Serial Detektif Cilik
KOING (26)
Memukul Kentongan
Wak Amin
KAWANAN pencuri nekat
menerobos hutan belakang sekolah setelah Pak Budi menabuh kentongan pertanda di
kampung ada marabahaya. Kentongan terus ditabuh. Semakin keras dan
bersahut-sahutan. Warga berhamburan ke luar rumah. Tanpa dikomando, mereka
menyusuri awal kentongan yang ditabuh. Ternyata bersumber dari rumah sekolah
Koing dan Brendo.
“Ayo kita ke sana!” Teriak beberapa warga
sambil mengepalkan tinju barengan ke atas dengan kain sarung melingkar di
pinggang.
“Ayo,” jawab yang
lain serentak penuh semangat.
Sementara warga
bersama-sama menuju rumah sekolah, Koing cs kecuali Pak Budi yang menunggu di
depan pintu gerbang sekolah, mengikuti jejak kawanan pencuri. Mereka susuri
jalan setapak menuju ke sebuah sungai kecil membelah kampung sebelah.
“Senternya, Wak.”
Kata Brendo.
Kawanan pencuri yang
dikepalai Kasim akhirnya sampai di tepian sungai. Ternyata perahu yang mereka
gunakan tadinya untuk menyeberang hilang. Hanyut dibawa arus air pasang.
“Aduh … sialan,”
teriak Kasim.
“Bos .. tengoklah!”
Kadir memperlihatkan tali penambat perahu yang mash utuh melilit di cagak
jembatan kayu.
“Pasti ada orang yang
usil, Bos,” terka Kadir.
“Kalau iya, siapa?”
Tanya Karim.
“Berpikir bodoh,”
kata Kasim yang panik mau lari ke mana. Sementara Koing cs semakin dekat
menemukan jejak pelarian mereka.
Berenang takut. Empat
kawanan pencuri ini nekat melintasi jalan tanah perkebunan sawit yang baru
dibuka. Jalannya bagus, memang. Tapi belum ada orang yang melewatinya pada malam
hari.
“Bos, apa kita tak
salah jalan. Ini kan jalan angker, orang menyebutnya kalau malam,” ujar Karim
dengan raut muka ketakutan.
“Kamu takut hantu
apa?”
“Iya Bos. Hantu di
sini katanya bias …” Tiba-tib Karim tertawa sendiri.
“Bisa apa, haaa?”
Kasim mulai naik pitam.
“Goyang, Bos,” jawab
Karim sambil menirukan penyanyi dangdut bergoyang di atas panggung.
Kasim yang semula
naik pitam akhirnya ketawa juga mendengar penuturan polos anak buahnya, Karim.
“Tapi kita tak ada
jalan lain. Coba kau tengok itu, Rim!”
Sayup-sayup terdengar
suara orang dengan kerlap-kerlip lampu obor karena diterpa angin malam yang berhembus
tidak terlalu kencang. Suara itu semakin lama semakin nyaring terdengar.
“Tancap saja, Bos.”
Usul Kadir.
Mereka nekat
menyusuri jalan tanah itu, Menembus kepekatan malam. Tanpa lampu. Tanpa suara,
apalagi rumah di kiri dan kanan jalan.
“Stooop!” Kata Pak
Budi.
Mereka berhenti persis di tepian sungai tak jauh dari pangkal
jalan bertanah merah itu. Mereka yakin kawanan pencuri kabur melewati jalan
yang baru saja selesai dibangun itu.
“Bagaimana
bapak-bapak?” Tanya Pak Erte.
“Kejar sampai dapat,”
teriak warga serentak.
Mereka mengejar dari
dua arah. Arah pertama menelusuri jalan tanah lebar menghubungkan per kebunan
kepala sawit. Arah satunya menyusuri tepian sungai melewati pabrik karet dan
panglong kayu.
Serial Detektif Cilik
KOING (27)
TENGAH malam pencarian
masih terus dilakukan. Ada yang menggunakan sepeda motor, berjalan kaki dan
bersepeda. Koing dan Brendo berboncengan mengikuti rombongan bersepeda
menyusuri jalan yang masih hutan perawan di kanan dan kirinya.
Sementara di belakang
mereka, rombongan Pak Budi, Wak Ji dan warga pejalan kaki sambil menuntun
beberapa ekor anjing. Tak kenal lelah, pantang menyerah. Padahal hampir satu jam
lamanya mereka menggunakan kaki untuk berjalan.
“Hati-hati, Ing. Batu …” Ucap Brendo. Besar
juga itu batu, sehingga Koing harus berhenti dan melewatinya dengan mengangkat tinggi sepeda BMX nya.
“Itu dia mereka!”
Kata Koing separo berteriak, ketika hendak mengayuh lagi sepedanya, melihat sekelebat
bayang-bayang di semak belukar kanan jalan.
Bersama beberapa warga
yang mengendarai sepeda motor, Koing dan Brendo membelokkan sepe danya ke
kanan. Mengejar kelebatan bayang-bayang itu sampai ke ujung jalan.
Gedebuk. Aduh …
Salah seorang kawanan
pencuri jatuh setelah kakinya menginjak batu. Tanpa menunggu aba-aba, Koing dan
Brendo menarik kaki si pencuri sehingga
tak sempat berdiri dan lari lagi.
“Ampun, Pak. Ampun,
Pak!” Ucap si pencuri seraya mengangkat kedua tangannya.
“Mana temanmu yang
lain?” Tanya salah seorang pemuda berkumis tebal.
“Tidak … tidak tahu,
Pak. Sungguh …!”
“Bohong. Cepat
katakan. Atau saya akan telanjangi kamu,” ancam pemuda berambut gondrong sampai
kaki.
“Disana, Pak
barangkali!” Menunjuk ke kanan. Gelap memang. Tapi ada jalan setapak. Tidak
becek. Gelap tidak pekat.
Mendengar pengakuan
si pencuri, ditemani warga yang lain, Koing dan Brendo terus melakukan
pengejaran. Dalam tempo setengah jam, tiga kawanan pencuri yang lain berhasil
dibekuk, untuk ke mudian diserahkan ke Pak Erte, Pak Budi dan Wak Ji dengan
disaksikn warga yang marah dan geram.
Sampai pagi tiba,
Kasim Cs masih diamankan di rumah sekolah. Mereka menjadi tontonan murid dan
warga yang ingin melihat muka sang pencuri yang beberapa kali berhasil
menggondol barang curiannya.
“Apa kubilang Pak
Erte. Tak mingkin jera orang ini,” kata seorang warga yang kesal dan marah pada
Kasim beserta teman-temannya.
Pak Erte tampak asyik
berbincang-bincang dengan Bu Retno, Pak Budi dan beberapa guru lain yang ikut
hadir menonton kawanan pencuri Kasim Cs pasca pembekukan.
“Seret saja, Pak
Erte. Biar mampus dia,” terik warga lain yang mulai naik pitam setelh melihat
ulah Kasim dan teannya yang belum juga
mau mengakui perbuatan mereka.
Namun, ketika mereka
dihadapkan dengan Bu Guru Linda, buru-buru Kasim menyatakan cintanya sambil
berurai air mata.
“Maafkan Kasim Bu
Guru. Kasim rela di penjara asalkan Bu Guru mau Kasim kawini.”
“Wuuu … rayuan
hantuuuu! “Warga sontak bersorak mengejek Kasim.
“Kasim mengaku salah
telah mencuri. Tapi itu semua demi cinta Kasim pada ibu guru …”
“Wuuu … lanang tak
punya malu …!”
“Tak percaya duhai
ibu … belahlah dadaku. Dada Kasim ini. Kasim rela demi ibu guru.”
“Wuuu … congkel saja
Bu jantungnya.” Teriak warga.
“Sudah dicongkel,
makan bulat-bulat,” sahut warga yang lain.
Rayuan itu masih
berlangsung beberapa saat sebelum petugas keamanan membawa Kasim Cs dengan mobil tahanan menuju
kecamatan untuk diamankan sementara waktu sambil menunggu proses penyidikan dan
persidangan.
Serial Detektif Cilik
KOING (28)
Sepucuk Surat
Wak Amin
KETIKA
dibesuk kedua orangtuanya, Kasim meraung-raung. Entah apa yang
diraung-raungkannya, yang pasti jadi rame seisi rumah tahanan. Selain petugas
keamanan dan penjaga tahanan, tingkah Kasim jadi tontonan sesama tahanan
dan para pembesuk yang mulai berdatangan.
“Bapak, tolong saya. Saya tak mau masuk bui.
Tak enak,” jerit Kasim sambil meronta-ronta minta belas kasihan.
Beberapa petugas
menenangkannya, tak lama kemudian kedua orangtua Kasim memberi semangat dan
nasihat. Karena sudah tidak lagi menjerit dan meronta-ronta, sebagian dari
mereka yang menyaksikan adegan barusan, berangsur-angsur membubarkan diri.
“Makanlah dulu, Sim.
Nanti kamu sakit,” ucap ayah Kasim.
“Makan yuk, Nak.
Nanti ibu yang menyuapi,” sahut sang ibu seraya menyuap Kasim dengan beberapa
sendok nasi berkuah sop daging.
Lahap nian Kasim
makan. Satu rantang nasi berikut lauk ikan goreng, sop daging dan pindang
belida ludes dia santap sendirian. Tentu kedua orantuanya senang melihat cara
makan Kasim, sang buah hati belahan jiwa.
“Ini sedikit uang
dari bapakmu,” kata sang ibu memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu
kertas, diterima Kasim dengan sukacita.
“Ini juga ada titipan
dari nenekmu,” timpal sang ayah, juga memberikan beberapa lembar uang kertas.
Tapi bukan puluhan ribu. Hanya sedikit uang logam lima ratusan dan ribuan.
“Kalau ada apa-apa,
katakanlah sekarang, Nak. Tapi kalau tidak ada, tak mengapa karena besok-besok
kami kesini lagi, membesukmu. Tak usah takut anakku. Allah SWT bersamamu dan
akan selalu menjagamu,” ujar sang ibu, menangis terharu.
“Anggap sajalah ini
rumahmu. Jadi kamu tak takut dan stres. Bersikaplah baik dengan sesamamu karena
itu penting buatmu,” kata sang ayah.
Meresap nian nasihat
yang diberikan kedua orangtuanya. Saking meresapnya, Kasim hanya menunduk
dengan bola mata basah karena genangan air mata. Ingin rasanya dia menangis
sejadi-jadinya. Tapi dia sadar itu tak membuahkan hasil apa-apa.
“Saya hanya titip
surat saja ya Bu,” ucapnya lirih.
Surat itu tak terlalu
panjang. Tapi isinya itu yang bikin kita merinding, meriang-riang. Saat-saat
seperti ini, berada di balik terali besi, Kasim masih mampu mencurahkan
perasaan hatinya pada seseorang dengan tulus dan ikhlas.
Kedua orangtuanya
yang ikut menemani Kasim menulis sepucuk surat hanya bisa geleng-geleng kepala.
Begitu lancer dan cepat ia rangkai kata demi kata. Surat itu ditulis di atas
secarik kertas, lalu diserahkan kepada ibunda tercinta.
“Tolong ya Bu
sampaikan. Nama dan alamatnya ada di bawah,” ucap Kasim yang tampak lebih
tenang dari sebelumnya.
“Ada pesan lain yang
Kasim hendak sampaikan pada ibu dan bapakmu, Nak?” Tanya sang bunda.
Kasim menggelengkan
kepala.
“Cukup itu saja, Bu,
Yah.” Katanya yang secara bersamaan jam besuk berakhir. Satu persatu para
pembesuk mulai pamitan dan keluar rapi dari rumah tahanan itu.
Kedua mata Kasim
masih tak lepas dari kaki lincah kedua orangtuanya, yang meski sudah bukan muda
lagi, tetap tegap dan lancar melangkah kemana pergi.
Ketiga rekannya, satu
di antaranya Kadir, mendekati Kasim. Mereka bicara empat mata, dari hati ke
hati. Bicara tentang kesalahan, sebuah penyesalan dan berharap bisa melakukan
hal-hal baru nantinya selepas ‘beristirahat’ di tempat yang sama sekali baru.
Sementara itu,
menjelas sore, saat Bu Guru Linda menyapu dan menyiram aneka bunga dan tanaman
hias di teras depan, sebuah sepeda motor berhenti. Seorang laki-laki dan wanita
yang tak lain ibu bapaknya Kasim turun dari motor dan bertanya ramah kepada Bu
Guru Linda.
Tak ada pembicaraan serius
antara mereka bertiga selain kedua ortu Kasim memberikan sepucuk surat,
diterima Bu Guru Linda dengan tangan terbuka, dan setelah iu berpisah serta
saling menyibukkan diri dengan aktivitasnya masing-masing.
Serial Detektif Cilik
KOING (29)
Badai Pasti Berlalu
Wak Amin
LEPAS Isya’, kala
menjelang tidur di peraduan, surat yang dikirim Kasim, Bu Guru Linda buka dan
baca dengan hati yang tenang. Berikut isinya ….
“Untukmu, ibu guruku.
Ketika kutulis surat ini dihadapan kedua orangtuaku, aku sudah berada di tem pat
yang lain. Tempat yang sama sekali berbeda. Tempat yang asing dan belum pernah
terpikirkan olehku sebelumnya …
Ibu guruku. Sejak
kukutakan cintaku padamu, saat di sekolah waktu itu, terus terang Bu, sampai
kini aku masih penasaran. Aku berharap ada jawaban darimu, rupanya tidak. Tak
mengapa ibu. Yang penting aku
sungguh-sungguh mencintaimu ibu. Cintaku padamu tulus dari relung hati suciku
yang paling dalam …
Aku mencintaimu bukan
karena aku minta perhatian karena telah berbuat dosa dan kesalahan. Men curi
barang orang lain yang bukan menjadi hakku ibu. Bukan itu, Bu. Aku mencintai
dan menyayangi mu karen aku melihat ada aku di wajahmu. Saat kau tidur, makan
dan mengajar anak-anak di sekolah, seolah aku berada di belahan rambutmu yang
terurai hitam sebatas bahu ibu ...
Percayalah ibu. Aku
tidak main-main. Meski aku juga tidak akan memaksamu menerima cintaku. Ta pi
aku hanya ingin kau mengerti perasan hatiku ibu. Perasaan seorang laki-laki
yang ingin ada wanita di sampingnya. Tempat bertukar kata, berganti sapa dan
tempt mencurahkan segala keluh kes dalam relung jiwa.
Percayalah ibu
guruku. Aku telah berusaha semampuku untu melupakanmu. Aku telah bersusah pa yah
untuk sekadar berpaling darimu. Tapi aku tetap tak bisa ibu. Tidur tak nyenyak,
makan pun dibuat enak. Aku terkadang
berpikir ibu, aku ini buan siapa-siapa di matamu. Aku adalah orang yang terbu ang,
tersisih dan terkungkung dalam dosa dan kesalahan …….
Tolonglah aku ibu.
Aku akan berterima kasih padamu sekiranya engku dengan jiwa yang besar mene rima
kata hatiku, perasaan cintaku yang selalu berbunga-bunga padamu. Aku akan
senang duhai ibuku jika kau sudi buka sedikit pintu hatimu buatku …
Sekali lagi wahai ibu. Aku tunggu jawabanmu
ibu. Sehari, seminggu, sebulan, setahun atau mungkin lebih dari iutu. Sampai
mati, sampai akhir hayat di kandung badan, aku selalu tunggu secuil kata cin tamu
untukku, Kasim yang tak punya malu …
Sekiranya engkau sudi
menjengukku barang sesaat, aku akan berterima kasih padamu ibu. Akan akan lega.
Aku akan puas dan aku akan katakan pada dunia bahwa inilah Kasim, yang meski hina dina, ber hasil berdiri sama tinggi, sama
rendah dan sama kaki …
Titip salam buat
Koing dan Brendo ibu. Datanglah menjengukku kalau mereka ada waktu. Aku tunggu
dan dengan senang hati duhai ibu aku nantikan selalu. Aku katakan kepada
keduanya, terima kasih adikku, ini aku kakakmumu yang telah membuat malu …
Terakhir ibu. Sebelum
surat ini kuakhiri, perkenankan aku meminta maaf padamu atas kelancangan ya ng
telah kuperbuat selama ini padamu, wahai Bu Linda, kalau boleh kueja, kekasih
hatiku. Aku ak an tenang sekiranya engkau haturkan maaf beribu maaf, member
kesempatan padaku untuk mem perbaiki diri dan menjalin kembali benang putus
tali silaturahmi ….”
Wassalam
Dari Kasim
Calon kekasihmu
Surat itu, setelah
dibaca berulangkali oleh Bu Guru Linda, dilipat kembali dan ia masukkan ke
dalam laci meja kerjanya.
Di luar angin bertiup
lambat. Langit cerah. Bulan bersinar terang. Malam yang tidak pekat, gulita
seperti malam-malam kemarin. Bintang bertaburan menghiasi angkasa ceria.
Suara jangkrik
terdengar bersahut-sahutan pertanda malam bergerak larut. Satu-satu warga telah
pulas di peraduan. Begitu juga dengan Bu Guru Linda yang tersenyum lega ketika
menutup mata menyambu pagi bahagia keesokan harinya. (TAMAT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar