Minggu, 14 Juni 2015

koing (14)



Serial Detektif Cilik
KOING (14)

Tidak Adil ….
Wak Amin


SETENGAH main tim futsal yang dimotori Koing unggul atas lawannya dengan skor 3-2. Saat istirahat  dimanfaatkan untuk mematangkan strategi bertahan dan melakukan serangan balik. Lawan tentu tak ingin kalah. Mereka juga ngotot ingin memenangi pertandingan kendati harus diraih dengan cara ku rang terpuji.
“Camkan apa kata-kata ibu ini anak-anak. Hindari bermain keras,” nasihat Bu Guru Linda saat mem berikan pengarahan kepada Koing dan teman-temannya di pinggir lapangan futsal tak jauh dri pohon mengkudu.
“Mereka akan bermain keras dengan harapan kalian semua akan takut, nyali jadi ciut. Tidak berani menyerang sementara mereka akan lebih mudah merobek-robek pertahanan kita,” ujar Bu Guru Linda mewanti-wanti anak didiknya agar tampil berani dan bersemangat.
“Kita harus keras juga, Bu,” sahut Syaiful.
“Tak bolehlah Ful. Kalau keras kita yang rugi. Betul kan Bu?” Tanya Irfan.
“Betul. Betul sekali kata temanmu tadi itu, Ful. Keras tak boleh dibalas keras,” jelas Bu Guru Linda.
“Harusnya bagaimana, Bu?” Tanya Brendo.
“Koing ada solusi?” Bu Linda meminta Koing menenangkan kekuatiran rekan-rekan setmnya.
“Menurutku, pertama kita harus kompak dan kedua jangan terpancing emosi. Ketiga, bermain biasa-biasa saja,” tandas Koing.
Suasana yang semula sedikit gaduh tenang kembali. Kedua tim memasuki lapangan, tentunya diiiringi tepuk tangan riuh dari para penonton.
Yel-yel ‘Hidup Koing … Hidup Koing’ terdengar bergemuruh sampai wasit meniup pluit pertanda per tan dingan babak kedua segera dimulai. Kedua tim awalnya menyuguhkan permainan indah dengan operan pendek dari kaki ke kaki, sesekali  melambung jauh ke depan, bola ditahan dengan  kepala, disundul ke gawang sebelum akhirnya ditangkap penjaga gawang.
Memasuki menit ke tujuh, permainan keras diperagakan lawan.  Satu persatu personil tim futsal Koi ng jatuh terkapar karena ditekel keras saat menggiring bola ke areal pertahanan lawan. Protes sempat dilontarkan Bu Guru Linda saat wasit memberikan hadiah finalti padahal Syaiful tidak melakukan apa-apa.
“Ini orang atau bebek yang main,” gerutu salah seorang penonton dari pinggir lapangan.
“Mencari menang boleh, tapi dengan cara yang terhormat. Jangan meniru cara binatang,” kata          
penonton yang lain.
Ketika kedudukan imbang, 3-3, Brendo terlihat adu mulut dengan kapten lawan. Buntutnya, Brendo justru terkena kartu kuning sementara pemain lawan hanya diberi peringatan lisan. Perlakuan tak adil ini sempat menyulut emosi Bu Guru Linda. Dia mengancam akan menarik seluruh pemainnya dari lapangan pertandingan.
“Tenanglah, Bu. Kita tunggu dulu,” ucap Bu Retno, kepala sekolah.
“Mereka betul-betul sudah kelewatan, Bu. Bukan hanya pemainnya yang bertindak curang dan kasar, wasitnya juga berat sebelah. Ibu lihat sendiri kan?”
“Sabarlah. Saya sudah lihat kok. Kita tunggu sampai pertandingan selesai,” kata Bu Retno mene nangkan anak buahnya yang naik pitam sejak tadi.
 Karena kedudukan tetap imbang sampai batas akhir waktu normal, pertandingan dilanjutkan dengan adu finalti. Faktor kelelahan dan cederanya beberapa pemain inti, membuat adu finalti tak seru lagi. Tim futsal Koing cs akhirnya keok, kebobolan tiga gol tanpa balas. Mereka dipaksa menyerah kalah dan harus puas di peringkat kedua, runner-up.
Usai pertandingan, Koing dan Brendo mengikuti dari belakang kemana Pak Wasit pergi. Rupanya dia menuju rumah sekolah tim futsal lawan. Dengan mengendarai sepeda BMX mereka menemukan Pak Wasit dijamu santap siang oleh beberapa orang di kantin sekolah.
Saat itulah, saat Koing dan Brendo berada tak jauh dari kantin,  melihat Pak Wasit tertawa lebar dengan pelatih tim futsal lawan sambil merokok dan minum es kopi.
“Anda betul-betul hebat, Pak Wasit. Terima kasih. Sebagai ucapan terima kasih, kami hanya bisa memberikan ini sekadarnya,” kata sang pelatih seraya menyodorkan sebuah amplop berisi sejumlah uang.
“Akh kau. Tak seberapalah, kecil itu,” jawab Pak Wasit. Dia masukkan amplop itu ke saku celananya.
Sempat memotret dan merekam adegan barusan lewat HaPe. Karena ketahuan segera dikejar bebe rapa orang guru, termasuk pelatih dan Pak Wasit dengan motor dan kendaraan roda empat.
“Tangkap mereka!” Teriak beberapa lelaki saat menghidupkan mesin motor, berombongan mengejar Koing dan Brendo.
Bukan Koing kalau tak pandai bermanuver. Berjarak beberapa meter, Koing membelokkan sepedanya ke lorong sempit. Memang masih terkejar oleh motor, tapi itu tak berlangsung lama.
Kenapa?
Karena ketika memasuki kelokan parit, dengan piawainya Koing melewati parit yang lebarnya hanya beberapa inci dari ban sepeda BMX-nya. Jangankan motor, tak sembarang sepeda berhasil melewatinya kecuali pengemudinya benar-benar mahir bersepeda.
Pak Wasit dan rombongan kehilangan jejak. Mereka marah, geram dan saling menyalahkan satu ama lain.
“Kalau tak bisa dilewati motor, kalian seharusnya turun dari motor dan mengejar itu anak kencur tanpa motor.”
Sumpah serapah salah seorang guru ini membuat para guru yang lain, pelatih da Pak Wasit ikut-ikutan menyumpahi Koing dan Bredo serta bertekad akan menangkap keduanya.
Bisakah?
Sayang, saat mereka hendak berbalik badan menuju jalan besar, sudah dikepung massa yang terdiri dari guru dan siswa tempat Koing belajar, warga, petugas jaga malam, dan tak ketinggalan mantan preman kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar