Rabu, 02 Agustus 2017

El-Maut (4)



Novel …

El-Maut (4)
Oleh Wak Amin

7
SETELAH puas mengelilingi taman, mengunjungi berbagai tempat fashion dan kuliner serta menikmati dinner berdua di restoran pinggiran kolam, Muhsin dan Sabrina kembali ke hotel  tempat mereka menginap.
Hotel  bertingkat seratus dua puluh lima itu adalah salah satu hotel  terbaik di kota ini dengan layanan bertaraf internasional. Setiap tingkat dilengkapi restoran dan kafe plus hiburan.
Muhsin dan Sabrina mengambil kamar pertama di lantai enam belas. Di lantai ini setidaknya ada lima puluh  kamar VIP. Semua terisi  penuh. Para penginap berasal dari luar kota dan tempat yang sangat jauh.
Mereka berdua, meski  baru pertama kali menginap di hotel dengan faslitas serba wah ini, sangat terkesan. Para pelayannya sangat ramah, cepat dan tangkas serta bertanggung jawab.
Ketika Muhsin sampai di hotel, jarum jam sudah menunjukkan ke angka sebelas malam. Di belakang mereka ada beberapa tamu yang menginap di hotel yang sama. Mereka baru kembali dari berkeliling kota dan makan malam bersama. Sebagian besar mereka adalah pasangan muda usia.
“Sini Say.  Mas bawakan,” ucap Muhsin. Tak tega ia melihat Sabrina yang tampak lelah membawa tas besar berisi  pakaian dan sepatu.
“Kasih ya sayang. Aku masih kuat kok Mas. Ini belum seberapa,” jawab Sabrina, menyilakan Muhsin untuk jalan lebih dulu.
“Bener enggak mau dibantu Yang?”
Sabrina mengangguk pelan. Saat itulah terdengar ledakan keras dari lantai tiga puluh. Ledakan itu disusul  dengan suaranpecahan kaca dan dinding hotel yang runtuh.
Suasana berubah panik. Jeritan minta tolong tak henti terdengar. Begitu juga tangis bayi dan anak-anak. Memilukan dan sangat menyayat hati. Api mulai berkobar memakan bangunan hotel di lantai tiga puluh.
Tak lama kemudian, si jago merah merambat ke bangunan hotel di atasnya, lalu ke bawah dengan asap hitam membumbung tinggi, mengepul pekat.
Bersama tamu hotel yang lain, Muhsin dan Sabrina mencoba turun menggunakan lift. Sayang lift tiba-tiba rusak dan tak bisa digunakan. Mereka akhirnya melewati jalur tangga.
Ketika sampai di lantai lima, belum terlihat api dan kepulan asap. Jadi Sabrina, Muhsin dan rekan tamu yang lain tampak lega. Mereka berharap bisa secepatnya keluar dari hotel favorit wisatawan ini dengan selamat dan sejahtera.
Sayang …
Tak lama setelah itu …
Jegaaar …
Guaaam …
Jegaar …
Terdengar tiga kali ledakan keras. Dua dari lantai tiga puluh, satu ledakan berasal dari lantai paling ba wah. Ledakan di lantai dasar memang tidak terlalu kuat, namun memporak-porandakan bangunan da lam hotel.
Kaca-kaca pecah. Begitu juga lampu hias yang tergantung di setiap kamar dan ruangan. Berserakan di lantai.  Dinding hotel  hancur sementara atap plafon membentuk lubang dengan alat pendingin ruangan terkelupas dari tempatnya menempel. Jatuh mengular di lantai sebelum ditimpa reruntuhan dinding yang mulai mengeropos.
Sabrina menjerit histeris ketika bongkahan semen plafon jatuh tepat mengenai kepala Muhsin. Mengu cur darah segar dari kepalanya. Muhsin sempat mengaduh. Namun dia masih bisa berdiri walau dengan langkah terhuyung-huyung.
Sabrina ingin memapahnya. Tapi Muhsin menolaknya. Dia justru meminta isterinya untuk menyelamat kan seorang anak perempuan yang terkepung rongsokan dinding bersama ibunya dan beberapa perem puan dewasa.
“Mas benar tidak apa-apa?”
“Benar. Mas tidak apa-apa. Mas masih bisa berjalan sendiri,” kata Muhsin dengan kaki terpincang. Ia bersama beberapa lelaki sebayanya yang juga terluka tapi tidak terlalu parah, dengan tertatih-tatih meniti pecahan kaca yang berserak.
“Aduh,” ringis pria berkacamata minus. Dia kini hamper tak bisa melihat lagi. Bukan kacamatanya yang rusak. Tapi lensanya yang sudah berubah hitam terkena asap dan debu.
“Tarik kakinya Mas,” kata Muhsin. Bersama dua lelaki di sampingnya, ia tarik kaki si kacamata minus itu pelan-pelan. Beling yang menempel di telapak kakinya dibersihkan.
“Tahan ya Mas …”
Satu sisa pecahan kaca belum berhasil dilepaskan. Masuk ke daging telapak kaki cukup dalam.  Pria kurus itu hanya bisa menjerit ketika Muhsin menarik paksa beling itu.
“Auuuw …!” Jeritnya. saat bersamaan darah segar keluar dari telapak kaki itu.
“Ayo kita bawa keluar,” kata pria gendut. Si kacamata minus dipapah bertiga. Persis di depan pintu, sebuah mobil di lokasi parkir depan hotel meledak.
Beberapa unit mobil terlempar beberapa meter akibat ledakan yang tak terduga itu. Tak ada korban jiwa. Tapi Muhsin dan tiga lelaki bersamanya ikut terlempar ke samping kanan hotel bagian luar.

8
PUKUL tiga pagi …
“Sabrina baru kasih tau Let kalau dia sekarang berada di rumah sakit. Hotel tempatnya menginap kena bom tadi malam.”
“Tap dia tak apa-apa kan Clean?”
“Kena juga Let, tapi tidak parah. Buktinya, dia masih sempat telepon aku,” kata Mr Clean, baru saja mengusap mukanya setelah sempat tertidur beberapa jam tadinya.
“Ada pesan darinya Clean?”
“Secara khusus tidak ada Let. Tapi sepintas tadi dia mohon doa supaya cepat sembuh, keluar dari rumah sakit dan mengakhiri bulan madunya.
“Ya sudah. Kamu segera berangkat. Tengoklah dia dan suaminya,” perintah Letnan Salam.
“Baik Let.”
Pukul enam pagi Mr Clean meninggalkan kediamannya. Dia menumpang pesawat dengan jam keberang katan pukul tujuh pagi.  Raut mukanya tampak tegang. Sesekali dia menolah ke luar jendela mobil yang disopirinya sendiri.
“Mudah-mudahan saja dia selamat,” kata Mr Clean dalam hati. Berharap pesawat yang ia tumpangi tidak mengalami delay.
Bandara mulai ramai. Hari masih pagi. Banyak warga yang hendak melakukan perjalanan jauh menggu nakan pesawat terbang. Mereka sebagian besar berprofesi sebagai pengusaha, pegawai swasta dan kalangan pemerintahan.
Menjelang akhir pekan, Bandara memang selalu ramai oleh warga yang hendak bepergian. Mereka rela merogoh kantong, membayar mahal biaya keberangkatan dengan harapan bisnis mereka lancar dan maju pesat.
“Sabrina …”
“Ya Mister.”
“Aku lupa kasih tau orang tua kamu. Apa perlu …?”
“Tak usah Mister. Biar nanti saya saja yang kasih tau.”
“Oke lah kalau begitu. Trim’s ya. Eeeem .. Aku sekarang lagi berdiri di depan tangga masuk pesawat Sab.”
“ Emangnya Mister mau kemana kah?”
“Menengok kamu lah.”
Sabrina tertawa mendengarnya.
“Letnan yang meminta saya Sabrina. Kamu harus berterima kasih lah sama beliau. Beliau pesan, upayakan kesembuhan dan keselamatan Sabrina dan suaminya.”
“Ngerepotin Mister.”
“Tidak kata Letnan Salam. Beliau berharap kamu dan suami kamu selamat dan secepatnya pulang.”
Mr Clean menutup telepon selulernya seusai Sabrina memberitahu alamat rumah sakit tempat dia dan suaminya dirawat. Sebuah rumah sakit yang besar dan sudah punya nama, dikenal luas masyarakat dari berbagai lapisan.
Sabrina sendiri dirawat di sal perempuan, lantai dua. Kebanyakan mengalami luka ringan, meski tak sedikit terluka parah.
Sedangkan Muhsin dirawat di sal pria, lantai tiga. Dia juga bergabung dengan ratusan pria yang sebagian besar mengalami luka serius di muka, tangan dan kaki serta anggota tubuh yang lain, seperti mata dan telinga. Posisi kamar Muhsin dirawat dekat pintu masuk utama sal.
Belum begitu banyak anggota keluarga korban ledakan yang membezuk. Ketatnya pengamanan, baik  hotel maupun rumah sakit, anggota keluarga yang bermaksud menjenguk, harus melalui pemeriksaan terlebih dulu.
Petugas keamanan ‘terpaksa’ menempuh cara ini  demi keamanan korban ledakan yang dirawat selain memberi jaminan tidak akan terjadi lagi ledakan serupa di rumah sakit.
Sedangkan d hotel tempat Sabrina dan Muhsin menginap, saat ini djaga ketat puluhanpetugas keama nan bersenjatakan lengkap. Police line terlihat di sana sini. Juga kendaraan dinas dan mobil pemadam kebakaran yang jumlahnya mencapai lebih dari lima belas unit.
Kobaran api baru bisa dipadamkan keesokan harinya. Dipastikan semua korban ledakan sudah dieva kuasi, baik yang selamat maupun yang sudah tutup usia.
Hotel kini sudah steril. Dikosongkan dari penghuninya. Praktis tak seorang pun buat sementara berada di dalam hotel, untuk pengamanan dan penyelidikan lebih lanjut.
Warga yang menonton semakin ramai. Mereka tidak diperbolehkan mendekat. Para juru warta foto dipe bolehkan mengambil  gambar dari jarak jauh.  Tidak boleh terlalu mendekat, apalagi sampai masuk ke ruangan hotel yang tampak sudah separo hitam bekas jilatan si jago merah.

Tobe Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar