Serial Detektif Cilik
KOING (14)
Tidak Adil ….
Wak Amin
SETENGAH main tim
futsal yang dimotori Koing unggul atas lawannya dengan skor 3-2. Saat istirahat
dimanfaatkan untuk mematangkan strategi
bertahan dan melakukan serangan balik. Lawan tentu tak ingin kalah. Mereka juga
ngotot ingin memenangi pertandingan kendati harus diraih dengan cara ku rang
terpuji.
“Camkan apa kata-kata
ibu ini anak-anak. Hindari bermain keras,” nasihat Bu Guru Linda saat mem
berikan pengarahan kepada Koing dan teman-temannya di pinggir lapangan futsal
tak jauh dri pohon mengkudu.
“Mereka akan bermain
keras dengan harapan kalian semua akan takut, nyali jadi ciut. Tidak berani
menyerang sementara mereka akan lebih mudah merobek-robek pertahanan kita,”
ujar Bu Guru Linda mewanti-wanti anak didiknya agar tampil berani dan
bersemangat.
“Kita harus keras
juga, Bu,” sahut Syaiful.
“Tak bolehlah Ful.
Kalau keras kita yang rugi. Betul kan Bu?” Tanya Irfan.
“Betul. Betul sekali
kata temanmu tadi itu, Ful. Keras tak boleh dibalas keras,” jelas Bu Guru
Linda.
“Harusnya bagaimana,
Bu?” Tanya Brendo.
“Koing ada solusi?”
Bu Linda meminta Koing menenangkan kekuatiran rekan-rekan setmnya.
“Menurutku, pertama
kita harus kompak dan kedua jangan terpancing emosi. Ketiga, bermain
biasa-biasa saja,” tandas Koing.
Suasana yang semula
sedikit gaduh tenang kembali. Kedua tim memasuki lapangan, tentunya diiiringi
tepuk tangan riuh dari para penonton.
Yel-yel ‘Hidup Koing
… Hidup Koing’ terdengar bergemuruh sampai wasit meniup pluit pertanda per tan dingan
babak kedua segera dimulai. Kedua tim awalnya menyuguhkan permainan indah
dengan operan pendek dari kaki ke kaki, sesekali melambung jauh ke depan, bola ditahan
dengan kepala, disundul ke gawang
sebelum akhirnya ditangkap penjaga gawang.
Memasuki menit ke
tujuh, permainan keras diperagakan lawan.
Satu persatu personil tim futsal Koi ng jatuh terkapar karena ditekel
keras saat menggiring bola ke areal pertahanan lawan. Protes sempat dilontarkan
Bu Guru Linda saat wasit memberikan hadiah finalti padahal Syaiful tidak
melakukan apa-apa.
“Ini orang atau bebek
yang main,” gerutu salah seorang penonton dari pinggir lapangan.
“Mencari menang
boleh, tapi dengan cara yang terhormat. Jangan meniru cara binatang,” kata
penonton yang lain.
Ketika kedudukan
imbang, 3-3, Brendo terlihat adu mulut dengan kapten lawan. Buntutnya, Brendo
justru terkena kartu kuning sementara pemain lawan hanya diberi peringatan
lisan. Perlakuan tak adil ini sempat menyulut emosi Bu Guru Linda. Dia
mengancam akan menarik seluruh pemainnya dari lapangan pertandingan.
“Tenanglah, Bu. Kita
tunggu dulu,” ucap Bu Retno, kepala sekolah.
“Mereka betul-betul
sudah kelewatan, Bu. Bukan hanya pemainnya yang bertindak curang dan kasar,
wasitnya juga berat sebelah. Ibu lihat sendiri kan?”
“Sabarlah. Saya sudah
lihat kok. Kita tunggu sampai pertandingan selesai,” kata Bu Retno mene nangkan
anak buahnya yang naik pitam sejak tadi.
Karena kedudukan tetap imbang sampai batas
akhir waktu normal, pertandingan dilanjutkan dengan adu finalti. Faktor
kelelahan dan cederanya beberapa pemain inti, membuat adu finalti tak seru
lagi. Tim futsal Koing cs akhirnya keok, kebobolan tiga gol tanpa balas. Mereka
dipaksa menyerah kalah dan harus puas di peringkat kedua, runner-up.
Usai pertandingan,
Koing dan Brendo mengikuti dari belakang kemana Pak Wasit pergi. Rupanya dia menuju
rumah sekolah tim futsal lawan. Dengan mengendarai sepeda BMX mereka menemukan
Pak Wasit dijamu santap siang oleh beberapa orang di kantin sekolah.
Saat itulah, saat
Koing dan Brendo berada tak jauh dari kantin, melihat Pak Wasit tertawa lebar dengan pelatih
tim futsal lawan sambil merokok dan minum es kopi.
“Anda betul-betul
hebat, Pak Wasit. Terima kasih. Sebagai ucapan terima kasih, kami hanya bisa
memberikan ini sekadarnya,” kata sang pelatih seraya menyodorkan sebuah amplop
berisi sejumlah uang.
“Akh kau. Tak
seberapalah, kecil itu,” jawab Pak Wasit. Dia masukkan amplop itu ke saku
celananya.
Sempat memotret dan
merekam adegan barusan lewat HaPe. Karena ketahuan segera dikejar bebe rapa
orang guru, termasuk pelatih dan Pak Wasit dengan motor dan kendaraan roda
empat.
“Tangkap mereka!”
Teriak beberapa lelaki saat menghidupkan mesin motor, berombongan mengejar
Koing dan Brendo.
Bukan Koing kalau tak
pandai bermanuver. Berjarak beberapa meter, Koing membelokkan sepedanya ke
lorong sempit. Memang masih terkejar oleh motor, tapi itu tak berlangsung lama.
Kenapa?
Karena ketika memasuki
kelokan parit, dengan piawainya Koing melewati parit yang lebarnya hanya
beberapa inci dari ban sepeda BMX-nya. Jangankan motor, tak sembarang sepeda
berhasil melewatinya kecuali pengemudinya benar-benar mahir bersepeda.
Pak Wasit dan
rombongan kehilangan jejak. Mereka marah, geram dan saling menyalahkan satu ama
lain.
“Kalau tak bisa
dilewati motor, kalian seharusnya turun dari motor dan mengejar itu anak kencur
tanpa motor.”
Sumpah serapah salah
seorang guru ini membuat para guru yang lain, pelatih da Pak Wasit ikut-ikutan
menyumpahi Koing dan Bredo serta bertekad akan menangkap keduanya.
Bisakah?
Sayang, saat mereka
hendak berbalik badan menuju jalan besar, sudah dikepung massa yang terdiri
dari guru dan siswa tempat Koing belajar, warga, petugas jaga malam, dan tak
ketinggalan mantan preman kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar