Serial Detektif Cilik
KOING (19)
Merampok Bank
Wak Amin
“ANGKAT tangan
dua-duanya!” Sergah lelaki bertopeng sambil menodongkan senjata tajam ke pantat
Wak Ji.
“Siap, Bos.” Kata Wak
Ji. Kedua tangan diangkat tinggi. Karena robek, ketiak Wak Ji kelihatan. Hitam
dan lebat bulunya.
“Cukur, Pak. Apek,”
gerutu lelaki tadi seolah ingin muntah. Didekati rekannya, terdengar tawa
memecah ketegangan.
“Kalau mandi
dibersihkan, Om,” ucap perampok berbadan kekar. “Biar kita tidak mual gitu loh
…”
“Lupa Bos. Maklum sudah
pikun,” jawab Wak Ji sekenanya.
Setelah mengambil tas
berisi uang kreditan dari bank, dua perampok tadi bermaksud keluar karena di
luar bank, tepatnya di persimpangan lampu merah, sudah menunggu teman mereka
dengan mobil boks gede.
Rupanya pintu bank terkunci
dari luar. Mau menelepon juga tak bisa. Jaringan telepon rusak dan tak bisa digunakan. Bergerak ke
atas, atap gedung percuma karena tak ada ruang untuk melompat.
“Kita ke bawah lagi,”
kata perampok berkepala botak.
“Untuk apa, percuma.”
“Kita paksa mereka
buka itu pintu, bodoh.”
Di lantai dasar,
beberapa petugas bank, nasabah termasuk Wak Ji dalam posisi kedua tangan
terikat. Tak bisa bergerak karena ikatannya sangat kencang. Sulit dilepaskan.
Tok … tok … tok …
Koing mengetuk pintu
kaca tebal bank berkali-kali. Dia pasang aksi
dengan mengajak dua perampok tad berkelahi. Karena terus diejek, si
rampok terpancing. Dia ladeni Koing duel. Koing setuju asalkan satu lawan satu,
one by one, dan duelnya harus di luar gedung.
“Tak usah Bos. Ini
jebakan,” saran temannya yang bertubuh pendek kurus.
“Harga diri, mek.
Masa diajak duel anak kecil takut,” kilah sang Bos.
“Kalau dia kita
ladeni ketahuan, Bos. Ketangkap sementara kita tak ada kontak dengan teman di
luar sana.”
“Eeee … oke. Kamu ada
usul?”
“Gimana kalau kita
jadikan umpan saja salah seorang dari mereka.”
“Lalu?”
“Kita bawa keluar
gedung. Lalu kita lepas kembali saat ketemu mobil boks. Kita kabur , kan beres,
Bos …”
Bos rampok
manggut-manggut.
“Jalan juga otak lu
…”
Wak Ji lah yang
akhirnya mereka pilih. Setelah memksa Koing membuka pintu, dua perampok tadi,
sambil menodongkan senjata laras pendek ke kepala Wak Ji, bergerak pelan-pelan
keluar gedung. Langkah demi langkah dilewati. Sampai depan pintu, Koing yang
semula ingin menghajar sang Bos, mengurungkan niatnya karena nyawa Wak Ji
terancam.
Di tempat berbeda,
dari pintu samping bergembok, Brendo berhasil menyelinap masuk gedung. Lambat
tapi pasti dia turuni anak tangga dengan cara mengendap-endap.
Dia sempat terkejut
melihat beberapa orang dalam posisi duduk dan kepala tertunduk dengan tangan
diikat. Tak ada reaksi.
“Mana dia rampoknya?”
Tanya Brendo dalam hati. Sambil melempar senyum dan sedikit guyon, dia lepaskan
tali ikatan puluhan sandera beragam usia itu.
“Ampun Pak .. ampun.
Ambil saja uangnya, nyawa ogah. Jangan bunuh saya, Pak. Kalau saya mati,
anak dan suami saya makan apa,” rintih
salah seorang dari mereka. Wanita muda, cantik dan berpenampilan rapi.
“Mbak… mbak … siapa
yang mau ambil nyawa, Mbak. Saya Brendo. Saya mau menolong, Mbak,” jelas Brendo
seraya mengedipkan mata, memainkan alis tebal di atasnya.
Perlu beberapa detik
Bredo menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Sebelum satu persatu ikatan tali mengikat kedua tangan
sandera itu dibuka, dilepaskan.
“Terima kasih, Nak.
Terima kasih,” ucap sandera bermata sipit.
“Susul mereka cepat,
Dik. Mereka belum jauh,” kata laki-laki berkacamata tebal.
Dimana dan kemana dua
perampok tadi?
Belum jauh, memang.
Hanya beberapa meter jarak mereka dari pintu utama bank. Brendo sempat melihat
Koing sembunyi di balik mobil sedan terparkir tak jauh dari situ. Lalu dengan
mengendap-endap dia ikuti ke mana perampok membawa serta Wak Ji.
Dari balik gedung
menuju sebuah lorong, Brendo melihat dua perampok masih menyandera Wak Ji denga
berjalan mendekati sebuah mobil boks warna hitam.
Brendo mulai
beraksi. Dia kokang betetannya dan …
Celeduk … !
“Aduh kepalaku,”
teriak bos rampok. Meraba kepalanya yang mulai berdarah. Panik seketika. Wak Ji
berhasil melepaskan diri. Dia kabur dan bersembunyi di balik tong sampah.
Suara letusan senjata
sempat terdengar beberapa kali sebelum akhirnya lenyap bersamaan datangnya
mobil petugas keamanan untuk menangkap para perampok yang mencoba kabur dengan mobil
boks berikut uang hasil rampokan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar