Novel ...
El-Maut (14)
Oleh Wak Amin
El-Maut (14)
Oleh Wak Amin
27
"MISS Nancy ...!"
"Saya Inspektur."
"Segera ke rumah sakit kota. Ada info dua anggota jaringan El-Maut menyelinap masuk."
"Baik Inspektur. Laksanakan ..."
Aktivitas rumah sakit kota berjalan seperti biasa. Tak ada tanda-tanda diselinapi anggota jaringan El-Maut. Petugas keamanan sibuk menga wasi dan mengatur arus keluar ma suk kendaraan roda dua dan empat.
Mereka baru meningkatkan insen sitas pengamanan setelah menda pat telepon dari Mr Clean.
"Sebentar lagi kami tiba di rumah sakit," kata Miss Nancy, meminta kerjasama yang baik dengan pihak rumah sakit untuk keleluasaan me reka mengambil tindakan yang di perlukan nantinya.
Pihak rumah sakit tidak keberatan. Hanya masalahnya sekarang bagai mana caranya agar pasien dan ang gota keluarganya, termasuk karya wan dan petugas medis tidak panik.
"Takutnya nanti jika kita mengambil tindakan secara berlebihan, aktivi tas rumah sakit justru akan tergang gu," kata Bu Candra, kepala rumah sakit dalam pertemuan singkat de ngan kepala keamanan, Pak Jamil dan beberapa anak buahnya.
"Kalau soal itu Bu, serahkan saja kepada kami. Biar kami menga tasinya," jelas Pak Jamil. "Yang penting aktivitas berjalan seperti biasa."
"Baiklah kalau begitu Pak. Selamat bekerja," ucap Bu Candra. Pertemu an tertutup itu menyepakati untuk mendahulukan kepentingan dan ke selamatan pasien dan anggota keluarganya.
Sementara itu ...
Di ruang belakang lantai dasar rumah sakit, Ismail dan Iskandar baru saja selesai menaruh dua buah bom. Bom yang bisa diledak kan jarak jauh itu ditargetkan meledak satu jam kemudian.
Tujuan peledakan untuk memberi tahu pihak pemerintah bahwasanya jaringan El-Maut tetap eksis hingga kini.
Mereka juga ingin mrmberitahu pa da pihak keamanan untuk tidak mengganggu aktivitas bisnis jaringan El-Maut.
Melalui siaran televisi internal El-Maut, Bos Sobar tampil lima belas menit di hadapan para anak buah nya. Dengan bangga dia memperli hatkan beberapa kemajuan yang dicapai jaringan El- Maut.
"Saya minta saudara-saudara jangan takut kepada pemerintah. Jangan takut dengan ancaman dan sweping yang dilakukan petugas keamanan. Harus kita lawan. Mengerti?"
"Mengerti." Jawab serempak ribuan pendukungnya. Entah dari mana dan bagaimana cara orang nomor satu di jaringan El-Maut ini me ngumpulkan anak buahnya sebanyak itu.
Karena selama ini petugas keama nan memperkirakan jumlah anggo ta El-Maut hanya seribuan orang saja karena telah banyak yang keluar dan ditangkap aparat keamanan.
"Hidup El-Maut ..." Teriak Bos Sobar.
"Hidup El- Maut," jawab pendukungnya dengan berapi-api.
"Hidup El-Maut."
"Hidup."
"Hidup El-Maut."
"Hidup."
Sebelum mengakhiri jumpa dengan anak buah sekaligus pendukungnya Bos Sobar meminta agar semua anggota jaringan El-Maut siap membela kebenaran..
"Anda semua termasuk saya adalah pahlawan kebenaran. Siapa yang coba-coba melawan kebenaran, maka tanggung sendirilah akibatnya."
"Hidup El-Maut."
"Hidup El- Maut."
"Kita harus berantas kezaliman. Ki ta harus tegakkan kebenaran. Kita berada di pihak yang tertindas. Kita bela mereka sampai titik darah penghabisan."
"Hidup El-Maut."
"Hidup El-Maut."
"Jangan lupa. Kami dari jaringan El-Maut tidak akan segan-segan mengambil tindakan beresiko. Membom sebuah tempat yang menurut kami itu harus diledakkan karena tidak sesuai dengan pandangan hidup kami."
"Hidup El-Maut."
"Hidup El-Maut."
"Kepada seluruh masyarakat saya menyerukan mari kita bersatu mem basmi kemungkaran. Melawan kezaliman dan menegakkan kebenaran. Jangan takut kepada kami. Kami berpihak kepada masyarakat. Anda semuanya."
"Hidup El-Maut."
"Hidup El-Maut."
"Salam dari kami. Jaringan El-Maut."
Seketika tayangan televisi teralih ke tayangan lain. Diperlihatkan beberapa anggota jaringan El-Maut berhasil menguasai kota dan menja lankan misi kebenaran demi keselamatan semua pihak.
Pemandangan ini sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di rumah sakit kota. Setelah mena ruh bom, Ismail dan Iskandar keluar dari ruangan lantai dasar itu.
Tapi apa yang terjadi kemudian?
Aksi tembak menembak pun tak terhindarkan antara dua anak buah Bos Sobar dengan Mr Clean, Miss Nancy dan Mr Jodi, yang berhasil menyelinap masuk ke lantai bawah tanah ini.
28
MISS Nancy dengan cekatan bersembunyi di balik lemari besi
ketika Ismail melepaskan tiga kali temba kan
ke arahnya dan Mr Jodi. Mr Jodi sendiri melompat cepat ke tumpukan
kardus yang tersusun rapi dekat toilet.
Dooor …
Dooor …
Ismail panik karena dia belum juga menemukan jalan keluar.
Ada satu lubang kecil sebesar kepala manusia, dia mencoba memanfaatkan lubang
itu agar bisa keluar dari rumah sakit.
Namun itu tidak mudah baginya. Selain kecil dan tidak bisa
cepat untuk keluar dari lubang itu, Miss Nancy dan Mr Jodi tentu dengan mudah menangkapnya.
Ismail akhirnya memilih bersembunyi di balik dinding yang
menghubungkan antara ruang tengah ke rua ng kecil tempat penyimpanan barang.
Dia mengontak rekannya Iskandar, tapi tidak diangkat-angkat. Dia kesal.
Ingin rasanya dia memarahi Iskandar. Tapi, dimana dia
sekarang, tak pula tahu. Masih hidup kah atau sudah mati kena tembak.
“Saya telepon Bos sajalah,” bisiknya dalam hati. Dia tekan
nomor kontak Sang Bos, tapi belum sempat tersambung, sebuah tembakan yang
dilepaskan Miss Nancy nyaris mengenai tangannya.
Karena cukup kencang peluru itu meluncur, pistol di tangan
Ismail terjatuh dan terlempar beberapa me ter ke depan. Dia bermaksud mengambil
pistol itu tapi sia-sia karena dengan hanya satu kali tembakan dari pistol Mr
Jodi, pistol kecil berdaya letus kencang itu terlempar semakin jauh, sebelum
hancur ber keping-keping setelah membentur keras dinding rumah sakit.
“Menyerahlah Tuan. Saya tahu Tuan tidak berpistol lagi,”
ejek Mr Jodi sambil tertawa ngakak.
“Sebaiknya begitu Tuan bodoh,” sahut Miss Nancy
memanas-manasi.
Ismail geram bukan main. Ingin rasanya dia berdiri sekarang.
Tapi itu sama artinya berani babi, bukan berani mati. Ya tertangkaplah.
“Tuan teroris. Menyerahlah atau kami akan menembak Tuan,”
ancam Mr Jodi. Tidak main-main ancamannya kali ini.
“Tembak kalau berani,” tantang Ismail. Dia yakin Miss Nancy
dan Mr Jodi tak akan berani menembaknya. Sebab, kalau dia sampai tewas, tak ada
informasi yang didapat, digali untuk penyelidikan lebih lanjut.
“Tuan teroris. Anda siap ditembak?” Mr Jodi masih memberi kesempatan
pada Ismail untuk menyerah kan diri. Dia sama tak khawatir sumber dan rantai informasi
jadi terputus pasca tewasnya pelaku.
“Silakan Tuan polisi,” jawab Ismail dengan suara lantang.
Miss Nancy akhirnya mencoba yang satu ini. Apa? Di dekatnya
ada sebuah ban sepeda ukuran kecil. Ban itu ia polesi minyak dari botol kecil yang ia sembunyikan
di saku celananya.
Ban itu kemudian ia gelindingkan dengan lambat tanpa
sepengetahuan Ismail. Miss Nancy sengaja me minta Mr Jodi mengalihkan
konsentrasi pelaku dengan melakukan negosiasi pelepasan.
Ban sepeda mulai bergulir. Satu detik, dua detik dan sampai
lima belas detik berhenti persis dekat kaki kanan Ismail yang duduk bersandar
sambil berbicara dengan Mr Jodi.
“Saya jamin Tuan bisa bebas nantinya,” kata Mr Jodi, sengaja
membikin Ismail tidak curiga setelah setelah sebuah ban kecil berhenti di
dekatnya.
Ha ha ha ha …
Saat itulah …
Guaaar …
Guaaam …
Traaaash …
Terjadi sebuah ledakan. Tidak terlalu keras memang. Tapi
berhasil membuat Ismail menjerit, tunggang langgang menyelamatkan diri karena seluruh
badannya dipenuhi api, kecuali mukanya.
Miss Nancy mendekat …
Di belakangnya Mr Jodi siap menembak …
Keduanya belum melakukan tindakan apa pun. Selain
menyaksikan bagaimana tubuh Ismail terbakar, berguling-gulingan di lantai,
menjerit minta tolong dengan sekujur badan mulai dari pada hingga ke kaki
berubah hitam legam.
Tak seorang pun yang menolongnya sampai akhirnya badan yang
kekar itu tak bergerak lagi.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar