. Tanpa dikomando, mereka menyusuri awal kentongan yang ditabuh. Ternyata bersumber dari rumah sekolah Koing dan Brendo.
 “Ayo kita ke sana!” Teriak beberapa warga sambil mengepalkan tinju barengan ke atas dengan kain sarung melingkar di pinggang.
“Ayo,” jawab yang lain serentak penuh semangat.
Sementara warga bersama-sama menuju rumah sekolah, Koing cs kecuali Pak Budi yang menunggu di depan pintu gerbang sekolah, mengikuti jejak kawanan pencuri. Mereka susuri jalan setapak menuju ke sebuah sungai kecil membelah kampung sebelah.
“Senternya, Wak.” Kata Brendo.
Kawanan pencuri yang dikepalai Kasim akhirnya sampai di tepian sungai. Ternyata perahu yang mereka gunakan tadinya untuk menyeberang hilang. Hanyut dibawa arus air pasang.
“Aduh … sialan,” teriak Kasim.
“Bos .. tengoklah!” Kadir memperlihatkan tali penambat perahu yang mash utuh melilit di cagak jembatan kayu.
“Pasti ada orang yang usil, Bos,” terka Kadir.
“Kalau iya, siapa?” Tanya Karim.
“Berpikir bodoh,” kata Kasim yang panik mau lari ke mana. Sementara Koing cs semakin dekat menemukan jejak pelarian mereka.
Berenang takut. Empat kawanan pencuri ini nekat melintasi jalan tanah perkebunan sawit yang baru dibuka. Jalannya bagus, memang. Tapi belum ada orang yang melewatinya pada malam hari.
“Bos, apa kita tak salah jalan. Ini kan jalan angker, orang menyebutnya kalau malam,” ujar Karim dengan raut muka ketakutan.
“Kamu takut hantu apa?”
“Iya Bos. Hantu di sini katanya bias …” Tiba-tib Karim tertawa sendiri.
“Bisa apa, haaa?” Kasim mulai naik pitam.
“Goyang, Bos,” jawab Karim sambil menirukan penyanyi dangdut bergoyang di atas panggung.
Kasim yang semula naik pitam akhirnya ketawa juga mendengar penuturan polos anak buahnya, Karim.
“Tapi kita tak ada jalan lain. Coba kau tengok itu, Rim!”
Sayup-sayup terdengar suara orang dengan kerlap-kerlip lampu obor karena diterpa angin malam yang berhembus tidak terlalu kencang. Suara itu semakin lama semakin nyaring terdengar.
“Tancap saja, Bos.” Usul Kadir.
Mereka nekat menyusuri jalan tanah itu, Menembus kepekatan malam. Tanpa lampu. Tanpa suara, apalagi rumah di kiri dan kanan jalan.
“Stooop!” Kata Pak Budi.
Mereka berhenti  persis di tepian sungai tak jauh dari pangkal jalan bertanah merah itu. Mereka yakin kawanan pencuri kabur melewati jalan yang baru saja selesai dibangun itu.
“Bagaimana bapak-bapak?” Tanya Pak Erte.
“Kejar sampai dapat,” teriak warga serentak.
Mereka mengejar dari dua arah. Arah pertama menelusuri jalan tanah lebar menghubungkan per kebunan kepala sawit. Arah satunya menyusuri tepian sungai melewati pabrik karet dan panglong kayu.   


Serial Detektif Cilik
KOING (27)

TENGAH malam pencarian masih terus dilakukan. Ada yang menggunakan sepeda motor, berjalan kaki dan bersepeda. Koing dan Brendo berboncengan mengikuti rombongan bersepeda menyusuri jalan yang masih hutan perawan di kanan dan kirinya.
Sementara di belakang mereka, rombongan Pak Budi, Wak Ji dan warga pejalan kaki sambil menuntun beberapa ekor anjing. Tak kenal lelah, pantang menyerah. Padahal hampir satu jam lamanya mereka menggunakan kaki untuk berjalan.
 “Hati-hati, Ing. Batu …” Ucap Brendo. Besar juga itu batu, sehingga Koing harus berhenti dan melewatinya  dengan mengangkat tinggi sepeda BMX nya.
“Itu dia mereka!” Kata Koing separo berteriak, ketika hendak mengayuh lagi sepedanya, melihat sekelebat bayang-bayang di semak belukar kanan jalan.
Bersama beberapa warga yang mengendarai sepeda motor, Koing dan Brendo membelokkan sepe danya ke kanan. Mengejar kelebatan bayang-bayang itu sampai ke ujung jalan.
Gedebuk. Aduh …
Salah seorang kawanan pencuri jatuh setelah kakinya menginjak batu. Tanpa menunggu aba-aba, Koing dan Brendo  menarik kaki si pencuri sehingga tak sempat berdiri dan lari lagi.
“Ampun, Pak. Ampun, Pak!” Ucap si pencuri seraya mengangkat kedua tangannya.
“Mana temanmu yang lain?” Tanya salah seorang pemuda berkumis tebal.
“Tidak … tidak tahu, Pak. Sungguh …!”
“Bohong. Cepat katakan. Atau saya akan telanjangi kamu,” ancam pemuda berambut gondrong sampai kaki.
“Disana, Pak barangkali!” Menunjuk ke kanan. Gelap memang. Tapi ada jalan setapak. Tidak becek. Gelap tidak pekat.
Mendengar pengakuan si pencuri, ditemani warga yang lain, Koing dan Brendo terus melakukan pengejaran. Dalam tempo setengah jam, tiga kawanan pencuri yang lain berhasil dibekuk, untuk ke mudian diserahkan ke Pak Erte, Pak Budi dan Wak Ji dengan disaksikn warga yang marah dan geram.
Sampai pagi tiba, Kasim Cs masih diamankan di rumah sekolah. Mereka menjadi tontonan murid dan warga yang ingin melihat muka sang pencuri yang beberapa kali berhasil menggondol barang curiannya.
“Apa kubilang Pak Erte. Tak mingkin jera orang ini,” kata seorang warga yang kesal dan marah pada Kasim beserta teman-temannya.
Pak Erte tampak asyik berbincang-bincang dengan Bu Retno, Pak Budi dan beberapa guru lain yang ikut hadir menonton kawanan pencuri Kasim Cs pasca pembekukan.
“Seret saja, Pak Erte. Biar mampus dia,” terik warga lain yang mulai naik pitam setelh melihat ulah Kasim  dan teannya yang belum juga mau mengakui perbuatan mereka.
Namun, ketika mereka dihadapkan dengan Bu Guru Linda, buru-buru Kasim menyatakan cintanya sambil berurai air mata.
“Maafkan Kasim Bu Guru. Kasim rela di penjara asalkan Bu Guru mau Kasim kawini.”
“Wuuu … rayuan hantuuuu! “Warga sontak bersorak mengejek Kasim.
“Kasim mengaku salah telah mencuri. Tapi itu semua demi cinta Kasim pada ibu guru …”
“Wuuu … lanang tak punya malu …!”
“Tak percaya duhai ibu … belahlah dadaku. Dada Kasim ini. Kasim rela demi ibu guru.”
“Wuuu … congkel saja Bu jantungnya.” Teriak warga.
“Sudah dicongkel, makan bulat-bulat,” sahut warga yang lain.
Rayuan itu masih berlangsung beberapa saat sebelum petugas keamanan  membawa Kasim Cs dengan mobil tahanan menuju kecamatan untuk diamankan sementara waktu sambil menunggu proses penyidikan dan persidangan.

 




Serial Detektif Cilik
KOING (28)

Sepucuk Surat
Wak Amin

KETIKA dibesuk kedua orangtuanya, Kasim meraung-raung. Entah apa yang diraung-raungkannya, yang pasti jadi rame seisi rumah tahanan. Selain petugas keamanan dan penjaga tahanan, tingkah Kasim jadi tontonan sesama tahanan dan para pembesuk yang mulai berdatangan.
 “Bapak, tolong saya. Saya tak mau masuk bui. Tak enak,” jerit Kasim sambil meronta-ronta minta belas kasihan.
Beberapa petugas menenangkannya, tak lama kemudian kedua orangtua Kasim memberi semangat dan nasihat. Karena sudah tidak lagi menjerit dan meronta-ronta, sebagian dari mereka yang menyaksikan adegan barusan, berangsur-angsur membubarkan diri.
“Makanlah dulu, Sim. Nanti kamu sakit,” ucap ayah Kasim.
“Makan yuk, Nak. Nanti ibu yang menyuapi,” sahut sang ibu seraya menyuap Kasim dengan beberapa sendok nasi berkuah sop daging.
Lahap nian Kasim makan. Satu rantang nasi berikut lauk ikan goreng, sop daging dan pindang belida ludes dia santap sendirian. Tentu kedua orantuanya senang melihat cara makan Kasim, sang buah hati belahan jiwa.
“Ini sedikit uang dari bapakmu,” kata sang ibu memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu kertas, diterima Kasim dengan sukacita.
“Ini juga ada titipan dari nenekmu,” timpal sang ayah, juga memberikan beberapa lembar uang kertas. Tapi bukan puluhan ribu. Hanya sedikit uang logam lima ratusan dan ribuan.
“Kalau ada apa-apa, katakanlah sekarang, Nak. Tapi kalau tidak ada, tak mengapa karena besok-besok kami kesini lagi, membesukmu. Tak usah takut anakku. Allah SWT bersamamu dan akan selalu menjagamu,” ujar sang ibu, menangis terharu.
“Anggap sajalah ini rumahmu. Jadi kamu tak takut dan stres. Bersikaplah baik dengan sesamamu karena itu penting buatmu,” kata sang ayah.
Meresap nian nasihat yang diberikan kedua orangtuanya. Saking meresapnya, Kasim hanya menunduk dengan bola mata basah karena genangan air mata. Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya. Tapi dia sadar itu tak membuahkan hasil apa-apa.
“Saya hanya titip surat saja ya Bu,” ucapnya lirih.
Surat itu tak terlalu panjang. Tapi isinya itu yang bikin kita merinding, meriang-riang. Saat-saat seperti ini, berada di balik terali besi, Kasim masih mampu mencurahkan perasaan hatinya pada seseorang dengan tulus dan ikhlas.
Kedua orangtuanya yang ikut menemani Kasim menulis sepucuk surat hanya bisa geleng-geleng kepala. Begitu lancer dan cepat ia rangkai kata demi kata. Surat itu ditulis di atas secarik kertas, lalu diserahkan kepada ibunda tercinta.
“Tolong ya Bu sampaikan. Nama dan alamatnya ada di bawah,” ucap Kasim yang tampak lebih tenang dari sebelumnya.
“Ada pesan lain yang Kasim hendak sampaikan pada ibu dan bapakmu, Nak?” Tanya sang bunda.
Kasim menggelengkan kepala.
“Cukup itu saja, Bu, Yah.” Katanya yang secara bersamaan jam besuk berakhir. Satu persatu para pembesuk mulai pamitan dan keluar rapi dari rumah tahanan itu.
Kedua mata Kasim masih tak lepas dari kaki lincah kedua orangtuanya, yang meski sudah bukan muda lagi, tetap tegap dan lancar melangkah kemana pergi.
Ketiga rekannya, satu di antaranya Kadir, mendekati Kasim. Mereka bicara empat mata, dari hati ke hati. Bicara tentang kesalahan, sebuah penyesalan dan berharap bisa melakukan hal-hal baru nantinya selepas ‘beristirahat’ di tempat yang sama sekali baru.
Sementara itu, menjelas sore, saat Bu Guru Linda menyapu dan menyiram aneka bunga dan tanaman hias di teras depan, sebuah sepeda motor berhenti. Seorang laki-laki dan wanita yang tak lain ibu bapaknya Kasim turun dari motor dan bertanya ramah kepada Bu Guru Linda.
Tak ada pembicaraan serius antara mereka bertiga selain kedua ortu Kasim memberikan sepucuk surat, diterima Bu Guru Linda dengan tangan terbuka, dan setelah iu berpisah serta saling menyibukkan diri dengan aktivitasnya masing-masing.


Serial Detektif Cilik
KOING (29)

Badai Pasti Berlalu
Wak Amin       
LEPAS Isya’, kala menjelang tidur di peraduan, surat yang dikirim Kasim, Bu Guru Linda buka dan baca dengan hati yang tenang. Berikut isinya ….
“Untukmu, ibu guruku. Ketika kutulis surat ini dihadapan kedua orangtuaku, aku sudah berada di tem pat yang lain. Tempat yang sama sekali berbeda. Tempat yang asing dan belum pernah terpikirkan olehku sebelumnya …
Ibu guruku. Sejak kukutakan cintaku padamu, saat di sekolah waktu itu, terus terang Bu, sampai kini aku masih penasaran. Aku berharap ada jawaban darimu, rupanya tidak. Tak mengapa  ibu. Yang penting aku sungguh-sungguh mencintaimu ibu. Cintaku padamu tulus dari relung hati suciku yang paling dalam …
Aku mencintaimu bukan karena aku minta perhatian karena telah berbuat dosa dan kesalahan. Men curi barang orang lain yang bukan menjadi hakku ibu. Bukan itu, Bu. Aku mencintai dan menyayangi mu karen aku melihat ada aku di wajahmu. Saat kau tidur, makan dan mengajar anak-anak di sekolah, seolah aku berada di belahan rambutmu yang terurai hitam sebatas bahu ibu ...
Percayalah ibu. Aku tidak main-main. Meski aku juga tidak akan memaksamu menerima cintaku. Ta pi aku hanya ingin kau mengerti perasan hatiku ibu. Perasaan seorang laki-laki yang ingin ada wanita di sampingnya. Tempat bertukar kata, berganti sapa dan tempt mencurahkan segala keluh kes dalam relung jiwa.
Percayalah ibu guruku. Aku telah berusaha semampuku untu melupakanmu. Aku telah bersusah pa yah untuk sekadar berpaling darimu. Tapi aku tetap tak bisa ibu. Tidur tak nyenyak, makan pun dibuat enak.  Aku terkadang berpikir ibu, aku ini buan siapa-siapa di matamu. Aku adalah orang yang terbu ang, tersisih dan terkungkung dalam dosa dan kesalahan …….
Tolonglah aku ibu. Aku akan berterima kasih padamu sekiranya engku dengan jiwa yang besar mene rima kata hatiku, perasaan cintaku yang selalu berbunga-bunga padamu. Aku akan senang duhai ibuku jika kau sudi buka sedikit pintu hatimu buatku …
 Sekali lagi wahai ibu. Aku tunggu jawabanmu ibu. Sehari, seminggu, sebulan, setahun atau mungkin lebih dari iutu. Sampai mati, sampai akhir hayat di kandung badan, aku selalu tunggu secuil kata cin tamu untukku, Kasim yang tak punya malu …
Sekiranya engkau sudi menjengukku barang sesaat, aku akan berterima kasih padamu ibu. Akan akan lega. Aku akan puas dan aku akan katakan pada dunia bahwa inilah Kasim, yang meski  hina dina, ber hasil berdiri sama tinggi, sama rendah dan sama kaki …
Titip salam buat Koing dan Brendo ibu. Datanglah menjengukku kalau mereka ada waktu. Aku tunggu dan dengan senang hati duhai ibu aku nantikan selalu. Aku katakan kepada keduanya, terima kasih adikku, ini aku kakakmumu yang telah membuat malu …
Terakhir ibu. Sebelum surat ini kuakhiri, perkenankan aku meminta maaf padamu atas kelancangan ya ng telah kuperbuat selama ini padamu, wahai Bu Linda, kalau boleh kueja, kekasih hatiku. Aku ak an tenang sekiranya engkau haturkan maaf beribu maaf, member kesempatan padaku untuk mem perbaiki diri dan menjalin kembali benang putus tali silaturahmi ….”

Wassalam
Dari Kasim
Calon kekasihmu

Surat itu, setelah dibaca berulangkali oleh Bu Guru Linda, dilipat kembali dan ia masukkan ke dalam laci meja kerjanya.
Di luar angin bertiup lambat. Langit cerah. Bulan bersinar terang. Malam yang tidak pekat, gulita seperti malam-malam kemarin. Bintang bertaburan menghiasi angkasa ceria.
Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan pertanda malam bergerak larut. Satu-satu warga telah pulas di peraduan. Begitu juga dengan Bu Guru Linda yang tersenyum lega ketika menutup mata menyambu pagi bahagia keesokan harinya. (TAMAT)



 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar