Novel …
El-Maut (4)
Oleh Wak Amin
7
SETELAH puas mengelilingi taman, mengunjungi berbagai tempat
fashion dan kuliner serta menikmati dinner berdua di restoran pinggiran kolam,
Muhsin dan Sabrina kembali ke hotel
tempat mereka menginap.
Hotel bertingkat seratus
dua puluh lima itu adalah salah satu hotel
terbaik di kota ini dengan layanan bertaraf internasional. Setiap tingkat
dilengkapi restoran dan kafe plus hiburan.
Muhsin dan Sabrina mengambil kamar pertama di lantai enam
belas. Di lantai ini setidaknya ada lima puluh
kamar VIP. Semua terisi penuh.
Para penginap berasal dari luar kota dan tempat yang sangat jauh.
Mereka berdua, meski baru
pertama kali menginap di hotel dengan faslitas serba wah ini, sangat terkesan.
Para pelayannya sangat ramah, cepat dan tangkas serta bertanggung jawab.
Ketika Muhsin sampai di hotel, jarum jam sudah menunjukkan
ke angka sebelas malam. Di belakang mereka ada beberapa tamu yang menginap di
hotel yang sama. Mereka baru kembali dari berkeliling kota dan makan malam
bersama. Sebagian besar mereka adalah pasangan muda usia.
“Sini Say. Mas
bawakan,” ucap Muhsin. Tak tega ia melihat Sabrina yang tampak lelah membawa
tas besar berisi pakaian dan sepatu.
“Kasih ya sayang. Aku masih kuat kok Mas. Ini belum
seberapa,” jawab Sabrina, menyilakan Muhsin untuk jalan lebih dulu.
“Bener enggak mau dibantu Yang?”
Sabrina mengangguk pelan. Saat itulah terdengar ledakan
keras dari lantai tiga puluh. Ledakan itu disusul dengan suaranpecahan kaca dan dinding hotel
yang runtuh.
Suasana berubah panik. Jeritan minta tolong tak henti
terdengar. Begitu juga tangis bayi dan anak-anak. Memilukan dan sangat menyayat
hati. Api mulai berkobar memakan bangunan hotel di lantai tiga puluh.
Tak lama kemudian, si jago merah merambat ke bangunan hotel
di atasnya, lalu ke bawah dengan asap hitam membumbung tinggi, mengepul pekat.
Bersama tamu hotel yang lain, Muhsin dan Sabrina mencoba
turun menggunakan lift. Sayang lift tiba-tiba rusak dan tak bisa digunakan.
Mereka akhirnya melewati jalur tangga.
Ketika sampai di lantai lima, belum terlihat api dan kepulan
asap. Jadi Sabrina, Muhsin dan rekan tamu yang lain tampak lega. Mereka berharap
bisa secepatnya keluar dari hotel favorit wisatawan ini dengan selamat dan
sejahtera.
Sayang …
Tak lama setelah itu …
Jegaaar …
Guaaam …
Jegaar …
Terdengar tiga kali ledakan keras. Dua dari lantai tiga
puluh, satu ledakan berasal dari lantai paling ba wah. Ledakan di lantai dasar
memang tidak terlalu kuat, namun memporak-porandakan bangunan da lam hotel.
Kaca-kaca pecah. Begitu juga lampu hias yang tergantung di
setiap kamar dan ruangan. Berserakan di lantai. Dinding hotel hancur sementara atap plafon membentuk lubang
dengan alat pendingin ruangan terkelupas dari tempatnya menempel. Jatuh
mengular di lantai sebelum ditimpa reruntuhan dinding yang mulai mengeropos.
Sabrina menjerit histeris ketika bongkahan semen plafon
jatuh tepat mengenai kepala Muhsin. Mengu cur darah segar dari kepalanya.
Muhsin sempat mengaduh. Namun dia masih bisa berdiri walau dengan langkah
terhuyung-huyung.
Sabrina ingin memapahnya. Tapi Muhsin menolaknya. Dia justru
meminta isterinya untuk menyelamat kan seorang anak perempuan yang terkepung
rongsokan dinding bersama ibunya dan beberapa perem puan dewasa.
“Mas benar tidak apa-apa?”
“Benar. Mas tidak apa-apa. Mas masih bisa berjalan sendiri,”
kata Muhsin dengan kaki terpincang. Ia bersama beberapa lelaki sebayanya yang
juga terluka tapi tidak terlalu parah, dengan tertatih-tatih meniti pecahan
kaca yang berserak.
“Aduh,” ringis pria berkacamata minus. Dia kini hamper tak
bisa melihat lagi. Bukan kacamatanya yang rusak. Tapi lensanya yang sudah
berubah hitam terkena asap dan debu.
“Tarik kakinya Mas,” kata Muhsin. Bersama dua lelaki di
sampingnya, ia tarik kaki si kacamata minus itu pelan-pelan. Beling yang menempel
di telapak kakinya dibersihkan.
“Tahan ya Mas …”
Satu sisa pecahan kaca belum berhasil dilepaskan. Masuk ke
daging telapak kaki cukup dalam. Pria
kurus itu hanya bisa menjerit ketika Muhsin menarik paksa beling itu.
“Auuuw …!” Jeritnya. saat bersamaan darah segar keluar dari
telapak kaki itu.
“Ayo kita bawa keluar,” kata pria gendut. Si kacamata minus
dipapah bertiga. Persis di depan pintu, sebuah mobil di lokasi parkir depan
hotel meledak.
Beberapa unit mobil terlempar beberapa meter akibat ledakan
yang tak terduga itu. Tak ada korban jiwa. Tapi Muhsin dan tiga lelaki
bersamanya ikut terlempar ke samping kanan hotel bagian luar.
8
PUKUL tiga pagi …
“Sabrina baru kasih tau Let kalau dia sekarang berada di
rumah sakit. Hotel tempatnya menginap kena bom tadi malam.”
“Tap dia tak apa-apa kan Clean?”
“Kena juga Let, tapi tidak parah. Buktinya, dia masih sempat
telepon aku,” kata Mr Clean, baru saja mengusap mukanya setelah sempat tertidur
beberapa jam tadinya.
“Ada pesan darinya Clean?”
“Secara khusus tidak ada Let. Tapi sepintas tadi dia mohon
doa supaya cepat sembuh, keluar dari rumah sakit dan mengakhiri bulan madunya.
“Ya sudah. Kamu segera berangkat. Tengoklah dia dan
suaminya,” perintah Letnan Salam.
“Baik Let.”
Pukul enam pagi Mr Clean meninggalkan kediamannya. Dia
menumpang pesawat dengan jam keberang katan pukul tujuh pagi. Raut mukanya tampak tegang. Sesekali dia
menolah ke luar jendela mobil yang disopirinya sendiri.
“Mudah-mudahan saja dia selamat,” kata Mr Clean dalam hati.
Berharap pesawat yang ia tumpangi tidak mengalami delay.
Bandara mulai ramai. Hari masih pagi. Banyak warga yang
hendak melakukan perjalanan jauh menggu nakan pesawat terbang. Mereka sebagian
besar berprofesi sebagai pengusaha, pegawai swasta dan kalangan pemerintahan.
Menjelang akhir pekan, Bandara memang selalu ramai oleh
warga yang hendak bepergian. Mereka rela merogoh kantong, membayar mahal biaya
keberangkatan dengan harapan bisnis mereka lancar dan maju pesat.
“Sabrina …”
“Ya Mister.”
“Aku lupa kasih tau orang tua kamu. Apa perlu …?”
“Tak usah Mister. Biar nanti saya saja yang kasih tau.”
“Oke lah kalau begitu. Trim’s ya. Eeeem .. Aku sekarang lagi
berdiri di depan tangga masuk pesawat Sab.”
“ Emangnya Mister mau kemana kah?”
“Menengok kamu lah.”
Sabrina tertawa mendengarnya.
“Letnan yang meminta saya Sabrina. Kamu harus berterima
kasih lah sama beliau. Beliau pesan, upayakan kesembuhan dan keselamatan Sabrina
dan suaminya.”
“Ngerepotin Mister.”
“Tidak kata Letnan Salam. Beliau berharap kamu dan suami
kamu selamat dan secepatnya pulang.”
Mr Clean menutup telepon selulernya seusai Sabrina
memberitahu alamat rumah sakit tempat dia dan suaminya dirawat. Sebuah rumah
sakit yang besar dan sudah punya nama, dikenal luas masyarakat dari berbagai
lapisan.
Sabrina sendiri dirawat di sal perempuan, lantai dua.
Kebanyakan mengalami luka ringan, meski tak sedikit terluka parah.
Sedangkan Muhsin dirawat di sal pria, lantai tiga. Dia juga
bergabung dengan ratusan pria yang sebagian besar mengalami luka serius di
muka, tangan dan kaki serta anggota tubuh yang lain, seperti mata dan telinga.
Posisi kamar Muhsin dirawat dekat pintu masuk utama sal.
Belum begitu banyak anggota keluarga korban ledakan yang
membezuk. Ketatnya pengamanan, baik
hotel maupun rumah sakit, anggota keluarga yang bermaksud menjenguk,
harus melalui pemeriksaan terlebih dulu.
Petugas keamanan ‘terpaksa’ menempuh cara ini demi keamanan korban ledakan yang dirawat
selain memberi jaminan tidak akan terjadi lagi ledakan serupa di rumah sakit.
Sedangkan d hotel tempat Sabrina dan Muhsin menginap, saat
ini djaga ketat puluhanpetugas keama nan bersenjatakan lengkap. Police line
terlihat di sana sini. Juga kendaraan dinas dan mobil pemadam kebakaran yang
jumlahnya mencapai lebih dari lima belas unit.
Kobaran api baru bisa dipadamkan keesokan harinya.
Dipastikan semua korban ledakan sudah dieva kuasi, baik yang selamat maupun
yang sudah tutup usia.
Hotel kini sudah steril. Dikosongkan dari penghuninya.
Praktis tak seorang pun buat sementara berada di dalam hotel, untuk pengamanan
dan penyelidikan lebih lanjut.
Warga yang menonton semakin ramai. Mereka tidak
diperbolehkan mendekat. Para juru warta foto dipe bolehkan mengambil gambar dari jarak jauh. Tidak boleh terlalu mendekat, apalagi sampai
masuk ke ruangan hotel yang tampak sudah separo hitam bekas jilatan si jago
merah.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar