Serial Detektif Cilik
KOING (12-13)
Sapi yang Hilang ….
Wak Amin
“Pelan-pelan, Ing.
‘Ntar ketahuan,” bisik Brendo pada Koing yang tampak tergesa-gesa melepas tali
kekang sapi.
“Tenang sajalah, Do
…”Kata Koing. “Kamu intip saja Pak Sopirnya,” pinta Koing.
Dari balik bak truk,
Brendo melihat Pak Sopir dan rekannya asyik cekikikan dengan sesekali
mengepulkan asap rokok dan meneguk ar kopi manis dari gelas besar terbuat dari
aluminium.
“Aman, Ing.”
Satu persatu ikatan
tali berhasil dilepas. Brendo melepas kunci pintu bak truk. Ada beberapa ekor
sapi di belakang bak ini. Sapi diangkut ke kota dan akan dijual ke pedagang
besar disana.
Ketika truk melambat
dekat tanah lapang yang dikelilingi hutan perawan, pintu bak dibuka. Beberapa
ekor sapi terlepas dari tali kekangnya, disusul Koing dan Brendo.
Betapa terkejutnya
Pak Sopir beserta rekannya ketika dari balik kaca spion melihat keliaran sapi
berlari ke tanah lapang menunu hutan dan pemukiman warga.
Syiiiit .. reeeeng.
Truk berhenti. Pak
Sopir dan rekannya keluar dari pintu truk, mengejar sapi-sapi bawaan mereka
yang lepqs itu. Termasuk Koing dan Brendo yang sempat melambaikan tangan dan
mengisyaratkan agar mengejar sekaligus menangkap mereka berdua jika mampu.
“Masa dengan anak
kecil saja kalah. Malulah. Mau taruh dimana muka ini,” ucap Pak Sopir pada
rekannya yang masih ngos-ngosan karena terlalu banyak ngopi dan merokok.
“Dululah kau. Nanti
aku menyusul.”
“Kalau begitu kita
kejar saja pakai truk. Ayo cepat …”
Karena tak terlalu
cepat sapi-sapi itu berlari, dengan mudahnya Pak Sopir dan rekannya mengejar.
Sulitnya ketika harus melewati jalan
setapak. Sebab, mana mungkin mobil sebesar truk bisa melalui jalan yang
besarnya di luar kebiasaan itu.
Cara lain?
Dengan cara berkeliling.
Koing, sapi dan Brendo dibiarkan berlari sementara truk bisa mengiringi dari
arah samping. Ibarat pasukan kuda mengejar keret api yang melaju tak begitu
cepat, lama kelamaan terkejar juga.
Tentunya lain kereta
api lain pula Koing dan Brendo. Ketika truk melewati anak sungai dengan jalan
mendaki, kedua anak belia ini termasuk sapi tak terlihat lagi. Kemana dan arah mana mereka
bergerak sempat bikin bingung Pak Sopir.
“Itu mereka, Sul!”
ucap rekannya sambil menunjuk ke samping kanan. Beberapa ekor sapi tiba-tiba
keluar dari hutan menuju pemukiman warga.
“Terlambat kita,
Han.” Jawab Sul pasrah.
“Sudah kepalang
basah, Sul. Ayooo . Jangan jadi pengecut. Tak baik.”
Truk yang sempat
berhenti kembali melaju. Kali ini dengan kecepatan tinggi. Karena tak juga
mampu menangkap apalagi melumpuhkan Koing dan Brendo yang telah
mencerai-beraikan sapi yang hendak dbawa ke kota, Sul terpaksa menggunakan
senapan angin.
Beberapa kali
tembakan dilepaskan, beberapa kali pula Koing dan Brendo bisa mengelak. Sepeda
BMX yang dikemudikan Koing malah mampu mendekat dan mendahului truk. Melakukan
manuver sambil mencibir lucu.
“Wulul .. wulu. Sopir
lolo suka berdalu,” ejek Brendo dari belakang sepeda dengan posisi badan
berhadapan dengan muka truk.
Dooor … door … door.
“Wuuu. Tak mempan.
Pistol buduk. Burukan lamo.” Teriak Brendo. Dia berdiri sambil berjoget goyang
pinggul dan kepala.
Kejar-kejaran terus
terjadi. Semakin seru, semakin sengit. Namun mereka terpisah kembali setelah
truk ngerem mendadak karena ada beberapa orang petani hendak menyeberang jalan,
pulang dari sawah ladang mereka.
Lagi-lagi Sul dan Han
kehilangan jejak. Tak lama berselang, dari samping kanan truk, sepeda BMX
meluncur deras.
“Kejar Sul!” Kata Han
menyemangati rekannya agar terus mengejar Koing dan Brendo .
Entah sekadar
pengalihan atau ingin sapi-sapi yang berlari terpencar itu selamat dari kejaran,
sepeda BMX kembali menuruni perbukitan
menuju tanah lapang serba hijau. Hanya dalam hitungan meter, beberapa ekor sapi
keluar dari persembunyiannya.
“Langsung kito giring
saja, Ing.” Saran Brendo. Dia kuatir sapi-sapi itu kelelahan dan berhasil
ditangkap kembali oleh Sul dan Han.
Lambat tapi pasti,
kawanan sapi akhirnya memasuki areal perkampungan warga. Koing dan Brendo
membelokkan sepeda BMX-nya ke rumah salah seorang warga. Langkah ini untungnya
berjalan mulus. Beberapa warga yang bersimpati terhadap mereka lalu berkumpul
untuk melakukan perlawanan terhadap Sul dan Han.
“Itu sapinya Sul!”
“Mana?” Tanya Sul.
“Itu … di kiri kita.”
Benar saja. Sapi-sapi
itu sengaja dibiarkan memakan rumput. Mereka seolah tak terusik dengan kehdiran
Sul dan Han.
Angin bertiup kencang. Udara segar, cerah. Satu dua
orang anak asyik bermain layang-layang. Sedang kan anak perempuan bermain
karet. Mereka tampak ceria dengan sesekali ditingkahi derai tawa keriangan.
Mobil truk yang
dikemudikan Sul terus bergerak mendekati kawanan sapi. Han turun dari mobil.
Dia menggiring sapi untuk kemudian dinaikkan ke bak truk.
Tapi itu bukan
pekerjaan gampang. Karena sebelumnya sapi-sapi itu dinaikkan ke dalam bak truk
me nggunakan mobil yang sama besarnya. Cukup direntangkan papan, sapi digiring
dan dipindahkan ke truk yang disopiri Sul.
Kalau sekarang, beda
suasananya.
Harus didorong.
“Saya coba dulu ya
Sul. Mana tahu bisa,” kata Han. Memang bisa awalnya. Tapi itu khusus sapi yang
berbadan kecil dan kurus. Bukan induknya, tapi anak sapi. Digendong pun bisa.
Kalau sapi berukuran
besar?
“Kita dorong berdua saja,
Han. Kita coba!”
Pintu bak dibuka. Sul
dan Han menggiring seekor sapi mendekati pintu bak. Berhasil memang. Tapi sa at
hendak dinaikkan ke bak truk, keduanya kewalahan. Sempat terjungkal, masih
untung tak cedera parah.
“Aduh mukaku. Kena
tahi sapi.” Jerit Sul, meringis kesakitan. Saking beratnya itu sapi, mukanya
Sul berubah sembab karena diinjak kaki sapi.
“Kita coba lagi Sul.”
Dengan berat hati Sul
mendorong sapi tadi itu. Dengan sekuat tenaga dan nafas yang mulai
terengah-engah, sapi berhasil dodorong masuk bak truk.
“Kita coba yang besar
itu, Sul.”
“Yang mana?”
“Itu, si betina yang
lagi hamil tua itu.” Han menunjuk seekor sapi berbadan besar dan gemuk.
“Ya ampun Han. Mati
kita diinjaknya.”
“Jangan jadi
pengecutlah Sul. Dicoba saja belum.”
Sul berpikir
sebentar.
“Oke,” katanya.
Ketika keduanya
mencoba menaikkan sapi paling besar itu ke bak truk, beberapa warga datang
mendekat.
“Perlu dibantu, Pak?”
Tanya lelaki berbadan tegap berkulit hitam legam.
Sul dan Han menoleh.
Belum sempat bicara, keduanya sudah dikerumuni warga sambil membawa pentungan
dan palu godam.
“Eeee … anu .. eh. Tak
usah bapak-bapak.” Sul dan Han salah tingkah jadinya. Kaki gemetar, berkeringat
dingin.
“Bapak berdua ikut
kami ke balai desa,” kata Pak Erte yang masih berusia muda itu.
“Mobil kami, Pak?”
“Taka pa-apa. Ada
yang menjaganya.”
Bersamaan dibawanya
Sul dan Han ke balai desa, beberapa warga bahu membahu menaikkan sapi ke bak
truk, untuk kemudian dibawa pulang kembali ke kampung tempat tinggal Koing dan
Brendo.
Serial Detektif Cilik
KOING (13)
Menemani Belanja
Wak Amin
“Ing. Mau tidak kamu menemani
ibu belanja?” Tanya Bu Guru Linda, saat pulang mengajar.
“Mau Bu. Kami
bersedia,” jawab Brendo kesenangan.
“Bagaimana Ing?” Bu
Linda kembali bertanya. Kali ini ke Koing.
“Mau Bu!” Ucapnya
tertawa lepas.
Bu Guu Linda memang
sudah lama tidak berbelanja ke pasar. Selama ini kalau ke pasar dia ditemani
kakak iparnya, Susi. Karena tengah
mengandung anak pertamanya, Bu Linda tak mau merepotkan dan dia memutuskan pergi sendiri berbelanja ke pasar.
Masalahnya tak enak
juga belanja sendirian. Takutnya nanti banyak lelaki iseng yang menggodanya.
Buktinya Kasim dan Kadir. Keduanya sudah bertobat dan berjanji tak akan
mengganggu Bu Guru Linda, Koing dan Brendo lagi.
“Kita naik delman
saja ya Ing, Do. Mau kan?”Tawar Bu Guru Linda.
“Mauuuu,” ujar
keduanya serempak.
Delman di kampung
memang maju pesat kendati belum banyak jumlahnya. Baru ada dua. Satu kepunnyaan Pak Erte. Satunya lagi milik Pak
Lurah. Meski kalah cepat dengan mobil, bagi ibu rumah tangga yang membawa
banyak bawaan, delman menjadi pilihan.
Kenapa?
Karena diantar sampai
depan rumah sehingga belanjaan yang banyak tinggal diturunkan sebelum masuk
rumah. Beda-beda tipis dengan angdes dan enak untuk cuci mata.
“Tapi kentutnya itu,
Bu yang bikin kita terganggu,” celetuk Brendo.
“Namanya juga hewan,
Do. Kita manusia saja suka kentut sembarangan,” kelakar Bu Guru Linda.
“Ibu pernah dengar
kentut kuda?” Tanya Koing sesaat setelah turun dari angdes yang mengantar mereka
ke depan gerbang pasar Seia Sekata.
“Pernahlah, Ing.”
Hari itu pasar cukup
ramai. Disesaki ibu-ibu rumah tangga, para remaja puteri dan anak-anak yang
tidur pulas di gendongan ibunya.
Suara pedagang tawarkan barang terdengar silih
berganti. Sahut-sahutan tiada henti. Berbagai los jajakan beragam jajaan. Mulai
dari tas, barang elektronik, hingga keperluan dapur. Semua tersedia dengan
harga yang terjangkau saku pembelinya.
Bu Guru Linda bersama
dua muridnya ini, begitu kaki menginjak los pasar, belok kanan untuk belanja
keperluan dapur seperti bubur kacang hijau, garam, merica, ikan, daging dan
tahu tempe.
Karena penuh sesaknya
pembeli yang memadati los ikan dan daging, Bu Guru Linda sempat dipepet dua
lelaki. Mereka terus memepet wanita berkulit hitam manis itu sampai los pasar
sayur.
Huuup.
Secepat kilat dompet
di saku celana Bu Guru Linda berpindah tangan. Koing dan Brendo yang sempat
melihat kedua copet itu bergegas mengejar.
“Copet … copet ..
Tolong Pak, Bu …!” Teriak Koing dan Brendo bersahut-sahutan. Saking cepatnya
berlari, para pedagang dan pembeli yang ingin menolong mengamankan si copet
hanya bisa bengong dan melongo kayak orang bego.
Tapi namanya juga
Koing, ia tak mudah patah semangat. Walau larinya kalah cepat dengan copet,
berdua berpisah arah dengan menempuh jalan pintas berkelok.
Sempat berputar-putar
beberapa kali, dari los bawang ke los dedak dan cabe, akhirnya salah seorang
copet mati langkah. Jalan samping dan belakang buntu. Sedangkan di depan sudah
berdiri Koing.
“Kembalikanlah Bang
dompetnya,” pinta Koing yang berharap duit dalam dompet Bu Guru Linda masih
utuh.
“Tidak ada di
abanglah. Tuh di teman abang satunya,” jawab si copet tak senang Koing melihat
tubuhnya yang ceking dan pucat.
Sementara di tempat
lain, di luar pasar, Brendo juga menerima jawaban yang sama dengan Koing dari
si copet. Antar copet saling lempar tuduhan dan saling salah menyalahkan.
Karena tak juga mau
menyerahkan dompet yang dicopet, perkelahian tangan kosong pun tak
terhindarkan. Satu lawan satu denagn ditonton sejumlah pedagang dan pembeli.
“Sikat saja dik.
Jangan diberi ampun.” Teriak pedagang tahu tempe.
Pasang kuda-kuda, si
ceking menendang kea rah paha, dielakkan Koing, dengan satu kali pukulan ke
dada, si copet tersungkur membentur ember berisi air.
“Mandi saja sekalian,
Pet.” Teriak pedagang sayur yang hanya mengenakan celana pendek dan berkaos
dalam.
Berhasil berdiri
lagi, si copet memandang tajam kea rah Koing.
“Serang akulah,
Bang!” Tantang Koing.
“Kau dululah. Masak
abang, anak bandel,” kata sic eking
“Baik.”
Koing memutar
tubuhnya, lalu dengan gerak memutar seperti angin putting beliung, dia
melepaskan
tendangan
berulangkali ke kaki, dada, paha dan muka. Lawan akhirnya kewalahan dibuatnya.
Babak belur sebelum akhirnya pingsan, tak sadarkan diri.
“Ayo, kita sate saja
..”
“Kita telanjangi
saja.”
“Lempar saja ke got.
Biar tahu rasa dia,” teriak beberapa pedagang.
Mereka mengangkat
tinggi-tinggi badan si ceking, lalu diayunkan sebelum akhirnya dilempar jauh ke
rawa-rawa belakang pasar.
Bagaimana dengan
Brendo?
Terjadi pergumulan
seru. Saling menindih. Kadang Brendo di atas. Kali yang lain dia di bawah.
Pakaian keduanya kotor akibat terkena becek.
Ketika Koing dan Bu
Guru Linda mendekat dan berbaur dengan pedagang dan pembeli yang asyik
menyaksikan laga seru itu. Brendo dan si gendut mulai saling menendang,
mencakar, menjambak rambut dan beradu kepala.
“Ing, ibu kuatir …”
Bisik Bu Guru Linda.
“Tenang sajalah, Bu.
Brendo itu,” jawa Koing sambilu memperlihatkan ibu jari jempol.
“TapI hidungnya
Brendo, Ing. Sudah mengeluarkan darah.”
“Itu darahnya si
copet. Bu. Bukan darah Brendo.”
“Ah kamu, Ing. Tau
aja.”
“Tengoklah hidung mereka
berdua, Bu. Beda kan?”
Darah di hidung
Brendo tidak mengalir, sedangkan di lubang hidungnya si copet mengalir deras.
Itu berarti darah dari hidung si copetlah yang menempel di hidungnya Brendo.
“Langsung tinju saja
dik,” jerit seorang ibu berperawakan gemuk semampai.
Benar saja. Dengan
satu kali tinju mengenai belakang kepala, si copet roboh seketika. Sempat
berguling-gulingan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Semua yang menonton,
termasuk Koing dan Bu Guru Linda, memberi aplus dengan bertepuk tangan.
“Kau memang hebat,
Do.” Puji Koing menepuk-nepuk pundaknya Brendo berkali-kali.
“Apa nama jurusnya
tadi, Do?”
“Kucing mengeong,
Bu.”
“Kamu Ing?”
“Bebek bertelur.”
“Ah, ada-ada saja
kalian ini,” komentar Bu Guru Linda, disambut tawa lepas beberaapa ibu yang
mulai beragngsur-angsur meninggalkan los pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar