Senin, 15 Juni 2015

Koing (19)







Serial Detektif Cilik
KOING (19)

Merampok Bank
Wak Amin

“ANGKAT tangan dua-duanya!” Sergah lelaki bertopeng sambil menodongkan senjata tajam ke pantat Wak Ji.
“Siap, Bos.” Kata Wak Ji. Kedua tangan diangkat tinggi. Karena robek, ketiak Wak Ji kelihatan. Hitam dan lebat bulunya.
“Cukur, Pak. Apek,” gerutu lelaki tadi seolah ingin muntah. Didekati rekannya, terdengar tawa memecah ketegangan.
“Kalau mandi dibersihkan, Om,” ucap perampok berbadan kekar. “Biar kita tidak mual gitu loh …”
“Lupa Bos. Maklum sudah pikun,” jawab Wak Ji sekenanya.
Setelah mengambil tas berisi uang kreditan dari bank, dua perampok tadi bermaksud keluar karena di luar bank, tepatnya di persimpangan lampu merah, sudah menunggu teman mereka dengan mobil boks gede.
Rupanya pintu bank terkunci dari luar. Mau menelepon juga tak bisa. Jaringan telepon  rusak dan tak bisa digunakan. Bergerak ke atas, atap gedung percuma karena tak ada ruang untuk melompat.
“Kita ke bawah lagi,” kata perampok berkepala botak.
“Untuk apa, percuma.”
“Kita paksa mereka buka itu pintu, bodoh.”
Di lantai dasar, beberapa petugas bank, nasabah termasuk Wak Ji dalam posisi kedua tangan terikat. Tak bisa bergerak karena ikatannya sangat kencang. Sulit dilepaskan.
Tok … tok … tok …
Koing mengetuk pintu kaca tebal bank berkali-kali. Dia pasang aksi  dengan mengajak dua perampok tad berkelahi. Karena terus diejek, si rampok terpancing. Dia ladeni Koing duel. Koing setuju asalkan satu lawan satu, one by one, dan duelnya harus di luar gedung.
“Tak usah Bos. Ini jebakan,” saran temannya yang bertubuh pendek kurus.
“Harga diri, mek. Masa diajak duel anak kecil takut,” kilah sang Bos.
“Kalau dia kita ladeni ketahuan, Bos. Ketangkap sementara kita tak ada kontak dengan teman di luar sana.”
“Eeee … oke. Kamu ada usul?”
“Gimana kalau kita jadikan umpan saja salah seorang dari mereka.”
“Lalu?”
“Kita bawa keluar gedung. Lalu kita lepas kembali saat ketemu mobil boks. Kita kabur , kan beres, Bos …”
Bos rampok manggut-manggut.
“Jalan juga otak lu …”
Wak Ji lah yang akhirnya mereka pilih. Setelah memksa Koing membuka pintu, dua perampok tadi, sambil menodongkan senjata laras pendek ke kepala Wak Ji, bergerak pelan-pelan keluar gedung. Langkah demi langkah dilewati. Sampai depan pintu, Koing yang semula ingin menghajar sang Bos, mengurungkan niatnya karena nyawa Wak Ji terancam.
Di tempat berbeda, dari pintu samping bergembok, Brendo berhasil menyelinap masuk gedung. Lambat tapi pasti dia turuni anak tangga dengan cara mengendap-endap.
Dia sempat terkejut melihat beberapa orang dalam posisi duduk dan kepala tertunduk dengan tangan diikat. Tak ada reaksi.
“Mana dia rampoknya?” Tanya Brendo dalam hati. Sambil melempar senyum dan sedikit guyon, dia lepaskan tali ikatan puluhan sandera beragam usia itu.
“Ampun Pak .. ampun. Ambil saja uangnya, nyawa ogah. Jangan bunuh saya, Pak. Kalau saya mati, anak  dan suami saya makan apa,” rintih salah seorang dari mereka. Wanita muda, cantik dan berpenampilan rapi.
“Mbak… mbak … siapa yang mau ambil nyawa, Mbak. Saya Brendo. Saya mau menolong, Mbak,” jelas Brendo seraya mengedipkan mata, memainkan alis tebal di atasnya.
Perlu beberapa detik Bredo menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Sebelum  satu persatu ikatan tali mengikat kedua tangan sandera itu dibuka, dilepaskan.
“Terima kasih, Nak. Terima kasih,” ucap sandera bermata sipit.
“Susul mereka cepat, Dik. Mereka belum jauh,” kata laki-laki berkacamata tebal.
Dimana dan kemana dua perampok tadi?
Belum jauh, memang. Hanya beberapa meter jarak mereka dari pintu utama bank. Brendo sempat melihat Koing sembunyi di balik mobil sedan terparkir tak jauh dari situ. Lalu dengan mengendap-endap dia ikuti ke mana perampok membawa serta Wak Ji.
Dari balik gedung menuju sebuah lorong, Brendo melihat dua perampok masih menyandera Wak Ji denga berjalan mendekati sebuah mobil boks warna hitam.
Brendo mulai beraksi.  Dia kokang betetannya dan …
Celeduk …  !
“Aduh kepalaku,” teriak bos rampok. Meraba kepalanya yang mulai berdarah. Panik seketika. Wak Ji berhasil melepaskan diri. Dia kabur dan bersembunyi di balik tong sampah.
Suara letusan senjata sempat terdengar beberapa kali sebelum akhirnya lenyap bersamaan datangnya mobil petugas keamanan untuk menangkap para perampok yang mencoba kabur dengan mobil boks berikut uang hasil rampokan. 
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar